Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Pesan - ibnu sabiil
Halaman: 1 ... 130 131 [132] 133
1966
« pada: 10 Desember 2006, 19:48:43 »
14:37 ya Pemelihara kami sesungguhnya aku, aku menempatkan dari keturunanku dilembah tidak mempunyai penanaman disisi sistem Engkau (baiti-ka) dalam ketetapan-ketetapan larangan (-lmu- Harrami @ sanctioned). ya Pemelihara kami, agar mereka menegakkan komitmen maka jadikanlah naluri (af-idatan) dari manusia cenderung kepada mereka dan rezekikanlah mereka dari buah-buahan supaya mereka ~ mereka berterima kasih
Ma'af, itu yang elo kasih warna merah (baiti-ka = بَيْتِكَ) diartikan sistem engkau oleh kalel ...  Coba elo artikan QS 2:125 seperti yang pernah elo kutip untuk menjelaskan arti kata 'a-ka-fa (yang sudah dijelaskan dengan sangat baik oleh akhi dhyba) ini : ... أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ ... Dan coba artikan juga firman dalam QS 5:97 ini, ... جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَاماً لِّلنَّاسِIni qur'aniyyin jadi-jadian bikin malu aja, setahu gue dari dulu ampe sekarang kata الْبَيْتُ itu artinya rumah, kediaman, tempat tinggal.  katanya kaum qur'aniyyin ini lebih suka mengembalikan arti tsb pada makna sebenarnya, tapi kok ini malah ngawur banget. Tidak tahu bahasa nekat pula  Belajar dulu bahasa Arab deh jangan asal copas dari sumber yang tidak bertanggung jawab, masa kata رََبَُّ dalam kata رَّبَّنَا diartikan Pemelihara
1967
« pada: 10 Desember 2006, 18:53:30 »
Saya lihat ibnu sabil seperti hendak memaksakan pendapatnya. Bukankah ayat 98:2 cukup jelas maksudnya.
Sebenarnya anda dan kent yang memaksakan pendapat tsb untuk men-justifikasi argumennya.  Gue tulis lagi yang teks arabnya tsb, رَسُولٌ مِّنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفاً مُّطَهَّرَةًMaksudnya seperti apa QS 98:2 tsb ?  Bagian mana yang menyebutkan dalam QS 98:2 tsb bahwa Muhammad bin Abdullah membaca suatu teks ?  Apa anda tidak bisa melihat keajaiban alquran pada cara penulisan huruf-hurufnya. Apalagi datang dari sebuah qaum yang buta huruf. Bukan tidak mungkin huruf arab juga datang dari Allah langsung.
Apanya yang ajaib dari huruf2 hijaiyah tsb ?  Atau mungkin maksud abang bahwa Allah SWT menulis sendiri sebuah kitab yang di sebut al Qur'an tsb dan dibacakan oleh Muhammad saw ?  Jadi menurut abang Farabi, sejak kapan bentuk tulisan huruf hijaiyah dikenal oleh bangsa Arab suku Quraisy tsb ?  Saya baru saja menemukan lagi keajaiban dari alquran yang tersamarkan.
Itu bukan problem gue, dan sepertinya tiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam menilai keajaiban al Qur'an tsb sebagai wahyu dari Allah SWT dan hal ini tidak menarik untuk di diskusikan
1968
« pada: 08 Desember 2006, 18:37:39 »
Apakah poligami diperintahkan secara jelas dalam al Qur'an ?  Jadi kesimpulannya hukum poligami tuh apa ?
1969
« pada: 08 Desember 2006, 18:31:40 »
Salam sejahtera,
98:2. Seorang rasul daripada Allah, dengan membacakan naskhah-naskhah gulungan yang dibersihkan
Lembaran-lembarannya sekarang mana ?  Dan coba lihat QS 98:1, ayat QS 98:2 ini sedang membicarakan bahwa Muhammad membaca suatu naskah atau apa ?  Juga lihat QS 98:5 nya, jadi secara keseluruhan QS 98:1-5 sedang membicarakan apa ?
1970
« pada: 08 Desember 2006, 18:24:00 »
Kajian ini menarik sekali untuk dibahas, salaam. 3:97.إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا وهدى للعلمين
perkataan yang sama kata dasr ( root word ) kamu bisa dapat di Q 44:29 sila periksa dongggggg!
