Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Topik - ibnu-sabil
Halaman: [1]
1
« pada: 25 Januari 2012, 22:41:51 »
Hmm...Menikah atau Kuliah Ya?
 Menikah di kala kuliah enak gak ya? Setelah capek, berkutat dengan buku-buku, 'killer'-nya dosen, tugas-tugas yang gak bosan menanti, tampang kita yang kucel banget, tapi saat di rumah bisa segar lagi lho. Kebayang, ada istri yang menanti, anak yang ribut cerita-cerita, lalu makan bareng, wah...uenak tenan!!! Tapi ada juga yang sebaliknya, nah lho! Udah capek di kampus, pulang-pulang ke rumah, rumah laksana kapal pecah, anak-anak pada berantem, nangis, wah...kaya' ginian sepet nih. Belum lagi saat tibanya masa ujian semester, wuaah, hiks...hiks...jadi ingin nangis. Perasaan, kok nikah malah jadi sengsara ya. Jadi idealnya gimana dong? Nyelesaikan kuliah dulu, baru menikah, atau sambil kuliah juga menikah. Ada lho yang berhasil, dalam artian 'berani menikah' dan prestasi tetap dapat diraih. Tapi ya...itu, ada pula yang sebaliknya. Gedubrak! Jadi bingung deh! Masalahnya cinta tak kenal waktu lho, ia hadir begitu saja, gak peduli dengan status kita sebagai mahasiswa. Ada pula contoh kasus lain, aktifis dakwah kampus, karena 'dipanas-panasin' ama sesama aktifis, berani menikah, prestasi kuliah pun bagus, namun futur di jalan dakwah. Lainnya, belum berani menikah dengan alasan menikah akan mengganggu kuliah dan aktifitas dakwah. Hmm...bingung ya. Duh...cinta...cinta, kok gak tau sih kalau saya masih kuliah! Nikoniko (smiles)
Ikhwah fillah yang disayang Allah Subhanahu wa Ta'ala... Masalah-masalah diatas bukan hanya terjadi pada antum saja lho, banyak banget kasus seperti ini. Karena itu dalam Islam kita kenal istilah Fiqih Muwazanah, atau fiqih untuk membuat pertimbangan-pertimbangan praktis. Atau kerennya sih, kaedah fiqih ini bisa untuk membuat pertimbangan-pertimbangan praktis. Misalnya nih, mana dulu yang penting sih antara menikah saat masih kuliah atau setelah selesai kuliah baru menikah. Atau lagi, berdakwah melalui cara menikah atau lebih mudah berdakwah dengan tidak menikah terlebih dahulu. Buat 'kalangan atas', kaidah fiqih ini sering digunakan juga di kalangan aktifis dakwah yang hendak menikah lagi (ta'addud atau poligami). Pertimbangan mereka sih memang udah beda, mereka mikirnya dengan alasan dakwah perlu menambah seseorang atau lebih gak ya, di samping seorang istri yang udah jadi pendampingnya. Nyambung gak? Kalau gak nyambung di-EGP-in aja, karena ini 'pembicaraan kalangan atas', lha 1 aja belum ada, udah bicara ta'addud. he...he... Wah...akhwat bisa sensitif nih! Kalem...kalem...Tausyiah ini baru membahas tentang menikah sambil kuliah kok, belum ta'addud-ta'addud-an. Ntar kalau masing-masing udah punya 1, baru deh. Glek! Terkait dengan masalah di atas, kita lihat yuk, bagaimana Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah (juz 2 hal. 12-15, Darul Fikri, tahun 1412 H/1992 M) menjelaskan tentang menikah ini. Dari buku tersebut, kita bisa membuat khulashah (rangkuman) dari pandangan ulama diatas, yaitu: 1. MENIKAH HUKUMNYA WAJIBArtinya, jika dilakukan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala ridho, dan pelakunya mendapatkan pahala, dan jika tidak dilakukan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala murka dan yang meninggalkannya mendapatkan dosa. Nah, kapan menikah menjadi perbuatan wajib? Yaitu, apabila memenuhi hal-hal berikut ini:- Dirinya telah memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.- Nafsu dan jiwanya telah menggelora.- Terancam atau khawatir terjerumus dalam perzinahan. 2. MENIKAH HUKUMNYA SUNNATBisa sunnat juga lho, artinya jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Menikah menjadi perbuatan sunnat, jika kondisinya adalah sebagai berikut:- Dirinya telah memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.- Nafsu dan jiwanya telah menggelora.- Tidak ada kekhawatiran dalam dirinya (atau merasa aman) dari perzinahan. 3. MENIKAH HUKUMNYA HARAMWuah...menikah kok hukumnya haram ya? Iya, yaitu jika kondisinya adalah: - Tidak memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.- Nafsu dan jiwanya sudah menggelora. Kalau emang kondisinya kaya' gini, maka yang mestinya dilakukan adalah hendaklah dia memperbanyak berpuasa dan menyiapkan diri untuk memiliki dua kemampuan di atas, serta menjaga kesucian dirinya. 4. MENIKAH HUKUMNYA MAKRUHMenikah juga ada yang makruh ya? Yup! Yaitu apabila kondisinya adalah:- Tidak memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.- Nafsu dan jiwanya sudah menggelora.- Pihak wanitanya menerima kondisi ini. 5. MENIKAH HUKUMNYA MUBAH ATAU JAIZ ATAU BOLEHMaksudnya, jika kondisi seseorang biasa-biasa saja, tidak ada kondisi yang mewajibkan atau mensunnatkan, dan tidak ada pula kondisi yang mengharamkan atau memakruhkan. Nah...sekarang udah tahu-kan, bahwa dalam fiqih Islam, hukum pernikahan ada yang wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Ini sesuai dengan keadaan yang bersangkutan lho, artinya tiap orang bisa beda-beda kan. Sekarang coba merenung deh, atau berdiri depan cermin, kira-kira yang di cermin itu pada posisi mana ya. Hmm...mikir-mikir! Kalau udah mikir, lalu kesimpulannya bahwa posisi sekarang adalah posisi kedua, maka menurut Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc ada 1 lagi pertimbangan yang harus dilakukan. Wuah...ribet banget sih mau nikah aja! Gak kok, menurut beliau pertimbangan apabila antum pada posisi kedua, yaitu apakah dengan menikah nanti, kuliah akan terganggu atau terhenti? Kalau menikah akan mengganggu kuliah, dalam artian gangguan serius seperti cuti, apalagi sampai terhenti, maka menikah saat sekarang ini tidaklah masuk kategori sunnat (kedua), namun sebaliknya, yaitu makruh (keempat). Karena menurut beliau lagi, menuntut ilmu hukumnya wajib, sementara menikah pada kondisi seperti diatas 'hanyalah' sunnat. Gimana kalau dalam perhitungan, menikah gak akan menjadi gangguan serius terhadap perkuliahan, bahkan akan menjadi faktor kesuksesan, maka menikah pada kondisi ini paling tidak hukumnya adalah sunnat, bahkan bisa menjadi wajib lho, wallahu a'lam. Termasuk dalam hal ini, jika udah mikir-mikir sebenarnya sih ada pada posisi makruh (keempat), namun ada akhwat yang mengajak menikah, ehm...ehm...bahkan akhwat itu ngasih jaminan untuk tidak mengganggu perkuliahan, malah mau bantu-bantu, iih...ureshii (senang banget), maka kondisi makruh bisa jadi sunnat. Sebab faktor yang memakruhkannya telah hilang dengan adanya jaminan itu. Namun lagi-lagi Ustadz Musyaffa menyarankan kepada para ikhwan untuk berpegang pada sifat rujulah (kejantanan), jadi bukan mengandalkan atau menyandarkan diri pada jaminan pihak akhwat. Bukan gak percaya pada jaminan akhwat lho, namun demi menjaga sifat rujulah tersebut. Iya dong, ikhwan itu kan calon 'qowwam'-nya akhwat dan jundi-jundinya di keluarga! Jadi tunjukkan tuh sifat rujulah! Kalau udah pada posisi sunnat, maka segera diskusikan dengan orang tua, agar ada tafahum dalam hal ini, jadi kamu puas orangtua pun qana'ah dengan keputusan menikah. Jadi buruan merenung, mikir...mikir...kalau udah pada posisi emang harus menikah, jangan 'mbulet' lho, pake' alasan sana-sini. Karena kalau sebenarnya udah dalam posisi sehat dan mampu, dan belum menikah maka kata Rasulullah SAW, "Ia adalah termasuk teman setan, atau mungkin termasuk golongan pendeta Nasrani, karena sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang." [HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah] Syeeerem kan! Makanya jangan pake 'mbulet-mbuletan!' Bukankah dengan menikah, mereka akan disejajarkan Rasulullah SAW dengan mujahid fii sabilillah yang dijanjikan akan mendapat pertolongannya! Karena ada tiga golongan yang menjadi keharusan Allah untuk membantu mereka; orang yang menikah untuk memelihara kesucian diri, budak yang hendak membayar kemerdekaan dirinya, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah. [HR Ahmad, Turmudzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah] Tuh...subhanallah ya, nunggu apa lagi! Kalau udah siap lahir bathin, ikrarkan cinta dengan menikah! Selamat berjuang akhi, jangan takut mengambil keputusan kalau udah siap (walaupun antum masih kuliah), karena akhwat lebih memilih para ikhwan yang berani mengajaknya menikah untuk bersama mengharapkan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta'ala, daripada yang suka 'mbulet-mbuletan!' Doa ana dan istri untuk kemudahan antum...
sumber : http://planetmuslim.blogspot.com/2012/01/hmmmenikah-atau-kuliah-ya.html Wallahu a'lam bi showab.
