Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Topik - ichreza
Halaman: 1 ... 37 38 [39] 40 41 ... 45
571
« pada: 29 Oktober 2011, 06:26:01 »
Islam liberal adalah nama sebuah gerakan dan aliran pemikiran yang bermula dari sebuah ajang kongkow-kongkow di Jalan Utan Kayu 69H, Jakarta Timur. Tempat ini sejak 1996 menjadi ajang pertemuan para seniman sastra, teater, musik, film, dan seni rupa. Di tempat itu pula Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang salah satu motor utamanya Ulil Abshar Abdalla berkantor. Bersama Goenawan Mohammad (mantan pemimpin redaksi Tempo) serta sejumlah pemikir muda seperti Ahmad Sahal, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib dan Saiful Mujani, Ulil kerap menggelar diskusi bertema ‘pembaruan’ pemikiran Islam. Setelah berdiskusi sekian lama pada akhir 1999 Ulil dan kawan-kawan sepakat memperkenalkan serta mengkampanyekan pemikiran mereka dengan bendera Islam Liberal. Lalu untuk mengintensifkan kampanyenya mereka membentuk wadah Jaringan Islam Liberal (JIL) pada Maret 2001. Dengan ditunjang kucuran dana dari Asia Foundation kampanye Islam liberal gencar dilancarkan melalui berbagai cara. Mulai dari forum kajian dan diskusi, media cetak hingga media elektronik. Media internet juga tak ketinggalan mereka garap. Mula-mula dengan membuat forum diskusi internet (mailing list) kemudian dilanjutkan dengan membuat situs web, alamatnya www.islamlib.com. Kampanye lewat media cetak dilakukan sangat gencar. Selain melalui majalah seperti Tempo dan Gatra, JIL mendapat porsi publikasi besar di koran Jawa Pos dan 40 koran daerah yang tergabung dalam Jawa Pos-Net. Dengan nama rubrik Kajian Utan Kayu, setiap hari Ahad JIL mendapat jatah satu halaman penuh untuk diisi tulisan para pengusung ide Islam liberal, antara lain Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat dan Masdar F Mas’udi. Kampanye melalui media elektronik mula-mula cuma disuarakan melalui kantor berita radio 68H yang mengudarakan dialog interaktif setiap Kamis sore. Belakangan siaran itu kemudian di-relay oleh tak kurang 15 stasiun radio se-Indonesia yang tergabung dalam jaringan 68H, sehingga dapat disimak oleh para pendengar dari Aceh hingga Manado. Di Jakarta siaran JIL di-relay oleh stasiun radio dangdut Muara FM. Adapun istilah Islam liberal dipilih oleh kalangan JIL untuk menamakan gerakan dan pemikiran mereka, nampaknya lantaran mereka mendapat insipirasi dari buku Liberal Islam: A Sourcebook karya Chares Kurzman (edisi bahasa Indonesia berjudul Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global, diterbitkan oleh Paramadina), sebab dari buku itu pula JIL meminjam enam agenda rumusan Charles Kurzman. Enam isu itu: antiteokrasi, demokrasi, hak-hak perempuan, hak-hak non-Muslim, kebebasan berpikir dan gagasan tentang kemajuan. Anti Islam Kaffah Mengapa JIL begitu gencar menyebarluaskan pemikirannya? Seperti diakui oleh para pentolannya, meski nama Islam liberal baru dikenal belakangan ini, sebenarnya Islam liberal bukanlah suatu pemikiran baru. Di Indonesia pemikiran Islam liberal telah dirintis oleh antara lain Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Munawir Sjadzali dan Abdurrahman Wahid. Mereka adalah orang-orang yang sejak tahun 1970-an dan 1980-an menggelindingkan ide ‘pembaruan Islam’, berupa Islam rasional, dekonstruksi syariah dan sekulerisasi. Namun, kata Ulil Abshar kepada Gatra, para perintis itu gagal memasyarakatkan gagasan Islam liberal ke masyarakat. Kegagalan itu antara lain karena tidak adanya pengorganisasian secara sistematis. Atau, menurut Luthfi Assyaukanie, gerakan Islam liberal sebelum ini terlalu elitis. Gagasan itu lebih banyak dibawa kalangan akademisi dan peneliti yang tak mengakar ke masyarakat, sehingga opini publik tetap dikuasai oleh kalangan Islam ‘konservatif’ yang memiliki jaringan kuat dan mengakar ke masyarakat. Karena itu, kalangan JIL merasa perlu memiliki jaringan kuat agar pemikiran liberal bisa berkompetisi dengan pemikiran kaum revivalis. Dengan kata lain, Islam liberal adalah tandingan Islam revivalis. Apa beda Islam liberal dan Islam revivalis? Charles Kurzman mendefinisikan, Islam revivalis berusaha mengembalikan kemurnian Islam seperti di zaman Rasulullah, tetapi tidak ramah dengan kehadiran modernitas. Sedangkan Islam liberal, masih kata Kurzman, menghadirkan masa lalu Islam untuk kepentingan modernitas. “Ia menghargai rasionalitas,” kata Kurzman. Sebuah pengkategorian yang sangat layak diperdebatkan. Tapi lepas dari perdebatan itu, menurut kalangan JIL, dalam konteks Indonesia, kaum revivalis adalah mereka yang mendukung penegakan syariat Islam oleh negara dan menolak sekulerisme. Sebaliknya, kaum Islam liberal adalah mereka yang mendukung sekulerisme dan menentang penegakan syariat Islam oleh negara. “Pemikiran revivalis, katakanlah begitu, tercermin dalam FPI (Front Pembela Islam), atau Laskar Jihad yang lebih kuat, atau jaringan PK (Partai Keadilan) yang lebih mengakar,” kata Ulil menyebut lawan tandingnya. Untuk menandingi kalangan revivalis, kini JIL telah menyusun sejumlah agenda, antara lain: kampanye sekulerisasi seraya menolak konsep Islam kaffah (total) dan menolak penegakan syariat Islam, menjauhkan konsep jihad dari makna perang, penerbitan Al-Quran edisi kritis, mengkampanyekan feminisme dan kesetaraan gender serta pluralisme. “Menurut saya, beragama secara kaffah itu tidak sehat dilihat dari pelbagai segi… Agama yang ‘kaffah’ hanya tepat untuk masyarakat sederhana yang belum mengalami ‘sofistikasi’ kehidupan seperti zaman modern… Beragama yang sehat adalah beragama yang tidak kaffah,” ungkap Ulil dalam rubrik Kajian Utan Kayu Jawa Pos. Tapi tentu saja kalangan yang disebut revivalis juga tak akan tinggal diam. Mereka juga telah menyusun agendanya sendiri, meski mungkin tanpa gembar-gembor kampanye seperti yang dilakukan kalangan JIL. Yang penting bekerja saja. Tinggal dilihat nanti siapa yang lebih ditolong Allah: mereka yang berjuang menegakkan syariat Allah atau mereka yang alergi kepada syariat-Nya.•
572
« pada: 29 Oktober 2011, 06:22:27 »
Al-Qur'an mempunyai beberapa nama yang kesemuanya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dan luhur, dan secara mutlak Al-Qur'an adalah kitab samawy yang paling mulia
Karenanya dinamailah kitab samawy itu dengan: Al-Qur'an, Al-Furqan, At-Tanzil, Adz-Dzikr, Al-Kitab dsb. Seperti halnya Allah juga telah memberi sifat tentang Al-Qur'an sifat-sifat yang luhur antara lain; nur (cahaya), hudan (petunjuk), rahmat, syifa' (obat), mau'izhah (nasihat), 'aziz (mulia), mubarak (yang diberkahi), basyir (pembawa khabar baik), nadzir (pembawa khabar buruk) dan sifat-sifat lain yang menunjukkan kebesaran dan kesuciannya.
Alasan penamaan
1. Alasan dinamainya dengan Al-Qur'an ialah karena banyak (kata-kata Al-Qur'an) terdapat dalam ayat, antara lain firman Allah SWT:
Qâf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (QS. Qâf: 1).
Dan Firman-Nya:
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus. (Al-Isrâ: 9).
2. Alasan Al-Qur'an dinamai dengan Al-Furqan sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT:
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hambanya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqan: 1).
3. Alasan Al-Qur'an diberi nama dengan At-Tanzil, sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT:
Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril as). (Asy-Su'arâ: 192-193).
4. Alasan dinamakan dengan Adz-Dzikr, sebagaimana firman Allah SWT:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9).
5. Sedangkan dinamakan dengan Al-Kitab sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT:
Hâ Mîm. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi. (Ad-Dukhân: 1-3).
Adapun mengenai sifat-sifatnya sungguh tertera dalam sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an, bahkan sedikit sekali (jarang) surat-surat dalam Al-Qur'an yang tidak menyebutkan sifat-sifat yang indah dan mulia terhadap kitab yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha Mulia yang dijadikan mu'jizat (tiada tanding) yang abadi bagi seorang Nabi yang terakhir. Kami sebutkan diantaranya:
a. Firman Allah SWT:
Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang/Al-Qur'an. (An-Nisâ': 174)
b. Firman Allah SWT:
Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.(Al-Isrâ': 28).
c. Firman Allah SWT:
Katakanlah Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan peawar bagi orang-orang yang beriman. (Fushshilat: 44).
d. Firman Allah SWT:
Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Yûnûs: 57).
Kata Al-Qur'an adalah sama halnya dengan kata Qira'at adalah masdar dari kata qara'a, qira'atan dan qur'ânan. Demikianlah menurut sebagian ulama dengan mengambil alasan Firman Allah SWT:
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Al-Qiyâmah: 17-18).
Pengertian qur'ânahû di sini sama dengan qirâ'atahû. Maka lafazh qur'an menurut pendapat ini adalah musytak (pengambilan dari kata kerja). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa lafazh Al-Qur'an bukanlah musytak dari qara'a melainkan isim alam (nama sesuatu) bagi kitab yang mulia sebagaimana halnya nama Taurat dan Injil. Ini adalah pendapat Imam Syafi'i (Lihat kitab Mabahitsul Qur'an karangan Al-Ustadz Manna' al-Qaththan.
573
« pada: 29 Oktober 2011, 06:18:27 »
Menuju Konsili Nikea
Dari kristologi abad I, yang serba majemuk dan karena itu pun kabur, mulai berkembang dan timbul, selama abad II dan awal abad III beberapa garis besar. Dalam pergumulan antara pelbagai pendekatan, seperti adoptionisme, gnostik, doketisme dan monarkianisme, hasil pertemuan warisan jemaah-jemaah Kristen awal dengan alam pikiran Yunani yang serba sinkretis, problematiknya mulai menjadi jelas. Masalah pokok ialah: Bagaimana mempertahankan bahwa Yesus benar-benar manusia (melawan gnosis dan doketisme) dan benar-benar ilahi (melawan adoptianisme), dan serentak mempertahankan monoteisme (monarkianisme). Dan apa yang akhirnya dipertaruhkan dalam pergumulan itu ialah keselamatan manusia, seperti khususnya ditekankan Ireneus.
Hanyalah dalam pergumulan itu kristologi hampir saja secara eksklusif menjadi kristologi dari atas. Dalam pemikiran para cendekiawan Kristen perhatian semakin bergeser dari soteriologi, karya penyelamatan Yesus Kristus (yang tentu selalu menjadi latar belakang) kepada diri Yesus Kristus sendiri. Dan semuanya berlangsung dalam alam pikiran Yunani, yang semakin, sadar atau tidak sadar, dipakai. Dalam alam pikiran itu problem yang paling penting ialah: Siapa sebenarnya Yesus Kristus, apa itu Yesus Kristus? Guna menjernihkan duduknya perkara semakin dirnanfaatkan filsafat yang berpancar dari Plato (platonisme) dan Zenon (Stoa) yang sendiri bercampur. Semakin tajam problematik sekitar Yesus Kristus, Firman Allah (logos, yang berasal dari Kristologi Yoh), "nous" ilahi, dalam kepra-adaan-Nya. Bagaimana relasi Firman, logos ilahi itu dengan Allah yang mahaesa? Dan masalah yang tidak kurang pelik ialah: bagaimana relasi Firman ilahi, Anak Allah yang pra-existen itu dengan manusia Yesus, orang Nazaret? Kristologi menjadi semakin spekulatif dan abstrak.
Meskipun mulai timbul beberapa garis besar dalam kristologi, namun refleksi atas fenomena Yesus dalam rangka pemikiran Yunani toh masih juga simpang siur. Buktinya Hippolytus dari Roma (± 235). Sama seperti Ireneus, Hippolytus bergulat dengan apa yang dinilainya sebagai "haeresis", bidaah, penyelewengan dari iman benar (buktinya ialah karya Hippolytus: Philosophoumena, ialah Refutatio omnium haeresium; Syntagma). Dalam kristologinya Hippolytus menyalurkan tradisi dan pemikiran pendahulu-pendahulunya (a.l. Yustinus, Athenagoras, Ireneus). Namun demikian, Hippolytus sampai berkata bahwa Firman Allah sebagai "pribadi" tidak kekal. Pada saat tertentu Firman itu keluar dari Allah dan menjadi manusia. Dan pada waktu menjadi manusia Firman itu barulah menjadi Anak Allah. Dan tidak hanya Allah dapat menjadi manusia, tetapi juga seorang manusia oleh Allah dapat dijadikan Allah. Maka tidak jelas lagi apakah logos itu benar-benar ilahi atau makhluk saja, Allah kedua oleh karena dijadikan Allah. Pikiran Novatianus (± 250) dalam karyanya De Trinitate (Mengenai Tritunggal) mirip dengan pikiran Hippolytus dan kristologinya jelas subordinasionis: Logos yang mandiri tidak kekal (bdk. Contra Haer. Noet. 10.11.15).
Selama abad II berkembanglah beberapa sarana untuk menentukan mana iman kepercayaan Kristen yang benar. Dan sarana utamanya, bahkan satu-satunya sarana ialah "tradisi" yang berpangkal pada Yesus dan para rasul. Tradisi itu disalurkan oleh jemaah-jemaah di bawah pimpinan seorang uskup, khususnya uskup-uskup jemaah-jemaah rasuli. Hanya sudah menjadi jelas pula bahwa uskup-uskup itu sendiri kadang-kadang bingung dan tidak dapat dipercaya. Maka tradisi sejati itu pun disalurkan melalui "regula fidei" (kaidah iman), yakni ringkasan pokok-pokok inti iman kepercayaan Kristen yang umum diterima oleh jemaah-jemaah. Regula fidei mulai menjurus ke suatu "Syahadat". Misalnya suatu ringkasan yang tersusun sekitar th. 150 (DS 1) berbunyi sebagai berikut: "(Aku percaya) kepada Bapa, Penguasa segala sesuatu, dan kepada Yesus Kristus, Juru Selamat kita, dan kepada Roh Kudus, Parakletus, dan kepada Gereja dan kepada pelepasan dosa-dosa". Selanjutnya ditetapkan karangan-karangan mana termasuk ke dalam Kitab Suci (Perjanjian Baru). Kanon Kitab Suci mulai ditentukan. Kriteriumnya: Apakah karangan-karangan tertentu umum dipakai oleh jemaah-jemaah Kristen sebagai berasal dari masa rasuli?
Jadi "kaidah iman" tersebut serta Kitab Suci menjadi pegangan bagi iman kepercayaan umat secara menyeluruh. Itulah yang menjadi tolok ukur bagi pewartaan iman. Dan dalam ibadat yang juga semakin berkembang (khususnya Baptisan dan Ekaristi) iman itu dihayati (saksinya: Yustinus dan Hippolytus). Dengan jalan itu iman kepercayaan Kristen diteruskan. Hanyalah iman itu kurang tegas terungkap secara konseptual dan linguistik. Kecuali itu, juga ibadat umat (yang belum seragam juga) terpengaruh oleh alam religius Yunani yang serba sinkretis. Tidak sedikit unsur-unsur dari religi Yunani itu menyusup ke dalam ibadat umat Kristen. Refleksi atas iman kepercayaan Kristen, teristimewanya sekitar Yesus Kristus, selama abad III meneruskan jalur yang mulai ditempuh selama abad II. Dan selama abad III refleksi itu menjadi ilmiah. Selama abad II para pemikir Kristen (seperti Athenagoras, Yustinus) agak curiga terhadap ilmu, khususnya filsafat Yunani (meskipun mereka sendiri memanfaatkannya).
Tetapi selama abad III, waktu umat Kristen juga secara sosio-politik menjadi unsur penting dalam masyarakat Yunani-Romawi, sikap itu berubah. Para pemikir Kristen mengambil sikap positif terhadap ilmu filsafat Yunani dan dengan senang hati memanfaatkannya untuk memperdalam, menjernihkan dan mengungkapkan Iman kepercayaan Kristen. Dalam hal itu mereka amat tertolong oleh suatu pandangan yang sudah berkembang pada orang-orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani. Orang Yahudi itu sudah memperkenalkan iman kepercayaan Yahudi (Perjanjian Lama) sebagai suatu "filsafat/hikmat", bahkan sebagai filsafat yang tertua, lebih tua daripada filsafat/hikmat Yunani. Filsuf-filsuf Yunani yang tersohor berguru pada filsafat Yahudi. Maka filsafat/hikmat Yunani boleh juga dipakai untuk mengungkapkan iman kepercayaan Yahudi dan Kristen.
Dalam suasana itu muncullah "perguruan tinggi" teologi Kristen. Dengan sengaja dan secara sistematik iman kepercayaan Kristen di sana dikelola dan diajarkan untuk mendidik "teolog". Berkembanglah dua "perguruan tinggi teologi" (kategese) macam itu, yang masing-masing masih ada cabangnya juga. Dua-duanya berkembang di kawasan timur negara Roma. Dan itulah yang menyebabkan bahwa teologi, khususnya kristologi, selama abad III-IV berkembang terutama di kawasan timur itu. Di kawasan barat tidak ada sesuatu yang sebanding. Tetapi adanya kedua perguruan tinggi itu pun menyebabkan bahwa muncullah dua "mazhab" dalam teologi, khususnya dalam kristologi. Selama abad III-IV kedua mazhab itu bersaingan dan berusaha saling mengalahkan.
Perguruan tinggi pertama dan terpenting didirikan di kota Aleksandria di Mesir. Sejak hari jadinya (oleh Aleksander Agung th. 331 seb. Mas.) kota itu menjadi pusat ilmu dan kebudayaan, baik pada umumnya maupun bagi orang-orang Yahudi dan kemudian bagi orang-orang Kristen. Pada th. 180 Mas. sudah ada perguruan tinggi teologi yang dikelola oleh Patenus. Sesudahnya dipimpin oleh Klemens dari Aleksandria (± th. 215) dan terutama oleh Origenes (± th. 253). Origenes pada th. 232 membuka perguruan serupa di Kaisarea, Palestina. Sejumlah besar tokoh teologi (dan gerejani) keluaran perguruan di Aleksandria itu (a.l. Dionysius, Pierius, Petrus dari Aleksandria, Didymus, (Cyrillus). Mazhab Aleksandria itu bergerak dalam alam pikiran filsafat yang berpangkal Plato dan terpengaruh oleh gnosis Yunani. Dalam menafsirkan Kitab Suci mazhab ini meneruskan eksegcse allegorik yang sudah dimanfaatkan para filsuf untuk mengartikan mitos-mitos dan para ahli Yahudi — misalnya Filo — untuk mengartikan Perjanjian Lama.
Perguruan tinggi teologi Kristen yang kedua berkembang di Antiokhia di Siria. Kota ini pun sudah lama menjadi pusat ilmu, filsafat dan kebudayaan Yunani. Perguruan tinggi teologi Kristen itu didirikan pada tahun 260 oleh Lucianus dari Samosata (± th. 312). Perguruan tinggi ini mempunyai cabangnya di kota Edesa di Mesopotamia. Tokoh teologi yang besar seperti Diodorus dari Tarsus, Meletius dari Antiokhia, Johanes Khrisostomus, Theodorus dari Mopsuestia, Nestorius dan Teodoretus dari Sirus dan Efraim orang Siria adalah wakil mazhab Antiokhia itu. Mazhab ini pun bergerak dalam alam pikiran Yunani, tetapi terlebih terpengaruh oleh ilmu dan filsafat Arestoteles, bersifat positives, kurang mistik dan lebih rasionalis daripada mazhab Aleksandria. Dalam eksegese mazhab Antiokhia menekankan segi historik dan harafiah Kitab Suci dan kurang gemar akan allegorese.
Wakil pertama yang berbobot dari mazhab Aleksandria ialah Ktemens dari Aleksandria (± th. 1225). Pemikirannya tentang fenomena Yesus Kristus, kedudukan dan peranan-Nya, meneruskan dan mengembangkan pemikiran Yustinus dan (kurang) Ireneus. Klemenslah yang menentukan arah perkembangan mazhab Aleksandria selanjutnya. Ia mempunyai hati yang lebar-lebar terbuka bagi alam pikiran Yunani dan berusaha mengkristenkan filsafat Plato dan gnosis Yunani. Bau gnostik misalnya tercium dalam ucapan Klemens ini: "Mengenal dirinya ialah mengenal Allah" (Paed. 3,1. 1.1). Dengan pendekatan positif Klemens berusaha melampaui penyelewengan dalam iman Kristen yang tercetus oleh alam pikiran Yunani (gnosis, doketisme, monarkianisme). Pikiran-pikirannya tercantum dalam karya-karya utamanya ialah Pendidik (Paedagogus) dan Permadani (Stromata).
