Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Pesan - abdullahnajib77
1
« pada: 15 Mei 2009, 16:43:25 »
jadi pingin komentar,
saya punya vcd judul diatas, dan dikantor saya bagi-bagikan, apakah itu kisah hoak atau bukan wallahua'lam , mudah2an saya tidak membohongi orang-orang,
tapi yang jelas, banyak hadist yang menguraikan tentang siksa kubur, diantaranya, yang ketika Nabi sampai disalah satu kuburan kemudian Nabi berhenti dan mengambil pelepah korma, kemudian meletakkan pelepah itu diatas kubur, kemudia sahabat bertanya, untuk apa? jawab nabi untuk meringankan azab ahli kubur sampai pelepah itu kering
ada juga ayat alQuran yang menggambarkan tentang alam kubur,
Kepada mereka(Firaun dan pengikut-pengikutnya) dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". (alMu'min 40:46)
penampakan neraka itu terjadi sebelum hari kiamat sesuai dengan lanjutan ayat, artinya itu terjadi dari semenjak Firaun ditenggelamkan Allah SWT di laut merah hingga sekarang, dan sampai sebelum kiamat,
sedang untuk orang yang beriman
(ali-Imran 3:169-170) 169. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
170. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
wallahu'alam
2
« pada: 17 April 2009, 13:22:11 »
Assalamualaikum
ana lagi mau buat software pake delphi, yaitu software alQuran, cuman saya susah menuliskan dengan font arab, databasenya saya pake sqlite3,
jadi dari database (berupa font arab) mau saya masukan ke edit text, atau memo caranya gimana yaa? sudah saya coba tapi hasilnya ? ? ? ? ? ? ? ? ?
thx
3
« pada: 17 April 2009, 08:35:30 »
@akhi Muhammad Abdullah maaf sebelumnya kalau postingan saya menyinggung antum, saya hanya menyampaikan apa yang di sampaikan ulama,
ulama2 berbeda-beda pendapat tentang ayat itu paling tidak ada 2 hal : 1. tentang arti kata wariduha 2. mitra bicara ayat tersebut pertama untuk seluruh manusia yang kedua untuk para pendurhaka seperti konteks ayat ini kata wariduha pada mulanya berarti menuju ke sumber air, lalu makna itu berkembang sehingga ia digunakan juga dalam arti masuk atau melewati atau hadir dan mendatangi sesuatu atau datang kesana mendahului selainnya.
terdapat beberapa ayat alQuran yang menggunakan kata tersebut
dalam arti masuk (al-Anbiya' 21:99. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk (waroduha) neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.
tetapi di ayat lain, terasa kurang tepat kalau diartikan masuk, seperti firman-Nya QS Hud 11:98, disana di nyatakan fa auwradahum an-nar tentu penggalan tersebut tidak tepat jika di artikan fir'aun memasukan mereka keneraka, tetapi lebih tepat memahaminya dalam arti mengantar mereka menuju keneraka.
(Hud 11:98.). Ia(Fir'aun) berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu mengantar mereka ke dalam neraka(fa auwradahum an-nar). Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.
Pakar tafsir Fakhruddin ar-Razi cenderung memahami ayat diatas di tujukan kepada seluruh manusia dan kata wariduha dipahami dalam arti memasukan, berdalih bahwa semua manusia berdosa kecuali para nabi sehingga semua yang berdosa harus dibersihkan dahulu
memang ada ayat2 yang menyatakan: (al-Anbiya' 21:101-102) 101. Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, 102. mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.
menurutnya, bukan berarti mereka tidak memasuki, kendati mereka memasukinya tetapi mereka tidak tersiksa demikian pendapat kelompok pertama disamping mengemukakan beberapa riwayat.
