Pesan |
Topik |
Lampiran
Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.
Topik - Mukhsin
1
« pada: 05 Februari 2013, 08:01:18 »
Assalamu'alaikum,,, berikut saya coba berikan video yang boleh dibincangkan, sedikit memberikan pendapat bagi sang ustad muda satu ini,,dimana ia begitu bersemangat dalam menyampaikan pengajian, ada beberapa hal yang perlu dikritik dari pengajian beliau ini,  Mengenai Talafdz Niat Sang ustad telah berdusta atas nama Imam Suyutie dengan mengatakan bahwa Imam Suyutilah yang mengatakan bahwa mengucapkan "Ushalli" itu adalah Bid'ah, benarkah klaim sang ustad satu ini ? berikut pernyataan Imam Suyutie dalam الأمر بالإتباع والنهي عن الإبتداع pada bab Was was dalam Niat Sholat من البدع أيضاً: الوسوسة في نيّة الصّلاة، ولم يكن ذلك من فعل النبي – صلى الله عليه وسلم – ولا أصحابة، كانوا لا ينطقون بشيء من نية الصلاة بسوى التكبيرdaripada ssesuatu yang Bid'ah itu adalah "Was was pada niat Sholat dan tidaklah ia berlaku pada Rasulullah SAW dan Sahabat-sahabatnya, dimana mereka tidak ada mengucapkan sesuatupun daripada niat Sholat selain Takbir..nukilan Imam Suyutie sama sekali tidak menyentuh bab Talafudz Niat, ianya menyatakan Bid'ah bagi muculnya "was was" dalam niat, bukan melafadzkan niat sebelum Takbir,, Hal ini juga sudah diperkatakan oleh Imam Syafi'i yang telah dinaqlkan oleh Imam Suyutie dalam kitabnya tsb, sbb : As-Syafi'i berkata: was-was dalam niat shalat dan Thaharoh adalah dikarenakan kebodohan terhadap syariat atau kekacauan dalam pikiransebagai masukan, ada baiknya sang ustad ini membaca karangan Imam Suyuthie yang lain yaitu الأشباه والنظائر agar sang ustadz tau bagaimana Imam Suyuthie membahas perkara niat ini.. Berkenaan dengan Imam Syafi'ie yang menurut sang ustad bahwa Imam Syafi'ie telah mencela Tasawuf,,ada baiknya sang ustadz satu ini membaca مناقب الشافعي للبيهقي agar lebih berhati-hati.. berikut pernyataan Imam Baihaqiy setelah menaqlkan riwayat Imam Syafi'ie berkenaan dengan Tasawuf (sufi) قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولم يرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر" Aku katakan (Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut): ” Sesungguhnya yang imam Syafi'i maksud adalah orang yang masuk dalam shufi namun hanya cukup dengan nama bukan dengan makna (pengamalan), merasa cukup dengan simbol dan melupakan hakekat shufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin tapi tidak peduli dgn mereka, tidak menjaga haq-haq mereka, tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau menyifati hal ini di tempat yang lainnya. "
Bagaimana qoul Imam Syafi'ie yang telah direkam oleh para pengikut setianya, daripada Imam besar, Imam Al-'Ajlwniy dalam كشف الخفاء raqam 1089 sbb : قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى: " حبب إلي من دنياكم ثلاث: ترك التكلف، وعشرة الخلق بالتلطف، والإقتداء بطريق أهل التصوف"Berkata Imam Syafi'ie : "Tiga hal di dunia ini telah dibuat indah untukku : menghindari kepura-puraan, mengobati orang baik hati, dan mengikuti jalan para Tasawwuf"saran buat sang ustad, sebaiknya anda jujur dalam menaqlkan pernyataan Ulama.. Kalau Qoul Imam Syafi'ie anda ambil dari Manaqib Syafi'ie lil Imam Baihaqiy seharusnya anda naqlkan juga bagaimana syarah Imam Baihaqiy terhadap pernyataan Imam Syafi'ie tsb, karena Imam Baihaqiylah yang mengarang kitab itu, bukan anda... Tentang Hadit Dho'if, sang ustad dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa Imam Nawawi menyatakan bahwa menggunakan Hadit Dhoif adalah Bid'ah, dan Madzhab Syafi'ie tidak memakai Hadit Dhoif,,,ck,,ckk,,ck  ini layak dibilang ustad tak ? sayangnya si ustad gak kasitau dimana Imama Nawawi mengatakan hal tersebut, dan dimana dinaqlkan kalau Madzhab Syafi'ie tidak menggunakan Hadit Dha'if,,,ntah karena sang ustad hanya cari sensasi atau memang tidak mau kalau aibnya diketahui orang lain... Penutup,, Sang ustad seolah menjadi pahlawan yang jujur dalam menaqlkan perkataan Ulama, tapi buktinya ??  ustad dari manakah ini ? salafy/wahabykah ? wallahu a'lam