2
« pada: 24 Januari 2012, 22:52:15 »
Buat kamu yang lagi bete, rasanya emang nggak enak ati ye. Bawaannya uring-uringan mulu, kepala nyut-nyutan, hilang mood deh. Terus sebel juga pas ngeliat wajah-wajah yang kita nggak sukai. Phew, pokoknya kalo lagi bete rasanya hilang semangat tuh. Lemes! Mau ngapa-ngapain juga bawaannya males. Sobat muda muslim, kalo kita kena sindrombete, itu karena kita kehilangan sesuatu yang bisa bikin kita seneng ati. Mungkin perlu ditanyain sama diri kamu sendiri, kira-kira apa yang bikin kamu bete. Mungkin tentang teman yang marahan sama kamu. Bisa juga bejibunnya tugas-tugas sekolah yang kayaknya kagak ada abisnya. Suasana rumah yang berantakan; bukan cuma berantakan kondisi fisiknya, tapi juga amburadul suasana hati para penghuninya. Ortu bawaannya ma-rah-marah mulu, adik rewel aja. Pusing! Eh, bisa juga bikin bete kalo kamu nggak ada kegiatan di luar rumah. Ngadem di rumah mulu bisa bikin boring. Apalagi seharian nggak ada kawan yang nyapa. Wuih, dunia rasanya sempit bin sumpek, dan kita merasa satu-satunya penghuni yang jadi korban. Walah? Kegiatan kamu yang itu-itu aja dan bertemu dengan kawan-kawanmu yang tam-pangnya udah sering kita kenal adakalanya bisa bikin bete, lho. Tentu, jika kegiatan itu nggak bikin kamu merasa tertantang untuk membuatnya lebih seru dan dinamis. Sama bikin bosennya kalo ketemu temen-temen kita yang udah kita apal banget, tapi dengan kualitas pertemuan nggak meningkat. Setiap ketemu cuma ditanyain hal-hal yang formal doang. Nggak pernah basa-basi nanya kabar kamu; kondisi fisik dan mental, keluarga, dan juga tentang kegiatan dirimu hari ini, misalnya. Yup, gimana pun juga, kita butuh teman dan orang yang bisa memberikan warna dalam hidup kita supaya kita nggak cepet boring bin bete dalam ngejalanin hidup ini. Ada yang bisa memberikan sentuhan-sentuhan untuk pikiran dan perasan kita dengan beragam informasi en kegiatan yang menyenangkan. Tul nggak? Nah sobat muda muslim, jika kamu udah mulai merasa bete karena alasan-alasan tadi, dan mungkin juga alasan lainnya yang kebetulan belum sempat diungkap di sini, bolehlah coba untuk ikutan ngaji aja. Ngaji? Nggak salah neh? Bukankah malah tambah bikin bete tuh kegiatan? Ah, nggak usah ngambek en nepsong dulu deh. Mendingan cobain aja. Nggak rugi kok kalo kamu aktif ngaji. Malah bisa bikin enak ati. Karena kita dibimbing untuk ngerti tujuan hidup kita. Lagian, selama ini belum ada tuh anak ngaji yang bawaannya sutris melulu. Kalo pun ada, biasanya tuh bocah sulit nyetel dengan komunitas anak ngaji. Kenapa sulit nyetel? Bisa aja niat gabungnya nggak mantep. Jadi masih angin-anginan. Betul? Oke deh, mungkin ada yang bertanya, kenapa dengan ngaji bisa bikin nggak bete? Emang apa aja sih keuntungan kalo kita ngaji? Ini jawabannya: Mengajarkan makna hidup Sobat muda mus-lim, hidup dapat didefinisikan dari dua aspek. Per-tama, aspek bi-ologis dan kedua, aspek sosiologis. Dari aspek bio-logis, hidup (al hayah) seperti di-ungkapkan oleh Ghanim Abduh da-lam Naqdhul Isytirakiyah al-Marksiyah (Kritik terhadap Sosialis-Marxis) adalah sesuatu yang maujud (ada) dalam makhluk hidup (asy-syai'u al-qaa'im fi al- ka'ini al-hayyi). Dalam pengertian ini, hidup dipahami sebagai esensi alias intisari yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang membedakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu benda mati secara asli; kayak batu, maupun benda mati dalam arti benda yang sebelumnya berasal dari benda hidup, seperti kayu. Nah lho, moga kamu nggak bingung. Hehehe.. Hidup, dengan demikian, nampak dan eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti kebutuhan akan nutrisi, gerak, peka terhadap rangsangan, pertumbuhan, dan perkembang-biakan. Lawan dari hidup dalam pengertian biologis ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati karena tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah membujur kaku di kamar jenazah disebut telah mati, karena telah hilang darinya tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya. Nah, yang lagi baca ini, masih hidup kan? Gubrakzz..! Oya, kalo tadi secara biologis, sekarang berdasarkan sosiologis, yakni hidup berkaitan erat dengan segala perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Dengan pandangan yang demikian, hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Ketika manusia melakukan aktivitasnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain, berarti dia telah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Artinya, dia telah menjalani atau "mengisi" hidupnya. Pertanyaannya, untuk apa sih kita hidup? Kalo kita ngaji, nanti bakalan diajarkan tentang keberadaan kita di dunia ini. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dunia, dan akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini. Kalo ditanya begini, kamu jangan ngeles dengan ngasih jawaban kayak lagu lawas ini: "Jangan dita-nya, kemana aku pergi.." Hehehe (maksain banget nggak seh?) Sobat muda muslim, kayaknya kita kudu mulai serius mikirin soal hidup ini. Tapi juga nggak perlu tegang banget. Soal hidup ini, Allah Swt. berfirman: "Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." (QS al-Baqarah [2] : 21) Nah, kalo kita nggak ngaji atau ogah belajar, nggak bakalan tahu tentang makna hidup ini. Itu sebabnya, kalo kita udah tahu bahwa kita adalah makhluk Allah dan diminta untuk menyembah-Nya sekaligus bertakwa, maka dijamin kita nggak bakalan bete dalam hidup ini. Sesulit apapun kehidupan yang kita jalani, kita bakalan menikmatinya dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah. Insya Allah tidak akan pernah merasa bete. Memberikan ketenangan Suer, ini bukan sulap bukan sihir. Kalo kamu ikut ngaji, insya Allah hati jadi tenang. Kok bisa sih? Begini sobat, komunitas anak ngaji itu bisa membantu kita menghindari risiko-risiko gaul yang nggak sehat. Kalo kita gabung di sana, kita dianggap sebagai mitra dan akan saling ngingetin kalo kita berbuat lalai dan maksiat. Maklumlah manusia, meski udah tahu seluk-beluk dalil dan hukum syara', ada aja lupa en teledornya. Itu sebabnya, komunitas anak ngaji insya Allah akan memberikan bantuan pertama kalo kita berbuat salah. Mereka yang akan mengingatkan kita dan senantiasa menjalin persahabatan. Ikatan persahabatannya kuat karena dilandasi akidah islamiyah. Komunitas anak ngaji memungkinkan kita kagak nyeleweng dari ajaran Islam. Aktivitas seks bebas dijauhi, dengan narkoba nggak bakalan coba-coba, termasuk malu berbuat kriminal. Dalam komunitas ini, kamu pun bisa menjalin hubungan baik dengan guru agama, dengan kakak pembina pengajian, dengan teman sebaya, keluarga, bahkan dengan kawan yang bukan berasal dari sekolah kita. Kawan kita jadi banyak dan tentunya dipenuhi dengan semangat kebersamaan dalam Islam. Asyik bukan? Coba, gimana nggak tenang hidup ini. Menumbuhkan kreativitas Kalo udah kreatif, insya Allah nggak bakalan bete deh. Nah, dengan gabung di komunitas anak ngaji, kita bakalan bisa mengukur dan menilai peran apa yang bisa kita berikan untuk komunitas ini. Kita bisa ikut berpar-tisipasi dalam aktivitas-aktivitas penuh arti dan memainkan peran penting. Percaya atau tidak, sambil jalan kamu bakalan bisa ambil hik-mahnya. Salah satunya, bisa mempelajari dan mempraktikkan cara-cara menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan menentukan sasaran hidup. Bener lho, bergaul bersama dengan komunitas anak ngaji dan ikut serta dalam beragam kegiatan yang digelar, bikin kita bisa lebih kreatif mengatasi persoalan hidup. Maklumlah, yang namanya ngurus kegiatan itu berarti rela mencurahkan segala upaya kita untuk maju bersama. Di sinilah kreativitas akan tumbuh. Bahkan bisa lebih mendewasakan kita dalam bersikap. Nggak percaya? Ayo gabung dengan komunitas anak ngaji! Insys Allah nggak bakalan nyesel. Pasti! Memupuk jiwa sosial Boleh percaya boleh tidak. Tapi kali ini kamu kudu percaya. Hehehe.. maksa banget ya? Begini sobat, dengan ikutan ngaji dan punya club anak ngaji, jiwa sosial kamu pun bisa terpupuk dengan baik. Di antaranya, menguta-makan dan melayani orang lain. Islam mengajarkan untuk saling menolong dalam kebaikan. Menolong teman yang sedang dalam kesusahan adalah tanggung jawab kita dan itu perbuatan yang mulia. Keberadaan orang lain di sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu diper-hitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran kita, ya kita kudu peduli. Sabda Rasulullah saw.: "Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat." (HR Muslim) Nah, dengan terpupuknya jiwa sosial kita, insya Allah kita nggak bakalan lagi merasa bete kalo kita sedang dalam keadaan susah. Dengan menengok ke kalangan bawah, ternyata kita masih bisa makan dan minum dengan layak ketimbang mereka. Itu arti-nya, nggak adil kalo kita ma-sih bete dengan berkeluh kesah soal hidup. Bahkan se-baliknya, kita akan me-nolong mereka yang kondisinya lebih bu-ruk dari kita. Jadi, kalo kita nggak ngaji, mana tahu soal ini. Memantapkan stabilitas Sobat muda muslim, kalo kita ngaji dan bergabung dengan genk anak ngaji, bisa membuat hidup kita stabil. Harus kita akui bahwa se-panjang hidup kita, banyak hal bakal berubah. Kamu akan lulus sekolah, mungkin juga pergi meninggalkan rumah untuk kos di tempat kuliahmu nanti, atau mungkin bekerja. Belum lagi kalo terus berpindah-pindah tempat tinggal dan bekerja di lebih satu tempat, kita akan banyak menemukan yang serba baru. Kondisi seperti ini, seringkali bikin bete kan? Mungkin kudu memulai lagi dari awal untuk menata pergaulan dengan lingkungan sekitar. Butuh waktu yang nggak sebentar euy. Tapi yakinlah, kalo kamu gabung dengan komunitas anak ngaji, dan ikut kajian di sana, kamu bakalan nggak bete. Kenapa? Karena di mana pun kamu berada bakalan ketemu orang-orang yang menganut nilai-nilai yang sama dan berjuang untuk tujuan yang sama. Ini akan membuat kita punya motivasi yang tak ada habisnya sepanjang hidup kita. Di mana pun dan kapan pun. Insya Allah stabil, aman, dan terkendali. Oke deh, semoga beberapa keuntungan ngaji dan gabung dengan komunitas anak ngaji ini bisa membuatmu kagak bete lagi. Sebaliknya, kita songsong kehidupan masa depan yang lebih baik. Apalagi jika tujuan kita selama ngaji tercapai, yakni ingin melanjutkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Wuih, senengnya bisa ikutan ber-juang. Jadi, ngaji yuk! Heu.euh!
