Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Topik - beberin
1
« pada: 28 Maret 2009, 01:58:39 »
singkat aja ane mau tanya dan berdiskusi sama orang2 di forum ini plus para moderatornya.....  Adakah yg faham tentang dasar hukum atau sejarah terbentuknya NKRI....?  Mengapa kita yg tinggal di Indonesia mengenal RI dan NKRI....? Mengapa ada dua nama begitu....?  Bagaimanakah perlakuan NKRI terhadap umat Islam Indonesia selama ini....? Apakah diskriminatif atau sebaliknya....? Alasannya....?  SELAMAT BERDISKUSI
2
« pada: 22 Maret 2009, 00:14:29 »
Singkat saja pertanyaannya, namun semoga bisa jadi diskusi menarik...!!! Pernahkah di Indonesia terlaksana hukum Islam....  ? Kl pernah kapan itu terjadi....? (tahunnya) Apa yg bisa kita ambil darinya....? Mungkinkah hukum Islam dapat terlaksana dengan metode demonstrasi....? Bagaimana alasannya...? Mungkinkah hukum Islam dapat terlaksana dengan metode menawarkan ke parlemen yg notabene menggunakan ideologi demokrasi ala kekuasaan di tangan rakyat...? Bagaimana alasannya...?
3
« pada: 18 Maret 2009, 11:11:45 »
Seorang muslim sering mendengar jadilah seorang Islam yg seutuhnya...... Nah apa sich yang dimaksud dengan Islam Seutuhnya itu....? Bagi rekan2 silahkan tanggapan, dan masukannya......  Posting Digabung: 18 Maret 2009, 11:30:57
ISLAM SEBUAH SISTEM KEHIDUPAN Oleh: Azhari
Islam sebagai agama sudah umum dipahami oleh kita, dimana adanya aktifitas yang mengagungkan (taqdis) terhadap sesuatu yang lebih besar diluar dirinya. Tetapi apakah betul Islam hanya sebuah agama semata semisal: ibadah mahdah (shalat, zakat, puasa, haji, dzikir dan shadaqah) atau masalah akhlaq (hati). Sehingga muncul ungkapan: "Jangan libatkan agama dalam urusan politik!", atau dalam kasus Inul: "Agama tidak ada hubungannya dengan seni, ini kebebasan berekspresi!", atau slogan: "Islam yes, politik no!", sehingga seolah-olah Islam silahkan dijalankan di mesjid-mesjid dan di luar mesjid jangan melibatkan Islam.
Islam tidak hanya sebatas agama tetapi juga merupakan sebuah sistem kehidupan (ideologi) yang sangat sempurna, Allah swt menciptakan manusia tentu tidak akan lupa untuk menciptakan juga aturan yang dapat menyelamatkan manusia dari kesengsaraan didunia dan akhirat. Maha Suci Allah dari segala keterlupaan itu. Sebagai acuan untuk mengatur sistem kehidupan adalah Al-Quran dan sunnah.
Aku telah meninggalkan ditengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR Imam Malik).
Untuk mengatur kehidupan ini, dapat diuraikan dalam 3 bagian: 1. Hubungan manusia dengan Tuhannya a. Aqidah: bagaimana manusia mengenal Tuhannya (Tauhid), Muhammad saw utusan-Nya, Al-Quran sebagai kalamullah, dll. b. Ibadah: shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, shadaqah, dll.
2. Hubungan manusia dengan dirinya a. Akhlaq: sikap moral, sabar, kasih sayang, dll. b. Math'umat (makanan): keharaman babi, khamr, dll. c. Malbusat (pakaian): menutup aurat
3. Hubungan manusia dengan manusia lainnya a. Mu'amalat: perdagangan, industri, kesehatan, sosial, pendidikan, dll. b. 'Uqubat (sanksi): sanksi terhadap pelanggaran syari'at Islam seperti: had, qishash/jinayat, ta'zir dan mukhallafat
Dengan demikian Islam disamping sebuah agama juga sebuah sistem kehidupan, hanya saja sangat disayangkan sistem kehidupan yang sangat sempurna ini, telah terbukti keberhasilan penerapannya selama lebih 13 abad dan pasti benar karena berasal dari Allah swt, tidak bisa diterapkan ditengah-tengah kehidupan kita dan masih sebatas konsep (fikrah) belaka. Penerapannya masih sebatas ibadah, akhlaq, nikah atau waris, tetapi bagaimana dengan syari'at Islam yang lain?.
