Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Kilas Balik Sejarah Perkembangan Islam  (Dibaca 9128 kali)


Offline GhiF

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.129
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • . . . . . . .
    • Lihat Profil
« pada: 31 Oktober 2006, 11:56:34 »
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

yuk rekan2, kita kumpulin catatan sejarah event2 penting dalam dunia Islam secara ringkas.
kalo bisa secara berurutan, agar thread ini barangkali bisa menjadi semacam ensiklopedi kecil penambah wawasan kita.

moga bermanfaat.

(\__/) Lembut tanpa ketegasan adalah kelemahan
(='.'=) Tegas tanpa kelembutan adalah kesewenangan
('')_('') Keduanya akan menimbulkan fitnah

(\__/) Kebaikan itu ada 2 pilar : Benar & Santun
(^_^) Benar ga Santun = bikin siapapun akan melecehkan kebenaran
('')_('')Santun ga Benar = Pendusta

Offline GhiF

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.129
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • . . . . . . .
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 31 Oktober 2006, 12:05:33 »
545: Kelahiran Abdullah, ayahanda rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam

571: Kelahiran rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam. Tahun gajah. Penyerangan Ka'bah oleh Abraha dan bala tentaranya.

577: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam ke Madinah dengan ibundanya. Dan tahun wafat ibundanya.

580: Wafatnya Abdul Muttalib, kakek rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam.

583: Perjalanan rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam ke Syria menemani pamannya Abu Talib. Dan pertemuannya dengan rahib Bahira di Bisra yang mengabarkan tentang kenabiannya.

586: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam terlibat dalam perang Fijar.

591: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam terlibat aktif dalam "Hilful Fudul".

594: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam menjadi manager dari bisnis milik Khadijah, dan membawa dagangannya ke Syria dan kembali.

595: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam menikahi Khadijah.
(\__/) Lembut tanpa ketegasan adalah kelemahan
(='.'=) Tegas tanpa kelembutan adalah kesewenangan
('')_('') Keduanya akan menimbulkan fitnah

(\__/) Kebaikan itu ada 2 pilar : Benar & Santun
(^_^) Benar ga Santun = bikin siapapun akan melecehkan kebenaran
('')_('')Santun ga Benar = Pendusta

Offline GhiF

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.129
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • . . . . . . .
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 02 November 2006, 11:06:53 »
605: rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam mengambil keputusan pada perselisihan diantara kaum Quraisy tentang Hajar Aswad di Ka'bah.

610: Wahyu pertama di Gua Hira. Pengangkatan atas Muhammad sebagai rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam.

613: Da'wah kepada Islam secara terang2an pertama di Sara.

614: Da'wah ke Bani Hasyim untuk memeluk Islam.

615: Penganiyaan kaum Quraisy kepada ummat Muslim. Sebagian ummat Islam pergi ke Abyssinia.

616: Hijrah kedua ke Abysinnia.

617: Pemboykotan kaum Quraisy kepada Bani Hasyim dan rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam. Bani Hasyim tinggal di salah satu lembah diluar kota Mekkah

619: Pengakhiran boykot. Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Tahun kesedihan bagi rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam.

620: Perjalanan ke Thaif. Peristiwa Isra Mi'raj.

621: Bai'at pertama di Aqaba.

622: Bai'at kedua di Aqaba. rasulullah shallallahu 'alayhi wassalam dan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib/ Madinah.

623: Ekspedisi Nakhla
(\__/) Lembut tanpa ketegasan adalah kelemahan
(='.'=) Tegas tanpa kelembutan adalah kesewenangan
('')_('') Keduanya akan menimbulkan fitnah

(\__/) Kebaikan itu ada 2 pilar : Benar & Santun
(^_^) Benar ga Santun = bikin siapapun akan melecehkan kebenaran
('')_('')Santun ga Benar = Pendusta

Offline GhiF

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.129
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • . . . . . . .
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 07 November 2006, 15:41:29 »
624: Perang Badr. Pengusiran kaum Yahudi Bani Qainuqa dari Madinah.

625: Perang Uhud. Pembantaian 70 orang muslim di Bir Mauna. Pengusiran kaum Yahudi Bani Nadir dari Madinah. Expedisi Badr kedua.

626: Ekspedisi Bani Mustaliq.

627: Perang Khandaq. Pengusiran kaum yahudi Bani Quraiza.

628: Perjanjian Hudaibiyah. Ekspedisi ke Khyber. Rasulullah shallallahu'alayhi wassalam mengirimkan surat ke para pemimpin kedaulatan.

629: Rasulullah shallallahu'alayhi wassalam menunaikan haji di Mekkah. Ekspedisi ke Muta (Romans).

630: Penaklukkan kota Mekkah. Perang Hunsin, Auras, dan Taif.

631: Ekspedisi ke Tabuk. Tahun perutusan.

632: Rasulullah shallallahu'alayhi wassalam haji wada' di Mekkah.

632: Wafatnya Rasulullah shallallahu'alayhi wassalam. Pengangkatan Abu Bakr sebagai Khalifah. Usamah memimpin ekspedisi ke Syria. Perang Zu Qissa dan Abraq. Perang Buzakha, Zafar dan Naqra. Da'wah melawan kaum munafiqin Bani Tamim dan Musailima.

633: Da'wah di Bahrain, Oman, Mahrah Yemen, dan Hadramaut. Penyerangan Iraq. Pertempuran Kazima, Mazar, Walaja, Ulleis, Hirah, Anbar, Ein at tamr, Daumatul Jandal dan Firaz.

634: Peperangan Basra, Damaskus dan Ajnadin. Wafatnya Abu Bakr. Umar bin Khattab menjadi Khalifah. Pertempuran Namaraq dan Saqatia.

635: Pertempuran Buwaib. Penaklukan Damaskus. Perang Fahl. (oya, kalo gak salah inget ada satulagi perang pada tahun ini, cuman lupa apa nama perangnya?)
(\__/) Lembut tanpa ketegasan adalah kelemahan
(='.'=) Tegas tanpa kelembutan adalah kesewenangan
('')_('') Keduanya akan menimbulkan fitnah

(\__/) Kebaikan itu ada 2 pilar : Benar & Santun
(^_^) Benar ga Santun = bikin siapapun akan melecehkan kebenaran
('')_('')Santun ga Benar = Pendusta

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 23 Februari 2007, 15:58:36 »
ane mau nambahin mulai dari bani umayah...
afwan kl ada yg salah...

DINASTI BANI UMAYYAH

Umayyah bin 'Abd asy-Syams merupakan pendiri dari Bani Umayyah.
Umayyah merupakan ayah dari Harb bin Umayyah dan Abu al-'Ash bin Umayyah

Kronologi Kerajaan Bani Ummaiyyah
•   661 M- Muawiyah menjadi khalifah dan mendirikan Bani Ummayyah.
•   670 M- Perluasan ke Afrika Utara. Penaklukan Kabul.
•   677 M- Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Serangan ke Konstantinopel.
•   680 M- Kematian Muawiyah. Yazid I menaiki takhta. Peristiwa pembunuhan Husain.
•   685 M- Khalifah Abdul-Malik menegaskan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.
•   700 M- Kempen menentang kaum Barbar di Afrika Utara.
•   711 M- Penaklukan Spanyol, Sind, dan Transoxiana.
•   713 M- Penaklukan Multan.
•   716 M- Serangan ke Konstantinopel.
•   717 M- Umar bin Abdul-Aziz menjadi khalifah. Reformasi besar-besaran dijalankan.
•   725 M- Tentera Islam merebut Nimes di Perancis.
•   749 M- Kekalahan tentara Ummayyah di Kufah, Iraq ditangan tentara Abbasiyyah.
•   750 M- Damsyik direbut oleh tentara Abbasiyyah. Kejatuhan Kekhalifahan Bani Ummaiyyah.


Kekhalifahan Umayyah di Damaskus
1.   MUAWIYAH I bin Abu Sufyan, 661-680
2.   YAZID I bin Muawiyah, 680-683
3.   MUAWIYAH II bin Yazid, 683-684
4.   MARWAN I bin al-Hakam, 684-685
5.   ABDUL-MALIK bin Marwan, 685-705
6.   AL-WALID I bin Abdul-Malik, 705-715
7.   SULAIMAN bin Abdul-Malik, 715-717
8.   UMAR II bin Abdul-Aziz, 717-720
9.   YAZID II bin Abdul-Malik, 720-724
10.   HISYAM bin Abdul-Malik, 724-743
11.   AL-WALID II bin Yazid II, 743-744
12.   YAZID III bin al-Walid, 744
13.   IBRAHIM bin al-Walid, 744
14.   MARWAN II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira) 744-750

Emir Umayyah di Kordoba
•   Abd ar-Rahman I, 756-788
•   Hisham I, 788-796
•   al-Hakam I, 796-822
•   Abd ar-Rahman II, 822-888
•   Abdallah ibn Muhammad, 888-912
•   Abd ar-Rahman III, 912-929

Kekhalifahan Umayyah di Kordoba
•   Abd ar-Rahman III, 929-961
•   Al-Hakam II, 961-976
•   Hisham II, 976-1008
•   Mohammed II, 1008-1009
•   Suleiman, 1009-1010
•   Hisham II, 1010-1012
•   Suleiman, restored, 1012-1017
•   Abd ar-Rahman IV, 1021-1022
•   Abd ar-Rahman V, 1022-1023
•   Muhammad III, 1023-1024
•   Hisham III, 1027-1031


Muawiyah bin Abu Sufyan (602 - 680) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.
Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 sampai dengan 680.

Yazid bin Muawiyah bergelar Yazid I (± 645 - 683) ialah khalifah kedua Bani Umayyah dan pengganti ayahandanya Muawiyah.
Insiden khusus dari masa pemerintahannya terjadi dalam Peperangan Karbela di mana cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali terbunuh. Husain bukanlah tokoh terkemuka yang menentang kenaikan Yazid ke kursi kekholifahan; ia juga ditentang Abdullah bin Zubair yang menyatakan menjadi khalifah sesungguhnya. Saat orang-orang Hejaz mulai memberikan kesetiaan pada Abdullah, Yazid mengirim pasukan untuk mengamankan daerah itu, dan Makkah diserbu. Selama penyerbuan, Ka’bah rusak, namun pengepungan berakhir dengan kematian mendadak Yazid pada 683.
Sebagai lelaki muda Yazid mengkomando pasukan Arab yang ayahandanya Muawiyah mengirim untuk mengepung Konstantinopel. Segera setelah itu ia menjadi khalifah, namun banyak dari yang ayahandanya telah menjaga di bawah pengawasan memberontak terhadapnya.
Walau disajikan dalam banyak sumber sebagai penguasa yang risau, dengan penuh semangat Yazid mencoba melanjutkan kebijakan ayahandanya dan menggaji banyak orang yang membantunya. Ia memperkuat struktur administrasi khilafah dan memperbaiki pertahanan militer Suriah, basis kekuatan Bani Umayyah. Sistem keuangan diperbaiki. Ia mengurangi pajak beberapa kelompok Kristen dan menghapuskan konsesi pajak yang ditanggung orang-orang Samara sebagai hadiah untuk pertolongan yang telah disumbangkan di hari-hari awal penaklukan Arab. Ia juga membayar perhatian berarti pada pertanian dan memperbaiki sistem irigasi di oasis Damsyik. Ia digantikan putranya Muawiyah II.


Muawiyah bin Yazid bergelar Muawiyah II (661 - 684) ialah Khalifah Bani Umayyah selama hampir 6 bulan setelah kematian ayahandanya Yazid I. Khilafah yang diwarisinya dalam keadaan kacau sebab pernyataan Ibnu Zubair sebagai khalifah sebenarnya dan memegang daerah Hejaz seperti daerah lain.
Muawiyah II dianggap sebagai orang yang ramah yang yang tidak giat melibatkan diri dalam politik. Umumnya dipercaya bahwa ia turun tahta dan meninggal segera setelah itu, meski beberapa sumber menyebutkan ia diracun. Ia digantikan oleh keluarga Bani Umayyah, Marwan I.


Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 23 Februari 2007, 16:01:22 »
Marwan bin al-Hakam bergelar Marwan I (623 - 685) ialah Khalifah Bani Umayyah yang mengambil alih tampuk kekuasaan setelah Muawiyah II menyerahkan jabatannya pada 684. Naiknya Marwan menunjukkan pada perubahan silsilah Bani Umayyah dari keturunan Abu Sufyan ke Hakam, mereka ialah cucu Umayyah (darinya nama Bani Umayyah diambil). Hakam ialah saudara sepupu Utsman ibn Affan.
Selama masa pemerintahan Utsman, Marwan mengambil keuntungan dari hubungannya pada khalifah dan diangkat sebagai Gubernur Madinah. Bagaimanapun, ia diberhentikan dari posisi ini oleh Ali, hanya diangkat kembali oleh Muawiyah I. Akhirnya Marwan dipindahkan dari kota ini saat Abdullah bin Zubair memberontak terhadap Yazid I. Dari sini, Marwan pergi ke Damsyik, di mana ia menjadi khalifah setelah Muawiyah II turun tahta.
Masa pemerintahan singkat Marwan diwarnai perang saudara di antara keluarga Umayyah seperti perang terhadap Ibnu Zubair yang melanjutkan pemerintahan atas Hejaz, Irak, Mesir dan bagian Suriah. Marwan sanggup memenangkan perang saudara Bani Umayyah, akibat dari yang merupakan jalur Marwan yang baru dari Khalifah Umayyah. Ia juga sanggup menaklukkan kembali Mesir dan Suriah dari Abdullah, namun tak sanggup sepenuhnya mengalahkannya.


'Abdul-Malik bin Marwan adalah khalifah kelima dari Bani Umayyah, menggantikan khalifah Marwan bin al-Hakam pada 692 Masehi. Selama masa pemerintahannya ia membebaskan banyak kota seperti kota-kota Romawi (696-705 M), Afrika Utara (698-703 M), dan Turkistan (705 M). Tahun 705 M ia digantikan oleh al-Walid bin 'Abd al-Malik.


