22 Mei 2013, 19:49:40
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Board khusus buat pasutri "Board Pasutri"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Hai, manusia! Taubatlah kamu semua kepada Allah. Sesungguhnya aku taubat kepada-Nya 100 kali setiap hari." (HR Muslim)

Perlihatkan Tulisan

* Pesan | Topik | Lampiran

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.

Pesan - innasoedarman

Halaman: [1] 2 3 4
1
Humor dan Kreatifitasnya / Re:TAKUT KARENA TIDAK MAU MENCOBA
« pada: 17 Desember 2009, 20:58:07 »
pisss deh ah.... :p

2
Scripting dan Programing / Re:Diary programmer
« pada: 17 Desember 2009, 20:52:38 »
oooh gitu..... pantas..... :)

3
Scripting dan Programing / Re:java vs Javascript
« pada: 17 Desember 2009, 20:45:56 »
wew..... gitu aja ditanya...... liat tulisan beda ya...beda dunk....  :p

4
Artikel / Mengenal Rasulullah SAW
« pada: 17 Desember 2009, 20:16:57 »
Mengenal Rasulullah SAW


      Banyak dari kita kaum muslimin  yang kurang mengenal siapa sebenarnya sosok seorang yang bernama Muhammad bin Abdullah. Yang mana seseorang tidak diterima keimanannya oleh Allah SWT, kecuali ia harus bersaksi atas kerasulan beliau. Allah SWT banyak menegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa beliau adalah utusanNya.
      Masyarakat Arab yang tak kenal rasul sebelumnya menjadi bingung dengan kemunculan beliau yang menyatakan dirinya sebagai utusan Allah SWt, Tuhan semesta alam. Sehingga puncaknya, seorang yang bernama Abu Umamah RA bertanya kepada beliau, sebagai berikut;  
“Wahai utusan Allah, apa dan bagaimana awal permulaanmu ? Nabipun menjawab : Aku adalah do’a kakekku Ibrahim as, kabar gembira yang dibawa  Isa as, serta mimpi ibuku yang keluar dari jasadnya, cahaya yang menerangi gedung-gedung di Syam”
(HR. Ahmad)   

Mari kita simak dan uraikan maksud dari hadist tersebut di atas, satu persatu.

1.   Do’a Nabi Ibrahim as
       Ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SWT untuk membangun Ka’bah. Setelah tugasnya selesai, nabi Ibrahimpun berdo’a  memohon kepada Allah SWT.  Dan diantara beliau adalah meminta kepada Allah SWT untuk berkenan mengutus seorang rasul di negeri Mekkah, yang rasul tersebut kelak akan membacakan ayat-ayat kebesaran Allah SWT serta mengajarkan kitab dan hikmah (Al-Qur’an dan Al-Hadist). Adapun do’a nabi Ibrahim as tersebut diatas, diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut;
“ Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu  dan mengajarkan mereka Alkitab dan hikmah” .
(QS. Al-Baqarah : 129 )

Dari ayat diatas, telah jelas bahwa nabi yang dimaksud ialah Nabi Muhammad SAW.

2.   Kabar gembira yang dibawa Nabi
       Isa as.
      Ketika Nabi Isa as berdakwah dihadapan kaumnya bani israil, beliau telah berkata sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, sebagai berikut;
“Dan ingatlah, ketika Isa putra Maryam berkata,”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul setelahku yang bernama Ahmad (Muhammad)”
QS. As-Shaf : 6 )
Dari ayat tersebut diatas, dapat diambil maknanya bahwa nabi yang dimaksud  adalah Nabi Muhammad SAW.

3.   Mimpi Ibunda Siti Aminah
      Ketika Siti Aminah sedang mengandung, telah tersebar cerita yang mengatakan bahwa akan lahir seorang Rasul dari tanah Mekkah.   Dan Nampak dari nya cahaya mimpi itu suatu pertanda bahwa akan kokohnya islah di Negeri Syam ( sekarang sama dengan Negara Syria, Yordania, Palestina dan Lebanon). Diakhir jaman dinegeri Syam adalah benteng terakhir agama Islam.
Dalam Hadits, Rasulullah SAW bersabda ;
“Apabila penduduk Syam sudah rusak, maka tiada kebaikan lagi bagimu”
(HR. Tirmidzi)
Nabi Isa AS kelak akan turun di negeri Syam, tepatnya di menara putih timur Damaskus, untuk membenarkan dan membuktikan hal tersebut..
      Tepat pada tanggal 12 Rabi’ul awal, cahaya itupun lahir di dunia, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 15, sebagai berikut;
“Sungguh telah datang padamu cahaya dan kitab yang nyata dari Allah”
Dari ayat  tersebut, kita dapat menyimpul- kan bahwa yang dimaksud dengan cahaya itu adalah tidak lain merupakan Rasulullah SAW dan kitab tersebut adalah Al-Qur’anul Karim.

Wallahu'alam  bishawab......


(IMS)  :)

5
Artikel / Ujian dan Hakekatnya Dalam Kehidupan
« pada: 17 Desember 2009, 20:10:24 »
Ujian dan Hakekatnya Dalam Kehidupan



    Ujian merupakan sebuah takdir yang harus dijalankan oleh manusia dalam kehidupannya. Karena manusia diciptakan untuk diuji. Manusia berada dalam kekuasaan penciptanya, yang tidak lain adalah sang Maha Kuasa, Allah SWT.
Allah menciptakan manusia, lalu setelah itu Dia akan menguji manusia ujian demi ujian, cobaan demi cobaan, sebagaimana firmaNya dalam Al-Qur’an, sebagai berikut;
“Maha suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu,
siapa  diantara kamu yang lebih baik amalnya”
(QS. Al-Mulk :1-2)
           Hidup memiliki ruang waktu yang terbagi-bagi.yang bisa disebut jaman. Dan jaman melahirkan tradisi karena manusia adalah mahluk sosial yang mau tak mau pasti berhubungan dengan yang lainnya.    Hal ini akan pula melahirkan begitu banyak ujian, cobaan dan  juga fitnah. Maka tak ada hidup yang tanpa ujian.  Dalam sudut pandang Islam, ujian dikatakan merupakan keniscayaan ketuhanan, yang berarti bahwa diantara kekuasaan Allah adalah kehendakNya untuk menguji manusia dalam berbagai bentuk.
Adapun bentuk ujian tersebut tergantung pada batas kemampuan para hambaNya, baik itu berupa kebaikan dan keburukan. Contoh dari ujian yang berupa keburukan,. antara lain diberi kemiskinan dalam hal harta, ditinggal mati oleh orang yang dicintainya, sakit, kelaparan, gagal dalam meraih sesuatu, dan lain sebagainya. Sedangkan ujian yang berupa kebaikan, antara lain kekayaan yang berlimpah, kenaikan pangkat atau jabatan  dan lain sebagainya. Dan dari semua hal itu bertujuan untuk mencari tahu tentang sejauh mana keimanan para hambaNya -