QS 44:29 teks nya seperti ini : فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاء وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنظَرِينَYang kamu maksud kata dasarnya yang sama tuh yang mana dan apa arti sebenarnya dari kata dasar yang kamu maksud tsb ?  Dan QS 3:97 tsb kalo ditranslate ke dalam bahasa Indonesia bunyinya jadi gimana sih menurut yang ngaku qur'aniyyin ?
1971
« pada: 08 Desember 2006, 17:57:42 »
Jadi apa maksud dari kata "iqro" pada ayat alquran yang berarti bacalah? Kemudian, dari semenjak kapan adanya tulisan bahasa arab seperti yang ada sekarang ini?
Tau dari mana klo kata اقْرَأْ artinya 'bacalah', bagaimana dengan kata ini اقْرَؤُوا sebagaimana dalam QS 69:19, apakah artinya 'bacalah juga'  Kenapa disatu sisi golongan (yang katanya) qur'aniyyin ini memiliki terjemahan yang sama dengan Depag dan disisi lain tidak sama ? Apa hanya sekedar asal beda hanya untuk menguatkan argumen demi kepentingan golongan semata ?  Tentang tulisan bahasa Arab, sejak jaman Rasulullah masih ada pun ada saja para shahabat Nabi saw yang menulis wahyu yang dibacakan oleh Nabi saw kedalam ar-Riqa' (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-'Usbu (pelepah kurma). Tentang hal ini dapat dilihat pada riwayat yang disampaikan oleh imam Hakim yang sanadnya sampai kepada Anas : "Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis bacaan (Al-Qur’an) pada kulit binatang" Para penulis al Qur'an tsb beberapa diantaranya adalah : Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Salin bin Ma’qal, dll. Namun kesemua tulisan tsb masih dalam Arab gundul, belum gondrong seperti yang sekarang ini kita terima. Penempatan tanda baca pada teks Arab gundul tsb diprakarsai oleh khalifah Utsman bin Affan tahun 25H, dan para penyusunnya yaitu seperti Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris, dll. Tujuan penulisan tanda baca tsb untuk memudahkan masyarakat non Arab ('ajam) agar bisa mengucapkan 'bacaan' (qur'anan) tsb sesuai dengan dialek bangsa Arab utamanya suku Quraisy. Jadi teks al Qur'an yang sekarang ada tetap sama dari sejak jaman nabi saw sampai dengan sekarang, yang beda cuman dulu gundul sekarang gondrong  CMIIW ...
1972
« pada: 07 Desember 2006, 12:52:49 »
Kok gak dijawab seh  Kalau anda sendiri gak bisa menterjemahkan kata 'azwajun muthohharun' tsb maka gak ada gunanya anda menyanggah pendapat akhi al Jauzaa
1973
« pada: 07 Desember 2006, 12:17:35 »
gini Pak Ibnu Sabil...
Kalau Nabi Muhammad itu kita katakan tidak bisa baca tulis... bukankah Nabi Muhammad ketika menikah dg khadijah menjadi seorang pedagang yg sukses... bahkan Nabi itu berdagang antar negara (kalau gak salah nih).... nah mungkinkah seorang pedagang bisa sukses (apalagi berdagangnya dalam partai besar dan antar negara lagi) dilakukan orang yg tidak bisa baca tulis?
Klo kamu bertanya tentang 'kemungkinan' artinya anda menerapkan teori kemungkinan dan jawabannya adalah MUNGKIN. Kenapa demikian ? Karena Indonesia pun memiliki sejarah yang sama, dimana ketika jaman pendudukan Belanda banyak yang tidak bisa baca tulis tetapi bisa sukses dalam berusaha, dan ini sangat mungkin sekali. Keberhasilan perniagaan tidak ditentukan oleh pandai tidaknya seseorang baca tulis. AYat ke 16 itu bukan dari quran terjemahan saya tapi dari quran terjemahan depag,
Karena itu gue bilang sbb : Kenapa asal copy paste dari sana-sini bang Farabi ?
Gue kuatir abang tidak menguasi bahasa Arab dan hanya bermodalkan nekat doang dengan copy-paste secara sembarangan sebagaimana kaum inkarul hadits lainnya
 @ ibnu sabil: Untuk ayat 75:17 dan ayat 75:18 bukan saya tidak konsisten. Tapi sengaja saya tulis demikian. Anda berkata seperti itu karena anda tidak pernah membaca alquran terjemahan yang saya miliki seluruhnya. Diayat lain saya menuliskan quran disertai tanda kurung yang memberitahukan bahwa quran berarti bacaan.