Al-Walid bin Abdul-Malik bergelar Al-Walid I (668 - 715) ialah Khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara 705 - 715. Ia melanjutkan ekspansi Khilafah Islam yang dicetuskan ayahandanya, dan merupakan penguasa yang efektif.
Al-Walid I ialah putra sulung Abdul-Malik dan menggantikannya ke kursi kekhilafahan setelah kematiannya. Seperti ayahandanya, ia melanjutkan untuk memberikan kebebasan pada Al-Hajjaj bin Yusuf, dan kepercayaannya Al-Hajjaj dilunasi dengan penaklukan sukses Transoxiana (706), Sindh (712), sebagian Prancis (711), Punjab (712), Khawarizm (712), Samarkand (712), Kabul (kini di Afganistan, pada 713), Tus (715), Spanyol (711), dan tempat-tempat lain. Hajjaj bertanggung jawab memilih jenderal yang menunjukkan kampanye sukses, dan banyak dikenal dari kampanye suksesnya terhadap Ibn Zubair selama masa pemerintahan ayahanda Al-Walid.
Al-Walid sendiri melanjutkan pemerintahan yang efektif yang merupakan ciri-ciri ayahandanya, ia mengembangkan sistem kesejahteraan, membangun rumah sakit, institusi pendidikan dan langkah-langkah untuk apresiasi seni. Al-Walid sendiri merupakan penggemar berat arsitektur lalu memperbaiki, memperluas dan memperbaharui kembali Masjid Nabawi di Madinah tahun 706. Di samping itu, ia mengubah Basilika Kristen St. Yohanes Pembaptis menjadi mesjid besar, kini dikenal sebagai Masjid Agung Damaskus atau secara singkat Masjid Umayyah. Al-Walid juga secara besar-besaran mengembangkan militer, membangun angkatan laut yang kuat.
Ia juga dikenal karena kesalehan pribadinya dan banyak cerita menyebutkan bahwa ia terus-menerus mengutip al-Qur'an dan selalu menjadi tuan rumah yang menyajikan jamuan besar untuk orang-orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Al-Walid digantikan saudaranya Sulaiman bin Abdul-Malik.



Sulaiman bin Abdul-Malik (± 674 - 717) ialah Khalifah Bani Umayyah yang memerintah dari 715 sampai 717. Ayahandanya ialah Abdul-Malik, dan merupakan adik khalifah sebelumnya al-Walid I.
Sulaiman mengambil kekuasaan, dalam, pada lawan politiknya Al-Hajjaj bin Yusuf. Bagaimanapun, al-Hajjaj meninggal pada 714, maka Sulaiman menyiksa sekutu politiknya. Di antaranya ada 3 jenderal terkenal Qutaibah bin Muslim, Musa bin Nusair, dan Muhammad bin Qasim. Seluruhnya ditahan dan kemudian dibunuh.
Di bawah pemerintahannya, ekspansi berlanjut ke bagian pegunungan di Iran seperti Tabiristan. Sulaiman juga memerintahkan serangan ke Konstantinopel, namun gagal. Di kancah domestik, dengan baik ia telah membangun di Makkah untuk ziarah, dan mengorganisasi pelaksanaan ibadah. Sulaiman dikenal untuk kemampuan pidatonya yang luar biasa, namun hukuman matinya pada ke-3 jenderalnya menyuramkan reputasinya.
Ia hanya memerintah selama 2 tahun. Ia mengabaikan saudara dan putranya, dan mengangkat Umar bin Abdul-Aziz sebagai penggantinya sebab reputasi Umar sebagai salah satu dari yang bijaksana, cakap dan pribadi alim di masa itu. Pengangkatan seperti jarang terjadi pada masa itu, walau secara teknis memenuhi cara Islam untuk mengangkat pengganti, mengingat pengangkatan berkelanjutan tidak.


Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 23 Februari 2007, 16:08:29 »
Umar II (lengkap: Umar bin Abdul-Aziz, lahir Halwan, Mesir 63H/682, wafat 719) adalah putra Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir saat itu, dan Umm Asim, cucu Umar bin Khattab. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.
Pada tahun 706, Umar diangkat menjadi gubernur Madinah oleh khalifah al-Walid I.
Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Beliau di bai'at sebagai khalifah pada hari Jum'at setelah shalat Jum'at. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.
Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh pembantunya.


Yazid bin Abdul-Malik atau Yazid II (687 - 724) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa antara 720 sampai kematiannya pada 724.
Pengangkatan Yazid dihantam oleh konflik internal dan eksternal di sana-sini. Sejumlah perang saudara mulai pecah di bagian yang berbeda dari kekhilafahan seperti Spanyol, Afrika dan di timur. Reaksi keras oleh penguasa Bani Umayyah tak membantu persoalan, dan kelompok anti-Umayyah mulai memperoleh kekuasaan di antara mereka yang tak puas. Ini menyebabkan kelompok seperti Bani Abbasiyah mulai membangun dasar kekuatan yang akan digunakannya untuk merobohkan Khilafah Bani Umayyah. Namun Khilafah Bani Umayyah belum benar-benar surut.
Yazid II meninggal pada 724 karena tuberkulosis. Ia digantikan saudaranya Hisyam.


Hisyam bin Abdul-Malik (691–743) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari 723 sampai kematiannya pada 743.
Mewarisi kekhilafahan dari saudaranya Yazid II, Hisyam menguasai khilafah dengan banyak masalah berbeda. Ia akan, bagaimanapun, berhasil in attending to masalah-masalah itu, dan memberikan Khilafah Umayyah berlanjut sebagai negara masa pemerintahannya yang panjang merupakan yang berhasil, dan memperlihatkan kelahiran kembali perbaikan yang dirintis Umar bin Abdul-Aziz.
Seperti saudaranya al-Walid I, Hisyam merupakan pelindung seni yang besar, dan ia kembali mendorong seni di negaranya. Ia juga mendorong pengembangan pendidikan dengan membangun banyak sekolah, dan barangkali yang terpenting, dengan mengawasi penerjemahan sejumlah karya besar sastra dan ilmiah ke dalam bahasa Arab. Ia mengembalikan penafsiran sempurna Syari’at sebagaimana Umar telah melakukannya, dan menjalankannya, sama terhadap keluarganya sendiri. Kemampuannya mendirikan garis keturunan Umayyah mungkin telah merupakan faktor penting keberhasilannya, dan mungkin menunjukkan mengapa saudaranya Yazid tak efektif.
Di bidang militer, Hisyam mengirimkan pasukan mengakhiri pemberontakan Hindu di Sind, dan berhasil saat penguasa Hindu Jai Singh terbunuh. Ini mengizinkan Bani Umayyah menegaskan kembali kekuasannya atas provinsi di India. Di Spanyol, perseteruan dalam negeri dari tahun-tahun terakhir itu berakhir, dan Hisyam mengirimkan pasukan besar yang berangkat ke Prancis. Walau awalnya sukses, mereka dikalahkan dalam Pertempuran Tours (Balat asy-Syuhada) oleh Charles Martel. Bagaimanapun, Khilafah Islam melanjutkan menguasai Spanyol. Di Afrika Utara, pemberontakan besar Berber ditumpas, dengan tewasnya ratusan ribu pemberontak. Kemenangan ini mengakhiri pemberontakan Berber. Hisyam juga menghadapi pemberontakan oleh cucu Husain bin Ali, Zaid bin Ali, namun pasukan Zaid berhasil dikalahkan.
Walaupun Hisyam sukses, Bani Abbasiyah terus memperoleh kekuatan, membangun basis kekuatan di Khurasan dan Irak. Namun mereka belum membuktikan cukup kuat untuk membuat gerakan.
Setelah meninggal, ia digantikan keponakannya Walid II.


Al-Walid bin Yazid atau al-Walid II (meninggal 16 April 744) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa antara 743 sampai 744. Ia menggantikan pamannya, Hisyam bin Abdul-Malik.
Naiknya Walid ke tampuk kekuasaan secara keras ditantang banyak orang dalam istana karena reputasi Walid yang gaya hidupnya tak bermoral. Walau begitu, ia telah dijadikan kholifah. Ia hampir secara cepat mulai menargetkan yang menentangnya, menimbulkan kebencian luas terhadap Walid yang menyebar menjadi kebencian pada Bani Umayyah. Walid terbunuh pada 16 April 744 saat memerangi beberapa musuhnya. Ia digantikan sepupunya Yazid III.


Yazid bin Walid bin Abdulmalik atau Yazid III (701 - 744) ialah Khalifah Bani Umayyah. Ia naik tahta hanya selama 6 bulan sebelum meninggal.
Pengangkatannya ditandai tindakannya yang tak sempurna, membuatnya digelari "Tak Sempurna". Di antara yang terkemuka ialah penolakannya untuk membayar kenaikan gaji pada pasukan oleh al-Walid II. Yazid digantikan saudaranya Ibrahim bin Walid.


Ibrahim ibn Al-Walid ialah Khalifah Bani Umayyah. Ia hanya memerintah dalam waktu singkat di tahun 744 sebelum ia turun tahta, dan bersembunyi dari ketakutan terhadap lawan-lawan politiknya.
Pada masa pemerintahan Khalifah Ibrahim bin al-Walid, telah dilakukan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Hal ini mengakibatkan lahirnya golongan Mutakalimin, seperti Mu'tazilah, Jabariah, Ahlus Sunnah, dsb.



Abd ar-Rahman I juga disebut sebagai Abdur Rahman Ad-Dakhil (Yg masuk). Mengembara bersama pengawal pribadinya selepas kejatuhan Khilafah Bani Umayyah sampai ke Spanyol. Setibanya di sana, ia memaklumkan tentang keadaan pergolakan & pertukaran tampuk pemerintahan di benua Arab.
Dengan itu, pemerintahan Islam di Spanyol mendeklarasikankan pemisahan dengan Khilafah Bani Abbasiyah dan melantik Abd Rahman I sebagai Amir untuk pemerintahan Islam Spanyol.


Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 23 Februari 2007, 16:10:02 »
BANI ABBASIYAH

Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak) sejak tahun 750. Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini meredup setelah naiknya bangsa tentara-tentara Turki yang mereka bentuk. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Bagdad.

Menuju kekuasaan
Bani Abbasiyyah adalah bahwa keturunan dari Abbas bin Abdul Muttalib (566-652) yang merupakan salah seorang daripada saudara Nabi Muhammad s.a.w., oleh itu mereka merasa mereka layak untuk menjadi khalifah dengan memandang silsilah keturunan mereka itu. Bani Ummaiyyah ialah salah satu golongan dalam kaum Quraish yang berlainan daripada keturunan nabi.
Muhammad bin Ali, cicit Saidina Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, penentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah menang melawan tentera Ummayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.

Mamaluk
Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentara-tentara budak yang disebut Mamaluk pada abad 9. Dibuat oleh Al-Ma'mun tentara-tentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki.
Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tantara Mamaluk ini berhasil berkuasa dan mendirikan kesultanan di Mesir, dengan menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan.

Ilmu Pengetahuan
Pada masa kekhalifahan ini dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.
Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak diantara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematik, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya.
Zaman ini juga menyaksikan lahir ilmuwan Islam terkenal seperti Ibnu Sina, Al-Khindi, al-Farabi dan sebagainya.

Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah
•   752M- Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyyah.
•   755M- Pemberontakan Abdullah bin Ali. Pembunuhan Abu Muslim.
•   756M- Abd ar-Rahman I mendirikan Kerajaan Bani Ummaiyyah Spanyol.
•   763M- Penubuhan kota Bagdad. Kekalahan tentera Abbasiyyah di Spanyol.
•   786M- Harun al-Rashid menjadi Khalifah.
•   792M- Serangan ke utara Perancis.
•   800M- Kaidah keilmuan dicipta. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi.
•   805M- Kampanye melawan Byzantium. Merebut Pulau Rhodes dan Siprus.
•   809M- wafatnya Harun al-Rashid. Al-Amin dilantik menjadi khalifah.
•   814M- Perang saudara antara Al-Amin dan Al-Ma'mun. Al-Amin terbunuh dan Al-Ma'mun menjadi khalifah.
•   1000M- Masjid Besar Cordoba dibangun.
•   1005M- Multan dan Ghur ditawan.
•   1055M- Bagdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk. Pemerintahan Abbasiyyah-Seljuk bermula, yang kekal sehingga tahun 1258 apabila tentera Mongol memusnahkan Bagdad.
•   1085M- Tentera Kristen tawan Toledo, Spanyol.
•   1091M- Bangsa Norman merebut Sisilia, pemerintahan Muslim di sana berakhir.
•   1095M- Perang Salib pertama dimulai.
•   1099M- Tentera Salib merebut Baitulmuqaddis. Mereka membunuh semua penduduknya.
•   1144M- Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. Perang Salib kedua dimulai.
•   1187M- Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib. Perang Salib ketiga dimulai.
•   1194M- Tentara Muslim merebut Delhi, India.
•   1236M- Tentara Salib merebut Cordoba, Spanyol.
•   1258M- Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad. Ribuan penduduk terbunuh.Kejatuhan Baghdad. Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah.

Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad
•   Abu'l Abbas As-Saffah 750 - 754
•   Al-Mansur 754 - 775
•   Al-Mahdi 775 - 785
•   Al-Hadi 785 - 786
•   Harun al-Rashid 786 - 809
•   Al-Amin 809 - 813
•   Al-Ma'mun 813 - 833
•   Al-Mu'tasim 833 - 842
•   Al-Wathiq 842 - 847
•   Al-Mutawakkil 847 - 861
•   Al-Muntasir 861 - 862
•   Al-Musta'in 862 - 866
•   Al-Mu'tazz 866 - 869
•   Al-Muhtadi 869 - 870
•   Al-Mu'tamid 870 - 892
•   Al-Mu'tadid 892 - 902
•   Al-Muktafi 902 - 908
•   Al-Muqtadir 908 - 932
•   Al-Qahir 932 - 934
•   Ar-Radi 934 - 940
•   Al-Muttaqi 940 - 944
•   Al-Mustakfi 944 - 946
•   Al-Muti 946 - 974
•   At-Ta'i 974 - 991
•   Al-Qadir 991 - 1031
•   Al-Qa'im 1031 - 1075
•   Al-Muqtadi 1075 - 1094
•   Al-Mustazhir 1094 - 1118
•   Al-Mustarshid 1118 - 1135
•   Ar-Rashid 1135 - 1136
•   Al-Muqtafi 1136 - 1160
•   Al-Mustanjid 1160 - 1170
•   Al-Mustadi 1170 - 1180
•   An-Nasir 1180 - 1225
•   Az-Zahir 1225 - 1226
•   Al-Mustansir 1226 - 1242
•   Al-Musta'sim 1242 - 1258

Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo
•   Al-Mustansir 1261
•   Al-Hakim I 1262-1302
•   Al-Mustakfi I 1302-1340
•   Al-Wathiq I 1340-1341
•   Al-Hakim II 1341-1352
•   Al-Mu'tadid I 1352-1362
•   Al-Mutawakkil I 1362-1383
•   Al-Wathiq II 1383-1386
•   Al-Mu'tasim 1386-1389
•   Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406
•   Al-Musta'in 1406-1414
•   Al-Mu'tadid II 1414-1441
•   Al-Mustakfi II 1441-1451
•   Al-Qa'im 1451-1455
•   Al-Mustanjid 1455-1479
•   Al-Mutawakkil II 1479-1497
•   Al-Mustamsik 1497-1508
•   Al-Mutawakkil III 1508-1517