2
« pada: 30 Agustus 2012, 17:01:18 »
Assalamu'alaikum,,, silah lihat kembali bagaimana akhlak salah satu asatidz salafy/wahaby yang satu ini,,,, sebeginikah yang diajarkan para ulama salaf ? sebeginikah akhlak yang di ajarkan Rasulullah,,? layakkah dikatakan mengikuti salaf yang soleh ? wallahu a'lam
3
« pada: 09 Agustus 2012, 17:14:29 »
Assalamu'alaikum,,, afwan kepada para moderator yang mungkin merasa kurang enak dengan beberapa thread yang saya buat,,namun sekali lagi afwan,,bahwa niat saya sebenar bukan hendak menjadikan generasi Islam terpecah belah, namun adalah semata-mata agar kita tahu sejarah dan bagaimana gerakan wahabiy ini melakukan filterisasi ke Masyarakat tidak terlepas di Indonesia.. Senter memang kita sering mendengar bahwa Wahaby adalah gerakan yang didanai oleh Barat terkhusus Yahudi dengan membawa Amerika, namun informasi ini sepertinya tidak menjadi satu kepastian, sehingga muncul opini yang tidak jelas... Oleh karena itu, untuk memperjelas apakah ianya (wahabiy) benar sebagai antek Yahudi atas nama Amerika Serikat, saya bawakan video berikut,,saya berharap semoga dengan video ini para generasi muda yang masih terlibat dengan pola fikir dari kefahaman wahaby ini mendapat pencerahan... silahkan di saksikan wallahu a'lam
4
« pada: 04 Agustus 2012, 11:31:11 »
Assalamu'alaikum,, afwan ya akhi fillah yang aktif di my Qur'an, saya postkan lagi bagaimana ketidak jujuran ustad salafy/wahaby satu ini dalam menaqlkan perkataan ulama.. dalam video ini, Abdul Hakim (ustadz Salafy/Wahaby) telah mengkritisi beberapa hadit yang populer padalah hadit tsb Maudhu, dimana sebenarnya apa yang dilakukan oleh beliau, bukanlah satu perkara yang luar biasa, karena beliau hanya menukil pernyataan Ulama-ulama yang sejak dari dulu sudah meneliti hadit-hadit tersebut, hanya saja karena beliau membicarakannya di depan orang awam, maka terkesan itu adalah sesuatu yang luar biasa Namun ada yang tidak jujur dari pernyataan beliau ketika menyentuh hadit "Ikhtilaf Ummati Rahmah" yang diperkatakan sebagai Hadit "Maudhu", pada menit 31:14. Pada hadit tersebut ia menaqlkan apa yang diperkatakan Ulama Hadit terhadap hadit tersebut, namun sangat di sayangkan ketika menaqlkan komentar Al-Munawi dalam Faidhl Qodhir Syarh Jami'ush Shogir dimana di kitab itu Al-Munawi telah menaqlkan pula pendapat Al-Subki terkait Hadit teresbut, ia tidak jujur, hanya mengambil sepotong kalimat yang diperkatakan oleh Al-Munawi terhadap hadit tersebut, silahkan di nikmati adapun perkataan Imam Al-Munawi ketika mengambil pendapat Al-Subki terhadap hadit tersebut tidak berhenti setakat yang diceritakan oleh Abdul Hakim, namun ianya ada sambungan selanjutnya sbb : قال السبكي وليس بمعروف عند المحدثين ولم أقف له على سند صحيح ولا ضعيف ولا موضوع (ولعله خرج في بعض كتب الحفاظ التي لم تصل إلينا) وأسنده في المدخل وكذا الديلمي في مسند الفردوس كلاهما من حديث ابن عباس مرفوعاً بلفظ اختلاف أصحابي رحمة واختلاف الصحابة في حكم اختلاف الأمة كما مر لكن هذا الحديث قال الحافظ العراقي سنده ضعيف ."al-allamah imam subki berkata bahwa hadit tersebut tidaklah diketahui, dan tidak berhenti dg sanad shahih ataupun dha'if ataupun maudhu', dan mungkin saja hadis tersebut di takhrij oleh sebagian hafidz yang tidak sampai pada kita ( artinya cuma sampai hadisnya saja tanpa sanad ). Namun al-baihaqi telah menyebutkan hadis tersebut dengan sanad dalam madkhalnya begitu juga Ad-Dailami dalam musnadnya dan keduanya daripada hadit ibnu 'abbas dg status marfu' dengan lafadz ikhtilafu ashabi rahmah. Dimana hukum khilafnya para sahabat tentu termasuklah ia sebagai hukum khilafnya umat. tetapi hadis ini oleh al-hafidz al-iraqi dikatakan sanadnya dha'if". ====================== seperti inikah seorang yang dikatakan mengikuti jejak salafunasshaleh ? wallahu a'lam