yang kedua menyatakan bahwa mitra bicara adalah orang-orang kafir, bukan seluruh manusia dengan alasan kalau ayat ini berbicara tentang seluruh manusia maka itu berarti manusia mukmin dan kafir digabung menjadi satu dan digiring sama2 keneraka kebersamaan itu tidaklah pada tempatnya. rasanya penghormatan yang diraih orang-orang beriman, tidak sejalan dengan penghimpunan mereka bersama orang2 kafir bacalah misalnya ayat: maryam 19:85-86 85. (Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, 86. dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. jadi menurut pendapat kedua, mitra bicara ayat diatas adalah orang-orang kafir.ini adalah pendapat oleh Tahir Ibn Asyur
dari uraian2 diatas saya cenderung memahami ayat diatas berbicara tetang seluruh manusia, karena seperti ayat lanjutannya 72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. tetapi tidak memahami kata wariduha dalam arti memasuki tapi mendatangi atau melewati,
kelak dihari kemudian ada yang dinamai shirat/jalan, sekian banyak riwayat mengilustrasikan shirat/jalan itu sebagai jembatan yang dilalui menuju surga. semua orang harus melewati shirat itu. dibawah jembatan itu ada jurang neraka.
diantara riwayat itu adalah: Sahabat Nabi saw., Ibn Rawahah ra., suatu ketika menangis. istrinya pun ikut menangis. ketika ditanya oleh suaminya sebab tangis istrinya, sang istri menjawab : "Aku melihatmu menangis,maka akupun menangis" Beliau berkata :"Aku menagis karena aku tahu bahwa aku pasti akan melewati neraka, dan aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak" (Riwayat Ibn al-Mubarak dengan sanad yang shahih)
jadi seperti yang antum tanyakan tentang ayat lanjutannya 72, itu berarti Tuhan menyelamatkan orang2 yang bertakwa sehingga tidak jatuh kedalam neraka, dan membiarkan orang2 kafir kedalam neraka.
jadi itulah kesimpulan saya setelah membaca dan membandingkan dari beberapa pendapat ulama. rasanya buat saya(setelah mempelajari dan membaca ayat2 alQuran) kurang tepat jika seluruh manusia dimasukan neraka dulu baru dimasukan surga, kasih sayang Tuhan Yang Maha Pengasih terlampau besar. yang di neraka yaa di neraka selamanya, yang di surga yaa di surga selamanya
wallahu'alam
4
« pada: 14 April 2009, 09:26:32 »
@atas sedikit mengkoreksi tentang surah 19:71-72 ayat 71 , kata wariduha .... itu tidak selalu berarti masuk, tapi bisa juga mendatangi... jadi lebih tepat untuk di fahami sebagai mendatangi, jadi jalan menuju surga itu harus melewati neraka (bukan memasuki), dan Allah SWT menyelamatkan orang2 yang beriman dan membiarkan orang2 kafir memasuki neraka
wallahua'lam
5
« pada: 08 April 2009, 13:07:57 »
terus terang, buat saya jelas bukan....
kisah zulkarnain itu di uraikan di surah al-kahfi 18:83-99 silahkan baca, disana zulkarnain adalah seorang pilihan Tuhan, dan amat taat kepada Allah SWT, sedangkan alexander the great bukanlah orang yang beriman kepada Allah SWT
wallahua'lam
6
« pada: 08 April 2009, 13:01:24 »
kalau hadistnya saya tidak hafal, tapi yang jelas Donna Matura , bisa baca di tafsir almisbah (kar Quraish Shihab), vol 8, surah maryam surah ke 19,
di situ di jelaskan tentang nama2 surah itu , dan di jelaskan siapa yang memberi nama
wallahua'lam
7
« pada: 08 April 2009, 12:58:31 »
ada yang memahami imam mahdi itu Nabi Isa AS, dan sebagian mempercayai bahwa Nabi Isa As diangkat ke langit (An-Nisa' 4:158) dan nanti akan turun ke bumi.