Lihat yang gue kasih merah, Itu adalah upaya untuk menggiring opini kearah pemahaman yang elo inginkan. Dengan elo menulis terjemahan model gini : 75:17. Sesungguhnya atas kami mengumpulkannya dan membacakannya. 75:18. Maka apabila kami telah membacakannya maka ikutilah quraannya.
Maka elo berharap bahwa QS 75:18 memang menunjukkan bahwa Nabi saw mengikuti suatu teks yang tertulis dalam al Qur'an.  Tapi dengan menterjemahkan kata قُرْآنَهُ pada QS 75:18 sama dengan QS 75:17, maka yang terlihat adalah bahwa Nabi saw mengukuti 'qiraat' saja tanpa perlu melihat suatu teks. Artinya QS 75:18 justru menunjukkan bahwa Nabi saw menghapal al Qur'an yang diterimanya dan bukan membaca suatu teks.  Masalah kata ganti dia, nanti kalau saya ada waktu akan saya jawab. Saya memang tidak bisa bahasa arab, tapi sumber terjemahan alquran kata per kata yang saya miliki sangat valid.
Sama sekali tidak valid, karena dengan abang menulis kata ganti 'dia' pada terjemahan QS 2:151 seperti pada kata يَتْلُو , يُزَكِّيكُمْ, يُعَلِّمُكُمُ, justru menunjukkan ketidaktahuan abang dalam bahasa Arab
1974
« pada: 05 Desember 2006, 12:20:03 »
Pertama berdasarkan ayat ini kita bisa menyimpulkan muhammad tidak bisa membaca.
29:48. Dan tidak ada kamu, kamu membaca dari sebelumnya dari suatu kitab dan tidak kamu menulisnya dengan tangan kananmu. Jika demikian tentu ragu-ragulah orang-orang yang membatalkan.
Sorry gue komentari sedikit terjemahan elo ini bang, Kalo ngeliat model terjemahan gini, ini adalah model terjemahan dari qur'aniyyin (inkarul hadits). Mereka menterjemahkan kata perkata, hal ini sebenarnya tidak salah namun mustinya terjemahan tsb disempurnakan dulu agar sesuai dengan kaidah dalam bahasa Indonesia. وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذاً لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَPada kalimat وَمَا كُنتَ تَتْلُو disitu ada 2 kata ganti yang diterjemahkan bebas yaitu 'dan tidak ada kamu' ( وَمَا كُنتَ ) 'kamu membaca' ( تَتْلُو). Maka untuk menterjemahkan kalimat tsb menjadi sempurna sesuai maksudnya harus nya diterjemahan menjadi 'dan tidak ada kamu membaca' ( وَمَا كُنتَ تَتْلُو) dengan membuang salah kelebihan kata ganti tsb hanya menjadi 1 kata ganti saja.  Ayat diatas merupakan sanggahan dari Allah SWT sendiri ketika ada tuduhan bahwa Nabi saw menulis al Qur'an dengan tangannya sendiri sekaligus menghibur Nabi saw bahwa ia (Nabi saw) tidak pernah menulis dan membaca suatu kitab/buku pun sebelumnya. Namun ayat diatas bagi sebagian qur'aniyyin lainnya dijadikan bahan untuk ber-argumen bahwa tidak pernah menulis dan membaca tidak menunjukkan secara langsung bahwa Nabi saw buta huruf kan  Selanjutnya QS 75:17-19, QS 75:16, dan QS 2:151 tidak menyiratkan sama sekali bahwa Nabi saw pandai membaca suatu teks. Ayat tsb hanya memberi indikasi kepada kita bahwa Nabi saw menghapal ayat-ayat yang dibacakan kepadanya. Kesalahan dari penerjemahan yang tanggung dari rekan Farabi itu seperti dalam kutipan berikut : 75:17. Sesungguhnya atas kami mengumpulkannya dan membacakannya. 75:18. Maka apabila kami telah membacakannya maka ikutilah quraannya. 75:19. Kemudian sesungguhnya atas kami penjelasannya.