terhadap keberadaan sang Rabb, Allah SWT. Dari dua bentuk ujian tersebut, banyak sekali manusia yang tak kuat dan kokoh dalam ujian yang berupa kebaikan karena lebih bersifat mencengkram.
Maka tak heran, begitu banyak manusia yang tegar dalam menghadapi ujian yang menyakitkan dan menyedihkan, tetapi alangkah sedikitnya yang tetap kokoh keimanannya didalam menghadapi ujian pada hal-hal yang baik dan menyenangkan.
Tetapi yang tak kalah penting untuk disadari adalah relevansi sebuah ujian dengan kedekatan hari kiamat. Karena setiap jaman mempunyai cobaan dan ujiannya sendiri. Tentang sejauh mana makna ujian itu bagi sekiannya jaman dan saat kiamat akan datang. Maka sangat mengertilah kita, mengapa Rasulullah SAW sering sekali mewanti-wanti umatnya akan datangnya fitnah, ujian dan cobaan dikemudian hari sebab tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah jaman dimana ada banyak sekali fitnah dan godaannya.
Rasulullah SAW, bersabda;     “Bila kiamat telah dekat, akan terjadi guncangan fitnah seperti malam yang sangat kelam. Seseorang pada pagi harinya beriman, namun pada sore harinya menjadi kafir. Atau pada sore hari ia beriman, pada pagi harinya ia kafir. Begitu banyak kaum yang menjual agamanya dengan sekeping dunia. Pada pagi hari mereka masih mengharamkan darah saudaranya sesama Muslim, hartanya, juga kehormatannya. Tetapi pada sore harinya mereka menghalalkan darah saudaranya sesama Muslim, hartanya, juga kehormatannya.”.
 (HR. Tirmidzi)     
      Kehidupan dengan segala ujian merupakan beban yang ditanggung manusia sebab ia sudah diberi amanah semenjak diciptakan. Amanah yang memiliki cobaan untuk diperjuangkan dengan penuh tanggung jawab dan kesabaran. Dan merupakan bukti dari kata-kata keimanannya terhadap sang Maha Kuasa, sejauh mana ia dapat mempertahankan keimanannya selama ia diuji selama hidupnya di dunia ini untuk mendapatkan SyurgaNya.

Bertawakallah kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa nya.
(QS. Ath-Thalaq : 3)

Rasulullah bersabda,” Ketahuilah bahwa kemenangan akan datang bersama kesabaran, jalan keluar  datang bersama kesulitan, dan kemudahan itu ada bersama kesulitan”.
(Al-Hadits)

Wallahu'alam  bishawab.......

(Saduran dari Majalah tARBAWI, klo tidak salah ....lupa soale...afwan...... :))
(IMS)

6
David... :p makanya kalian berdua rajin2lah belajar......otodidak kalo bisa   :)

7
Kajian Quran dan Hadits / Hadist ttg wanita
« pada: 05 Desember 2009, 17:19:50 »
mo nanya dunk.... ada yang tau ttg hadist yang mengatakan bahwa wanita sudah fitrahnya menyukai hal - hal yang serba wah?

8
Artikel / Re: Perjanjian kita pada sang Rabb......
« pada: 05 Desember 2009, 17:02:17 »
Na'am :)... Moga kta bisa mepertahankannya sampai akhir zaman......
Amiiiiiinn.......