banyak juga pemahaman ulama tentang istilah 'diangkat' dari ayat diatas
wallahua'lam
8
« pada: 08 April 2009, 12:46:58 »
setahu saya sebagian dari Allah SWT, tapi ada juga dari Nabi Muhammad SAW,
seperti surah Maryam surah ke 19 itu setahu saya yang memberi nama Nabi,
selain itu juga, sebagian Surah memiliki beberapa Nama,
seperti surah alfatihah itu memiliki nama, ummul kitab,sabul matsani surah ke 40 al-mukmin, juga memiliki nama al-ghafir
wallahua'lam
9
« pada: 03 April 2009, 16:37:17 »
paling tidak ada 3 hal yang bisa di jadikan dasar
1. tentang Kehendak Manusia (al-insan 76:30) Dan apa yang kamu Kehendaki, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
ayat diatas menjelaskan bahwa manusia bisa saja berkehendak, saya anda , dia dan mereka bekehendak... tapi kehendak tersebut dapat terjadi apa bila di kehendaki Allah SWT.
2. kata 'kasb'
(al-Baqarah 2:134) Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya('kasb') dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan('kasb'), dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.
itu istilah dari usaha manusia, itu yang menjadikan amal2 penghuni surga dan neraka
3. Tuhan Mengetahui siapa2 saja Penghuni Surga & Neraka , begitu Pula Tuhan Mengetahu Amalan - amalan Mereka
10
« pada: 26 Februari 2009, 09:42:28 »
Mu tanya nih memangnya nabi daud dan anaknya sulaeman beda berapa tahun? Apakah mereka diangkat menjadi nabi pada saat yang bersamaan?
Posting Digabung: 25 Februari 2009, 18:22:52 All: Memangnya tidak ada hadist yang menceritakan tentang nabi daud? Perasaan semuanya kok seperti tafsir pribadi tanpa hadist?
kalau waktunya wallahu'alam... mungkin ada yang tahu .. tapi yang pasti Nabi Daud AS dipilih menjadi Nabi setelah memenangkan perang antara Talut melawan Jalut (Al-Baqarah 2:251) Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. yang saya bold itu dipahami sebagai KeNabian yang pasti juga mereka selain Nabi juga Seorang Raja Yang Amat Kaya Lagi Amat Soleh (Salam Sejahtera Selalu Dilimpahkan Buat Mereka) setahu saya Nabi Daud As dulu Menjadi Nabi baru kemudian Nabi Sualaiman AS, tapi saya belum dapat dasarnya wallahua'lam
11
« pada: 24 Februari 2009, 15:15:17 »
afuan kalau ana salah (Ini seingat ana waktu baca tafsir almisbah)
(Shaad 38:24) Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.
sekali lagi kalau tidak salah (mudah2an ada yang bisa mengingatkan)
Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS (Anak Nabi Daud AS) di karuniai Allah SWT kemampuan menyelesaikan perkara... tapi Nabi Sulaiman AS lebih tepat dalam menyelesaikan Perkara itu.... Nah disini Penyelesaian Nabi Daud AS Diuji dan ternyata hasil ujiannya tidak tepat sehingga Nabi Daud AS bertobat
ayat2nya :
(al-anbiya' 21:78-79) 78. Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,
79. maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.
wallahua'lam
12
« pada: 24 Februari 2009, 15:07:02 »
Kata "Kami" mengindikasikan Allah melibatkan makhluk-Nya dalam melakukan sesuatu. sedangkan kata "Aku" menyatakan Allah pribadi/sendirian yang melakukan sesuatu tersebut.