Perhatikan yang gue kasih warna merah). Teks asli dari ayat tsb adalah sbb : إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُفَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُKalimat قُرْآنَهُ di QS 75:17 dan QS 75:18 itu sama persis model penulisannya. Dan mustinya diterjemahkan secara konsisten menjadi ' membacakannya' Maka mustinya QS 75:18 diterjemahkan menjadi : Maka apabila kami telah membacakannya maka ikutilah membacakannya  Kemudian terjemahan ayat QS 75:16 ini : لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِditerjemahkan bang Farabi menjadi : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
Padahal jika kamu konsisten dengan terjemahan kata perkata maka seharusnya diterjemahkan menjadi : 'Janganlah kamu menggerakkan dengannya dengan lidahmu karena kamu bersegera dengannya' ( لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ) Sama dengan QS 2:151, rekan Farabi ini tidak konsisten dengan pola terjemahan kata per kata nya  2:151.Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rosul diantara kamu, dia membacakan kepada kamu ayat-ayat kami dan dia mensucikan kamu, dan dia mengajarkan kamu alKitab dan Hikmah, dan dia mengajarkan kamu apa yang belum adalah kamu, kamu ketahui.
Teks aslinya : كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَCoba anda tunjukkan kepada gue kata ganti orang ' dia' dalam teks Arab tsb. Kenapa asal copy paste dari sana-sini bang Farabi ?  Gue kuatir abang tidak menguasi bahasa Arab dan hanya bermodalkan nekat doang dengan copy-paste secara sembarangan sebagaimana kaum inkarul hadits lainnya  Mestinya, kaum qur'aniyyin (inkarul hadits) lebih menguasai bahasa Arab karena menjadikan teks al Qur'an sebagai satu-satunya sumber hukum untuk berhujjah. Tapi ingat, jangan cuman modal terjemahan orang lain saja tanpa kamu bisa membedakan mana terjemahan yang benar dan salah. Itu namanya mengikuti sesuatu tanpa ilmu
1975
« pada: 04 Desember 2006, 19:44:22 »
... Yang aneh lagi kalau anda mengarikan azwajun muthohharun dengan perawan yang suci. Memangnya sorga itu untuk pecinta sex bang, ngaca dong ngaca. ...
Menurut kamu azwajun muthohharun itu artinya apa
1976
« pada: 02 Desember 2006, 14:26:45 »
to Ibnu Sabil:
Saran yg baik saya terima, hingga saat ini saya masih terus buka berulang-ulang pelajaran bhs Arab.
Pakai rujukan kamus bahasa Arab, yang cukup bagus dan ringkas adalah : Kamus Umum Arab - Indonesia, penerbit TERBIT TERANG Surabaya. Yang lengkap karangan A.W. Munawwir itu mencakup bahasa Arab klasik dan kontemporer. Barangkali bisa menambah wawasan Anda, berikut saya sampaikan rangkuman berbagai arti dari kata yang akarnya dari huruf Sad-Lam-Waw di Lane Lexicon, yaitu: prayer, supplication, petition, oration, eulogy, benediction, commendation, blessing, honour, magnifiy, bring forth, follow closely, walk/ follow behind closely, to remain attached.
In a horse race when the second horse follows the first one so closely that its head always overlaps the first horse’s body that horse is called AL-MUSSALLI (i.e. the one who follows closely / remains attached). Central portion of the back, portion from where the tail of an animal comes out, the rump.