9
Seni dan Budaya Islam / Re:Brangkas Cerpen MyQers
« pada: 05 Desember 2009, 16:53:04 »
Sahabat…
Oleh : InnaSoedarman

Langit tampak mulai menguning dari arah kejauhan. Menandakan hari sudah semakin senja. Angin kembali berhembus kencang. Mampu melambai-lambaikan ujung jilbab biru muda laut seorang gadis yang tengah terduduk menyendiri dibawah sebuah pohon yang rindang. Juga mampu menggugurkan dedaunan yang agak menguning dari tangkainya. Beberapa daun itu menerpa wajah gadis yang termangu dibawah pohon akasia yang rindang itu.
Rima membiarkan dedaunan itu  menyentuh wajahnya sebelum jatuh diatas rerumputan hijau. Matanya masih menatap taman kecil dengan kosong. Keindahan bunga mawar yang merekah tak lagi terasa dapat menghentikan kegundahan hatinya. Padahal dulu keindahan bunga-bunga ditaman dan senandung melodi udara menggesek dedaunan selalu bisa hatinya kembali tenang sekaligus menyejukkan jiwanya. Entah kenapa kini tidak lagi.  Hatinya masih saja gelisah hingga detik ini. Sekaligus sedih. Memikirkan sahabat karibnya yang dilanda frustasi. Yang membuatnya berdebat hebat dengan sahabatnya itu, malah kini membuat hatinya menjadi bimbang.
Kebimbangan itu muncul akibat perseteruan hebat antara hati dan pikirannya sendiri. Tentang kasih sayang, cinta, terlebih lagi tentang keadilan Allah, sang Maha Kuasa. Perdebatan yang sangat mengusik hati nuraninya, mengusik keyakinannya yang selama ini ia yakini benar. Bahwa Allah, sang Khalik pasti akan mendengar dan mengabulkan doa para hamba-Nya yang berusaha serta pasti akan memberikan yang terbaik kepada para Hamba-Nya yang hanya memohon kepada-Nya. Ia menarik nafas panjang. Ia tak dapat lagi menghalau ingatan perdebatan itu.
“Ima…, kamu udah tau bagaimana hidupku selama ini,” ucap Kiki, dengan lirih. Seakan berusaha untuk tidak menangis lagi. “Bahkan melihatnya sendiri, aku kecewa….aku marah….benar-benar marah sama Allah yang tidak mengabulkan doaku selama ini…..”
“Kamu jangan seperti itu, Ki….,” potongnya, pelan tapi masih dengan nada tegas. Karena sudah berulangkali Kiki berkata seperti itu. “Itu karena mungkin ada sesuatu yang kurang atau salah dalam doamu dan tidak dibarengi dengan ibadah yang….”
“Im….,” potong Kiki, dengan nada tinggi.”Lihat orang yang jauh lebih kurang ibadahnya dari aku. Bahkan yang atheis. Mereka hidup bahagia. Bahkan Allah memberikan kesenangan lebih pada mereka….”
“Jangan pikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri. Diri kita masing-masing!” ucapnya, mulai agak kesal dengan sifat keras kepala sahabatnya ini. Tetapi dalam hatinya ia segera berastaghfirullah.
“Oke, lalu bagaimana dengan doaku yang selalu meminta perlindungan dari Allah dari cinta yang menyakiti? Kau tau persis, Im….kisah ini udah dimulai dari nenek buyut, nenek, ibu, kakak bahkan sampai diriku sendiri yang harus mengalaminya….sakit sekali hati ini, Ima….aku tidak kuat lagi hidup, Ima…tidakkah kau mengerti?”
Kiki menangis lagi.
Rima perlahan memeluk Kiki erat dan ikut menangis. Hatinya turut merasakan sakit. Karena ia mengetahui persis tentang keluarga Kiki. Terlebih peristiwa yang baru juga ia alami sendiri. Semua tentang pengkhianatan. Tentang cinta yang telah hilang begitu saja tanpa membekas dari seorang yang  mereka rindukan, tempat berlabuhnya harapan dan cinta mereka ketika bersemi.
Tapi ia jauh lebih baik perasaannya karena ia tak berinteraksi langsung dengan orang yang dia harapkan akan menjadi calon suaminya kelak. Hanya sebatas dua kali pertemuan yang kemudian dilanjutkan komunikasi lewat chatting, sms atau telepon karena mereka harus dipisahkan oleh jarak dan waktu karena tugas yang diembannya. 
Tapi akhirnya kekecewaan itu datang, sehingga ia berhenti berharap pada lelaki itu. Lelaki yang dibelanya dari pikiran Kiki yang mengatakan bahwa semua lelaki sama. Selalu dapat dengan mudah melupakan ucapan manis, terlebih janjinya sendiri dihadapan perempuan. Terlebih perempuan yang selalu mengharapkannya. Ia sampai tak mampu berkata apapun saat Kiki menanyakan hubungannya dengan pria harapannya. Diam membisu dengan bibir tergetar menahan tangis.
“Im, sampai kapan aku harus begini?” lirih Kiki, disela-sela tangisnya. Membuatnya tersadar dari lamunannya. ”Aku tak kuat lagi…”.
“Sabar, Ki….”
“Sampai kapan aku sesabar ini, Im….sampai mati, gitu!” ucap Kiki, melepaskan pelukannya. Menatapnya dengan wajah penuh kecewa. “Aku tak kuat, Im…kenapa Allah tidak bisa melindungi diriku dari perasaan sakit dan kecewa ini, Im…. padahal Dia  Maha  Tahu  segalanya. Perasaanku, Im…”
“Hanya dengan shalat dan sabar yang bisa membantumu saat ini”
“Im, tidakkah kau mengerti? Aku sudah tak yakin ama Allah….buat apa aku shalat?”
“Astaghfirullah, Ki…jangan seperti itu….”
“Benar, Im? Buat apa? Allah tidak sayang lagi padaku sehingga selalu mengujiku dengan masalah yang sama, pada diriku, pada keluargaku…yang jelas ingin memberitahuku bahwa lelaki itu semua sama. Mudah menyakiti…”
“Tidak semuanya, Ki…”
“Tapi, Im….semua dilingkungan aku berada selalu memperlihatkan hal itu, jadi bagamana aku bisa tidak berpikir seperti itu? Sakit, Im…Sakit sekali….”
Kiki kembali menangis. 
Rima hanya diam membisu. Ia tak tahu lagi harus bicara apa lagi. Ia terbentur dengan wawasan agamanya yang minim juga pengalamannya sendiri. Sakit sekali memang. Hatinya begitu sedih dan kecewa melihat sahabatnya itu.
Rima menarik nafas untuk kesekian kalinya, berhenti sejenak dalam mengingat  obrolannya dengan Kiki dua hari yang lalu. Kembali memandang masjid diseberang jalan raya didepannya. Terdengar azan Ashar berkumandang. Membuatnya memaksakan tubuhnya berdiri walau agak enggan. Tidak. Ia tak boleh merasa enggan untuk shalat. Tak mau memberi contoh yang tidak baik buat sahabatnya, Kiki, terlebih terhadap bicaranya sendiri.