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 23 Februari 2007, 16:13:37 »
Abu al-'Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721 - 754) (أبو العباس عبد الله بن محمد السفاح) merupakan kholifah pertama Bani Abbasiyah. Bani Abbasiyah berkuasa antara 750 sampai 1258, dan ia berkuasa sampai kematiannya pada 754. Abu al-'Abbas as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul-Muththalib.
Abu al-'Abbas merupakan pemimpin salah satu cabang Bani Hashim, yang menisbatkan nasabnya kepada Hasyim, buyut Nabi Muhammad, melalui al-Abbas, paman Nabi SAW. Bani Hasyim mendapat dukungan besar dari golongan Syi’ah yang berpikir bahwa keluarganya, yang telah diturunkan dari Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib, akan menurunkan pemimpin besar lainnya atau Mahdi yang akan membebaskan Islam. Kebijakan tanggung-tanggung penguasa terakhir Umayyah untuk mentoleransi Muslim non-Arab dan Syi’ah telah gagal memadamkan kerusuhan antara minoritas-minoritas itu.
Kerusuhan ini menimbulkan pemberontakan selama masa Hisyam bin Abdul-Malik di Kufah, kota terkenal di Irak selatan. Muslim Syi’ah memberontak pada 736 dan menguasai kota sampai 740, dipimpin Zaid bin Ali, cucu Husain bin Ali. Pemberontakan Zaid gagal, dan dipadamkan oleh pasukan Bani Umayyah pada 740. Pemberontakan di Kufah menandai kuatnya Bani Umayyah dan bertambahnya kekacauan di Dunia Islam.
Abu al-'Abbas memilih berfokus ke Khurasan, daerah militer penting di Iran timur. Pada 743, kematian Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik meletuskan perang saudara di dalam Khilafah Islam. Abu al-'Abbas, didukung oleh Syi’ah, Khawarij, dan daerah Khurasan, memimpin pasukannya menang terhadap Bani Umayyah dan akhirnya menjatuhkan penguasa terakhirnya Marwan II pada 750.
Perang saudara ditandai dengan oleh kenabian 1000 tahun yang didorong sejumlah Syi’ah bahwa Abu al-'Abbas merupakan mahdi. Sejumlah sarjana Muslim yang menonjol menulis karya seperti Jafr yang mengatakan muslimin yang setia bahwa perang saudara yang brutal merupakan konflik besar antara yang hak dan batil. Pilihan Bani Umayyah memasuki pertempuran dengan bendera putih dan Bani Abbasiyah memasukinya dengan bendera hitam membesarkan teori-teori itu. Warna putih, bagaimanapun dianggap kebanyakan orang Persia sebagai tanda duka cita.
Mengenai bahwa ada kemungkinan kembalinya kekuatan Khilafah Bani Umayyah, Abu al-'Abbas mencari-cari seluruh anggota yang tersisa dari keluarga Umayyah untuk menghukum mati mereka. Itulah yang membuat, pelarian ke al-Andalus, atau Spanyol, dipimpin oleh Abd ar-Rahman I di mana Khilafah Bani Umayyah akan bertahan selama 3 abad. Karena usahanya untuk menyingkirkan keluarga Bani Umayyah, Abu al-'Abbas memperoleh julukan as-Saffah, atau tulisan berdarah.
Setelah kemenangan terhadap Bani Umayyah, pemerintahan pendek Abu al-'Abbas ditandai dengan usaha mengkonsolidasi dan membangun kembali Khilafah. Para pendukungnya diwakili dalam pemerintahan baru, namun selain dari kebijakannya terhadap keluarga Umayyah, Abu al-'Abbas secara luas dipandang sejarawan sebagai pemenang yang mendingan. Orang-orang Yahudi, Kristen Nestorian, dan Persia secara baik diwakili dalam pemerintahan Abu al-'Abbas dan dalam meneruskan administrasi Abbasiyah. Pendudukan juga didorong, dan pabrik kertas pertama didirikan di Samarkand.
Sama-sama revolusioner merupakan perbaikan pasukan Abu al-'Abbas, yang beranggotakan termasuk non-Muslim dan non-Arab sangat berbeda dengan Bani Umayyah yang menolak pasukan dari 2 golongan itu. Abu al-'Abbas memilih yang berbakat Abu Muslim sebagai komandan militernya, yang akan menjabat sampai 755 dalam ketentaraan.
Abu al-'Abbas mengingkari janjinya terhadap kelompok Syi'ah dalam menyatakan Khilafah untuk dirinya sendiri. Kelompok Syi’ah telah berharap bahwa imam mereka akan dinamai sebagai Khalifah, membuka masa perdamaian dan kemakmuran yang milenialis telah percaya akan datang. Pengkhianatan mengasingkan pendukung Syi’ah Abu al-'Abbas, meski hubungan baik yang berjalan terus dengan kelompok lain membuat penguasaan Bani Umayyah nyata lebih mudah terpecahkan daripada Umayyah.
Abu al-'Abbas meninggal pada 755, hanya 5 tahun setelah menjatuhkan Bani Umayyah. Ia digantikan saudaranya al-Mansur.


Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712 - 775) merupakan Kholifah Bani Abbasiyah yang mendirikan Baghdad pada 762. Ia berkuasa dari 754 sampai 775.
al-Mansur tersangkut dengan kerasnya masa pemerintahannya setelah kematian saudaranya al-'Abbas. Pada 755, ia menyusun pembunuhan Abu Muslim, jenderal yang telah memimpin pasukan al-'Abbas menang terhadap keluarga Umayyah dalam perang saudara ke-3. Ia berusaha memastikan bahwa keluarga Abbasiyah ialah yang tertinggi dalam urusan negara, dan kedaulatannya atas Khilafah akan tak diragukan lagi.
Ia menyatakan, sebagaimana yang telah ditempuh Khilafah Bani Umayyah, menyelenggarakan otoritas keagamaan dan keduniawian. Secara lebih lanjut mengasingkan Muslim Syi’ah yang telah terjadi, selama masa pemerintahan al-'Abbas, menginginkan Imam Syi’ah mengangkat khalifah.
Selama masanya, karya sastra dan ilmiah di Dunia Islam mulai muncul dalam kekuatan penuh, didukung toleransi terhadap orang-orang Persia dan kelompok lain. Walau Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abd al-Malik telah mengambil praktek peradilan Persia, itu tak sampai masa al-Mansur jika sastra dan ilmu pengetahuan Persia sampai mendapat penghargaan yang sebenarnya di Dunia Islam. Munculnya Shu'ubiya di antara sarjana Persia terjadi selama masa pemerintahan al-Mansur sebagai akibat hilangnya sensor atas Persia. Shu'ubiya merupakan gerakan sastra antara orang Persia yang menunjukkan kepercayaan mereka bahwa seni dan budaya Persian lebih tinggi daripada Arab; gerakan, membantu mempercepat munculnya dialog Arab-Persia di abad ke-8.
Barangkali yang lebih penting daripada munculnya ilmu pengetahuan Persia ialah masuknya banyak orang non-Arab ke dalam Islam. Secara aktif Bani Umayyah mencoba mengecilkan jumlah masuknya agar melanjutkan pungutan jizyah, atau pajak terhadap non-Muslim. Keinklusifan Bani Abbasiyah, dan bahwa al-Mansur, memandang ekspansi Islam di antara daerahnya; pada 750, sekitar 8% penduduk Negara Khilafah itu Muslim. Ini menjadi 2 kali lipat 15% dari akhir masa al-Mansur.
Al-Mansur meninggal pada 775 dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Ia dimakamkan entah di mana di sepanjang jalan dalam salah satu ratusan nisan yang telah digali untuk menyembunyikan badannya dari orang-orang Umayyah. Ia digantikan putranya al-Mahdi.


Muhammad bin Mansur al-Mahdi (berkuasa 775–785) adalah kholifah ketiga Bani Abbasiyah. Ia menggantikan ayahnya al-Mansur.
Al-Mahdi, yang namanya berarti "Pemimpin yang Baik" atau "Penebus", diangkat sebagai kholifah saat ayahnya di akhir hidupnya. Masa pemerintahannya yang damai melanjutkan kebijakan para pendahulunya.
Pendekatan dengan Muslim Syi’ah di dalam kekhilafahan terjadi di bawah pemerintahan al-Mahdi. Keluarga Barmakid yang amat kuat, yang telah menasihati Kholifah sejak masa al-'Abbas sebagai wazir, memperoleh kekuatan besar yang sama di masa al-Mahdi, dan bekerja dekat dengan kholifah untuk menjamin kemakmuran Daulah Bani Abbasiyah.
Kota kosmopolitan Bagdad berkembang selama masa al-Mahdi. Kota itu menarik pendatang dari seluruh Arab, Irak, Suriah, Persia, dan daerah sejauh India dan Spanyol. Bagdad merupakan tempat tinggal orang Kristen, Yahudi, Hindu, dan Zoroastrianisme, di samping bertambahnya penduduk Muslim. Menjadi kota terbesar dunia di luar Tiongkok.
Al-Mahdi melanjutkan mengembangkan administrasi Bani Abbasiyah, menciptakan diwan baru, atau departemen, untuk ketentaraan, peradilan, dan perpajakan. Qadi atau hakim diangkat, dan hukum terhadap non-Arab dikeluarkan.
Keluarga Barmakid mengangkat pegawai ke departemen-departemen itu. Orang-orang Barmakid, dari keturunan Persia, awalnya Buddha, namun segera sebelum kedatangan orang-orang Arab, mereka telah masuk Zoroastrianisme. Warisan Islam umur pendeknya akan berlaku terhadap mereka selama masa Harun ar-Rasyid.
Orang-orang Barmakid memperkenalkan kertas dari India, yang belum digunakan di Barat – orang-orang Arab dan Persia menggunakan papirus, dan orang-orang Eropa menggunakan kulit hewan. Industri kertas bertambah di Bagdad di mana seluruh jalan di pusat kota menjadi tercurah pada penjual kertas dan buku. Kemurahan dan daya tahan kertas amat berarti pada perkembangan tepat guna birokrasi Abbasiyah yang sedang berkembang.
Al-Mahdi memiliki dua kebijakan keagamaan yang penting: penghukuman terhadap zanadiqa, atau dualis, dan pernyataan ketaatan pada Islam. Al-Mahdi mengkhususkan penghukuman terhadap zanadiqa untuk pendiriannya pendiriannya di antara orang-orang Syi’ah yang murni, yang menginginkan perlakuan yang lebih kuat pada kebid’ahan, dan menemukan penyebaran kelompok politeis muslim sinkretis terutama yang jahat. Al-Mahdi menyatakan bahwa kholifah memiliki kemampuan – dan sungguh-sungguh, tanggung jawab – mendefinisikan ketaatan seorang Muslim, agar melindungi umat terhadap bid’ah. Walau al-Mahdi tak membuat penggunaan besarnya, kekuatan baru, akan menjadi penting selama krisis mihna dari masa al-Ma'mun.


Abu Abdullah Musa ibn Mahdi al-Hadi (meninggal 14 September 786) ialah Khalifah Bani Abbasiyah yang menggantikan ayahnya Al-Mahdi dan memerintah antara tahun 785 sampai kematiannya pada 786.
Al-Hadi merupakan putra sulung Al-Mahdi, seperti ayahnya ia sangat terbuka kepada semua orang di negerinya dan mengizinkan orang awam untuk mengunjunginya di istana Baghdad untuk berbicara dengannya. Sebagai, ia dianggap sebagai penguasa yang selalu mendapat penerangan, dan melanjutkan gerakan progresif dari para pendahulunya.
Pemerintahannya yang pendek ditimbulkan dengan sejumlah konflik militer lebih dulu. Pemberontakan Husain bin Ali bin Hasan pecah saat Husain menyatakan dirinya sebagai kholifah di Madinah. Al-Hadi memadamkan pemberontakan dan membunuh Husain dan kebanyakan pendukungnya, namun saudara Husain melarikan diri ke Maroko di mana ia kelak mendirikan negara Idrisi. al-Hadi juga harus memadamkan pemberontakan Kharijite sebagaimana berhadapan dengan serbuan Bizantium. Bagaimanapun, Bizantium kembali lagi, dan pasukan Abbasiyah betul-brtul mendapatkan beberapa daerah Bizantium.
Al-Hadi meninggal pada 786 secara alamiah. Beberapa orang telah menyatakan bahwa ia dibunuh seseorang yang diupah ibunya sendiri, namun sejarawan Muslim terkenal Ibnu Khaldun tak mempercayai pernyataan ini. Al-Hadi digantikan adiknya Harun al-Rashid.




Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 23 Februari 2007, 16:16:10 »
Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan.
Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang ketiga.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.
Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran). Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak.
Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma'mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.
Di masa pemerintahannya beliau :
•   Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.
•   Membangun kota Baghdad dengan bangunan-bangunan megah.
•   Membangun tempat-tempat peribadatan.
•   Membangun sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.
•   Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian.
•   Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.


Muhammad bin Harun al-Amin (787 – 813), Khalifah Bani Abbasiyah. Ia menggantikan ayahnya Harun ar-Rasyid pada 809 dan berkuasa sampai ia terbunuh pada 813.
Harun ar-Rasyid telah memutuskan pergantian kekuasaan putranya selama haji ke Makkah. Al-Amin, akan menerima jabatan khalifah dan al-Ma'mun akan menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Pada kematian al-Amin, menurut keputusan Harun, al-Mamun akan menjadi khalifah.
Segera setelah Harun meninggal pada 809 dan al-Amin dibai’at sebagai khalifah, al-Amin mengumumkan bahwa putranya akan mewarisi dari al-Ma'mun, menyebabkan perang saudara keempat. Lebih lanjut permusuhan di antara para saudara digelorakan oleh para ibu mereka masing-masing.
Al-Ma'mun, yang ibunya orang Persia, menerima dukungan terutama dari Persia, dan sebagai gubernur, pusat militer Khurasan. Memainkan dirinya sebagai juara kebebasan orang Persia, dataran tinggi Iran bersatu di belakangnya. Jenderalnya yang terpercaya, Tahir bin Husain (m. 822) memimpin pasukannya ke Irak.
Al-Amin memohon ibunya Zubaidah, menengahi pergantian kekuasaan dan memperjuangkan maksudnya sebagaimana yang telah dilakukan Aisyah 2 abad sebelumnya. Zubaida menolak untuk melakukannya, dan al-Amin mengundurkan diri. Pada 813, Tahir mengambil Baghdad, dan al-Amin dipenggal.


Ma'mun Ar-rasyid lahir pada tahun 786 (tepatnya 15 Rabiul Awal, 170 H), putra dari Harun Ar-Rasyid, seorang khalifah Abbasiyah. Ibunya wafat beberapa hari setelah kelahirannya. Ketika muda, Ma'mun pernah berguru kepada Imam Malik di Madinah. Ma'mun menjadi khalifah pada tahun 813. Pada tanggal 9 Agustus 833, Ma'mun wafat pada usia 48 tahun.


