20 Juni 2013, 04:57:39
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Donasi untuk myQuran! "Donasi"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: Menghitung Hari Menuju SILAKBARNAS (Silaturrahim Akbar Nasional) - Pantai Depok, Jogja, 29-30 Juni | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Iman mempunyai lebih daripada enam puluh cabang. Ada pun malu adalah salah satu cabang iman." (Sahih Bukhari)

Perlihatkan Tulisan

Pesan | * Topik | Lampiran

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.

Topik - otong_lennon

Halaman: [1]
1
Hukum dan Dunia Politik / Partai Keadilan Sejahtera
« pada: 06 Juni 2012, 19:02:09 »
Testimoni mantan kader PKS (Arbania Fitriani): Perlunya warga Nahldiyin Tahu sejatinya PKS

Testimoni ini ditulis oleh seorang mantan kader PKS dari UI bernama Arbania Fitriani sebagai “note” pribadi di facebook. Testimoni ini, diposting di berbagai situs internet, di dalam face book Ulil.  Kami tidak setuju dengan Islam liberal, tetapi narasi ini penting dan tidak harus menutupi kebenaran. Majlis para masyayikh merasa penting untuk menampilkan testimoni ini, terlepas benar atau tidak. Tetapi paling tidak, dapat menjadi bahan pertimbangan lain agar orang-orang NU bisa membuka mata lebar-lebar tentang PKS, sebagaimana dituturkan oleh mantan orang dalamnya.

***

Pertama-tama, saya menuliskan pengalaman saya ini tidak untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan salah satu partai besar di Indonesia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman untuk menjadi bahan renungan para pembaca agar dapat lebih mengenal PKS dari dalam.

Tulisan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal PKS secara objektif, agar rakyat Indonesia mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih. Sayangnya, banyak masyarakat dan orang-orang di dalam tubuh PKS ini pun tidak menyadarinya.

Bagian tersebut akan saya jelaskan secara singkat di akhir cerita saya, dan sekarang saya ingin berbagi dulu kepada para pembaca mengenai sistem pengkaderan PKS yang sangat canggih dan sistematis sehingga dalam waktu singkat membuatnya menjadi partai besar.

Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari ‘am sirriyah sampai ke ‘am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS.

Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran, yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro’ah (MS), lingkaran ke dua yakni majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), dan lembaga kerohanian islam. Jenjangnya adalah mulai dari lembaga dakwah tingkat jurusan, fakultas, sampai ke universitas. Jika di universitas tersebut terdapat asrama dan punya kegiatan kemahasiswaan, maka di sana pun pasti ada struktur seperti yang telah saya terangkan.

Universitas biasanya akan berhubungan dengan PKS terkait perkembangan politik kampus maupun perkembangan politik nasional. Dari sanalah basis PKS dalam melakukan pergerakan-pergerak an politik dalam negeri atas nama mahasiswa baik itu yang berwujud demonstrasi ataupun pergerakan lainnya. Sistem pergerakan, pengkaderan, dan struktur lingkaran yang terjadi di dunia kampus sama persis dengan yang terjadi di tingkat nasional.

Kembali ke dalam struktur lingkaran PKS di kampus, orang-orang yang duduk di MS jumlahnya biasanya tidak banyak dan orang-orangnya adalah orang-orang yang terpilih. Kebanyakan yang menjadi anggota MS adalah mahasiswa yang memang sudah di kader sejak SMU. Tapi tidak banyak juga yang berhasil masuk ke dalam MS dari orang-orang yang telah dikader pada saat kuliah. Saya termasuk orang yang masuk ke dalam lingkaran MS yang baru di kader pada saat kuliah dan menduduki posisi sebagai mas’ulah di asrama UI sehingga saya punya akses langsung untuk berdiskusi dengan mas’ulah tingkat universitas. Dari sini juga saya akhirnya banyak tahu sistem dalam PKS meskipun saya pada tingkat fakultas hanya masuk sampai tingkat MB.

Dalam MS dan MB memiliki mas’ul (pemimpin untuk anggota ikhwan) dan mas’ulah (pemimpin untuk anggota akhwat). Masing-masing mas’ul (ah) ini membawahi MS secara keseluruhan dan ada juga mas’ul(ah) yang membawahi sayap-sayap dakwah yakni sayap tarbiyah (mengurusi pengkaderan khusus untuk ikhwah seperti pemetaan liqoat, materi liqoat, dll), sayap syiar (mengurusi syiar islam khususnya dalam lembaga kerohanian formal dan menjaring kader baru), dan sayap sosial & politik (mengurusi dakwah dalam bidang lembaga formal kampus yakni BEM dan MPM).

Di lingkaran ke dua adalah majelis besar, anggotanya adalah ikhwah yang sudah di kader juga dan tinggal menerima keputusan dari MS untuk dilaksanakan. Jadi, MS ini adalah tink-tank dari seluruh kegiatan yang terjadi di kampus. Apabila kader PKS duduk sebagai ketua BEM/Senat atau MPM/BPM, maka semua kegiatannya harus mendapat ijin dari MS dan memang biasanya berbagai agenda di BEM/Senat dan MPM/BPM ini dibuat oleh MS.

Bagaimana sistem pengkaderan PKS itu sendiri? Bagaimana PKS mengubah seorang menjadi kader yang militant? Jalan pertama adalah menguasai Senat, BEM, BPM, dan MPM. Apabila lembaga formal ini sudah dikuasai maka akan mudah untuk membuat kebijakan terutama pada masa penerimaan mahasiswa baru.

Saat orientasi Mahasiswa baru biasanya mereka akan dibentuk kelompok kecil (halaqah) dan ikhwah PKS akan berperan sebagai mentor. Kegiatan ini akan berlanjut rutin selama masa perkuliahan di mana halaqah ini akan berkumpul 1 minggu sekali. Dari sinilah biasanya akan terjaring orang-orang yang kemudian akan menjadi ikhwah militan, bahkan orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab dan sangat gaul bisa menjadi seorang akhwat yang sangat pemalu namun juga sangat militan.