Ia perlahan berjalan ke arah masjid. Ia mendesah sepanjang perjalanan. Tiba-tiba ia merasa benci terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia begitu mudah bicara menasehati sahabatnya dengan segala perkataan bijak sementara ia sendiri belum mampu melakukan sesuai dengan ucapannya sendiri. Begitu mudah ia meminta sahabatnya untuk tak bersedih lagi terhadap masalahnya sementara ia sendiri tak bisa menghilangkan kesedihannya. Tentang masalah yang sama, ditambah dengan krisis kepercayaan diri yang kini datang menerornya.
Ya, ia tak bisa mengabaikan kekurangan yang ada pada fisiknya, yang menyebabkannya kembali dihina atau diremehkan oleh sebagian teman-temannya, lingkungannya sendiri. Ia memiliki tubuh yang tidak sempurna. Akibat kecelakaan yang menimpanya sewaktu berumur tujuh tahun. Yang membuat dirinya harus menerima tangan kanannya dengan tiga jari dan kaki yang terpincang-pincang kalau ia berjalan.
Ia menjerit histeris saat mengetahuinya pertama kali. Sampai ayahnya memeluknya erat sambil menangis. Menenangkannya. Membujuknya untuk dapat menerima kondisinya yang sekarang. Ia hanya bisa meratap kala itu. Butuh waktu yang cukup lama dalam menerima kondisinya kini. Bahkan sampai detik inipun ia masih sulit menerimanya. Ia terkadang mengutuki pengendara motor yang menabraknya sewaktu ia menyeberang. Mengutuki agar orang yang menabraknyapun mengalami hal yang sama, bahkan lebih. Walau si pengendara itu telah meminta maaf dan membantu biaya pengobatannya waktu itu. Perlahan ia menggeleng. Ia tak boleh seperti  ini. Tak boleh mendendam. Demi dirinya sendiri.
“Rima…,” panggil seseorang, mengejutkannya. Membuat buyar lamunannya.
Ia menoleh lalu berusaha tersenyum, ketika mengenali gadis hitam manis berjilbab coklat tua bermotif bunga yang memanggilnya. Mbak Fitri, kakak kelasnya yang hanya beda satu tingkat  di atasnya. Sekaligus teman sepengajian Rohis kampus mereka. Mereka terkadang berdiskusi tentang masalah-masalah mereka berdua.
“Kamu belum pulang?” tanya mbak Fitri ketika sudah berada disisinya. Mereka duduk  sambil membuka sepatu mereka.
“Nanti habis shalat, mba,” jawabnya, pelan tak bersemangat. Hanya menoleh sekilas, dalam menatap  mbak Fitri.  Tetapi ia merasa  mbak Fitri menatapnya  dengan wajah heran dan ingin tahu.
“Kamu sepertinya sedang sedih, Im…,” tebak mbak Fitri, pada akhirnya. “Masalah yang samakah?”. Mbak Fitri berusaha menangkap wajahnya yang menghindar.
Ia  memang ingin  menangis. Tetapi berusaha untuk ditahannya. Tapi sepertinya mbak Fitri sudah bisa membaca wajah sedihnya.
“Maaf, mba…lebih baik kita shalat dulu,” ucapnya, mengalihkan pembicaraan dan berusaha berdiri. Mbak Fitri membantunya sambil tersenyum, mengangguk.”Aku harus kuat…Ya, Rabb… kuatkan aku…,” gumamnya dalam hati, sambil melangkah mengikuti mbak Fitri dan beberapa mahasiswi menuju tempat wudhu, menyucikan diri untuk menghadap sang Khalik.
“Sekarang…apa kamu sudah tenang, Im ?” tanya mbak Fitri ketika mereka kembali terduduk di teras masjid. Mereka sudah selesai  shalat Ashar.
Ia terdiam dan hanya mengangguk samar.
“Im, segala sesuatu pasti ada jalan. Allah pasti memudahkan jika kita berdoa memohonnya,” lanjutnya, menatapnya penuh perhatian.
Ia tersenyum, miris.
“Mba, sudah begitu sering Ima berdoa. Tapi mba….”. Ia mendesah, tak meneruskan kalimatnya.
“Ya, Im…mba tahu….itu sulit. Tapi tak ada jalan lain selain menerimanya dengan ikhlas, Im… Hanya itu yang membuat kita kuat berusaha, Im….doa dan harapan”.
Mbak Fitri merangkulnya. Iapun tak kuat menahan air matanya lagi. Air matanya jatuh ke sudut bibirnya.
“Mba yakin kamu pasti bisa, Im…melewati semua ujian  ini,” lanjut mbak Fitri, berusaha menenangkannya.
Ia menghapus air mata dari wajahnya. Berusaha untuk bisa menguasai perasaannya.
“Mba, bagaimana mba seyakin  itu, padahal mba tak mengalami hal yang sama? Ima beda dengan mba. Ima tidak sepintar dan selincah mba, ditambah Ima cacat, mba…,” protesnya, berusaha untuk tidak menangis lagi.
“Allah menciptakan segala sesuatu dengan kelebihan dan kekurangannya. Ingat itu, Im…,”jawab mbak Fitri dengan tegas. “Mba punya kekurangan juga, Im…”
“Tapi bagi Ima, kekurangan mba tidak terlihat karena hanya berbentuk karakter atau sifat. Tidak seperti Ima, mba….Tidakkah mba mengerti hal itu?”
Terlihat  olehnya, mbak Fitri menarik nafas panjang  mendengar ucapannya.
“Im…tidakkah kau lihat orang-orang yang lebih kurang darimu?”
“Tapi mba, mereka berada dilingkungan mereka sendiri. Sedang Ima? Ima harus bergelut dilingkungan yang lebih sering membuat Ima merasa dikucilkan karena hanya Ima yang berbeda, mba…”
“Memang susah kalau bicara dengan  orang  yang berpikir menuruti daya pandangnya saja”
“Maksud mba?”.Suaranya mulai meninggi karena emosi. Merasa tidak terima  dengan ucapan mbak Fitri barusan.
“Kamu harus bisa melihat sisi lain. Berpandangan terbuka terhadap setiap ujian Allah. Jangan hanya mengandalkan pengalaman diri sendiri,  Im…..Mba tahu kamu sangat sedih. Tapi kamu harus melawannya. Ya, dengan  sisi lain  itu. Yang dapat kamu ambil hikmah dan pembelajaran kamu kedepannya. Kamu punya banyak kelebihan yang mba tidak miliki, makanya mba bisa bilang bahwa kamu pasti bisa melewati semua ini. Sabar dalam berusaha, berdoa  dan bertawakkal hanya pada Allah….”
“Tapi justru itu yang membuat Ima merasa lelah sendiri, mba….sibuk berusaha, berharap…tapi tanpa hasil….hanya kecewa yang Ima dapatkan”
“Itu karena kamu tidak sabar lagi, Ima…,” jawab mbak Fitri dengan suara lembut. “Tidak yakin lagi terhadap segala kebaikan  Allah untuk dirimu. Makanya…ada mba sebagai teman  kamu. Dan apakah kamu sadar kalau kamu itu cantik?”. Mbak Fitri tersenyum, menatapnya. 
Mau tak mau ia  tersenyum. Kemudian menyadari bahwa apa  yang dikatakan mbak Fitri memang benar adanya. Bila ia merasa lelah dalam berusaha, itu artinya dia memang tak sabar lagi dan tak yakin lagi terhadap kekuasaan Allah yang selama ini masih memberinya keluarga yang baik buat dirinya. Yang selalu menyayangi dan mendukungnya. Itulah satu sisi yang harus ia lihat  dari sisi-sisi lainnya yang dimaksud mbak Fitri. Dan hal ini harus ia sampaikan pula pada Kiki, sahabatnya yang sama-sama sedang bersedih. Walaupun itu sulit karena ia begitu mengenali karakter keras dari Kiki.
***