3
« pada: 24 Januari 2012, 09:35:34 »
Mata Ibuku Buta Sebelah  Aku mempunyai seorang ibu yang memiliki mata sebelah, Aku benci dia,,,,, Dia begitu memalukanku,,,,, Ia memasak untuk guru dan murid-murid, guna memenuhi semua kebutuhan keluargaku. Suatu hari saat aku disekolah, ibu mendatangiku dan mengucapkan salam kepadaku, aku begitu malu saat itu. Bagaimana dia bisa melakukan itu padaku didepan teman temanku, aku abaikan dia dan ku lemparkan pandangan benci padanya sambil berlari menjauhinya. Esok harinya teman- teman kelasku mengejekku dengan mengatakan, “Eee ibumu hanya punya satu mata ,,, ibumu buta sebelah,,,!!!!” Sepulang sekolah aku bertengkar hebat dengan ibuku, dan kukatakan padanya, “KALAU IBU HANYA MENJADI SUMBER BAHAN TERTAWAAN DAN OLOK OLOKAN TEMAN TEMAN, KENAPA SIH,, IBU TIDAK MATI SAJA…….  !!!!!” Ibuku tidak menjawab,, aku sama sekali tidak mau berfikir tentang apa yang telah aku katakan, karena aku sangat marah padanya dan malu karena mempunyai seorang ibu yang buta. Aku tak pedulikan apapun perasaan dia, aku ingin segera keluar dari rumah itu ,,,!!! Jadi aku belajar dengan keras agar aku dapat kesempatan belajar diluar negeri. Pada suatu ketika impian ku terwujud, kemudian aku menikah, kubeli rumah mempunyai anak, dan hidup bahagia. Suatu waktu ibuku datang untuk mengunjungiku, ia bertahun- tahun tidak bertemu aku, bahkan belum pernah bertemu dengan cucu- cucunya. Ketika ibu berdiri didepan pintu, anak -anakku menertawakannya. Aku berteriak kepadanya, “Betapa berani kau datang kerumahku, dan menakut -nakuti anakku, PERGI DARI SINI SEKARANG..!!!” Ibuku menjawab dengan perlahan, “Maaf, saya salah alamat, dan ia beranjak pergi” Suatu ketika ada undangan reuni dikirimkan kerumahku, jadi aku berbohong kepada istriku, dengan mengatakan bahwa aku ada tugas keluar kota. Usai reuni aku sempatkan mampir ke kampungku, untuk sekedar ingin tau, sesampainya didepan rumahku kulihat rumah begitu sepi kotor tak terurus. Salah seorang tetanggaku mengatakan bahwa ibuku telah meningal dunia, aku tak terharu ataupun meneteskan air mata, ,,,,!!! Tetanggaku menyerahkan surat dari ibuku untukku, “Anakku tersayang, pujaan hatiku, aku memikirkanmu sepanjang waktu, maafkan aku telah datang kerumahmu, dan telah membuat takut anak –anakmu. Aku sangat gembira ketika kudengar engkau akan datang ke reuni sekolahmu, tapi sayangnya aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur, untuk melihatmu, maafkan aku yang telah membuatmu malu ketika kita masih bersama. Ketahuilah anakku,,,,,,,,,,ketika kamu kecil, kamu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kamu kehilangan sebelah matamu, sebagai ibu aku tak bisa berdiam diri membiarkan mu tumbuh dengan satu mata saja, jadi kuberikan satu mataku kepadamu, aku sanggat bangga pada anakku yang telah memperlihatkan satu dunia baru untukku, ditempatku mata itu, bersama cintaku ibumu……….. Selamat jalan ibu maafkan aku yang telah membuat kau kecewa kini kusadar bahwa kau begitu berarti bagiku sumber : http://planetmuslim.blogspot.com/2012/01/mata-ibuku-buta-sebelah.html
4
« pada: 22 Januari 2012, 21:55:30 »
Dampak Negatif Jilbab gaul [/b] Bagi mereka yang merasa harus tampil modis dan trendi, tren kerudung gaul jadi semacam bentuk penyaluran dari seleranya. Maksudnya ingin mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang ‘in’ saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung saja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri. Penulis berusaha memaparkan diantara dampak negative jilbab gaul berikut diantaranya : 1. Merusak Citra Islam Sekaligus Pelakunya Selama ini banyak kalangan yang rancu dalam memahami hakikat jilbab yang sesungguhnya. Mereka menganggap bahwa dengan mengenakan sehelai kerudung yang diikat ke belakang dan dikombinasikan dengan kaos ketat plus celana panjang berarti telah berjilbab. Ini jelas pemahaman keliru dan sangat jauh dari misi disyari’atkannya jilbab itu sendiri. Apalah artinya penutup kepala jika lekuk-lekuk tubuhnya justru diperlihatkan? Bahkan kesan pertama yang muncul ialah bahwa perempuan itu memakai “jilbab” hanya main-main saja, bukan berangkat dari taat kepada Allah, namun tak lebih dari sekedar ingin tampil modis dan trendy. Karenanya, cara berjilbab yang salah kaprah seperti ini justru menimbulkan imej yang tidak baik terhadap muslimah “berjilbab”. Sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak dari muslimah berjilbab model tadi ternyata akhlaknya memprihatinkan. Mereka terlihat bebas bergaul dengan lawan jenis, bahkan sebagiannya sampai menjalin hubungan di luar nikah segala! Akibatnya, masyarakat memandang bahwa jilbab tidak ada artinya bagi jati diri seseorang, karena toh mereka sama saja kelakuannya dengan yang tidak berjilbab. 2. Proses Penanggalan Jilbab Kebakaran tak terjadi begitu saja namun bermula dari sulutan api. Demikian pula proses penanggalan jilbab. Diawali dari mengganti jilbab dengan kerudung tipis yang tembus pandang, kemudian melorot sedikit demi sedikit menampakkan rambut, leher dan seterusnya, atau mengganti longdress dengan pakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuh, atau rok dengan sobekan yang menyingkap betis, dan akhirnya wanita keluar rumah dengan rambut terurai, wewangian semerbak, dan pakaian seadanya (you can see). Seakan-akan ia mengatakan, “Aku ingin sama dengan laki-laki, tak boleh ada perbedaan diantara kita. Aku bebas berpakaian sesuai selera, keluar rumah semauku, dan pulang kapan saja. Aku bebas pergi sendirian karena aku wanita merdeka. Aku akan selalu mengikuti perkembangan zaman dan hidup seperti wanita lainnya. Mengapa harus dihalangi, dipersempit geraknya, dan ditutup-tutupi?” 3. Ikut membantu mereka dalam mensukseskan citra buruk jilbab syar’i. 4. ‘Jilbab Gaul’ Ketika Budaya Pop Mendefinisikan Nilai Agama[1] Sampai akhir dekade 80an, jilbab masih dipandang sebelah mata. Wanita berjilbab identik dengan kekolotan dan kekunoan. Siswa, mahasiswa atau dosen berjilbab identik dengan fundamentalisme yang diterjemahkan sebagai fanatisme radikal yang harus dicurigai atau dibabat habis. Sementara dalam dunia kerja, jilbab diidentikkan dengan subyektivitas yang tidak profesional, kinerja yang tidak produktif, dan performance yang tidak ‘menjual,’ sehingga wanita berjilbab dilarang masuk ke dalam lingkungan kerja, dan bila memutuskan berkarir kerap dihambat dengan alasan-alasan struktural. Kini, wanita berjilbab tak kurang jumlahnya dibandingkan, katakanlah, tahun 1970an ketika busana mini sedang in, dan kala jilbab atau kerudung dianggap norak serta kampungan. Sejumlah institusi belakangan secara terbuka memberikan tempat bagi mereka yang berkeinginan untuk berjilbab sembari berkiprah dalam dunia kerja maupun dalam menuntut ilmu. Banyak public figure, mulai dari artis, pejabat papan atas, dan pesohor lainnya mengenakan jilbab dan tak ragu lagi berbusana muslim dalam berbagai acara di ruang publik. Fenomena ini muncul seiring dengan kian banyaknya berbagai organisasi, komersial maupun non komersial, yang ramai-ramai melembagakan diri di bawah label institusi keislaman. Pemunculan lembaga-lembaga keuangan syariah, misalnya, menjadi salah satu contoh yang aktual. Berdasarkan gejala-gejala di atas, sepintas, bisa disimpulkan menguatnya spiritualitas Muslim. Tapi, apakah ini merupakan fenomena spiritualitas yang betul-betul Islami, atau sekadar berjubah Islami, itu masih tanda tanya besar dan harus benar-benar diperiksa sebelum disimpulkan dan disikapi serius. Pada momen-momen tertentu, seperti Ramadhan, media massa dan masyarakat memang secara serempak seakan bahu-membahu memunculkan sinergi spiritualitas yang luarbiasa. Tapi di kali lain, media dan masyarakat tidak kalah kompak dalam berkolaborasi untuk menghadirkan serta merayakan ‘Goyang Inul’ seheboh-hebohnya. Sebuah paradoks kita temukan di sini, dan ternyata, memang itulah fenomena khas yang telah diramalkan oleh para futurolog ketika abad Modern berlalu digantikan abad Posmodern. Sebuah masa ketika segala sesuatu bisa dijual dalam kerangka kapitalisme modern. Suatu kurun tatkala budaya pop menjadi kata kunci yang ada di balik semua ini. Hedonisme Itu Belum pernah sesungguhnya busana muslim menempati posisi terhormat seperti sekarang. Busana muslim menjadi satu trend fashion tersendiri. Ikatan Perancang Busana Muslim Indonesia (IPBMI) pun berdiri lewat launching yang gemebyar dan mengukuhkan eksistensi mereka dengan berpameran sepanjang tahun. Sejumlah butik busana Muslim muncul melabelkan harga dan pilihan yang konon ‘eksklusif’. Limited edition. Just for you. Kendati demikian, belum pernah juga terjadi suatu paradoks seperti yang kita alami sekarang ini. Busana Muslim menempati posisi terhormat, namun sekaligus juga menyeret orang memasuki konsumerisme khas kapitalisme yang gila-gilaan. Busana Muslim dapat ditemukan di Pasar Baru dengan harga murah. Namun, di sisi lain, Busana Muslim juga banyak diburu di butik—yang bekas, milik pesohor, artis, atau pejabat, bahkan laku dilelang—dengan harga belasan juta rupiah perpotong! Sikap zuhud yang menyertai spiritualisme Islami bertabrakan dengan gaya hidup mewah yang disimbolkan melalui konsumerisme. Spiritualisme di sini menjadi hedonisme, atau mungkin inilah gejala yang disebut Idi Subandy Ibrahim (2002) sebagai “spiritualisme konsumerisme”.[2] Apa yang sesungguhnya terjadi? Sederhana saja. Jika berurusan dengan istilah ‘konsumerisme,’ industri kapitalis pasti ada di belakang semua ini, lengkap dengan budaya pop sebagai kata kuncinya. Budaya pop memang memasuki segala hal dalam kehidupan kita, mengonsep pemikiran dan laku budaya masa kini. Termasuk pula mengonsep spiritualitas dan religiusitas manusia postmodern. Mengorupsinya, lantas memberinya corak ideologi konsumerisme kapitalisme era posmodern, ketika slogan yang berlaku adalah create your own—create your own CD, create your own market, create your own fashion.[3] Untuk urusan spiritualitas, gejala yang muncul adalah perayaan slogan create your own religion! Maka, ketika budaya pop diberi kesempatan mendefinisikan spiritualitas dan religiusitas manusia, muncullah “hedonisme spiritual”. Yaitu, gejala yang terjadi ketika “konsumsi spiritualitas” bertemu dengan “spiritualitas konsumsi.”[4] Hedonisme spiritualitas dicurigai mengorupsi spiritualitas dan religiusitas. Inilah yang terjadi tatkala kita melihat jilbab dipadukan dengan busana ketat hingga lekuk liku bentuk badan pemakainya terlihat jelas. Atau, melihat wanita berjilbab dengan pundak, leher, bahkan permukaan panggul pemakainya nongol tanpa sungkan. Banyak kebingungan tak terungkapkan muncul tatkala mode ber‘jilbab’ baru dipopulerkan-cara berkerudung yang hanya menutupi rambut (dengan anak rambut muncul sebagai pemanis), tapi membuka telinga dan leher. Atau, ketika jilbab dipadukan dengan rok panjang berbelahan sebetis ditambah blouse ketat sesiku. Sayangnya, kebingungan ini tidak diungkapkan, karena rasa pakewuh, dan ketakutan dianggap melanggar privasi orang lain. Pun tidak dibicarakan atau didiskusikan, karena kuatir dianggap comel dan diteriaki mind your own business! Pada gilirannya mode semacam ini ditiru di mana-mana, dan menjadi hal yang ‘biasa’ (kitapun ‘terbiasa’ melihatnya!). Inkonsistensinya dengan makna hakiki berjilbab pun lantas tidak kita pertanyakan kembali. Gen X Selain industri kapitalis, siapa sesungguhnya yang mengusung budaya macam ini? Jawabannya adalah komunitas budaya pop, yang secara sebarang dikukuhkan sebagai Generasi X (‘Gen X’). Sebagai suatu komunitas yang unik dan khas, Gen X memiliki karakteristik tersendiri. Tom Beaudoin, dalam bukunya “Virtual Faith”[5] menyebut serangkaian karakteristiknya, di antaranya adalah mistrust, sacred nature of experience, dan suffering.