CMIIW
tambahan coba TS perhatikan kata2 dalam alQuran yang menunjuk kepada Allah SWT, dalam bentuk Tunggal... 1 . Perintah MenyembahNya. (al-Anbiya' 21:92) Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. 2. ketika Nabi Musa AS bertemu Allah SWT Secara Langsung di bukit Thur (Taha 20:14) Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
3. Penciptaan Adam AS (Tuhan Sendiri tanpa Melibatkan MahlukNya) (shad 38:75) Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". bandingkan dengan 1. Penciptaan Manusia (Melibatkan Ayah & Ibu) (Al-muminun 23:12) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah 2. Penyelamatan Jasad Firaun (Melibatkan Manusia) (yunus 10:92) Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami wallahua'lam
13
« pada: 24 Februari 2009, 14:46:46 »
tambahan
orang yang tidak mensyukuri nikmat juga di sebut kufur,
(Ibrahim 14:7) Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur("syakartum"), pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)("kafartum"), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
14
« pada: 20 Februari 2009, 13:15:08 »
Kata at-Tawwab, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ta’, wauw, dan ba’. Maknanya hanya satu yaitu kembali. Kata ini mengandung makna bahwa yang kembali pernah berada pada satu posisi, baik tempat maupun kedudukan, kemudian menginggalkan posisi itu, selanjutnya dengan “kembali” ia menuju kepada posisi semula Kata kerja yang menggunakan akar kata yang terangkai oleh ketiga huruf di atas beraneka macam bentuknya, sedang pelakunya sekali Allah dan di kali lain manusia. Perhatikan misalnya kedua ayat berikut. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Dia taba/kembali atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah 2: 37), di sini pelaku adalah Allah. Sedang fiman-Nya “Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar”(Q.S. Thaha 20 : 82), Pelakunya seperti terbaca adalah manusia. Ada juga ayat yang menunjuk kepada kedua pelaku di atas,- Allah dan manusia yaitu firman-Nya, “Terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melaikan kepada-Nya saja. Kemudian Allah taba ‘Alaihim (menerima taubat mereka?) agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang ” (Q.S. At-Taubah 9 : 118). Jika demikian Allah pun “bertaubat” dalam arti kembali. Suatu ilustrasi tentang taubat dapat diangkat dari ayat-ayat yang berbicara tentang dosa pertama yang dilakukan oleh manusia (Adam as.), sekaligus berbicara tentang taubat pertama manusia. “Dan Kami (Allah) berfirman, ‘Hai Adam, diamilah engkau dan isterimu surga (ini)dan makanlah darinya yang banyak lagi baik di mana dan kapan saja kamu berdua sukai,dan Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”(Q.S Al – Baqarah 2: 35). “Maka ia menurunkan keduanya dengan tipu daya. Maka tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya sauat-sauatnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dan Tuhan mereka menyeru mereka berdua: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui pohon itu dan Aku katakan kepada kamu berdua’ : Sesungguhnya setan itu bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata” (Q.S Al-A’raf 7 : 22). Anda baca bahwa dalam surat Al-A’raf Allah menggunakan kata “menyeru mereka” yang mengisyaratkan jarak yang jauh, padahal sebelum mendekat ke pohon, kata yang digunakan adalah “berfirman”. Di sisi lain, pohon pada surat Al-A’raf ditunjuk dengan kata “itu”, padahal sebelum mencicipinya pohon itu ditunjuk dengan kata “ini”, kata “menyeru” dan “itu” menunjukan jarak yang jauh, sebalikanya kata “berfirman” dan “ini”menunjukan jarak yang dekat. Perbedaan redaksi ayat al-Baqarah dan al-A’raf mengisyaratkan bahwa setelah berdosa, Allah dan manusia menjauh dari posisi sebelum berdosa. Nah, bila manusia menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan dan memohon ampun maka dia bertaubat, yang arti harfiahnya adalah kembali. Allah yang menerima taubat manusia juga kembali ke posisi semula sehingga Dia pun bertaubat, yang biasa diartikan dengan menerima taubat. Ini di isyaratkan oleh ayat “Maka Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Dia