         Rima mendesah panjang ketika mendapatkan kiki menangis dalam terbaring. Ia  perlahan terduduk di  sisi  tubuh Kiki yang bertelungkup, yang  agak bergerak naik turun akibat tangis. Ia merengkuh pundak Kiki dengan perlahan. Hatinya begitu sedih  melihat keadaan sahabatnya.
“Ki, jangan seperti ini terus, dong…,” bujuknya, lirih di telinga kiri Kiki. “Sayangilah dirimu sendiri…jangan sia-siakan air matamu untuk cowok yang telah menyakitimu…”
“Ima,  tidakkah  kau mengerti juga?” sahut Kiki, dalam isak tangisnya menoleh menatapnya. “Aku mencintainya….Allah membiarkan hatiku mencintainya…itu sebabnya aku menangis, Ima…. Aku kecewa, Ima… karena doaku tak pernah didengar, apalagi dikabulkan…. Padahal dari awal aku sudah memohon pada Allah bahwa aku meminta perlindungan dari semua ini…tapi justru tidak. Malah membuatku semakin dekat dengan dia dan sekarang membuatku terluka kembali…aku tak kuat lagi, Im…”. Kiki kembali menangis.
Ia begitu bingung, harus memulai darimana untuk berbicara menghibur Kiki. Karena kalau urusan berdebat, Kiki terlalu keras dalam mempertahankan pandangannya sendiri. Kebanyakan ia  selalu mengalah duluan dan berhenti bicara. Karena baginya sulit untuk Kiki menerima pendapat yang terkadang tidak membutuhkan daya logika. Hanya keyakinan yang berasal dari hati. Tetapi bisa menimbulkan sebuah harapan yang membuat diri ini tidak terus bersedih lagi. Dapat melawan kesedihan itu sendiri sejalan dengan waktu.
“Ki…, aku mengerti kesedihanmu …tapi kamu jangan begini terus…  masih banyak yang harus kau pikirkan selain ini semua….”
“Jadi, dengan kata lain aku harus ngelupain dia, gitu?” potong Kiki, makin terlihat sedih dan kecewa. “Itulah yang tak bisa, Im…itu sebabnya aku marah dan kecewa sama Allah  yang membiarkan aku bertemu, membuatku makin dekat dan cinta sama  dia, disaat aku meminta perlindungan dari rasa itu dan terlebih dari rasa kecewa seperti ini”
“Kalau begitu…lakukan apa yang kamu bisa, Ki,”  sahutnya, agak tegas. Ia sudah merasa lelah dalam menghibur  sahabatnya ini. “Karena kamu yang tahu masalah dan solusinya, yang sesuai dengan pribadi dirimu. Dari awal  begitu, Ki. Kamu hanya butuh dukungan dalam setiap tindakanmu.  Tapi sekarang aku tidak setuju dengan tindakanmu kini, yang hanya bersedih saja tanpa berusaha keras melawannya. Apalagi jika kamu tidak yakin lagi  terhadap kekuasaan Allah yang aku yakin bisa  memberikan kebahagiaan yang tidak kau bayangkan sebelumnya. Karena ketentuan Allah terhadap para hamba-Nya, sulit kita nalar dalam lingkup pemikiran otak manusia. Sepintar apapun manusianya, tidak akan sanggup menjelajahi setiap detail maksud dari rencana dan ketentuan-Nya. Kecuali dengan mata hati. Yaitu ikhlas dan sabar terhadap qadha dan qadhar-Nya.  Itu yang aku minta dari Allah untukmu, Ki.  Ya, aku selalu mendoakanmu, Ki. Itu karena aku sayang kamu. Makanya, jangan membuatku sedih dan kecewa karena kau begini terus, Ki….”.
Ia mengakhiri kalimatnya yang cukup panjang. Ia tak menduga bibirnya bisa berkata seperti tadi. Lancar dan terdengar tegas. Kiki  masih tak bergerak dari posisi tidurnya. Ia berharap  Kiki  menyimak dan tak tersinggung terhadap perkataan dan nada suaranya. Ia merasa puas karena telah berhasil mengucapkannya  tanpa dipotong oleh Kiki.
Kediaman  yang cukup lama  terjadi pada mereka. Ia merasa tak betah. Lalu pergi  meninggalkan Kiki. Keluar dari kamar Kiki untuk mengobrol sejenak dengan ibu Dibyo, ibunya Kiki. Ia memang sudah  kenal dekat keluarga Kiki, terutama ibunya. Wanita yang sabar dan tegar baginya. Ia tersenyum dan menyapa ibu Dibyo  saat melihatnya sedang sibuk membereskan mainan cucunya yang berserakan di ruang tengah. Ia lekas membantunya sembari mengobrol. Ia sudah terbiasa membantu walau sedikit dalam membereskan kekacauan ruang  keluarga di rumah ibu Dibyo. Yang semua kekacauan itu lebih banyak disebabkan oleh ulah ketiga cucunya yang masih berusia dibawah lima tahun. Dan kini ketiga cucunya sedang lelap terbuai oleh mimpi indahnya di kamar.
“Rima, Kiki kenapa?” tanya ibu Dibyo, disela-sela obrolan mereka. Agak membuatnya terkejut dan  berhenti bergerak mengambil satu mainan mobil. “Sudah seminggu ini dia mengurung dikamarnya. Apa karena lelaki yang sering datang membantunya  selama  ini? Ibu jadi khawatir…”
Ia terdiam, menatap wajah wanita dihadapannya. Terlihat ikut sedih dalam  memikirkan Kiki.
“Ibu juga sering kali menasehati untuk mencari yang lain saja daripada lelaki itu. Tapi Kiki malah marah-marah sama ibu. Dibilangnya, ibu tidak ngertiin dia. Padahal ibu hanya khawatir…sayang ama dia….berharap dia dapat yang lebih baik dan bahagia…”
Ia begitu terharu, mendengarnya. Tapi berusaha untuk tidak menitikkan airmatanya. Sudah cukup hari ini ia menangis.  Ia menarik nafas panjang dan  berusaha membuat lengkung dibibirnya.
“Bu, Kiki memang  sedang  sedih,” jawabnya, pelan. “Kita berdua tidak dapat melakukan apapun selain membiarkannya sendirian untuk merenung. Karena Ima pikir, hanya dia yang bisa menyelesaikan masalahnya  sendiri.  Ima yakin, dia bisa melewati kesedihannya kok, bu. Jadi, ibu tak usah khawatir soal itu…”.
Ibu Dibyo mengangguk dan tersenyum, perlahan.
Mereka kembali meneruskan aktivitas dalam memasukkan mainan yang berserakan  ke dalam keranjang. Dalam hati Rima, ia tak tahu sampai kapan Kiki akan terus bersedih dan mendiamkan dirinya karena bicara terakhirnya  tadi. Ada perasaan takut kalau Kiki benar-benar tersinggung dan tak mau bicara dengannya  lagi. Takut dianggap teman yang tidak berpengertian bagi pribadi Kiki.
Ia menggeleng lemah. Ia tak boleh berpikir seperti itu. Harus berpikir positif. Menekankan pada hatinya bahwa dirinya sudah berusaha menjadi sahabat yang baik bagi Kiki. Tempat berbagi suka dan duka mereka. Dan ia juga harus berusaha menjalankan sendiri tentang apa yang ia telah bicarakan tadi. Berusaha untuk tidak bersedih lagi. Berusaha melihat sisi lain dari semua ujian Allah terhadap mereka.
“Rima, “ panggil ibu Dibyo, membuatnya  sedikit tersentak karena kaget. “Kamu sedang mikirin apa?” tanya ibu Dibyo, geli  menatapnya.
“Nggak mikirin apa-apa kok, bu,” sahutnya, ngenyir. Dilihatnya pekerjaan mereka telah selesai.
Ia lantas terduduk di sofa terdekat. Mengarahkan mata ke arah TV yang masih menyala menyiarkan film kartun Tom and Jerry. Terdengar olehnya suara ibu Dibyo mengajaknya makan. Ia menolak halus dengan alasan sudah makan dirumah.
Tak berapa lama, jam terdengar berdentang tiga kali. Ia mendongak keatas melihat jam dinding yang bertengger tepat diatas TV yang tenganh ditontonnya. Untuk memastikan pendengarannya. Ya, sudah menjelang sore. Itu menandakan ia harus pulang sekarang. Ia beranjak dari depan tv, menuju kamar Kiki. Begitu masuk, ia melihat Kiki terduduk menyender dinding disisi ranjangnya. Masih dengan wajah sedih dan mata sembab akibat lama menangis. Kiki memandangnya ketika ia berdehem menghampiri. Ia berusaha tersenyum walau  wajah Kiki masih menampakkan kekecewaan.
“Ki, sudah sore,” ucapnya, memberitahu Kiki. Berusaha  mengabaikan tatapan  Kiki yang tiba-tiba  begitu tajam. “Aku harus pulang. Maafkan aku kalau aku salah, Ki. Tapi kumohon dengan sangat, Ki…tetap shalat dan jangan seperti ini terus….aku sayang  kamu, Ki… Tapi juga kecewa kalau kamu begini terus,” lanjutnya, lirih sambil mengambil tas kecilnya. Bersiap untuk pamit. Ia menyentuh jemari kanan Kiki yang agak dingin dan lemah. Mendekatkan pipinya kewajah Kiki sambil membisikkan ucapan  salam. Tiba-tiba Kiki memeluknya, erat.  Menangis lagi.
“Jangan tinggalkan aku, Im,” pinta Kiki, dalam isak tangisnya.
“Aku hanya pulang, Ki…”
“Tapi kamu kecewa sama aku, Im…”
“Ya, jika kau begini terus…itu karena aku sayang kamu, Ki….,” lirihnya, agak serak.
“A…ku juga, Im….,” serak Kiki, masih menangis. “Ma…af…akan kucoba….bantu aku, Im…”.
Ia mengangguk dalam dekapan dan tangisan Kiki.
Ia terharu dan bahagia. Dalam hatinya, ia berdoa untuk kebahagiaan sahabatnya, Kiki. Terdengar adzan Ashar berkumandang. Mengiringi tasbih doanya tentang kebahagiaan orang-orang yang disayanginya.       