Kristologi Klemens tentu saja bertitik tolak Firman Allah (logos ilahi) dalam kepra-adaan-Nya. Firman itu ialah Anak Allah dan gambar Allah. Ia kekal abadi dan dengan-Nya segala sesuatu dijadikan. Menurut Klemens, sesuai dengan filsafat Plato dan Stoa, Firman itu meresap ke dalam segala sesuatu, mengatur dan memimpin jagat raya sebagai akal dan jiwanya. Semua manusia, khususnya para filsuf, menjadi peserta dalam Firman ilahi itu (Protr 6.68.2). Pada saat tertentu Firman atau Anak Allah itu menjadi nampak bagi manusia oleh karena menjadi manusia. Dengan demikian Firman/Anak Allah serentak ilahi dan manusiawi (Protr 1,7.1). Allah dalam manusia dan manusia dalam Allah (Paed 3,2.1) ialah Yesus Kristus. Kalau Klemens menyebut Yesus Kristus "Allah", maka sebutan itu belum banyak artinya. Sebab menurutnya setiap orang yang dengannya Firman ilahi diam bersama mendapat rupa "Firman" dan menjadi Allah (Paed 3.1.2.5). Yesus Kristus, ialah Firman Allah yang menjadi manusia, merupakan penyambung antara umat manusia dan Allah (Paed 10,110.1). Allah-manusia yang satu itu benar-benar menderita dan mati (Strom 5,16.5).
Firman dan Anak Allah yang terbungkus dalam manusia dari darah dan daging (Quis Dives 37,3) dalam seluruh eksistensi-Nya di dunia berperan sebagai "Pendidik" dan "guru" (Paed 3,12.99.2). Dengan pendekatannya itu Klemens mengkristenkan suatu gagasan yang amat penting dalam alam pikiran Yunani dan sudah dipakai oleh Tit 2:11-12. Gagasan itu ialah "pendidikan" (paideial). Pendidikan dalam pendekatan Yunani ialah suatu jalan dan sarana penyelamatan, sebab memberi "pengetahuan", gnosis, seperti juga diusahakan para gnostik. Menurut Klemens dosa dasar manusia, yakni Adam, ialah: meluputkan diri dari pendidikan ilahi oleh Firman Allah) (Protr 11,111; Strom 6,12.96) dan manusia-manusia lain dalam hal itu mencontoh Adam saja.
Maka Firman Allah menjadi manusia guna kembali mendidik manusia, mengajar mereka, memberi gnosis/pengetahuan eksistential, tentang Allah. Tentu saja — ini pun cocok dengan pikiran Yunani — Allah tetap tidak tercapai, juga oleh Firman / Logos yang menjadi manusia tidak. Barang siapa menerima pendidikan dan pengetahuan itu disempurnakan dalam penyerupaan asli dengan Allah, diilahikan dan akhirnya memandang Allah. Sesuai dengan misalnya Ireneus, Klemens dapat berkata bahwa Allah (Firman/Anak Allah) menjadi manusia, supaya manusia menjadi Allah, ilahi dan Anak Allah. Tetapi maksud Klemens lain. Firman yang menjadi manusia "mengajar" manusia bagaimana ia dapat menjadi Allah (Protr 1,8. 4). Semuanya itu berbau gnosis Yunani yang dikristenkan.
Klemens dari Aleksandria yang tentu saja mau meneruskan tradisi mewartakan seorang Yesus Kristus Yunani. Ia menonjolkan ciri ilahi Yesus Kristus sedemikian rupa, sehingga ciri manusiawinya yang secara formal dipertahankan nyatanya diserap oleh ciri ilahi. Klemens misalnya dapat berkata (Strom 6,9.91.2) bahwa Yesus Kristus makan dan minum bukanlah oleh karena membutuhkannya, sebab daya penyangga Yesus ialah logos ilahi. Yesus hanya makan dan minum supaya orang sekitarnya tidak mendapat kesan bahwa kejasmanian-Nya hanya bayangan (phantasma) saja. Menurut Klemens manusia Yesus sebenarnya bebas sama sekali dari segala nafsu. Itulah cita-cita askese Yunani, apatheia.
Sehaluan dengan Klemens tetapi jauh melampauinya sebagai teolog ialah Origenes, seorang imam dari Aleksandria (± 253/25). Dari semua tokoh teologi dalam sejarah hanyalah Agustinus yang sebanding dengan Origenes. Dan meskipun di kemudian hari dikutuk sebagai "tersesat" (secara resmi barulah pada th. 543), namun pengaruh Origenes atas pemikiran dan kehidupan umat Kristen besar dan luas sekali dan berlangsung sampai dengan hari ini, tidak hanya di bagian timur kekristenan, tetapi juga di bagian barat. Sebagai teolog Origenes memang seorang "allround". Ia seorang filsuf (platonis), seorang ahli kitab dan ahli bahasa, seorang teolog dan seorang mistikus. Mungkin karena kebesaran dan keunggulannya Origenes sejak awal menjadi tokoh kontroversial.
Mula-mula Origenes, sebagai pengganti Klemens, menjadi pemimpin perguruan tinggi teologi di Aleksandria. Tetapi olen karena tidak disenangi uskupnya dan dipecat, maka Origenes membuka perguruan serupa di Kaisarea, Palestina, dengan dukungan uskup setempat (th. 230). Menjelang akhir hidupnya oleh pemerintah (Decius) Origenes dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa dengan ngeri. Dan itu menyebabkan kematiannya.
Pikirannya dituangkan ke dalam sejumlah besar tulisan (konon sekitar 2000!) dan untuk kerjanya Origenes menggunakan suatu staf besar (7 stenograf, 1 penulis, sejumlah putri yang merias tulisannya). Ada karya raksasa di bidang perkitabsucian yang disebut "Hexapla" dan di samping itu sejumlah besar komentar atas Kitab Suci, yang bermacam-macam jenisnya. Teologi sistematiknya terurai dalam karya besar "Mengenai pokok-pokok utama" (iman kepercayaan Kristen) (Peri Arkhon/De Principiis) dan sebuah karya apologetis "Melawan Celsus" (seorang filsuf Yunani yang menyerang kekristenan dalam karyanya "Alethinos Logos", pikiran yang benar).
Seperti ditegaskannya dalam kata pendahuluan karya "Peri Arkhon Origenes mau setia pada tradisi, apa yang diistilahkannya sebagai "pewartaan/praedicatio Gereja". Ia sendiri mengumpulkan ajaran yang umum diterima (semacam syahadat), tetapi sekaligus mencatat di mana ajaran tegas tidak ada, belum ada. Hanya tradisi itulah mau dipikirkan Origenes dengan hati-hati. Dengan maksud yang sama Origenes berusaha menentukan mana teks Kitab Suci yang dapat dipercaya (Hexapla) dan kitab-kitab mana yang umum diterima sebagai Kitab Suci (kanon Kitab Suci). Memang Origenes dapat tahu mana ajaran Gereja dan mana kitab-kitab yang umum diterima. Ia membuat banyak perjalanan; ke Roma, Atena, Antiokhia, Kapadosia, Palestina.
Hanya Origenes seorang teolog kreatif yang bernafas dan hidup dalam suasana intelektual Yunani yang — juga secara populer — menyerap filsafat Plato dan penerus-penerusnya. Dan suasana itu justru paling intensif di Aleksandria. Di sana orang-orang Yahudi sudah lama menyerap alam pikiran itu. Karya-karya Filo dari Aleksandria dikenal Origenes. Maka sama seperti dan malah lebih dari Klemens, Origenes secara spontan terbuka bagi Pengaruh Yunani itu. Tendensi yang sudah lama ada itu menjadi matang dalam pemikiran Origenes. Ia berusaha dengan tuntas mengungkapkan iman-kepercayaan tradisional dalam alam pikiran Yunani.
Untuk dapat mengikuti pikiran Origenes orang mesti ingat akan latar belakang Yunani itu. Platonisme (dan Stoa) mempunyai pandangannya sendiri terhadap dunia dan terhadap manusia. Ada suatu kosmologi dan suatu antropologi khusus, yang di masa itu memang tersebar luas.
Secara statik-vertikal dunia dipikirkan terdiri atas beberapa tingkat. Tingkat paling atas ialah tingkat ilahi (Yang Ilahi, Allah) yang oleh manusia tidak tercapai. Dari padanya berasallah (dipikirkan dengan pelbagai cara) tingkat tengah. Dan dari situ datanglah dunia materiil yang diamati. Khususnya Plato dan penerusnya memikirkan halnya l.k. sebagai berikut: Pada yang Ilahi ada "akal" (logos, nous) yang secara ideal, berupa cita-cita,, mengandung seluruh realitas. Cita-cita yang masih satu itu tercermin dalam suatu dunia rohani intelektual. Dalam dunia rohani itu cita-cita tersebut mengenai seluruh realitas menjadi terpisah dan tersendiri. Akhirnya cita-cita itu secara terbatas dan tidak sempurna tercermin dalam dunia yang didiami manusia.
Manusia dipikirkan terdiri atas tiga (atau dua) unsur tersendiri (bdk. ITes 5:23). Bersama-sama unsur itu membentuk manusia seadanya. Ada akal (logos, nous, pneuma) manusia, yang merupakan manusia yang sebenarnya, peserta dalam logos/nous ilahi. Unsur kedua ialah "jiwa (psykhe) prinsip hidup jasmani. Dengan jiwa itu akal bergabung. Dan akhirnya ada badan yang merupakan unsur rendah dalam manusia dan yang membatasinya. Badan itu sebenarnya hanya beban saja bagi akal/ logos, pneuma. Akal (ataupun jiwa) sudah ada sebelum bergabung dengan badan, jadi sebenarnya termasuk tingkat kedua, dunia rohani tersebut.
Baiklah diingat kosmologi dan antropologi Yunani secara dasariah berbeda dengan kosmologi dan antropologi yang melatarbelakangi Kitab Suci Perjanjian Lama (kecuali Keb) dan, pada umumnya, Perjanjian Baru. Dunia yang diciptakan Allah dilihat oleh Kitab Suci sebagai serangkaian kejadian dan manusia dilihat sebagai suatu kesatuan yang tentu ada berbagai seginya, tetapi bukanlah sebuah "kemajemukan", yang terbentuk dengan pelbagai unsur yang berdiri sendiri.
Adapun Origenes, dalam rangka pikiran Yunani tersebut ia merefleksikan ajaran tradisional mengenai Yesus Kristus, kedudukan dan peranan-Nya. Kosmologi dan antropologi Yunani diadaptasikan pada kepercayaan Kristen tentang penciptaan. Origenes tidak menerima bahwa dunia dan manusia, entah bagaimana, kekal dan abadi. Dan Allah bagaimanapun juga tidak termasuk jagat raya. Origenes menolak emanasi, seolah-olah segalanya akhirnya semacam cetusan dari yang ilahi. Tentu saja ajaran khas Origenes mengenai "apokataiasis panton" (pemutihan segala sesualu) mirip dengan pandangan Yunani bahwa segala sesuatu akhirnya dipulihkan menjadi satu kembali. Tetapi Origenes mengartikan pandangan itu secara soteriologis. Semua orang (termasuk Iblis) akhirnya akan selamat. Kemudian mulailah lingkaran berikut. Sebab — ini sesuai dengan Plato — menurut Origenes, dunia (lingkaran) yang sekarang ada bukanlah yang pertama dan bukanlah yang terakhir. Tetapi semuanya tidak kekal dan ciptaan Allah.
Pemikiran Origenes bertitik tolak Firman ilahi, seperti sudah lazim dalam tradisi Kristen-Yunani. Firman Allah dan Anak Allah dalam kepra-adaan-Nya disamakan dengan Hikmat ilahi (In Yon 1,20). Firman/Hikmat ilahi itu sezat dengan Allah yang satu dan esa. Tidak terlalu jelas bagaimana Origenes memikirkan relasi antara Firman/Hikmat ilahi dan Allah. Allah (Bapa) dan Anak dikatakan dua "benda" (pragmata) oleh karena ada Diri (Contra Celsum 8,12). Anak disebut "sezat, sehakikat (homo-ousios) dengan Allah (Adamantius 1,2). Origenes untuk pertama kalinya dalam rangka kristologi memakai istilah "homo-ousios" itu, yang sudah lama ada, khususnya di kalangan para gnostik. Maka Origenes dapat menyebut Firman itu sebagai Allah (De Princ. 1 Praef 4). Namun demikian rupanya Origenes dengan istilah itu mau mengatakan bahwa Firman itu sejenis dengan Allah, dengan arti itu "Allah" berarti "ilahi". Tetapi Firman itu rupanya tidak setingkat dengan Allah dan satu dengan Allah. Rupanya Firman itu dipikirkan sebagai semacam "emanasi" (kekal) dari Allah (Theognostus 1,2). Dan itulah kiranya sebabnya mengapa Origenes menyebut Firman Allah itu sebagai "Allah Kedua" (Contra Celsum 5,39), sama seperti Yustinus. Pemikiran Origenes subordinaionis". Firman itu "lahir" dari zat (ousia) Bapa (Theognostus), sehingga ada "dua benda" (pragmata), dua "diri" (hypostasis) yang mandiri. (Contra Cels 8,12).
Dengan Firman/Hikmat itu Allah menciptakan segala sesuatu. Tetapi penciptaan itu terjadi dalam dua tahap. Firman Allah, ialah Hikmat dan gambaran-Nya mengandung di dalam diri-Nya segala cita-cita makhluk (In Yoh 1:29.22). Dan dengan arti itu dunia sama kekal dengan Firman dan Allah sendiri (De Princ. 1,2.10). Lalu dalam langkah pertama diciptakan dunia rohani, yang terdiri atas cita-cita, gambaran-gambaran, bagan segala makhluk. Itulah tingkat tengah kosmos. Akhirnya menurut gambaran-gambaran itu tingkat bawah dijadikan.
Firman/Anak Allah yang pra-existen itu benar-benar menjadi manusia, secara utuh-lengkap, serupa dengan manusia lain (Dep Princ. 2,6.2). Origenes menekankan bahwa pada Yesus Kristus ada "dua kodrat", yang ilahi dan yang manusiawi (Contra Celsum 3,28). Kedua kodrat itu dipersatukan oleh Firman/Anak Allah itu. Dengan demikian Firman/Anak Allah "menghampakan diri" dan Ia serentak Allah (Ilahi) dan manusia. Dan berdasarkan dua "kodrat" itu pada Yesus Kristus ada juga dua rangkaian hal ihwal/perbuatan, yaitu ilahi dan yang insani (Contra Celsum, 7,17; 4,15). Dan kedua itu bersatu (Contra Celsum 1,66; 2,9; 6,41) sedemikian rupa, sehingga yang ilahi dapat dikatakan mengenai manusia dan yang insani dapat dikatakan tentang Allah (Anak/Firman) (De Princ. 2,6.6). Origenes menerima apa yang diistilahkan sebagai "communicatio ideomalum", artinya: dua rangkaian ciri (ilahi dan insani) tergabung dalam satu subjek sehingga subjek itu dapat bergilir ganti disebut menurut ciri-ciri yang berbeda itu, sehingga ciri-ciri yang berbeda itu serentak dikatakan mengenai subjek yang sama. Misalnya: Allah (ilahi) menderita (insani) dan: manusia (insani) menciptakan (ilahi). Adapun sebabnya ialah: pelaku/subjek dua rangkaian perbuatan/ciri itu satu dan sama. Hanyalah pada Origenes halnya belum seluruhnya jelas, yaitu: Apakah menurut Origenes subjek/pelaku benar satu dan sama, meskipun ada dua rangkaian ciri? Sebab kadang-kadang orang mendapat kesan bahwa Origenes memikirkan halnya seolah-olah semacam campuran (Contra Celsum 1,66). Tapi bagaimanapun juga Origenes menekankan bahwa Yesus Kristus, Firman/Anak Allah benar-benar menderita, mati dan bangkit (Contra Celsum 2,16).
Menurut pendekatan Origenes Firman/Anak menjadi manusia dalam dua tahap. Terlebih dahulu Firman/Anak Allah bergabung dengan "jiwa" (akal/nous) yang sudah ada sebelum berbadan (bdk. De Princ. 3,3.5). Penggabungan Firman dengan "jiwa" itu terjadi pada saat jiwa itu dijadi-kan oleh Firman menurut "gambaran Allah" ialah Firman ilu sendiri. Jiwa Kristus selalu melekat pada Firman dan setia pada-Nya tanpa kekurangan apa saja. Origenes menegaskan bahwa jiwa itu selalu tertanam dalam Allah (melalui Firman), sehingga segala apa yang dibuat, dilihat dan dirasakan jiwa itu menjadi ilahi. Ia bersatu dengan Firman itu, seperti besi yang dile-takkan ke dalam api bersatu dengan api itu. Dan itulah sebabnya mengapa jiwa itu tidak berbalik dan tidak berubah (De Princ. 2,6.6). Jiwa dan Firman itu menjadi satu "roh" (pneuma) (De Princ. 4,4.4; 2,6.6). Dalam lang-kah kedua jiwa yang bergabung dengan Firman itu, bergabung dengan badan (De Princ. 2,6.3). Dengan demikian Firman/Anak Allah menjadi se-nasib dengan manusia yang malang dan berdosa. Itulah penghampaan diri Firman dan Anak Allah (De Princ. 1 Praef 4). Menurut Origenes kebaikan (dan kasih) Kristus paling nampak ilahi dan unggul ketika Ia merendahkan diri dalam ketaatan sampai mati, sampai mati di salib. Di situ lebih nampak daripada seandainya kesetaraan Anak dengan Allah dianggap tidak dapat ditinggalkan atau seandainya Kristus menolak menjadi Hamba demi kesela-matan dunia (In Yoh 1:32). Oleh karena jiwa Kristus tetap lekat seerat-erat-nya pada Firman, maka badan pun diikutsertakan dalam ciri ilahi Firman melalui persatuan dan pencampuran. Maka badan pun berubah menjadi ilahi (Contra Cels 3,41). Maka titik sambungan Anak dan Firman Allah ialah jiwa Yesus Kristus.
Dalam rangka yang sama Origenes memikirkan lebih lanjut karya pe-nyelamatan Kristus yang diwartakan tradisi. Manusia nyatanya ada dalam keadaan malang. Dan sebabnya ialah semua jiwa dalam kepra-adaan-nya bersalah (De Princ 1,8.1), entah bagaimana, dengan pelbagai tingkat (De princ 2,9.2). Sebab itu tidak semua manusia sama malangnya. Sebagai hukuman jiwa menjadi terkurung dalam badan. Dan badan dan jiwa tetap bermusuhan satu sama lain (De Princ. 3,4.1). Satu-satunya jiwa yang tidak berdosa dan selalu melekat pada Allah ialah jiwa Kristus (De Princ. 2,6.5). Hanya karena kasih-Nya kepada jiwa-jiwa lain Firman/Anak/Gambar Allah (bdk. Contra Cels 8,12) menjadikan diri-Nya senasib dengan manusia yang paling malang, yaitu dengan benar-benar mengalami kematian di salib.
Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, menyelamatkan seluruh manusia. Origenes mengulang dan memperuncing prinsip karya pe-nyelamatan yang menegaskan: Apa yang tidak dipersatukan dengan Firman, tidak diselamatkan pula (Dial. Her. 7). Namun demikian jelas bahwa dalam pendekatan Origenes jiwa manusia dibebaskan dari badan (seada-nya). Sesuai dengan tradisi Origenes mempertahankan kebangkitan badan. Tetapi segera ia menambah: Badan kebangkitan itu lain sama sekali dengan badan sekarang (De Princ. 3,6.6; Contra Celsum 5,23).
Dalam rangka komentarnya atas Rm (3:Cool Origenes dengan panjang le-bar menguraikan tradisi yang mengartikan kematian Yesus di salib sebagai korban pemulihan dan penyilih dosa, korban pendamaian. Dosa-dosa manusia menuntut penyilihan dan pemulihan. Dan Kristus dengan rela dan sebagai pengganti orang berdosa dan Imam besar (In Yoh 6.53.273-274) menawarkan diri menjadi korban pendamaian. Hanya mesti diakui bahwa dalam pendekatannya ini Origenes menyatakan diri lebih setia pada tradisi daripada pada pemikirannya sendiri. Dalam kerangka pemikirannya sendiri gagasan "korban Kristus" itu tidak terlalu cocok.
Origenes juga mengambil alih suatu pikiran yang sudah ada (Yustinus) dan yang di kemudian hari menjadi laku sekali (Ambrosius), khususnya dalam rangka khotbah. Pikiran itu sangat mendramatisasikan kematian Yesus "demi untuk dosa kita" sebagai (uang) tebusan. Manusia (jiwa) karena dosanya menjadi budak dan milik Iblis. Iblis mendapat hak milik atas manusia. Adapun Kristus Ia "menebus" manusia dengan membayar sebagai uang tebusan darah-Nya (kematian-Nya) kepada Iblis, sehingga manusia menjadi bebas dari genggaman Iblis. Hanyalah Kristus sendiri diluput-Kan dari genggaman Iblis dan Maut melalui kebangkitan. Iblis sedikit banyak merasa dirinya tertipu. Sebab seandainya Iblis tahu bahwa Yesus Kristus (sebab Allah) akan bangkit, pasti tidak menerima bayaran itu. Ha-nya boleh dipertanyakan sejauh mana "drama" itu oleh Origenes dinilai se-bagai "teologi" atau sebagai retorik belaka. Pikiran dasar sebenarnya ialah: Dengan kematian-Nya Yesus Kristus yang kuasa mengalahkan kuasa Iblis dan Maut (In Yoh 1,32.233; 6,53.273-275). Itu merupakan suatu pra-andaian untuk proses penyelamatan yang direalisasikan Yesus Kristus.