Al-Muhtadi (bahasa Arab: المهتدي) (m. Juni 870) ialah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 869 hingga 870.
Setelah kematian al-Mu'tazz, orang Turki memilih sepupunya Al Muhtadi bin Al Watsiq dari gadis budak Yunani, sebagai khalifah baru. Al-Muhtadi menjadi tegas dan saleh dibandingkan dengan beberapa khalifah sebelumnya. Jika ia ada lebih awal, mungkin ia mesti memperbaiki diri pada kekhalifahan; namun, dari kini orang Turki memegang kekuasaan.
Di bawahnya, pengadilan segera menyaksikan transformasi. Gadis penyanyi dan musikus diusir; pengadilan dilakukan secara terbuka; anggur dan judi dilarang. Ia mencontohkan 'Umar bin 'Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah, sebagai model.
Namun pemerintahannya berlangsung kurang dari setahun. Setelah beberapa ketidaksetujuan dan persekongkolan, ia terbunuh oleh orang Turki pada 256 AH (Juni 870); saat itu ia berusia 38 tahun. Penulis Arab masa awal memuji keadilan dan kesalehannya; dan jika ia tak terbunuh cepat, ia bisa ditempatkan di antara yang terbaik dari Khalifah Abbasiyah.


Al-Muqtadi (bahasa Arab: المقتدى ) (m. 1094) adalah Khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 1075 hingga 1094. Ia dihotmati oleh Sultan Seljuk Sultan Malik Shah, yang selama masa pemerintahannya kekhalifahan diakui sepanjang kisaran meluas dari penaklukan Seljuk. Arab, dengan Kota Sucinya diambil alih dari Fatimiyah, dipuji lagi atas yuridiksi spiritual Bani Abbasiyah. Sultan memberikan puterindanya pada khalifah; dan pada kelahiran putranya, berharap bergabung dalam tahta umum. Namun mimpi itu tak berbuah. Sang permasisuri yang tidak puas meninggalkan negeri itu ke Isfahan bersama bayuinya. Dan sultan sendiri menjadi cemburu pada campur tangan khalifah dalam urusan negara, mengharapkannya berhenti dan pensiun ke Bashrah; namun kematian Malik Shah setelah itu, membuat keinginan itu tak terwujud.

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 23 Februari 2007, 16:17:38 »
DINASTI USMANIYAH

Kerajaan Ottoman atau Kesultanan Turki Utsmani didirikan oleh Bani Utsman, yang selama 2 abad kekuasaannya, telah dipimpin 8 sultan, sebelum akhirnya berekspansi ke sebagian negeri Arab. Turki Utsmani sama dengan pendahulunya, seperti Turki Seljuk dan kabilah Hun. Mereka berasal dari keturunan Mongol atau Thurani, yang merambah ke Eropa di abad ke-5 Masehi. Mereka lahir dan dibesarkan di Asia Tengah dan Utara. Etnis yang sama juga dimiliki bangsa Bulgaria, yang merambah ke Eropa Timur, dan menetap di sana pada abad ke-7 dan 9 Masehi. Turki Utsmani adalah etnis Asia terakhir yang merambah dan mendiami Eropa, bahkan merupakan negara Mongol terpenting dan terkuat dalam sejarah.
Sejarah Turki Utsmani dimulai dengan peristiwa agung, yang menunjukkan kepahlawanan dan kesatriaannya. Pertengahan abad ke-13, Turki Utsmani merupakan salah satu kabilah kecil di Asia Tengah, yang dikalahkan Mongol-di bawah pimpinan Ertoghul, kepala suku Turki Utsmani-menyusuri Asia Tengah, dekat Ankara. Saat menyaksikan kekaisaran Romawi dan Dinasti Seljuk Rum berperang, yang berpusat di Iconium dipimpin Sultan 'Alauddin, maka pimpinan kabilah kecil ini ikut perang, karena dorongan naluri berperangnya melindungi pihak yang lemah, sehingga Ertoghul dan sekutunya menang perang. Kabilah kecil dan Ertoghul inilah yang menjadi cikal bakal Turki Utsmani. Ialah bapak Utsman, yang namanya dipakai sebagai nama negara yang dibangunnya (dalam tulisan arab ʿUthmān, عُثمَان).

Setelah Ertoghul meninggal 1288, putranya Utsmanlah yang menggantikannya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani mengalahkan kabilah dan trah yang berdekatan. Inilah yang mendorong Sultan 'Alauddin mengangkatnya sebagai pemimpin dan membuatnya jadi penguasa berdiri sendiri di wilayah yang ditaklukkannya.

Tahun 1300 Mongol menyerang dan menghancurkan Daulah Seljuk di Asia Kecil. Sultan 'Alauddinpun meninggal dan setiap etnis bercerai berai, termasuk Utsman. Dari sanalah kekuasaannya berkembang sampai ia mendengar penaklukan Bursa, saat hendak meninggal. Utsman memberi perhatian besar pada strukturisasi tentara dan pemerintahan sehingga nama dan negaranya menjulang, sehingga namanya dijadikan nama negara yang didirikannya.

Tahun 1326 Utsman meninggal dan digantikan putranya Ourkhan, yang telah dilatih dengan berbagai peperangan dan pemerintahan, hingga menguasai Bursa, dan menjadikannya ibukota negara baru ini. Dengan ini ia telah mendekati Konstantinopel, ibukota Bizantium.

Sebelum perang antarpemerintahan berlangsung-yang satu negara muda, kuat dan berambisi mengembangkan kekuasaannya, yang satunya lagi negara tua yang merosot-Ourkhan menduduki Izmir lebih dulu. Ia melihat pentingnya pembenahan, yang kelak berpengaruh bagi kemenangan Turki Utsmani, pertama di Asia Kecil lalu Eropa. Ia menaklukkan Nicomedia dan Nicea serta negeri Asia dan Bizantium lainnya. Selama 20 tahun, ia mengokohkan pilar pemerintahannya, memperbaiki urusan dalam negara dan membentuk angkatan bersenjata baru,yang disebut Yennisari, yang dalam waktu lama menjadi penopang kekuatan kesultanan, dalam perang dan penaklukan.

Sultan berikutnya adalah Murad I (1359-1389), ia merebut Adranah (1361), Sofia (1383), dan pada perang Kosovo 1389 mengalahkan Serbia. Ia diganti Bajazet I (1389-1403) yang menaklukkan Bulgaria, Perancis dan Jerman (1393). Tahun 1402 M, Timur Lenk dari Mongolia menaklukkan Ankara dan Bajazet I tertawan, namun akhirnya ia dibebaskan dan pada saat itu banyak kawasan Muslimin dibebaskan. Bajazet I digantikan berturut-turut oleh Suleiman I (1403-1411 M), Musa (1411-1413 M), dan Mehmed Halabi/Mehmed I (1413-1421 M). Mehmed I digantikan Murad II. Ia menaklukkan kembali kawasan yang ditaklukkan Timur Lenk (1422-1428 M) dan Albania (1431 M).

Setelah naik tahta tahun 1451 M, Mehmed II bin Murad II merealisasikan cita-cita Muslimin sejak awal Islam untuk menaklukkan Konstantinopel (1453 M). Karena itu ia dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk. Kota Konstantinopel dijadikan ibukota kesultanan serta jadi titik tolak penaklukan Eropa, setelah terhenti akibat meninggalnya Abdurrohmanul Ghofiqi di selatan Perancis. Mehmed sang Penaklukpun menundukkan Murrah, Serbia (1458-1460 M) dan Bosnia (1462 M). Ia juga menekan Italia, Hongaria, dan Jerman. Akhirnya Thorabzun dan Krim di Asia ditundukkannya. Ia juga menaklukkan sebagian kepulauan Yunani (1480 M). Iapun kembali menaklukkan Jerman dan beberapa wilayah Italia, namun akhirnya mangkat sebelum menaklukkan Rhodesia.

Ia diganti putranya Bajazet II (1481 M) yang berhasil mengalahkan armada laut Bunduqiyah. Kekuasaannya diserahkan pada putranya Selim I (1512 M) yang menjadi sultan terbesar , mendapat kemenangan dan penaklukan yang banyak. Ia menyerang kesultanan Safavid yang dipimpin Shah Ismail I (1502-1524 M) yang berusaha menyebarkan mazhab Syi'ah dan mengembangkan kekuasaan Persia sampai Irak. Shah Ismail dikalahkan di Galadiran, dekat Tibriz (1514 M). Sultan Selim I lalu menduduki Diyarbakir dan Kurdistan yang merupakan langkah awal menaklukkan Syam dan Mesir, seiring dengan kemenangan di Maraj Dabiq (1516 M) dan Roidaniyah. Saat itu khilafah Islam telah berpindah ke tangannya sesuai hukum Islam setelah Kholifah al-Mutawakkil 'Alalloh III (1508-1517 M) menyerahkan tampuk kekhilafahan kepadanya. Sultan Salim I resmi jadi kholifah Muslimin sejak 1517 M. Ia meninggal setelah 8 tahun berkuasa. Syarif Makkah juga menyerahkan kunci Makkah dan Madinah kepadanya.

Setelah itu ia digantikan Kholifah Suleiman II (1520-1566 M). Masa kepemimpinannya dianggap sebagai era terjaya khilafah berkat kebangkitan sains yang diikuti penemuan ilmiah dan geografis Eropa, sementara khilafah ini meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains, dan politik. Ia menaklukkan Belgrado dan gereja terbesarpun diubah jadi masjid di mana sang kholifah mendirikan sholat Jum'at (1521 M). Ia membebaskan Rhodesia dari pasukan berkuda Santo Yohana (1521 M). Buda dibuka dan Raja Louis dibunuh dalam pertempuran Mouckhaz (1526 M). Ia membebaskan juga Armenia dan Irak hingga armada laut kekholifahan di seluru peraran laut mulai Laut Putih, Laut Merah hingga Samudra Hindia-meski kekuatannya belum bisa mengalahkan pasukan berkuda Santo Yohana, penguasa Malta. Kepulauan ini adalah pemberian Charles V saat diusir tentara khilafah Turki Utsmani dari Rhodesia (1522 M).

Tahun 1527 Austria mengakuisisi Buda, namua akhirnya Buda ditaklukkan lagi dan Austria mundur, lalu Wina dikepung tanpa ditaklukkan (1529 M). Tahun 1534 M Tabriz ditaklukkan lagi. Tunisia dibebaskan dari Spanyol dan Pulau Kreta ditaklukkan (1535 M). khilafahpun berdamai dengan Austria yang setuju membayar jizyah (1539 M). Pest (1541 M), Niche (1543 M), Spanyol (1560 M), Malta (1565 M) dan Szeged (1566 M) adalah sejumlah daerah yang berhasil ditaklukkan.

Para sejarawan sepakat, zaman Suleiman II ialah zaman kebesaran dan kejayaan khilafah Turki Utsmani. Hanya dalam 3 abad, kabilah kecil ini berhasil melebarkan sayapnya dari Laut Merah, Laut Tengah dan Laut Hitam. Penaklukannya terbentang dari Mekkah hingga Buda dan Pest di 1 sisi dan dari Baghdad (1534) hingga al-Jazair (1532 M) di sisi lain. 2 pantai, utara dan selatan, Laut Hitam jatuh ke tangannya. Sebagian besar kerajaan Austria dan Hongaria jatuh ke tangannya. Kekuasaannya sampai di Afrika Utara dari negeri Suriah sampai Maroko. Setelah Suleiman II meninggal 1566 M, khilafahpun terus menerus merosot.

Politik di sini dibagi jadi 2. Pertama politik dalam negeri, yang maksudnya ialah penerapan hukum Islam di wilayahnya; mengatur mu'amalat, menegakkan hudud dan sanksi hukum, menjaga akhlak, mengurus urusan rakyat sesuai hukum Islam, menjamin pelaksanaan syi'ar dan ibadah. Semua ini dilaksanakan dengan tatacara Islam.
Ada 2 faktor yang membuat khilafah Turki Utsmani mundur. Pertama, buruknya pemahaman Islam. Kedua, salah menerapkan Islam. Sebetulnya, kedua hal di atas bisa diatasi saat kekholifahan dipegang orang kuat dan keimanannya tinggi, tapi kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Suleiman II-yang dijuluki al-Qonun, karena jasanya mengadopsi UU sebagai sistem khilafah, yang saat itu merupakan khilafah terkuat-malah menyusun UU menurut mazhab tertentu, yakni mazhab Hanafi, dengan kitab Pertemuan Berbagai Lautan-nya yang ditulis Ibrohimul Halabi (1549 M). Padahal khilafah Islam bukan negara mazhab, jadi semua mazhab Islam memiliki tempat dalam 1 negara dan buksn hanya 1 mazhab. Dengan tak dimanfaatkannya kesempatan emas ini untuk perbaikan, 2 hal tadi tak diperbaiki. Contoh : dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi kholifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617 M), Osman II (1617-1621 M), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648 M), Mehmed IV (1648-1687 M), Suleiman III (1687-1690 M), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703 M), Ahmed III (1703-1730 M), Mahmud I (1730-1754 M), Osman III (1754-1787 M), Mustafa III (1757-1773 M), dan Abdul Hamid I (1773-1788 M). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826 M), sehingga mereka dibubarkan (1785 M) . Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma'ni.

Offline servoman1salam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 1.169
  • Lokasi: banten
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tawakal Niat Ikhtiar
    • Lihat Profil
    • MyWeb
« Jawab #11 pada: 23 Februari 2007, 16:19:24 »
hanya sekedar mengingatkan, dirosah islamiyah ini tidak hanya sekedar pengetahuan seperti orientalis...........  >:(  >:(

Ane ada kuliah ini dan bukunya......  8-)  8-)
 tapi dengan adanya ini, Ane jadi gak usah cape ngetik dech.........  :)  :)
JazakAllah..................  O0  O0
Negara Barat Penuh Dengan Tipu Daya.....     (Dunia - Nasyeed - Raihan ) :) ;)

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 23 Februari 2007, 16:22:01 »
ya ya ya....

spt ane bilang sebelumnya nih....

afwan loh kl ada yg tersinggung or gak sepaham....

kl ada yg mau koreksi or nambahin ya silahkan....

ya itung2 bagi info yg mungkin perlu dikoreksi dari rekans.... (hehehe,,, berhub jualan udh kelar, so gak ada job smbri tgg waktu)

ok kita lanjutkan...

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 23 Februari 2007, 16:23:19 »
Ini yang membuat politik luar negeri khilafah-dakwah dan jihad-berhenti sejak abad 17, sehingga Yennisari membesar, lebih dari pasukan dan peawai pemerintah biasa, sementara pemasukan negara merosot. Ini membuat khilafah terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan penumpuk harta. Ditambah dengan menurunnya pajak dari Timur Jauh yang melintasi wilayah khilafah, setelah ditemukannya jalur utama yang aman, sehingga bisa langsung ke Eropa. Ini membuat mata uang khilafah tertekan, sementara sumber pendapatan negara seperti tambang, tak bisa menutupi kebutuhan uang yang terus meningkat.