[6] Mistrust, ditandai dengan ketidakpercayaan GenXers yang mendalam terhadap institusi religius karena dianggap sudah terlalu banyak memanipulasi simbol-simbol kesalehan. Gen X lantas mengabaikan eksistensi institusi religius, lalu merumuskan spiritualitas mereka sendiri yang campur aduk. Campur aduk ini tidak hanya mengkombinasikan gagasan Ilahiah pelbagai agama (yang sesungguhnya punya perbedaan posisi ontologis dan epistemologis yang prinsipil). Tetapi juga mencampuradukkan simbol dan esensi. Pada gilirannya, muncullah gejala hiperrealitas, yaitu ketika imaji dipercaya lebih nyata ketimbang esensi. Dan semua itu kian tersuburkan manakala imaji dan simbol agamalah –bukan nilai esensial— yang menjadi way of life. Apa yang mereka lakukan, diungkap Beaudoin, “ … forever recombining and forming new spiritualities.” Sacred nature of experiece, memperlihatkan pemujaan Gen X terhadap pengalaman hidup dalam suatu konteks religius, serta memperlihatkan keterpesonaan mereka terhadap pengalaman pada berbagai aspek human and divine. Di sinilah kita perlu memeriksa bersama apa sesungguhnya makna religiusitas dan spiritualitas, dan dalam konteks macam apa apa religiusitas serta spiritualitas dimaknai oleh Gen X. Gen X, melalui pengalaman spiritual mereka, mempercayai kehadiran Yang Maha Kuasa dalam segala bentuknya. Pengalaman spiritual itu dirasakan ketika pada satu titik mereka mendapati atau mengalami peristiwa yang didefinisikan novelis-filosof Joostein Gardner lewat tokoh Sophie[7] “ … bagai setitik air di tengah samudera … suatu peristiwa kosmik.” Suatu peristiwa, ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang mencerminkan relasi antara manusia (dengan segala keterbatasannya) dengan entitas Ilahiah (dengan ketidakterbatasannya). Pengalaman spiritual memang memberikan pencerahan. Yang dikritik dari budaya pop adalah ketika budaya pop mereduksinya menjadi paket-paket siap saji secara instant. Padahal kita tahu, pencerahan semacam itu tidak datang seketika, bahkan bagi seorang Rasul terpilih sekalipun. Ketidaksabaran, impatient, memang menjadi ciri lain dari generasi pengusung budaya pop. Yang mengkhawatirkan pula, para penganut budaya pop tersebut menjadikan pengalaman spiritual paket instant itu sebagai formula dasar ‘agama baru’ yang dipuja-puja. Esensi agama sesungguhnya, tidak disentuh. Suffering, Gen X selalu merasa pihaknya yang paling menderita. Mereka merasa menderita ‘kekosongan’ jiwa di tengah gempuran teknologi digital yang tak henti memperbarui kecanggihannya. Mereka merasa menderita ‘kelelahan’ jiwa di tengah tuntutan pasar global dan desakan industri kapitalisme yang terus berkembang. Namun, alih-alih mencari suaka pada agama, mereka melarikannya pada pengalaman-pengalaman spiritual sesaat, instan, siap saji. Tidak semua GenXer memenuhi karakteristik di atas. Namun, tidak sedikit pula yang mengabaikan akar masa lalu dan menciptakan entitas hibrid guna memuaskan selera mereka untuk self exploitation dan self individualism. Menurut Carver Yu, President of China Graduate School of Theology, zaman kita ini memang merupakan “an age of narcisstic fabrication of self and reality.”[8] Sebuah kurun, di mana kita merajut sendiri narasi tentang diri dan realitas, dengan semangat narsis—semangat mendewakan diri. Situasi ini disuburkan oleh munculnya fenomena cyberspace. Cyberspace merupakan suatu lingkungan digital yang ideal untuk mengekspresikan diri. Teknologi digital memungkinkan kita untuk mendefinisikan segala sesuatu, termasuk mendefinisikan standar-standar religius sesuai dengan apa yang kita maui. Fenomena ‘jilbab gaul’ bisa jadi muncul dari sini. ‘Jilbab’ sebagai syariat agama dalam terminologi ‘gaul’ menabrak rambu-rambu perlindungan aurat dan didefinisikan sesuai kemauan sendiri. Pendefinisian ini merujuk pada trend fashion yang distandarisasi oleh pusat-pusat mode yang notabene tidak berbudaya Islami—mulai dari pusat mode formal seperti Milan, London, New York, sampai yang informal seperti layar MTV. Batasan aurat tidak dipertanyakan secara kritis, dan malah cenderung ditinggalkan. Ini menunjukkan betapa dalil-dalil agama telah distandarisasi kembali dalam kerangka budaya pop. Dan disinilah korupsi itu terjadi. Generasi Hibrid Budaya pop dan Gen X, dengan bantuan cyberspace dan kecanggihan teknologi digital, tiada lain juga merupakan manifestasi generasi hibrid dalam kehausan mereka untuk mengekspresikan diri. Konsekuensinya, sebuah fenomena kultural baru muncul : the age of hybrids.[9] Tak beda jauh dengan Gen X, Hybrid Kids adalah generasi yang mengeksploitasi selera menyangkut diri dan individualisme mereka. Dengan mudah mereka memilih gagasan-gagasan dan citra budaya pop dari sebuah katalog, menciptakan kelompok-kelompok sosial hybrid dan bentuk-bentuk hybrid dari entertainment in real-time di mana saja, kapan saja.[10] Jika Gen X, dari segi demografis, terdiri dari para dewasa kelahiran 60-an hingga 70-an, maka hybrid kids saat ini berusia antara 16 hingga 24 tahun. Generasi hibrid tumbuh bersama dengan merajalelanya terpaan media massa dan Internet. Mereka juga tumbuh dengan self-determination dan individualitas yang kuat, disetir oleh suatu kebutuhan konstan guna me-reinvent diri tanpa henti. Kebutuhan untuk merobek-robek sesuatu yang dinilai ‘ketinggalan zaman’ dan membangun ‘yang baru’ ini bahkan sampai pada taraf paranoia. Siklus macam ini mereka ciptakan tanpa henti, berulang setiap saat, dalam tempo yang juga sangat cepat, hingga yang terjadi adalah kanibalisasi ‘the old’, alih-alih substitusi yang elegan dan alamiah didasarkan pada kebutuhan. Generasi hybrid secara berkesinambungan diterpa oleh media massa dan produk-produk digital yang memungkinkan mereka mengkreasi apapun yang mereka inginkan. The age of hybrids sendiri lahir sebagai konsekuensi dari media massa dan the Net yang menawarkan ‘teater’ maya pada setiap orang ‘to glamorize themselves’.[11] Apa yang mereka promosikan adalah campuran antara spiritualisme Timur, New Age, humanisme, relativisme, dan gagasan-gagasan posmo sebagai hasil dari keberagaman, toleransi serta filosofi yang saling bertentangan yang membentuk sebuah lingkaran penuh di balik jubah cita-cita “ ... making the world a better place to live.”[12] Konsep hybridization adalah membuat orang merasa nyaman dengan munculnya pelbagai gagasan yang saling bertentangan di abad ini, manakala dunia menjadi a free marketplace of ideas. Caranya adalah dengan memulai sesuatu yang baru, betul-betul berbeda, dengan modus mengintegrasikan dan memadukan gagasan-gagasan untuk mengkonstruksi realitas kita sendiri. Faith Popcorn adalah julukan bagi gado-gado baru ini. “Spirituality and religion will become more self-defined. There will be a morphing of religious practices and denominations. In essence, people will mix and pour their own religious cocktail.”[13] Berdasarkan konsep ini, generasi hybrid lantas merumuskan hybrid spirituality[14] sesuai dengan identitas pribadi yang dimaui. Tentu saja, dalam kondisi masyarakat pluralis macam sekarang, adalah penting untuk menghormati gaya hidup setiap budaya. Kendati demikian, dalam dunia digital yang berputar cepat dengan hybrid, sangat sulit untuk membedakan yang maya dari yang nyata, fakta dari fiksi, kebenaran versus versi yang direkayasa, atau siapa yang harus dipercayai dan yang tidak bisa dipercaya. Manakala slogan yang berlaku adalah create your own reality, pada akhirnya orang jadi sulit membedakan mana aturan agama sesungguhnya, mana versi yang direkayasa untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Esensi dan simbol saling dipertukarkan secara bebas. Dalam kaitannya dengan fenomena ‘jilbab gaul’, kita bisa melihat bahwa jilbab pada akhirnya direduksi sekadar menjadi simbol kesalehan yang citranya direpresentasikan atau ‘dijual’ ke ruang publik untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Kesan itulah yang dikejar. Makna esensial ‘jilbab’ dan ‘hijab’ itu sendiri sama sekali tidak tersentuh. Autentik vs. Tidak Autentik Sebagai medium untuk mengekspresikan diri, tidak ada yang salah dengan budaya pop. Yang sulit diterima adalah manakala budaya pop digunakan semaunya untuk mendefinisikan spiritualitas dan religiusitas kita. Islam, sebagaimana agama lain, tidak pernah berada di wilayah abu-abu. Semua serba hitam putih. Masalahnya, generasi masa kini –Gen X-kah, atau The Hybrid Kids—dengan seenaknya memainkan artefak-artefak kesalehan dan mengeksploitasinya sekehendaknya. Korupsi spiritualitas semacam ini bukan kecemasan paranoid para konservatif Muslim. Masyarakat agama lain pun menghadapi permasalahan serupa. Pada tahun 2000, Stanley J. Grenz,[15] seorang rohaniwan liberal mencatat, 8 hingga 10 warga Kanada mengaku percaya pada Tuhan, 82% menilai dirinya “very spiritual,´ dan sekitar 50% melaporkan bahwa kehidupan mereka menjadi lebih spiritual dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kendati demikian, kurang dari 25% mengaku mendatangi gereja secara teratur. Survai atas para pelajar di kelas religius di University of San Fransisco juga memberikan hasil yang tak kurang mengagetkan: 80% mengklaim dirinya tidak religius, namun 80% menganggap dirinya tergolong spiritual. Tak heran jika Beaudoin lantas menyimpulkan bahwa generasi macam ini hanya mencomoti simbol-simbol, nilai, dan ritual dari berbagai tradisi agama dan mengkombinasikannya menjadi spiritualitas pribadi mereka: “They see this spirituality as being far removed from ‘religion’ which they frequently equate with a religious institutions.” Dae Ryeong Kim,[16] dalam berbagai artikelnya yang menyoroti fenomena budaya pop ‘that has gone religious’ menilai, “... spiritualitas tanpa religiusitas—tanpa faith adalah nonsense!” Lalu, dalam mencari pijakan, mana yang harus kita percayai? Bukankah kooptasi institusi keagamaan terhadap simbol keagamaan itu benar adanya, dan memang betul-betul terjadi? Ke mana kita berpijak ketika kepercayaan terhadap institusi agama menjadi bahan tertawaan sekaligus tindakan yang membahayakan keselamatan diri menuju akhirat? Jawabannya harus dikembalikan pada pertanyaan sejauh mana kita telah berjuang menelusuri ihwal keautentikan konsep yang diperkarakan. Ketika simbol dan tanda dimainkan menutupi esensi sesungguhnya, maka tidak bisa lain, yang harus dilakukan adalah mencari keautentikan. Pencarian keautentikan ini niscaya juga akan menangkal individualisme dan self-exploitation yang berlebihan. Seperti diungkapkan Lee (2000),[17] dalam pengertiannya yang paling umum, keautentikan individu berarti bahwa “Saya sebagai manusia haruslah menjadi diri sendiri, dan bukan menjadi orang lain. Saya tidak perlu mengikuti petunjuk luar soal perilaku etis dan kesuksesan, tapi cukuplah dibimbing oleh insting batiniah diri saya sendiri.” Lalu, bagaimana keautentikan dikaitkan dengan kebebasan individu? Sejauh mana individu diberi kemerdekaan untuk merumuskan dirinya sendiri? Dibimbing oleh insting batiniah sendiri ternyata bukan berarti bertindak sebebas-bebasnya. Lee lebih jauh berargumen bahwa mencari keautentikan berarti menelusuri apa yang ‘sebenarnya’ ketimbang apa yang tampak, yang fundamental ketimbang yang superfisial, yang asli ketimbang yang tambahan, yang benar ketimbang yang salah. Tindakan saya yang autentik, dengan demikian, haruslah mencerminkan diri saya, pilihan saya, kondisi saya, dan karena itu siapa saya ‘yang sebenarnya.’ Bukan saya yang saya ingin pikirkan, atau yang saya inginkan dari orang lain tentang diri saya (Lee, 2000 : 199). Jelas, keautentikan meniscayakan adanya suatu standar yang tegas. Pencarian pada keautentikan menargetkan seperangkat standar yang melampaui landasan penilaian yang telah ada sebelumnya, atau mengimplikasikan suatu kerangka rujukan di mana standar-standar itu sendiri dapat diterima atau ditolak. Kemungkinan penerimaan dan penolakan ini memperlihatkan bahwa toleransi yang dibebaskan seluas-luasnya dalam konsep budaya pop sesungguhnya berada dalam batas-batas tertentu. Suatu teori keautentikan niscaya memusatkan perhatian pada keunikan setiap individu. Teori itu mengunggulkan budaya sebagai kekuatan utama dalam membentuk manusia, tapi ia juga harus menunjukkan landasan bagi kemencukupan manusia dalam menjustifikasi keyakinan akan kemampuan manusia dalam membentuk kehidupan manusia di dunia ini. Azas inilah yang tidak boleh dilupakan, utamanya, yang berkaitan dengan landasan bagi kemencukupan itu.[18] Jilbab gaul bukan masalah mode atau trend baru. Gejala ini, juga fenomena sejenis, adalah ihwal perkara yang terjadi tatkala budaya pop dibiarkan mendefinisikan nilai-nilai esensial dalam Islam. Siapapun boleh berargumen, bahwa agama dan penafsirannya bersifat kontekstual. Namun, sampai kapanpun, dalil agama tidak akan pernah bisa dikompromikan dengan selera budaya pop. Agama, bagaimanapun, memang bukan tentang perasaan atau cerapan indera atau bahkan pengalaman. Melainkan, “ ... about having a standard by which to live by.”[19] Standar macam apa? Jawabannya adalah “A standard where we know emphatically who is in charge (GOD), what we believe and stand for, and what our purpose is in life ...”[20] [1] Tulisan dosen Santi Indra Astuti, S.Sos. Staf Pengajar Bidang Kajian Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Univ. Islam Bandung UNISBA. Dan Sudah dimuat di jurnalnya teman-teman IAIN 2003 [2] Ibrahim, Idy Subandy. Dunia Simbolik dan Gaya Hidup dalam Beragama, dalam Mediator Vol. 3, No. 1, Th. 2002. [3] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [4] Ibrahim, Idy Subandy. Dunia Simbolik dan Gaya Hidup dalam Beragama, dalam Mediator Vol. 3, No. 1, Th. 2002. [5] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [6] Karakteristik Gen X lain yang disinggung Tom Beaudoin adalah ambiguity, irreverence, heresy, hingga sensual sexuality. [7] Gardner, Joostein. 2000. Dunia Sophie. Mizan, Bandung. [8] Kim, Dae Ryeong. True Relevancy of Theology to Culture: Carver Yu. http://www.suite101.com/article.cfm/christian_gospel_culture/92943[9] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [10] Ellen Campbell, dari Bangs Reed Group yang mencermati persoalan dunia di masa depan mengungkapkan, hybridization adalah gejala khas posmodernisme yang menyatukan tiga konsep : hedonism, individualism, dan responsibility. Mantra kembar mereka adalah “What’s in it for me?” dan “Don’t trust anyone over 30’s…” [11] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [12] Ibid. [13] The Morphing of Religious Practices , 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [14] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [15] Kim, Dae Ryeong. The Spiritual Quest of Pop Culture Generation. http://www.suite101.com/article.cfm/christian_gospel_culture/85892[16] Pendapat Kim bisa dilihat pada artikel-artikelnya dalam situs http://www.suite101.com/article.cfm[17] Lee, Robert.D. Mencari Islam Autentik: Dari Nalar Puitis Iqbal hingga Nalar Kritis Arkoun. Mizan, Bandung, Feb 2000. [18] Apa sesungguhnya landasan bagi kemencukupan itu? Dalam Islam, segalanya sudah jelas ketika dalam Al Maidah ayat 48 Allah SWT. mewahyukan, “... dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...“ [19] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries. [20] Ibid.[/font][/size][/size] sumber : http://planetmuslim.blogspot.com/2011/11/bagi-mereka-yang-merasa-harus-tampil.html
5
« pada: 22 Januari 2012, 17:01:34 »
Jacques Chirac bikin ulah. Pasalnya, doi merestui lahirnya undang-undang larangan penggu-naan simbol-simbol keagamaan di sekolah negeri atau sarana umum dalam pidatonya pada tanggal 17 Desember 2003. Walhasil, kerudung dan jilbab, topi bundar khas Yahudi (yarmelke), dan tanda salib besar nggak boleh beredar di negeri sekular dengan jumlah penduduk muslim sekitar 5 juta orang ini. Malah doi mengatakan secara khusus kalo penggunaan jilbab merupakan bentuk agresi. “Mengenakan kerudung, apakah disengaja atau tidak, adalah merupakan jenis agresi yang sulit bagi kami untuk menerimanya,” cetus Chirac ketika berlangsung pertemuan dengan para mahasiswa di Pierre Mendes France School di ibukota Tunisia Sabtu (6/12/2003). ( Eramus-lim.com, 08/12/2003 ) Nggak heran kalo protes terhadap kebijakan Perancis ini mengalir deras bak air bah dari berbagai belahan dunia; mulai dari London, Paris, Lebanon, sampai Indonesia. Cuma masalahnya, apa iya jilbab itu cuma simbol doang seperti penilaian mereka? Atau ada udang di balik bakwan atas pelarangan resmi penggunaan jilbab yang lagi rame ini?
Benih kebencian kaum kufar Sobat muda muslim, tindakan diskrimi-nasi kaum kufar terhadap kaum Muslim sudah sering terjadi. Kali ini kasus pelarangan jilbab di beberapa negara sekular kembali menghiasi media massa. Meski banyak menuai protes, Perancis tetep keukeuh mengatakan negaranya kudu bebas dari simbol keagamaan macam jilbab. Padahal katanya mereka menjunjung tinggi kebebasan menjalankan ajaran agama bagi para pemeluknya. Weh, ini mah sama aja menjilat ludah sendiri. Iih..jijay deh. Tapi sayang, mereka antimalu. Itu sebabnya, pola standar ganda diberlakukan untuk mendiskriminasikan dan menjauhkan kaum Muslim dari ajaran Islam. Persis aturan kakak kelas pada saat OSPEK siswa baru. Pasal 1: Kakak kelas selalu benar. Pasal 2: jika kakak kelas berbuat kesalahan, lihatlah pasal 1! Untuk kasus jilbab, orang-orang kafir sampe bela-belain pake wewenang negara untuk melegalisasi larangan penggunaan jilbab. Seperti halnya Perancis, Presiden Jerman, Johannes Rau juga melarang guru Muslimah mengenakan jilbab saat mengajar (jangan-jangan mereka kebingungan juga bedain kerudung ama jilbab?). Oke deh, kita sebut saja pakaian muslimah. Di Belgia, Menteri Dalam Negeri Patrick Dewael menegaskan keinginannya untuk melarang kerudung dan jilbab serta simbol-simbol agama lainnya tampil di sekolah dan institusi-institusi milik pemerintah sebagai-mana hal itu diterapkan Perancis. ( Eramus-lim.com , 12/01/2004). Di Australia, salah seorang anggota parleman dari Partai Demokratik Kristen, Reverend Fred Nile mengusulkan pelarangan terhadap pemakaian penutup aurat dan jilbab bagi warga muslim di Aus-tralia, khususnya di New South Wales (21/11/2002) silam. Menurutnya, dengan pakaian itu bisa dimungkin-kan sebagai kedok para teroris menyimpan bahan peledak atau bom. ( Hidaya-tullah.com , 22/11/2002). Ini namanya paranoid atuh euy! Sementara di Singa-pura, PM Lee Hsien Loon —anak dari Lee Kuan Yew, pendiri Singapura Modern— mengatakan dalam harian Berita Harian Malay, edisi 1 Desember 2003, bahwa pelarangan memakai jilbab termasuk dalam upaya perukunan dan penyempur-naan kehidupan masyarakat di Singapura. ( Eramus-lim.com, 09/12/2003 ). Nggak cukup dengan kekuatan negara, pihak sekolah pun bikin larangan serupa. Seper-ti yang terjadi pada Lila dan Alma Levy yang diusir dari sekolah Henri Wallon yang berlokasi di daerah pinggiran utara Aubervilliers, Paris. Kebijakan itu diambil pihak sekolah dengan alasan kedua siswi berjilbab itu mengenakan pakaian “yang memamerkan ekstrimitas agama”. Muslimah itu bisa masuk mengikuti pelajaran di kelasnya, jika mereka mencopot hijabnya. ( Eramuslim.com , 26/09/2003). Sobat muda muslim, dari paparan fakta di atas, tentu kita sependapat dan tidak ragu dengan kebenaran filman Allah: “Tidak akan pernah ridha kepada engkau kaum Yahudi dan Nashrani hingga engkau mengikuti golongan (millah) mereka.” (QS al-Baqarah [2]: 120). Jilbab bukan semata simbol keagamaan Jacques Chirac boleh aja menganggap topi bundar Yahudi, atau tanda Salib sebagai simbol keagamaan yang bisa aja sembarangan dilepas. Tapi jilbab, nggak lah yauw! Dalam al-quran surat an-Nûr [24]: 31 dan Surat al-Ahzab [33]: 59 Allah telah memerin-tahkan dengan tegas, bahwa muslimah yang sudah aqil baligh (berakal sehat alias nggak gila dan sudah menstruasi) untuk mengenakan jilbab jika keluar rumah. Kewa-jibannya sama dengan perintah shalat lima waktu. Itu artinya, kalo nggak dikerjain, ya dosa. Sumpe lo! Kewajiban ini juga dikuatkan oleh penuturan Ummu ‘Athiyah : ”Rasulu-llah saw telah memerin-tahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik wanita tua, yang sedang haid, maupun perawan. Wanita yang sedang haid menjauh dari kerumunan orang yang shalat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum Muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah saw, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab. “Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.” Dari hadits ini ada 2 point pemahaman yang bisa diambil. Pertama , semua muslimah disunnahkan untuk menghadiri sholat Idhul Adha, tapi harus memakai jilbab. Ditegaskan bahwa jika ada yang tidak memiliki jilbab, maka temannya harus meminjamkannya. Berarti jilbab itu wajib dipakai ketika keluar rumah. Kedua , hadits di atas menyiratkan tentang jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian kesehariannya (yang biasa digunakan di dalam rumah). Karena ketika Ummu ‘Athiyah bertanya tentang seseorang yang tidak memiliki jilbab, tentu wanita tersebut bukan dalam keadaan telanjang, melainkan dalam keadaan memakai pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah yang tidak boleh dipakai untuk keluar rumah. Dan wanita yang tidak mempunyai jilbab harus meminjam kepada saudaranya. Jika saudaranya tidak bisa meminjamkannya, maka yang bersangkutan tidak boleh keluar rumah. Dari uraian hadits di atas, kita bisa simpulkan kalo jilbab itu bukan cuma simbol, melainkan kewajiban. Jadi nggak ada yang bisa nyuruh ngelepasin kalo lagi di luar rumah. Walaupun dilegalisasi UU Negara atau peraturan sekolah. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Setuju kan? Siip dah! Melengkapi pengertian khimar dan jilbab BTW, udah pada tahu kan seperti apa khimar dan jilbab yang syar'i itu? Bukannya kita meragukan, cuma kita takut masih ada yang keliru memahaminya. Soalnya ada yang memahami busana muslimah untuk di luar rumah itu asal menutup aurat. Pake kerudung yang dipadukan tangtop, kaos panjang plus celana jeans ketat. Kayak gitu mah pantasnya cuma di depan suami euy. Hehehe... Ada juga yang memadukan kerudungnya dengan baju atas panjang nan longgar, dan bagian bawah berupa rok panjang atau celana panjang longgar yang biasa disebut kulot. Kita nggak menyalahkan, cuma ada baiknya kita sama-sama mencari tahu definisi jilbab itu secara syar'i. Oke? Dalam kitab al-Mu'jam al-Wasith halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “ Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal mil-hafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian (rumah), seperti milhafah /baju terusan), atau “ al-Mula`ah tasytamilu biha al mar`ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita). Dari keterangan hadits yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah dan pengertian dalam kamus al-Mu'jam , ternyata yang maksud jilbab adalah kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah-mula`ah ) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Selain itu, jilbab juga harus terbuat dari kain yang tidak transparan dan tidak menampakkan lekuk tubuh. Adapun khimar , syariat telah mewajibkan kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan 3 lubang baju di dada. Semoga pengertian ini bisa menambah wawasan biar nggak misspersepsi . Maksud hati menutup aurat, ternyata belum sempurna. Sayang kan? Tunjukkin identitas kita! Bener sobat, kita kudu berani tunjukkin identitas kita sebagai muslim dan muslimah. Ngikutin aturan Allah dalam setiap perbuatan maupun omongan yang keluar dari mulut kita. Nggak usah ragu bin malu. Kita kudu takut ama Allah dalam menjalankan perintah manusia, jangan ngeper ama manusia dalam menjalankan perintah-Nya. Oke? Tata cara berpakaian seseorang menjadi salah satu identitas yang paling gampang diliat. Untuk yang satu ini, udah pasti seorang muslimah akan selalu menjaga kehormatannya dengan balutan busana yang menutup aurat nan sempurna. Di tengah hantaman badai trend fashion yang serba terbuka, full fresh body dan irit bahan, dia tetep PD mengenakan khimar dan jilbab di tempat-tempat umum seperti di sekolah, kampus, pasar, kantor, pabrik, di jalanan, de el el. Cemoohan, kata-kata sinis, atau pelecehan sering menghampiri sodari kita hanya karena mereka berjilbab. Bahkan sampai diskriminasi berkedok undang-undang negara dan peraturan sekolah. Nggak sedikit sodari kita yang tetep istiqomah harus mengalami PHK dari tempatnya bekerja, skorsing, termasuk pengusiran oleh pihak sekolah. Tapi jangan takut, Allah akan membayar mahal untuk keisti-qomahan mereka dan setiap muslimah yang mengikuti jejaknya. Sabda Nabi saw.: “Sesung-guhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,'Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka ?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” ( HR Abu Dawud, dengan sanad hasan ) Sobat muda muslim, mari kita sama-sama mengokohkan keistiqomahan kita dengan aturan Allah. Caranya? Bisa dimulai dengan mengkondisikan lingkungan sekitar kita. Bergaul dengan teman-teman yang mampu mengingat-kan kita saat lengah, memperdalam Islam melalui kajian rutin, ber- taqarrub ilallah dengan ibadah wajib dan sunnah, serta berdoa agar Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetep stay tune dengan aturan-Nya sampai ajal menjemput. Tak lupa juga untuk gencar berdakwah demi tegaknya khilafah yang akan melindungi Islam dan kaum Muslim di seluruh dunia dari makar musuh-musuh Islam. Oya, kini muslimah SMU kelas tiga diperbolehkan menggunakan foto berkerudung siswi SMU untuk dipajang di STTB yang sebelumnya sering jadi masalah. Kebolehan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 1177/C/PP/2002 yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidi. ( smu-net.com , 09/02/2004). Buat remaja muslimah, “Maju terus pan-tang mundur!” Serukan dengan lantang: “Islam agamaku, Jilbab identitasku!”sumber : http://planetmuslim.blogspot.com/2012/01/islam-agamaku-jilbab-indentitasku.html
6
« pada: 19 Januari 2012, 22:46:07 »
Ingin hati memeluk gunung, apa daya gunungnya meletus (he ... he... he...). Itulah pepatah yang tepat tuk ngegambarin cita-cita yang nggak kesampaian. Pengennya sih married as soon as possible, udah kebelet, tapi belum bisa terwujud segera (ihik ... ihik). Jadilah diri ini JLB alias jomblo lagi, bo!. Setiap tenda biru berkibar, janur kuning melengkung, atau surat undangan hadir di tangan lengkap dengan surat Ar-Rum ayat 21 yang jadi ciri khas undangan hikah, hati serasa perih. Bak luka tersiram air accu. Oh, kapankah cintaku akan terpaut? Sementara kawan-kawan seperjuangan telah mendahului. Ada yang istrinya sudah beradan dua, malah ada juga yang sudah beranak dua. Lebih parah lagi adik kelas pun tega 'menyalip' di tikungan (angkooot kali!). Jomblo itu terkadang memang pedih, kopral!. Emang, hidup ini emang lucu! Ada orang yang betah berjomblo ria, tapi nggak sedikit yang ingin buru-buru 'menutup karir' sebagai jomblo (kalau pesepakbola gantung sepatu, petenis gantung raket, kalo jomblo gantung apa ya? Masa' gantung diri?). Ada yang nyesel nikah muda, ada juga yang nyesel setelah menikah (maksudnya, kenapa nggak dari dulu..!). Yup, ada orang yang berbangga diri jika telah menikah di usia dini. Bercita-cita menikah itu bagus, karena disunahkan ama Nabi kita, Muhammad saw. Menyusun strategi juga harus, karena nikah juga perlu persiapan yang matang. Tapi bagaimana jika status jomblo masih terus melekat? Salah takdir? Haruskah menikmati kejombloan kita? Atau gimana, neh?
Tipe Jomblo Kalau mau dianalisa berdasarkan faktor kecenderungan menikah yang dikalibrasikan dengan variabel kemampuan dan probabilitas pernikahan (apa sih maksudnya?), spesies jomblo atau jombloers (maksudnya orang-orang yang ngejomblo, plural/jama’) terbagi menjadi dua macam:
1. The Real Jomblo alias jomblo sejati Nah, mereka yang termasuk ke dalam kelompok el real alias jomblo sejati, adalah mereka yang memang betah berjomblo ria. Nggak minat untuk married. Buat mereka; jomblo is the best! Mereka ngerasa jomblo itu layaknya profesi, kudu dijalankan dengan profesional dan bertanggung jawab. Pokoknya, kongkrit, kongkrit, kongkrit (he..he..he..). Malah sebagian dari spesies jomblo ini beranggapan kalau nikah itu udah nggak jaman, menghambat aktualisasi diri, dan ribet. Lebih cool jadi jomblo; asyik, nggak banyak pikiran juga nihil tanggungan. Ada beberapa sebab orang memilih jalan hidup sebagai jomblo sejati:
Karena Pernah Kecewa Si keling manis pemeran Catwoman, ]eng Halle Berry, dalam salah satu episode talk show Mbakyu Oprah Winfrey pernah bilang, "I would never ever marry again!". Kalimat itu ngeluncur dari bibir cakepnya dengan mantep. Lho, kok gitu, Jeng? Selidik punya selidik, ternyata doski pernah dikhianati suaminya (hiks...hiks). Suami Halle Berry memang tipe cowok calo. Penumpang dan angkot mana aja dia jadiin obyekan, yang penting setoran lancar. Gara-gara itu, si pendamping Pierce Brosnan dalam film James Bond Die Another Day ini kapok kawin lagi. Doi milih menjomblo. Padahal dia cakep, kaya dan populer. Ya, nggak sedikit cowok ataupun cewek yang menjalani hidup jadi pejomblo tangguh karena pernah dikecewakan calonnya. Ada yang ditinggal nikah setelah janjian mau kawin, ada yang doinya berselingkuh seperti Halle Berry tadi, dsb. Yang lebih parah, ada sebagian pejomblo yang akhirnya membenci pernikahan dan pasangan. "S'emua cowok sama aja, buaya!" pikir cewek. Kaum cowoknya juga berpikiran sama, "semua cewek sama aja, kadal!" Malah ada juga yang kemudian terobsesi untuk nyakitin hati semua cowok/cewek di dunia. Hmm, harusnya Halle Berry dan para jomblo tipe ini mengingat nasihat Bapak Basofi Sudirman, yang mantan Gubernur Jatim: Tidak semua laki-laki, bersalah padamu. Contohnya aku... Mencintaimu Tapi mengapa Engkau masih ragu Itu sih cuma lagu dangdut. Yang lebih pas (dan benar) adalah mengingat firman Allah Ta'ala: ولا يجرمنكم شنان قوم على ألا تعدلوا هو اقرب للتقوى "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terbadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. al-Maidah [5]: 8) Yup, biarpun puluhan gadis atau jejaka pernah menyakiti hatimu, percayalah love will find away! Masih banyak cowok/cewek yang baik, gitu deh!
Karena Frustrasi Gagal maning, gagal maning Son! Berkali-kali melamar, sebanyak itu juga ditolak. Yang akhwat, sekian kali berharap en berdoa, eh masih meleset juga. Kenapa juga belum ada arjuna yang tertambat di hati? Penantian dan usaha yang lama dan tidak (baca: belum) kunjung berhasil, emang bisa bikin hati jadi perih! Dipikir-pikir apa yang kurang coba; Wajah? Kurang ganteng. Uang? Kurang banyak. Bodi? Kurang yahud. Keciaaan deh lu! Salah berpikir, putus asalah jadinya. Akhirnya, karir jomblo sejati pun ditempuh. Goodbye mysweet dream! Selamat tinggal pernikahan. Masih untung nggak sampe gantung sepatu, eh gantung diri.
Karena doyan Jangan salah, banyak juga orang yang betah menjomblo karena ngerasa enak. Bebas keluyuran, nggak ada yang nunggu di rumah, dan bebas make uang sendiri. Kalau udah nikah? Terikat! Balik 'kandang' kudu tepat waktu, makan kudu di rumah, uang kudu bagi-bagi, dan yang paling menyakitkan...kagak bisa gonta-ganti pasangan. Yes, jomblo sejati macam ini memang pemuja syahwat. Mereka ogah bikin komitmen, kagak mau terikat ama orang lain. Mereka ogah kawin, takut kalo ternyata orang yang dikawin ternyata banyak kekurangannya. Udah kurang cakep, rese lagi. Hueecks! Simak aja gaya hidup para seleb lokal dan mancanegara. Pesepakbola asal negeri Spagheti, Christian Vieri misalnya, doyan gonta-ganti pacar. Doi yang ganteng ini enteng aja ganti teman kencan yang rata-rata model cantik nan segar itu. Hubungannya dengan Elisabetta Canalis, salah satu pacarnya yang paling bertahan lama, tarik ulur. Kadang putus, kadang nyambung. Gitu juga ama Francesco Coco, pemain asal Intermilan yang udah lama nggak kepake ini, doyan banget mainin cewek. Di biodatanya, pada kolom hobi tertulis women. Meski udah ketahuan hidung belang gitu, masih banyak aja cewek yang ngantri pada dua cowok bengal itu. Sejumlah seleb cewek juga setali tiga uang. Jenifer Lopez atau yang beken dengan nick name J-Lo, gitu juga. Setelah pacaran dengan rapper Puff Daddy, ganti Ben Afleck (malah udah tunangan) eh ganti ama cowok 'brondong' Justin Timberlake. Sementara itu diva pop Mariah Carey ngaku kalau ia sudah ditiduri 5 cowok. Yang paling sering gonta-ganti cowok adalah Madonna. Cewek berdarah Itali ini selain beken dengan lagu Material Girl, Like A Virgin en Die Another Day, juga kondang karena kebiasaan kencan bebas ama banyak lelaki, termasuk dengan pebasket bengal Dennis Rodman. Sekarang doi lagi anteng ama seorang cowok yang berprofesi sebagai sutradara asal Inggris, Guy Ritchie. Nah, sobat muda, jomblo tipe ini amat sangat nggak sehat. Mereka melakukannya karena dorongan hawa nafsu. Senang berzina. Amit-amit. Nabi Muhammad saw. pernah bilang: 'Wahai kaum muslimin, takutlah kamu akan akibat perbuatan zina, sebab di situ ada enam perkara (azab), yang tiga diberikan di dunia dan yang tiga lagi di akhirat; adapun yang tiga di dunia adalah hilangnya sinar di wajah, berkurang umurnya dan terus menerus dalam kefakiran; sedangkan tiga perkara di akhirat itu ialah mendapat kemurkaan Allah, siksa yang keras, dan azab neraka." (HR. Baihaqi) Dalam kitab Al Kabair dituliskan bahwa para pezina akan dimasukkan ke dalam lembah di neraka jahanam yang bernama Jabal Huzni. Isinya, sadis! Ular dan kalajengking, bo! Masing-masing hewan itu sebesar bagal dan mempunyai 70 penyengat yang berbisa. Lalu pezina itu disengatnya dan dihabiskan bisanya ke dalam tubunya. Sehingga selama 1000 tahun ia menderita sakit, dagingnya diserap dan nanah bercampur darah keluar dari farajnya. Wallahualam.
Karena abnormal Nah, kalangan ini menjomblo karena emang susah tertarik ama lawan jenis. Sebabnya karena mereka abnormal alias punya penyimpangan perilaku. Sebut aja kaum gay, lesbian, fedophi/y, dsb. Untuk kaum gay dan lesbian, kalaupun married ya dengan yang setipe lagi. Di beberapa negara pernikahan sejenis emang udah dilegalkan, contohnya Elton John dan mantan personil Boyzone, Stephen Gately yang udah nikah dengan cowok pilihan mereka. Hi.., udah jijay, dibenci agama pula!