5
« pada: 04 Agustus 2012, 10:37:23 »
Asslamu'alaikum saya berikan video daripada salah seorang ustad salafy/wahaby, yang sampai sekarang ini masih aktif memberi kuliah/ceramah,, silahkan di lihat dan kita bisa melihat bagaimana karakter ustadz salafy/wahaby ini yang menampakkan akhlak sebenar asatidz salafy/wahaby.. setelah melihat video ini, silahkan saya undang beberapa aktivis salafy/wahaby untuk diskusi di forum ini, terkait ceramah yang diberikan Abdul Hakim di video tersebut, apakah ia seorang yang jujur dan layak dijadikan rujukan dalam mengajak kepada kebaikan atau ianya seorang pendusta yang berusaha mengajak kepada kebencian... wallahu a'lam
6
« pada: 03 Agustus 2012, 14:37:31 »
Assalamu'alaikum saya ingin mengajak kita mendengar merdunya Sholawat Burdah yang telah di qubah kedalam Nasyid berikut : silahkan menikmati di : jazakallah
7
« pada: 24 Oktober 2011, 15:31:58 »
Assalamu'alaikum,,
Ibn Taimiyyah, bukanlah satu sosok yang asing bagi para Thalabl Ilm, ada yang memujanya hingga setinggi langit, dan ada pula yang mencelanya hingga titik nadir. Para pemuja Syeikh ibn Taimiyah, tidak segan akan mencela bahkan menyerang balik bagi sesiapa yang mengkritik Ibn Taimiyah, seakan Ibn Taimiyah tidak mempunyai kesalahan alias suci., dan ini tidak bersesuaian dengan slogan para pengikut Syeikh Ibn Taimiyah karena mereka tidak pernah mengkultuskan bahkan mengharamkan pujian berlebihan kepada satu individu, namun terhadap Ulama yang menjadi panutannya, hal ini tidak berlaku,,
dan dalam topik ini, akan diketengahkan beberapa pernyataan Ibn Taimiyah yang entah karena ketidak tahuan atau kesengajaan berdusta terhadap nash atau khabar yang terkait Ahl Bayit Nabi SAW, sehingga dengan tegas ia (Ibn Taimiyah) memberikan pendiriannya terhadap nash tsb,,
berikut apa yang termaktub dalam Al-Minhaj al-Sunnah, pada Jilid 4 di halaman 248, sbb :
وأما قوله ورووا جميعا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يا فاطمة إن الله يغضب لغضبك ويرضى لرضاك فهذا ككذب منه ما رووا هذا عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا يعرف هذا في شيء من كتب الحديث المعروفة ولا له إسناد معروف عن النبي صلى الله عليه وسلم لا صحيح ولا حسن
Pernyataan-Nya bahwa mereka semua meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berkata: "Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah marah ketika engkau marah dan akan senang bila engkau senang ', ini adalah dusta.
alasan Ibn Taimiyah :
Tidak ada yang meriwayatkan bahwa hal itu berasal dari Nabi, dan tidak tercatat dalam buku-buku hadit yang dikenal, dan tidak memiliki rantai kepada Nabi Muhammad SAW, tidak pula berderajat Sahih atau Hasan
benarkah klaim syeikh Ibn Taimiyyah ini ?
setelah mengecek lebih jauh, maka ditemukan hadit tersebut dalam kitab Hadit Mu'tamad sbb :
Dalam Al-Mustadrak Imam Hakim Jilid 3, pada halaman 154 :
حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب، ثنا الحسن بن علي بن عفان العامري. و أخبرنا محمد بن علي بن دحيم بالكوفة، ثنا أحمد بن حاتم بن أبي غرزة قالا : ثنا عبد الله محمد بن سالم، ثنا حسين بن زيد بن علي، عن عمر بن علي، عن جعفر بن : ( قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لفاطمة : إن الله يغضب لغضبك و يرضى لرضاك. هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه. ). هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه
status hadit SOHIH ISNAD
Dalam Al-Majmu Az-Zawa'id, Imam Haytami pada Jilid 9 halaman 203 :
وفي كتاب : مجمع الزوائد ومنبع الفوائد، الهيثمي وعن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله يغضب لغضبك ويرضى لرضاك. رواه الطبراني وإسناده حسن
isnadnya HASAN
apakah memang Ibn Taimiyah sengaja berdusta atas hal ini, karena ulama sekalas Ibn Taimiyah mustahil tidak mengetahui Hadit ini, namun untuk apa Ibn Taimiyah berdusta atas hal ini ?
wallahu a'lam
8
« pada: 01 Oktober 2011, 12:08:13 »
Assalamu'alaikum wrwb...