Proses itu oleh Origenes dipikirkan l.k. sebagai berikut: Dengan men-jadi manusia Firman/Anak Allah pada dasarnya sudah mengilahikan manusia. Tetapi serentak Ia membuka jalan penyelamatan bagi manusia. Dalam hal itu Origenes meneruskan pikiran Klemens tentang Yesus Kristus sebagai pendidik dan guru. Dalam hal ihwalnya sebagai manusia Yesus Kristus, gambar Bapa, memperlihatkan kesempurnaan Bapa kepada manusia. Ia menjadi "contoh", model manusia yang langkah demi langkah diilahikan (Contra Celsum 8,17). Manusia yang percaya kepada Kristus menjadi peserta Kristus dalam kekuasaan, kekuatan Allah, dalam Firman dan hidup Allah. Berkat penyertaan tersebut dan pengetahuan tentangnya manusia naik kepada Bapa (Contra Celsum 6,68). Maka penyelamatan merupakan suatu proses yang maju dan berkembang, baik untuk tiap-tiap orang maupun untuk seluruh umat manusia, yang langkah demi langkah menuju penyelesaiannya (De Princ. 3,6.6).
Jelaslah kristologi dan soteriologi Origenes benar-nenar Yunani. Secara formal dan devosional Origenes mempertahankan realitas historis Yesus dan realitas kemanusiaan-Nya. Bagaimana tidak, mengingat Origenes menulis komentar-komentar atas Injil-injil sinoptik. Ia pun mempertahankan bahwa keselamatan mencakup seluruh manu.sia. Namun demikian Origenes begitu menekankan keilahian Yesus Kristus, sehingga — seperti pada Yoh — keilahian itu terus-menerus menembus kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan semacam kaca yang sedikit memadamkan sinar cahaya keilahian, sehingga dapat dipandang mata manusia. Dalam pendekatan Origenes manusia Yesus, Orang Nazaret, akhirnya diserap oleh Anak/Firman Allah (In Yoh 32,25.325). Juga keselamatan oleh Origenes terutama dipikirkan sebagai "keselamatan jiwa", keselamatan rohani. Origenes memang tidak menjunjung tinggi badan manusia. Ia misalnya hanya melihat jiwa (pra-existen) sebagai "gambar Allah'', seperti juga hanya Firman pra-existen menjadi gambar Allah. Dan dunia materiil oleh Origenes bisa disebut sebagai "kakus". Kendati kesetiaannya pada tradisi, Origenes akhirnya toh amat jauh dari Yesus, orang Nazaret, dan hidup-Nya di dunia ini di tengah-tengah manusia.
Usaha besar para teolog (dari Aleksandria), khususnya Origenes, belum juga berhasil menjernihkan suasana pemikiran sekitar Yesus Kristus. Belum ada suatu kesepakatan tuntas, kendati kemajuan yang tercapai. Bahkan pemikiran menjadi semakin simpang siur, Memang ada semacam kesepakatan dasar dalam kristologi. Kistologi dari atas sudah lama menjadi lazim. Pusat perhatian ialah Anak Allah, Firman Allah dalam kepra-adaan-Nya. Umum diterima bahwa Anak, Firman Allah, mempunyai ciri ilahi. Ia sezat, sehakikat (homo-ousios), berarti: sejenis, dengan Bapa, yaitu Allah yang Mahaesa. Baiklah disadari bahwa yang di masa itu disebut Bapa, ialah Allah yang esa dan tunggal. Dan itu sesuai dengan pikiran Yunani yang sudah biasa menyebut Yang Ilahi, Allah, sebagai Bapa. Hanya sebutan Yunani itu kurang cocok dengan pandangan Alkitab. Dalam tradisi alkitabiah (Perjanjian Lama) Allah yang esa ('elohim) tidak begitu saja dapat disamakan dengan Yahwe, Bapa Israel, raja, orang benar.
Umum diterima pula bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia. Doketisme sudah diatasi. Tetapi tetap tinggal masalah: Bagaimana relasi antara Anak Allah, Firman Allah yang pra-existen, dengan Allah yang mahaesa? Sejauh mana, dengan arti mana, Ia mesti disebut "sezat", "sehakikat" (homo-ousios) dengan Allah, ialah Bapa? Jika Yesus Kristus disebut "Allah" (theos = ilahi; Yesus tidak disebut "ho theos"), maka bagaimana keesaan Allah dapat dipertahankan? Dan selanjutnya, masih tetap tinggal masalah ini: Bagaimana relasi Anak Allah, Firman Allah yang pra-existen, dengan manusia Yesus, sehingga Yesus Kristus tetap hanya satu dan sama, tidak dua tokoh.
Dan pemecahan lama atas masalah-masalah tersebut, kecuali doketisme, masih tersebar luas. Monarkianisme (Noetus, Praexeas, Sabellius), bahkan dalam bentuk dinamik-adopsianis masih juga mendapat pembela. Itu terbukti oleh kasus Paulus dari Samosata, uskup di Antiokhia (± th. 270). Sejauh masih dapat diketahui, pikirannya l.k. sebagai berikut: Firman Allah, Anak Allah dalam kepra-adaan-Nya memang "sezat/sehakikat" (homo-ousios) dengan Bapa, ialah Allah yang mahaesa. Tetapi Ia bukan suatu "pribadi" (hypostasis) yang mandiri, melainkan berupa suatu kekuatan ilahi, hikmat ilahi, firman dengan arti: perintah yang berdaya. Pada suatu saat kekuatan/hikmat ilahi itu turun atas Yesus, seorang manusia yang suci dan secara luar biasa dikurniai. Berkat kekuatan ilahi yang ada pada-Nya, di dalam-Nya, Yesus Kristus diangkat menjadi Anak Allah. Versi monarkianisme (modalis), seperti disebarluaskan Sabellius (± th. 210) masih tetap laku juga. Anak Allah, Firman Allah hanya rupa, bentuk dari Allah yang mahaesa. Dalam Yesus Kristus Allah mendapat rupa manusia dan nampak di bumi. Dan itulah yang disebut "Anak Allah" atau "Firman Allah". "Bapa" hanyalah nama bagi Allah Pencipta, "Anak" nama bagi Allah yang nampak sebagai manusia dan "Roh Kudus" ialah nama Allah yang menguduskan (rahmat).
Modalisme dalam kasus Paulus dari Samosata berbentrokan dengan pendekatan yang didukung oleh pemikiran Origenes. Origenes memang mati-matian menolak monarkianisme, sehaluan dengan Tertullianus, Hippolytus dan Novatianus. Anak Allah, Firman Allah yang sezat/sehakikat dengan Allah (Bapa) sejak kekal ada, bukan sebagai kekuatan saja, melainkan secara mandiri, berbeda dengan Bapa, sebagai "hypostasis" dan "ousia” (kedua istilah ''hypostasis" dan “ousia” biasanya searti). Meskipun demikian Anak Allah, Firman Allah berasal dari Allah, yang karena itu disebut Bapa-Nya. Maka Anak Allah, Firman Allah memang ilahi, tetapi tidak setingkat dengan Bapa (Allah yang mahaesa). Ia disebut "Allah kedua", Pendekatan Origenes disuarakan oleh seorang imam dari Aleksandria, Malkhion, murid Origenes, pada suatu sinode uskup-uskup di Antiokhia (th. 268), yang menolak ajaran Paulus dari Samosata, oleh karena menyeleweng dari iman kepercayaan sejati, dari tradisi.
Tetapi bentrokan di Antiokhia tersebut sekaligus menyingkapkan suatu kelemahan yang ada pada kristologi Origenes. Terbawa oleh kosmologi dan antropologi Yunani (platonis) Origenes memikirkan inkarnasi dalam dua tahap. Firman Allah, Anak Allah yang sejak kekal ada dan sezat dengan Bapa bergabung dengan jiwa (nous, akal) Kristus, kemudian melalui jiwa Anak Allah itu bergabung dengan badan yang sebenarnya hanya semacam bungkus, penjara bagi jiwa (dan Anak Allah, Firman Allah). Pikiran Origenes tentang jiwa yang pra-existen itu umum ditolak, juga oleh pengikut-pengikut pikiran Origenes. Maka Malkhion (dan orang yang sehaluan, seperti Hymeneus, uskup Yerusalem) melompati saja langkah tengah tersebut. Mereka melihat hubungan antara Anak Allah, Firman Allah yang pra-existen, dengan manusia Yesus seperti hubungan antara jiwa (nous, akal) dan badan. Pada Yesus Kristus jiwa (nous) manusiawi diganti dengan Firman Allah yang pra-existen. Logika pikiran itu tidak dapat disangkal. Dalam antropologi Yunani (Plato, Stoa) akal (nous, logos) manusia merupakan penyertaan dalam akal (nous, logos) ilahi. Kalau logos sendiri menjadi manusia (seperti pada Yesus Kristus), mengapa masih mesti ada suatu "penyertaan" dalam "logos" yang sama? Badan Yesus hanya menjadi sarana, alat untuk Firman Allah, sehingga pelaku, subjek, hal ihwal dan perbuatan Yesus tidak lain kecuali Firman Allah. Dengan cara demikian nampaknya secara tuntas dipertahankan tradisi yang berkata bahwa Yesus Kristus satu dan sama, bukan dua tokoh, subjek. Tetapi jelaslah keutuhan kemanusiaan Yesus Kristus dikorbankan, malah apa yang dikorbankan justru unsur yang dalam antropologi Yunani membuat manusia menjadi manusia. Apa yang akhirnya muncul hanyalah suatu doketisme, versi baru. Namun demikian pemikiran Malkhion dan kawan-kawannya tidak boleh dikatakan kurang konsisten dalam rangka antropologi Yunani itu.
Maka tidak mengherankan bahwa kristologi seperti dipaparkan Malkhion menjadi kristologi yang dianut banyak pengikut Origenes, dan malah oleh mereka yang cukup tegas mengecam pikiran Origenes, seperti Eusebius, uskup Kaisarea, dan Methodius dan Olimpus. Eusebius (± th. 339) misalnya berkata (De eccl, Theol. 1,20.90) bahwa Firman Allah berada dalam daging dan menggerakkannya, selaku jiwa, dan daging menjadi alat bagi Firman. Pada saat Yesus mati Firman itu meninggalkan daging (dan turun ke dunia orang mati) (Dem.evang. 3,4.108). Apa yang dalam Alkitab dikatakan mengenai jiwa Yesus sebenarnya mengenai Firman Allah (Dem. evang. 10,8.503-504). Senada dengan penegasan Eusebius Methodius dari Olimpus (± th. 311) berkata bahwa Yesus seorang manusia yang penuh dengan Allah (Firman Allah) yang terbungkus dalam kemanusiaan. Daging merupakan sarana bagi Firman (Sympos. 3,4; 3,7). Yesus Kristus terdiri atas dua unsur (seperti manusia terdiri atas dua unsur), yaitu Firman dan daging (De res. 2,18).
Kristologi macam itu diistilahkan sebagai kristologi "logos-sarks" (Firman-daging). Rumus itu diambil dari Yoh 1:14 (Firman menjadi daging). Tentu saja Yoh 1:14 (yang barangkali berpolemik dengan doketisme) lain sekali maksudnya. "Daging" pada Yoh 1:14 berarti: eksistensi historis manusiawi yang sungguh-sungguh. "Daging" justru menekankan keutuhan eksistensi manusiawi Yesus Kristus. Yoh 1:14 tidak berkata tentang "kemanusiaan" dengan arti "kodrat", seperti yang dipikirkan filsafat Yunani, apa pula tentang "daging" sebagai satu unsur "kodrat" itu. Dan bukan Origenes yang melontarkan kristologi logos-sarks itu. Namun demikian pemikirannya sedikit membuka pintu ke arah itu.
Masalah yang pada sinode di Antiokhia tahun 263 diperdebatkan, yaitu: hubungan antara Firman Allah dan manusia konkret Yesus, orang Nazaret, tidak sampai dijernihkan secara tuntas. Masalah hanya ditangguhkan saja. Untuk sementara waktu pandangan Malkhion, yang sehaluan dengan arah pikiran Origenes, menjadi laku. Masalah tidak dipikirkan lebih lanjut, oleh karena perhatian para pemikir bergeser kepada soal lain, yaitu hubungan Firman Allah, Anak Allah yang pra-existen, dengan Bapa ialah Allah yang mahaesa. Untuk waktu yang lama justru soal itu menjadi hangat dan masalah-masalah lain hilang dari perhatian dan penjernihannya ditangguhkan.
Biang keladi pergumulan dan bentrokan baru itu ialah Arius (± th. 336) terdukung oleh seseorang yang mahir dalam filsafat Yunani (sofis) bernama Asterius. Arius seorang imam di Aleksandria, tetapi berasal dari Antiokhia dan di sana berguru pada Lucianus dari Antiokhia, pendiri perguruan tinggi teologi (katekese). Rupanya Arius juga berkenalan dengan Paulus dari Samosata. Maka bentrokan yang terjadi sekaligus bentrokan antara mazhab Aleksandria dan mazhab Antiokhia, yang bersifat rasionalis-positivis. Pun pula bentrokan di Antiokhia pada tahun 268 sudah diwarnai oleh dua aliran besar dalam teologi Kristen di masa itu.
Suatu unsur lain yang berperan besar dalam bentrokan yang dicetuskan Arius dan berlangsung lama itu ialah unsur politik. Menjelang akhir abad III dan awal abad IV umat Kristen oleh kaisar-kaisar Roma (Diokletianus, Decius, Valerianus) dilawan dengan kekerasan. Tetapi pada tahun 312 Kaisar Konstantinus berubah haluan dan malah mulai mendukung agama Kristen. Kaisar itu menyadari bahwa agama itulah yang mempunyai masa depan. Agama Kristen oleh Konstantinus dinilai sebagai unsur pemersatu negara. Itulah sebabnya Kaisar, yang menganggap dirinya sebagai "Imam Besar", tidak segan campur tangan dalam pertikaian panas pada umat Kristen, khususnya sekitar Yesus Kristus. Umat Kristen, pertama-tama para uskup, tidak menolak campur tangan kaisar serta "pertolongannya" itu. Maklumlah pada umat Kristen belum ada sebuah instansi pusat yang sungguh-sungguh berkewibawaan dan berwewenang, kalaupun peranan uskup Roma semakin tampil ke depan.
Pertikaian pada umat Kristen tersebut memperlihatkan juga bahwa pemikiran para umat Kristen agak kabur, simpang siur dan tidak menentu. Sekaligus pertikaian yang tercetus oleh Arius itu memperlihatkan bahwa kerangka pemikiran Yunani (platonisme) yang sudah lama dipakai pemikir Kristen kurang memadai untuk mengkonseptualkan dan secara linguistik merumuskan iman kepercayaan Kristen. Adaptasi iman kepercayaan Kristen pada alam pikiran Yunani menempuh saat krisisnya yang parah, jalan buntu.
Bagaimana persis pikiran Arius sendiri kurang diketahui dengan pasti. Semua tulisannya (yang hanya sedikit), khususnya "Thalia/Perjamuan" hilang. Hanya kepingan-kepingan terpelihara melalui kutipan-kutipan pada orang-orang lain yang menolak pendekatan Arius, khususnya Athanasius. Agaknya pikiran Arius l.k. sebagai berikut: Allah/Yang ilahi secara mutlak esa, tunggal, transenden, tak tercapai oleh manusia, dan menjadi asal usul segala sesuatu (Surat kepada Aleksander, 16). Sesuai dengan kosmologi Yunani Arius mengatakan bahwa Allah yang esa dan transenden itu menciptakan segala sesuatu secara bertahap (sebab tidak dapat langsung berhubung dengan dunia material) (Thai. 5). Ciptaan pertama dan utama ialah Firman Allah (yang tidak termasuk dunia ilahi dan pun pula tidak termasuk dunia jasmani) dan secara metafor Firman itu boleh disebut "Anak Allah" (Thai. 6). Firman itu tidak "sezat/sehakikat (homo-ousios) dengan Allah (Thai. 6), tidak secara langsung mengenal Allah, tidak sama dengan firman dan hikmat yang ada pada Allah (imanen) (Thai. 5). Firman tercipta itu tidak kekal dan abadi, meskipun ada sebelum dunia (dan waktu), dan dijadikan dari ketidakadaan, seperti makhluk-makhluk lain. Firman itu seluruhnya tidak mirip (an-homoios) dengan Allah. Pokoknya Firman itu ada awalnya, sehingga ada pernahnya Firman itu tidak ada (Thai. 5). Selanjutnya Firman, makhluk utama dan utama, sebagai "demiurg" dan penengah antara Allah dan jagat raya menciptakan dunia. Rupanya Arius juga menjelaskan inkarnasi Firman itu sebagai berikut: Firman itu bergabung dengan manusia Yesus Kristus begitu rupa sehingga mengganti jiwa (akal, nous, logos) manusiawi dan menjadi penggerak (subjek) kemanusiaan (daging) Yesus. Jadi Arius menjadi penganut kristologi Logos-sarks.
Jelaslah dalam pikiran Arius tersebut tergabung berbagai unsur yang sudah lama ada dalam alam pikiran Yunani dan sudah menyusup ke dalam pikiran Kristen sekitar fenomena Yesus. Keesaan dan transendensi mutlak Allah yang tidak dapat diketahui makhluk mana pun juga sudah menjadi pikiran l.k. umum. Itulah "Theologia Negativa" yang terkenal itu. Gnosis sudah lama menekankan bahwa tidak ada hubungan langsung antara Allah/Yang ilahi dan dunia/manusia. Mesti ada (beberapa) penengah antara Allah dan dunia. Gagasan bahwa jiwa (nous, logos) manusiawi pada Yesus Kristus diganti Logos ilahi, sudah lazim di kalangan para pengikut Origenes. Arius menjadi paling radikal dengan penegasannya bahwa Firman Allah, Anak Allah, adalah sebuah makhluk, ciptaan, dan tidak kekal-abadi. Dengan cara itu Arius secara "dasariah memisahkan Allah dari dunia dan manusia. Akibatnya: keselamatan sebagaimana secara tradisional diterima iman kepercayaan Kristen ditiadakan. Tetapi radikalisme Arius itu hanya memperuncing suatu pendekatan yang sudah lama tersebar luas pada umat Kristen, yaitu apa yang diistilahkan sebagai "subordinasionisme". Firman Allah/Anak Allah memang sezat/sehakikat dengan Allah yang esa sehingga benar-benar "ilahi". Namun demikian Firman tidak setingkat dengan Allah. Tetapi kalau demikian duduknya perkara, Firman itu masih boleh dikatakan Allah? Dalam pikiran Arius tidak ada pilihan lain kecuali mengatakan Firman itu adalah ciptaan, makhluk, sesuatu di tengah Allah dan makhluk-makhluk lain.
Memang pikiran Arius itu tidak serba baru. Ada perintisnya, meskipun belum begitu jelas dan tuntas. Dionysius (± th. 264), uskup Aleksandria dan pengikut Origenes, dalam melawan modalisme (Sabellius) pernah merumuskan pikirannya (ada tiga hypostaseis yang mandiri pada Allah yang mahaesa) begitu rupa, sehingga memancing reaksi. Orang berkesan bahwa Dionysius menyangkal kekekalan Anak Allah, bahwa memisahkan Anak dari Bapa dan menyatakan Anak sebuah makhluk yang pada prinsipnya tidak berbeda dengan ciptaan-ciptaan lain. Cepat-cepat Dionysius, a.l. atas desakan uskup Roma, Dionysius (± th. 268), membetulkan perumusannya. Dionysius dari Aleksandria, sehaluan dengan pikiran Origenes, sangat menekankan bahwa sejak kekal ada tiga (Bapak, Anak, Roh) hypostaseis yang mandiri yang memang sezat/sehakikat (homo-ousios). Tetapi "ousia" (zat/hakikat) itu oleh Dionysius disamakan dengan Allah yang mahaesa.
Maka pertanyaannya ialah: Apakah Dionysius tidak memperbanyak Allah yang mahaesa, sehingga ada dua (tiga) Allah serentak? Paling tidak uskup Roma, Dionysius (bdk. DS 112), merasa prihatin dan curiga terhadap pikiran Dionysius dari Aleksandria. Uskup Roma dalam hal ini jelas berguru pada Novatianus yang menekankan keesaan Allah dan uskup Roma kuatir kalau-kalau keesaan Allah dikurangi oleh pikiran uskup Aleksandria. Dan memang justru dalam hal ini nampak perbedaan pendekatan Barat/Latin dengan pendekatan Timur/Aleksandria. Barat menekankan keesaan Allah, sehingga mesti dijelaskan bagaimana kesamaan Anak, Bapa (dan Roh Kudus) dengan Allah tidak mengurangi kemandirian Bapa, Anak dan Roh itu secara modalis. Sebaliknya Timur menekankan kemandirian dan perbedaan Allah (Bapa) dengan Anak (dan Roh), sehingga tinggal dijernihkan bagaimana ketiga itu tetap satu dan Allah yang mahaesa tidak diperbanyak menjadi tiga Allah. Uskup Roma tentu saja, sesuai dengan tradisi, mempertahankan bahwa Allah adalah esa dan Anak (serta Roh Kudus) yang mandiri selalu bersatu dengan Allah. Tetapi ia pun tidak berhasil secara tuntas menjernihkan duduknya perkara, Sebab keterangannya bahwa ketigaan ilahi seolah-olah dipadatkan dan dikumpulkan dalam Allah yang mahaesa sebagai puncaknya tidak amat jelas.
Adapun Arius, ia secara radikal memecahkan masalah. Secara mutlak ia mempertahankan keesaan Allah, yang bagaimanapun juga tidak dapat diperbanyak atau dibagi-bagi. Konsekuensinya: Anak (dan Roh) bukan Allah, melainkan makhluk. Pikiran Arius sangat rasional dan jelas. Rahasia menjadi jernih, berarti: kepercayaan Kristen menjadi pikiran murni, cocok sama sekali dengan kosmologi dan antropologi Yunani. Soteriologi tidak atau kurang merepotkan Arius. Justru karena jernihnya itu tidak mengherankan bahwa pikiran Arius amat menarik.
