25 Mei 2013, 07:21:55
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Donasi untuk myQuran! "Donasi"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Aisyah r.a menggambarkan tawa Rasulullah s.a.w dengan berkata, "Belum pernah saya melihat Rasulullah s.a.w tertawa tergelak sehingga terlihat langit-langit mulutnya, tetapi selalu ia tersenyum" (HR Bukhari dan Muslim)

img_iklan_board/1298237041.gif

Penulis Topik: sejarah pembentukan Qur'an menurut sejarawan kristen  (Dibaca 299 kali)

Offline ichreza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 2.072
  • Jenis kelamin: Pria
  • nada dan dakwah
    • Lihat Profil
    • www.laskarislam.com
sejarah pembentukan Qur'an menurut sejarawan kristen
« pada: 13 Juli 2012, 14:11:23 »
PENDAPAT MUIR

   Sebenarnya apa yang diterangkan kaum  Orientalis  dalam  hal
   ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh
   Sir William Muir dalam The Life of  Mohammad  supaya  mereka
   yang  sangat  berlebih-lebihan  dalam  memandang sejarah dan
   dalam memandang diri mereka yang  biasanya  menerima  begitu
   saja   apa   yang  dikatakan  orang  tentang  pemalsuan  dan
   perubahan Qur'an itu, dapat  melihat  sendiri.  Muir  adalah
   seorang  penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah
   untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan  setiap
   kesempatan  melakukan  kritik  terhadap Nabi dan Qur'an, dan
   berusaha memperkuat kritiknya.

   Ketika bicara tentang  Qur'an  dan  akurasinya  yang  sampai
   kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:

   "Wahyu  Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa
   ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang
   bersifat  umum  atau  khusus. Melakukan pembacaan ini adalah
   wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik
   yang  akan  mendapat  pahala  bagi yang melakukannya. Inilah
   sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan  itu  pula
   yang  telah  diberitakan  oleh  wahyu.  Oleh karena itu yang
   hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu  banyak
   sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka
   pada awal masa kekuasaan Islam itu ada  yang  dapat  membaca
   sampai  pada  ciri-cirinya  yang  khas.  Tradisi  Arab telah
   membantu pula mempermudah pekerjaan  ini.  Kecintaan  mereka
   luar  biasa  besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang
   datang  dari  para  penyairnya  tidak  mudah  dicapai,  maka
   seperti  dalam  mencatat  segala  sesuatu  yang  berhubungan
   dengan nasab keturunan  dan  kabilah-kabilah  mereka,  sudah
   biasa  pula  mereka  mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran
   hati mereka sendiri. Oleh karena  itu  daya  ingat  (memori)
   mereka  tumbuh  dengan  subur. Kemudian pada masa itu mereka
   menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup.
   Begitu  kuatnya  daya  ingat  sahabat-sahabat Nabi, disertai
   pula  dengan  kemauan  yang  luar  biasa  hendak  nnenghafal
   Qur'an,  sehingga  mereka,  bersama-sama  dengan  Nabi dapat
   mengulang kembali dengan ketelitian yang  meyakinkan  sekali
   segala  yang  diketahui  dari  pada  Nabi  sampai pada waktu
   mereka membacanya itu."

   "Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas  daya
   ingatnya   itu,  kita  juga  bebas  untuk  tidak  melepaskan
   kepercayaan kita  bahwa  kumpulan  itu  adalah  satu-satunya
   sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin,
   bahwa sahabat-sahabat Nabi  menulis  beberapa  macam  naskah
   selama  masa  hidupnya  dari  berbagai  macam  bagian  dalam
   Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an
   itu  ditulis.  Pada  umumnya  tulis-menulis  di  Mekah sudah
   dikenal orang jauh sebelum masa  kerasulan  Muhammad.  Tidak
   hanya  seorang  saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan
   kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan  perang  Badr  yang
   dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang
   jauh sebelum masa kerasulan Muhammad.  Tidak  hanya  seorang
   saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan
   surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat  mengajarkan
   tulis-menulis   kepada   kaum  Anshar  di  Medinah,  sebagai
   imbalannya  mereka  dibebaskan.  Meskipun  penduduk  Medinah
   dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak
   juga  di  antara  mereka  yang  pandai  tulis-menulis  sejak
   sebelum  Islam.  Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah
   saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa  ayat-ayat
   yang  dihafal  menurut  ingatan  yang sangat teliti itu, itu
   juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."