kembali kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”(Q.S Al-Baqarah 2 : 37). “Keduanya berkata: ‘Tuhan kami!, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya, demi, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi”(Q.S Al-Araf 7 : 23) penutup ayat diatas lanakunanna min al-khaisrin menunjukan betapa dalam kesadaran dan penyesalan Adam dan Hawa as., sehingga doa ini mereka kukuhkan dengan tiga macam pengukuhan. Pertama huruf lam yang digunakan untuk bersumpah, yang diterjemahkan dengan kata demi, yang kedua tambahan huruf nun pada kata lanakunanna yang diterjemahkan dengan kata pastilah dan yang ketiga min al-khasirin, yang diterjemahkan termasuk kelompok orang-orang yang rugi2. Jika kita sependapat dengan para ulama yang menyatakan bahwa kalimat-kalimat ayat ini adalah pengajaran Allah kepada Adam dan Hawa as. untuk memohonkannya kepada Allah, maka ini mengisyaratkan pula bahwa taubat yang diterima Allah adalah taubat yang benar tulus dan yang oleh pelakunya disadari sebagai ancaman kesengsaraan bila tidak dikabulkan Allah. Ancaman ini tentu dirasakan oleh mereka yang menyadari bahwa pelanggaran yang dilakukannya itu tertuju kepada Tuhan Yang Maha Agung. Perlu dicatat untuk dicamkan bahwa al-Qur’an tidak ditemukan bentuk jamak (kata :”Kami”1) yang menunjuk kepada Allah sebagai penerima/pemberi taubat. Bahkan secara tegas, kata kerja yang menunjuk kepada penerimaan-Nya ditemukan dalam bentuk tunggal dan menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Firman-Nya setelah mengutuk mereka yang menyembunyikan kebenaran: “kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”(Q.S al-Baqarah 2 : 160). Misalkan dalam hal menurunkan dan memelihara al-Qur’an menggunakan bentuk jamak: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”(Q.S al-Hijr 15 : 9). Penggunaan bentuk tunggal dalam hal taubat adalah karena tidak ada satu mahluk pun yang mempunyai wewenang atau terlibat dalam menerima atau menolak taubat. Ini hanya wewenang penuh Allah sendiri. Ketika hati Nabi Muhammad saw. sangat terpukul dengan sikap kaum musyrikin dalam Perang Uhud, dimana paman beliau sahid secara sangat memilukan, dan beliau luka berlumuran darah, beliau bergumam “Bagaimana mungkin satu kaum memperoleh kejayaan, padahal mereka telah membuat wajah Nabi mereka berlumuran darah, sedang dia mengajak mereka ke jalan Allah?” Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, menegur beliau dengan firman-Nya: “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu apakah Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”(Q.S Ali ‘Imran 3 : 128). Imam Ghazali mengartikan Al-Tawwab (Yang Maha Penerima Taubat) sebagai Dia (Allah) yang kembali berkali-kali menuju cara yang memudahkan taubat untuk hamba-hamba-Nya, dengan jalan menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menggiring kepada mereka peringatan-peringatan-Nya, serta mengingatkan ancaman-ancaman-Nya, sehingga bila mereka telah sadar akan akibat buruk dari dosa-dosa, dan merasa takut dari ancaman-ancaman-Nya, mereka kembali (bertaubat) dan Allah pun kembali kepada mereka dengan anugerah pengabulan. Mufassir at-Thabathaba’i ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 37 diatas mengemukakan bahwa taubat dari Allah, berarti kembalinya Allah kepada hamba dengan mencurahkan rahmat. Adapun taubat manusia, maka ia adalah permohonan ampun, disertai dengan meninggalkan dosa. Taubat manusia – lanjutnya – berada dalam dua jenis taubat Tuhan, karena manusia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan dalam keadaan apapun, maka taubatnya atas maksiat yang dia lakukan, memerlukan taufiq, bantuan, dan rahmat-Nya agar upayanya bertaubat, benar-benar dapat diterima oleh-Nya.
keterangan : 1 Bentuk Jamak yang dinisbahkan kepada Allah seperti kata Kami menunjukan bahwa terdapat keterlibatan selain Allah dalam kegiatan tersebut (misal dalam penurunan al-Qur’an menggunakan kata Kami yang berarti ada keterlibatan malaikan jibril dalam penurunan al-Qur’an) sedangkan bentuk tunggal yang dinisbahkan kepada Allah berarti tidak ada keterlibatan siapapun dalam kegiatan tersebut.