Paruh kedua abad 16 M, terjadilah krisis moneter saat emas dan perak diusung ke negeri Laut Putih Tengah dari Dunia Baru lewat kolonial Spanyol. Mata uang khilafah saat itu terpuruk; infasi hebat. Mata uang Baroh diluncurkan khilafah tahun 1620 M tetap gagal mengatasi inflasi. Lalu keluarlah mata uang Qisry di abad 17. Inilah yang membuat pasukan Utsmaniah di Yaman memberontak pada paruh kedua abad 16 M. Akibat adanya korupsi negara harus menanggung utang 300 juta lira.

Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihad-pemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788 M). Sultanpun meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca kitab itu tiap hari.

Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572 M) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katholik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667 M). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571 M), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699 M), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad 19 M), dan tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878 M) dan Berlin (1887 M).

Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi (abad 17 M dst). Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTek dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840 M), dan UU Dagang (1850 M), tambah rumusan Konstitusi 1876 M oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.

Di dalam negara, ahlu dzimmah-khususnya orang Kristen-yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khilafah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535), dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini dimanfaatkan misionaris-yang mulai menjalankan gerakan sejak abad 16 . Malta dipilih sebagai pusat gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773. Di tengah mundurnya intelektualitas Dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Pusat kajian ini kebanyakan milik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang digunakan Barat untuk mengemban kepemimpinan intelektualnya di Dunia Islam, disertai serangan mereka terhadap pemikiran Islam. Serangan ini sudah lama dipersiapkan orientalis Barat, yang mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad 14.

Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di Dunia Islam. Untuk menguasainya-meminjam istilah Imam al-Ghozali-Islam sebagai asas harus hancur, dan khilafah Islam harus runtuh. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang Sakit. Agar kekuatan khilafah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di Dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz. Sejak pertengahan abad ke-18 gerakan ini dimanfaatkan Inggris-melalui agennya Ibn Sa'ud-untuk menyulut pemberontakan di beberapa wilayah Hijaz dsk, yang sebelumnya gagal dilakukan Inggris lewat gerakan kesukuan. Walau begitu, akhirnya gerakan ini bisa dibendung di beberapa wilayah oleh khilafah lewat Muhammad Ali Pasha, Gubernur Mesir yang-ternyata agen Prancis-didukung Prancis. Di Eropa, wilayah yang dikuasai khilafah diprovokasi agar memberontak (abad 19-20 M), seperti kasus Serbia, Yunani, Bulgaria, Armenia dan terakhir Krisis Balkan, sehingga khilafah Turki Utsmani kehilangan banyak wilayahnya, dan yang tersisa hanya Turki.

Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah khilafah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, KeduBes Inggris dan Prancis di Istambul dan daerah-daerah basis khilafah-seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah-telah menjadi pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istambul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khilafah.

KeduBes negara Eropapun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul 'Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum Literal dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913 M, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.
Di Markas Istambul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan universitas lewat propaganda. Mereka ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai dilakukan Rasyid Pasha, MenLu zaman Sultan Abdul Mejid II (1839 M). Tahun itu juga, Naskah Terhormat(Kholkhonah)-yang dijiplak dari UU di Eropa-diperkenalkan. Tahun 1855 M, negara-negara Eropa-khususnya Inggris-memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855 M). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September 1876 M). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port-pun enggan melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari'at. Midhat Pashapun dipecat dari kedudukan perdana menteri. Turki Muda yang berpusat di Salonika-pusat komunitas Yahudi Dunamah-memberontak (1908 M). Kholifah dipaksanya-yang menjalankan keputusan Konferensi Berlin-mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam khilafah Turki Utsmani (17 November 1908 M). Bekerja sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir.

Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan khilafah Turki Utsmani secara total. Perang Dunia I (1914 M) dimanfaatkan Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah kampanye Dardanella yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha-yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915 M). Ia-agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika-melakukan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khilafah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dll mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 23 Februari 2007, 16:24:23 »
Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional - dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya - sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha tetap tak berani membubarkan khilafah. Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak. Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis ini.
Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, ia mengumumkan kebijakannya; mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Mejid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal Pasha. Malahan ia menyerang balik dengan penyesatan politik dan pemikirannya yang menyebut jika penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa sehingga ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.

Setelah suasananya kondusif, Mustafa Kemal Pasha mengadakan sidang Dewan Perwakilan Nasional, dengan konsep keputusan telah di tangan. Tepat 3 Maret 1924 M, ia memecat kholifah, membubarkan sistem khilafah, dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Inilah titik klimaks revolusi Mustafa Kemal Pasha.
Dari sejarahnya, bisa diketahui, bahwa faktor utama kemunduran dan kehancuran khilafah Usmaniyah karena buruknya pemahaman dan kesalahan penerapan Islam saat itu, sehingga persoalan derivat lain lahir dan berkembang. Ini menjadi pintu masuk orang luar, termasuk mata-mata asing di dalam negeri, sehingga muncul gerakan-gerakan yang berbasiskan nasionalisme dan patriotisme, dan gerakan itu menuntut kemerdekaan negerinya masing-masing, yang membuat wilayahnya lepas dari khilafah Islam Turki Utsmani.

Lepasnya wilayah Islam satu persatu dari negara induk melemahkan khilafah Turki Utsmani sehingga hanya Turkilah yang tinggal. Dengan mundurnya taraf pemikiran politik umat dan penguasa saat itu, upaya Inggris, Prancis, dan Rusia menyeret khilafah dalam Perang Dunia I tak terbendung. Kekalahan pihak Jerman-Utsmani membuat khilafah tunduk pada syarat yang ditetapkan negara pemenang perang, sehingga dengan sekali pukul, institusi rapuh ini cukup untuk diruntuhkan. Eksekusi itu diserahkan pada Markas Istambul, dengan Mustafa Kemal Pasha - yang digelari "Ataturk (Bapak Bangsa Turki)" - sebagai eksekutornya.

Pada tahun 1920-an "gerakan Khilafat", sebuah gerakan yang bertujuan untuk mendirikan kembali kekhalifahan, menyebar diseluruh daerah jajahan Inggris di Asia. Gerakan ini sangat kuat di India, yang saat itu menjadi pusat komunitas Islam. Sebuah pertemuan kemudian diadakan di Kairo pada tahun 1926 untuk mendiskusikan pendirian Kekhalifahan. Tapi sayang, sebagian besar negara mayoritas Muslim tidak berpartisipasi dan mengambil langkah untuk mengimplentasikan hasil dari pertemuan ini. Meskipun gelar Amir al-Mukmin dipakai oleh Raja Maroko dan Mullah Mohammed Omar, pemimpin rezim Taliban di Afghanistan, kebanyakan Muslim di luar daerah kekuasaan mereka menolak untuk mengakuinya. Organisasi yang mendekati bentuk sebuah bentuk kekhalifahan saat ini adalah Organisasi Konferensi Islam atau OKI, sebuah organisasi internasional dengan pengaruh yang terbatas yang didirikan pada tahun 1969 beranggotakan negara-negara mayoritas Muslim.

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 23 Februari 2007, 16:25:16 »
Kekhalifahan Turki Utsmani
•   Selim I - 1512 - 1520 (scara aktif menggunakan gelar khalifah)
•   Suleiman I (Sulaiman yang Agung) - 1520 - 1566
•   Selim II - 1566 - 1574
•   Murad III - 1574 - 1595
•   Mehmed(Muhammed) III - 1595 - 1603
•   Ahmed I - 1603 - 1617
•   Mustafa I (Pengangkatan Pertama) - 1617 - 1618
•   Osman II - 1618 - 1622
•   Mustafa I (Pengangkatan Kedua) - 1622 - 1623
•   Murad IV - 1623 - 1640
•   Ibrahim I - 1640 - 1648
•   Mehmed (Muhammed) IV - 1648 - 1687
•   Suleiman II - 1687 - 1691
•   Ahmed II - 1691 - 1695
•   Mustafa II - 1695 - 1703
•   Ahmed III - 1703 - 1730
•   Mahmud I - 1730 - 1754
•   Osman III - 1754 - 1757
•   Mustafa III - 1757 - 1774
•   Abd-ul-Hamid I - 1774 - 1789
•   Selim III - 1789 - 1807
•   Mustafa IV - 1807 - 1808
•   Mahmud II - 1808 - 1839
•   Abd-ul-Mejid I - 1839 - 1861
•   Abd-ul-Aziz - 1861 - 1876
•   Murad V - 1876
•   Abd-ul-Hamid II - 1876 - 1909 (secara aktif menggunakan gelar khalifah)
Catatan: Sejak 1908 sistem pemerintahan Islam berakhir.
•   Mehmed(Muhammed) V - 1909 - 1918
•   Mehmed (Muhammed)VI - 1918 - 1922
•   Abdul Mejid II - 1922 - 1924; hanya sebagai khalifah (Kepala negara: Gazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk)

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 23 Februari 2007, 16:28:20 »
Osman I (1258-1326 adalah pendiri Kerajaan Ottoman. Ia memerintah antara tahun 1281-1326 dan diteruskan oleh Orhan I.


Selim I (1465 – 22 September 1520; juga dikenal sebagai "Si Murung" atau "Si Pemberani ", Yavuz dalam bahasa Turki) (bahasa Arab: سليم الأول) adalah sultan dari Turki Utsmani dari 1512 hingga 1520.
Ia menggulingkan ayahnya sendiri Bayezid II pada 1512, yang tak lama kemudian meninggal dunia.
Ia menandai naik takhtanya dengan menghukum mati saudara-saudara dan semua kemenakannya laki-laki. Hal ini sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh kakeknya, Fatih Mehmed II. Sebelumnya telah terjadi perang saudara antara ayahnya, Bayazid dengan pamannya Cem, dan antara Selim sendiri dengan saudaranya, Ahmed. Selim bertekad bahwa ia tidak akan menghadapi masalah-masalah yang sama dengan saudara-saudaranya sendiri.
Ia menyerang dan menghancurkan Kesultanan Mamluk dalam Pertempuran Marj Dabiq dan al-Raydaniyya, yang menyebabkan direbutnya Suriah, Palestina dan Mesir. Ia juga memperluas kekuasaan Ottoman hingga ke kota suci of Mekkah dan Madinah. Ketika Mesir dan provinsi-provinsi Arabnya direbut dari tangan orang-orang Mamluk, ia mengangkat dirinya sebagai Khadim ul Haremeyn, "Hamba dari Kedua Kota Suci", dan bukan Hakim ul Haremeyn, Penguasa dari Kedua Tempat Suci". Tempat-tempat suci yang dimaksudkan di sini adalah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Keduanya adalah tempat-tempat yang paling suci di dalam Islam.
Seperti kakeknya, Fatih, ia juga mengklaim dirinya sebagai Khalifah (dalam bahasa Arab artinya "pengganti " Nabi Muhammad); "pengawal Islam", yang dianggap sebagai pemimpin masyarakat dan agama dari seluruh umat Islam, baik Sunni maupun Syiah.
Selim bertekad untuk mengadakan perang melawan Persia, yang pemerintahnya, Shah Ismail I mengklaim dirinya juga sebagai Khalifah. Perang yang kemudian terjadi merupakan kemenangan bagi Selim, yang keteguhan dan keberaniannya mengatasi kepengecutan dan ketidaktaatan Yennisari, pasukan-pasukan istana dinasti Ottoman.
Setelah Selim menjadi penguasa kota-koat suci Islam dan merebut Mesir dan menangkap Al-Mutawakkil III, Khalifah terakhir dari Kekhalifahan Abbasiyah yang tinggal di sana, Selim membujuknya untuk secara resmi menyerahkan kepadanya pula gelar Khalifah serta lambang-lambangnya, yaitu pedang dan jubah nabi.
Selama pemerintahannya, ia memperluas wilayah Ottoman dari 2,5 juta km2 menjadi 6,5 km2. Ia membuat penuh perbendaharaan kerajaan, menguncinya dengan meterainya sendiri dan mengumumkan bahwa, "Barangsiapa membuat penuh perbendaharaan ini melebihi isinya sekarang, ia dapat menggunakan meterainya untuk mengunci perbendaharaan.” Perbendaharaan ini dikunci dengan meterainya hingga runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 400 kemudian.
Setelah kembali dari perangnya di Mesir, ia mempersiapkan sebuah ekspedisi untuk memerangi Rhodes dan di sana ia diserang penyakit, lalu meninggal pada tahun kesembilan pemerintahannya. Usianya sekitar 55 tahun pada waktu meninggalnya. Ia meninggal karena sirpence, sejenis infeksi kulit, yang diperolehnya selama delapan tahun memerintah dengan menunggang kuda. Sebagian sejarahwan percaya bahwa ia diracuni oleh dokter yang merawat infeksinya.
Selim juga seorang penyair dan ia menulis dengan menggunakan nama julukannya, mahlas Selimi Dalam salah satu puisinya, ia menulis: "Sebuah permadani cukup besar untuk diduduki oleh dua orang sufi, tetapi dunia tidak cukup besar untuk dua orang raja.”


Sultan Suleiman I atau Suleiman Al-Qanuni (6 November 1494 - 5/6 September 1566) adalah Sultan dan Khalifah Turki Utsmani.
Merupakan tokoh negarawan Islam yang terulung di zamannya, dikagumi kawan dan lawan, Sultan Sulaiman berhasil menyebarkan Islam hingga ke tanah Balkan di Eropa meliputi Hongaria, Beograd, Austria, benua Afrika dan Teluk Persia. Dilahirkan di Trabzon. Di awal usia 7 tahun, ia telah dididik dengan ilmu kesusasteraan, sains, sejarah, agama dan taktik ketentaraan di Istana Topkapı, İstanbul. Di barat, ia dikenal dengan nama Suleiman The Magnificent (Sulaiman yang Hebat)
Ia merupakan penguasa yang mementingkan hak kesamarataan tanpa memandang pangkat dan derajat. Malah, di bawah pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, umat Islam & Yahudi hidup dengan aman dan damai. Kaidah pemilihannya yang ketat dalam pelantikan gubernur membantunya melaksanakan undang-undang Islam dengan berkesan. Tanpa memilih popularitas atau status sosial seseorang, ia sendiri akan menelisik tentang kepribadian calon gubernur yang dilantik untuk memastikan wakil atau gubernur pemerintahan Bani Turki Utsmani benar-benar bersih dan cakap.
Dalam usahanya menyatupadukan umat Islam, ia telah mengalahkan Bani Mamluk dan seterusnya menjadi khalifah berserta dengan jabatan Khadamul Haramain. Setelah berhasil mengalahkan Bani Mamluk, usahanya pula tertumpu untuk menjatuhkan kesultanan Persia di bawah pemerintahan Shah Ismail. Setelah tahun 1525 M, keseluruhan kawasan Asia Tengah di bawah pemerintahan Sultan Suleiman II.
Ia digelari Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun kembali sistem undang-undang kesultanan Turki Usmani dan perlaksanaannya secara teratur dan tanpa kompromi menurut keadaan masyarakat Islam Turki Utsmani yang saat itu mempunyai latar belakang dan sosial-budaya yang berbeda. Pergaulan di antara bangsa yang berbeda (walau pun agama yang sama) menimbulkan pelbagai konflik kecil dan ini bisa mengganggu keselamatan umat Islam. Keadaan ini menyebabkannya membuat penyusunan dan kajian tentang budaya masyarakat Islam Turki Utsmani yang datang dari Eropa, Persia, Afrika dan Asia Tengah untuk diselaraskan dengan kehendak undang-undang Syariah Islamiyah.