Agenda utama kami adalah membentuk Manhaj Islamiyah di Indonesia menuju Daulah Islamiyah (mirip dengan sistem Khilafah Islamiyah dari HTI). Doktrin utama dalam sistem jamaah PKS yang juga menamakan dirinya sebagai jamaah Ikhwanul Muslimin ini adalah “nahnu du’at qobla kulli sya’I” dan “sami’na wa ata’na”. Dua doktrin inilah yang membuat kami semua menjadi orang yang sangat loyal dan militan. Setiap instruksi yang diberikan dari mas’ul(ah) ataupun murabbi(ah) kami akan kami pasti patuhi meskipun kami tidak benar-benar paham tujuannya. Seperti menyumbang, mengikuti demonstrasi, meskipun harus bolos kuliah, dll.

Selama saya aktif di pergerakan ini, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang berhenti menjadi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Dulu saya merasa kasihan dengan mereka, karena yang saya tahu – diberitahu oleh murabbi kami dan juga seringkali dibahas dalam taujih atau tausiyah (semacam kultum) – bahwa dalam jalan dakwah ini selalu akan ada orang-orang yang terjatuh di jalan dakwah, mereka adalah orang-orang futur (berbalik ke belakang).

Orang-orang ini biasanya kami label sebagai anggota “basah” (barisan sakit hati). Saya mempercayai semuanya sampai akhirnya saya pun merasa tidak cocok lagi untuk berada di sana dan memutuskan untuk keluar dari ADK padahal saya dulu sudah diproyeksikan sebagai ADK abadi (orang yang akan menjadi aktivis dakwah kampus selamanya dengan cara menjadi dosen atau karyawan tetap di kampus).

Ada beberapa alasan yang membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, antara lain:

1. Adanya ekslusivisme antara kami para ADK dengan orang-orang diluar ADK. Kami para ADK adalah orang-orang khos (orang khusus) dan mereka adalah adalah orang ’amah (orang umum). Orang khos adalah orang yang sudah mengikuti tarbiyah dan mengikuti liqo’at (semacam halaqah tapi lebih khusus lagi) dan orang ’amah adalah orang yang belum mengenal tarbiyah.

Para ikhwah, terutama para ADK, tidak akan mau menikah dengan ’amah karena mereka dapat membuat orang khos seperti kami menjadi future, bahkan bisa membuat kami terlempar dari jalan dakwah. Istilah khos dan a’amah ini membuat saya merasa tidak natural dan tidaknmanusiawi dalam menghadapi teman saya yang ’amah.

Saya diajarkan bahwa mereka adalah mad’u (objek dakwah) saya. Jika saya bisa menarik mereka ke dalam sistem kami apalagi bisa menjadi ADK, maka kami akan mendapat pahala yang sangat besar. Saya merasa menjadi berdagang dengan teman saya yang dulunya sebelum menjadi ADK adalah sahabat saya. Saya merasa tidak memanusiakan teman saya dan lebih memandang mereka sebagai objek dakwah.

2. Dalam liqo’at ataupun dauroh saya juga ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg, seperti bahwa saya harus lebih mengutamakan liqo’at daripada kepentingan orang tua dan keluarga saya. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa bila sudah ada panggilan liqo’at, mski orang tua saya sakit dan harus menjaganya, maka saya harus tetap datang liqo (entah mengapa selama beberapa tahun saya bisa menerima konsep yang kurang manusiawi ini).

Hal lain adalah saya tidak boleh mengikuti kajian di luar liqo saya, padahal setahu saya bahwa kebenaran itu tidak hanya milik liqo saya, masih banyak sekali kebenaran di luar sana. Bahkan buku bacaan pun diatur dimana ada banyak buku yang saya sangat berguna untuk menambah wawasan keislaman saya seperti buku yang mengajarkan tentang hakikat islam namun oleh murabbi saya dilarang. Untuk hal ini saya membangkang karena seandainya islam itu memang benar rahmatan lil alamin maka ilmunya pun pasti sangat luas dan tidak hanya monopoli orang-orang di PKS semata.

Dan hal yang paling mengusik saya adalah selama saya mengaji di liqo ataupun mengikuti taujih dan taushiyah dalam syuro ataupun dauroh-dauroh (training) saya merasa lebih banyak diajarkan tentang kebencian terhadap agama atau aliran lain seperti bagaimana kejamnya kaum nashoro (nasrani) yang membantai saudara kami di Poso, yahudi yang membantai saudara kami di Palestina, JIL yang memusuhi kami, NII yang sesat, teman-teman Salafi yang mengganggu kami, dst. Sampai-sampai, akibat begitu terinternalisasinya hal tersebut, ketika saya mengikuti tarbiyah universitas dan sedang makan siang, saya dan teman-teman menganggap yang sedang kami makan dan telan itu adalah orang-orang yahudi dan nashoro.

Doa-doa kami pun selalu secara khusus ketika qunut adalah untuk mujahid-mujahid di Palestina dan Afganistan (kadang saya berpikir kapan kita berdoa untuk pahlawan perjuangan di Indonesia yang telah menghadiahkan kemerdekaan terhadap kita). Sejujurnya saya lebih tersentuh dan bisa menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat seperti dalam surat Ar-Rahman yang menceritakan Cinta-Ilahi ketimbang surah seperti Al-Qiyamah yang menceritakan azabNya.

Kebencian sangat bertentangan dengan hati nurani saya karena saya sangat percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa rahmat Allah SWT lebih cepat dari murkaNya, yang artinya cinta Allah SWT seharusnya dapat menghapus kemarahanNya terhadap umat manusia. Inilah sebabnya mengapa di sini hati saya merasa sangat kering saat mengikuti tausiyah dan taujih yang senantiasa bercerita tentang peperangan dan kebencian.

3. Semua ganjalan-ganjalan yang saya rasakan akhirnya meledak ketika saya kemudian tahu dari sumber yang terpercaya dalam pemerintahan, juga dari petinggi PKS sendiri, tentang agenda yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan pastinya juga tidak diketahui oleh orang-orang se-level saya atau bahkan pun pengurus inti PKS.

Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia melalui invasi budaya Arab Saudi. Banyak sekali indikasi yang saya rasakan langsung pada saat menjadi ADK seperti upaya kami untuk menghalang-halangi acara seni, budaya, musik, dll. Hingga berbagai upaya kami agar bisa memboikot mata kuliah ilmu budaya dasar (IBD). Saya ingat dulu, karena saya begitu termakan doktrin bahwa mata kuliah IBD tidak berguna dan bisa melemahkan iman saya seringkali membolos kalau ada latihan menari sampai saya sempat dibenci teman-teman saya.