   "Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah  mengutus
   seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah
   menganut Islam,  supaya  mengajarkan  Qur'an  dan  mendalami
   agama.  Sering  pula  kita  membaca, bahwa ada utusan-utusan
   yang    pergi    membawa    perintah    tertulis    mengenai
   masalah-masalah  agama  itu.  Sudah tentu mereka membawa apa
   yang  diturunkan  oleh  wahyu,  khususnya  yang  berhubungan
   dengan  upacara-upacara  dan peraturan-peraturan Islam serta
   apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."

   PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI

   "Qur'an  sendiripun  menentukan  adanya  itu  dalam   bentuk
   tulisan.  Begitu  juga  buku-buku  sejarah  sudah menentukan
   demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar,  tentang
   adanya   sebuah   naskah  Surat  ke-20  [Surah  Taha]  milik
   saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk  Islam
   tiga  atau  empat  tahun  sebelum  Hijrah.  Kalau  pada masa
   permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling  dipertukarkan,
   tatkala  jumlah  kaum  Muslimin  masih sedikit dan mengalami
   pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan  sekali,
   bahwa  naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan
   sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak
   kekuasaannya  dan  kitab  itu  sudah  menjadi  undang-undang
   seluruh bangsa Arab."

   BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI

   "Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan  demikian
   juga  halnya  kemudian  sesudah  Nabi wafat; tetap tercantum
   dalam kalbu kaum  mukmin.  Berbagai  macam  bagiannya  sudah
   tercatat  belaka  dalam  naskah-naskah yang makin hari makin
   bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu  sudah  seharusnya
   benar-benar  cocok.  Pada  waktu itu pun Qur'an sudah sangat
   dilindungi sekali, meskipun  pada  masa  Nabi  masih  hidup,
   dengan  keyakinan  yang  luarbiasa  bahwa  itu  adalah kalam
   Allah. Oleh karena  itu  setiap  ada  perselisihan  mengenai
   isinya,  untuk  menghindarkan  adanya  perselisihan demikian
   itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam  hal  ini  ada
   beberapa  contoh  pada  kita:  'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin
   Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi  wafat,  bila
   ada  perselisihan,  selalu  kembali  kepada  teks yang sudah
   tertulis  dan  kepada  ingatan  sahabat-sahabat  Nabi   yang
   terdekat serta penulis-penulis wahyu."

   PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA

   "Sesudah  selesai  menghadapi  peristiwa  Musailima  - dalam
   perang Ridda - penyembelihan Yamama telah  menyebabkan  kaum
   Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka
   yang telah menghafal Qur'an dengan  baik.  Ketika  itu  Umar
   merasa  kuatir  akan  nasib  Qur'an dan teksnya itu; mungkin
   nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka  yang
   telah  menyimpannya  dalam  ingatan itu, mengalami suatu hal
   lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah
   Abu  Bakr  dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan
   terhadap mereka yang sudah hafal  Qur'an  itu  akan  terjadi
   lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak
   lagi dari mereka  yang  akan  hilang.  Menurut  hemat  saya,
   cepat-cepatlah    kita    bertindak   dengan   memerintahkan
   pengumpulan Qur'an."

   "Abu Bakr segera  menyetujui  pendapat  itu.  Dengan  maksud
   tersebut  ia  berkata  kepada Zaid bin Thabit, salah seorang
   Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang  cerdas  dan
   saya  tidak  meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada
   Rasulullah  s.a.w.  dan  kau  mengikuti  Qur'an  itu;   maka
   sekarang kumpulkanlah.''

   "Oleh  karena  pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar
   dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali.  Ia  masih  meragukan
   gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain
   melakukannya. Akan tetapi akhirnya  ia  mengalah  juga  pada
   kehendak  Abu  Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai
   berusaha  sungguh-sungguh   mengumpulkan   surah-surah   dan
   bagian-bagiannya  dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia
   mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas  batu
   putih,   dan   yang  dihafal  orang.  Setengahnya  ada  yang
   menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya  dari  yang  ada
   pada  lembaran-lembaran,  tulang-tulang  bahu dan rusuk unta
   dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."

   "Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun  terus-menerus,
   mengumpulkan   semua   bahan-bahan  serta  menyusun  kembali
   seperti yang ada sekarang ini, atau seperti  yang  dilakukan
   Zaid  sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian
   orang mengatakan. Sesudah  naskah  pertama  lengkap  adanya,
   oleh  Umar  itu  dipercayakan  penyimpanannya kepada Hafsha,
   puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang  sudah  dihimpun  oleh
   Zaid  ini  tetap  berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks
   yang otentik dan sah.