2 memasukan seseorang kedalam kelompok tertentu artinya bahwa dia telah mencapai tingkat kelompok tersebut. Itu sebabnya jika anda berkata, si A masuk kelompok ulama, maka pernyataan ini menunjukan kedalaman ilmu si A, melebihi ilmu yang dimiliki oleh si B, yang anda lukiskan dengan mengatakan, si B adalah seorang ulama, demikian tulis banyak ulama.
dikutip dari tulisan Ustad Quraish Shihab
15
« pada: 20 Februari 2009, 13:12:29 »
TANTANGAN AL-QUR’AN
(Al-Baqarah 2:23-24) 23. dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. 24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
ASTRONOMI 1. PENCIPTAAN ALAM ’TEORI BIG BANG’ Berdasarkan teori big bang alam semesta tercipta dari kumpulan gas yang disebut ‘primary nebula’ kemudian terpecah dan menjadi bintang-bintang,planet-planet, matahari,bulan dll Al-Anbiyaa’[21]:30
30. ’dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?’ ‘ratq’ berarti perpaduan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen. ‘fatq’ berarti memisahkan.
2. LAPISAN GAS SEBELUM PENCIPTAAN GALAKSI Ilmuan setuju bahwa sebelum galaksi dialam terbentuk terdapat materi-materi gas atau ’stratum(lapisan) gas’ kemudian mengalami tahap pengerasan yang menjadi galaksi-galaksi di alam. Kumpulan materi-materi gas yang sebelum mengalami tahap pengerasan itu lebih tepat disebut’asap’.
Fushshilat [41]:11 11. ’kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati"’
”Dukhan” itu berarti asap
3. BENTUK BUMI BULAT TELUR (GEOSPHERICAL) Pada abad-abad awal orang beranggapan bahwa bumi datar, sehingga orang takut berjalan terlalu jauh terjatuh kejurang yang dalam. Kemudian ’Sir Francis Drake’ pada tahun 1597 yang menyatakan bumi berbentuk Geospherical (bulat telur) ketika dia menjelajahinya.
Luqman[31]:29 29. ”tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Az-Zumar[39]:5 5. ’Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.’
Kawwara’ berarti menggulung. Dahulu kata ’Kawara’digunakan dalam arti menggulung serban dikepala.
Seandainya bumi datar tidak mungkin terjadi penggulungan(yukawwir) malam terhadap siang atau sebaliknya secara perlahan, perubahannya akan terjadi secara mendadak.
An-Naazi’aat [79]:30 30. ’dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.’
‘dahaaha’ berakar dari kata ‘huya’ yang menunjuk pada arti telur, tapi bukan sembarang telur, yaitu telur burung unta.
4. SINAR BULAN PANTULAN & SINAR MATAHARI DARI DIRINYA Sinar Bulan adalah pantulan sedangkan sinar Matahari bersumber dari dirinya sendiri. Pada abad-abad peradaban awal bulan dipercayai memiliki sinar dari dirinya sendiri. Sekarang ilmu pengetahuan menyatakan sinar bulan bukan dari dirinya sendiri tapi pantulan sinar matahari. Al-Furqaan[25]:61 61. ’Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.’ Nuh[71]:15-16 15. tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? 16. dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Yunus[10]:5
5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa kata ’qamar’ yang berarti bulan ditunjuk dengan nur yang berarti sinar pantulan dan munir yang berarti meminjam cahaya, sedangkan syams yang berarti matahari dengan siraj yang berarti obor / pelita,wahhaj yang berarti lampu yang sangat kuat, dan diya berarti cahaya’. Tidak ada satu ayat pun didalam Al-Qur’an yang mensifati bulan dengan diya’ atau siraj atau matahari dengan nur.
5. BINTANG-BINTANG (’Nujum’) & PLANET-PLANET (’Kawakib’) Bintang bahasa arabnya ’Najm’ yang disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 13 kali, kata jamaknya ’Nujum’ akar kata yang berarti nampak. Bintang pada waktu malam diberi sifat oleh Qur’an dengan kata ’tsaqib’ artinya yang membakar, dan membakar dirinya sendiri dan yang menembus. Disini menembus kegelapan diwaktu malam, kata yang sama ’tsaqib’, juga dipakai untuk menunjukan bintang-bintang yang berekor.