sedikit menyentuh daripada lafadz daripada teman-teman di salafy yang terlalu gampang membicarakan soalan Aqidah yang menyangkut Nash sifat daripada Allah SWT, seakan pembicaraan itu layak untuk didiskusikan bahkan oleh orang awam sekalipun..Padahal para alimul ummah sudah sangat baik menjaga aqidah ummat ini, agar tidak sampai kepada taraf menjisimkan Allah dalam I'tiqad, namun lagi-lagi pembicaraan akan hal itu diangkat ke permukaan,,ntah dengan harapan apa,,wallahu a'lam
terkait dengan hal itu, menuaql sana sini memang pula menjadi kebiasaan teman-teman tersebut, dan mengi'tirafkannya kepada para Alimul Ummah seakan mereka berkefahaman seperti kefahaman dirinya (teman-teman tsb), berikut akan kita lihat riwayat yang sering sekali dinukilkan oleh teman-teman salafy dalam membenarkan kefahamannya terhadap nash Sifat
riwayat tsb daripada Imam Malik sbb :
الله في السماء ، وعلمه في كل مكان "Allah di Langit, dan ilmuNya di segala tempat"
khabar ini telah dinaqlkan oleh ramai ulama, diantaranya :
Al-Hafidz Ad-Dzhahabi dalam Syiar A'lam Annubala' 101/8
وروى عبد الله بن أحمد بن حنبل في كتاب : " الرد على الجهمية " ( 1 ) له ، قال: حدثني أبي ، حدثنا سريج بن النعمان ، عن عبد الله بن نافع ، قال : قال مالك : الله في السماء ، وعلمه في كل مكان لا يخلو من شئ
kemudian
Imam Abdillah ibn Hambal dalam As-sunnah Mansub 106-107/1 حدثني أبي رحمه الله قال حدثنا سريج بن النعمان اخبرني عبدالله بن نافع قال : وقال مالك رحمه الله الله عز و جل في السماء وعلمه في كل مكان kemudian
Imam Al-Lalakai dalam I'tiqad Ahl sunnah wal Jama'ah 401/3 pada raqam 673 أخبرنا محمد بن عبد الله بن الحجاج قال أخبرنا أحمد بن الحسين قال ثنا عبد الله بن أحمد قال ثنا أبي قال ثنا سريج بن النعمان قال حدثني عبد الله بن نافع قال ملك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء
kemudian
Imam Ibn Qudamah dalam Itsbat Shifat Al-Uluw 115 اخبرنا ابو بكر عبد الله بنمحمد قال أنبأنا ابو بكر احمد بن علي أنبأ هبة الله بن الحسن أنبأ محمد بن عبيد الله بن الحجاج أنبأ احمد بن الحسن ثنا عبد الله ابن احمد أنبأ ابيثنا سريج بن النعمان قال حدثني عبد الله بن نافع قال قال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء
kemudian
Al-Imam Dzhahabi dalam Tadzkirah Al-Hufadz pada Tarjamah Imam Malik 209/1
وروى عبد الله بن أحمد بن حنبل في كتاب : " الرد على الجهمية " ( 1 ) له ، قال: حدثني أبي ، حدثنا سريج بن النعمان ، عن عبد الله بن نافع ، قال : قال مالك : الله في السماء ، وعلمه في كل مكان لا يخلو من شئ
kemudian
Imam Ahmad dalam Al-Ilal 530/1 pada raqam 1248
Al-Albani dalam Mukhtasar al-Uluw 75
nah, dengan riwayat yang telah ramai dinaqlkan oleh ramai ulama, maka teman-teman salafy mengklaim dan menggunakan riwayat ini sebagai pembenar kefahaman Aqidahnya. Namun mengikut daripada kegigihan teman-teman salafy dalam berhujjah dan memahami dalil dengan mengoreksi seluruh pembawa khabar tersebut, disini kita akan coba menampilkan apa yang diperkatakan ulama terkait pembawa khabar tersebut sbb :
Bila kita lihat, bahwasanya riwayat tersebut berkenaan dengan Aqidah yang secara ijma' bahwa ianya haruslah terhindar dari kelemahan dan cacat karena masalah aqidah tidak bisa tidak terkecuali dengan nash yang Sahih (dengan tafsil)
sekarang saya akan nukilkan bagaimana pernyataan seorang Alim terkemuka yang lahir juga di Albania tempat kelahiran Sheikh Al-Albani
وقال العلامة وهبي سليمان غاوجي الألباني في شرحه لكتاب إيضاح الدليل في قطع حجج أهل التعطيل لبدر الدين بن جماعة ( ص 82 طبعة دار السلام الطبعة الأولى ، 1990 ، بتحقيق وهبي سليمان غاوجي الألباني ) في فصل تحت عنوان " دعاوى خطيرة ليس لها دليل شرعي" ، ما نصه : ( وما يرويه سريج بن النعمان عن عبد الله بن نافع عن مالك أنه كان يقول : " الله في السماء وعلمه في كل مكان " . لا يثبت .
"Berkata daripada Al-'Alamah Wahby Sulaiman Ghawzi Al-Albani terhadap Syarh Kitab إيضاح الدليل في قطع حجج أهل التعطيل daripada Badruddin ibn Jama'ah pada hal 82 sbb :
....dan apa yang telah diriwayatkan oleh Shiraj ibn Nu'man daripada Abdullah ibn Nafi' daripada Malik sesungguhnya ia berkata " Allah di Langit dan Ilmunya di segala tempat "Tidak Benar"
selanjutnya beliau menyatakan :
قال الإمام أحمد : عبد الله بن نافع الصايغ لم يكن صاحب حديث وكان ضعيفا فيه . قال ابن عدي : يروي غرائب عن مالك .