Referensi di sini dan di sini
Gue sa'at ini masih percaya dengan kamus yang ada sekarang dan bukan karena pendapat orang lain yang langsung dikutip tanpa pernah tahu tata bahasa Arab itu sendiri. Contoh tadi yang lucu tentang mushalli, gue kira jika elo jeli maka kata mushalli itu seperti yang gue bilang adalah bentuk 'mashdar mim' dari shalli, sama seperti mu'min merupakan mashdar mim dari tu'min, atau muslim dari aslam, musyirik dari syirik, dll. Maka sebelum mengutip pelajari dulu tata bahasa Arab say  Bagi orang lain yang awam bahasa, apa yang kamu kutip tsb seolah-olah ilmiah banget (karena tidak tahu benar-salahnya), tetapi bagi yang tahu bahasa seperti dhyba, al-Jauzaa dan lainnya lo diketawain abis-abisan karena itu kelihatan banget ke-jahil-an elo dalam segi bahasa.  Untuk contoh 'mushalli' tsb, jika kita kembalikan kepada kata kerja dasarnya maka akan kita dapatkan kata 'shalla' ( صَلّىَ), artinya berdo'a / sembahyang. الصَّلاةَ merupakan bentuk muannats dari صَلّىَ, jamak muannats nya adalah الصََّلَوَاةَJadi 'mushalli' ya artinya orang yang shalat (berdo'a / sembahyang) dan bukan kuda yang lagi balapan sampe operlaping segala  Jangan terkecoh dengan sesuatu yang berkesan ilmiah dan berbahasa Inggris, karena yang seperti itu kadang-kadang tidak ilmiah samasekali.  Selain itu tolong dibuang kalimat 'arab klasik' tsb jika anda sendiri gak tau bagaimana model bahasa 'arab kalsik' tsb. Jika anda bisa menterjemahkan hadits, maka anda bisa berkata 'ge udah tau arab klasik'  Orang Arab Baduy itu mengerti ucapan Nabi saw dan para shahabat, artinya gak ada bedanya antara bahasa yang tertuang dalam hadits dengan bahasa yang dipakai 'arab baduy. Atau jangan-jangan kamu mikirnya kalau yang berbau baduy itu kayak masyarakat Badui di Banten ? Gue ngerti kok bahasa badui banten  Jadi masalah mana yang klasik atau yang enggak hanya bisa diketahui jika anda menguasai perbendaharaan kata dari dulu sampai sekarang sehingga bisa membendakan mana kata-kata tambahan dalam bahasa tsb yang seelumnya tidak ada untuk mengungkapkan suatu ekspresi. Dah ah, gue kasih kembali bola kepada dhyba dan al Jauzaa karena gue juga masih dalam tahap belajar takut salah kata
1977
« pada: 02 Desember 2006, 13:37:36 »
Sekedar menambahkan saja,
Lafadz diatas pernah diucapkan oleh 'Aisyah dengan lafadz sbb :
At-tahiyyatu, ath-thayyibaatu, ash-shalawaatu, as-salaamu 'ala an-nabiyyi ... (selanjutnya seperti tsyahhud Ibnu Mas'ud) (HR. Ibnu Abi Syaibah, Siraj, Mukhallas, Baihaqi - lafadz hadits tasyahhud diatas ada pada hadits Baihaqi)
Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Pada saat nabi saw masih hidup para sahabat mengucapkan assalamu'alaika ayyuhan nabiyyu, tetapi setelah beliua wafat mereka meninggalkan kata ganti 'ka' sehinga menjadi assalamu'alan nabiyyi"
Imam Subuki dalam kitab Syarhul Minhaj setelah memaparkan riwayat dari Abu 'Awanah menyatakan : "Jika ucapan itu benar dari para sahabat, hal itu menunjukkan bahwa kata ganti 'ka' ('alaika) tidak wajib diucapkan karena cukup dengan mengucapkan assalamu'alan nabiyyi"
1978
« pada: 02 Desember 2006, 13:18:32 »
ﺪﻘﻌﻟﺍ ﻪﺑ ﻞﺤﻨﺗ seperti halnya ابصر به وأسمع (Alkahfi) ahli nahwu menyebutnya fiil ta'ajub yaitu kata kerja yang menunjukan sifat kebesaran Allah. silahkan anda tanya kepada ahlinya ya akhi.. Allahu a'lam
Yang disebut fi'il ta'ajub itu kata أَبْصِرْ dan أَسْمِعْ kan ?  kata هِ dalam kalimat بِهِ emang bener sih kata ganti orang ketika tunggal, kadang diartikan 'nya' atau kadang 'dia'. Ah gak juga akh. Malah itu mengandung bid'ah dan kesyirikan. Ini adalah kutipan dari tulisan ana yang telah lalu
Iya kalau kita mengaitkannya dengan ibadah dan juga jika memandang artinya secara zhahir. Allahumma shalli shalaatan kaamilatan wa sallim, salaaman taaman 'ala sayyidina Muhammad, aladzi tanhallu bihi al'uqadu wa tanfariju bihi al kurabu wa tuqdha bihi alhawa'iju wa tunaalu ihi alrragha'ibu wa husna alkhawatimi wa yustasqa alghamamu bi wajhihi alkariim, wa 'ala alihi wa shahbihi fi kulli lamhatin wa nafasatin bi 'adadi kulli ma'luumin laka.terjemahan anda : “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan shahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui “.
Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Qur’an menyeru, dan yang dengannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah ta’ala semata yang kuasa mengurai segala ikatan ...
Itu yang dibold jika mengartikan secara global bahwa hanya dengan rasullah lah semua kesempitan, kesusahan, bahkan hujan turun dengan kemuliaan wajahnya, maka ini emang syirik yang nyata. Tetapi gue menangkapnya secara minor saja, bahwa kita memberikan shalawat (salam penghargaan / salute) kepada Nabi saw karena sejak kedatangannya kita bisa terlepas dari segala ikatan-ikatan, kesempitan, kesusahan dan suatu akhir yang baik dengan syari'at islam yang dibawanya. Kecuali untuk kata yustasqa alghamamu bi wajhihi alkariim (serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia) ini gue emang gak setuju karena mengandung syirik  Tapi gue setuju dengan anda akhi Al-Jauzaa, shalawat ini memang sebaiknya ditinggalkan saja karena mengandung syubhat dan kesyirikan
1979
« pada: 02 Desember 2006, 10:33:53 »
Yangga: Maksudnya bagaimana? Yang saya percaya nabi muhammad itu dulunya tidak bisa baca. Kemudian diajarkan membaca oleh jibril. Kemudian nabi muhammad membacakan ayat-ayat Allah kepada masyarakan arab.
Mana buktinya bahwa nabi saw dulunya gak bisa baca, kemudian bisa membaca ?
1980
« pada: 02 Desember 2006, 10:32:01 »
Maksud dari ayat ini apa dong kalau memang muhammad seumur hidupnya tidak pernah bisa baca tulis?
2:151.Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rosul diantara kamu, dia membacakan kepada kamu ayat-ayat kami dan dia mensucikan kamu, dan dia mengajarkan kamu alKitab dan Hikmah, dan dia mengajarkan kamu apa yang belum adalah kamu, kamu ketahui.
... كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَاMungkin maksudnya, membaca itu tidak harus melihat tulisan. Seperti kita kalo sholat, baca Fatihah kan? Mungkin begitu.
Ya kira-kira seperti itu, Jadi 'membaca' ( تَلاَّ) disini berarti mengucapkan suatu lafadz sesuai dengan aslinya tidak ditambah dan dikurangi baik ada teks yang dibaca secara zhahir maupun ghaib. Jika ayat diatas dipahami bahwa nabi saw membaca suatu kitab (buku), maka artinya ada alkitab yang utuh diturunkan kepada nabi saw pada waktu itu. Disini perlu dipertanyakan, mana barang bukti (ayat/alkitab) yang dibaca nabi saw tsb ?  Apa kamu kira bangsa Arab itu buta huruf dan baru melek huruf sampai dengan Muhammad dikasih wahyu,
Tidak semua bangsa Arab buta huruf dan tidak semua juga pandai baca-tulis. Pada masa Arab jahiliyah, buta huruf adalah hal yang biasa dan umum. Tetapi pandai baca tulis adalah hal luar biasa kala itu. Walaupun ada yang pandai baca-tulis, namun budaya tulisan tidak begitu populer dikalangan suku Quraisy. Adapun tentang sastra Arab yang dituangkan dalam syair, tidak pernah disampaikan secara tulisan tetapi lebih banyak disampaikan secara lisan dengan hapalan dan bukan tulisan. Maka disini kita bisa melihat bahwa proses penghapalan wahyu al Qur'an disampaikan Nabi saw dengan cara hapalan qiraat dan bukan tulisan. Para shahabat pun lebih banyak menghapal ayat-ayat al Qur'an dibandingkan dengan mencatat. Jadi, apakah begitu penting untuk mencari status nabi saw apakah pandai baca-tulis atau tidak ? Yang jelas, secara akal sangatlah tidak mungkin orang yang pandai baca-tulis tetapi tidak pernah menulis 1 kata pun seumur hidupnya. Bahkan tidak ada secuil hasil tulisan Nabi saw yang ditemukan oleh para istri Nabi saw.
Halaman: 1 ... 130 131 [132] 133
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|