Kembali kepada agenda PKS ini sebagai perpanjangan tangan dari Kerajaan Saudi tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab bisa mencapai indonesia mengingat satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan habis pada tahun 2050 dan melalui jamaah haji.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber daya alam dan merupakan umat muslim terbesar di dunia. Bahkan jika seluruh umat muslim di timur tengah disatukan, umat muslim Indonesia masih jauh lebih banyak. Untuk itu, agar dapat bertahan secara ekonomi, maka Arab Saudi harus bisa merebut Indonesia dan cara yang paling jitu adalah melalui invasi kebudayaan.

Islam dibuat menjadi satu dengan kebudayaan Arab, sehingga budaya Arab akan dianggap Islam oleh masyarakat Indonesia yang relatif masih kurang terdidik dan secara emosional masih sangat fanatik terhadap agama.

Ketika kebudayaan lokal sudah bisa dihilangkan dan kebudayaan Arab yang disamarkan sebagai Islam dapat berkuasa, maka orang-orang akan menjadi begitu fanatik buta bahkan fundamentalis dan tidak bisa lagi mengapresiasi agama lain dan budaya lokal. Lalu, bila kebudayaan Nusantara sudah sampai dianggap musyrik atau bid’ah, maka saat itulah NKRI akan bubar. Orang-orang yang pulaunya dihuni oleh mayoritas non muslim atau yang masih memegang budaya lokal di indonesia akan meminta merdeka. Pulau-pulau di Indonesia akan terpecah belah dan pada saat itulah orang-orang ini akan bagi-bagi “kue”.

Peta rencanaya adalah bagian pulau di Indonesia yang mayoritas Islam akan dikuasai oleh Arab. Sedangkan daerah yang penduduknya mayoritas kristen akan dikuasai oleh Amerika. Lalu, daerah-daerha yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Buddha, Animisme, dll., akan dikuasai oleh Cina.

Tidak banyak orang PKS yang tahu soal ini, hanya segelintir saja yang memahaminya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk meraih simpati masyarakat. Sehingga berbagai produk kebijakan seperti Perda Syariat, UU APP, dll. yang rata-rata hanya sekedar mengurus masalah cara berpakaian semata akan dengan bangganya diterima oleh masyarakat muslim yang naif sebagai keberhasilan Islam. Masyarakat kita lupa bahwa sampai saat ini PKS belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi, trafficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita ketimbang sekedar mengatur cara orang dewasa berpakaian dan berperilaku.

Jangan terburu-buru apriori dan menganggap tulisan mengenai pengalaman saya ini adalah black campaign. Renungkan dengan hati nurani yang dalam. Tidak ada kepentingan saya selain hanya menyampaikan kebenaran.

Saya tahu resiko apa yang ada di hadapan saya dan siapa yang saya hadapi. Tapi saya lebih takut menjadi bagian dari orang yang zalim, karena tahu kebenaran, namun tidak bersuara. Rasa cinta saya bagi negeri yang sudah memberi saya kehidupan ini menutupi rasa takut saya. Saya yakin siapa yang berjalan dalam kebenaran maka kebenaran akan melindunginya.

Buat rekan saya, murabbi saya, sahabat-sahabat saya dulu sesama ikhwah, saya mencintai kalian semua dan akan terus mencintai kalian. Saya berharap, persaudaraan kita tetap terjalin karena bukanlah partai atau agama yang mempersaudarakan kita, tapi karena kita satu umat manusia, anak cucu Adam. Kalau bahasa teman saya, kita menjadi saudara karena kita menghirup udara yang sama, makanya kita disebut “sa-udara”.Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan renungan para jamaah “fesbukiyah” dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan membawa kapal Indonesia menuju masyarakat yang bahagia, makmur dan sentosa, yang memiliki jati diri dan menghargai kebudayaan nusantara. Wallahu A’lam Bis-Shawab Wallahul Musta’an.*** (Arbania Fitriani)


#copas dari facebook

2
Artikel / Rohmatan Lil'Alamiin ..
« pada: 01 Juni 2012, 04:32:03 »
Sesungguhnya memahami Islam itu tak sulit. Kata kuncinya adalah Rahmatan Lil Alamiin. Menjadi rahmat/keberkahan bagi semesta. That's it.

Kearifan mengajarkan bahwa yang berkah tak selalu harus yang banyak atau yang tampak mata. Meski sedikit tapi menyehatkan, itulah berkah.

Keberkahan tidak diukur dari apa yang diperoleh tapi dari apa yang mampu disyukuri. Juga musibah, Allah karuniakan sesuai kekuatan pundak.

Keberkahan juga dapat diukur dari kebaikan yang kita bagi. Dan, seorang pemimpin berada di depan untuk  membagi dan yang terakhir menerima.

Karena ukuran keberkahan itu bersifat relatif, maka seorang muslim hendaknya fastabiqul khairat. Terus berusaha menjadi yang lebih baik.

Dan karena ukuran kebaikan itu pun bersifat relatif, maka seorang muslim hendaknya mengukurnya dengan ukuran Allah. Dengan Rahman Rahiim Allah.

Islam adalah Rahmatan Lil Alamiin. Allah adalah Rabbul Alamiin, Tuhan Semesta. Tuhan bagi seluruhnya. Semua manusia dengan agama apa pun.

Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman: sesungguhnya Rahman Rahiim-Ku melampaui Kemurkaanku. Ini ayat betapa cinta lebih indah dari benci.

Allah itu hanya sesebutan. Nama. Gelar. Apa pun itu. Kata Allah di Quran: Aku sesuai yang persangkaan hambaKu. Sapalah Dia dengan lembut jiwa.

Di Quran, Allah Berkata: "Kalian ingin seluruh umat manusia beriman. Padahal, tidak demikian (seharusnya)." Hidup adalah harmoni.

Di Quran, Allah Berkata: Jika Aku ingin satu umat beriman, maka umat itu beriman. Atau, Aku musnahkan dan kuciptakan umat baru yang iman.

Di Quran, Allah Berkata: Jika Allah berkehendak memberi petunjuk, maka tak ada yang mampu menyesatkan setelah datang petunjuk itu.

Di Quran, Allah Berkata: Jika Allah berkehendak memberi kesesatan, maka tak ada yang mampu menolong/memberi petunjuk kecuali Allah.

Kata Allah pula di Quran: tiap umat memiliki tata cara ibadah masing masing , dan hanya Allah Yang Maha Benar. » So, kenapa musti merasa benar?