Karena motif agama Beberapa agama emang nganjurin umatnya untuk ngga kawin. Tujuannya untuk melayani tuhan-tuhan mereka. Dalam agama Katolik, seorang pastor nggak nikah, dalam agama Budha para biksu juga begitu. Nah, dalam agarna Islam kaga' dikenal tuh yang namanya praktik kerahiban. Rasulullah saw. pernah bilang, "Tidak ada kerahiban dalam Islam. " Beliau juga pernah menegur sebagian orang yang berniat kaga' mau kawin. Dulu ada sahabat yang bernama Usman bin Madz'un ra. yang pengen mengebiri, tapi dia bertanya dulu pada Nabi. Jawab nabi, "Kebiri umatku adalah berpuasa. " Soal kerahiban ini dikatakan oleh Beliau: لكل نبي رهبانية هذه الأمة الجهاد في سبيل الله عزّوجل "Setiap nabi ada kerahiban, dan kerahiban umat in adalah jihad di jalan Allah Azza wa Jalla."(HR.Ahmad)
2. The Opportunity Jomblo (jomblo oportunis) Nah, sekarang kita kupas spesies jomblo jenis kedua. Kalo yang pertama adalah el real jomblo, alias jomblo sejati, yang kedua adalah jomblo oportunis. Sebabnya, mereka menjomblo karena memang keadaan. Maksudnya, keinginan menikah sudah ada tapi belum kesampaian. Jadi bukan karena emang niat hati pengen jadi jomblo. Makanya kita sebut mereka adalah jomblo oportunis. Bolehlah kita bilang mereka ini adalah jomblo jadi-jadian atau kajajaden (tapi bukan jurig wiwira atau mbaunkso). Pengikut jomblo jenis ini lebih banyak ketimbang jenis pertama. Baik sukarela ataupun kepaksa ama keadaan. Untuk memudahkan pembahasan, jomblo oportunis kita bagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu:
Jomblo oportunis amatir, mereka yang masuk level ini, disebut juga pemula alias beginner. Para jomblo yang masuk level ini adalah mereka yang baru saja akil baligh dan baru merasakan jatuh cinta. Mereka belum pernah menyatakan cinta apalagi ngajak married lawan jenisnya. Karena itu mereka masih jadi jomblo. LHA WONG belum pernah ngelamar atau menyatakan cinta sama lawan jenisnya, masih kinyis-kinyis alias bau kencur. Jomblo oportunis intermediate, mereka udah kebelet jatuh cinta, dan udah larak-lirik tapi belum ada yang ketarik. Baik yang diliriknya itu menampik atau keburu disamber orang. Kalah cepat, gitu deh! Jomblo oportunis level advance, kalo yang ini bukan sekedar ngelirik, tapi juga udah berani nawarin tender pcrnikahan (bikin jembatan, kale!). Sayang, beliau-beliau sering kalah tender. Entah company profile (profil perusahaan)-nya kurang meyakinkan atau kalah bonafit, atau mungkin kalah adu kemenyan sama saingan. Mereka akhirnya menjomblo sementara waktu, menunggu proyek berikutnya. Kita doakan semoga mereka menemukan pasangannya yang baik. Amiiin! Jomblo oportunis kelas veteran. Spesies ini adalah yang paling senior dibandingkan jenis lainnya. Yang ini menjomblo karena nyaris betah jadi jomblo. Bukan karena nggak ada penawaran, tapi karena merekanya udah enjoy hidup sorangan, se/f alone. Sekian akhwat disodorkan untuk jadi pasangan, masih juga ditolak. Emang sih, secara psikologis, pada cowok dan cewek yang berumur di atas 30-an, keinginan menikah itu justru berkurang. Nggak menggebu-gebu scperti waktu umur 20-an. Yang bahaya adalah jika mereka lalu tergoda untuk masuk ke dalam kelompok the real jomblo, alias milih menjomblo sampai tetes darah penghabisan (pahlawa..n, kali!). Menutup diri dari kemungkinan married. Andai itu yang terjadi, maka sudah menyalahi sunah Nabi. Kata Nabi, "Barangsiapa yang berpaling dari sunahku, maka bukanlah golonganku." Duh, para jomblo veteran, eling-eling, sadar deh. Segeralah menikah!
Menjomblo seumur-umur bukan saja nggak dibolehkan agama, tapi juga berbahaya. Yup, pergaulan masa kini yang serba hedonis, serba boleh, bisa bikin orang mabuk kepayang jatuh ke lembah maksiat. Apalagi kalau pcnampilan menunjang; udah keren, tajir, punya bo'il alias mobil, dan supel. Weleh-weleh, cewek mana yang kaga' bakal kepincut? Sudah gitu orang-orang juga nggak ambil pusing dengan gaul bebas. Ada istilah one night stand, kencan semalam. Biarin baru kenal tapi ngerasa cocok en siap nanggung resiko, bisa aje berbuat zina. Omongan orang kaga' lagi dipikirin, persis seperti kata Simon Le Ron dan gerombolan Duran-Durannya. dalam tembang lawas Save A Prayer. People called it one night stand But we can call it paradise Don't say a prayer for me now Save it till the morning after
Edun! Zina mah zina aja namanya, kagak usah diperhalus pake bahasa londo, ya mas!
Bila Menjomblo Normally, nggak ada orang yang betah menjomblo. Seorang tcman curhat berkali-kali karena gagal dalam bercinta (duile, kayak lagu dangdut aje). Berpasangan dan merajut cinta itu kan fitrahnya manusia. Apalagi kalo sudah diiming-imingi pahala, berkah, sakinah mawadah wa rahmah, wah hasrat pengen nikah jadi naik sampe ke jempol kaki, eh ubun-ubun. Belum lagi pandangan miring masyarakat terhadap jomblo juga belum ilang. Jomblo itu kesannya hidup nggak teratur, belum keliatan rasa tanggung jawabnya, dan kayaknya belum dewasa. Emang sih banyak penelitian yang menunjukkan kalo orang yang udah married itu lebih dewasa, hidupnya lebih teratur dan juga jadi lebih mapan dan bcrtanggung jawab. Adanya pandangan kaya' gini suka bikin hati para jomblo gelisah dan gundah gulana. (ihik.. .ihik). Khusus untuk para da'i, menjomblo itu bisa nurunin citra. Biarin dakwahnya oke, aktifitasnya tinggi, tsaqofahnya mantep, bahasa Arabnya ngalahin TKI, tapi kalo belum beristri/bersuami teteeep aja citranya kurang. Umat ngeliat si da'i itu belum afdol, karena belum ngedapetin separuh agama. Juga belum keliatan mampu mempraktikkan ajaran Islam. Coba aja, kalo da'i jomblo ngisi pengajian, selalu yang ditanya umat, "Udah nikah, Pak Ustadz?, atau "Udah punya anak berapa, Pak Ustadz", atau "Udah punya istri berapa, Pak?" (he...3x yang ini mah jarang ditanyain). Jarang umat bertanya, "Udah sampe kitab apa ngajinya, Pak?"' Ngaku aja para da'i, pertanyaan itu bisa bikin malu ati dan ngurangin rasa percaya diri, apalagi kalo jamaahnya bapak-bapak atau ibu-ibu. Rasa kesepian juga nggak bisa dibohongin. Begitu pulang kerja atau pulang ngaji nggak ada yang menyambut. Kalo pegel nggak ada yang mijitin, kalau sakit juga nggak ada yang ngusapin. Ya, kayak lagu dangdut:
Makan, makan sendiri Cuci baju sendiri Semuanya sendinii
Suer, saya nggak ada maksud untuk menambah kesedihan pembaca yang masih menjomblo. Saya turut bersimpati dan berduka cita atas status jomblo yang masih melekat pada diri pembaca semua. Bagaimanapun juga jomblo adalah mahluk Allah yang harus disayangi dan didoakan, tapi mohon jangan dilestarikan.
High Quality Jomblo Memang menjomblo tidak Iebih baik dari menikah. Cos, menikah itu pahalanya besar dan banyak mendapat pujian dari Allah dan RasulNya. Tetapi menjomblo bukanlah perbuatan dosa, yakni karena memang belum berjodoh. Asalkan bukan karena pilihan gaya hidup. Para jomblo jangan merasa kecil hati dengan status yang sekarang melekat. Menjadi jomblo bukanlah sebuah aib apalagi kutukan. Asal tidak diniatkan, jomblo bukanlah kejahatan. Nggak ada dosa yang kita tanggung dengan jadi jomblo. So, wake up guys! Don't be shy being jomblo! Jadikan momen kesendirian ini sebagai sarana perbaikan diri. Seperti prinsip pengusaha tangguh, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kalau belum ketemu jodoh itu masalah waktu aje. Bukan cuma khilafah yang nunggu waktu, married also is a matter of time. Nah, saat-saat menjomblo ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri. Jadilah jomblo berkualitas tinggi (baca: high quality jomblo). Jomblo yang membawa kebaikan buat diri sendiri dan orang lain kelak. Jomblo yang bisa ngurus diri sendiri dan nggak bikin susah orang lain. Dalam kitab Ihya 'Ulumuddin, Imam al-Ghazali mencantumkan sebuah hadits yang berbunyi, "Manusia yang paling utama adalah orang beriman yang berilmu; jika dibutuhkan ia memberi manfaat, jika dibiarkan sendiri ia bisa mengurus dirinya.". Yup, ini kudu dimiliki para jomblo. Kalau menikah mereka siap, kalau masih bersolo karir juga oke-oke aja. Ada beberapa langkah yang bisa diambil supaya kita menjadi high quality jomblo, yakni:
1. Tegakkan kepala, terima kenyataan "Orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tapi orang yang mampu menahan dirinya ketika (akan) marah " itulah kata-kata sakti Nabi saw. Jangan marah dan terhina saat kita ditinggal nikah oleh teman-teman kita, atau malah adik kelas kita. Itu adalah kenyataan. Kita mau nangis tujuh hari tujuh malam, sampe terkuras air mata, tak akan mengubah takdir Allah. Jadi, terimalah kenyataan. Firman Allah Ta'ala: ما أصاب من مصيبة في الارض ولا انفسكم الا فى كتاب من قبل أن نبرأها انّ ذلك على الله يسير "Tiada sualu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. " (QS. al-Hadid [57]: 22) Begitu juga jangan marah atau terluka seandainya yang menikah adalah orang yang kita kasihi, akhwat/ikhwan yang kita harapkan jadi pendamping hidup. Meski sakit hati itu terasa, tapi bersabar adalah lebih mulia. Dan, itu adalah bagian dari ujian kchidupan. Firman Allah: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun" Maka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang jang mendapat petunjuk." (QS. al-Baqarah [2]: 155-157) Ingat, belum tentu orang yang kita duga cocok jadi suami/istri sebenarnya baik untuk kita. Seperti kata judul sinetron, itu semua rahasia Ilahi. Kalaupun memang orang itu nanti bakal berjodoh dengan kita, maka pasang prinsip: kutunggu jandamu/ dudamu!