Memang sampai dua kali Arius dinyatakan menyeleweng dari iman kepercayaan Kristen yang benar. Yaitu oleh suatu sinode uskup-uskup di Aleksandria (th. 318/320) dan di Antiokhia (th. 325). Sinode di Antiokhia itu diketuai Uskup Hosius dari Corduba, penasihat rohani Kaisar Konstantinus. Itu membuktikan keprihatinan Kaisar. Uskup, atasan Arius sendiri, yaitu Aleksander dari Aleksandria (± th. 326) yang oleh Arius diserang sebagai modalis (Sabellius), memimpin perlawanan. Aleksander sendiri termasuk mazhab Aleksandria dan menganut pikiran Origenes. Menurutnya Yesus Kristus, gambar Allah, Anak Allah, kekuatan, Firman dan hikmat Allah yang pra-existen, merupakan suatu "pribadi" (hypostasis) dan "kodrat" (physis) mandiri, berbeda dengan Bapa dan sehakikat dengan Bapa (bdk. Ep. ad Alex. Constant. 4; 9; 7; 12). Firman itu (sejak kekal) berasal dari Bapa, lahir dari-Nya. Tetapi belum jelas pula bagaimana hubungan Firman Allah dengan Allah yang mahaesa (Bapa). Sehaluan dengan Origenes Aleksander tetap subordinasionis. Anak Allah ditempatkan antara Allah yang Mahaesa dan ciptaan (Epist.ad Alex, Const 11), tetapi bukan di pihak ciptaan melainkan di pihak Allah.
Arius yang di Aleksandria dan Antiokhia ditolak, mendapat dukungan pada uskup-uskup lain, khususnya pada Eusebius, uskup Nikomedia (± th. 341) di Asia Depan, dan Eusebius (th. 320), uskup di Kaesarea, Palestina. Oleh sebuah sinode uskup-uskup di Nikomedia dan suatu sinode uskup di Kaisarea Arius "direhabilitasikan". Eusebius, uskup Kaisarea, menjadi pemimpin kelompok uskup-uskup yang mendukung Arius. Dan pandangannya tentang Yesus Kristus memang cukup senada. Menurutnya Allah secara mutlak esa dan tunggal dan tidak ada apa saja yang setingkat (De eccl. theol. 2,14). Yesus Kristus Gambar, Firman dan Anak Allah memang pra-existen (De eccl. theol 2,14) dan menjadi penengah dalam penciptaan jagat raya (De eccl. theol. 1,13.1). Firman itu pantulan cahaya abadi (Allah) dan sebagai gambar Allah boleh disebut Allah (ilahi), tegasnya: Allah kedua. Namun demikian Ia bukan Allah sesungguhnya, bukan "sezat/sehakikat" (homo-ousios) dengan Allah (Bapa) dan tidak sekekal (Dem.ev. 4,3.7; 5,1.29; 4,3.5). Pada ketika tertentu Ia berada berkat kehendak Allah yang khusus (Dem.ev. 4,3.7), meskipun tidak dijadikan dari yang tidak ada (nihilo) seperti makhluk-makhluk. Kalau Yesus Kristus dikatakan "satu" dengan Bapa (Allah) (Yoh 10:30) maka artinya ialah: Anak menjadi peserta dalam kemuliaan Bapa, mirip dengan orang-orang suci lainnya(De eccl.theol. 3,19).
Maka sekitar tahun 325 di kawasan timur negara Roma ada dua kelompok uskup (sekeliling Aleksander dari Aleksandria dan sekitar Eusebius dari Kaisarea) yang bertikai satu sama lain, saling menuduh dan saling mengutuk, Selanjutnya Kaisar Konstantinus yang memprihatinkan kesatuan negara mengumpulkan semua uskup (atas beaya negara) untuk mengadakan suatu sinode menyeluruh di kola Nikea, Asia Depan. Itulah konsili ekumenik yang pertama datam sejarah. Pada saat itu tentu saja belum dinilai secara demikian. Untuk pertama kalinya Gereja sebagai suatu kesatuan dan dengan seluruh kewibawaannya mencoba secara konseptual dan linguistik mengungkapkan secara tegas iman kepercayaan tentang (salah satu segi) Yesus Kristus.
Biasanya konsili Nikea dihubungkan dengan dogma mengenai Allah Tritunggal. Tetapi itu sebenarnya kurang tepat. Yang dipertaruhkan dan diperdebatkan bukan Allah Tritunggal, melainkan Yesus Kristus. Dogma Allah Tritunggal belum ada di masa itu, meskipun kepercayaan itu sejak awal dihayati. Konsili Nikea suatu konsili kristologis. Hanya konsili itu agak terbatas dalam pendekatannya. Sebab apa yang ditentukan ialah hubungan Anak Allah, Firman Allah yang pra-existen, dengan Allah. Tentu saja tidak lepas dari Yesus Kristus secara menyeluruh. Hanya satu segi saja yang disoroti. Hubungan Anak Allah, Firman Allah dengan manusia Yesus tidak sampai dijernihkan, apa pula arti dan makna penyelamatan hal ihwal, penderitaan dan kematian Yesus. Dalam hal itu tradisi saja yang diteruskan tanpa dipikirkan lebih lanjut. Tentu saja ada kesadaran bahwa dalam seluruh debat dan pertikaian yang mau diakhiri konsili itu, keselamatan manusialah yang dipertaruhkan. Tetapi segi itu tidak dipertegas. Maksud konsili Nikea ialah menyaring dari kekaburan dan perbedaan pendapat yang berkecamuk, apa yang sebenarnya sejak awal (tradisi) diimani umat Kristen dan dalam praktek (khususnya ibadat baptisan) dihayati dan diakui. Memang syahadat yang dipakai dalam ibadat bukan teologi melainkan homologi. Hanya iman itulah mau diungkapkan dan dirumuskan konsili Nikea demi persatuan umat dalam iman. Tetapi oleh karena bergerak dalam alam pikiran Yunani (Plato, Arestoteles, Stoa), maka iman kepercayaan tradisional — dan dengan demikian Yesus Kristus sendiri — dirumuskan dalam alam pikiran itu dan dengan istilah teologis yang dipinjam dari alam pikiran Yunani itu, meskipun arti dan isi istilah itu diubah seperlunya.
574
« pada: 29 Oktober 2011, 05:38:48 »
Seluruh amal perbuatan manusia tidak ada status hukumnya, baik wajib, sunnah, mubah, makruh ataupun haram, sebelum datang pernyataan dari Asy-syari’. Jadi pada saat itu, manusia boleh berbuat sebatas pengetahuannya dan berdasarkan kemaslahatan yang ingin dicapainya. Sebab tidak ada taklif (pembebanan) sebelum datangnya pernyataan dari Asy-Syari’.
Allah Swt berfirman,
“Dan tidaklan Kami mengadzab sampai Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’ : 15)
Dengan ayat ini Allah Swt. menjamin hamba-Nya bahwa merea tidak akan diadzab atas dosa-dosa yang mereka lakuka, sebelum diutus seorang rasul kepada mereka. Mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka tidak terbebani hukum. Namun ketika rasul datang kepada mereka, maka terikatlah mereka dengan apa-apa yang dibawa oleh rasul tersebut.
Allah befirman,
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantahk Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa’ : 4)
Maka, siapapun yang tidak beriman kepada rasul itu, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt, mengenai ihwal ketidakberimananan dan ketidakterikatannya dengan hukum-hukum yang dibawa oleh rasul tersebut. Dan bagi yang beriman dan berpegang pada hukum-hukum yang dibawea oleh rasul itu pun akan dimintai pertanggungjawaban ihwal pelanggaran atau penyimpangan terhadap asalah satu atau beberapa dari hukum-hukum tersebut. Oleh karena itu, setiap muslim harus senantiasa menyelaraskan seluruh amal perbuatannya dengan syara’, baik berupa perintah maupun larangan.
Allah berfirman,
“Dan apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr : 7)
Keumuman Hukum Syara’
Pernyatan yang telah diuraikan di atas, bukan berarti bahwa orang yang tidak datang kepadanya suatu perintah atau larangan dari rasul (karena masa Rasulullah Saw. telah lewat) ia bukan mukallaf (orang yang terbebani hukum). Sebab beban hukum menurut syara’ bersifat umum, sebagaimana umumnya risalah untuk manusia.
Allah Swt. berfirman,
“Katakanlah (Muhammad) : Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian semua ….” (QS. Al-A’raf : 158)
Oleh karena itu, adalah sesuatu yang sudah pasti bahwa segala yang diperintahkan dan dilarang oleh rasul mencakup setiap aktivitas manusia. Maka, setiap muslim yang hendak, melakukan suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya atau mencari suatu kemaslahatan, wajib mengetahui hukum Allah tentang perbuatan tersebut sebelum melakukannya. Hingga perbuatannya sesuai dengan hukum syara’.
Juga tidak dapat dikatakan bahwa bila terdapat suatu pebuatan yang tidak ada ketentuannya dalam syara’, maka manusia bebas untuk memilih apakah akan melakukannya atau meninggalkannya. Sebab, itu mengandung arti bahwa syari’at Islam kurang lengkap dan hanya cocok untuk suatu masa dan keadaan tetentu. Tentu hal ini bertentangan dengan essensi dari hukum syara’ itu sendiri.
Memang syari’at Islam tidak datang dengan hukum-hukum yang terperinci tentang setiap masalah, sehingga manusia merasa puas dengan hukum-hukum itu, tetapi ia datang dengan makna-makna umum yang berkaitan dengan seluruh problem kehidupan manusia, dengan suatu titik pandang bahwa sasarannya adalah manusia tanpa melihat waktu dan tempat. Dari situ mengalirlah di bawah makna-makna umum berbagai makna cabang yang lain. Sehingga, apabila muncul suatu kejadian atau problema yang baru, maka hal itu harus dipelajari dan dipahami, kemudian dilakukan istinbath hukum (pengambilan status hukum) berdasarkan dalil-dalil yang bersifat umum itu. Hasil istinbath tersebut adalah hukum Allah dalam masalah tersebut.
Kaum muslimin selalu melakukan istinbath hukum sejak wafatnya Rasulullah Saw. sampai lenyapnya Khilafah Islamiyyah dari muka bumi ini, dalam menghadapi setiap permasalahan yang muncul, baik pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al-Rasyid, maupun pada masa khalifah-khalifah yang lain.
Di situlah para mujtahid berusaha menggali status hukum terhadap ratusan, bahkan ribuan masalah yang tidak pernah ada sebelumnya. Sehingga kaum muslimin pada waktu itu melaksanakan syari’at Islam dalamsetiap masalah dan kejadian, karena syari’at Islam mencakup seluruh pebuatan manusia. Yang jelas tidak ada satu masalah pun kecuali ada pemecahan hukumnya.
Realitas Kehidupan Manusia Saat Ini
Bila kita perhatikan dengan cermat, kita akan tahu bahwa sebagian besar manusia saat ini sedang menjalani kehidupan tanpa adanya suatu petunjuk. Mereka tidak mempunyai miqyas (standar) untuk menilai amal perbuatan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, mereka sering salah sangka, apa yang mereka anggap baik sebenarnya adalah sesuatu yang buruk, dan apa yang mereka anggap buruk adalah sesuatu yang baik. Sebagai contoh, Kaum muslimah yang mempertunjukkan kedua betisnya, lengannya atau keindahan tubuhnya yang lain, sering tidak merasa bersalah atas perbuatannya itu. Demikian pula banyak orang yang alim tidak mau mencampuri urusan pemerintahan karena beranggapan bahwa politik itu kotor. Pada hal kedua perbuatan itu jelas-jelas bertentangan ddengan syari’at Islam. Kaum muslimah tersebut berdosa karena mempertontonkan auratnya, sedangkan orang-orang alim tersebut berdosa karena tidak mau memperhatika urusan ummat. Dan itu terjadi karena mereka tidak meiliki miqyas untuk menilai segala yang mereka perbuat.
Islam telah menentukan miqyas untuk menilai setiap amal perbuatan manusia, yakni dengan kelengkapan dan kesempurnaan syari’atnya. Dan itulah miqyas yang shahih. Sehingga segala yang dinyatakan baik oleh syara’, itu adalah baik, dan segala yang dinyatakan buruk, itu adalah buruk. Miqyas tyersebut bersifat abadi, sehingga sesuatu yang baik tidak akan berubah menjadi buruk, dan begitu sebaliknya, sesuatu yang buruk akan tetap buruk menurut syara’.
Dengan miqyas itulah manusia dapat menjalani kehidupannya dengan tenag dan pasti, tidak akan terombang-ambing. Tetapi bila standar itu diserahkan kepada akal manusia, maka kebaikan dan keburukan akan bersifat nisbi (relatif), sehingga hukum atas sesuatu akan berubah-ubah tergantung waktu dan tempat. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang untuk menjadikan syar’at Islam sebagai miqyas (standar) untuk menilai semua aktivitas manusia, yakni memandang baik segala yang diknyatakan baik oleh syara’ dan memandang buruk segala yang dinyatakan buruk oleh syara’.
Allah Swt. berfirman,
“ Katakanlah ! (Muhammad) : Ini jalan (agama)ku, yang aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf : 108)
Dari uraian di atas, maka tidak ada lagi alasan bagi kaum muslimin untuk mengingkari syari’at Islam. Segala aktivitas manusia senantiasa terikat dengan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah sebagai Asy-Syari’. Karena itu, kaum muslimin harus senantiasa mengikatkan dan menggunakan standar segala aktivitasnya pada ketentuan-ketentuan syara’ tersebut.
Wa Allaahu A’lamu bi Ash-Showab
575
« pada: 29 Oktober 2011, 05:34:05 »
Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah U dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah U, namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah) maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah U.
Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di Indonesia) sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.
Ketahuilah Allah U telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah U memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia. Maka Allah U membedakan antara para wali Allah dan para wali syaithon.[1] Sebagaimana firman Allah U :
اللهُ ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النّور و الذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات ألئك أصحاب النار هم فيها خالدون
Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh : 256)
فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم. إنه ليس له سلطان على الذين آمنوا وعلى ربهم يتوكلون. إنما سلطانه على الذين يتولونه و الذين هم به مشركون
Jika engkau membaca Al-Qur’an maka berlidunglah kepada Allah dari (godaan) syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Rob mereka. Hanyalah kekuatannya terhadap orang-orang yang berwala’ kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik. (An-Nahl :98-100)
ومن يتخذ الشيطان وليا من دون الله فقد خسر خسرانا مبينا
Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata (An-Nisa’ : 119)
الذين آمنوا يقاتلون في سبيل الله و الذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت فقاتلوا أولياء الشيطان إن كيد الشيطان كان ضعيفا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thogut. Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu lemah. (An-Nisa’ : 76)[2]
Mak wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rosulullah membedakannya.[3] Definisi wali
Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-‘adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan). Sedangkan arti al-‘adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du (kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.[4] Siapakah yang disebut wali Allah ?
Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah U dan dekat dengan Allah U. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut :
1. Dia harus ittiba’ (mengikuti) Nabi r, menjalankan perintah Nabi r dan menjauhi larangan-larangan beliau. Berdasarkan firman Allah U:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله
Katakanlah :”Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan mencintai kalian” (Ali Imron :31)
Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintai Allah U (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali Allah). Jika dia benar mengikuti Nabi r maka kecintaannya kepada Allah U adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta.
2. Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, sesuai dengan firman Allah U:
يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه, أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم
Wahai orang-orang yang beriman barang siapa dari kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah yang bersifat lemah lembut kepada orang-orang mukmin, yang bersifat keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela.(Al-Maidah : 54)
3. Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, sesuai dengan firman Allah U:
ألا أن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون الذين آمنوا وكانوا يتقون
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih (hati). (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (Yunus : 62,63)
Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.[5]
Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia harus ma’sum (tidak pernah berbuat salah), dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syari’at. Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syari’at atau masih samar baginya sebagian perkara agama. Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh seorang wali Allah sehingga dia tidak menjadi seorang Nabi r, tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran Muhammad r. Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak. Dan jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi r maka tawaquf.[6] Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah. Adapun sikap yang salah kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.[7]
Umar bin khottob t adalah contoh seorang wali Allah, yang Rosulullah r bersabda tentangnya :
قد كان فيما قبلكم من الأمم ناس محدثون فإن يكن من أمتي أحد فإنه عمر
Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan berita ghoib atau sejenis ilham dari Allah). Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang, maka dia adalah Umar.[8]
إن الله ضرب الحق على لسان عمر و قلبه
Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan pada hatinya.[9]
لو كان نبي بعدي لكان عمر
Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar.[10]
Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar t adalah seorang wali Allah, bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah. Namun hal ini tidak menunjukan bahwa Umar t harus ma’sum (terjaga dari kesalahan). Kesalahan yang pernah beliau lakukan diantaranya [11]:
a. Yaitu Nabi r berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin –mereka itu yang berbai’at di bawah pohon- dan Nabi r telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin tersebut untuk kembali ke Madinah pada tahun ini dan berumroh pada tahun yang akan datang. Dan Nabi r memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu. Dan Umar t termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi r :”Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?”, maka Nabi r menjawab :”Benar”, lalu Umar t berkata lagi :”Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?”, Nabi r menjawab :”Benar”. Umar t berkata :”Kenapa kita merendahkan agama kita?”, Nabi berkata :”Aku adalah Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat kepadanya.”, Umar t berkata :”Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita kita akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?”, Nabi berkata :”Benar”. Nabi r berkata lagi:”Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada tahun ini?”, Umar t berkata :”Tidak”, Nabi r berkata :”Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.”
Umar pun mendatangi Abu Bakar t dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada Rosulullah. Dan Abu Bakar t pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah r, padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah r. Dan Abu Bakar t adalah orang yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari pada Umar t, dan Umar t mengakui kesalahannya dan berkata :”Aku benar-benar akan mengamalkannya”[12]
b. Ketika Nabi r wafat, Umar mengingkari kematian Nabi r. Namun tatkala Abu Bakar t berkata :”Sesungguhnya dia telah wafat”, maka Umar t pun menerimanya.[13]
c. Ketika Abu Bakar t memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar t berkata kepada Abu Bakar t :”bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan Rosulullah bersabda :”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rosulullah. Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknya””, maka Abu Bakar t berkata :”Bukanlah Rosulullah bersabda “kecuali dengan haknya”?, sesungguhnya zakat termasuk haknya. Demi Allah kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan memerangi mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata Umar t :”Demi Allah tidaklah ada, kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (orang-orang yang enggan membayar zakat), maka aku mengetahui bahwasanya dia adalah benar”[14]
Faidah yang bisa diambil dari kisah ini adalah [15]:
a. Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali.
b. Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari Allah U.
c. Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada wali Allah yang tidak ada karomahnya. Sebagaimana Abu Bakar t jelas lebih mulia daripada Umar t, namun dia tidak mendapatkan ilham dari Allah U.
d. Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah U dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah U dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar t yang tetap melaksanakan perintah Allah U.
e. Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi r yang ma’sum. Sebagaimana ucapan Umar t dikembalikan (ditimbang) oleh Abu Bakar t dengan Sunnah Nabi. Berkata Yunus bin Abdil A’la As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam Syafi’i : “Sesungguhnya sahabat kami –yaitu Al-Laits- mengatakan :”Apabila engkau melihat sesorang bisa berjalan di atas (Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”, lalu Imam Syafi’i berkata :”Al-Laits masih kurang, bahkan kalau engkau melihat sesseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan) orang trsebut apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah”.[16]
Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa Aresto adalah wali Allah karena Aresto adalah mentrinya Iskandar yang kafir (karena tidak ada wali Allah dari orang kafir), yang sebagian orang (diantaranya Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar adalah Dzulqornain.[17]
f. Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana Umar t, beliau tidak membantah Abu Bakar t dengan berkata :”Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Allah, saya kan dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan saya”
g. Seorang wali harus mematuhi syari’at Muhammad r. Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus mengikuti syari’at Muhammad r apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud t berkata :”Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya, jika Muhammad r telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya. Dan Allah memerintah Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad r telah diutus dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.”[18]
h. Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Sebagaimana firman Allah :
فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
Dan janganlah kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (An-Najm : 32 )
Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah U karena telah melanggar larangan Allah U ini. Dan orang yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Allah.[19]
Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya.[20] Dan wali-wali Allah tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain.[21] Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama. Contoh-contoh karomah para wali Allah [22]:
1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail. Berkata Urwah:”Mereka melihat malaikat mengangkatnya”[23]
2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kokoh, maka para musuhpun berkata :”Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racun”, lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.[24]
3. Sa’ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan dengan do’anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.[25]
4. Umar bin Khottob, pernah mengutus pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut. Dan ketika Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah, gunung !, wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :”Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenagkan kami”.[26]
5. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :”Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?”, lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”, lalu dia bertanya lagi :”Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke api. Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin dan keselamatan untuknya.[27]
6. Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya hari –pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.[28]
7. Uwais Al-Qorni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.[29]
8. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena bacaannya.[30] Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain t[31]. Salman t dan Abu Darda’ t makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada piring tersebut bertasbih.[32] Ubbad bin Busyr t dan Asid bin Hudlair t kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.[33]
9. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya.[34] Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka berdua.[35]
10. Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburannya telah menjadi seluas mata memandang.[36]
11. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qur’an maka dia menangis dengan air mata yang banyak. Dan jika dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah makanan tersebut.[37] Siapakah wali-wali syaithon ?