Marilah mengukur keimanan kita masing masing . Tak perlu mengukur orang lain. Agama = ageman = pakaian. Ukurlah busanamu dengan tubuhmu sendiri.

Di Quran: Apa yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang buruk menurut manusia, belum tentu buruk menurut Allah.

Jika segalanya putih bersih, bahkan suci dan benar, maka tak ada lagi yang berwudhlu dan menyembah Allah. Mustahil, kan? Yuk istighfar..

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dan sesungguhnya Allah dan para malaikat menebar pujian kepada Nabi. Yuk berbuat terpuji..

Namun, tak perlu gusar pada yang berdebat tentang agama. Tentang Quran. Atas izinNya, Allah menetapkan manusia kuat memikul Keagungannya.

Intinya, dikisahkan bahwa Quran dikaruniakan kepada  manusia karena jika kepada langit maka akan runtuh, jika kepada bumi maka akan hancur.

Ketika Allah hendak menciptakan manusia, malaikat bertanya: bukankah manusia akan menyebabkan kerusakan? Allah menjawab: Aku Lebih Tahu.

Pada diri tiap manusia, ada satu hal yang sama: kegelisahan. Gelisah ingin Pulang. Merindukan Rumah Asal. Merasa terasing di keramaian.

Pada diri tiap manusia, ada satu hal yang sama: kegelisahan. Cepat merasa bosan. Mudah berubah. Mudah merasa tidak saling kenal lagi.

Pada tiap diri manusia, ada satu hal yang sama: kegelisahan. Gelisah merasa salah. Merasa tak diterima. Merasa tak dimengerti. Teraniaya.

Pada diri tiap manusia, ada satu hal yang sama: kegelisahan. Gelisah tak sampai. Gelisah kehilangan. Gelisah memiliki. Terombang-ambing.

Buddha merangkum kegelisahan itu dalam 4 hal: letih, sakit, tua, dan mati. Muhammad sama merangkumnya: sempit, sakit, tua, dan mati.

Manusia hidup karena Allah tiupkan Ruh. Allah Sendiri, tanpa menyuruh. Saat waktu tiba, kenapa Malaikat Maut? Kenapa nyawa yang dicabut?

Banyak sekali hal yang lebih penting dipelajari daripada  meributkan perbedaan. Ingat, selain Syariat, masih ada Thoriqat, Haqiqat, Ma'rifat.

Kata guru ngaji saya: syariat tanpa haqiqat sungguh tersesat dan haqiqat tanpa syariat sungguh sia-sia. Saya meyakini hal tersebut.

Di Quran: tiap manusia memohon hal yang sama setelah ia mati: Tuhan, mohon kembalikan aku ke dunia. Aku berjanji akan berbuat lebih baik.

Dan, ketika tiada pertolongan, sesungguhnya Allah Maha Penolong. Yuk saling mendoakan kebaikan. Tiada daya upaya selain atas izinNya.

Allah muliakan manusia dengan akal. Dan yang paling mulia di sisiNya adalah yang bertakwa. Orang mati didoakan: smoga diterima di sisiNya, kan?

Tapi, kenapa  harus menunggu mati? Kenapa  harus menunggu didoakan? Muliakanlah diri kita sendiri dengan ketakwaan. Apakah ketakwaan itu?

Orang yang bertakwa bukan orang yang paling mulia imannya. Ukuran iman bukan kemuliaan. Orang beriman toh tak akan menghinakan orang lain!

Ukuran takwa adalah kekuatan iman. Dan yang lebih kuat imannya semestinya tidak akan melemahkan yang lemah. Tidak akan meragukan yang ragu.

Iman adalah ukuran pertama bagi Takwa. Masih ada Islam, Ihsan (berbuat baik), Ikhlas. Meski saling berkaitan, keempat hal ini berbeda.

Rukun Iman ada 6: Iman pada Allah, Rasul, Quran, Malaikat, Kiamat, Takdir. Tak perlu ribut soal keyakinan lain di luar itu kan?

Rukun Islam 5: Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji. Tak perlu ribut hal lain di luar itu kan? Tak ada soal jilbab, babi, alkohol kan?

Iman dan Islam adalah wilayah hubungan makhluk dengan Khalik. Urusanku dengan UrusanKu. Tidak ada intervensi dari siapa pun. Privat.

Karena itu, yang 6 hal dalam  Iman & 5 dalam  Islam disebut Rukun. Tiap hal terjalin dengan hal lain. Saling menggenapi & tidak saling meninggalkan.

Dalam  shalat, kita baca: Inna-shSholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, liLLaahi...Bukan li-mertua, li-suami, li-tetangga, li-teman..

Dalam  puasa: itu urusanKu & yang berpuasa. Zakat? Ketakwaan juga yang dikehendaki. Seperti  dalam  berkurban: bukanlah darah & daging itu untukKu.

Dalam  haji? Allah pula yang Memanggil. Coba liat yang sok merasa terpanggil. Pulang dari Mekkah, minta 'dipanggil': "Pak Haji, Pak Haji.."

Lalu, di mana tempat bagi hal-hal  selain 6 hal Rukun Iman & 5 hal Rukun Islam? Yuk ingat2: ada Iman, Islam, Ihsan, Ikhlas. Nah, di Ihsan.

Di masjid, Muhammad ditanya soal Iman & Islam oleh malaikat yang nyaru jadi manusia. Dijawab dengan 6 + 5 rukun tadi. Ditanya soal Ihsan juga,

Jawabnya: Ihsan adalah berbuat baik dengan kesadaran melihat Allah. Atau, sadar bahwa Allah Maha Melihat. Gimana rasanya diliatin mulu ya?

Keadaan merasa melihat Allah & keadaan merasa dilihat Allah sesungguhnya tak berbeda. Sama sama nyaman, atau sama sama tidak nyaman. Salting?

Coba deh bayang in: gimana rasanya diliatin mulu ama Bos Besar?! Gue salah apa sih? Napa sih diliatin? Duh, salting nih. Eh, napa sih!

Karena merasa melihat Allah atau dilihat Allah maka muncul Ihsan. Muncul perbuatan baik. Lahir cinta-kasih. Rahmatan Lil Alamin..

Indah banget ya beragama jika kita membacanya secara indah pula :) Innallaaha Jamiil yuhibbul jamaal. Allah Indah, mencintai keindahan.