   "Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca,
   yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau
   karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah  itu
   yang  disalin  dari  naskah  Zaid.  Dunia Islam cemas sekali
   melihat hal ini. Wahyu  yang  didatangkan  dari  langit  itu
   "satu,"  lalu  dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang
   pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan,  juga  melihat
   adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."

   MUSHAF USMAN

   "Karena  banyaknya  dan  jauhnya  perbedaan  itu,  ia merasa
   gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman  turun
   tangan.  "Supaya  jangan  ada  lagi orang berselisih tentang
   kitab  mereka  sendiri  seperti   orang-orang   Yahudi   dan
   Nasrani."   Khalifahpun  dapat  menerima  saran  itu.  Untuk
   menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin  Thabit  dimintai
   bantuannya  dengan  diperkuat  oleh tiga orang dari Quraisy.
   Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha  lalu  dibawa,  dan
   cara  membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran
   Islam itupun dikemukakan, lalu  semuanya  diperiksa  kembali
   dengan  pengamatan  yang  luarbiasa,  untuk  kali  terakhir.
   Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya  dari
   Quraisy  itu,  ia  lebih condong pada suara mereka mengingat
   turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan
   wahyu   itu   diturunkan   dengan  tujuh  dialek  Arab  yang
   bermacam-macam."

   "Selesai dihimpun, naskah-naskah  menurut  Qur'an  ini  lalu
   dikirimkan  ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya
   naskah-naskah itu dikumpulkan lagi  atas  perintah  Khalifah
   lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada
   Hafsha."

    PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN

   "Maka yang sampai kepada kita adalah Mushhaf  Usman.  Begitu
   cermat  pemeliharaan  atas Qur'an itu, sehingga hampir tidak
   kita dapati -bahkan  memang  tidak  kita  dapati-  perbedaan
   apapun dari naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang
   tersebar ke seluruh  penjuru  dunia  Islam  yang  luas  itu.
   Sekalipun akibat terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad
   kemudian sesudah Muhammad wafat - telah  menimbulkan  adanya
   kelompok-kelompok  yang marah dan memberontak sehingga dapat
   menggoncangkan kesatuan dunia Islam -  dan  memang  demikian
   adanya  - namun Qur'an yang satu, itu juga yang selalu tetap
   menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang  hanya
   mengenal satu kitab itu ialah bukti yang nyata sekali, bahwa
   apa yang ada di depan kita sekarang ini  tidak  lain  adalah
   teks  yang  telah  dihimpun  atas perintah Usman yang malang
   itu.

   "Agaknya di seluruh dunia ini tak ada sebuah kitabpun selain
   Qur'an  yang  sampai empatbelas  abad  lamanya  tetap lengkap
   dengan teks yang begitu murni  dan  cermatnya.  Adanya  cara
   membaca  yang  berbeda-beda  itu sedikit sekali untuk sampai
   menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya  terbatas
   hanya  pada  cara  mengucapkan  huruf  hidup  saja atau pada
   tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya  timbul  hanya
   belakangan  saja  dalam  sejarah,  yang  tak ada hubungannya
   dengan Mushhaf Usman."

   "Sekarang, sesudah ternyata  bahwa  Qur'an  yang  kita  baca
   ialah  teks  Mushhaf  Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah
   kita  bahas  lagi:  Adakah  teks  ini  yang  memang   persis
   bentuknya  seperti  yang  dihimpun  oleh Zaid sesudah adanya
   persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara  membaca
   yang  hanya  sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting
   itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali,
   bahwa  memang  demikian.  Tidak ada dalam berita-berita lama
   atau  yang  patut  dipercaya  yang  melemparkan   kesangsian
   terhadap  Usman  sedikitpun,  bahwa  dia  bermaksud mengubah
   Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah
   kemudian  menuduh  bahwa  dia mengabaikan beberapa ayat yang
   mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat  diterima
   akal.  Ketika  Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan
   pihak Alawi  (golongan  Mu'awiya  dan  golongan  Ali)  belum
   terjadi  sesuatu  perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam
   masa  itu   benar-benar   kuat   tanpa   ada   bahaya   yang
   mengancamnya.  Di  samping  itu  juga  Ali  belum melukiskan
   tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap.  Jadi  tak  adalah
   maksud-maksud   tertentu  yang  akan  membuat  Usman  sampai
   melakukan pelanggaran yang akan  sangat  dibenci  oleh  kaum
   Muslimin  itu.  Orang-orang  yang  memahami  dan hafal benar
   Qur'an  seperti  yang  mereka  dengar  sendiri  waktu   Nabi
   membacanya  mereka  masih  hidup  tatkala Usman mengumpulkan
   Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan  Ali  itu
   sudah   ada,   tentu   terdapat   juga   teksnya  di  tangan
   pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua  alasan  ini  saja
   sudah  cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan
   ayat-ayat  itu.  Lagi  pula,  pengikut-pengikut  Ali   sudah
   berdiri  sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat
   Ali sebagai Pengganti."