Mustafa I (1592 – 20 Januari 1639) (bahasa Arab: مصطفى الأول) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1617 hingga 1618 dan dari 1622 hingga 1623.
Saudara Ahmed I (1603–17), Mustafa I dilaporkan menderita retardasi mental atau setidaknya mengidap penyakit saraf dan tak pernah lebih dari seprangkat klik pengadilan di Istana Topkapı. Semasa pemerintahan saudaranya, ia dikurung di ruangannya dalam penjara sesungguhnya selaam 14 tahun.
Pada 1618 ia dijatuhkan untuk kepentingan keponakannya Osman II (1618–22), namun setelah pembunuhan Osman II pada 1622 ia naik tahta kembali dan menjabatnya hingga dijatuhkan dan dipenjara oleh saudara Osman II, Murad IV (1623–40). Mustafa I meninggal 16 tahun kemudian.


Mehmed IV juga dikenal sebagai Mohammed IV (bahasa Arab محمد الرابع) (lahir 2 Januari 1642, mangkat 1693) adalah sultan Turki Ottoman dari 1648 hingga 1687.
Ia adalah putranda Sultan İbrahim I dan permaisurinya Turhan Hadice.


Suleiman II (15 April 1642 – 1691) (bahasa Turki Utsmani: سليمان ثانى Sόleymān-i sānī) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1620 hingga 1666. Adinda Mehmed IV (1648–87), Suleiman II menghabiskan sebagian besar hidupnya di kafes (sangkar), sejenis tahanan mewah buat pangeran di Istana Topkapı (diancang untuk memastikan takkan ada pemberontakan).
Saat didekati naik tahta setelah terdepaknya kakandanya pada 1687, Suleiman II mengira bahwa delegasi itu akan datang membunuhnya dan satu-satunya cara mempengaruhi adalah ia bisa digoda keluar istananya untuk bersiap dianugerahi pedang khalifah secara seremonial.
Sulit mengendalikan diri, Suleiman II membuat pilihan cerdas dengan mengangkat Ahmed Faizil Kφprόlό sebagai Raja Muda. Di bawah kepemimpinan Kφprόlό Turki menghambat gerak maju Austria ke Serbia dan membasmi pemberontakan di Bulgaria. Selama gerakan mengambil kembali Hongaria timur, Kφprόlό dikalahkan dan syahid di tangan Ludwig Wilhelm dari Baden dalam Szlankamen pada 1690. Suleiman II sendiri mangkat setahun kemudian.


Ahmed II (bahasa Turki Ottoman: احمد ثانى Aḥmed-i sānī) (25 Februari 1643 – 1695) adalah Sultan Turki Ottoman dari 1691 hingga 1695. Ahmed II adalah putranda Sultan Ibrahim I (1640–48) dan menggantikan saudaranya Suleiman II (1687–91) pada 1691.
Tindakan Ahmed II yang banyak diingat adalah pengangkatan Mustafa Kφprόlό sebagai raja muda. Hanya beberapa minggu setelah kenaikannya Kesultanan Ottoman mendapat kekalahan besar dalam Pertempuran Slankamen dari Austria di bawah Ludwig Wilhelm dari Baden dan dipukul ke Hongaria. Selama 4 tahun masa pemerintahannya bencana demi bencana terus melanda negerinya, dan pada 1695 Ahmed II meninggal, lelah akibat penyakit dan kedukaan.


Mustafa II (bahasa Turki Utsmani: مصطفى ثانى Muṣṭafā-yi sānī) (6 Februari 1664 – 28 Desember 1703) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1695 hingga 1703.
Ia adalah puteranda sultan Mehmet IV (1648–87) dan turun tahta demi kepentingan saudaranya Ahmed III (1703–30) pada 1703.
Di akhir kekuasaannya, Mustafa II mencoba memperbaiki kekuasaan, yang hanya menjadi jabatan simbolis sejak pertengahan 1600-an, saat Mehmed IV memberikan kekuasaannya pada Raja Muda. Strategi Mustafa II adalah menciptakan dasar alternatif baginya membuat kedudukan timar, anggota kavaleri Kesultanan Ottoman, setia padanya. Namun, timar-timar itu, pada titik ini bertambah menjadi bagian usang mesin militer Turki Utsmani.
Strategi itu (disebut "kejadian Edirne" oleh sejarawan) gagal, dan Mustafa II didepak di tahun yang sama, 1703.






Offline servoman1salam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 1.169
  • Lokasi: banten
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tawakal Niat Ikhtiar
    • Lihat Profil
    • MyWeb
« Jawab #17 pada: 23 Februari 2007, 16:30:44 »
sumbernya dari mana .............  :o
Negara Barat Penuh Dengan Tipu Daya.....     (Dunia - Nasyeed - Raihan ) :) ;)

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 23 Februari 2007, 17:01:16 »
Osman III (bahasa Turki Ottoman: عثمان ثالث ‘Osmān-i sālis) (2 Januari 1699 – 30 Oktober 1757) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1754 hingga 1757.
Adinda dari Mahmud I (1730–54) dan putranda Mustafa II (1695–1703), Osman III sebenarnya pangeran tiada arti. Masa jabatannya yang pendek dicatat sebagai masa di mana intoleransi di antara nonmuslim (Orang Kristen dan Yahudi diminta mengenakan pakaian atau lencana khusus) bertambah dan kebakaran di Istanbul.
Osman III menghabiskan sebagian besar hidupnya di tahanan, dan saat menjadi Sultan ia menunjukkan keanehan tingkah laku. Tak seperti sultan sebelumnya, ia benci musik, dan mengusir semua musikus keluar istana. Juga tinggal di "kafes", istana tahanan di "harem" yang berisi para budak rumah tangga wanita ia tak menyukai persahabatan dengan wanita, sehingga ia mengenakan sepatu besi agar tak melalui jalanan dengan wanita manapun. Dengan mengenakan sepatu itu mereka akan mendengarnya mendekat lalu menjauh.


Sultan Mahmud II (1784-1839) ialah khalifah Turki Utsmani antara 1808-1839. Ia adalah sultan yang mendorong Turki meniru Barat. Ia lolos dari penghapusan pemerintahan dalam pengasingan (1828) dan persiapan tentara baru dengan 'sistem baru'.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di zamannya :
•   1817-Serbia memisahkan diri dari Negara Islam.
•   1826 :
1.   Revolusi Yunani gagal.
2.   Athena ditaklukkan.
3.   Tentara Yennisari dibubarkan, digantikan tentara resmi.
•   1828 :
1.   Eropa membantu Yunani untuk memisahkan diri dari Negara Islam.
2.   Tentara resmi melawan Rusia.
3.   Rusia mengembalikan kembali banyak wilayah ke pangkuan kaum Muslim setelah perjanjian damai.
•   1830-Prancis mengambil alih al-Jazair.
Di zamannya, khilafah mulai mengadopsi peraturan perundangan dari Eropa.


Abd-ul-Aziz (8 Februari 1830-1876) ialah kholifah Turki Utsmani yang memerintah antara 1861-1876. Lahir tahun 1830. Menduduki tahta 1861 dan dicopot dari kedudukannya 1876, dan 4 hari setelah pencopotannya meninggal. Banyak sejarawan yakin bahwa ia mati syahid setelah anggota Turki Muda mengatur persekongkolan untuk membunuhnya dan mengumumkan kematiannya.
Ia mempersiapkan armada laut Utsmani yang menggentarkan dengan menjadikannya armada nomor 3 di dunia saat itu, dan meningkatkan kekuatan darat sampai 700.000 pasukan dengan persenjataan terbaru. Ia membangun sekian sekolah penting, seperti sekolah pertambangan dan pertanahan serta sekolah tinggi militer. Ia pernah berkunjung ke Mesir, Prancis, Inggris, Prusia, Austria, dan Hongaria. Ia pergi ke Eropa untuk mempengaruhi Prancis membela khilafah Turki Utsmani, bukannya Rusia, di samping menggalang kelompok Eropa untuk menghadapi kekuatan Rusia.
Di zamannya al-Ahkamul 'Adhiyah terbit di bawah pengawasan Ahmad Jawdat Pasha, serta Terusan Suez dibuka.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di zamannya:
•   1861-Prancis mundur dari Suriah.
•   1864-Serbia merdeka, akan tetapi masih di bawah perlindungan Negara Islam.
•   1867-Serbia merdeka, tentara Islam mundur sepenuhnya.


Murad V ialah khalifah Turki Utsmani yang memerintah pada 1876. Lahir 1840 dan menjadi sultan saat berusia 36 tahun. Ia memerintah hanya 93 hari dan meninggal 1904. Ia amat menyukai dan mencintai musik serta menguasai Bahasa Prancis. Ia berhubungan erat dengan anggota Turki Muda dan menolongnya, materiil maupun moril. Ia masuk Freemasonry saat di London, dan mencapai kekuasaan kesultanan setelah Sultan Abd-ul-Aziz digulingkan Turki Muda yang dipimpin Midhat Pasha. Ia menderita penyakit gila dan muncullah pemberontakan untuk menggulingkannya, dan menggantikannya dengan Abdul Hamid II. Sebagian pemberontak kemudian memberontak lagi untuk mengangkat Murad V, namun dikalahkan lagi.


Sultan Abd-ul-Hamid II (21 September 1842–10 Februari 1918) ialah sultan (khalifah) ke-27 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Abd-ul-Hamid menggantikan saudaranya Sultan Murad V pada 31 Agustus 1876. Pada 1909 Sultan Abd-ul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani. Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Abd-ul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi di masa pemerintahannya. Beliau digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) .
Selama periode pemerintahannya, Sultan Abd-ul-Hamid II menghadapi tantangan terberat yang pernah dijumpai kaum muslimin dan Kekaisaran Ottoman (Usmaniyah) saat itu:
•   Konspirasi dari negara-negara asing (seperti Perancis, Italia, Prusia, Rusia, dll) yang menghendaki hancurnya eksistensi Khilafah Usmaniyah.
•   Separatisme yang dihembuskan negara-negara Barat melalui ide nasionalisme, yang mengakibatkan negeri-negeri Balkan (seperti Bosnia Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Bulgaria, Hongaria, Rumania, Albania, Yunani) melepaskan diri dari pangkuan Kekaisaran Ottoman. Begitu pula dengan lepasnya Mesir, Jazirah Arab (Hejaz dan Nejd) dan Libanon baik karena campur tangan negara asing ataupun gerakan dari dalam negeri. Akibatnya, di kawasan Balkan saat itu dikenal sebagai kawasan "Gentong Mesiu" karena konflik yang ada di kawasan itu dapat sewaktu waktu meledak terutama terlibatnya negara negara adikuasa masa itu (Kerajaan Ottoman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Inggris, Perancis, Kekaisaran Jerman dan Rusia. Konflik ini meledak saat Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Krisis di kawasan yang sekarang dikenal sebagai bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.
•   Perlawanan dari organisasi yang didukung negara-negara asing seperti organisasi Turki Fatat (Turki Muda), Ittihat ve Terakki (Persatuan dan Kemajuan).
•   Kekuatan Yahudi dan Freemasonry, yang menginginkan berdirinya komunitas Yahudi di Palestina.
Beberapa peristiwa di zaman Sultan Abd-ul-Hamid II:
•   1840
Awal rencana pembuatan jalur kereta api yang membentang di Timur Tengah yang juga mencakup Jalur kereta api Hijaz yang menghubungkan antara Damaskus dengan Madinah yang juga direncanakan sampai ke Mekkah dan Jeddah. Jalur kereta api ini dibangun bertujuan untuk mempersatukan wilayah Kekaisaran (Kekhalifahan) Usmaniyah dengan sarana transportasi modern saat itu.
•   1876
1.   Revolusi Bulgaria dengan bantuan Rusia gagal.
2.   Serbia menyerang kaum muslimin dengan bantuan Rusia, kaum muslimin mengalahkan mereka, mengambil alih Bulgaria dan seluruh Serbia.
•   1877
1.   Rusia dan Rumania dikalahkan setelah menyerang kaum muslim.
2.   Rusia dan Hongaria mengambil alih Pleven, Bulgaria.
3.   Rusia dikalahkan dan Tsar dibebaskan. Rusia telah kalah sebanyak 6 kali.
•   1878
1.   Rusia mengambil alih Sofia, Pleven, dan Edrine di Turki.
2.   Perjanjian damai dengan Rusia.
3.   Bulgaria dan Serbia merdeka.
4.   Edrine dan kawasan lain kembali kedalam wilayah Kekaisaran Usmaniyah.
5.   Inggris mengambil alih Siprus.
6.   Perjanjian Berlin, pihak Eropa membagi-bagikan tanah kaum muslimin.
•   1908
Jalur kereta api Hijaz yang menghubungkan antara Damaskus dengan Madinah dioperasikan. Rencananya, Jalur ini akan dihubungkan sampai Mekkah dan Jeddah. Namun karena keterbatasan dana dan sering adanya gangguan dari para pemuka suku setempat, jalur ini hanya dihubungkan sampai dengan Madinah. Keberadaan Jalur ini sangat mempermudah kelancaran jamaah haji dengan sarana transportasi modern saat itu. Berbeda dengan jalur di Timur Tengah lainnya seperti halnya Jalur kereta api Baghdad, Jalur kereta api ini dibangun tanpa bantuan dari luar negeri khususnya kekaisaran Jerman.


Sultan Mehmed Resat (bergelar Mehmed V; 2 November 1844–3 Juli 1918) ialah khalifah Turki Utsmani yang memerintah antara 1909-1918. Ia menduduki kesultanan setelah penggulingan Sultan Abdul Hamid II dari tahta pada usia 65 tahun. Ia belajar 2 tsaqofah, Timur dan Barat. Ia menjadi sultan pertama yang memerintah di bawah perjanjian al-Masyruthiyah dan tak berpengaruh apapun, dan membiarkan jalannya pemerintahan berada pada Komite Persatuan dan Kemajuan. Pada masanya terjadi Perang Tripoli (1911) antara Utsmani dan orang-orang Libya melawan Italia, kemudian Perang Balkan antara Usmaniyah melawan Yunani, Bulgaria, Serbia, dan Montenegro lalu PD I (1914-1918).
Peristiwa-peristiwa di zamannya:
•   1913 - Pergerakan Sanusiyah yang berawal di Libya melawan Italia.
•   1916:
1.   Syarif Husain di Makkah mengkhianati khilafah dan bersekongkol dengan Prancis dan Inggris untuk menentang kholifah.
2.   Persetujuan Sykes-Picot oleh kekuatan Eropa untuk menguasai tanah air kaum Muslim.
•   1917 - Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour berjanji akan memberikan Yahudi sebuah tanah air di Palestina.