Nah, berbuat baik tentulah antar-sesama makhluk. Manusia tidak mampu memberi apa apa  kepada Allah, selain memberi permintaan..

Allah Maha Besar. Dia Agung karena Keagungannya sendiri. Ibadah insan tak membuat Dia tambah Agung. Maksiat insan tak pula mengurangi.

Ingat-ingat yuk: dalam urusan Iman & Islam, terdapat Rukun. Nah, dalam urusan Ihsan, terdapat Adab. Pola tata susila dalam bebrayan/bergaul.

Jika menaruh segala sesuatu pada tempatnya, maka kita tidak lagi dzalim. Soal soal Iman, taruhlah di Iman. Islam di Islam. Ihsan di Ihsan.

Jilbab, babi, alkohol, hal-hal lain di luar Rukun Iman 6 dan Rukun Islam 5 berada dalam Ihsan, dalam hubungan sesama yang selayaknya baik.

Quran adalah petunjuk bagi 2 golongan manusia. Quran sebagai Huda Li-nNaas (petunjuk bagi manusia) & Huda Lil-Muttaqiin (manusia bertakwa).

Artinya, bagi khalayak manusia, Quran bisa dibaca secara umum. Bagi manusia bertakwa, Quran bisa dibaca secara tidak umum..

Kita baca Quran secara umum saja ya. Secara sederhana. Keliatan bego, atau dikatain bodoh, gak apa. Apalagi ini mo ngobrolin ikhlas ..

Rujukan terdeket Ikhlas ada di Q.S Al Ikhlas. Jelas banget, namanya saja Al Ikhlas. Secara  sederhana diterjemahkan: Memurnikan Keesaan Allah.

Di Q.S Al Ikhlas ternyata samasekali tiada ayat yang menyebut tentang ikhlas! Surprising. Subhanallah :) Ikhlas ternyata tidak disebut-sebut!

QS Al Ikhlas: Qul Huwa Allah. Katakan, sesungguhnya Dia Allah. » Allah membenci manusia yang mengatakan sesuatu yang tak dilakukannya.

Apa yang keluar dari mulut sebaiknya bukanlah omong kosong. Ia sesuatu yang didasarkan pengetahuan, pelaksanaan, pengalaman dan pencerahan.

Qul. Katakanlah. Ucapan. Ajining diri ana ing lathi. Nilai diri ada pada lidah. Dua mata, dua telinga, satu mulut. Kenapa  banyak mulut?

Meski sekilas mudah, menjaga mulut ternyata susah. Diperlukan sekuat tenaga untuk  diam. Kita cenderung mengatakan hal-hal yang tidak perlu.

Apalagi jika berkaitan dengan kebaikan-kebaikan yang kita merasa telah melakukannya, atau prestasi-prestasi lain, mulut ini makin susah dikendalikan. Ikhlas?

Satu hal tentang diam, guru ngaji saya mengajari: gigitlah gigimu (pertemukan), lalu lipatlah lidahmu menempel langit-langit, dan diamlah.

 #copas

3
Artikel / Apakah Tasawuf itu?..
« pada: 01 Juni 2012, 04:12:04 »
Kali ini tentang beberapa pertanyaan dan jawaban.
  Apakah Tasawuf itu? Tasawuf adalah Pola Hidup. Apakah ia semata-mata olah batin? Tidak. Tasawuf adalah Tindakan Jiwa Raga.
  Siapakah yang bisa belajar Tasawuf? Siapa saja yang berhak. Siapakah mereka? Yang dinyatakan lulus memenuhi syarat dan ketentuan.
  Apakah syarat belajar Tasawuf? Syaratnya tiga, yaitu: beriman pada Allah dan Rasul, sami'na wa atha'na, dan tak bertanya tak pula membantah.
  Bagaimana jika salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak dipenuhi? Tidak apa-apa. Toh belajar Tasawuf bukanlah Fardlu 'Ain. Tidak wajib.
   Tanpa memenuhi syarat, masih bisakah belajar Tasawuf? Bisa. Tapi belajarlah sendiri. Mungkin dari buku-buku yg diam melulu itu.
  Apakah ketentuan belajar Tasawuf? Ada tiga pula, yaitu: ada Mursyid ada Murid, ada yang menyatakan Ikrar Kesetiaan atau Ba'iat dan ada yang menerimanya, dan Kesadaran untuk menjalankan ilmu.
  Bagaimana jika salah satu dari ketiga ketentuan tak dipenuhi? Tidak apa-apa. Toh belajar Tasawuf bukanlah Fardlu 'Ain. Tidak wajib. Bahkan, bukankah dalam beragama pun tidak ada paksaan?
  Tanpa memenuhi ketentuan, masih bisakah belajar Tasawuf? Nah, untuk pertanyaan ini, jawabnya adalah belajarlah sendiri atau bergurulah pada keledai pengangkut buku.
  Siapakah Mursyid Tasawuf dan apa peranannya? Mursyid bukanlah sekedar Guru. Ia Kawan yang akan mengantar Murid hingga mencapai Kesadaran.
  Siapakah Murid Tasawuf itu dan apa peranannya? Murid bukanlah sekedar pembelajar. Ia wajib haqqul yaqin pada pengantaran Mursyid. Jika tidak saling memercayai, suatu hubungan tidak dapat dimulai.
  Mengapa harus ada Ba'iat? Bagaimana jika tanpa itu? Cobalah untuk menikah tanpa ijab-qabul. Jalanilah hidup tanpa komitmen. Niscaya, sejak awal hubunganmu tidak sah, tidak pula berkah.
  Adakah yang perlu dikhawatirkan dari Ba'iat? Ada, yaitu khawatirkanlah dirimu sendiri. Yakinlah kau takkan sanggup berikrar tanpa izinNya.
  Apa yang akan terjadi setelah Ba'iat? Kau akan mengalami Sibghatallah! Sebagaimana difirmankan Allah dalam Q.S. 2:138 tentang, "Sibghatallah. Celupan Allah. Siapakah yang lebih baik Celupannya daripada Allah?".
  Atas izin Allah, Mursyid akan membenamkan Murid ke Samudera Keilahian. Murid akan gelagapan diceburkan! Murid bagai buih-buih di Lautan. Ada yg membentur karang, ada yang terpental, ada yang terdampar di pantai, ada yang berpusar dan berporos.
  Demikianlah sistem bekerja. Mursyid tak memiliki kegelisahan apa pun selain bahwa hanya yang berhak yang akan sampai pada Allah.
  Mengapa protokol Tasawuf sangat ketat? Bayangkanlah yang lebih ketat dari itu, yang paling ketat, niscaya ketatnya lebih dari yang kau kira.
  Mungkinkah protokol Tasawuf menjadi lebih longgar? Bayangkankan yang lebih longgar, yang paling longgar, niscaya longgarnya lebih dari itu. Keadaan lapang dan sempit adalah simpul-simpul yang kau sendiri yang mengikatnya: entah ketat entah longgar.
  Bagaimana pola pengajaran Tasawuf? Satu persen secara dhahir [kasatmata], 99 persen secara bathin [gaib].
  Bagaimana pola pengajaran 99 bathin dijalankan? Murid menyebut Allah, Rasul, dan Mursyid. Mudah bagi Mursyid untuk datang.
  Apakah yang dipelajari dari Tasawuf? Apakah meninggalkan Syariat? Tasawuf meliputi Syariat, Thariqat, Haqiqat, dan Ma'rifat. Satu dan lainnya tidak saling menanggalkan, tidak pula saling meninggalkan. Syariat tanpa haqiqat, sia-sia. Haqiqat tanpa syariat, tersesat.
  Dalam Tasawuf, apakah akal masih digunakan? Ya. Akal dipakai untuk melupakan segala sesuatu yang membuatmu lupa kepada Allah. Lalu, hati digunakan untuk apa? Untuk mengingat segala sesuatu yg membuatmu ingat pada Allah.
  Mengapa Tasawuf susah dimengerti? Masuklah! Pertanyaan selalu di luar, jawaban tersedia di dalam. Sufi tak pernah bertanya. Ia tidak lagi dalam keadaan mencari. Ia menemukan.
  Bagaimana Sufi berdzikir? Dengan seluruh jiwa-raga. Dengan diam dan bergerak. Berdiri, duduk, berbaring. Tak cuma manis di lidah.
  Apa contoh kongkret dzikir Sufi? Tarikan-embusan nafasnya: Hu-Allah. Selama masih bernafas, selama itulah ia berdzikir.
  Apakah ajaran Tasawuf adalah rahasia? Ya. Sangat rahasia sehingga tak ada yg tahu tentang rahasia itu selain sesama rahasia dan bagian dari rahasia itu sendiri.
  Bagaimana rahasia disimpan? Di tempat tersembunyi agar tetap menjadi rahasia, tak ternilai harganya, dan tak terbeli. Bisa disimpan pula di tempat terbuka agar tak disangka rahasia, menjadi tak bernilai, dan tak terjual.
  Apakah intisari dari Tasawuf? Tiada lain kecuali tentang asal-muasal kejadian dan kesejatian diri. "Barangsiapa mengenal diri, ia mengenal Ilahi Rabbi," demikian Hadits Qudsi.
  Apakah Tasawuf dan Sufi benar-benar ada? Anggap saja mitos. Jangan mudah percaya sebelum melihat, mengalami, dan merasakan sendiri.