Jika kita fokus kepada masalah tauhid saja, maka kita baru menjalankan Islam disisi hubungan manusia dengan Tuhannya (aqidah). Jika kita fokus kepada dzikir saja, maka kita baru menjalankan Islam disisi hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah). Jika kita fokus kepada masalah akhlaq (hati) saja, maka kita baru menjalankan hubungan manusia dengan manusia lain (akhlaq).
Tetapi bagaimana dengan syari'at Islam lainnya?; math'umat (makanan), malbusat (pakaian), mu'amalat (perdagangan, industri, kesehatan, sosial, pendidikan, dll), 'uqubat (sistem sanksi atas pelaku kriminal), sudahkah kita memahami dan menjalankannya sesuai Islam?. Makanan sudah halalkah?, pakaian sudah menutup auratkah?, masih korupsikah?, masih menikmati bunga ribakah?, untuk menghukum pelaku kriminal masih menggunakan hukum Belanda-kah?, dll.
Padahal Allah swt memerintahkan kita menjalankan Islam secara kaffah (total), tidak mengambil sebagian dan mengabaikan sebagian besar lainnya.
Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (Al-Baqarah 208).
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan hendak membedakan antara Allah dan rasul-Nya itu, dan berkata: "Kami mempercayai sebagian dan kafir kepada yang lain". Dan mereka bermaksud mencari jalan tengah (antara iman dan kafir). Mereka (yang bersikap demikian) itulah yang kafir tulen. kami menyediakan bagi orang-orang yang kafir azab yang berat (An-Nisa' 150-151).
Padahal, tidak ada yang terbebas dari syari'at Islam kecuali 4 jenis manusia saja: anak kecil hingga baligh, orang gila hingga waras, orang tidur hingga bangun dan orang mati. Kita termasuk yang mana?, kalau bukan salah satu dari 4 jenis manusia tersebut maka kita wajib menjalankan syari'at Islam seutuhnya/kaffah.
Jika tidak diterapkan hukum-hukum Allah ini secara sempurna, maka kita hanya bisa berharap-harap cemas agar Allah swt tidak menimpakan adzabnya kepada kita, atau jangan-jangan kita telah mengalaminya saat ini.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al-A'raf 96).
Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebahagian (akibat tindakan mereka) agar mereka kembali (kejalan yang benar) (Ar-Rum 41).
4
« pada: 18 Maret 2009, 10:56:16 »
Wah pemilu 2009 di Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terselenggara..... Ada partai politik dengan mengusung nasionalis, nasionalis religi, partai Islam, bahkan mgkin ada partai berbau komunis... Nah kira2 siapa yg akan berkuasa ya....? Dan akan kah PARTAI ISLAM tetap membawa Islam untuk Indonesia...? Akankah NKRI mengakomodir keinginan partai Islam yg menang....? Atau kah NKRI hanya memanfaatkan "Islam" untuk kelanggengan sistemnya....? Posting Digabung: 18 Maret 2009, 11:24:36
Dibawah ada artikel dari web : http://islamlib.com/id/artikel/partai-islam-antara-kepentingan-dan-dakwah/Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah. Oleh Soplo
Agama sering dimanfaatkan serta digunakan untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan menyitir ayat-ayat alquran mereka menggembar-gemborkan bahwa kita harus mewaspadai “sekularisme”. Tapi siapa yang sebenarnya sekularis?
Partai Islam selalu mengatakan bahwa apa yang dilakukan serta menjadi programnya semuanya berdasarkan syariat Islam. Dan seolah-olah mereka yang paling mewakili kelompok Islam.
Disini kita melihat bahwasanya agama digunakan serta dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan massa. Agama dibawa serta dijadikan kendaraan untuk menuju panggung kekuasaan, serta tidak segan-segan para juru kampanye menyitir ayat-ayat al-Quran yang bertujuan untuk kepentingan partai tersebut.
Kita tentu masih ingat di mana sebelum Megawati duduk menjadi presiden, kelompok partai yang berasaskan Islam berlomba-lomba menjegal Megawati untuk menjadi presiden. Dengan menggunakan isu bahwa perempuan haram untuk menjadi seorang pemimpin, dengan menyebutkan beberapa ayat-ayat alquran yang membicarakan masalah tersebut. Bahkan dalam berkampanye mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa seseorang yang beragam Islam, tetapi tidak memilih partai Islam maka orang tersebut akan masuk neraka.