Mehmed VI (bahasa Arab: محمد السادس), nama asli Mehmed Vahdettin atau Mehmed Vahideddin, (14 Januari 1861 – 16 Mei 1926) ialah khalifah ke-40 Turki Utsmani, menjabat dari 1918–1922. Ia juga Khalifah Islam ke-100. Saudara Mehmed V Resat, ia naik tahta akibat bunuh dirinya Yusuf Izzetin, pewaris tahta. Ia bertahta mulai 4 Juli 1918, sebagai padishah ke-36.
PD I menyebabkan bencana bagi Khilafah Turki Utsmani. Angkatan Inggris telah merampas Baghdad dan Jerusalem selama perang dan sebagian besar kekhalifahan akan dibagai-bagikan kepada kuasa Eropa. Dalam konferensi San Remo pada April 1920, Perancis telah diberi mandat atas Suriah dan Britania Raya telah diberi mandat atas Palestina dan Mesopotamia. Pada 10 Agustus 1920, perwakilan Mehmed menandatangani Perjanjian Sevres, yang mengakui mandat itu, melepaskan kendali Ottoman atas Anatolia dan Izmir, menghilangkan perluasan Turki, dan mengakui Hejaz sebagai negara merdeka.
Kelompok nasionalis Turki (yang dideking pihak Barat) berang dengan penyetujuan Sultan atas permukiman-permukiman tadi. Sebuah pemerintahan baru, Majelis Nasional Agung Turki, dipimpin oleh Mustafa Kemal telah terbentuk pada April 1920, berpusat di Ankara. Pada 23 April, pemerintahan Mehmed ditiadakan dan konstitusi sementara disahkan.
Keberhasilan kelompok nasionalis membuat kekuasaan kalifah ditiadakan pada 1 November 1922, dan Mehmed meninggalkan Istanbul, menaiki kapal perang Inggris pada 17 November. Menuju Malta untuk eksil, Mehmed kemudian tinggal di Italian Riviera.
Ia meninggal pada 15 Mei 1926 di San Remo, Italia. Pada 19 November 1922 sepupunya diangkat sebagai khalifah sebagai Abdul Mejid II.


Abdul Mejid II (juga dengan sejumlah ejaan alternatif, termasuk Abd-ul-Mejid, Abdul Medjit, dan dalam bahasa Turki 'modern', Abdόlmecit; dalam bahasa Arab عبد المجيد الثانى ) (hidup 29 Mei 1868 – 23 Agustus 1944; menjabat dari 19 November 1922 – 3 Maret 1924) ialah kalifah terakhir Turki Utsmani, khalifah ke-101 sejak Abu Bakar.
Lahir pada 29 Mei 1868 di Istana Dolmabahηe di Istanbul (bekas Konstantinopel) dari Sultan Abd-ul-Aziz. Ia dididik secara pribadi. Pada 4 Juli 1918 saudaranya Mehmed VI menjadi Sultan. Menyusul pendepakan sepupunya dari tahta pada 1 November 1922 jabatan sultan dihapuskan. Namun pada 19 November 1922, ia diangkat sebagai khalifah oleh Majelis Nasional Turki di Ankara. Ia memerintah dari Istanbul, pada 24 November 1922. Pada 3 Maret 1924 ia diturunkan dari diusir dari Turki bersama dengan sisa keluarganya.
Pada 23 Desember 1896 ia menikah buat pertama kalinya di Istana Ortakφy dengan Shahsuvar Bash Kadin Effendi (Istanbul 2 Mei 1881 – Paris 1945). Mereka memiliki seorang putra, Shehzade Φmer Faruk Effendi (27 Februari 1898 – 28 Maret 1969).
Pada 18 Juni 1902 ia menikah untuk kedua kalinya di Istana Ortakφy dengan Hair un-nisa Kadin Effendi (terlahir: Panderma, 2 Maret 1876; meninggal: Nice, 3 September 1936). Mereka memiliki seorang putri, Hadice Hayriye Ayshe Dόrrόhsehvar (26 Januari 1914 – 7 Februari 2006) yang menikah dengan Azam Jah, putra Nizam Hyderabad terakhir.
Pada 16 April 1912 ia menikah untuk ketiga kalinya di Istana Ηamlica dengan Atiya Mihisti Kadin Effendi (lahir di Adapazari, 27 Januari 1892 – London, 1964). Ia adalah saudari Kamil Bey.
Pada 21 Maret 1921 ia menikah untuk keempat kalinya di Istana Ηamlica dengan Bihruz Kadin Effendi (lahir: Izmir, 24 Mei 1903).
Pada 23 Agustus 1944 Abdul Mejid II meninggal di kediamannya di Boulevard Suchet, Paris XVIe, Perancis. Ia dimakamkan di Haram-i-Sharif, Madinah, Arab Saudi.

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #19 pada: 23 Februari 2007, 17:02:18 »
DAULAH SAUD

Membicarakan tentang dakwah Salafiyyah di jazirah Arabiyyah tidak bisa dilepaskan dari sebuah pertemuan yang bersejarah pada tahun 1158H  bertepatan dengan tahun 1745M antara dua imam dakwah Salafiyyah ; Mujaddid abad ke-13H Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amir Ar-Rasyid Muhammad bin Su’ud -penguasa negeri Dar’iyyah waktu itu dan pendiri daulah Su’udiyyah-, keduanya sepakat untuk bekerjasama mendakwahkan dakwah Tauhid -dakwah Salafiyyah- dengan segenap daya upaya. Muhammad bin Su’ud menyambut baik kedatangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Dar’iyyah.
Maka mulailah kedua imam dakwah Salafiyyah tersebut beserta para pendukung keduanya menyebarkan dakwah Salafiyyah dengan modal ilmu dan keimanan, dan mengibarkan bendera jihad di depan setiap para penghalang jalan dakwah.
Para ulama tarikh sepakat bahwa pendiri daulah Su’udiyyah (kerajaan Saudi Arabia) adalah Al-Imam Muhammad bin Su’ud, dialah yang membuat sunnah hasanah pada keturunannya di dalam membela agama Alloh dan memuliakan para ulama Sunnah. [Lihat Unwanul Majid oleh Ibnu Bisyr 1/234-235]

Dr. Munir Al-Ajlani menyebutkan bahwa pendiri daulah Su’udiyyah adalah Muhammad bin Su’ud, dengan baiatnya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengikhlaskan ibadah semata kepada Alloh dan ittiba kepada hukum Islam yang shahih di dalam siyasah (politik) daulah, serta menegakkan jihad fi sabilillah. [Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 46-47]

Sebagian orang menyangka bahwa Syaikh Muhammad bin Adbul Wahhab dan Muhammad bin Su’ud melakukan pemberontakan terhadap daulah Utsmaniyyah, seperti yang dilakukan Muhammad bin Hasan Al-Hajawi Ats-Tsa’alabi Al-Fasi di dalam kitabnya Al-Fikru Sami Fi Tarikhil Fiqh Islami (2/374) yang menyatakan bahwa Muhammad bin Su’ud mendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk merealisasikan impiannya di dalam melepaskan diri dari kekuasaan daulah Turki Utsmani!

Pernyataan Muhammad bin Hasan Al-Fasi di atas adalah pernyataan yang keliru, karena menyelisihi realita sejarah, realita sejarah menunjukkan bahwa di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melancarkan dakwahnya dan bahkan jauh sebelumnya negeri Nejed -termasuk Dar’iyyah- tidak pernah menjadi wilayah daulah Utsmaniyyah. [Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 47]

Di antara bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Nejed tidak pernah masuk dalam wilayah daulah Turki Utsmani adalah sebuah dokumen yang ditulis oleh Yamin Ali Affandi dengan judul asli berbahasa Turki : Qawanin Ali Utsman Dur Madhamin Daftar Diwan, di dalamnya terdapat daftar wilayah daulah Turki Utsmani sejak penghujung abad ke 11 H (1700 M) yang terbagi menjadi 32 wilayah, 14 wilayah darinya adalah wilayah-wilayah di jazirah Arabiyyah, dan Najed tidak tercantum dalam daftar wilayah tersebut. [Lihat Bilad Arabiyyah wa Daulah Utsmaniyyah oleh Sathi’ Al-Hushari hal. 230-240]

Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap pemerhati sejarah Islam bahwa banyak dari wlayah-wilayah kaum muslimin yang tidak masuk ke dalam wilayah daulah Turki Utsmani yang ditunjukkan oleh adanya daulah-daulah yang sezaman dengan daulah Turki Utsmani seperti daulah Shafawiyyah Rafidhiyyah di Iran, daulah Mongoliyyah di India, daulah Maghribiyyah di Maroko dan beberapa negara Islam di Indonesia.
Tidak henti-hentinya Al-Imam Muhammad bin Su’ud memenuhi janjinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam mendukung dakwah Salafiyyah dan berjihad fi sabilillah di hadapan para penghalang dakwah hingga beliau wafat pada tahun 1179H / 1765 M

Sepeninggal Muhammad bin Su’ud, dibai’atlah putranya Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam kaum muslimin. Di antara yang membaiatnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
-Dari Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud kepada para ulama dan para hakim syar’i di Haramain, Syam, Mesir dan Iraq, beserta para ulama yang lain dari Masyriq dan Maghrib-?
Beliau juga mengirim risalah ke negeri-negeri Rum yang menjelaskan tentang agama yang haq dan tentang aqidah Salafush Shalih. [Durar Saniyyah 1/143-146]

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud juga banyak mengirim para ulama untuk mendakwahkan aqidah Salafiyyah ke negeri-negeri di sekitarnya.

Di antara para ulama yang memiliki peran yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Abdul Aziz bin Muhammad adalah Syaikh Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Husain, dan Syaikh Sa’id bin Hajji.
Ketika Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1218H / 1803 M, putranya Su’ud bin Abdul Aziz dibaiat sebagai penggantinya.
Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Su’ud bin Abdul Aziz ialah : Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Nami dan Syaikh Muhammad bin Sulthan Al-Ausaji.
Pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aziz bin Muhammad. Daulah Su’udiyyah mengalami kemajuan yang pesat dalam keadaan keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Bisyr yang melihat langsung keadaan pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aizi bin Muhammad. [Lihat Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/214]

Ketika Al-Imam Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1229H / 1813 M, putranya Abdullah bin Su’ud dibaiat sebagai penggantinya. Abdullah bin Su’ud dikenal keberaniannya, kebaikan agamanya dan kedermawanannya.

Al-Imam Abdullah bin Su’ud menempuh jalan yang telah ditempuh oleh ayahandanya, Su’ud, hanya saja sebagian saudara-saudaranya tidak sependapat dengannya, hingga terjadilah perpecahan yang menyebabkan lemahnya daulah Su’udiyyah hingga runtuhnya daulah Su’udiyyah periode pertama dengan ditandai oleh wafatnya Abdullah bin Su’ud pada tahun 1233H / 1817 M
Pada tahun 1240H / 1824 M berdirilah daulah Su’udiyyah periode kedua dengan dibaiatnya Al-Imam Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam bagi kaum muslimin dan penerus penyebar dakwah Salafiyyah di jazirah Arabiyyah. Al-Imam Turki bin Abdullah dikenal memiliki ghirah yang besar terhadap syari’at Alloh dan gigih berjihad menegakkan kalimat Tauhid. [Tarikh Daulah Su’udiyyah oleh Dr. Madihah Darawisy hal.58]

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 23 Februari 2007, 17:02:53 »
Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar dalam penyebaran dakwah Salafiyyah di periode ini adalah Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -penulis kitab Fathul Majid-, Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alu Syaikh, Syaikh Hamd bin Muhammad bin Atiq, dan Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Isa [Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyah hal. 560-575]
Setelah runtuhnya daulah Su’udiyyah periode kedua pada tahun 1308H / 1890 M, berdirilah daulah Su’udiyyah periode ketiga yaitu daulah Su’udiyyah sekarang ini yang ditandai dengan dibaiatnya Al-Malik Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Su’ud pada tanggal 21 Jumadil Ula 1351H / 1932 M
Daulah Su’udiyyah menjadikan Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai undang-undang dasar daulah sebagaimana termuat dalam surat kabar Ummul Qura 21 Shafar 1345H : -Seluruh hukum di Saudi berdasarkan atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh para sahabat dan Salafush Shalih- [Syibhul Jazirah Fi Ahdil Malik Abdul Aziz 1/354]

Daulah Su’udiyyah menerapkan syari’at Islam di seluruh penjuru daulah. Di antara hal-hal yang nampak dari penerapan syari’at yang bisa dilihat oleh setiap orang yang datang ke negeri Saudi adalah.

[1]. Menjadikan aqidah Salaf sebagai pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

[2]. Menghilangkan semua hal yang merusak aqidah dan membawa kepada kesyirikan seperti kubah-kubah di atas kubur, berhala-berhala, dan yang lainnya.

[3]. Melarang semua pemikiran yang menyelisihi Islam seperti rasialisme, sekulerisme, komunisme, dan yang lainnya dengan melarang masuknya buku-buku yang mengandung pemikiran-pemikiran tersebut ke dalam negeri.

[4]. Mendirikan Haiah Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar yang bertugas mengawasi pelaksanaan hukum-hukum dan syi’ar-syi’ar Islam serta menghasung kaum muslimin agar selalu shalat berjama’ah, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan ibadah-ibadah yang lainnya.

[5]. Seluruh mahkamah di daulah Su’udiyyah berlandaskan hukum-hukum Islam

[6]. Menegakkan hukum-hukum had terhadap pelanggaran-pelanggaran syar’i seperti qishash, dera potong tangan pencuri, dan yang lainnya.

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #21 pada: 23 Februari 2007, 17:08:13 »
Abd al-`Azīz as-Sa`ūd (Riyadh, sekitar 1880–Taif, 9 November 1953) (bahasa Arab: عبدالعزيز آل سعود) adalah Raja Arab Saudi yang pertama. Dia juga dikenali dengan berbagai nama, di antaranya Ibnu Saud. Beliau berasal dari Keluarga Kerajaan Saudi yang memerintah sebahagian dari Jazirah Arab.
Ibnu Saudi dilahirkan di Riyadh dan merupakan anak pasangan Abdul Rahman bin Faisal dan Sara binti Ahmad al-Kabir Sudayri. Pada tahun 1890, semasa berusia sepuluh tahun, Ibnu Saud mengikuti keluarganya dalam pengasingan di Kuwait setelah direbutnya tanah keluarganya oleh dinasti Rashidi. Beliau menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuwait dalam keadaan tidak berharta.
Pada tahun 1901, semasa berusia 22 tahun, Ibnu Saud menggantikan ayahnya sebagai ketua keluarga dinasti Saud dengan gelar Sultan Nejd. Beliau kemudian memulai kampanye untuk merebut kembali tanah keluarganya dari dinasti Rashidi di tempat yang kini merupakan Arab Saudi. Pada tahun 1902, beliau bersama-sama dengan pasukan keluarga dan saudaranya berhasil merebut Riyadh.