   "Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian  mereka  sudah
   memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an
   yang sudah terpotong-potong, dan  terpotong  yang  disengaja
   pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun
   begitu mereka tetap membaca Qur'an  yang  juga  dibaca  oleh
   lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka
   akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan
   supaya  menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada
   diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya
   dengan tangannya sendiri."

   "Memang  benar  bahwa  para  pemberontak  itu  telah membuat
   pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan
   Qur'an  lalu  memerintahkan  supaya semua naskah dimusnahkan
   selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada
   langkah-langkah  Usman  dalam  hal  itu  saja,  yang menurut
   anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di  balik  itu
   tidak  seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah
   atau menukar isi Qur'an. Tuduhan  demikian  pada  waktu  itu
   adalah suatu usaha perusakan terang-terangan. Hanya kemudian
   golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu  untuk  kepentingan
   mereka sendiri."

   "Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan,
   bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam  bentuknya  yang  persis
   seperti  yang  dihimpun  oleh  Zaid bin Thabit, dengan lebih
   disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu  dengan
   dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan
   selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar  di  seluruh
   daerah itu."

   MUSHAF USMAN CERMAT DAN LENGKAP

   "Tetapi  sungguhpun begitu masih ada suatu soal penting lain
   yang  terpampang  di  depan   kita,   yakni:   adakah   yang
   dikumpulkan  oleh  Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya
   dan  lengkap  seperti  yang  diwahyukan   kepada   Muhammad?
   Pertimbangan-pertimbangan  di  bawah  ini  cukup  memberikan
   keyakinan, bahwa itu adalah susunan  sebenarnya  yang  telah
   selengkapnya dicapai waktu itu:"

   "Pertama  -  Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan
   Abu Bakr. Sedang Abu Bakr seorang  sahabat  yang  jujur  dan
   setia kepada Muhammad. Juga dia adalah orang yang sepenuhnya
   beriman pada kesucian sumber Qur'an, orang yang  hubungannya
   begitu  erat  sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun
   terakhir dalam hayatnya, serta  kelakuannya  dalam  khilafat
   dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari
   gejala ambisi, sehingga baginya  memang  tak  adalah  tempat
   buat  mencari  kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa
   yang diwahyukan kepada kawannya itu adalah wahyu dari Allah,
   sehingga  tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu
   itu semua dalam keadaan murni sepenuhnya."

   Pernyataan semacam ini berlaku juga terhadap Umar yang sudah
   menyelesaikan   pengumpulan   itu   pada  masa  khilafatnya.
   Pernyataan semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum
   Muslimin  waktu  itu,  tak ada perbedaan antara para penulis
   yang membantu  melakukan  pengumpulan  itu,  dengan  seorang
   mu'min  biasa  yang  miskin, yang memiliki wahyu tertulis di
   atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu  membawanya  semua
   kepada    Zaid.    Semangat   mereka   semua   sama,   ingin
   memperlihatkan kalimat-kalimat dan  kata-kata  seperti  yang
   dibacakan  oleh  Nabi,  bahwa itu adalah risalah dari Tuhan.
   Keinginan  mereka  hendak  memelihara  kemurnian  itu  sudah
   menjadi  perasaan  semua  orang,  sebab tak ada sesuatu yang
   lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka  seperti  rasa  kudus
   yang  agung  itu,  yang  sudah  mereka  percayai  sepenuhnya
   sebagai    firman    Allah.    Dalam     Qur'an     terdapat
   peringatan-peringatan   bagi   barangsiapa  yang  mengadakan
   kebohongan  atas  Allah  atau  menyembunyikan  sesuatu  dari
   wahyuNya.  Kita  tidak  akan dapat menerima, bahwa pada kaum
   Muslimin yang  mula-mula  dengan  semangat  mereka  terhadap
   agama  yang  begitu  rupa mereka sucikan itu, akan terlintas
   pikiran yang akan membawa akibat  begitu  jauh  membelakangi
   iman."