Tapi setelah kepentingan bermain dengan adanya bargaining politik yang dapat menguntungkan partai tersebut maka dengan sendirinya isu-isu tersebut pun menjadi hilang. Mereka balik membela serta mendukung dengan masih menggunakan ayat-ayat Alquran. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, karena maksudnya adalah satu yaitu: kepentingan, kekuasaan dan golongan.
Hal ini terjadi khususnya di desa-desa, di mana masyarakat yang seharusnya mendapatkan pembelajaran dalam hal menghormati kelompok lain, serta pembelajaran dalam berdemokrasi justru malah diprovokasi oleh juru kampanye. Sehingga, apa yang terjadi konflik horisontal dengan menggunakan nama Tuhan serta agama. Hal ini tentu mencemarkan nama Islam yang sesungguhnya. Islam yang menjunjung tinggi demokrasi, Islam yang menghormati adanya perbedaan, berubah menjadi Islam yang menakutkan.
Di sini seharusnya Islam diletakkan dalam hati kita masing-masing. Kita tidak perlu mengaku Islam kalau perbuatan kita tidak menunjukkan keislaman, yang malah dapat mencemari serta menodai kesucian Islam itu sendiri. Islam itu kelakuan bukan pengakuan. Di sini jargon yang terkenal dari pak Nurcholis Majid bahwa beliau mengatakan “Islam Yes, Partai Islam No” patut dijadikan contoh, meskipun beberapa kalangan menganggap hal tersebut diucapkan dari seorang yang sekuler. Sy ambil kutipan Gagasan orang Jaringan Islam Liberal.... Entah cara berfikir macam apa yg dia gunakan....Tp seolah ada ke alergian terhadap Islam dalam mengatur negara.... Seolah Islam cukup di hati saja.... Namun ada tanggapan yang cukup bagus ketika kita lihat bagaimana DEMOKRASI barat memperlakukan Islam di dalamnya....Yg terjadi adalah orang2 yg katanya Islam memperalat ayat-ayat Al-Qur'an untuk tujuan kekuasaan dan setelah berkuasa ayat-ayat tersebut dilempar jauh-jauh.....Sungguh tragis dan mengerikan.....
5
« pada: 31 Maret 2008, 17:43:03 »
Nah menjelang perhelatan akbar NKRI, tentulah byk jargon2, embel2, dan janji2 yg mulai atau bahkah sdh dirintis dari kemaren2 untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap rakyat.... Menjelang perhelatan besar itu pasti berbagai issue mencuat naek, bahkan rakyatpun jd sibuk terbawa issue2 tsb, bahkan anak istri atau keluarga kl beda gambar partai bisa jd bahan ribut2an atau rebut2an, jdnya lupa ngasih makan anak istri dech, hehe.... Kl pas hari-H biasanya suka ada serangan fajar alias "money politik"....
Ya itulah cuplikan yg biasa kita dengar dari sebuah sistem demokrasi (khususnya di Indonesia)....
Kl di negara komunis kayak Cina pada dikasih apa ya....Kl di negara Amerika, Inggris, Australia dgn paham politik yg dianutnya dikasih embel2 apa ya...? Atau DAPAT APA/ MALAH CARI APA YA dari PAHAM Anarkisme, Fasisme, Feminisme, Islamisme, Komunisme, Komunitarianisme, Konservatisme, Kristen Demokrat, Liberalisme, Libertarianisme, Nasionalisme, Politik hijau, Sosial demokrat, Sosialisme....?!?!?
Nah kl seorang Muslim yg membela mati-matian agar Islam menjadi aturan yg berlaku di masyarakatnya mmg jaminannya apa ya....? Jaminan PASTI nggak ya dpt adil dan makmurnya....? Siapa yg ngasih jaminan ya...?
Kl gue beli HP kan garansinya dari pabrikan 1 thn tuch, dah gitu kl dijual secondnya suka drop nilainya... Kl PANCASILA dijual sama umat Islam masih laku nggak ya....?!?! Kl PANCASILA bisa ngasih jaminan apa ya? Kira2 garansinya berapa lama ya,,,,? Siapa yg ngasih jaminannya ya...? Apa si Pembuatnya bukan...?