berkata Imam Ahmad : "Abdullah ibn Nafi' tidaklah ia dikenali sebagai Shohib Hadits dan ia itu adalah seorang yang Dho'if berkata Ibn Adiy : "Riwayatnya (Abdullah Ibn Nafi" Asing daripada Malik"
قال الآجري عن أبي داود : ( سمعت أحمد يقول : كان عبد الله بن نافع أعلم الناس برأي مالك وحديثه ، كان يحفظ حديث مالك كله ثم دخله بآخره شك) Berkata Al-Ajriy daripada Abi Dawud : Telah kudengar Ahmad berkata : Adalah Abdullah Ibn Nafi' dikenal oleh orang-orang Hadits yang diriwayatkannya daripada Malik, dia itu adalah penghafal Haditnya Malik, namun di akhir (masanya) membingungkan
قال أبو أحمد الحاكم : ليس بالحافظ عندهم Berkata Abu Ahmad Al-Hakim : Dia (Abdullah bin Nafi' bukanlah seorang Hafid"
وقال أبو طالب عن أحمد : لم يكن صاحب حديث كان ضعيفا فيه
dan berkata Abu Thalib daripada Ahmad : Dia (Abudllah ibn Nafi') bukanlah dari golongan Shohibul Hadit bahkan ia itu Dhoif"
وانما صححوا كتابه ، ولينوه في حفظه dan kitabnya itu baik, namun ia seorang pelupa dalam Hafalannya"
وقال أبو حاتم : ليس بالحافظ هو لين في حفظه ، وكتابه أصح dan berkata Abu Hatim : Dia (Abdullah ibn Nafi') bukanlah seorang Hafid, karena ia suka lupa dalam Hafalannya, dan kitabnya baik"
وقال البخاري : في حفظه شيء ، وقال أيضا : يعرف حفظه وينكروا ، كتابه أصح dan berkata Bukhari : Dalam hafalannya ada sesuatu, dan berkata ia (Bukhari) lagi : diingkari ia (Abdullah ibn Nafi') akan hafalannya namun Kitabnya diterima"
وذكره بن حبان في الثقات وقال : كان صحيح الكتاب وإذا حدث من حفظه ربما أخطأ dan berkata Ibn Hibban dalam Atssiqat : dia (Abdullah Ibn Nafi') adalah seorang yang baik kitabnya namun daripada Hafalannya tidak benar.
وقال عنه الحافظ في التقريب : ( ثقة صحيح الكتاب ، في حفظه لين ) اهـ .. berkata Al-Hafidz dalam Taqrib : Dia (Abdullah ibn Nafi') Baik dalam kitab namun ia Pelupa dalam hafalannya"
قال ابن عدي : يروي غرائب عن مالك Berkata Ibn Adi : "Riwayatnya Asing daripada Malik"
dengan begitu banyak pernyataan Ulama terhadap salah seorang rawi dari riwayat di atas yaitu Abdullah ibn Nafi', maka bisa dikatakan bahwa riwayat "Allah di Langit dan Ilmunya di setiap tempat" adalah "DHOIF", sehingga tidak bisa dijadikan hujjah dalam hal Aqidah
wallahu a'lam
9
« pada: 06 September 2011, 15:43:48 »
Assalamu'alaikum,, sedikit menyentuh blognya ust firanda yang membicarakan mengenai "Kritik" terhadap atsar Tawasul dalam link berikut, http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/127di blognya tersebut, ust firanda ada menyentuh sebuah atsar daripada Imam Malik yang menurut pandangan beliau bahwa atsar tersebut DHOIF, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran dalam memasyrukkan tawasul. namun alangkah ironisnya, vonis beliau (ust Firanda) sama sekali tidak diikuti dengan penjelasan yang memadai bahkan beliau berusaha menjatuhkan vonisnya hanya dengan modal pendapat sendiri dan terkesan terburu-buru... berikut analisa ust Firanda yang terkesan terburu-buru : Sungguh antara Al-Qoodhi 'Iyaadl dan Imam Malik ada 7 rawi.
Tentunya butuh waktu untuk mengecek satu persatu kedudukan rawi-rawi tersebut, oleh karenanya saya berharap ustadz Abu Salafy mendatangkan kedudukan rawi-rawi tersebut dalam al-jarh wa at-ta'diil, sehingga kita bisa mengetahui keabsahan atsar Imam Malik ini.
Akan tetapi pada kesempatan ini pembicaraan kita tertuju 2 rawi:
Pertama : Ya'quub bin Ishaaq bin Abi Israaiil
Kedua : Ibnu Humaid yang langsung meriwayatkan dari Imam Malik dalam sanad ini yaitu.
Adapun Ya'quub bin Ishaaq bin Abi Israa'il adalah maka dikatakan oleh Ad-Daaruquthni : "Laa ba'sa bihi" (Tariikh Bagdaad 16/425 dan Mausuua'ah Aqwaal Abil hasan Ad-Daaruquthni fii rijaalil hadiits wa 'ilalihi 2/725). Adz-Dzahabi mengklasifikasikan Ya'quub bin Ishaaq bin Abi Israaiil pada tobaqoh ke 29 yaitu mereka yang wafat antara tahun 281 H hingga 290 H (lihat Taariikh Al-Islaam 21/337 no 602).