Allah U berfirman :
ومن يعش عن ذكر الرحمان نقيض له شيطانا فهو له قرين
Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya syaithon yang menyesatkan, maka syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az-Zukhruf : 36)
هل أنبئكم من تنزل الشيطان, تنزل على كل أفاك أثيم, يلقون السمع وأكثرهم كاذبون
Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta. (As-Syu’aro’ : 221,223) Contoh-contoh tipuan syaithon
a.Abdullah bin Soyyad. Nabi r pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi r berkata kepadanya :”(Cobalah tebak) aku menyembunyikan sesuatu (di hatiku)”. Ibnu Soyyad berkata :”Ad-Dukh…Ad-Dukh..”. Padahal sesungguhnya Nabi r sedang menyembunyikan surat Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya :”Cih, engkau tidak mampu melampaui kemampuanmu”[38]. Ibnu Soyyad hampir betul menebak apa yang ada di hati Nabi, dan ini adalah suatu keajaiban, namun dengan bantuan syaithon. Karena seorang yang normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati manusia, bahkan Nabi pun tidak mengetahui isi hati manusia kecuali yang diberitahu oleh Allah U. Para sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh Nabi r) tidak mengetahui siapa-siapa saja orang munafik yang ada bersama mereka. [39]
b.Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu para syaithon yang memberitahukan kepadanya tentang perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum muslimin memeranginya mereka kawatir para syaithonnya akan mengabarkan kepadanya apa yang mereka bicarakan tentang dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh –pent). Namun istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong kaum muslimin.[40]
c.Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi, memiliki syaithon-syaithon yang memberitahukan perkara-perkara gho’ib kepadanya dan membantunya melakukan hal-hal yang ajaib[41]. Diantaranya dia pernah meludah di sumur sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.[42]
c.Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang muncul dan mengaku sebagi nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H). Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah melihat orang-orang dalam keadaaan berjalan dan naik kuda terbang di udara, dia berkata : “Mereka adalah malaikat”, padahal mereka adalah jin. Dan tatkala kaum muslimin menangkapnya untuk dibunuh, maka ada orang yang menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul Malik berkata kepadanya :”Engkau tidak menyebut nama Allah”. Lalu orang itu menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Al-harits.[43]
d. Lia ‘Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang memberantas bid’ah dan kesyririkan. Syubhat-syubhat
Syubhat pertama
Sesungguhnya Rosulullah diutus kepada manusia pada umumnya namun tidak pada manusia-manusia yang khusus yaitu para wali, dan para wali tersebut tidak butuh kepada Nabi, mereka memiliki cara tersendiri untuk mencapai Allah U. Sebagaimana Nabi Musa tidaklah diutus kepada Nabi Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib mengikuti syari’at Musa.[44]
Jawab [45]:
Perkataan ini sebagaimana perkataan kebanyakan para ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) bahwasanya Rosulullah diutus kepada orang-orang yang tuna aksara bukan kepada mereka. Dan pendalilan dengan kisah antara Khidir dan Musa adalah tidak tepat, sebab :
a. Bahwasanya Musa tidaklah diutus kepada Khidir (tetapi hanya diutus untuk bani Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib mengikuti Nabi. Adapun Muhammad r risalahnya umum untuk seluruh jin dan manusia. Bahkan jika ada orang yang lebih mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa, dan Isa)[46] bertemu dengan Nabi, maka dia wajib mengikuti Nabi. Apalagi Khidir, tentu lebih wajib lagi.
Oleh karena itu Khidir berkata kepada Musa : “Aku diatas ilmu yang diajarkan Allah kepadaku yang tidak kau ketahui dan engkau di atas ilmu yang Allah mengajari engkau yang aku tidak mengetahuinya”[47]. Dan tidak boleh bagi seorangpun yang sampai kepadanya risalah Muhammad r untuk berkata sebagaimana perkataan Khidir ini.
b. Apa yang telah dilakukan oleh Khidir[48] tidaklah menyelisihi syari’at Musa. Musa tidaklah mengetahui sebab yang membolehkan hal-hal itu. Dan ketika Khidir menjelaskan sebab-sebab tersebut Musa menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu Abbas kepada Najdah Al-Harwari ketika dia bertanya kepada Ibnu Abbas t tentang membunuh anak-anak kecil: “Jika kamu mengetahui anak-anak tersebut sebagaimana yang diketahui oleh Khidir tentang anak kecil (yang dibunuhnya) maka bunuhlah mereka, dan jika tidak maka jangan.”[49]
Syubhat kedua
Mereka (para wali syaithon) menganggap bahwa mereka mendapat wahyu langsung dari Allah -sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Arobi-, dan bahwasanya mereka lebih baik dari para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui perantara. Mereka berkata :”Kenabian telah berakhir dengan wafatnya Rosulullah r, sedangkan kewalian belum berakhir. Dan yang paling terakhir adalah yang lebih baik dari yang sebelumnya”.
Jawab :
Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang sama sekali tidak bersandar kepada dalil. Ketika dia mengetahui bahwa syari’at ini sudah tidak bisa dirubah lagi hingga hari kiamat, (dan dia ingin keluar dari syari’at) maka dia berkata :”Kenabian telah tertutup, tetapi kewalian belum”, dan dia menganggap bahwa kewalian lebih tinggi derajatnya dari pada kerosulan dan kenabian, sebagaimana dia berkata :
مقام النبوة في برزخ فويق الرسول و دون الولي
Kedudukan kenabian berada di alam barzakh, sedikit di atas (kedudukan) Rosul dan dibawah (kedudukan) Wali
Hal ini tentunya pemutarbalikan syari’at. Seharusnya kenabian lebih khusus dari kewalian dan kerosulan lebih khusus daripada kenabian. Sehingga kedudukannya adalah kerosulan lebih tingi daripada kenabian dan kenabian lebih tinggi daripada kewalian.[50] Berkata Imam Abul ‘Izz Al-Hanafi :”Maka siapakah yang lebih kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah bata emas dan memisalkan Nabi dengan bata perak, lalu dia menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Nabi,…….bagaimana bisa samar kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?…..dan kekufuran Ibnu “Arobi lebih parah dari kekufuran orang-orang yang berkata : “Tidaklah kami beriman hingga kami diberikan apa yang diberikan kepada Rosulullah” (Al-An’am : 124)”[51]
Syubhat ketiga
Kami tidak usah menjalankan syari’at karena Allah U telah bersatu dengan kami para hambanya yang sholih. Bukankah Allah U berkata dalam hadits qudsi :
و ما يزال عبدي يتقرب ألي بالنوافل حتى أحبه, فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به و بصره الذي يبصر يه ويده التي يبشط بها ورجله التي يمشي بها, ولئن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه
Dam hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya) kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia memukul dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan jika dia meminta kepada-Ku maka akan aku berikan, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan melindunginya.[52]
Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah Allah U menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah Allah U meluruskan (memberi petunjuk) kepada penglihatan, pendengaran, tangan dan kakinya, sehingga apa yang dilakukan oleh hamba tersebut selalu dibimbing oleh Allah U. Adapun makna yang batil di atas adalah tidaklah mungkin, sebab :
- Ini merupakan aqidah wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti) yang sesat karena bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang muhkam (jelas) yang tidak bisa lagi dipalingkan lagi maknanya.
- Barang siapa yang memperhatikan hadits ini dengan baik maka dia akan faham tentang batilnya aqidah wihdatul wujud ini. Dalam hadits ini Allah U menetapkan adanya hamba (yang beribadah) dan ma’bud (yang diibadahi), yang mendekat (bertaqorrub) dan yang didekati (ditaqorrubi), yang dicintai dan yang mencintai, yang meminta dan yang memberi, yang meminta perlindungan dan yang memberi perlindungan. Maka hadits ini menunjukan adanya dua dzat yang berbeda, yang satu bukan yang lainnya. Dan bukan pula yang satu merupakan sifat atau bagian dari yang lainnya.
- Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si wali semuanya adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada makhluk yang baru tercipta yang sebelumnya belum ada (belum tercipta). Maka tidak mungkin bagi siapa saja yang berakal untuk memahami bahwa pencipta yang awal (yaitu Allah) yang tidak ada sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki makhluk. Bahkan hal seperti inipun sulit untuk dibayangkan kalaupun kita anggap benar.[53] Perbedaan antara karomah wali Allah dan tipuan wali syaithon
1. Bahwa karomah para wali tersebut disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan. Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain yang merupakan bantuan syaithon disebabkan oleh hal-hal yang merupakan larangan Allah U dan Rosulullah[54]. Jadi apabila di dalamnya mengandung unsur-unsur yang disenangi oleh syaithon, baik itu kemusyrikan, kedzoliman, atau kebid’ahan, maka jelas yang terjadi pasti bukan karomah.
2. Karomah tidak bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa saja dan tidak bisa dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar biasa lain yang merupakan bantuan syaithon bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi dan lain-lain
3. Karomah tidak bisa dipelajari sehingga menjadi suatu ilmu kedigdayaan yang baku. Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa yang berasal dari syaithon bisa dipelajari.[55] Sebagaimana karomah-karomah yang telah dimiliki oleh para salaf, tidak ada satu atsarpun yang menunjukan bahwa mereka pernah mengajarkan karomah mereka kepada orang lain. Sebagaimana Umar t, beliau tidak pernah mengajarkan karomahnya kepada orang lain, kerena memang tidak bisa diajarkan.
4. Karomah pada umumnya tidak bisa dilakukan terus menerus, tetapi terjadi sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan kehendak Wali yang mendapatkan karomah tersebut. Pengetahuan tambahan :
1. Seluruh orang yang beriman adalah wali-wali Allah. Dan wali-wali yang paling mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi yang paling mulia adalah para Rosul. Dan para Rosul yang paling mulia adalah para Rosul yang lima (Ulul ‘Azmi), dan diantara Ulul ‘Azmi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad.[56]
2. Persamaan dan perbedaan antara Mu’jizat dan karomah.
Persamaannya : Mu’jizat dan karomah sama-sama merupakan hal yang ajaib yang luar biasa (yang tidak bisa dilkukan olah orang biasa) yang Allah berikan kepada para hambanya.
Perbedaannya [57]:
- Mu’jizat hanya berlaku pada para Nabi dan Rosul, adapun karomah pada para wali.
- Mu’jizat diperoleh dengan kenabian, adapun karomah diperoleh dengan ketaqwaan.
- Karomah kedudukannya lebih rendah daripada mu’jizat.
- Akibat dari mu’jizat adalah baik, adapun efek samping dari karomah belum tentu.[58]
- Pemilik mu’jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orang-orang yang menyelisihinya, adapun pemilik karomah tidak demikian.
3. Kita harus mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana mu’tazilah yang mengingkari karomah dan berkata :”Kalau kita mengakui karomah, maka akan sama wali dengan Nabi”, oleh karena itu kami mengingkari karomah dan juga mengingkari hakikat sihir. Namun ini tidaklah benar sebab orang yang memiliki karomah tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi.[59]
4. Dalam beribadah hendaknya kita berniat karena Allah bukan karena untuk mencari karomah. Kita meminta kepada Allah agar bisa istiqomah dalam hidup kita bukan mencari karomah. Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i : “Jadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmu”. Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf yang sholih, telah diberi karomat-karomat dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya prustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah. Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah –pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi mereka. [60]
5. Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan Islam (biasanya dicampur dengan dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau mereka menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk beribadah kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini adalah bid’ah sebab kenapa harus menggunakan tata cara dan gerakan-gerakan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Nabi. Dan tidak ada dalil sama sekali bahwa dengan bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan khusus yang mereka lakukan bisa mengahasilkan tenaga dalam. Kalau mereka mengatakan tujuan mereka untuk beribadah dan untuk mempeoleh kekuatan, maka kita katakan bahwa mereka telah melakukan kesyirikan sebab niat ibadah mereka selain untuk Allah juga untuk hal yang lain.[61]
Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam yang ada menyelisihi syari’at diantaranya :
- Latihannya harus menggunakan emosi, padahal Rosulullah r telah melarang seseorang untuk emosi, beliau bersabda :
لا تغضب فردد مرارا لا تغضب
“Janganlah engkau marah”, Rosulullah mengulanginya beberapa kali “Janganlah engkau marah”
Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam) harus marah sebab dengan marah tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh mereka sehingga bisa memberi kekuatan untuk tenaga dalam mereka. Sebagaimana sabda Rosulullah :
إن الشيطان يجري من بني آدم مجرى الدم
Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah. (Riwayat Bukhori)
- Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika sedang memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal ini tidak boleh dalam Islam, sebab Islam menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa senantiasa berdzikir kepada Allah.
- Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang putih-putih), yang ini tidak ada syari’atnya dalam Islam. Atau untuk menjaga ilmunya dia harus menghindari pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini berarti mengha“Janganlah engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah U.
والله أعلم بالصواب
Maroji :
v Al-Furqon baina auliyaurrohman wa auliyaussyaithon, karya Ibnu taimiyah, tahqiq Fawwaz Ahmad Zamarli, terbitan Darul Kutub Al-‘Arobi
v Syarah Al-Ushul As-Sittah, karya Syaikh Utsaimin
v Al-Qowa’id Al-Mutsla, karya Syaikh Utsaimin, tahqiq Abu Muhammad Asyrof bin Abdil Maqsud, terbitan Adlwa’ As-Salaf.
v Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah, karya Abul ‘Izz Al-Hanafi, tahqiq Syaikh Al-Albani, terbitan Al-Maktab Al-Islami
v Majalah As-Sunnah 03/III/1418
v Al-Jadawil Al-Jami’ah
[1] Al-Furqon hal 25
[2] Lihat pula surat-surat Al-Maidah :51-56, Al-Kahfi : 44, Al-Kahfi : 50, Ali Imron : 173-175
[3] Al-Ushul As-sittah hal 173
[4] Al-Furqon hal 31
[5] Al-Ushul As-Sittah hal 171,172
[6] Al-Furqon hal 71, Al-Ushul As-Sittah hal 175
[7] Al-Furqon hal 82
[8] Riwayat Bukhori no 3469 dan Muslim no 2398
[9] Riwayat Abu Dawud no 2962 dengan sanad yang hasan
[10] Riwayat At-Thirmidzi no 3686, dengan sanad yang hasan
[11] Al-Furqon hal 86,87
[12] Riwayat Bukhori no 2732, 2732
[13] Riwayat Bukhori no 1241, 1242
[14] Riwayat Bukhori no 1399-1400
[15] Disimpulkan dari Al-Furqon hal 85-88
[16] Syarah Aqidah At-Tohawiyah
[17] Al-Furqon hal 42
[18] Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Al-Furqon hal 92
[19] Syarah Al-Ushul As-Sittah hal 170
[20] Majalah As-Sunnah 03/III/1418 hal 25
[21] Al-Furqon hal 69
[22] Diringkas dari Al-Furqon hal 154-157
[23] As-Siyar 2/224
[24] Al-Furqon hal 154
[25] Riwayat At-Thirmidzi no 3751 dan Ibnu Hibban no 2215
[26] Riwayat Bukhori no 3198, dan Muslim no 1610
[27] As-Siyar 4/8,9
[28] Riwayat Al-Lalikai dalam Al-Karomat hal 165-166
[29] Al-Furqon hal 157
[30] Riwayat Bukhori no 5018
[31] Riwayat Muslim no 1226
[32] As-Siyar 2/348
[33] Riwayat Bukhori no 3805
[34] As-Siyar 4/195
[35] As-Siyar 4/86
[36] As-Siyar 5/60
[37] As-Siyar 9/7
[38] Riwayat Bukhori no 1354, Al-Furqon hal 158
[39] Hal ini sesuai dengan hadits tentang Usamah bin Zaid yang membunuh seorang kafir yang ketika pedang Usamah telah di depan matanya tiba-tiba si kafir tersebut mengucapka la ilaha illallah, namun Usamah tetap membunuhnya. Dan hal ini dilaporkan kepada Rosulullah. r, lalu Rosulullah r berkata kepada Usamah :”Apakah dia (yang terbunuh itu) telah berkata la ilaha illallah dan kau membunuhnya ?”, Usamah menjawab :”Ya, Rosulullah, dia mengatakani itu hanya karena takut akan senjataku”. Nabi r berkata :”Apakah sudah kau belah dadanya sehingga kau tahu ia berkata itu karena takut atau tidak ?”. Maka Rosulullah r terus mengulang-ulang perkataannya hingga Usamah berangan-angan seandainya dia baru masuk Islam pada hari itu. (Riwayat Bukhori). Hadits ini menunjukan bahwa Usamah yang telah berjihad tidak mengetahui isi hati manusia. Dan ada isyarat dari Rosulullah r agar para sahabat menilai seseorang dengan amalan dzohirnya bukan amalan batin. Kalau para sahabat mengetahui isi hati manusia tentu Rosulullah r tidak akan memrintahkan mereka untuk menilai secar dzohir saja.
Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata :”Saya telah mendengar Umar bin Khottob berkata :”Dahulu di masa Rosulullah , orang-orang diterima (dihukumi) menurut keterangan wahyu, dan kini wahyu telah terputus. Maka kami akan bertindak (menghukumi) kalian dengan perbuatan-perbuatan kalian yang dzohir (nampak) bagi kami. Maka barang siapa yang menampakkan kebaikan kepada kami maka kami percaya dan kami hargai, dan sama sekali bukan urusan kami mengenai batinnya . Allah yang akan menghisabnya . Dan barang siapa yang menampakkan keburukan kepada kami, maka kami tidak akan mempercayainya dan tidak kami benarkan, walaupun dia berkata sesungguhnya batinnya adalah baik.”” (Riwayat Bukhori)
[40] Al-Furqon hal 159
[41] Al-Furqon hal 159
[42] Majalah As-Sunnah 03/III/1418
[43] Al-Furqon hal 159
[44] Al-Furqon hal 36
[45] lihat jawaban ini dalam Al-Furqon hal 141-142
[46] Sebagaimana firman Allah U dalam surat Ali Imron : 81 :”Dan (ingatlah) tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:”Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnya”. Allah berfirman :”Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?”, mereka menjawab :”Kami mengakui”. Allah berfirman :”Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.”
[47] Riwayat Bukhori, no 74
[48] Yaitu membocorkan kapal, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki tembok yang akan runtuh, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al-Kahfi : 70-82
[49] Riwayat Muslim no 1812
[50] Ibnu Arobi juga berkata (dalam kitabnya “Fususul hukm”) :”Tatkala Nabi telah memisalkan kenabian dengan sebuah dinding (yang tesusun) dari bata dan Nabi melihat bahwa dinding tersebut telah sempurna kecuali tinggal satu bata lagi, dan dialah sebagai bata yang terakhir (yang menutupi bata-bata (nabi-nabi) sebelumnya –pent) (hanya saja Nabi tidak melihat tempat bata tersebut, sebagaimana Nabi berkata :” Satu tempat bata”). Adapun penutup para wali maka mereka bisa melihat tempat bata ini, dia melihat dinding yang dimisalkan oleh Nabi dan dia melihat dirinya di dinding yaitu di tempat dua bata, dirinya telah tercetak di tempat dua bata tersebut, sehingga sempurnalah tembok itu. Yang menyebabkan dia melihat dinding itu ada dua tempat bata (padahal Nabi melihatnya hanya ada satu tempat bata –pent) adalah karena dinding terdiri dari bata perak dan bata emas. Bata perak adalah dzohirnya dan hukum-hukum yang diikuti, sebagaimana Nabi mengambil syari’at yang dzohir dari Allah yang diikuti, karena Nabi melihat perkaranya sebagaimana adanya sehingga demikianlah dia melihatnya. Padahal bagian dalam tempat bata itu adalah tempat bata emas, yang dia (penutup para wali tersebut) mengambil dari sumber tambang yang malaikat yang diutus kepada Nabi mengambil dari sumber tambang itu. Jika engkau memahami apa yang kami isyaratkan maka engkau telah mendapatkan ilmu yang bermanfaat.” (Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493)
[51] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493-494, Al-Furqon hal 110
[52] Riwayat Bukhori no 6502, dari hadits Abu Huroiroh.
[53] Al-Qowa’id Al-Mutsla hal 125
[54] Al-Furqon hal 161
[55] Majalah As-Sunnah 03/III 1418 H
[56] Al-Jadawil hal 19
[57] Al-Jadawil hal 20
[58] Keadaan orang-orang yang memiliki karomah :
- Bertambah derajatnya karena apa yang dilakukannya merupakan ketaatan dan yukur kepada Allah
- Semakin rendah derjatnya karena dia menggunakan karomahnya untuk bermaksiat kepada Allah. (Misalnya dia sombong dengan karomah yang pernah dia alami, atau dia merasa telah bertaqwa dan yakin masuk surga dengan karomahnya itu).
- Tidak bertambah dan tidak pula berkurang kebaikan-kebaikannya. Jadilah karomahnya seperti perkara yang mubah. (Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 495)
[59] Al-Jadawil hal 21 dan Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 494
[60] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 495
[61] Majalah As-Sunnah hal 30
576
« pada: 28 Oktober 2011, 23:59:11 »
VOA-ISLAM.COM -- Bukan tidak mungkin, program deradikalisasi yang selama ini dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan para mitranya mendapat arahan dari sebuah badan intelijen Amerika Serikat Federal Bureau of Investigation (FBI). Mau tahu, isi materi yang dicekoki FBI kepada agen-agennya? Berikut arahan FBI yang penuh kebencian terhadap Islam.
Dalam training-trainingnya, FBI melatih para agennya, bahwa Muslim arus utama adalah simpatisan teroris. Para agen itu juga dilatih bahwa Muslim yang semakin saleh akan semakin berpotensi melakukan kekerasan. Tak cuma itu, agen FBI dicekoki materi yang menyatakan, Nabi Muhammad adalah pemimpin sekte, yang pola pikirnya menjadi sumber terorisme.
Sebuah bagan pelatihan FBI, yang dikutip majalah “Danger Room” yang berbasis di Washington, Kamis (15/9), menunjukkan, semakin taat seorang Muslim, semakin besar kemungkinan dia akan melakukan kekerasan."Setiap perang melawan non-Muslim dibenarkan di bawah hukum Islam,” demikian bunyi presentasi instruksional buatan FBI.