6
« pada: 24 Maret 2008, 17:20:12 »
Tertarik dgn apa yg dipaparkan oleh socratesgirl dibawah ini : Oh yah soal Pancasila patut kita telaah bersama apakah betul pancasila merupakan cerminan budaya "Indonesia" ataukah budaya yang "dipaksakan" kepada kita untuk dicerminkan?Mari kita bedah satu-persatu sila-sila yang ada dalam pancasila :
SIla Pertama :Ketuhanan Yang Maha Esa
Kalau kita mau bicara soal budaya,sila ini sepertinya terlalu memaksa.Siapapun pasti tahu,bahwa Indonesia itu terdiri dari berbagai macam "keyakinan" baik yang percaya ketuhanan itu mesti esa maupun tidak....Kalau mau melihat secara jujur,,agama yang ada mula-mula di Nusantara bukanlah agama yang mencerminkan "ketuhanan yang maha esa" tetapi polytheisme.Lantas,,apakah cocok ketika ini dikatakan cerminan budaya Indonesia? Yah,,sila ini hanya merupakan sebuah "bahasa diplomasi" terhadap Piagam Jakarta yang mana lebih jauh lagi dalam mengurusi keimanan seseorang........Kita semua tahu,,sila ini merupakan "impor" darimana??
Sila Kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab HaHaHaHa....mungkin temen2 masih inget soal penaklukan dan perbudakan yang terjadi pada bangsa ini di jaman lampau??SIla ini terinspirasi tentu saja dari Revolusi Inggris di mana tumbuhnya kapitalisme di sana menyebabkan "turunnya derajat manusia"
Sila Ketiga : Persatuan Indonesia HaHaHa..kalau gak ada Sumpah Pemuda tahun 1928,maka tentu saja yang namanya Indonesia itu masih sendiri-sendiri.....Ndeso-ndeso..... Oh yah,,sila ini terinspirasi dari NAZI di Jerman di mana pada saat itu,Hitler menegaskan bahwa Ras Arya lebih unggul dari Yahudi sehingga menimbulkan rasa nasionalisme yang kuat pada diri orang2 Arya.......
Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan HaHaHaHa,,,,,Revolusi Perancis Banget
Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Jadi teringat dengan sosialisme deh!!
Jadi,,saya sendiri menentang Pancasila jika ingin dijadikan sebagai "acuan" dan"patokan budaya".Pancasila oleh para founding father kita sebaiknya hanya dijadikan sebagai "aksesoris" yang mengingatkan kita tentang "romantisme" masa lalu...Sama seperti Amerika yang tidak lagi menjadikan "In God We Trust" sebagai sebuah acuan
Ini bkn berarti pemikiran sy sama dgn socratesgirl, disini sy jd teringat ternyata PANCASILA dikembangkan dari berbagai PAHAM, mulai dari AGAMA, NASIONALIS, KOMUNIS, sehingga berkembang menjadi DEMOKRASI, LIBERAL, INDIVIDUAL, dan juga SOSIALIS pada prakteknya....KENAPA...? Ternyata fakta membuktikan bahwa pelaksana pemerintahan mampu mengakomodasi PAHAM2 tsb, mulai dari NASAKOM, MANIPOL USDEK, Gotong Royong, P4, namun entah skrg yg jelas basisnya tetap NASIONALISME alias KEBANGSAAN alias KESUKUAN alias KEKABILAHAN seolah tidak SARA tapi prakteknya malah sebaliknya....  Kini setelah tahun 1980-an keatas muncul berbagai macam PAHAM keagamaan, dimana targetnya adalah menghancurkan PAHAM AGAMA itu sendiri....Sehingga makin membingungkan umat dan akhirnya punya kesimpulan agama adalah sekedar simbol semata yg hanya cukup dijalankan INDIVIDUAL semata..... Seperti terlihat di forum ini muncullah berbagai macam PAHAM terutama yg belakangan gencar adalah LIBERALISME AGAMA dimana para pengusungnya adalah orang2 berintelektual....Dimana mereka pun adalah pendukung penuh SEKULERISME dan negara2 yg mempunyai celah untuk berkembangnya SEKULERISME....Ternyata kita bisa menilik dari paparan dibawah ini, Mengapa hingga hari ini semua itu bisa terjadi..... Diabolisme Intelektual Diábolos adalah 'iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan Oleh Dr. Syamsuddin Arif,MA * Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery dalam bukunya t he Foreign Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda 1938, hlm. 48. Maka istilah " diabolisme" berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut 'kafir'? Di sinilah letak persoalannya. Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam. Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas. Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara. "Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64). Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190). Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur'an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19). Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)". Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146). Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim. Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah'wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta'uzz), menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-baghda'), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya'mur bi l-fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur). Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a'lam. *Penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman
7
« pada: 24 Maret 2008, 17:17:46 »
...