 Bekasi…disenja yang menginspirasi
Sabtu, 8 maret 2008

10
Shirah Nabawi, Shahabat, dan Alim Ulama / Kekuatan Doa
« pada: 05 Desember 2009, 13:14:05 »
Kemenangan Tentara Islam
Roda sejarah tetap berputar, sehingga sampailah pada awal cerita ini. Sebuah kisah tentang nyata yang dipaparkan dalam kitab ‘Al-Mukafaah’ yang dituliis oleh Ahmad bin Yusuf. Cerita dalam kitab itu berdasarkan keterangan dari Hasan bin Muslim, seorang tua penduduk Kreta, yang ikut menjadi saksi mata atas peristiwa ini. Yaitu peperangan antara Islam melawan Romawi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Pulau Kreta merupakan daerah pinggir kekuasaan Islam zaman Abbasiyah. Tentara Islam pertama kali masuk masuk ke pulau ini dalam komando panglima Abu Hafash Umar. Mereka ini berhasil memberi kenikmatan, keamanan dan keadilan sehingga sampailah pada masa kisah ini terjadi.
Raja Romawi bersumpah untuk menyampaikan niatnya, hanya puas bila nanti berhasil menduduki kembali pulau Kreta dan menghancurkan seluruh orang Islam yang ada di sana. Ia berjanji kepada orang-orangnya untuk tidak mundur setapakpun meski untuk itu ia harus mengeluarkan seluruh kekayaan kerajaannya.
Kabut kerisauan menyelubungi jiwa dan akal raja. Soalnya, untuk melaksanakan maksudnya itu harus dicari seorang panglima yang mahir dan berani. Ia teringat kemudian ada seorang pendeta yang kiranya cocok bagi pikiran raja Romawi itu. Dulunya bekas panglima perang kenamaan dan kini menjadi pendeta yang disayangi oleh para muridnya. Ia telah menjadi bapak dari suatu jamaah karena bijak dan rendah hati.
Raja mengirim utusan pergi kepada pendeta itu, memintanya dengan sangat untuk bersedia berjuang di medan yang dulunya menjadi tempat kancahnya. Betapapun berat, namun ia tak sanggup menolak perintah rajanya itu. Maka berangkatlah ia menghadap untuk menerima perintahnya.
Ada dialog yang menarik terjadi. Sang raja yang gundah kerana panglima-panglima beserta bala tentara yang dikirimkannya selalu gugur menghadapi tentara Islam. “Apa gerangan rahasianya umat Islam selalu menang dimedan tempur?” ia bertanya.
Dengan pendek pendeta itu menjawab,” Iman !”
Bagaikan disengat kala, raja itu berteriak,” Iman! Iman! Iman!”. Ia menelan ludah, dipandangi pendeta itu dengan pandangan heran tetapi juga menyelidik. Lalu ia berteriak memerintah,” Itulah sekarang tugasmu! Kau harus mengembus-embuskan iman dalam dada setiap prajurit kita!”.
Maka sejak saat itu, sang pendeta ini terikat kerja mempersiapkan tentara untuk pertempuran. Sebagai panglima penanggungjawab tertinggi, ia lakukan segala usaha untuk persiapan dan perlengkapan. Alkisah, setelah siap segalanya, ia meluncurkan kapalnya di gelap malam, mengambil jalan yang jauh dari pengintaian.
Ternyata pulau Kreta hanya dijaga oleh sejumlah kecil tentara Islam. Maka berbungalah hatinya, pulau Kreta bakal dengan mudah dikuasai, begitulah pikirnya.
Syahdan, tentara Islam meskipun dalam jumlah kecil , memutuskan untuk melakukan perlawanan. Usaha pertama yang dilakukan adalah memerintahkan semua orang untuk masuk kedalam benteng dan menutup benteng itu kuat-kuat. Tentara Romawi berusaha membuka benteng itu, namun usaha mereka gagal karena dilawan dengan keras dan gigih. Begitu ketat perlawanan tentara Islam, sulit bagi tentara Romawi untuk menebusnya. Maka yang dilakukan kemudian adalah melakukan pengepungan dan mengisolasi pulau Kreta dengan ketat. Sasaran pengepungan dan isolasi itu adalah memutuskan seluruh perhubungan pulau Kreta dengan dunia luar. Kalau habis simpanan makanan dan perbekalan lainnya, masak mereka tak menyerah?
Betul belaka strategi  perang tentara Romawi itu. Perbekalan tentara Islam semakin menipis. Bayangan keputusasaan mulai mengganggu tentara Islam. Bahkan mulai terpikir untuk menyerah demi keselamatan anak-anak, wanita dan orangtua.
Ditengah krisis yang mencekam itu, muncullah seorang syeikh yang tidak saja tua umurnya, tetapi juga telah banyak memakan asam garam kehidupan ini. Dan terlebih penting lagi ketangguhan pelita imannya. Ia panggil banyak orang untuk berkumpul disekelilingnya. Ia berkata,”Maukah kalian mendengar petunjukku?”
“Katakanlah!” jawab orang banyak itu, serentak.
“Bersihkan dirimu untuk Allah! Mari kita heningkan hati kita, kita lemparkan prasangka buruk terhadap Allah. Pasrah kepada-Nya, lalu kita memohon pertolongan-Nya. Insya Allah, nikmat dan keselamatan akan datang!”. Sejenak ia diam, kemudian memerintahkan,”Mari kita ikhlaskan hidup kita kepada Allah!”.
Lalu syeikh itu meninggalkan kerumunan orang banyak yang mulai terpengaruh oleh ajakannya. Maka bayangan keputusasaan berganti dengan keyakinan dan kepasrahan  kepada Rabbul Izzati. Tampak syeikh itu berjalan perlahan dengan senang. Kemudian ia mengangkat wajahnya, berdoa kepada Allah. Butir-butir airmatanya berlinangan kewajah yang keriput dan merasuk kedalam janggutnya yang tebal.
Tiba-tiba ia menengok kepada kerumunan orang banyak tadi dan serentak kemudian ia berteriak keras,” Berteriaklah kalian semua bersama kami kepada Allah! Angkatlah suaramu keras-keras, berdoa memohon bantuan dan keselamatan kepada-Nya!”. Suaranya yang menggambarkan keteguhan hati dan iman yang dalam itu menggema keseluruh pulau dengan penuh wibawa. Maka berteriaklan orang-orang dengan serentak, laksana guntur mengikuti doa yang dibaca syeikh itu. Ketika syeikh itu menangis, ikut menangis pula  semua orang. Syeikh itu kemudian kembali memerintahkan,”Berdoalah kamu semua! Jangan lakukan sesuatupun selain khusyu’ memohon kepada Allah!”