Sambil menghubungkan ketakwaan dengan kekerasan, presentasi lainnya, berjudul “Militancy Consideration”, mengatakan bahwa seiring waktu, pengikut Taurat dan Alkitab akan berubah dari “kekerasan” menuju “non-kekerasan”. Tapi, tidak berlaku bagi pengikut Al-Quran, yang menurut FBI justru tak mengalami proses moderasi.
Dokumen itu juga menunjukkan kepada agen kontraterorisme FBI, yang dilatih di Quantico, Virginia, AS, bahwa Islam adalah indikator aktivitas teroris.“Tidak mungkin ancaman radikal seperti itu hanya sebuah pernyataan normal dari ideologi yang ortodoks,” bunyi salah satu presentasi FBI. “Tema strategis yang menjiwai nilai Islam bukanlah pinggiran, tapi arus utama.”
Presentasi FBI juga menggambarkan bahwa praktik Muslim memberi sedekah sebagai tidak lebih dari “mekanisme pendanaan perang”. Selain berperang secara langsung, menurut FBI, Islam juga berperang dengan teknik lain, termasuk “imigrasi” dan “tuntutan hukum”.
Jadi, menurut FBI, jika seorang Muslim ingin menjadi Warga AS atau menggugat FBI atas kasus pelecehan, itu semua hanyalah bagian dari jihad. Ini bukan pertama kalinya FBI menggunakan materi anti-Muslim untuk melatih para agen kontraterorisme mereka. Pada Juli, FBI menggunakan bahan pelatihan yang mengklaim Islam akan “mengubah budaya suatu negara menjadi budaya Arab Abad ke-7 Masehi”.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), kelompok advokasi Amerika untuk kelompok Muslim, mendesak Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS untuk menyelidiki penggunaan pelatih dan materi pelatihan, yang memberi informasi bermusuhan, stereotip, dan tidak akurat tentang Muslim dan Islam kepada aparat keamanan negara.
Daftar Buku Anti-Islam FBI
Islamphobi begitu terasa dalam upaya AS melancarkankan program “war on terror” nya. Perpustakaan FBI di Quantico, Virginia, saat ini dipenuhi tumpukan buku dari penulis yang mengklaim bahwa “Islam dan demokrasi sama sekali tidak bisa hidup berdampingan”.
Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat (AS) FBI akhirnya berjanji akan melakukan sebuah “kajian komprehensif terhadap semua bahan pelatihan dan referensi”., demikian dilaporkan rubrik “Danger Room” pada Majalah “Wired” yang berbasis di San Francisco, Jumat (23/9).
Menurut “Wired”, mengurai benang Islamofobia dalam pelatihan kontraterorisme FBI tidak akan mudah. Selain pelatih dan seminar provokatif yang menargetkan Islam dan menyebut Nabi Muhammad sebagai inspirasi kekerasan, pelatihan itu lebih menunjukkan betapa lebarnya jurang anti-Islam di tubuh aparat keamanan federal tertinggi di AS tersebut.
Kantor FBI di Washington mengundang seorang pembicara, yang menyatakan bahwa hukum Islam telah membuat seorang muslim AS tak akan benar-benar loyal kepada negaranya. Pekan lalu, materi orientasi online untuk Gugus Tugas Gabungan Anti Terorisme FBI mengklaim Islam berusaha “mendominasi dunia”.
Yang jelas, sentimen anti-Islam di pelatihan dan orientasi FBI begitu terasa. Dalam pantauan “MajalahWired”, di antara buku yang terdapat di perpustakaan FBI adalah sebagai berikut:
“Onward Muslim Soldiers”, karya Robert Spencer, penulis dan blogger anti-Islam AS. Spencer dan karyanya banyak dikutip teroris Norwegia, Anders Behring Breivik.
“Militant Islam Reaches America”, ditulis oleh Daniel Pipes komentator politik neokonservatif yang dekat dengan kalangan dalam Gedung Putih pada masa pemerintahan George W Bush.
“Muhammad’s Monsters”, tulisan David Bukay, guru besar dari University of Haifa, Israel, yang merupakan pendukung setia tesis “Benturan Peradaban”, Samuel Huntington.
“Islamikaze: Manifestations of Islamic Martyrology”, karya Raphael Israeli, profesor Hebrew University yang berpandangan bahwa keberadaan negara Palestina berbahaya bagi dunia.
Rupanya bukan hanya di AS, buku-buku sekolah di Eropa juga sarat Prasangka terhadap Islam. Georg Eckert Institute, sebuah lembaga pendidikan di Jerman melakukan penelitian, dengan menganalisis 27 jilid buku yang digunakan oleh sekolah di Inggris, Perancis, Austria, Spanyol, dan Jerman.
Buku-buku tersebut kerap berpandangan negatif, dimana Islam selalu disajikan sebagai sebuah sistem yang usang, yang belum berubah sejak masa keemasannya. Buku teks yang digunakan di sekolah menengah itu menempatkan “Islam yang kuno” melawan “Eropa yang modern”.
Bukan tidak mungkin, LSM-LSM komparador yang selama ini getol menerbitkan buku-buku tentang deradikalisasi akan mengikuti arahan FBI. Atau jangan-jangan akan menerjemahkan buku-buku yang sarat kebencian terhadap Islam tersebut. Semoga tidak. (Desastian)
577
« pada: 28 Oktober 2011, 23:55:35 »
Islam itu sesungguhnya hanya satu, sebagai agama yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak."Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu."(Al-Maidah:3)
Islam telah menjawab segala problematika hidup dari segenap seginya. Tetapi di masa kini sedikit sekali orang yang mengetahui dan meyakini kesempurnaannya.Ini sesungguhnya adalah sebagai akibat pengkaburan Islam dari warna aslinya oleh debu dan polusi bid'ah, sehingga mayoritas umat Islam amat rancu permasalahannya terhadap agamanya.
Allah Ta'ala berfirman : "Barangsiapa yang menyimpang dari rasul setelah terang padanya petunjuk itu, dan mengikuti jalannya selain mukminin, Kami akan gabungkan dia dengan orang-orang sesat dan Kami masukkan dia ke neraka Jahannam."(An-Nissa:115). Islam itu sendiri adalah Jama'ah (satu kesatuan) dan yang menyimpang dari padanya adalah firqah (perpecahan).
Allah berfiman : "Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan agama Islam ini dan jangan kalian berpecah belah dari agama ini…"(Ali Imran:102) Sedangkan firqah itu tidak lain disebabkan oleh adanya orang-orang yang mengikut perkara syubhat (rancu) dalam agama ini dan mengekor kepada hawa nafsu.
"Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (syubhat dan hawa nafsu), niscaya bila kamu ikut jalan-jalan itu akan menyimpangkan kalian dari jalan Allah."(Al-An'am:153). Menyeleweng dari jalan Islam itu berarti menyimpang pula dari Al-Jama'ah, dan sekarang ini orang mengistilahkan dengan Islam sempalan, dalam pengertian sebagai aliran pemahaman Islam yang sesat.
Menginventarisasir Islam Sempalan Untuk melakukan pekerjaan ini, haruslah merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih. Karena mereka mempunyai penilaian yang tegas dengan referensi yang lengkap dan jelas. Juga di dalam masalah ini menyangkut pula identifikasi pemahaman Islam sempalan tersebut.
Upaya yang demikian ini sangat penting di dalam memberi peringatan kepada umat Islam akan bahayanya penyimpangan dari pemahaman Islam yang benar dari pemahaman yang sesat. Juga upaya ini demikian pentingnya bila dikaitkan dengan kenyataan terlalu banyaknya firqah-firqah yang menyebabkan berbagai pikiran sesat di umat ini.
Banyaknya firqah-firqah demikian ini karena bid'ah itu akan melahirkan sekian banyak kesesatan. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada di umatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat.
Para shahabat bertanya:"Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Yaitu golongan yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para shahabatku."(HR Tirmidzi, di hasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih Al-Jami':5343)
Jadi ditegaskan di hadits ini bahwa umat Islam akan tercerai berai menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan. Dan yang dikatakan selamat disini ialah selamat di dunia dan selamat di akhirat dari api neraka. Satu golongan yang tetap istiqomah ini berpegang dengan Al-Jama'ah sedangkan yang lainnya menyempal dari Al-Jama'ah sehingga sesat dan celaka. Mereka ini sesungguhnya yang dinamakan Islam sempalan.
Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak menulis buku-buku yang menguraikan berbagai golongan Islam sempalan ini dengan merinci satu persatu masing-masing pemahaman syahwatnya, agar umat Islam waspada dari bahaya kesesatan itu. Diantara ulama Ahlus Sunnah yang menulis buku-buku tentang Islam sempalan ini ialah Al-Imam Ibnul Jauzy Al-Baghdadi dengan bukunya yang masyhur berjudul Talbis Iblis dalam satu jilid tebal.
Beliau menerangkan: "Sesungguhnya kita ahlus sunnah telah tahu adanya Islam sempalan dan pokok-pokok berbagai golongannya, dan sungguh setiap golongan dari mereka terpecah menjadi beberapa golongan. Walaupun kita tidak mampu mengidentifikasi seluruh nama-nama golongan dan madzhab-madzhabnya, akan tetapi kita dapat melihat dengan jelas bahwa induk-induk golongan ini ialah : 1. Al-Haruriyyah 2. Al-Qodariyyah 3. Al-Jahmiyyah 4. Al-Murji'ah 5. Ar-Rafidhah 6. Al-Jabriyyah
Sungguh para ulama telah menyatakan bahwa pokok berbagai sempalan yang sesat adalah enam aliran sempalan ini. Setiap aliran daripadanya terpecah menjadi dua belas aliran sehingga seluruhnya menjadi tujuh puluh dua aliran." Demikian Ibnul Jauzy menerangkan dalam Talbis Iblis karya beliau halaman 18-19 cet. Tahun 1347 H/1928 M Darut Thiba'ah Al-Muniriyyah.
Keterangan Tentang Keenam Pokok Aliran Sempalan : 1. Al-Haruriyyah Ialah pemahaman kaum Khawarij yang mempunyai pemahaman sesat dalam perkara: a. Mengkafirkan Sayyidinna Ali bin Abi Thalib karena mau berdamai dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan. b. Mengkafirkan Ustman bin Affan karena dianggap membikin pelanggaran-pelanggaran selama pemerintahannya. c. Mengkafirkan orang-orang yang ikut dalam perang Jamal (unta), yaitu ummul mukminin Aisyah, Tholhah, Zubair bin Al-Awwam, Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Zubair dan segenap tentara yang terlibat dalam pertempuran. d. Mengkafirkan orang-orang yang terlibat dalam upaya perundingan damai antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sofyan. Juga mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam perundingan damai antara Al-Hasan bin Ali bin Abu Tholib dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sepeninggal Ali bin Abi Thalib. Mreka mengkafirkan semua orang pula yang ridha dan membenarkan dua upaya perdamaian di atas atau salah satunya. e. Memberontak kepada pemerintahan muslimin yang berbuat dhalim karena pemerintahan tersebut dianggap kafir dengan perbuatan dhalimnya. f. Menfkafirkan orang Islam yang berbuat dosa apapun.
2. Al-Qodariyyah Ialah pemahaman sesat yang mengingkari rukun iman yang ke enam, yaitu takdir Allah Ta'ala. Mereka mengatakan bahwa perbutan manusia ini adalah murni semata-mata dari perbuatan manusia sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kehendak dan takdir Allah.
3. Al-Jahmiyyah Ialah pemahaman sesat yang menginginkan adanya sifat-sifat kemuliaan bagi Allah dan mengingkari nama-nama kemuliaan bagi-Nya.
4. Al-Murji'ah Ialah peahaman sesat yang mengingkari hubungan antara iman dengan amal, dalam artian iman itu tidak bertambah dengan amalan shalih dn tidak pula berkurang dengan kemaksiatan sehingga imannya Nabi sama dengan imannya penjahat sekalipun.
5. Ar-Rafidhah Ialah gerakan pemahaman sesat yang diwariskan oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan berupaya menyegarkan pemahamannya yang kafir, yaitu bahwa sayyidina Ali dan anak keturunannya adalah tuhan atau mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Rafidhah mengkafirkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan mengkafirkan pula segenap shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja. (Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah)
6. Al-Jabariyyah Ialah pemahaman sesat yang meyakini bawa semua apa yang terjadi adalah perbuatan Allah dan tidak ada perbuatan makhluk sama sekali. Manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada hanya kehendak Allah. Sehingga semua perbuatan mansuia adalah ketaatan semata kepada kehendak Allah, dan tidak ada perbuatan maksiat. Orang berzina tidaklah dianggap maksiat karena perbuatan zina itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Semua manusia dianggap sama tidak ada muslim dan kafir, karena semuanya tidak mempunyai usaha (ikhtiar) dan tidak pula mempunyai kehendak apapun. (Talbis Iblis hal.22)
7. Al Mu'tazilah Di samping enam aliran sesat yang kemudian bercabang menjadi berpuluh-puluh aliran sesat lainnya, juga ada aliran sesat yang besar pula, yaitu mu'tazilah. Aliran ini mengkeramatkan akal sehingga akal adalah sumber kebenaran yang lebih tinggi kedudukannya dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dari pengkeramatan akal ini timbullah kesesatan mereka yang meliputi : a. Mengingkari adanya sifat-sifat mulia bagi Allah. b. Orang Islam yang berbuat dosa tidak dinamakan muslim dan tidak dinamakan kafir, tetapi ia adalah fasiq. Akan tetapi bila ia tidak sempat bertaubat dari dosanya dan mati dalam keadaan demikian berarti kekal di neraka sebagaimana orang kafir. Orang yang telah masuk neraka tidak mungkin lagi masuk surga, sebagaimana orang yang masuk surga tidak mungkin lagi masuk neraka. c. Menyerukan pemberontakan kepada pemerintah Islam yang berbuat dhalim dan pemberontakan itu dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar. d. Mengingkari adanya takdir Allah pada perbuatan hambanya. e. Al-Qur'an itu adalah makhluk Allah sebagaimana pula sifat-sifat Allah lainnya adalah makhluk. f. Mengingkari berita Al-Qur'an dan Al-hadits yang menyerukan bahwa wajah Allah itu dapat dilihat oleh kaum Mukminin di surga nanti. (Al-Farqu binal Firaq, Abdul Qahir Al-Isfaraini hal 114-115).
8. Al Bathiniyyah Disamping mu'tazilah, ada juga aliran lain yang bernama bathiniyyah yang sering disebut orang thariqat sufiyyah. Mereka ini membagi syariat Islam dalam dua bagian, yaitu syariat batin dan syariat dhahir. Orang yang menganut aliran ini mempercayai bahwa para wali keramat itu syariatnya syariat batin sehingga tingkah lakunya tidak bisa diamati dengan patokan syariat dhahir.
Karena syariat batin itu sama sekali berbeda dengan syariat dhahir, maka yang haram di syariat dhahir bisa jadi halal dan bahkan suci dalam syariat batin. Orang-orang awam harus terikat dengan syariat dhahir. Jadi kalau orang awam berzina harus dicela dan dinilai telah berbuat maksiat, karena memang demikianlah syariat dhahir itu meilainya. Tapi kalau wali keramat berbuat mesum di diskotik atau di hotel tidak boleh dicela. Mereka para wali itu tidak lagi terikat dengan syariat dhahir, tetapi terikat dengan syariat bathin, yaitu syariat spesial milik para wali, jadi kalau ada orang yang mau mencoba mengkritik wali keramat itu dan mencelanya, maka ia harus setingkat mereka atau lebih tinggi.
Syariat dhahir itu diturunkan kepada Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wa sallam, sdangkan syariat batin diturunkan kepada para wali kearmat, melalui mimpi atau wangsit (ilham) atau lewat wahyu yang dibawa oleh para malaikat. (Talbis Iblis 162:169).
Dari aliran-aliran sempalan di atas terpecahlah sekian banyak aliran sesat yang ujungnya pasti membatalkan syariat Allah dan mengakkan syariat hawa nafsu serta kekafiran. (Al-Farqu bainal Firaq, Abdul Qahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al-Isfaraini hal 281-312). Padahal masing-masing aliran yang bersumber dari 8 kelompok sempalan itu tentunya mempunyai pengikut dari umat Islam.
Demikianlah iblis dan anak buahnya memecah belah umat Islam melaui bid'ah, sehingga umat Islam terpecah belah menjadi beratus bahkan beribu-ribu aliran sesat yang telah menyempal dari Islam, walaupun mereka tetap meyakini keislamannya.
Tanah Subur bagi Islam Sempalan Kalau Islam sempalan itu dimisalkan sebagai tanaman, maka tanah subur tempat ia tumbuh dengan bagus dan cepat ialah kebodohan umat Islam tentang agamanya. Kebodohan yang demikian ini adalah akibat dari semakin rendahnya perhatian umat kepada pentingnya memahami dan mempelajarai hukum agama.
Para ulama yang bernar-benar memahami agama dan mengamalkannya semakin langka. Yang banyak ialah para ulama karbitan, makelar ilmu yang mencari dunia dengan agamanya. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga tidak tersisa seorang ulama pun, maka manusia pun menunjuk para pimpinan mereka orang-orang yang bodoh (tentang ilmu agama), maka mereka pun bertanya tentang agama kepada para pimpinan bodoh ini dan para pimpinan bodoh itupun memberi fatwa tanpa ilmu, akibatnya para pimpinan itu sesat dan menyesatkan pengikutnya."(HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mengantisipasi bermunculannya Islam sempalan, umat Islam harus dibangkitkan kembali semangatnya dalam menuntut dan mengamalkan ilmu agama. Disamping itu, segala upaya untuk menyebarkan ilmu agama haruslah dipermudah. Penjelasan dan pemahaman agama harus dikembalikan kepada ahlinya dan jangan sembarang orang merasa berhak berbicara tentangnya.
Apalagi kalau ia sama sekali tidak mempunyai latar belakang ilmu agama. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat salah satunya ialah ilmu diambil dari orang-orang kecil."(HR Ibnul Mubarrak dalam Az-Zuhud, lihat Ash-Shohihah no.696).
Ketika ditanya kepada Ibnul Mubarrak siapakah orang-orang kecil (Ashaghir) yang dimaksud di sini, beliau menjawab: "Orang-orang kecil itu ialah yang berbicara tentang agama dari pikirannya sendiri, adapun orang kecil yang mengambil ilmu dan menyampaikan dari ulama besar, maka tidaklah dia dimasukkan dalam golongan orang-orang kecil". Oleh karena itu orang-orang yang menuntut ilmu agama dan kemudian menyebarkannya haruslah didkukung dan dibela, bila kita tidak ingin umat ini terus menerus diganggu dan dikacaukan oleh gerakan Islam sempalan.
Penutup Mewaspadai gerakan Islam sempalan semestinya dengan ilmu agama yang cukup. Oleh karena itu para ulama ahlus sunnah wal jama'ah haruslah dijadikan patokan untuk menilai sesat atau tidaknya suatu gerakan. Dan jangan pula ulama karbitan dijadikan nara sumber penilaian, akibatnya fitnah yang meresahkan umat Islam terus mencekam dan semakin sulit umat Islam dipersatukan serta dipersaudarakan dengan sesama mereka. Wallahu a'lam bi shawab.
(Dikutip dari Majalah Salafy Edisi Perdana/Syaban/1416/1995, Rubrik Mabhats, Hal 11-13)
578
« pada: 28 Oktober 2011, 19:10:42 »
(voa-islam) - Pengelola dan pengunjung sejumlah toko buku di Tanjungbalai Karimun, Rabu (19/10/2011) sekitar pukul 14:30 WIB dibuat kaget dengan inspeksi mendadak (sidak) Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun, Hanjaya Candra SH dengan beberapa orang stafnya. Sidak yang dilakukan Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun tersebut terkait peredaran sembilan judul buku Islam yang dianggapnya terlarang
Tanjung Balai Karimun adalah ibu kota kabupaten Karimun yang terletak di provinsi Kepulauan Riau. Sidak tersebut diantaranya, dilakukan di Toko Buku Salemba (depan kantor Imigrasi, Kolong), Toko Buku Bintaro (samping Swalayan Indo A Yani), Jack Agency (depan BNI), Toko Buku Al-Kautsar (Pasar Sri Karimun). Setidaknya ada Sembilan buku yang menjadi pengawasan Kejari Tanjungbalai Karimun.
Hanjaya Candra SH, Kasi Intel Kejari Tanjungbalai Karimun kepada wartawan mengatakan, ada 9 judul buku yang dicekal peredarannya di Indonesia termasuk di Kabupaten Karimun oleh Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI. Hal itu dikarenakan, isi buku tersebut dinilai beraliran keras dan menyimpang dari ajaran agama tertentu. Selain itu, buku tersebut dikhawatirkan akan cendrung menciptakan bentuk-bentuk pemikiran terorisme bagi pembacanya.
"Ke sembilan judul buku tersebut, dikhawatirkan membuat pembacanya terprovokasi mengikuti teori-teori yang dipaparkan," kata Hanjaya Candra usai sidak.
Berikut daftar buku yang menjadi pengawasan Kejari:
1. Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 2 (karangan Sayyid Qutbh, Diterjemahkan oleh As'ad Yasin-Muahotob Hamzah, Terbitan Gema Insani Depok-Jakarta 2001).
2. Loyalitas dan Anti Loyalitas dalam Islam (karangan Muhammad bin Sa'id Al Qathani diterjemahkan oleh Salahudin bin Abu Sayid terbitan PT Era Adi Citra Intermedia-Solo 2009).
3. Ikrar Perjuangan Islam (karangan DR Najih Ibrahim diterjemahkan oleh Abu Ayub Ansyori terbitan Pustaka Al Alaq dan Al Qowam-Solo 2009).