#copas

4
Artikel / Kabar tentang Kematianmu ..
« pada: 01 Juni 2012, 04:07:27 »
Jika sampai padamu kabar tentang kematianmu, apakah yang hendak kau persiapkan? Akankah kau seketika berhenti mengerjakan apa pun, terdiam, dan teringat pada setiap salah yang pernah kauperbuat?

Jika sampai padamu kabar tentang kematianmu, apakah yang hendak kau lakukan? Tak lagi berselera pada dunia, tak berdebat dan berbantah, tak pula berebut siapa benar siapa salah? Atau justru akan bersembunyi di mana pun yang kau sangka ajal tak sanggup menemukanmu?

Jika sampai padamu kabar tentang kematianmu, apakah yang hendak kau sangkal? Akankah kau berubah pikiran tentang Tuhan, berubah sikap pada sesama manusia, ataukah berubah prasangka pada setan-setan yang semula kau turuti bisikannya?

Ah, tapi akankah sampai padamu kabar tentang kematianmu? Maliki yaumi 'd-diin, Q.S. Al Fatihah ayat 4, Dialah Allah yang menguasai hari pembalasan. Dan, pembalasan dia takkan menanti kau sadar. Telah cukup bagimu waktu untuk menyesal dan bertobat, namun tak ada lagi peluang jika nyawa sudah sampai tenggorokan.

Tiadalah amal-ibadah manusia di mata Allah selain sebutir debu yang ditiup angin sangat kencang pada hari badai sangat besar. Sirna, musnah, lenyap. Percuma jika berpegang pada tabungan materialistik kita. Bukan buku rekening rekaan manusialah yang menyelamatkan kita. Bukan catatan pahala dan kebaikan, melainkan Kasih dan SayangNya.

Perhitungan Allah sangatlah cepat dan adzabNya sangat pedih. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali menantang Allah untuk menghitung perbuatan-perbuatan kita sepanjang hidup. Jika kita bersikeras, niscaya celakalah kita karena Allah dalam Q.S. Al Baqarah 85 berfirman betapa Dia tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Desiran hati tak luput pula dari pengawasanNya, dan jika ada satu dzarah saja kesombongan di hati, kata Muhammad SAW, maka nerakalah pembalasan bagi si sombong. Ah, betapa kita takkan pernah siap jika kabar tentang kematian datang. Bekal apa pun yang kita siapkan takkan pernah cukup untuk mengarungi akhirat yang antahbrantah dan 'abadan 'abada.

Apakah kau sangka Allah takkan menemukanmu jika kau bersembunyi di liang semut atau di balik dinding yang sangat tebal? Jangankan Allah, bahkan terlalu mudah bagi Izrail untuk mencabut nyawa kita di mana pun kita berlindung dan bagaimana pun kita melawan. Ajal datang selalu tepat waktu dan tepat sasaran.

Allah terlalu dekat dan kita takkan pernah menemukan cara untuk menjauh darinya. "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," kata Allah dalam Q.S Qaaf ayat 16. Apa lagi yang hendak kau tutup-tutupi?

Jika sampai padamu kabar tentang kematianmu, seberapa siap dirimu menyambutnya? Bagaimana kau ingin dikenang? Apakah kau telah cukup meminta maaf dan memaafkan? Rasa berdosa sesungguhnya lebih penting daripada dosa itu sendiri, maka jangan sampai terlambat untuk menyesal dan bertobat.