8
« pada: 19 Maret 2008, 15:35:56 »
Preambule (Pembukaan): Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. "Ini adalah piagam dari Muhammad, Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka." Pasal 1: Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain. Pasal 2: Kaum Muhajirin (pendatang) dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 3: Banu 'Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin. Pasal 4: Banu Sa'idah, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 5: Banu al-Hars, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 6: Banu Jusyam, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 7: Banu al-Najjar, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 8: Banu 'Amr Ibn 'Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 9: Banu al-Nabit, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 10: Banu al-'Aws, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Pasal 11: Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung utang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat. Pasal 12: Seorang mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya, tanpa persetujuan dari padanya. Pasal 13: Orang-orang mukmin yang takwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka. Pasal 14: Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman. Pasal 15: Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak tergantung pada golongan lain. Pasal 16: Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang (olehnya). Pasal 17: Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka. Pasal 18: Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu-membahu satu sama lain. Pasal 19: Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus. Pasal 20: Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman. Pasal 21: Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya. Pasal 22: Tidak dibenarkan bagi orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat, dan tidak diterima daripadanya penyesalan dan tebusan. Pasal 23: Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah 'azza wa jalla dan (keputusan) Muhammad SAW. Pasal 24: Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan. Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani 'Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya. Pasal 26: Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Pasal 27: Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Pasal 28: Kaum Yahudi Banu Sa'idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Pasal 29: Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Pasal 30: Kaum Yahudi Banu al-'Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Pasal 31: Kaum Yahudi Banu Sa'labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf, kecuali orang zalim atau khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya. Pasal 32: Suku Jafnah dari Sa'labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa'labah). Pasal 33: Banu Syutaybah (diperlakukan) sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan (khianat). Pasal 34: Sekutu-sekutu Sa'labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa'labah). Pasal 35: Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi). Pasal 36: Tidak seorang pun dibenarkan (untuk perang), kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan) ini. Pasal 37: Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu-membantu dalam menghadapi musuh Piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasihat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya. Pasal 38: Kamu Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan. Pasal 39: Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya "haram" (suci) bagi warga Piagam ini. Pasal 40: Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat. Pasal 41: Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizin ahlinya. Pasal 42: Bila terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung Piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah 'azza wa jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi Piagam ini. Pasal 43: Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka. Pasal 44: Mereka (pendukung Piagam) bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib. Pasal 45: Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya. Pasal 46: Kaum yahudi al-'Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung Piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung Piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bwertanggungjawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi Piagam ini. Pasal 47: Sesungguhnya Piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW. ( Terlihat jelas bagaimana isi PIAGAM MADINAH dimana ini sebagai produk yang lahir dari rahim peradaban Islam, Piagam Madinah diakui sebagai bentuk perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarakat Madinah yang plural, adil, dan berkeadaban. Di mata para sejarahwan dan sosiolog ternama Barat, Robert N. Bellah, Piagam Madinah yang disusun Rasulullah itu dinilai sebagai konstitusi termodern di zamannya, atau konstitusi pertama di dunia. ) Keterangan : Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam bukunya Sirah an-Nabi SAW juz II hal 119-123, dikutip Ibnu Hisyam (wafat : 213 H.828 M). Disistematisasikan ke dalam pasal-pasal oleh Dr. AJ Wensinck dalam bukunya Mohammad en de Yoden le Medina (1928), pp. 74-84, dan W Montgomery Watt dalam bukunya Mohammad at Medina (1956), pp. 221-225 • Digandakan untuk keperluan pelajaran Pendidikan Ahlussunnah wal-Jama'ah Kelas I (satu) Program Madrasah Diniyyah Wustha (MDW) Al Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, semester II, oleh Drs. M Dian Nafi'