Dua tahun setelah berhasil merebut Riyadh, Ibnu Saud berhasil menguasai separuh dari Nejd. Meskipun begitu, pada tahun 1904, dinasti Rashidi meminta bantuan dari Kesultanan Utsmaniyah untuk mengalahkan dinasti Saud (Keluarga Kerajaan Saudi). Kerajaan Utsmaniyah mengirimkan pasukan ke Arabia (Tanah Arab) dan ini menyebabkan kekalahan dinasti Saud pada 15 Juni 1904, namun setelah pasukan Utsmaniyah mundur disebabkan masalah tertentu, pasukan dinasti Saud berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya.
Pada tahun 1912, Ibnu Saud berhasil menguasai Nejd dengan bantuan dinasti Wahabbi. Pada saat Perang Dunia I, Ibnu Saud berpihak kepada Britania Raya karena dinasti Rashidi merupakan sekutu Utsmaniyah yang merupakan musuh Britania. Pada tahun 1922 dinasti Saud berhasil mengalahkan dinasti Rashidi dan ini mengakhiri penguasaan dinasti Rashidi di Tanah Arab.
Pada tahun 1925, dinasti Saud berhasil merebut Kota Suci Makkah dari Syarif Hussain bin Ali. Pada 10 Januari 1926, Ibnu Saud dinobatkan menjadi Raja Hijaz di Masjidil Haram, Makkah.
Pada tahun 1932, setelah menguasai sebagian besar Jazirah Arab dari musuh-musuhnya, Ibnu Saud menamakan tanah gabungan Hijaz dan Nejd sebagai Arab Saudi. Beliau kemudiannya menobatkan dirinya sebagai Raja Arab Saudi dengan dukungan pihak Britania.
Saat Perang Dunia II, Arab Saudi ialah sebuah negara yang netral tetapi lebih memihak kepada pasukan Sekutu.
Pada tahun 1948, saat Perang Arab-Israel 1948 meletus, Ibnu Saud mengikuti peperangan tersebut.


 

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 27 Februari 2007, 08:03:51 »
sumbernya dari mana .............  :o

coba antum liat buku kuliah antum,,,
kan katanya di kuliah antum udh dpt,,,,

Offline Fathia

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 5
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 03 Maret 2007, 10:04:01 »
@Jbh
boleh tau dong bukunya, saya tertarik u/ membaca bukunya dan ingin membandingkan dengan buku2 filsafat barat. Jazakallah b4!

Offline jbh

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 372
  • Lokasi: Serang Banten
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #24 pada: 05 Maret 2007, 15:27:35 »
ana dpt dari ensiklopedia... plus ditambah dari almanhaj sbg pelengkap...

pd awalnya ana agak ragu utk posting, krn khawatir ada byk rekans yg menganggap informasi "orientalis" gak bisa dipercaya...

maksud ana posting ini sbg bahan rujukan or pebanding...

kl rekans ada kilas balik sejarah yg lebih bisa dipercaya or menurut versi islam sendiri, malahan itu yg ana tunggu...

Offline zaad

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 1.530
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • APAKAH ENGKAU TIDAK PUNYA MALU ?
    • Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 13 Maret 2007, 15:56:44 »
bolehkah tahu sejarah perebutan palestina oleh salahudin al ayubi.

perang apa saja yang beliau jalani dan siapa saja yang beliau lawan ?
« Edit Terakhir: 13 Maret 2007, 16:00:02 oleh zaad »
apakah engkau tidak merasa cukup dengan sunnahnya sehingga harus melakukan bid'ah ?

Achmad irzan bin sukamto from pekalongan, jawa engah, hidup di kabupaten tangerang.

Offline zaad

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 1.530
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • APAKAH ENGKAU TIDAK PUNYA MALU ?
    • Lihat Profil
« Jawab #26 pada: 13 Maret 2007, 16:06:50 »
Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tenteranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/1163 Masihi, panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir yang diperintah oleh Aliran Syiah Ismailiyah yang semakin lemah.Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular di kalangan istana dan rakyat.
bagaimana dengan ini ? http://www.mediamuslim.com/html/modules.php?name=News&file=print&sid=218
apakah engkau tidak merasa cukup dengan sunnahnya sehingga harus melakukan bid'ah ?

Achmad irzan bin sukamto from pekalongan, jawa engah, hidup di kabupaten tangerang.

Offline GhiF

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.129
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • . . . . . . .
    • Lihat Profil
« Jawab #27 pada: 14 Maret 2007, 10:52:13 »
@jbh,

sebagai TS, dakuw juga mengambilnya dari ensiklopedia :)
dan benar, ini untuk pembanding, jadi siapapun boleh mengoreksi, meralat, berdasarkan sumber yang lebih terpercaya.
(\__/) Lembut tanpa ketegasan adalah kelemahan
(='.'=) Tegas tanpa kelembutan adalah kesewenangan
('')_('') Keduanya akan menimbulkan fitnah

(\__/) Kebaikan itu ada 2 pilar : Benar & Santun
(^_^) Benar ga Santun = bikin siapapun akan melecehkan kebenaran
('')_('')Santun ga Benar = Pendusta

Offline AHMAD ABDURRAHMAN

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 5
    • Lihat Profil
« Jawab #28 pada: 14 Maret 2007, 11:13:39 »
Wah..sy tertarik dengan cerita perkembangan islam..Kalau setelah masa Sayyidina Ali ra. itu masa mulkan adlon dan jabariyyah ya...!??
da'wah terus sampai ada keputusan dari Allah antara kita dan mereka.
Saat aku menginjakkan kaki di surga itulah saatnya aku istirahat.

Offline zacky

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 13
    • Lihat Profil
« Jawab #29 pada: 08 Juli 2007, 11:59:30 »
salamulloh 'alaikum...

kepada seluruh sedulur se-agama...

ni bagus juga buat pengetahuan, jadi kita bisa mengetahui sejarah islam dengan berurutan....,

tapi saya baca itu pada tahun 687-724 h itu kan terdapat kedzaliman yazid yang telah membantai seluruh keluarga Al-Husein(cucunda dari Rasulullah) hingga yang tertinggal Zainal Abidin..,

saya harap ada yang mau menuliskan tentang kisah ke-biadaban khalifah yazid bin abdul malik bin muawiyah...

itu amat penting bahwa dalam kalangan umat islam sendiri terdapat kaum  munafik yag sangat berbahaya untuk perkembangan agama allah di Bumi....

Offline Reagen_Abdurrohim

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 986
  • Lokasi: Jakarta Timur
  • Jenis kelamin: Pria
  • 'Astaghfirullahal Azhiim wa Atuubu ilaiih'
    • Lihat Profil
    • Reagen Abdurrohim
« Jawab #30 pada: 30 September 2007, 22:28:13 »
sumbernya dari mana .............  :o
sejarah-sejarh islam=dari buku sejarah kebudayaan islam kelas 1,2,3 Tsanawiyah & kelas 3 Aliyah
Laa IlaaHaillah AlMalikul Haqqul Mubiin Muhammadur Rosulullah Shodiqul wa'dil Amiiin[move]

Offline amoyokan

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 11
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 23 Oktober 2007, 03:34:03 »
dari Atlas Islam juga ada... publish: GRAMEDIA
ENSIKLOPEDI ISLAM yang 9-an jilid juga ada .... :-\

Offline bambang_sgy

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #32 pada: 22 November 2007, 14:29:56 »
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

kami mengharapkan di sini dimuat tentang ijtihaj mengenai pernyataan2 ulama besar agar bisa lebih memahami dan bisa menambah wawasan dlm kehidupan ini.

Offline extraldonary

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 183
  • Lokasi: Jogja
  • Jenis kelamin: Pria
  • Allahu Akbar !!!
    • Lihat Profil
    • Sobat Muslim Online
« Jawab #33 pada: 19 Desember 2007, 17:48:19 »
Yang Nusantara ada gak ya...?

ya nih, sejarah Islam dinegeri sendiri masih dangkal banget pengetahuannya  :malu:
gmana dulu syeikh Hasyim Asyari n KH Ahmad Dahlan, ato juga yang lainnya

Syamil Al-Qur'an Terjemahan Perkata, Best Seller, Sambut Ramadhan dengan lebih dekat dengan Al-Qur'an

Klik disini..!! sobatmuslim.com


Tips NgeBlog, baca disini!
http://blog.aldohas.com

Cari artikel2 self improvement and motivation
http://www.aldohas.

Offline mif

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 53
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • -_- zZzZz...
    • Lihat Profil
    • al_ghafiqi's blog
« Jawab #34 pada: 31 Maret 2008, 06:50:10 »
sumbernya dari mana .............  :o

anu.. anu.. sepakat. Gimana kalau baik yang udah posting atau yang baru mau akan posting menyertakan sumbernya. Kalau buku, tulis pengarang dan judulnya, kalau internet, tulis linknya. Bagus euy, thread ini.

Saya pikir agak kurang kalau nggak ada penjelasan sumbernya.

Yang Nusantara ada gak ya...?


Iya nih. Saya juga lagi nyari. Tapi kalau mau dirunut, sejarah besar Islam sebetulnya nanti juga akan nyambung ke sejarah Islam di Indonesia.

Yang punya ilmu, ditunggu ya...  :topOK:
You are not thinking. You are merely being logical.[Niels Bohr, 1885-1962]

be luminescence
--[mif]--

Offline sasukexcool

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 893
    • Lihat Profil
« Jawab #35 pada: 31 Agustus 2008, 09:15:23 »
wah kalo ini masuk gak ya ? tapi ini salah satu bangunan sejarah islam

Kekeliruan antara Masjid Al-Aqsa dan Dome of The Rock



Melihat pada gambar di atas, tentunya ramai yang menyangka bahawa masjid di atas adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan denga teliti, kita akan dapat melihat sebuah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percayalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya.

   Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama bagi Umat Islam sebelum dipindahkan ke Kaabah dengan perintah Allah SWT. Kini ia berada di dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam keadaan yang demikian, pihak Yahudi telah mengambil kesempatan untuk mengelirukan Umat Islam dengan mengedarkan gambar Dome of The Rock sebagai Masjidil Aqsa. Tujuan mereka hanyalah satu, iaitu untuk meruntuhkan Masjidil Aqsa yang sebenarnya. Apabila Umat Islam sendiri sudah terkeliru dan sukar untuk membezakan Masjidil Aqsa yang sebenarnya. Maka semakin mudahlah tugas mereka untuk melaksanakan perancangan tersebut.

   Lihat pula gambar di bawah, berikut adalah gambar sebenar Masjidil Aqsa pada jarak yang lebih dekat. Betapa jauhnya perbezaan antara Dome of The Rock jika dibandingkan dengan Masjidil Aqsa. Hanya Jauhari juga yang mengenal Manikam



Agenda Israel menghapuskan Masjidil Aqsa

   Berikut disertakan juga terjemahan daripada surat yang dikarang dan dikirimkan oleh Dr. Marwan kepada ketua pengarang "Al-Dastour" harian. Berhati-hatilah dengan perancangan zionist tentang Masjidil Aqsa. Jangan biarkan mereka berjaya dengan peracangan mereka.
Terjemahan surat Dr. Marwan:

   Terdapat beberapa kekeliruan di antara Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock. Apabila sahaja disebut tentang Masjidil Aqsa di dalam media tempatan mahupun antarabangsa, gambar The Dome of The Rock pula yang dipaparkan. Sebab utama ia dilakukan adalah bagi mengabaikan orang ramai dimana ianya adalah perancangan Israel. Tinjauan ini diperolehi semasa saya tinggal di USA, dimana saya telah dimaklumkan bahawa Zionis di Amerika telah mencetak dan mengedarkan gambar tersebut dan menjualkannya kepada orang arab dan Muslim. Kadangkala dijual dengan harga yang murah bahkan kadangkan diberikan secara percuma supaya Muslim dapat mengedarkannya dimana-mana sahaja. Tak kira di rumah mahupun pejabat.

   Ini meyakinkan saya bahawa Israel ingin menghapuskan gambaran Masjid Al-Aqsa dari ingatan umat Islam supaya mereka dapat memusnahkannya dan membina kuil mereka tanpa sebarang publisiti. Sekiranya terdapat pihak yang membangkang atau merungut, maka Israel akan menunjukkan gambar The Dome of The Rock yang masih utuh berdiri, dan menyatakan bahawa mereka tidak berbuat apa-apa. Rancangan yang sungguh bijak! Saya juga merasa amat terperanjat apabila bertanya kepada beberapa rakyat arab, Muslim, bahkan rakyat Palestin kerana mendapati mereka sendiri tidak dapat membezakan antara kedua bangunan tersebut. Ini benar-benar membuatkan saya berasa kesal dan sedih kerana hingga kini Israel telah berjaya dalam perancangan mereka.
Dr. Marwan Saeed Saleh Abu Al-Rub Associate Professor,
Mathematics Zayed University Dubai





http://www.darulnuman.com/semasa/aqsa.html

« Edit Terakhir: 31 Agustus 2008, 09:18:39 oleh sasukexcool »
Maaf kalau ada kalimat saya yang salah :)


All About Linux:http://myquran.org/forum/index.php/topic,10108.msg193039.html#msg193039

Offline bruce lee

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2008
  • Tulisan: 5
  • Lokasi: medan, sumatera utara
  • Jenis kelamin: Pria
  • sukses dunia akhirat
    • Lihat Profil
« Jawab #36 pada: 14 Desember 2009, 23:16:18 »
afwan ni referensinya diambil dari mna?? ada dalil2 nya???  ;)

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.245
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #37 pada: 12 Oktober 2011, 11:05:03 »
Apakah hingga sejarah terakhirnya khalifah ottoman di turkiy ?
http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger

Offline putrakhairi

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 7
  • Lokasi: Medan
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Keistimewaan Islam
« Jawab #38 pada: 08 Februari 2012, 21:02:26 »
Alhamdulillah ane jadi ngerti

Offline Ibnu Sarbini

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2012
  • Tulisan: 168
  • Lokasi: Samarinda
  • Jenis kelamin: Pria
  • Innalloha Khoirul maakirin
    • Lihat Profil
« Jawab #39 pada: 16 Februari 2012, 09:23:39 »
Bukankah Mushtafa Kemal Pasha adalang seorang Yahudi??? Sebelum Kesultanan Ustmani jatuh (karena dikudeta oleh mustafa dkk), masjidil Aqsha aman berada ditangan kaum muslimin. Namun setelah mustafa berkuasa, terbentuk negara israel dan sampe sekarang menjajah Palestina. Saat mustafa berkuasa, banyak masjid ditutup atau dijadikan museum dan dilarang adzan dilarang memakai jilbab dsb. Mustafa menyekulerkan turki
Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah satu satunya petunjuk