#copas

5
Artikel / Islam itu Damai
« pada: 01 Juni 2012, 04:00:01 »
Hari-hari ini, masyarakat sedang belajar tentang mengapa kekerasan masih saja terjadi di negeri ini dan atas nama agama Islam. Kelompok tertentu merasa dirinya lebih benar, sedangkan kelompok lain tidak mau disalahkan, apalagi dikalahkan.

Aksi kekerasan membawa simbol-simbol agama kini sedang berhadap-hadapan dengan aksi yang menolaknya. Potensi konflik horisontal terbuka. Islam sebagai agama yang membawa pesan perdamaian diuji oleh umatnya sendiri, dan tentu tak ada yang rela pelita harapan untuk hidup dalam cinta damai meredup.

Apa sesungguhnya akar pertentangan itu? Apakah dari definisi Ad Diin? Menurut definisi Rasulullah SAW,"Ad diin an nasiha," yang artinya Ad diin adalah Nasihat. Perbuatan baik pada sesama yang bermula dari perilaku saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran, sebagaimana Q.S. Al Ashr : 3.

Lalu, apakah sesungguhnya Islam itu? Berakar dari aksara sin-lam-mim, dengan kata dasar salima, Islam bermakna kedamaian, dan kesejahteraan. Nah, jika demikian, apakah ad diin al Islam itu? Dari dua penjelasan ringkas sebelumnya, agama Islam adalah nasihat untuk hidup dalam damai. Ajaran, dan ajakan, untuk berpola hidup damai.

Sejauh apa peran Muhammad SAW dalam ad diin al Islam? Allah Rabb al 'Alamiin menetapkan Muhammad sebagai Rahmatan al 'Alamiin. FirmanNya dalam Q.S. Al Anbiyaa : 107, menyebutkan bahwa,"Tidaklah Kami mengutus engkau, Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam."

Ar Rahmat bermakna Kasih-Sayang. Dan, Muhammad diutus untuk menjadi representasi dari Kehadiran Allah Ar Rahmaan Ar Rahiim, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Muhammad SAW sendiri bersabda,"innama buitstu li utammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak."

Akhlak adalah budi pekerti yang luhur, titik temu antara dua samudera bernama akal sehat dan hati nurani dari seorang Hamba. Sejak sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad telah menunjukkan pribadi yang jujur dan rendah hati. Dia kemudian sangat populer sebagai karakter yang fathonah [cerdas], amanah [dapat dipercaya], shiddiq [benar], dan tabligh [menyampaikan pesan kebaikan].

Pribadi yang Insan Kamil, atau yang telah mencapai derajat manusia paripurna, ini menjalankan perintah Allah untuk menyebarkan ajaran ad diin al Islam dengan menempatkan dirinya sebagai uswatun hasanah atau suri teladan. Dan, untuk mencapai ad diin al islam atau nasihat hidup damai, dia melaksanakan prinsip "laa ikraaha fii ad diin", sebagaimana Q.S Al Baqarah : 256, yang bermakna "Tak ada paksaan dalam memasuki ad diin [jalan damai]."

Paksaan, apalagi disertai kekerasan, tidak direkomendasikan dalam ad diin al Islam. Apalagi, bagi seorang Muslim, atau seseorang yang telah berserah-diri dalam kepatuhan kepada Allah, metode paling manusiawi untuk memasuki Islam secara kaffah atau menyeluruh, seperti pesan Q.S. Al Baqarah : 208, adalah dengan meridhai Islam memasuki dirinya.

Satu-satunya cara untuk mempersiapkan diri bagi masuknya arus samudera rahmat Islam adalah dengan membersihkan hati nurani. Lalu, mendekatkan diri pada Allah yang Rahmaan dan Rahiim dengan cara menjadi representasi dari Cinta dan Kasih Allah kepada makhluknya. Sebagai yang terakhir dan penyempurna ajaran agama-agama sebelumnya, Islam selayaknya menjadi puncak dari kedamaian bagi semesta alam.

Rasulullah adalah cerminan paling nyata dari Wujud Allah. Dadanya pernah dibedah dan hatinya dicuci bersih dan dijaga kebeningannya oleh Allah sendiri sehingga cermin hatinya sanggup menerima Cahaya Ilahi dengan sempurna dan memantulkannya dengan sempurna pula.

Dan, bagi siapa pun yang membersihkan hatinya agar menjadi cermin yang bersih dan bening untuk menerima pancaran Cahaya Ilahi, Muhammad adalah karakter yang akan tumbuh dalam diri mereka. Fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh Sang Rasul akan tecermin pada pribadi-pribadi yang menjaga kesucian hati mereka.

Islam sesungguhnya jalan damai, kita selayaknya berhenti menggunakan cara-cara kekerasan. Muhammad berpesan,"Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." Sampaikanlah bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

#copas

6
Artikel / Manusia paripurna
« pada: 01 Juni 2012, 03:57:07 »
Menempuh seumur hidup untuk sekali ajal. Demikianlah hidup begitu singkat. “Kullu nafsin dzaaaaa iqatul mawti,” firman Allah dalam Q.S. 29:57 tentang bahwa setiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Apakah engkau sangka engkau akan terhindar dari kematian? Apakah engkau sangka engkau akan hidup selamanya? Setiap hal memiliki batas. Ruang dan waktu. Dan, jika telah tiba saat bagimu untuk berhenti bernafas, maka Izrail akan datang.

Maut bisa hadir kapan saja. Ketika engkau terlelap atau terjaga. Tatkala engkau sadar atau lupa. Dalam kemuliaan atau hina. "Tidaklah mereka dapat menundanya meski sesaat,” tersurat dalam Q.S. 7:34,” tidak pula memajukan waktunya." Demikianlah ajal bekerja.

Dan sebaik-baik akhir adalah akhir yang baik. Maka, Allah berfirman dalam Q.S. 2:132," janganlah engkau mati kecuali dalam keadaan berserah diri."

Yang berserah diri, ia telah meletakkan ego dan menyerahkannya sebagai taklukan ruh, mengalami mati sebelum ajal. Shalat sebelum dishalatkan. Baginya, kematian tidak lagi menakutkan dan dengan Izrail ia tidak punya urusan. Maka, cukup baginya Allah sebagai Penjemput.

"Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun," ditegaskan dalam Q.S. 2:156," Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali." Demikianlah Manusia Paripurna menyadari bahwa ia bukan berasal dari surga, bukan pula milik surga, dan tak kembali ke surga.

Surga tak lagi menggiurkan baginya, pun neraka tak lagi menakutkan. Pahala bukan yang ia buru, dosa bukan yg ia takuti. Ia yang beriman pada Allah tak takut pada pengurangan pahala, demikian pula pada penambahan dosa dan kesalahan. Allah menerangkan hal tersebut dalam Q.S. 72:13.

Karena itulah, jiwanya tenang memenuhi panggilan Allah, sebagaimana dalam Q.S. 89:27-28," Kembalilah pada Tuhanmu dengan hatimu yang ridha dan Diridhai olehNya." Indahnya berpulang yang seperti itu dicapai setelah sepanjang hayat hatinya sibuk untuk mengingat Allah. Dan dengan demikianlah ia merasa tenteram, sebagaimana Q.S. 13:28. Tiada ia membiarkan hatinya bergetar demi hal-hal selain Allah. Q.S. 8:2 menyebutkan,"...apabila disebut Allah, bergetar hatinya."

Itulah hakikat dzikr. Mengingat segala hal yang membuat ingat pada Allah dan melupakan segala hal yang membuat lupa pada Allah. Berlaku baginya ketentuan Allah dalam Q.S. 2: 152, "Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu." Allah tak melupakannya padahal mudah bagi Allah melupakannya. Maka, camkanlah Q.S. 59:19, bahwa " janganlah seperti mereka yang melupakan Allah, lalu Allah membuat mereka lupa diri."

Hingga tiba waktu, Manusia Paripurna dalam keadaan mengingat Allah pada hembusan nafas terakhir -- dan Allah sendiri yang Menjemputnya. Demikianlah akhir yang baik bagi Insan Kamil yang "mukhlisiina lahuddiin" [Q.S. 98:5] yang memurnikan ketaatan bukan untuk pahala.

Ia hidup mengabdi bukan untuk pamrih. Ia sadar bahwa," perhitungan Allah sangat cepat dan adzabNya sangat pedih." Ia sadar bahwa siksaan bagi mereka yang mengungkit kebaikan dan menghitung-hitung pahala, apalagi memamerkannya, dan ajal yang sakit untuk mereka. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Bagi mereka yang lupa-diri, Allah menegaskan dalam Q.S. 14:18, bahwa " amalnya bagai sebutir debu yang ditiup angin sangat kencang di hari badai besar." Musnah!

Padahal, kata Allah pula dalam Q.S. 42:20, jika menghendaki kematianmu, maka ambillah sekarang. Bereskanlah urusan akhiratmu di dunia. Dijamin kau beruntung! Bagaimana penjelasan mengenai hal ini?

Manusia Paripurna tidaklah membunuh selain egonya sendiri, tidak pula keluar selain dari kenyamanan dan kemapanannya sendiri. "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu," kata Q.S. 4:66, kemudian ia mengendalikan anasir-anasir dalam Diri dan hijrah.

Yang telah mati sebelum ajal, ia tak lagi punya urusan dengan Izrail. Bukankah sudah jelas bahwa Allah yang menghidupkan, mematikan, menghidupkan lagi? Allah-lah yg telah meniupkan ruh, Q.S. 15:29, sehingga manusia hidup. Dan," ruh urusanKu," Q.S. 17:85, bukan urusan Izrail. Demikianlah kesudahan Manusia Paripurna. Ruh mulih sak sajade. Ruh berpulang sempurna dengan jasadnya. Kepada Allah.

#copas

7
Selasar (SELingAn SAntai dan Ringan) / bisikan hati..
« pada: 31 Maret 2012, 03:57:52 »
selamat pagi kesunyian, adakah yg sanggup mengusikmu selain rinduku padaNya..

8
OBrolan ummAT (OBAT) / jujur tanpa ilmu..
« pada: 18 Juli 2009, 03:38:43 »
jujur tanpa ilmu...

ya.. itulah kata2 yg tepat untuk orang yg belajar ataupun mengajarkan kejujuran lewat media kantin kejujuran..

apakah itu kantin kejujuran?

heheh, yaitu suatu tempat yg menjual makanan dan minuman dengan cara ambil sendiri dan bayar sendiri dengan cara menaruh uang sendiri di tempat yg sudah di sediakan (faham kan luw..)

katanya dengan cara ini orang akan terlatih untuk berlaku jujur..

tapi tahukah anda?

cara jual beli dengan cara demikian itu akan meluputkan kewajiban si pembeli ataupun si penjual terhadap salah satu dari rukun jual beli yaitu "ijab qobul"

yesss..., betul sekali bung!

akad jual beli akan menjadi tidak sah jika tidak disertai dengan ijab qobul (serah terima)

itu artinya jual beli yg dilakukan pada kantin kejujuran adalah jual beli fasid..

setiap jual beli fasid akan menghasilkan uang atau barang yg haram..

itu artinya makanan yg udah masuk perut yg kita peroleh dari kantin kejujuran adalah barang haram (rasain luw..  :hihi:)




apakah maksud saya?

tujuan dari postingan ini adalah betapa pentingnya bagi kita untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama..

seringkali di forum ini saya mendapati fitnah terhadap org yg berilmu dengan umpatan2 sombong lah.., tidak berakhlak lah.., segala macem lah.., tanpa memandang ilmu yg dipikul oleh pibadi2 yg dicela

sekarang jawaban pastinya bisa anda renungkan melalui kasus kantin kejujuran ini mana yg lebih memiliki kemuliaan di sisi allah..

apakah orang yg berakhlak tanpa ilmu?

ataukah

orang yg berilmu tapi tidak berakhlak?

walaupun saya adalah orang bodoh tapi sudah merupakan kewajiban saya sebagai muslim untuk memberikan pembelaan terhadap seseorang dari fitnah2 keji..

biar bagaimanapun ilmu itu adalah milik allah, sudah tentu orang yg diberikan ilmu oleh allah itu adalah orang2 pilihan allah.., meskipun org tsb tidak bagus dalam berakhlak

tidak pantas bagi kita yg masih bodoh ini melontarkan fitnah kepadanya

lebih kurangnya mohon maaf..

wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..

Halaman: [1]

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
IMODE | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
XHTML | RSS | WAP2 | Mobile
Halaman dibuat dalam 0.886 detik dengan 18 queri.