9
« pada: 05 Maret 2008, 13:57:47 »
http://mengungkap-nii-zaytun.blogspot.com/Mengungkap NII-Al Zaytun (KW9) dan GOLKAR, PKPB, HANURA Perkembangan Terakhir NII KW9 dan Ma’had Al ZaytunIf you can’t beat them, join them. Itu sepenggal peribahasa dari Barat, yang kini sedang menjadi ancang-ancang NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun. Begitu banyak serangan dari mantan teman-temannya sendiri (bukan musuhnya ya, baca: Republik Indonesia)lama-lama bikin gerah Panji Gumilang juga. Perjalanan NII KW9 sejak reformasi di negara ini mengarah ke satu titik yang jelas, kompromistis. Dalam doktrinnya, memang sedang berjuang dan diluar kelompoknya adalah kafir. Bahkan menggunakan hujjah, Nahnu Qaumu Yuharibu bi ma’unatil Musrikin (maaf kalau ada yang salah kata). artinya, kami adalah orang yang berjuang tanpa meminta bantuan dari orang-orang musyrik, dalam hal ini orang RI. Namun, apa lacur, hujjah itu hanya untaian kata tanpa isi. Tahun 1999, masul fungsional yang menetap di Al Zaytun dikomando untuk nusuk GOLKAR. Tahun 2004, mas’ul fungsional diperintah imamnya untuk nusuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dipimpin R. Hartono dan Tutut. Tak lama berselang, setelah negosiasi kompensasi uang=suara dengan Wiranto, masul fungsional dan teritorial dikerahkan ke Al Zaytun untuk nusuk calon pasangan presiden Wiranto-salahudin wahid. Bayangkan 13.000 suara bulat untuk pasangan tersebut. Tentang penusukannya sendiri, anda pasti sudah tau kelanjutannya tentang ramainya kasus penggelembungan suara ini dibicarakan. lebih menyedihkan lagi, santri-santri Zaytun juga di paksa nusuk. Kini, Al Zaytun dibawah naungan Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) pimpinan Wiranto untuk membantu memenangkan calonnya ke kursi kepresidenan. Taukah umat NII KW9? Barangkali. Tapi beranikah mereka kritis menanggapi ini? Tidak akan. Apa pasal? Mereka digambarkan bahwa Wiranto sudah menjadi bagian dari mereka dan merupakan pintu untuk mencapai futuh. karena harus taat dengan ulil amri, ya percaya saja. Sampai sini anda sudah bisa menebak kan siapa menggalang siapa. Sah-sah saja memang di negara yang tidak jelas ini melakukan itu semua, apalagi azas demokrasi ukurannya. Tapi, apakah begitu mudahnya aqidah digadaikan atas nama perjuangan, walaupun meminta bantuan kepada orang musyrik?. Entahlah. Tapi itu yang diyakini sekarang. Politik pencitraan yang dilancarkan Panji Gumilang telah lama dilakukan. Panji mampu membayar dan menginstruksikan semua jamaah untuk membeli oplah beberapa media cetak yang menjadi corongnya. Salah satu diantaranya majalah Garda. Bayangkan, untuk artikel biasa saja, Panji menjamin pembelian 2.000 eksemplar diluar uang yang dibayar dimuka. Berhasilkah? Ya. tapi dilakalangan mereka sendiri untuk menaikan semangat umat. Diluar, citranya masih belum membaik. Buktinya, ketika dia membayar sebuah Koran untuk memuat dirinya sebagai calon DPRD di Jawa barat, ramai-ramai orang menjegalnya. Dari kaum muslimin, ada beberapa langkah yang membuat Panji berbelok meminta dukungan dari kaum sepilis (sekuler, pluralis dan liberalis). Tahun 2002, FUUI membuat fatwa sesat tentang ajaran NII KW9, tahun 2003 MUI mengeluarkan penelitian yang menghasilkan hal yang sama dengan FUUI, tahun 2004 Litbang Depag memperuncing penelitian MUI. Hasilnya, NII KW9 sesat menyesatkan dan jelas hubungannya dengan Ma’had Al Zaytun Untuk penelitian Depag sudah ada buku yang diterbitkan tentang perkara ini. Melihat perkembangan tersebut, Panji yang tahun 2003 diangkat menjadi ketua Alumni IAIN Syarif Hidayatullah merapat terus ke tokoh-tokoh ynag menempatkan dirinya menjadi tokoh islam moderat, seperti Nurcholis madjid dan Azyumardi Azra. Untuk membuktikan bahwa Zaytun tidak radikal dan bukan NII, Panji membangun gedung kalimatun sawa (kalimat yang sama) yang menampung santri dari Kristen, katolik, Budha, Hindu dll. Tambah runyam jadinya. Umat Kristen dijadikan teman, umat islam dikafirkan. Contoh yang gres, ketika pendeta katolik datang ke Zaytun disambut dengan shalawat badar. Sedangkan umat Islam yang datang, tidak akan ditemui Panji kecuali membawa uang sumbangan minimal 100 juta. Memang, hal-hal yang tersebut diatas merupakan kebohongan bila dilihat dari dalam NII KW9. Bila dilihat dari luar, betapa nistanya perjuangan yang sedang dijalankan. Begitu hebatnya citra buruk Islam Indonesia oleh pemerintah NKRI ini.... Belumkah puas dgn segala pencitraan buruk yg coba dilekatkan terhadap umat Islam Indonesia...? Nah silahkan bagi kawan2 yg mau mengomentari atau berbagi ilmu... Sesungguhnya apa yg diinginkan org2 spt itu...?!?!