Maka berteriaklah mereka dengan suara yang lebih keras. Ketika syeikh itu menangis, diikuti pula dengan tangisan semua orang. Teriakan doa itu dilakukan hingga tiga kali. Sesudah itu, syeikh memandangi wajah tiap orang yang hadir di sana. Tampaklah olehnya wajah-wajah yang pasrah kepada Allah dengan penuh harap hanya kepada-Nya. Ia kemudian bertahlil dengan khusyu’. Ketika selesai, seakan ia melihat sesuatu yang menggembirakan. Maka akhirnya, ia berkata,” Naiklah kamu ke dinding benteng. Aku merasakan dalam hati, Allah melapangkan jalan bagi kita…”
Tentara Islam terpesona. Mereka mendapat ilham kemenangan, namun seakan hidup dalam mimpi yang aneh. Tak ada yang lebih mencekam kegembiraan mereka. Ternyata mereka melihat tentara Romawi berhamburan pergi. Dengan memanggul senjata mereka, tenmtara Romawi itu terbirit-birit menuju pantai. Maka kemudian bergeraklah tentara Islam melucuti musuh yang tercecer.
Sewaktu tentara Romawi itu ditanya, apa yang telah menyebabkan mereka lari ketakutan  mereka menjawab,”Wakil Panglima kami memandang lebih baik menyelamatkan diri ketika mereka mendengarkan hiruk pikuk kamu yang begitu keras. Ia meletakkan tangannya didada dan berteriak,” Hatiku! Hatiku!. Tidak lama setelah itu, menjalarlah ketakutan para sayap dan pembantunya. Ketakutan yang menghancurluluhkan telah menimpa. Maka ketika mendapatkan kekuatan baru untuk melarikan diri, apalagi yang kami miliki sebagai seorang prajurit yang hanya mencoba melarikan diri?”
Tentara Romawi itu pergi meninggalkan hanta benda dan makanan, yang ternyata jumlahnya melebihi dari kebutuhan orang Islam yang mampu menutupi kekurangan mereka di hari-hari mereka tak mendapat makanan, disaat-saat mereka merasakan hebatnya kepungan. Semua bibir saling mengucapkan pujian terhadap Allah, atas kekuatan dan pertolongan yang telah diberikan-Nya. Mereka berkumpul mengelilingi syeikh tua itu, yang telah menunjuki mereka jalan untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran total.       


(Dari buku kisah dan hikmah)

 (IMS  :) )

11
Artikel / Perjanjian kita pada sang Rabb......
« pada: 05 Desember 2009, 12:58:49 »
Perjanjian Hidup

        Sebuah perjanjian adalah pendeklarasian. Hidup adalah sesuatu yang dapat tumbuh, berkembang dan mempunyai jiwa atau ber-ruh. Perjanjian hidup merupakan pendeklarasian yang telah diakui dan ditetapkan dalam hidup. Seluruh ciptaan Allah SWT, baik itu di langit dan di bumi, telah memiliki perjanjian terlebih dahulu dengan sang pencipta, Allah SWT sebelum mereka diciptakan.
Mereka mengakui dan tunduk atas ke-Esaan dan Kekuasaan Allah SWT, terutama manusia yang sebelum dilahirkan ke dunia telah memiliki suatu perjanjian yang sama, yakni mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan mereka, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, sebagai berikut;

“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan (menciptakan) keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari diri mereka sendiri dengan firman-Nya, “Bukankah aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “ Ya, kami mengakui”.
Nanti di hari kiamat kamu tidak dapat lagi mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini (Keesaan Allah)”.
(QS. Al-‘Araaf :172)
        Kesaksian itu dibuat saat janin berusia empat bulan dalam kandungan. Allah meniupkan ruh kedalam janin yang bentuk fisiknya belum begitu sempurna. Hal ini dibuat (kata Allah) agar manusia tidak mencari-cari  alasan untuk mengingkari perjanjian itu.
Setelah itu manusia, terutama seorang muslim meniti hamparan kehidupan di dunia ini. Menunaikan hak dan kewajibannya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi. Memilih jalan hidupnya, berusaha dan seterusnya.
Namun sangat disayangkan, banyak yang lupa dan lalai akan hak dan kewajibannya itu, bahkan terhadap perjanjian yang telah Allah abadikan dalam lembaran firman-Nya, Al-Qur’an. Seorang muslim semestinya mengetahui dan menyadari bahwa pilihan hidupnya tak boleh keliru, didalam meniti jalan yang dapat mengantarkannya kepada keridhaan Allah SWT. Karena hanya dengan hal itulah, seorang muslim bisa mengharap surga kepada sang Khalik, Allah SWT.
Seorang muslim berbeda antara yang satu dengan yang lain dalam memilih janji-janji kepada Allah. Mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan suatu janji yang harus diiringi dengan kewajiban-kewajiban lainnya, yang puncaknya adalah amal-amal nyata sebagai bukti atas keimanan dan janji setianya kepada sang Rabb.
Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah untuk segera kembali meluruskan niat amal perbuatannya bila ada titik-titik noda dalam niatnya itu, hanya semata karena Allah SWT. Sebab itulah bukti dan wujud atas perjanjian hidupnya terhadap sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Dalam medan amal tersebut, setiap muslim atau mukmin harus terus menjaga niatnya. Karena disanalah, pijakan kesetiaannnya terhadap janjinya, sebagaimana nasehat yang telah diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Basri;