4. Khilafah Islamiyah-Suatu Realita bukan Khayalan (karangan Prof DR Syeikh Yusuf Al Qaradawi diterjemahkan oleh Ahmad Nuryadi, terbitan PT Fikahati Aneka-Jakarta 2000).
5. Kado Istimewa untuk Sang Mujahid (karangan Syakh Dr Abdullah Azman, diterjemahkan oleh Abdul Fattan Al Bourie, terbitan PT Pustaka Al Alaq-Solo 2008).
6. Catatan dari Penjara - Untuk Mengamalkan dan Menegakan Dinul Islam (karangan Abu Bakar Ba'asyir, terbitan Mushaf, Depol Jawa Barat, 2008).
7. Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah (karangan Syabab Hizbut Thahtir Inggris, diterjemahkan oleh M Ramdhan Adi, terbitan Pustaka Thariqul Izzan, Bogor 2008).
8. Syariat Islam-Solusi Universal (karangan Prof Wahbah Az Zuhali, diterjemahkan oleh Ridwan Yahya LC, terbitan Pustaka Nuwaitu, Jakarta Timur 2004).
9. Visi Politik Gerakan Jihad karangan Hazim Al Madanidan Abu Mus'ab As Suri, diterjemahkan oleh Luqman Hakim Lc dan Umarul Faruq Lc, terbitan Jazera, Solo 2010. (Ahmed Widad/Trb)
579
« pada: 28 Oktober 2011, 19:03:57 »
(voa-islam) – Pengurus Mabes Laskar Pembela Islam (LPI), anak sayap organisasi Front Pembela Islam (FPI) mengakui, adanya isu Ustadz Soleh Mahmud alias Solmed yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP FPI mendapatkan sanksi dikeluarkan dari keanggotaan FPI.
Panglima Laskar FPI, Ustadz Maman saat dihubungi voa-islam mengatakan, Ustadz Solmed sudah terlalu sibuk. Di FPI, kalau tidak mengikuti ketentuan roda organisasi, maka sanksinya harus dikeluarkan atau mengundurkan diri secara hormat.
“Saya melihat, Ustadz Solmed sudah asyik di dunianya. Tapi, mudah-mudahan dia tidak lupa atau kebablasan. Kita harapkan, dia sadar kembali,.Bagaimanapun, seorang Solmed mengawali perjalanan dakwahnya di FPI. Tapi dia orang baik, kita doakan tetap menjadi seorang pendakwah, bukan seorang artis,” kata Ustadz Maman.
Kabarnya pula, Ustadz Solmed sempat dipanggil Majelis Syuro Front Pembela Islam (FPI) sebanyak dua kali, sejak Ramadhan lalu. Menemui jalan buntu, Ustadz Solmed diserahkan keputusannya pada DPP FPI. Terbetik kabar, Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq Syihab telah menegur Ustadz Solmed terkait orientasi dakwahnya.
Ustadz Solmed sendiri pernah minta izin untuk berdakwah di televisi kepada gurunya Habib Rizieq.Habib tidak melarang, namun tentu ada hal-hal yang harus dijaga, agar jalan dakwah tidak dikotori oleh kepentingan duniawi yang sesaat.
Ustadz Tarmidzi, salah seorang Pengurus Besar LPI, menambahkan, “Habib Rizieq, guru kami tidak pernah mengajarkan seorang pendakwah berorientasi duniawi. Apalagi menjadikan dakwahnya sebagai ajang komersil."
Saat dihubungi voa-islam, Ustadz Ja’far yang duduk di Majelis Syuro, enggan berkomentar ihwal Ustadz Solmed pernah dipanggil oleh Majelis Syuro FPI . Ia meminta voa-islam mendatangi langsung kantor DPP FPI di Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta.
Seperti diketahui, sebelumnya Ustadz Solmed dikenal sebagai sosok anak muda yang tegas. Terlebih saat berada di atas mimbar dakwah. Namun, sejak tampil di televisi, terjadi perubahan yang amat drastis. Perubahan itulah yang membuat anggota dan simpatisan FPI kecewa.
Banyak kritikan yang datang ke FPI. Simpatisan dan grass root menganggap dia tidak mencerminkan seorang aktivis FPI lagi. FPI juga menyayangkan keputusan Ustadz yang membintangi sinetron Pesantren dan Rock n Roll itu. Namun, mereka juga tidak bisa memaksakan perbedaan prinsip yang mereka jalani.
Sebagai saudara Muslim, kita mendoakan para pendakwah, khususnya ustadz muda seperti Ustadz Solmed tidak termasuk sosok dai yang berguguran di jalan dakwah. Mengingat ujian dan godaan para pendakwah bukanlah hal yang ringan. (Desastian)
580
« pada: 19 Oktober 2011, 19:03:06 »
Hidayatullah.com--DISAMPING banyak berisi penghinaan melalui pemaknaan istilah Islam dengan ungkapan-ungkapan jorok, ternyata Darmagandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen. Di sisi lain, Darmagandul sendiri banyak memiliki cacat ilmiah. Baik itu karena ada kesalahan dalam data sejarah, kontroversi mengenai identitas penulisnya atau karena karya lain yang menjadi rujukan dalam penulisannya sendiri amat bermasalah. Namun anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Nah, bagaimana pemaparan selengkapnya?
Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: “Otak-Atik Gathuk” Serat Darmagandul [1]
***
Dalam Darmagandul, wali diartikan sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Walisongo telah diberi kebaikan namun kemudian membalas dengan keburukan. “Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.” Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui sarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.” Demikianlah Serat Darmagandul berbicara mengenai beberapa istilah Islam dan memlesetkannya menjadi ungkapan-ungkapan jorok yang sama sekali jauh dari arti yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh Prof. H.M. Rasjidi dalam buku “Islam dan Kebatinan”. Ungkapan uthak-athik gathuk yaitu usaha menghubung-hubungkan sejumlah istilah yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan permainan kata-kata agar sesuai dengan kepentingan yang menjadi misinya yang merendahkan Islam banyak dijumpai di Serat Darmagandul. Disamping berbicara mengenai syari`at, tarekat, hakikat atau ma`rifat, ia juga berbicara mengenai Al-Qur`an beserta para rasul. Al-Qur`an sendiri “ditafsirkan” secara serampangan dengan plesetan. Misalnya, dalam penafsiran Surat Al Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapnkan sebagai berikut: “Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.” Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina ...artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal, jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri) kitabu la; kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi perempuan yang pakai kain; hudan; telanjang (bahasa Jawa: wuda) Lil muttaqien; sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita ... “ Utak-atik kata dari istilah-istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul: “Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …” Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …” Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Serat Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan” dalam artian perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, seharusnya sukar menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran. Ada Bible di Darmagandul Marginalisasi ajaran Islam dilakukan penulis Darmagandul dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. “Panjenengan Nabi Dawud, putranira kang tuwa, Abe Salam ingkang nami, mungsuh bapa anggege keprabonira. Dawud kengser saking praja, Abe Salam kang gumanti, sawise antara warsa, Nabi Dawud sarta dasih, wangsul amukul nagri, Sang Abe Salam lumayu, angungsi wana-wana, ginawa mbandang turanggi, pan kecantol tenggaknja oyoding wreksa. Kudane mberung lumajar, Abe Salam iku kari, tenggaknya ketjantol lata, gumatung wreksa ngemasi, iku kukume Widi, yen wong mungsuh bapa ratu…” Itulah sepenggal kisah dari Serat Darmagandul yang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan antara Nabi Dawud dan Absalom, puteranya. Demikian terjemahnya lengkapnya, “Putra Nabi dawud yang tua bernama Absalom, melawan ayahnya untuk merebut tahta. Dawud terusir dari istana dan Absalom menggantikannya sebagai raja. Setelah beberapa tahun Dawud kemudian menyerang Absalom dan berhasil merebut negerinya. Absalom melarikan diri dengan mengendarai kuda. Kudanya terus berlari kencang meskipun kepala Absalom menyangkut di dahan pohon, itulah hukum Tuhan, jika anak bermusuhan dengan ayahnya yang seorang raja…” Kisah kedurhakaan putra Dawud di atas tarnyata hanya dapat dijumpai dari kitab II Samuel pasal 15 hingga 18. Kisah lain adalah cerita Darmagandul bahwa Nabi Dawud menghendaki (berzina) dengan Batsyeba, istri bawahannya yang bernama Uria. Dawud kemudian membuat muslihat agar Uria maju ke barisan terdepan medan pertempuran. Harapannya, Uria akan terbunuh dalam peperangan dan Batsyeba dapat diperistri oleh Dawud. Sumber cerita ini dapat ditelusur berasal dari II Samuel pasal 11 dan 12. Penyisipan isi Bible ke dalam Darmagandul disamping menggunakan ungkapan yang amat gamblang seperti kasus di atas, terkadang juga menggunakan simbol-simbol. Sebagai contoh, adalah penggunaan ungkapan wit kawruh (pohon pengetahuan), wit kuldi (pohon Kuldi), dan wit budi (pohon budi). Wit kawruh digunakan sebagai simbol untuk mendeskripsikan Agama Nashrani, wit kuldi merupakan simbolisasi Agama Islam, dan wit Budi merepresentasikan “agama asli Jawa” yang oleh Darmagandul disebutkan sebagai Agama Budha. Hal ini dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut: “Lamun seneng neda woh wit budi, mituruta babon, Buda-Budi karan agamane, anyebuta Dewa Batara Di, Lamun seneng bukti, woh wit kajeng kawruh, Anyebuta asmane Jeng Nabi Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane, lamun seneng neda woh wit kuldi, njebuta Jeng Nabi Muhammad Rasulun.” Artinya, “Jika suka memakan buah Pohon Budi, maka ikutilah induk, Agama Buda-Budi, Sebutlah nama Dewa Batara Di. Jika suka bukti, makanlah buah Pohon Pengetahuan, Sebutlah nama Nabi Isa yang termuat, turutilah Agamanya. Jika suka memakan buah Pohon Kuldi maka sebutlah nama Nabi Muhammad.” Dari kutipan di atas telah cukup dimengerti bahwa istilah-istilah tersebut mewakili sebuah makna secara khusus. Ide penggunaan simbolisasi agama dengan meminjam nama “jenis pohon” dapat dilacak sumbernya sebagai berikut: “Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani.” Artinya, “Darmagandul berbicara, minta diterangkan bab cerita Nabi Adam dan Hawa yang dihukum oleh Pangeran, sebab telah memakan buah pohon pengetahuan yang ditanam di tengah taman firdaus. Ada lagi yang menerangkan bahwa yang dimakan Nabi Adam dan Hawa itu buah Kuldi, yang ditanam di Surga. Maka minta diterangkan, jika dalam kitab Jawa diceritakan bagaimana, yang menyebutkan mengapa hanya kitab Arab dan kitab Agama Nashrani.” Ternyata, ide penggunaan istilah “wit kawruh” rupanya diperoleh pengarang Darmagandul dari kitab Suci Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 2:16-17 sebagai berikut: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Jika demikian faktanya, pengarang Serat Darmagandul bisa dipastikan merupakan penganut Kristen yang telah bersentuhan dengan sejumlah cerita Perjanjian Lama. Ide-ide dari kitab tersebut lantas diolah sehingga menghasilkan jalinan cerita dalam Serat Darmagandul. Tidak mengherankan jika kitab berbahasa Jawa berbau pornografi ini kental dengan kisah yang bersumber dari Perjanjian Lama. Kedekatan Serat Darmagandul dengan Kekristenan ini diakui oleh sejumlah penulis dan akademisi. G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam tulisannya “The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Dermagandul” di Jurnal BKI mengungkapkan bahwa buku ini menghadirkan term-term yang menunjukkan adanya pembahasan tentang ajaran Kristen di dalamnya. Philip Van Akkeren, orientalis Belanda lainnya, bahkan berspekulasi bahwa Darmagandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda. Teori ini memang mampu menjelaskan keberadaan anasir Kristen dalam Serat Darmagandul. Namun ketidakjelasan argumentasi Van Akkeren dan ketidaksesuaian dengan sejumlah fakta, justru menguatkan bahwa teori ini lemah dan dapat dibantah. Belakangan, teori Van Akkeren ini nampaknya mendapat dukungan. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam bukunya “ Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”, senada dengan Van Akkeren menganggap bahwa Tunggul Wulung dimungkinkan merupakan pengarang serat tersebut. Kristenisasi
Pengarang Serat Darmagandul sejak awal beritikad menampilkan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik, dimana Islam senantiasa ditampilkan dalam image negatif. Ajaran Kristen sendiri ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut: “… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora nganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, ...” Artinya,”… Yang disebut agama Nashrani adalah sarana berbakti, benar-benar berbakti kepada Tuhan tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, maka sebutannya Gusti Kanjeng Nabi Isa itu Putra Allah, sebab Allah yang mewujudkan.” Selain itu Serat Darmagandul juga mencoba mengetengahkan upaya marginalisasi ajaran Islam dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. Simak ungkapan berikut: ”Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu.” Artinya, “Kitab Arab pada jaman ini sudah tidak terpakai sebab hukumnya meresahkan dan tidak adil. Yang digunakan untuk memutuskan perkara adalah kitab Nabi Isa Rahullah.” Adapun puncak dari seluruh motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut : “…eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.” Artinya, “Ingat-ingatlah besok, jika ada agama pengetahuan, maka akan kubalas, akan kuajari pengetahuan yang benar dan salah, peraturan tata negara, memakan babi seperti jaman Majapahit.” Puncaknya, Serat Darmagandul ingin mengatakan bahwa Islam akan kalah oleh agama kawruh, dalam hal ini sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah Kristen. Serat Darmagandul seolah-olah sedang memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh Kristen yang dianggap akan mengajar benar dan salah serta menghalalkan babi. Maka telah jelas bahwa penulisan Darmagandul sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan, bukan kitab bagi kalangan kebatinan. */Susiyanto, SAHID
581
« pada: 19 Oktober 2011, 00:37:42 »
BANTUL (voa-islam.com) - Cinta memang membutakan. Love is Blind. Begitulah sebuah ungkapan. Ketika cinta sudah merasuk ke dalam dada, maka mata tidak bisa melihat sebuah kebenaran. Apapun akan dikorbankan untuk mendapatkan yang dicintainya. Tidak peduli akan melanggar norma agama ataupun harus mengorbankan kebahagiaan hakiki di akhirat. Naudzubillahi min dzalik.
Sebuah pengalaman berharga dialami Mawar, bukan nama sebenarnya, muslimah penduduk Bambanglipuro Bantul Jogjakarta. Bambanglipuro adalah sebuah kecamatan yang cukup banyak komunitas nasraninya hasil proyek penjajah Belanda.
Meski pendidikan yang dialami mawar cukup memada. Dari TK hingga SMK di sekolah Muhammadiyah, bukan merupakan jaminan bagi gadis berusia 18 tahun ini untuk mempertahankan akidahnya ketika suatu saat ia berkenalan dengan seorang pemuda Katolik. Dengan usia masih sangat belia, Mawar berkenalan dengan Alex, lajang yang cukup berumur 33 tahun. Kesenjangan usia yang cukup jauh bukanlah hambatan. Cinta pun tumbuh seiring perkembangan waktu.
...Alex datang dengan ditemani tokoh Nasrani setempat mengatakan kalau mawar sudah hamil, maka mereka harus segera dinikahkah di gereja...
Hingga suatu ketika, di awal bulan September 2011, Alex datang dengan ditemani tokoh Nasrani setempat mengatakan kalau mawar sudah hamil, maka mereka harus segera dinikahkah di gereja. Pak Amir, ayah Mawar pun linglung tak tahu harus berbuat apa. Maka ketika disodori surat kesediaan untuk menikahkan putrinya yang hamil di gereja, Pak Amir menyetujuinya dengan membubuhkan tanda tangan.
Selang beberapa hari, Pak Amir mulai berpikir. Ia tidak rela mengorbankan anak dan keterunannya ke dalam lembah kesusahan yang tiada berkesudahan dalam keyakinan kafir, berpindah akidah. “Meskipun dari awal Mawar mengatakan ingin tetap istiqamah dalam Islam, tapi itu tidak mungkin. Bagaimana kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan dicapai dengan perbedaan konsep hidup beragama yang berbeda. Tidak mungkin!” ujarnya dalam hati.
...Cara apapun mereka tempuh untuk memurtadkan umat Islam...
Dengan dibantu segenap tokoh agama, tokoh masyarakat setempat dan beberapa ormas Islam, akhirnya Pak Amir mencabut surat pernikahan anaknya di gereja. Proses pencabutan berlangsung cukup cepat. Beberapa orang berkumpul di parkir samping gereja membuat warga sekitar gereja kaget hingga beberapa personel polisi datang.
Upaya penyadaran terhadap Mawar terus dilakukan. Ruqyah, dan pendampingan serta penambahan pemahaman kepada keluarga Pak Amir. Bu Amir yang berada di luar kota pun pulang untuk melihat keadaan anak dan suaminya karena beberapa kali Bu Amir diteror pemuda gereja tentang keselamatan suaminya.
Tak hanya itu, para pemuda gereja juga menghembuskan berita bohong bahwa ormas Islam menggropyok gereja ketika melakukan pencabutan pembatalan pernikahan dengan menggunakan 3 truk. Padahal saat itu rombongan datang hanya beberapa orang tidak menggunakan truk. Datang dengan baik-baik dengan sebuah mobil dan puluhan sepeda motor.
...Alex bersama tokoh agama Nasrani setempat menipu dengan mengatakan kalau mawar sudah hamil 3 bulan, agar pihak keluarga merestui pernikahan di gereja...
Juga ketika Alex, pacar korban datang dengan tokoh agama Nasrani setempat mereka sudah menipu dengan mengatakan kalau mawar sudah hamil 3 bulan dengan maksud agar pihak keluarga (ayah korban) segera memberikan restu untuk dinikahkan di gereja. Tindakan ngawur untuk mengelabuhi korban. Cara apapun mereka tempuh untuk memurtadkan umat Islam.
Kejadian di atas semoga menjadi pelajaran bagi para muslimah dalam mencari calon suami. Dan bagi para orangtua untuk senantiasa memperhatikan pergaulan anaknya. Jauhi pergaulan beda agama yang mengarah pada pacaran dan pernikahan. Karena hubungan ini rawan Kristenisasi.
Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada kita menempuh kehidupan ini dijalan-Nya, meskipun banyak persoalan berkaitan dengan akidah seringkali ada. [LH]
582
« pada: 19 Oktober 2011, 00:33:33 »
Pola pikir evangelis Curlt Fletemier dalam buku hujatan Islam yang dijual di Gramedia ini memang sangat aneh dan rancu.
Setelah dengan congkaknya menghina Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tidak sesuai bagi orang yang berakal dan berperikemanusiaan, Curlt lantas memuji Bibel setinggi langit sebagai kitab yang penuh ajaran kasih, damai, sejahtera, penuh roh Kudus, dan hikmat Tuhan.
Setelah itu, tiba-tiba pada halaman yang sama, Curlt yang notabene sarjana teologi ini mengakui dengan jujur bahwa ia SAMA SEKALI TIDAK MENGERTI terhadap ayat-ayat perang dalam kitab Perjanjian Lama (PL). Perhatikan kutipan berikut:
“Memang patut diakui bahwa umat Israel pernah melancarkan perang di dalam Perjanjian Lama. Yosua 621, Bilangan 31, dan I Raja-raja 18:40 adalah contoh-contohnya. Mengapa Tuhan memerintahkan umat Israel membunuh setiap orang laki-laki, perempuan dan anak-anak? Saya sama sekali tidak mengerti...” (hlm 26).
Jika Curlt meyakini bahwa kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama diinspirasikan oleh Tuhan yang sama, mengapa ia memuji Perjanjian Baru tapi mendiskreditkan Perjanjian Lama? Aneh!
Dan Curlt semakin tidak bisa mengerti terhadap hukum perang dalam Perjanjian Lama bila membaca ayat-ayat berikut:
“Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu” (Bilangan 31: 17-18).
Dalam kitab yang mengajarkan hukum peperangan ini, Tuhan memberikan aturan aneh, yaitu orang yang harus dibunuh adalah laki-laki dan perempuan yang sudah pernah bersetubuh. Sedangkan perempuan yang belum pernah bersetubuh (perawan), boleh diambil bagi mereka. Tentara manapun akan kesulitan mengamalkan ayat ini. Betapa repotnya melakukan pengetesan terhadap para wanita untuk memisahkan wanita yang sudah pernah bersetubuh dengan wanita yang masih perawan? Lantas bagaimana pula cara memisahkan pria yang sudah pernah bersetubuh dengan pria yang masih perjaka?
Ternyata evangelis Curlt Fletemier menghina Al-Qur'an, hanya untuk menutupi kelemahan Bibel yang tak masuk akal dan tak bisa dimengerti. Jika tak pandai menari, sebaiknya Curlt jangan mengatakan lantai berjungkit!! [A. Ahmad Hizbullah MAG/suara islam]
583
« pada: 18 Oktober 2011, 23:17:55 »
Jika kekeliruan akidah menimpa kaum awam yang tidak punya pengikut, maka bahayanya relatif kecil hanya kepada dirinya sendiri. Tapi kesesatan akidah akan menjadi musibah besar bila menimpa tokoh dan pemimpin ormas Islam yang memiliki puluhan juta pengikut.
Adalah Bambang Noorsena, pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), komunitas Kristen Ortodoks Syria (KOS) di Indonesia. Untuk sosialisasi KOS di Indonesia, Bambang Noorsena menulis buku “Menuju Dialog Teologis Kristen–Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Kristen Yayasan Andi Yogyakarta.