2. Jadikan Masa Jomblo Sebagai Golden Moment Kesepian memang musuh yang menyakitkan, tapi jadikanlah momen itu sebagai peluang emas untuk meningkatkan kualitas diri. Ada beberapa hal yang berharga di saat Jomblo: Punya banyak kesempatan. Ingat bro en sis, menjomblo berarti minus tanggungan. Belum ada suami/istri yang kudu diurus, juga belum ada anak yang harus dibeliin susu atau dikasih ASI. Belum ada orang yang 'ngerecokin' kegiatan kita. So, optimalkan saat-saat menjomblo untuk banyak berkarya. Yang masih kuliah nggak ada alasan sibuk ngurus keluarga sehingga kuliah berantakan. Pokoknya, kejar IPK ideal (sekaligus biar nambah bargaining power dengan calon mertua). Bagi yang udah kerja bekerjalah dengan optimal. Syukur-syukur bisa dapet posisi yang ideal dan income yang layak. Jomblo adalah waktu luang. Buat para gadis, waktu masih ngejomblo nggak bakal deh bangun malem gantiin popok bayi, atau kudu bangun pagi bikin kopi tubruk buat suami. Buat para jejaka, waktu ngejomblo itu berarti nggak ada cerita anter-jemput istri ke pasar atau ke pengajian, atau nganter anak sekolah. Menjomblo menciptakan banyak waktu luang. Nah, manfaatin betul saat-saat menjomblo itu dengan kegiatan yang posfitif. Perbanyak ilmu. Saat menjomblo, punya banyak waktu luang dan kesempatan. So, cari ilmu sebanyak mungkin en setinggi-tingginya. Nggak ada deh cerita ngejomblo itu berarti bengong, ngelamun atau maen-maen. Uber deh ilmu ke mana aja. Mau nyantri atau nguber titel, terbuka lebar di saat masih menjomblo. Perbanyak aktifitas. Agak susah buat orang yang udah nikah untuk terjun dalam banyak kegiatan. Nah, kesempatan itu ada di tangan para jomblo. Dakwah masih luas terbentang, maka ayunkan tangan dan kakimu untuk berdakwah. Para jomblo bisa aktif dalam banyak organisasi, aktifitas dan olah raga. Kalau udah nikah, aduh banyak keterbatasan. Yang ibu-ibu mau dakwah berhari-hari keluar rumah, inget dong ada anak dan suami. Bukannya kedudukan wanita adalah ibu dan pcngatur rumah tangga, jeng? Yang bapak-bapak, terbatasi juga dengan nafkah dan kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Semua kewajiban itu kan nggak bisa ditinggal begitu aja. Oleh karenanya, mumpung masih lajang, manfaatkan betul untuk memperbanyak amal. Perbanyak ibadah. Mumpung masih lajang, raih ibadah sebanyak-banyaknya. Bukan berarti kalo udah nikah itu kudu berhenti. But, bicara soal peluang, para jomblo amat besar kesempatannya. Misal puasa sunah, buat kaum wanita yang sudah nikah harus minta izin pada suaminya. Untuk bangun malam mengerjakan tahajud terkadang udah lelah seharian kerja mengurus anak atau para bapak cape' kerja di kantor. Ada juga para bapak yang harus kerja malam sehingga kesulitan mengerjakan qiyamul lail. Nah, para jomblo punya kesempatan besar untuk itu. Jadikan Sebagai Masa Penggodogan Diri. Kaya' acara idol-idol-an, masa ngejomblo pun sebaiknya dijadiin sebagai masa 'karantina'. Maksudnya selama masih ngejomblo, bina diri dengan ilmu sebanyak mungkin. Baik yang berhubungan ama urusan pernikahan ataupun ilmu-ilmu umum lainnya. Untuk soal pernikahan, para jomblo bisa banyak bclajar dari para ortu, seniornya atau orang-orang yang udah menikah. Baik untuk urusan syariat ataupun masalah teknis, soal menyenangkan suami/istri, masak, beres-beres rumah, ngatur keuangan, dsb. Jangan dikira enteng, itu semua butuh perhatian khusus. Nah, daripada entar kebingungan, mendingan selagi jomblo serap ilmu deh sebanyak-banyaknya. Ingat kata ulama, al ilmu imam al-ama/, ilmu itu imamnya amal. Nggak mungkin deh orang bisa beramal dengan sempurna kalau nggak dituntun ama ilmu. Nikah itu nggak cukup modal semangat atau cinta. tapi juga pcrlu kesiapan mental dan skill alias kemampuan yang memadai. Biar nggak kaget. Tetap cool. Nggak sedikit jomblo yang kepengen nikah gara-gara ngeliat sohibnya nikah, atau dipanas-panasin temen. "Katanya pejantan tangguh, kok masih ngejomblo!" Gitu deh kata teman-teman. Karena nggak mau dicap 'bulukan', KODIM (Kolot Di Imah -tua di rumah), atau disebut DJ (Dijamin Jomblo) akhirnya grasak-grusuk, pengen buru-buru kawin. Kata Nabi Muhammad saw. tergesa-gesa itu adalah perbuatan syetan. Emang sih, nikah termasuk perbuatan 'buru-buru' yang disunahkan, but itu artinya kudu disegerakan bagi yang sudah mampu. Buat yang belum mampu hukumnya adalah makruh bahkan jatuh haram kalau nggak bisa menafkahi keluarga. Maka biarkan aja orang manas-manasin kita, kita mah kudu cool. Tenang aje. Kara sebuah iklan rokok, "Kalo gue adem kenapa elu yang panas?" Begitu juga soal nikah, kudu diperhitungkan dengan masak, niat yang benar, dan pastinya minta petunjuk kepada Allah. Bukan karena dipanas-panasin orang. Salah-salah, karena pengen buru-buru nikah akhirnya nikah sama siapa aja. Nah, jadi nggak bener deh. Jaga Imej. Ini penting. Seorang jomblo yang berkualitas tinggi adalah yang bertakwa sama Allah Swt. Dia ngejaga sikap dan kesucian diri, ogah menghinakan diri dengan perbuatan yang haram. Firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang jang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam bal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. al-Mukminun [23]: 5-7) Juga flrmanNya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalab suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. "(QS. al-Isra' [17]: 32) Perbuatan zina itu dekat banget sama Anak Adam, alias manusia. Sampai-sampai Rasulullah saw. bersabda: "Te/ah ditetapkan atas Anak Adam nasibnya dari zina, akan bertemu dalam hidupnya dan tidak bisa menghindar. Zina mata adalah memandang, zina telinga adalab mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, kaki adalah berjalan, zinanya hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kemaluannya atau didustakannya. "(HR. Muslim). Jangankan yang jomblo, yang udah nikah aja susah banget menjaga apa yang dikatakan Nabi di atas. Mulai mata, telinga, tangan, dan kaki susah diajak kompak ama keimanan. Butuh perjuangan, bo! So, buat para jombloers, jagalah pandangan. Jangan mentang-mentang masih sorangan (sendiri) lalu mata jelalatan. Biasanya hal yang begini dilakukan kalo ada pesta walimahan, tabligh akbar, demonstrasi (masyirah, ya?), pengajian bareng, dsb. Para ikhwan suka tergoda untuk melakukan 'perburuan jilbab'. Larak-lirik mengamati para akhwat yang mondar-mandir kayak setrikaan. Akhwat juga sama sih, meski malu-malu tapi matanya suka nggak tahan untuk nggak 'berburu jenggot'. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya: yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya." (QS. an-Nur [24]: 30-31) Cari Dukungan. Kesendirian sering bikin hati jadi pedih. Apalagi bila teman-teman 'senasib' dan 'seperjuangan', maksudnya sama-sama ngejomblo satu persatu meninggalkan kita. Mereka telah menemukan pasangannya masing-masing, membangun biduk rumah tangga, dan pastinya jadi sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Tinggallah diri ini sendiri menatap album kenangan saat bersama dalam kejombloan. Kalau dulu bisa tertawa bareng, sekarang mereka juga tertawa bareng tapi bukan dengan kita, melainkan dengan orang yang mereka cintai. Hmm, daripada larut dalam kesedihan, carilah temen-temen yang selalu mendukung kita. Insya Allah, masih banyak kok, orang-orang yang bisa berbagi perasaan sama kita dan jadi teman curhat. Jangan cari temen yang kerjanya hanya menambah kesedihan sebagai jomblo. Cari temen yang bisa membuat hidup tetap hidup. Jangan lupa, orang yang paling kuat bisa ngedukung kita adalah ortu. Sering-sering deh curhat ama ortu. Sekalian juga belajar membina rumah tangga. Jangan pernah menyepelekan pengalaman ortu. Mentang-mentang ortu kita kagak halaqah lalu dianggap nggak ngerti apa-apa. Mereka punya pengalaman yang lebih banyak daripada kita. Insya Allah, dukungan ortu itu besar artinya buat membentuk pribadi jomblo berkualitas tinggi Jangan Ngebayangin Mantan Inceran. Suka ada orang yang berprinsip kayak lagunya KLA Project; Tak Bisa Ke Lain Hati. Padahal orang yang diidam-idamkan udah memilih hati yang lain. Hmm, akhirnya doski jadi tersiksa sendiri. Mau ngapa-ngapain aja selalu membayangkan mantan idamannya. Emang sih ditinggal kawin orang yang kita cintai itu menyedihkan. Boleh aja kita bersedih, tapi jangan kelamaan. Apalagi sampe lupa makan en lupa minum, rugi bo! Kita sedih mikirin dia, dia sendiri belum tentu mikirin kita. Udah deh, buat apa berharap-harap pada orang yang udah bahagia ama orang lain. Kecuali buat kamu yang akhwat yang emang siap dipoligami ama cowok yang udah jadi suami orang. Jadi bini kedua. Kalau siap ya silakan aja, tapi jangan sampai deh kejadian kayak cinta segitiganya Nia Daniati - Farhat Abbas - Ani Mulyani. Two thumbs up! Acungan dua jempol deh buat muslimah yang siap berpoligami ria, paling banyak juga berpoliklinik. Jangan Ngerasa Tersisib. Karena udah kelamaan ngejomblo, suka muncul perasaan tersisih. Apalagi kalo temen-temen kerja atau pengajian udah nikah semua. Wah, serasa jadi mahluk asing. Kayak lagunya Iron Maiden, stranger in the strangerland. Akhirnya kita sering jadi minder dan suka salah bersikap. Parahnya, temen-temen yang udah nikah hobi banget ngeledekin kita yang masih ngejomblo. Mungkin maksudnya bercanda, tapi seringkali juga kelewatan jadi nyinggung perasaan. Kagak ngerti apa kalo awak ini menjomblo karena keadaan, bukan pilihan. Tenang bro en sis, tumbuhkan percaya diri kalo pejomblo juga bisa hidup sehat dan baik. Jadi jomblo itu ajang menelaah kemandirian kita. Bahwa hidup kita nggak bergantung sama orang lain. Dengan begitu kita bakal jadi jomblo berkualitas tinggi. Jangan Ngegoda Diri Sendiri. Manusia itu kan punya naluri cinta dan seksual. Naluri itu kagak bakalan muncul kalo nggak 'dipanas-panasin' atawa digoda. Nah, buat para jomblo janganlah menggoda diri sendiri dengan hal-hal yang membangkitkan naluri tadi. Kalau sudah muncul kan repot en bingung sendiri. Jaga deh panca indera kita dari hal-hal yang bisa merangsang naluri kita. Insya Allah, kita bakal punya sifat iffah yang tinggi. Kasih 'makan' panca indera kita dengan makanan rohani. Mata dan lidah dengan zikir dan tilawah, telinga dengan taushiyah, maka hati bakalan tumaninah, jauh dari gelisah. Terbuka Untuk Cinta. Kayak lagunya grup rock lawas, Kansas, I'm ready for love. Yup, para jomblo harus siap untuk menerima cinta dari orang lain. Sikap menutup diri, atau bernostalgia dengan mantan harapan/inceran kita merugikan diri sendiri. Mendingan buka diri untuk menerima kehadiran orang lain. Sering kita bahas, kalau cinta itu nggak hanya selebar daun kelor. Luas banget. Di luar sana masih banyak orang baik-baik yang mau mencurahkan cintanya pada diri kita. So, open mind deh untuk menerima cinta orang lain. Jangan juga memasang standar seperti mantan inceran kita. Di dunia kagak ada yang namanya kembar identik, fisik ataupun mental. Tiap orang punya karakter masing-masing. Bisa jadi, cinta yang baru ini ternyata lebih indah dari angan-angan. Amin.
Oke para jomblo, moga-moga risalah kecil ini berarti banyak buat kamu. Being jomblo bukan dosa, aib apalagi kutukan. Itu adalah ujian dari Allah. So, ambil banyak pelajaran dari kesendirian kita. Dengan begitu kita bakal jadi high quality jomblo. Bukan jomblo yang 'kacangan' apalagi murahan. Dengan begitu kita bisa bilang kalau jadi jomblo itu nggak selamanya pedih, sersan.....
Halaman: [1]
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|