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang serius memperhatikan niatnya. Apabila niatnya itu karena Allah semata, maka ia akan terus berjalan dan apabila bukan karena Allah, maka ia berhenti, tidak meneruskan amalan tersebut”.
Dan semoga kita dapat meluruskan niat dalam segala hal ,terutama dalam beribadah kepada-Nya dan termasuk kedalam golongan umat yang selalu dirahmati oleh Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Amiiin ya robbal’alamiiin…..


(IMS)  :)

12
Umpan Balik / Re:Persoalan My Quran Baru Disini?
« pada: 05 Desember 2009, 12:51:59 »
Hmmmmmm :)

13
Artikel / Re:Teruslah Berusaha dan cukuplah Allah yang menggantinya.....
« pada: 05 Desember 2009, 12:15:16 »
silahkan..... :) . Alhamduillah, mudah-mudahan bermanfaat....

14
Artikel / Teruslah Berusaha dan cukuplah Allah yang menggantinya.....
« pada: 23 November 2009, 16:23:33 »
Teruslah Berusaha
dan cukuplah Allah yang menggantinya.....



“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “ Tuhan kami ialah Allah,” kemudian  mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka  (dengan mengatakan);”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) didalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan (bagimu)  dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. Fushshilat : 30-32)

          Setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki tanggungjawab yang besar, yakni sebagai khalifah. Dan tanggung jawab itu terdiri dari berbagai macam tugas-tugas. Tergantung dari  kemampuan seseorang yang Allah saja Maha Mengetahui dan Menentukan. Dan tugas itupun tidaklah semudah membolak-balikkan telapak tangan, walau tugas itu sekecil apa yang kita. Karena setiap kita memiliki  sisi kemampuan yang berbeda-beda, baik itu dari segi fisik dan mental. Dari segi akal dan hati nurani.
          Setiap tugas itupun memerlukan apa yang dinamakan usaha. Allah memberi tugas (menguji) hambaNya takkan melebihi batas kemampuan hambaNya. Dan Allah akan menilai, bahkan mengganti dari setiap usaha yang kita lakukan baik itu di dunia dan di akhirat. Baik itu yang buruk dan baik. Karena semua itu akan berbalik kembali pada diri kita masing-masing.
         Maka dari itu, kita sebagai seorang muslim selayaknya terus berjuang atau berusaha dengan sebaik-baiknya dalam menunaikan tugas khalifah atas ke-Maha AgunganNya.
Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan Allah tidak akan menganiaya para hambaNya.
“.....Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hambaNya”.
(QS. Fushshilat : 46)

         Maka dari itu, puaskanlah dengan kecukupan dari Allah, niscaya Dia akan memberi kecukupan kepada kita dari semua kecukupan, karena sesungguhnya Dia Maha menang dalam segala urusanNya. Sepatutnya kita bertawakkal pada Allah karena sesungguhnya Dia Maha Kekal dan selain dariNya pasti akan mati.
Bukankah Dia telah memberikan perlindungan yang cukup kepada Ibrahim saat ia dilemparkan kedalam api yang sangat besar. Allah telah menjadikan api itu sejuk dan membawa keselamatan pada Ibrahim as.
Bukankah Dia pula yang menyelamatkan Nuh as dari banjir besar yang mampu menenggelamkan daratan di seluruh bumi?
Bukankah Dia juga yang menyelamatkan Musa as dari kejaran raja zhalim Fir’aun dengan tongkat yang dapat membelah lautan menjadi dua bagian?
Bukankah Allah telah melindungi Rasulullah saw dalam setiap pertempuran? Bukankah Dia yang telah menyelamatkannya dari berbagai kecelakaan dan penculikan serta menolongnya dari berbagai peperangan?
Bukankah Dia telah menghibur hatinya dari kesendirian, meneguhkannya disaat ketakutan, dan meneguhkan kekuatannya dalam berbagai malapetaka?
Siapakah yang dipanggil olehNya, kemudian tidak memenuhiNya? Siapakah yang menunggu didepan pintu rahmatNya, lalu Dia tidak memperkenankan do’a-do’anya? Siapakah yang meminta perlindungan kepadaNya, lalu Dia tidak memberinya? Siapakah yang meminta perlindunganNya, lalu Dia tidak memberikan perlindungan yang cukup kepadanya?
“.....Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
 (QS. Ar-Rahman : 29)

Allah memberi kekayaan dan kemiskinan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan memecat, menjadikan raja dan menurunkannya, menimpakan sakit dan menyembuhkannya, serta memberikan cobaan dan membebaskannya.
Semua ubun-ubun berada ditangan kekuasaannya; semua penyebab berada dalam genggaman kekuasaanNya  dan semua mahluk berada dalam pengaturanNya.

Berlindunglah kepadaNya bila kamu tertimpa kesusahan
Dan hadapkanlah dirimu kepada yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan
Ketahuilah bahwa Allah SWT adalah penentu Rizki dan Taqdir
Maka berusahalah mengetuk pintuNya dan menghadapkan diri kepadaNya dengan mempelajari kitabNya dan menunaikan (mengamalkan) setiap tanggung jawab kita sebagai hambaNya, niscaya akan menemukan kemudahan dan kemenangan serta mendapatkan pahala berlimpah dan keberhasilan yang gemilang.  Insya Allah.....

“.....Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan dan hanya kepadaNyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Qashash : 88)    


(NB : Sebagian besar tulisan dikutip dari buku : Cambuk Hati, DR. Aidh Al-Qarni)
(IMS)

15
Humor dan Kreatifitasnya / Re:Surat Dari Anak Pintar
« pada: 22 November 2009, 19:06:35 »
Iya deh kamal hasan...lainkali ana piki2 lagi klo posting2......sori ya....maklumi aja newbie....;)

Halaman: [1] 2 3 4
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.541 detik dengan 18 queri.