10
« pada: 28 Februari 2008, 12:03:51 »
Nah belakangan ini menguat isue sentimen ttg adanya Askar Wathaniah Malaysia yg diduga merekrut WNI secara langsung. Namun hal itu terbantahkan menurut Pangdam Tanjungpura dan Dubes Malaysia karena ternyata mereka sdh menjadi WN Malaysia...
Menurut reporter SCTV dlm dialog malam dgn salah satu anggota komisi I DPR-RI, bagaimana kl kelak ternyata terjadi konfrontasi antara Askar Wathaniyah Malaysia vs Tentara Nasional Indonesia ? Mereka akan berhadapan dgn saudara sebangsanya sendiri...Ironis, sikap patriotisme dan nasionalisme ketika berhadapan dgn realitas ekonomi mampu tergadaikan....Ya itu realitas...!!!
Nah diatas hanya prolog bagaimana POLITIK ADU DOMBA mmg menjadi alat efektif dan cukup murah dibandingkan dgn pengembangan senjata penghancur masal....Tentunya apabila ini diterapkan pada sebuah negara dgn tingkat pengetahuan yg sgt minim dan rendah, lihatlah bagaimana terjadi pada negara2 berkembang....Namun bagi negara2 dgn tingkat kemampuan pengetahuan warganya yg tinggi maka politik ini akan sangat sulit terlaksana, lihat saja Amerika dan Eropa...?
POLITIK ADU DOMBA sgt terkenal di era VOC dan pemerintahan Hindia-Belanda bagaimana menghancurkan kerajaan2 Nusantara....Juga ketika masa merintis kemerdekaan dimana disana terjadi konfrontasi besar antara nasionalis dan Islamis berhasil ditanamkan penjajah Belanda tsb...Bahkan sampai detik ini pun politik ini masih digunakan guna membungkam Islam itu sendiri di Indonesia....
Mungkin dulu kita juga mengenal politik "candu" dimana cukup efektif pula menghancurkan generasi penerus... Nah kita mungkin sekarang mengenal NARKOBA sbg SEJATA PEMUSNAH MASSAL yg EFEKTIF, yg DICARI, DIMINATI, dan DISUKAI....Sungguh ironis...Senjata murah bahkan menguntungkan guna menghancurkan sebuah negara....Kini pengguna NARKOBA bukanya semakin menurun namun sebaliknya, setiap tahun semakin meningkat...
Nah keterkaitan POLITIK ADU DOMBA dgn NARKOBA, kl menurut saya sich ada keterkaitannya antara satu dgn lainnya, terutama guna menghancurkan ISLAM dan lenyap dari dunia ini....
Nah bagaimana keterkaitan itu kl menurut rekan2....?!?! ANTARA POLITIK ADU DOMBA DAN NARKOBA DI DUNIA ISLAM....!!!!
11
« pada: 25 Februari 2008, 08:54:57 »
Maaf kl sy agak awam ttg "harokah Islam" di Indonesia ini....Baik itu perupa PARTAI, ORMAS ISLAM, JAMAAH, KELOMPOK atau apapun yg bergerak mengatas namakan membela ISLAM... Sy coba yg sy tau saja : PKS, HTI, MI, MMI, LDII, JT, SYIAH, SUNNI, KHAWARIJ, WAHABIYAH, SALAFI, AL-ZAYTUN, JIL, NU, MUHAMMADIYAH, DLL....Mgkn rekan2 bs menambahkan, dan bisa saling koreksi untuk ISLAM JAYA DI BUMI INDONESIA....Tentu itu tujuannya kan atau ada yg berbeda tujuan...?!?!? Sy ingin mengetahui bgmn sih menurut pendapat rekan2 baik yg PRO terhadap salah satu harokah, ataupun yg KONTRA... Disini sy ingin supaya antar harokah Islam mempunyai kesamaan visi yaitu ISLAM itu sendiri.... Sy khawatir rekan2 justru lebih bisa melihat semut disebrang dari pada gajah di pelupuk mata....  Trims atas diskusinya...