Adapun Ibnu Humaid maka ada dua kemungkinan
- Kemungkinan pertama : Ibnu Humaid adalah Muhammad bin Humaid Al-Yasykari Abu Sufyaan Al-Ma'mari (wafat tahun 182 H), dan ia adalah perawi yang tsiqoh (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 839 no 5872). Dan kemungkinan yang pertama ini (sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang) adalah tidak mungkin, karena tatkala Ibnu Humaid adalah ini maka jelas dia tidak bertemu dengan Ya'quub bin Ishaaq bin Abi Israa'il, karena Ibnu Humaid ini meninggal sebelum lahirnya Ya'quub
- Kemungkinan kedua (dan inilah kemungkinan yang benar): Muhammad bin Humaid bin Hayyaan At-Tamimi, abu Abdillah Ar-Roozi (wafat tahun 248 H) (lihat biografinya di Tahdziibul Kamaal 25/97, tahdziib At-Tahdziib 3/546, dan taqriib At-Tahdziib hal 839 no 8571), dan ia adalah perawi yang dho'iif, bahkan Abu Zur'ah menuduhnya berdusta.
Dari penjelasan di atas maka jelas bahwasanya dalam sanad atsar ini ada perawi yang lemah bahkan tertuduh dusta yaitu Muhammad bin Humaid bin Hayyaan Ar-Roozi. Ini menunjukan lemahnya atsar dari Imam Malik ini.
Selain itu ada 'illah yang lain pada atsar ini yaitu inqithoo' (terputusnya sanad), hal ini dikarenakan Ibnu Humaid ternyata tidak bertemu dengan Imam Malik, karena Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan dengan panjang lebar tentang lemahnya atsar ini (lihat Majmuu' Al-Fataawaa 1/228-230, demikian juga Ibnu Abdil Haadi dalam kitabnya As-Shoorim Al-Munki fi ar-Rod 'alaa As-Subki hal 415-419)
=============================================================================================== setelah melihat pernyataan ust Firanda, maka dapat di simpulkan bahwa beliau menjatuhkan atsar itu kepada DHOIF, padahal beliau belum lagi mengetahui bagaimana kedudukan rawi-rawi yang menjadi sanad daripada atsar tersebut secara menyeluruh, dan juga tidak menaqlkan bagaimana penilaian Ulama lain yang berkenaan dengan atsar tersebut, bahkan pernyataan Qodhi Iyadh sendiri juga tidak dinaql oleh beliau,,, nah, disini kita akan coba lihat dan analisa, apakah memang benar apa yang dikatakan oleh ust firanda bahwa atsar itu DHOIF ? atau sang ust terlalu berani menghukumi atsar itu diluar kapasitas beliau hanya baru menyentuh pembelajar hadit, bukan ahlul hadit atau bahkan Imam Hadit berikut atsar tersebut yang termaktub dalam Al' Syifa' daripada Qodhi Iyadh - .... وإلى هذا التوسل أشار الإمام مالك رحمه الله تعالى للخليفة الثاني من بني العباس ، وهو المنصور جد الخلفاء العباسيين ، وذلك أنه لما حج المنصور المذكور وزار قبر النبي (ص) سأل الإمام مالكاًً وهو بالمسجد النبوي ، وقال له : يا أبا عبد الله أستقبل القبلة وأدعو أم أستقبل رسول الله (ص) ؟ فقال مالك : ولم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك ووسيلة أبيك آدم إلى الله تعالى ، بل إستقبله وإستشفع به فيشفعه الله فيك ، قال تعالى : ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله وإستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباً رحيما.atsar ini telah banyak dinaql oleh ramai ulama seperti - الإمام مالك (ر) ( م 129 ه ) روى القاضي عياض المالكي ( م 544 ه ) في الشفاء بإسناد صحيح باب حرمة النبي (ص) بعد موته لازم ، نقله الإمام شهاب الدين الخفاجي ( م 812 ه ) في شرح الشفاء ج 3 ، ص 398 ، أنه لما حج المنصور ( الخليفة الثاني من بني عباس ) وزار قبر النبي (ص) سأل الإمام مالكاً (ر) وهو بالمسجد النبوي وقال له : يا أبا عبد الله أستقبل القبلة وأدعو أم أستقبل رسول الله (ص) فقال مالك (ر) : ولم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك ووسيلة أبيك آدم إلى الله تعالى بل إستقبله وإستشفع به فيشفعه الله فيك. : kemudian, - نقله الإمام السبكي ( م 256 ه ) في شفاء السقام ، ص 154. kemudian, - نقله الإمام القسطلاني ( م 923 ه ) في المواهب باب زيارة قبر النبي (ص).kemudian, - نقله الإمام السمهودي ( م 911 ه ) في وفاء الوفاء ، ص 1326 ه . kemudian, - نقله الإمام الزرقاني ( م 1122 ه ) في شرح المواهب ، ج 8 ، ص 352. kemudian, - وقال رواه القاضي : بإسناد صحيح رجاله ثقات. kemudian, - الإمام الأعظم أبو حنيفة (ر) ( م 150 ه ) روى الإمام أبو حنيفة في مسنده كتاب الحج : عن نافع بن عمر (ر) من السنة أن تأتي قبر النبي (ص) من قبل القبلة وتجعل ظهرك إلى القبلة وإستقبل القبر لوجهك ثم تقول السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته.kemudian,
- الإمام كمال الدين بن الهمام الحنفي (ر) ( م 861 ه ) فتح القدير ، ج 2 ، ص 332 ، كتاب الحج ، باب زيارة النبي (ص) : ويسأل الله حاجته متوسلا إلى الله بحضرة نبيه ثم قال : يسأل النبي (ص) الشفاعة فيقول يا رسول الله أسألك الشفاعة يا رسول الله أتوسل بك إلى الله.kemudian, - الإمام الشافعي (ر) ( م 204 ه ) روى الحافظ أبو بكر الخطيب البغدادي ( م 463 ه ) في التاريخ ج 1 ، ص 123 ، بسند صالح : أن الإمام الشافعي (ر) أيام هو ببغداد كان يتوسل بالإمام أبي حنيفة (ر) يجئ إلى ضريحه يزوره فيسلم عليه ثم يتوسل إلى الله تعالى به في قضاء حاجاته.