Buku setebal 172 halaman ini berisi kumpulan makalah, artikel, berbagai karya lepas, liputan, wawancara dan komentar media massa seputar Kristen Ortodoks Syria. Intinya, berusaha menjelaskan kekristenan dan keilahian (ketuhanan) Yesus versi KOS yang diyakini sebagai upaya menembus kebuntuan dialog teologis Kristen dan Islam.
Ciri khas KOS yang berbeda dengan aliran Kristen lainnya adalah identitas kearaban ala Timur Tengah. Istilah-istilah teologi banyak menggunakan bahasa Arab, bukan istilah barat ataupun Yunani. Misalnya, memakai kata “Sayyidina Isa Almasih” untuk menyebut Yesus Kristus, memakai jilbab bagi jemaat wanita ketika beribadat, dan pemakaian Bibel berbahasa Arab. “Kitab kami Injil berbahasa Arab. Karena itu kami juga bisa membaca Al-Qur’an,” jelas Bambang yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang itu pada halaman 143.
Untuk menambah pamor, ulasan KOS dalam buku ini ditutup dengan dua bagian, yaitu Wacana Mitra Islam dan lampiran Qanun Al-Iman Al-Muqaddas.
Dalam Wacana Mitra Islam (hlm. 163-166), Prof Dr KH Said Aqiel Siradj MA menulis artikel tanggapan sebagai umpan balik terhadap gagasan dan teologi Kristen Ortodoks Syria. Sedangkan pada halaman lampiran (hlm 167-169), disertakan kutipan “Qanun Al-Iman Al-Muqaddas” yang berisi 12 pernyataan iman KOS. Pernyataan iman ini sama dengan doktrin keyakinan Kristen lainnya yang menyebutnya sebagai “12 Pengakuan Iman Rasuli” atau “Sahadat Iman Rasuli,” yang dialihbahasakan dari Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano-Constantinopolitanum).
Meski secara lahiriyah identitas KOS kental dengan nuansa Arab, namun teologinya tidak berbeda dengan aliran Kristen lainnya. Mereka sama-sama meyakini ketuhanan Yesus, penyaliban Yesus, penebusan dosa dan ketuhanan trinitas.
Arabisasi istilah tidak bisa merubah kekafiran suatu keyakinan. Meskipun memakai bahasa Arab, doktrin KOS dalam “Qanun Al-Iman Al-Muqaddas” tetap kafir dalam pandangan Islam jika mempersekutukan Allah. Salah satu doktrin menonjol dalam Qanun KOS ini menyebutkan bahwa Yesus adalah satu-satunya tuhan (rabb): “nukmin birabbin wahid Isa Almasih ibnullahi al-masih” (kami beriman kepada satu-satunya tuhan yaitu Isa Al-Masih, Putra Allah Yang Tunggal). Juga disebutkan bahwa Maryam adalah ibunya Tuhan: “Wa min maryam al-adzraa al-bathuul waalidatul ilah” (dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan).
....meski KOS meyakini ketuhanan Yesus dan keberadaan Bunda Tuhan, namun KH Said Aqiel Sirajd berani menjamin bahwa akidah Islam dengan akidah Kristen memiliki persamaan substansial dan tak ada perbedaan...
Anehnya, meski secara terang-terangan KOS meyakini ketuhanan Yesus dan keberadaan Bunda Tuhan, namun KH Said Aqiel Sirajd berani menjamin bahwa akidah Islam dengan akidah Kristen memiliki persamaan yang sangat substansial dan tak ada perbedaan berarti. Pada Bab 16 (Wacana Mitra), kiyai jebolan Universitas Ummul Qura Mekkah ini menulis artikel berjudul “Laa Ilaaha Illallah Juga,” demikian kutipannya:
“Tauhid merupakan misi utama yang diemban para nabi dan rasul di muka bumi. Meskipun mereka berbeda kurun waktu, umat ataupun corak peribadatan (syariah), tetapi memiliki ajaran yang konstran di bidang Tauhid (keimanan). Semua rasul dan nabi pasti berseru kepada kaumnya untuk menuhankan Allah yang Mahaesa serta menegasikan sesembahan (ilah) selain-Nya. Mereka memberantas semua upaya yang ditujukan untuk membuat “tuhan tandingan” (musyrik) atau mengingkari eksistensi Tuhan (kafir).…
Secara umum tauhid terbagi dalam tiga kategori: tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ dan sifat-sifat Tuhan. Jika seseorang telah mengakui bahwa Allah itu Tuhan semua makhluk, pemilik alam semesta, pencipta alam seisinya, Maha menghidupkan dan mematikan serta memberi rezeki kepada semua makhluk, maka orang tersebut telah meneguhkan dirinya dalam tauhid al-rububiyyah. Apabila seseorang hamba berupaya menyembah Allah secara tulus dan murni disertai perasaan cinta (mahabbah), takut (khauf), harapan (raja’), pasrah (tawakkal) kepada-Nya, maka ia memasuki wilayah tauhid al-uluhiyyah. Sedangkan tauhid shifat dan asma’ dimaksudkan sebagai keyakinan bahwa Allah itu memiliki sejumlah asma dan sifat yang tiada tahrif (perubahan), ta’thil (pengosongan), takyif (kondisional) ataupun tamsil (personifikasi).
“Dari ketiga macam tauhid di atas, tauhid Kanisah Ortodoks Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyah, Kristen Ortodoks Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyah ia juga telah mengikrarkan Laa ilaaha illallah: “Tiada tuhan (ilah) selain Allah,” sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak jauh berbeda, hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut.... Walhasil, keyakinan Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni), walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syari’ah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid” (hal. 163-166).
Pendapat KH Said Aqiel Sirajd ini tidak jelas juntrungnya. Teologi cap apa yang ditelannya, sehingga kiyai yang sekarang menjabat Ketua Umum PBNU itu berani menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani?
Menurut Kristen Ortodoks Syria (KOS), Yesus adalah satu-satunya Tuhan (Rabb), sedangkan Allah SWT dalam Al-Qur'an Al-Ma’idah 72 mengafirkan doktrin ketuhanan Yesus, dan mengharamkan surga bagi orang yang meyakini Yesus sebagai Tuhan.
KOS mengimani Yesus sebagai Anak Allah (ibnullah al-wahiid), sedangkan Al-Qur'an menolak doktrin yang meyakini Yesus sebagai putra Allah (Qs. Al-Ikhlash 1-4).
Lalu menurut doktrin KOS, Maryam adalah ibunda Tuhan (walidatul ilah), sedangkan Islam menyangkal keyakinan bahwa Tuhan punya ibu dan bapak (Qs. Al-Ikhlash 3).
....akidah Islam tidak sama dengan trinitas kristiani, bahkan bertolak belakang secara substansial. Siapapun yang menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani, harus segera bertaubat...
Dengan demikian, jelaslah bahwa akidah Islam tidak sama dengan trinitas kristiani, bahkan bertolak belakang secara substansial. Siapapun yang berani menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani, harus segera bertaubat. Karena salah satu perkara yang bisa menggugurkan keislaman adalah tidak mau mengafirkan agama kafir; man lam yukaffir kaafiran fahuwa kaafir!
Jika Anak SD Bisa Bedakan Tauhid dan Syirik, Mengapa Profesor Doktor Tergelincir?
Secara kasat mata, perbedaan akidah Islam dengan trinitas Kristen Ortodoks sangat tajam. Pada halaman 167-169 dikutip lampiran Qanun Al-Iman Al-Muqaddas (syahadat Kristen Ortodoks), antara lain sebagai berikut:
“Qaanuun al-iimaan al-muqaddas: Bil-haqiiqati nu’minu bi-ilaahin wahid, Allahu al-Aab, dhaabithul-kulli, khaaliqus-samaawati wal-ardhi wa kulli maa yaraa wamaa laa yaraa.
Nu’min birobbin waahidin ‘Iisaa al-Masiih ibnullaahil-waahidi, al-mauluudu minal-aabi qabla kullid-duhuur, nuurun min nuurin, ilaahun haqq min ilaahin haqq, mauluudun ghoiru makhluuqin, waahidun ma’al-aabi fid-dzaati, alladzii bihi kaana kullu syai`in, haadzaal-ladzii min ajlina nahnul-basyar, wamin ajli kholaashinaa, nazala minas-samaa’... wa min maryam al-adzraa al-bathuul waalidatul ilah...”
Terjemah Indonesia: Dan kami beriman kepada satu-satunya Ilah (sembahan) yaitu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Dari Syahadat Kristen Ortodoks itu, dapat diketahui bahwa secara rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat, keyakinan Kristen Ortodoks bertentangan dengan akidah Islam.
....Siapapun yang menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani harus segera bertaubat. Karena salah satu perkara yang bisa menggugurkan keislaman adalah tidak mau mengafirkan agama kafir...
Secara Rububiyah, doktrin KOS yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (Rabb) adalah akidah batil. Karena menurut Al-Qur'an, hanya Allah saja Tuhan (Rabb) yang Maha memiliki, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, memberi manfaat, mendatangkan bahaya, pemilik segala urusan dan kebaikan.
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Qs. Al-Fatihah 2, Al-Baqarah 21-22, Az-Zumar 62, Hud 6, Al-Ma’idah 120, Al-Mu’minun 86-89).
Secara Uluhiyah, meyakini kematian Yesus di tiang salib sebagai penebus dosa jelas sebuah kebatilan yang bertolak belakang dengan akidah Islam yang menekankan hanya Allah saja yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
“Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Baqarah 163).
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Qs. Al-Fatihah 5).
Menurut Tauhid Asma wa Sifat, doktrin KOS yang meyakini adanya Anak Tuhan (ibnullah) dan Bunda Tuhan (walidatul ilah) juga sebuah kekafiran tersendiri yang bertentangan dengan Al-Qur’an (Qs. Al-Ikhlash 1-4, Qs. Asy-Syura 11, dll).
Sebenarnya, dengan kemajuan kurikulum pendidikan Islam, saat ini anak SD sudah sangat memahami tauhid, sehingga mereka tidak akan menyamakan akidah Islam dengan doktrin trinitas Kristen. Perhatikan pelajaran mereka:
“Orang bertauhid meyakini hanya Allah Yang Maha Satu, yang menghidupkan, mematikan dan mengatur seluruh alam semesta. Orang bertauhid beribadah kepada hanya Allah Ta’ala dan melaksanakan seluruh perintah Allah. Lawan dari tauhid adalah syirik, artinya menyekutukan Allah. Orang yang berbuat syirik disebut musyrik. Orang musyrik tidak akan masuk surga dan kekal di dalam neraka selama-lamanya. Orang musyrik menyembah selain Allah, mereka berdoa dan beribadah kepada makhluk” (Aqidah Akhlak untuk Sekolah Dasar Kelas 2, Tim Penulis FKLPI, hlm. 8-9).
Jika anak SD sudah bisa memahami makna tauhid dengan benar, mengapa profesor doktor bisa tergelincir? Aneh bin ajaib!! [voa-islamcom/suara islam]
584
« pada: 18 Oktober 2011, 04:49:58 »
Beriman kepada hari qiyamat merupakan unsur pokok keimanan dalam Islam. Tanpa beriman kepada hari qiyamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha qadar dariNya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"...Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian (qiyamat), maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."(An-Nisaa':136).
Mengenai kepastian adanya Hari Qiyamat itu sendiri Allah menegaskan dalam firman-firmanNya, diantaranya:
"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan , kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."(At-Taghabun/ 64:7).
Allah subhannahu wa ta'ala berfirman pula, yang artinya:
"...serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (qiyamat) tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka." (As-Syura/ 42:7)
Dan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." (An-Naml/ 27:82).
Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari qiyamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir." (Al-Anbiyaa': 96-97).
Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah qiyamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabmu (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya sekiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. (Allah berfirman): Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin."(Al-Haaqqah/ 69:13-34).
Masih banyak ayat-ayat lain di dalam Al-Qur'an yang menegaskan tentang hari qiyamat.
Tanda-tanda qiyamat
Adapun tanda-tanda qiyamat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan dengan beberapa haditsnya. Diantaranya:
"Sesungguhnya qiyamat itu tidak akan terjadi sebelum adanya sepuluh tanda-tanda qiyamat, yaitu tenggelam di Timur, tenggelam di Barat, tenggelam di Jazirah Arab, adanya asap, datangnya Dajjal, Dabbah (binatang melata yang besar), Ya'juj dan Ma'juj, terbit matahari dari sebelah barat, keluar api dari ujung Aden yang menggiring manusia, dan turunnya Nabi Isa."(Hadits Riwayat Muslim).
Penjelasan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya yang lain:
"Dajjal datang kepada umatku dan hidup selama 40 tahun, lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, kemudian ia mencari Dajjal dan membinasakannya. Kemudian selama 70 tahun manusia hidup aman dan damai, tak ada permusuhan antara siapapun. Sesudah itu Allah meniupkan angin yang dingin dari arah negeri Syam (kini Suriah, pen). Maka setiap orang yang dalam hatinya masih ada kebajikan meskipun sebesar atom, pasti menemui ajalnya. Bahkan jika seandainya seseorang dari kamu masuk ke dalam gunung, pasti angin itu mengejarnya dan mematikannya. Maka sisanya tinggal orang-orang jahat seperti binatang buas (fii khiffatit thoiri wa ahlaamis sibaa'), mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan syetan menjelma pada mereka (manusia) lalu berkata: Maukah kamu mengabulkan? Manusia berkata: Apa yang akan kamu perintahkan kepada kami? Syetan lalu memerintahkan kepada mereka agar menyembah berhala, sedang mereka hidup dalam kesenangan. Kemudian ditiuplah sangkakala. Tapi seorangpun tak akan mendengarnya kecuali orang yang tajam pendengarannya. Dan orang yang pertama kali mendengarnya yaitu seorang laki-laki yang mengurusi untanya. Nabi bersabda: Maka matilah semua manusia. Kemudian turunlah hujan seperti hujan gerimis. Maka keluarlah dari situ jasad manusia (dari kubur-kuburnya). Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Lalu dikatakan kepada mereka: Wahai manusia, marilah menghadap kepada Tuhanmu dan merekapun berada di Mahsyar karena mereka akan diminta tanggung jawabnya. Kemudian dikatakan kepada mereka, pergilah kamu karena neraka telah dinyalakan, lalu dikatakan lagi: Dari berapakah? Lalu dikatakan lagi: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. Begitulah keadaannya pada hari anak dijadikan beruban dan pada hari betis disingkap (hari Qiyamat yang menggambarkan orang sangat ketakutan yang hendak lari karena huru-hara Qiyamat)." (Hadits Riwayat Muslim).
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika berkhutbah:
"Wahai manusia, bahwasanya kamu nanti akan dihimpun Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, dalam keadaan kulup (tidak dikhitan). Ingatlah bahwa orang yang mula-mula diberi pakaian adalah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti ada di antara umatku yang didudukkan di sebelah kiri. Ketika itu aku berkata: Ya Tuhan, (mereka itu adalah) sahabatku. Lalu Tuhan berkata: Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudah kamu (wafat)."(HR Muslim).
Pertanggung jawaban
Mengenai pertanggungan jawab perbuatan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Pada hari Qiyamat, setiap hamba tak akan melangkah sebelum ditanya empat hal, yaitu tentang umur untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan (kesehatan) badannya untuk apa ia pergunakan."(HR Tirmidzi, hadits hasan shahih, dan teks ini menurut riwayat Muslim).
Tentang dahsyatnya keadaan Qiyamat sampai manusia tak ingat pada lainnya, adapun penjelasannya: "Dari Aisyah , Bahwa ia teringat Neraka lalu menangis, maka Rasulullah ` bertanya: Apa yang menyebabkan engkau menangis? Aisyah menjawab: Aku teringat pada Neraka, hingga aku menangis. Apakah pada hari Qiyamat kamu akan ingat pada keluargamu? Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : Adapun di tiga tempat, orang tidak teringat pada yang lainnya, yaitu ketika ditimbang amalnya sebelum dia mengetahui berat ringannya amal kebaikannya. Ketika buku catatan amalnya beterbangan sebelum dia mengetahui di mana hinggapnya buku itu, di sebelah kanan, kiri, atau di belakangnya. Dan ketika meniti titian/jembatan (shirath) yang terbentang di punggung neraka Jahannam sebelum dia melaluinya."(HR Abu Daud, hadits hasan).
Itulah peristiwa Qiyamat yang wajib kita yakini beserta tanda-tandanya. Semuanya itu merupakan hal yang ghaib, hanya Allah yang mengetahui, sedang Nabi shallallahu 'alaihi wasallammengkhabarkan itu dari wahyu Allah. Maka hal-hal yang tak sesuai dengan penjelasan Allah dan RasulNya mesti kita tolak, meskipun datangnya dari orang yang mengaku intelek, pakar, ataupun mengaku telah menyelidiki bertahun-tahun dengan metode yang disebut ilmiah dan canggih. Sebaliknya, kalau itu datang dari Allah dan RasulNya, maka wajib kita imani. Dan beriman kepada Hari Qiyamat itu merupakan halyangtermasuk pokok di dalamIslam seperti tersebut di atas. Mengingkarinya berarti rusak keimanannya. (Hartono).
Rujukan: Minhajul Muslim , oleh Abu Bakr Al-Jazairi, Darul Fikr.
585
« pada: 18 Oktober 2011, 00:13:14 »
Dialog sms dakwah antara Fauzan Anshari, pelayan pesantren tahfidz Al Qur’an Anshorulloh Ciamis, dengan Fahri Hamzah, anggota DPR dari PKS tentang implementasi syariat Islam berlanjut, Selasa (13/09/2011), pukul 06.30 – 09.35 WIB. Berikut petikannya!
Fauzan Anshari (FA): “Orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, dan kepada Allah sajalah mereka mengembalikan segala urusan” (QS. Alhajj/22:41). Siapakah kita, apakah presiden, dpr, mpr,mk, kejaksaan, tni, polisi dan pejabat Negara lainnya, apakah sudah menjalankan ayat di atas? Kalau mau selamat dunia akhirat, jangan tunda-tunda lagi, mari kita bersama-sama menerapkan hukum Alloh di bumi-Nya ini.
Fahri Hamzah (FH): kerjakan aja jangan banyak ngomong
FA: Alhamdulillah kalau sudah, tapi mana buktinya? Hukum Islam tidak berjalan sampai detik ini, apa kerja DPR dengan gaji tinggi? Apa sudah melegislasi hukum-hukum Islam?
FH: ente jadi anggota DPR dong…
FA: Saya tidak mau karena jadi anggota DPR akan jadi musyrik karena telah mengkudeta kekuasaan Alloh dalam hal membuat hukum
FH: ya sudah jangan minta tolong DPR dong…
FA: Saya tidak pernah minta tolong kepada siapapun kecuali supaya orang itu mau menerapkan hukum Islam, apalagi hak saya sebagai rakyat yang dipaksa taat kepada undang-undang yang disahkan DPR tidak sesuai dengan hukum Islam sehingga bisa menyeret saya dan keluarga ke neraka, dan sebagai kewajiban dakwah kepada semua orang yang mengaku muslim supaya bekerjasama dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan. Seseorang berkata kepada Abdullah ibn Mas’ud ra: “Celaka aku jika tidak beramar ma’ruf dan bernahi munkar.” Ibnu Mas’ud ra menjawab: “Engkau juga akan celaka manakala hatimu tidak mengenali yang ma’ruf dan yang munkar.” (dinukil dari al-intishar lihizbillah al-muwahhidin:7)
FH: renungan hari ini: Ali bin Abi Thalib berkata: “Ketahuilah olehmu, moga-moga rahmat Allah atas kamu semua! Sesungguhnya kamu ini telah sampai kepada suatu zaman; amat sedikit orang yang berani mengatakan yang benar, dan di dalam berkata yang jujur lidah sudah menjadi kelu, orang yang tegak mempertahankan kebenaran mulai dihinakan orang. Ahlinya telah banyak yang tekun dalam berbuat durhaka kepada Allah; sudah bersekutu semuanya memilih kata yang bagus untuk mengambil muka. Pemudanya keras kepala, orang tuanya penuh dosa, orang yang dianggap alim menjadi munafik, sedang yang pandai membaca Alquran membacanya hanya dengan mulut tak sampai ke hati. Yang kecil tidak mau memuliakan yang tua, dan yang kaya tidak mau memelihara yang miskin.”
FA: sebaiknya setiap nukilan disebutkan maroji’nya atau riwayatnya supaya terhindar salah kutip. Semoga kita bisa mengambil pelajaran tersebut termasuk yang tekun bermaksiat kepada Alloh dengan membuat hukum yang bertentangan dengan kehendakNya lalu memaksa kepada orang lain untuk mentaatinya.
Catatan: Sampai disini FH tidak menjawab lagi malah saya dituduh mencari sensasi dengan mempublikasikan dialog sms ini, padahal tujuannya untuk bahan renungan umat. Bagi saya FH masih ada baiknya mau merespon sms dakwah saya, sedangkan tokoh-tokoh lain menjawab sekenanya, seperti: subhanalloh; terimakasih; bagaimana caranya (dan setelah dijelaskan lalu tidak dijawab lagi) dan kebanyakan mereka tidak berkomentar sedikit pun; apakah fenomena ini seperti yang difirmankan Alloh swt dalam surat Albaqarah: 6-7 “sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Alloh telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.” Ibnu Abbas ra mengatakan, bahwa kedua ayat ini diturunkan sehubungan dengan kaum Yahudi Madinah, yang meskipun diberi peringatan, mereka tetap tidak akan beriman (hadits sahih riwayat Ibnu jarir dan Ibnu Ishaq; lihat tafsir Ibnu Katsir:1/85).
Saya benar-benar takut sekali jika negeri ini dikelola oleh orang-orang yang berani menentang Allah swt karena berarti mengundang azab-Nya. Astaghfirullahal’adzim.
(M Fachry/arrahmah.com)
Halaman: 1 ... 37 38 [39] 40 41 ... 45
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|