13
« pada: 11 Februari 2008, 17:58:40 »
Maaf sy coba mengambil subyek di atas...Mencoba mengikut judul tetangga tentang saran dan kritik terhadap sebuah parpol.... Karena begitu banyak orang yg bergerak (entah itu partai, atau bukan) dgn menyatakan dirinya membela ALLOH SWT dan Rosululloh Muhammad saw....Padahal tujuannya seperti belum terarah.... Apakah yg diinginkah adalah sebuah negara dimana aturan ALLOH SWT bisa terlaksana dgn sempurna...Ataukah hanya main2 saja alias hanya sebuah wacana yg tidak jelas arahannya....? Nah, sy mencoba membuka thread ini guna membuka pikiran, sesungguhnya apa yg umat Islam kehendaki terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara mereka...? Apakah negara Islam begitu tercela ataukah negara Islam adalah cita2 setiap muslim yg ingin menyerahkan seluruh hidupnya guna di atur oleh aturan yg berlandaskan kepada ketauhidan kepada ALLOH SWT dan mengikuti langkah perjuangan yg diajarkan oleh Rosululloh Muhammad saw....? 1. Apabila negara Islam adalah tercela, dimanakah tercelanya...? (disini tolong jabarkan...? alias kritikan plus solusi yg diinginkan) 2. Apabila negara Islam adalah sebuah cita2, seperti apakah keinginannya agar segera terwujud cita2nya...? (disini dijabarkan saran....Sehingga membuat kita semakin jelas arahannya...) Trims bwt rekan2 yg mau berbagi ilmunya....
14
« pada: 11 Februari 2008, 17:32:42 »
Salam bwt rekan2 di Dunia Dakwah Islam.... Masih teringat tentang kasus Ahmadiyah, mereka disebut sebagai aliran sesat...Benarkah...? Juga sdh sering kita ketahui tentang sepak terjang LDII, JIL, Lia Eden, Ahmadiyah, dsb...Begitu suburnya mereka tumbuh di Indonesia... Dimanakah sesatnya mereka...? Apakah karena ada nabi baru, apakah karena ada kitab baru, apakah karena menggunakan ayat sepengal2...? Bagaimanakah sikap seorang muslim terhadap HUKUM ALLOH SWT yg tidak dilaksanakan....? Apakah itu termasuk sesat ataukah tidak....? Mengapa begitu mudah terkecoh Umat Islam ini...? Tidakkah ada yg membimbing mereka menuju jalan yg benar...? Ataukah memang umat Islam Indonesia sengaja oleh penguasanya dibuat kabur, ragu, bingung, bibang, resah..Sehingga kelak yg diinginkan pemerintah seperti itu adalah sikap apatis/ tdk punya sikap/ "netral"/ abstein terhadap Islam itu sendiri....Sehingga mereka yg terjebak dan berhasil keluar memberikan pernyataan2 yg makin membuat masyarakat resah/ tidak tenang/ merasa hati dan pikirannya di terror.... Sikap pemerintah seperti inikah yg kita inginkan, yg membiarkan makhluk ciptaan-Nya yg dipimpinnya kehilangan arah terhadap Tuhannya...? Ataukah memang pemerintah seperti ini adalah pemerintah sesat dan menyesatkan alias maling teriak maling.... Bagi rekan2 silahkan saling berdiskusi agar menemukan titik terang....
15
« pada: 28 Januari 2008, 16:23:25 »
Soekarno dan Soeharto telah mendahului kita menghadap ALLOH SWT untuk dimintai pertanggungjawabannya ketika hidup di dunia. Begitu banyak kontroversi yg membuat orang2 saling mendukung atau bertolak belakang. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono ketika memimpin merekapun pasti ada keunggulan dan kekurangan. 1. Nah, sesungguhnya pemimpin seperti apa menurut anda yg dinilai memenuhi kriteria pemimpin yg hebat? 2. Pemimpin seperti apa yg diinginkan oleh setiap lapisan masyarakatnya? 3. Sifat2 paling minimal apa yg harus ada? 4. Harus mencontoh siapa figur pemimpin negara yg anda inginkan? 5. Dan dari sisi mana anda memilih figur tsb?
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|