- نقله العلامة إبن حجر ( م 923 ه ) في كتابه الخيرات الحسان ، ص 69 أيضاً قول الشافعي متوسلا بأهل البيت النبوي.dan bagaimana Al-hukmu bis Shihah menyatakan rawi atsar tersebut ? ذكره القاضي عياض في الشفاء وساقه بإسناد صحيح."Qodhi iyadh menyatakan dalam Asy'Syifa' dengan SANAD SHOHIH ق ال العلامة إبن حجر في [ الجوهر المنظم ] : رواية ذلك عن الإمام مالك جاءت بالسند الصحيح الذي لا مطعن فيه.Berkata 'al'alamah Ibn Hajar dalam Al Jauhar Al munazzham menyatakan : "Riwayat ini daripada Imam Malik dengan SANAD SOHIH dan tidak ada masalah padanya" وقال العلامة الزرقاني في [ شرح المواهب ] : ورواها إبن فهد بإسناد جيد.berkata 'al'alamah Zarqoniy dalam Syarh Mawahib : " Riwayatnya Ibn Fahd dengan sanad Jayyid nah, dari apa yang saya naqlkan telah terlihat bagaimana begitu banyak ulama yang menaql atsar tersebut di kitab-kitab mereka, bahkan ianya dihukumkan kepada SOHIH ISNAD!! bukan DHOIF sebagaimana vonis dari Ust Firanda sampai di sini dulu untuk sementara, semoga diskusi atas bab ini bisa menemukan titik temu yang layak dipegangi,,,, silahkan,,,,,,,,,,,,,,,,,, wallahu a'lam
10
« pada: 25 Agustus 2011, 15:20:34 »
Assalamu'alaikum,,, ikhwan fillah, bagaimana status hadit ini ?
عن عمر رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يسمح بهما وجهه
jazakallah
11
« pada: 26 April 2008, 17:42:19 »
Assalamu'alaikum,,
Salam sejahtera bagi para netter dan semua kaum muslimin dan muslimat,, teruntuk para wahabi diforum ini, ada sedikit pertanyaan yang mungkin bisa dijawab, adakah benar kalau wahabi pernah mensyirikkan sahabat Nabi Muhammad SAW ?
Wallahu a'lam
12
« pada: 28 November 2007, 17:12:18 »
Bismillahirrohmanirrohim,,,
Dewasa ini, ramai yang terkeliru dengan slogan yang mengatakan bahawa: “ayo, mari kita kembali kepada manhaj salafus soleh?” Kita kemudian bertanya kepada mereka: “Apakah maksud dari seruan saudara tersebut. Adakah, saudara menyeru sedemikian kareana kami (majoriti umat Islam) kini tidak mengikut manhaj salafus soleh?”. Sebahagian daripada mereka akan pasti menjawab: “Tidak. Kamu semua (iaitu golongan yang didakwa sebagai konservertif di Malaysia dan Indonesia, dan digelar sebagai Al-Asya’irah di seluruh dunia), mengikut manhaj Al-Asya’irah (ulama’ beraliran Al-Asya’irah dalam bidang aqidah), bukan manhaj salafus soleh?”
Justru, jika kita tanyakan kepada mereka, apakah bedanya antara mazhab dan kefahaman golongan Al-Asya’irah (golongan majoriti Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan merekalah (dan golongan Al-Maturidiyah) merupakan golongan yang dimaksudkan sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah terutamanya sebelum Sheikh Ibn Taimiyah muncul), dengan mazhab salafus solehnya ?”
Sebenarnya, apabila kita kembali merujuk buku-buku para pelopor aliran tersebut (aliran yang mendakwa golongan Al-Asya’irah bercanggah dengan golongan salafus soleh yang hidup dalam tiga kurun terawal hijrah), seperti buku fatawa Ibn Taimyah, Kitab Tauhid, Fathul Majid, dan pelbagai Syarah pemuka-pemuka mereka kepada matan Aqidah At-Tohawiyah, maka akan ditemukan perbandingan dengan ucapan-ucapan para ulama’ salafus soleh menerusi buku-buku mereka dan seterusnya membuat perbandingan semula dengan buku-buku para ulama’ Al-Asya’irah, khususnya berkenaan dengan masalah ayat-ayat mutasyabihat.
