JAKARTA (Pos Kota) – Pergaulan bebas dan seks bebas di kalangan cewek Anak Baru Gede (ABG) di Jakarta sangat mengkhawatirkan. Riset Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) menyebutkan, 650 ribu ABG tidak perawan.Riset itu dilakukan tahun 2010/2011. Jika ditambah Tangerang dan Bekasi, ada 20,9 persen remaja hamil sebelum menikah.“Jumlah penduduk Jakarta 10 juta, 26 persennya atau 2,6 juta adalah putra dan putri. Mereka berusia 15 hingga 17 tahun. Kalau 50 persen saja dari jumlah itu berhubungan intim, maka jumlah Anak Baru Gede (ABG) yang pernah melakukan seks bebas mencapai 1,3 juta orang,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief saat menjadi pembicara dalam ‘Workshop Generasi Berencana dan Berkarakter’ yang digelar Forum antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) di Jakarta, Sabtu (26/5).Menyedihkan, lanjut Sugiri, separuh dari jumlah itu adalah remaja putri. Berarti ada 650 ribu cewek ABG di Jakarta yang tidak perawan. Data BKKBN itu tampaknya tidak berlebihan. Sebab, perilaku seks bebas memang terjadi dimana-mana.Sekadar gambaran, seperti diberitakan Pos Kota , sepasang ABG ( AA,16, dan Rc,17) tertangkap basah oleh pihak keamanan sedang berbuat mesum di tempat parkir lantai 10 RS Jatinegara, Jakarta Timur. Pasangan ABG itu diserahkan kepada polisi.Menurut Sugiri Syarif, perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang belum menikah cenderung meningkat.Berdasarkan penelitian dari Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) tahun 2010/2011 di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (Jatabek), dengan jumlah sampel 3006 responden (usia 17-24 tahun), menunjukkan 20.9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Dan 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah.“Dari data tersebut terdapat proporsi yang relatif tinggi pada remaja yang melakukan pernikahan disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Sugiri.Ditegaskannya, agar kita berhasil membantu remaja untuk tidak menjadi korban dari tiga resiko kesehatan reproduksi remaja (KRR) tadi, maka kita harus bersama-sama membantu remaja agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif. Apalagi remaja sekarang mendapat informasi soal reproduksi dari teman sebaya (71 persen).Lanjut Sugiri, BKKBN melalui program Genre yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan terencana, berkarir dalam pekerjaan yang terencana dan menikah dengan penuh perencanaan, dengan sasarannya adalah remaja usia 10-24 tahun dan belum menikah.“Secara umum, masalah menonjol di kalangan remaja digolongkan pada tiga hal (Triad KRR) yakni seksualitas, HIV dan AIDS, serta narkotika dan zat terlarang (napza),” ujarnya.MUSIBAHSebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) merilis sebanyak 62,7 persen remaja SMP tidak perawan dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi. “Perilaku seks bebas pada remaja tersebar di kota dan desa pada tingkat ekonomi kaya dan miskin,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, belum lama ini.Data tersebut didapat berdasarkan survei yang dilakukan Komnas PA tahun 2008, dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar. Karena itu, DPR mendesak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) segera meningkatkan sosialisasi program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR).“Ini dilakukan sebagai antisipasi meningkatnya perilaku seks bebas pada remaja yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Pemerintah harus meningkatkan program sosialisasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja,” tandas anggota Komisi IX DPR Herlini Amran di Jakarta, kemarin.Dari data Komnas PA juga diperoleh , 97 persen remaja pernah menonton film porno dan 93,7 persen pernah melakukan adegan intim, bahkan hingga melakukan seks oral. Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan peran Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja di daerah-daerah dan harus terus dipantau.Herlini menyampaikan, jika tidak segera diantisipasi, hal ini akan berisiko besar bagi pengelolaan kependudukan Indonesia yang akan memicu rendahnya kualitas generasi bangsa Indonesia selanjutnya.Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Sudibyo Alimoeso menambahkan, permasalahan seks bebas pada remaja tergolong kompleks dan mengkhawatirkan. Hal ini dipicu dengan kurangnya pengetahuan akan reproduksi dan seksual yang benar.melakukannya di rumah,” ujar Sudibyo Alimoeso.Selain itu, kurangnya pengawasan orangtua di rumah juga seringkali membuat remaja merasa nyaman dan aman untuk melakukan hubungan seks pranikah. Ini juga karena pengetahuan orangtua yang tidak cukup untuk berkomunikasi tentang seksualitas dengan anak. Anak seharusnya mendapatkan informasi yang tepat dari orangtua agar dia tidak mendapatkan informasi yang salah dari luar. “ Menurut survei kebanyakan remaja dapat informasi tentang seks dari temannya,” jelas Sudibyo.HARUS BERTOBATKetua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) seluruh Indonesia Prof Tutty Alawiyah menegaskan wanita yang melakukan hubungan seks sebelum menikah, harus bertobat.Menurut Tutty, kecenderungan remaja wanita melakukan seks sebelum nikah karena akibat pergaulan bebas, kaum remaja putri dengan tidak malu mempertontonkan auratnya dengan mengenakan pakaian minim, celana pendek. Selain itu betapa bebasnya media seks sekarang ini melalui internet..“Sebab itu, orangtua agar sungguh-sungguh mengawasi putri remajanya, tanamkan pendidikan agama kepada mereka, di samping pendidikan umum,” papar Tutty yang dihubungi di Jakarta, Sabtu.Tutty yang juga Rektor Universitas Assyafi’iyah ini menegaskan mereka yang melakukan seks pranikah, tidak akan menikmati kebahagian di malam pertama pernikahannya. “Inilah salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian,” terang dia.(aby/johara/b)Foto : Kepala BKKBN Sugiri Syarief didampingi Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Sudibyo Alimoeso dan DR Cholil Nafis dari Fapsedu. (aby).Sumber : http://poskotanews.com/2012/05/27/209-persen-abg-hamil-di-luar-nikah
btw, ada yang tau itu cara menentukan hasil seperti itu gimana metodologinya?
pencegahan aborsi bisa ditingkatkan tp yg lebih utama adalah mencegah pihak2 yg melegalkan aborsi terutama to anak2 ABG dengan syarat masih dlm hamil bbrp minggu