Ath-Thaariq[86]:1-3 1. demi langit dan yang datang pada malam hari, 2. tahukah kamu Apakah yang datang pada malam hari itu? 3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,
An-Nuur[24]:35 35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembu, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Yang dimaksud disini adalah proyeksi cahaya kepada suatu benda yang merefleksikan (kaca) dengan memberinya kilatan mutiara, sebagaimana planet yang disinari matahari, inilah penjelasan dari kata ’Kaukab’ yang berarti planet
6. MATAHARI BEROTASI Filosof – filosof eropa dan ilmuan pada abad-abad awal percaya bahwa bumi pusat alam semesta dan pelanet-pelanet begitu pula matahari mengelilingi bumi, yang disebut teori geocentrisme, ini dipercaya pada abad 2 sebelum masehi dan dipercaya selama 16 abad lamanya, sampai ditahun 1512 Nicholas Copernicus teori heliocentris dari pergerakan pelanet-pelanet yang menyatakan bahwa bumi dan pelanet-pelanet mengelilingi matahari sebagai pusat. Kemudian tahun 1609 ilmuan jerman Yonannus Keppler menulis dalam bukunya ’Astronomia Nova’ bahwa bukan hanya bumi dan planet berputar mengelilingi matahari tetapi juga berputar pada porosnya.
Al-Anbiya’[21]:33 33. dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Kata yasbahun berasal dari akar kata sabaha yang berarti pergeseran dari tubuh yang bergerak. Hal itu dinamakan ”berenang” jika terjadi didalam air, dan jika didarat dia berarti berjalan atau berlari. Karena matahari terjadi dialam raya maka kata yang digunakan menggunakan arti aslinya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari membutuhkan waktu 25 hari untuk berputar pada porosnya (ini dapat diketahui karena adanya bintik hitam didalam matahari ), dan selain itu juga matahari bergerak mengelilingi angkasa dengan kecepatan 240 Km per detik yang membutuhkan waktu 200 juta tahun untuk menyelesaikan satu kali putaran revolusi di dalam galaksi kita Milky Way.
Yasin[36]:40 40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
Penemuan modern menyatakan bahwa matahari dan bulan bergerak dengan orbit yang berbeda.Matahari bergerak dalam suatu solar sistem yang dinamakan solar apex, didalam constellasi hercules.
Bulan berputar pada dirinya (rotasi) dalam waktu melakukan edaran disekitar bumi, kira-kira 29 ½ hari untuk menunjukan bentuk aslinya.
7. MATAHARI AKAN BERAKHIR Sinar matahari terbentuk karena adanya reaksi kimia yang sudah terjadi sekitar 4½ milyar tahun yang lalu. Pada waktu ini kita ketahui bahwa matahari dikenal sebagai bintang yang merubah atom hidrogen menjadi helium. Keadaan sekarang ini akan berlangsung selama 5½ milyar tahun yang menurut perkiraan para ahli akan mengalami tahap pertama ini. Setelah tahap pertama, seperti telah diamati oleh para ahli seperti bintang-bintang yang serupa, akan menyusul tahap kedua yang cirinya adalah selesainya perobahan hidrogen menjadi helium. Akibat ini adalah bahwa lapisan matahari yang diluar akan terbakar dan yang didalam akan menjadi dingin. Pada tahap akhir cahaya matahari akan berkurang dan kepadatannya akan bertambah. Hal ini dapat dilihat dari bintang-bintang dari tipe yang dinamakan : cebol-cebol putih. Dan sudah kita ketahui bahwa matahari beredar pada solar apex .
Yasin[36]:38 38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.
Kata mustaqarr berarti tempat dan waktu yang ditentukan. Ini berarti bahwa matahari bergerak pada tempat tertentu (solar apex) dan berada pada periode waktu tertentu yang berarti matahari akan berakhir. Pesan yang sama diulang didalam Al-Qur’an Ar-Ra’ad[13]:2, Fatir[35]:13,Az-Zumar[39]:5 dan Az-Zumar[39]:21.
tulisan Muhammad Zakir Naik & Maurice Buchale
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|