Antara buku-buku yang sempat kami rujuk dan telahlah pula dipelajari dalam majelis, dalam melihat pendirian ulama’ salafus soleh adalah seperti buku Al-Musnad bagi Imam Ahmad, kitab-kitab hadis yang enam, dan sebagainya dan begitu juga buku-buku ulama’ Al-Asya’irah yang menukilkan perkataan-perkataan ulama’ salaf dalam perkara tersebut, seperti buku Iljamul Awam fi Ilmil Kalam dan berbagai buku dalam bidang aqidah karangan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali r.a., Al-Asma’ Wa As-Sifat bagi Imam Al-Baihaqi, Mukhtasar Al-Ulwi bagi Imam Az-Zahabi, Asas At-Taqdis bagi Imam Ar-Razi dan sebagainya. Begitu juga, dengan merujuk buku-buku ulama’ moden seperti Fusulun fil Aqidah karangan Dr. Al-Qaradhawi, As-Salafiyah karangan Dr. Al-Buti, Naqd Qowaid At-Tasybih karangan guru kami sidi Dr. Umar Abdullah Kamil An-Naqsyabandi, Naqd risalah tadmuriyyah dan Kasyf Shogir karangan Sheikh Sa’id Fudah dan sebagainya.
Mengapa kita perlu menyeru golongan yang menyeru kita kepada manhaj salafus soleh, kepada manhaj salafus soleh, sedangkan dari dakwaan mereka, seolah-olah mereka sudah bersama-sama dengan manhaj salafus soleh (khususnya dalam masalah mutasyabihat tersebut)?
Kita menyeru mereka kembali kepada manhaj salafus soleh kareana merekalah yang tidak bersama manhaj salafus soleh, sedangkan golongan Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyah sudah sekian lama bersama dengan manha salafus soleh. Mereka hanya bersama dengan sangkaan mereka, bahawa mereka sudah bersama dengan salafus soleh. Bak firman Allah s.w.t.: “Sesungguhnya sangkaan tidak mendatangkan kepada sebarang kebenaran”.
Insya Allah, beginilah apa-apa yang mereka sering dakwahkan : “Golongan salafus soleh bermanhaj isbat (menetapkan sitaf-sifat yang mutasyabihat) sedangkan golongan Al-Asya’irah menta’wilkan sifat-sifat khabariyyah (mutasyabihat).”
Dengan menukilkan beberapa perkataan ulama’ salaf yang mengingkari ta’wil dan menyeru kepada isbat. Dan, inilah yang mereka sering lakukan untuk mengelirukan golongan awam, dan sebahagian golongan ahli ilmu, dengan dakwaan, golongan Al-Asya’irah tidak mengikut Salafus Soleh dalam berinteraksi dengan sifat-sifat Khabariyyah (mutasyabihat). Jika kita sebagai orang awam, maka janganlah terkejut dengan dakwaan ini, dengan bermacam nukilan mereka, dalam membuktikan bahawa Al-Asya’irah sememangnya bertentangan dengan golongan salafus soleh.
Benarkah dakwahan mereka terhadap golongan Al-Asya’irah tersebut, yang mana, menurut mereka, bercanggah dengan manhaj salafus soleh, ataukah mereka yang tidak mengikuti kefahaman para Salafussholeh ?
InsyaAllah akan kita diskusikan,,
Wallahu a'lam
13
« pada: 17 Oktober 2007, 12:53:12 »
Assalamu'alaikum,,,
Tawasul adalah satu amalan yang baik, dan diperbolehkan dalam agama yang mulia ini, namun kenapa sebagian orang malah mencelanya ? bahkan mengatakan sebagai bid'ah ? apakah hujjah ini tanpa ilmu ?
wallahu a'lam
14
« pada: 21 September 2007, 17:57:57 »
Assalamu'alaikum,,,
Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang faham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan gamblang Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Pada masa ulama salaf, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya.
Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al- Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.
Untuk pembahasan ini, adalah terkhusus atas Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (Asy'aryah) yang telah diakui pula oleh ulama2 dari 4 madzhab besar,,dan insyaAllah kami tetap teguh berada di atas jalan yang mulia ini (mengikuti jalan asy'ariyah) untuk terus belajar agama yang mulia dan benar seperti yang telah dianjurkan oleh guru2 kami yang mulia.
Wallahu a'alam
15
« pada: 03 September 2007, 19:51:16 »
Assalamu'alaikum,,
Ibnu taymiyah dipenjarakan dan meninggal juga dipenjara atas kesepakatan Ulam 4 mazhab salafus-sholeh, benarkah ia mengikut para salafus-sholeh?
wassalam
|
myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
- myQripik produk baru!
- Jaket
- Kaos
- Kalender
- Stiker
|