   "Kedua  -  Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga
   tahun sesudah Muhammad wafat. Kita  sudah  melihat  beberapa
   orang  pengikutnya,  yang  sudah  hafal  wahyu  itu  di luar
   kepala, dan setiap Muslim sudah hafal sebagian,  juga  sudah
   ada   serombongan   ahli-ahli   Qur'an  yang  ditunjuk  oleh
   pemerintah dan dikirim ke segenap penjuru daerah Islam  guna
   melaksanakan  upacara-upacara dan mengajar orang memperdalam
   agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu  mata  rantai
   penghubung  antara wahyu yang dibaca Muhammad pada waktu itu
   dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum Muslimin bukan  saja
   bermaksud jujur dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf
   itu,  tapi  juga  mempunyai  segala  fasilitas  yang   dapat
   menjamin    terlaksananya    maksud    tersebut,    menjamin
   terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam  kitab  itu,
   yang ada di tangan mereka sesudah dengan teliti dan sempurna
   dikumpulkan."

   "Ketiga - Juga  kita  mempunyai  jaminan  yang  lebih  dapat
   dipercaya  tentang  ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni
   bagian-bagian Qur'an yang tertulis,  yang  sudah  ada  sejak
   masa  Muhammad  masih  hidup,  dan  yang  sudah tentu jumlah
   naskahnyapun sudah banyak sebelum  pengumpulan  Qur'an  itu.
   Naskah-naskah  demikian  ini  kebanyakan sudah ada di tangan
   mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa  apa
   yang  dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan
   langsung dibaca sesudah pengumpulannya.  Maka  logis  sekali
   kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam
   bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka.  Oleh  karena  itu
   keputusan mereka semua sudah tepat pada tempatnya. Tidak ada
   suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan, bahwa
   para  penghimpun  itu  telah melalaikan sesuatu bagian, atau
   sesuatu ayat, atau kata-kata, ataupun apa yang  terdapat  di
   dalamnya  itu,  berbeda  dengan  yang ada dalam Mushhaf yang
   sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian ini  memang  ada,
   maka tidak bisa tidak tentu terlihat juga, dan tentu dicatat
   pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat itu;  tak
   ada sesuatu yang diabaikan sekalipun yang kurang penting."

   "Keempat   -   Isi  dan  susunan  Qur'an  itu  jelas  sekali
   menunjukkan  cermatnya   pengumpulan.   Bagian-bagian   yang
   bermacam-macarn  disusun  satu  sama  lain  secara sederhana
   tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."

   "Tak ada bekas tangan yang mencoba  mau  mengubah  atau  mau
   memperlihatkan  keahliannya  sendiri. Itu menunjukkan adanya
   iman dan kejujuran sipenghimpun dalam  menjalankan  tugasnya
   itu. Ia tidak berani lebih daripada mengambil ayat-ayat suci
   itu seperti apa adanya,  lalu  meletakkannya  yang  satu  di
   samping yang lain."

   "Jadi  kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan meyakinkan
   sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu  bukan  hanya
   hasil  ketelitian  saja,  bahkan - seperti beberapa kejadian
   menunjukkan - adalah juga lengkap, dan  bahwa  penghimpunnya
   tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita
   dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti yang  kuat,  bahwa
   setiap  ayat  dari  Qur'an  itu, memang sangat teliti sekali
   dicocokkan seperti yang dibaca oleh Muhammad."

   Panjang juga kita mengutip kalimat-kalimat Sir William  Muir
   seperti  yang  disebutkan  dalam  kata pengantar The Life of
   Mohammad (p.xiv-xxix) itu. Dengan apa yang sudah kita  kutip
   itu  tidak  perlu  lagi  rasanya  kita  menyebutkan  tulisan
   Lammens atau  Von  Hammer  dan  Orientalis  lain  yang  sama
   sependapat.   Secara   positif   mereka  memastikan  tentang
   persisnya Qur'an yang kita baca sekarang,  serta  menegaskan
   bahwa  semua  yang  dibaca  oleh  Muhammad adalah wahyu yang
   benar  dan  sempurna  diterima  dari  Tuhan.  Kalaupun   ada
   sebagian   kecil   kaum   Orientalis  berpendapat  lain  dan
   beranggapan bahwa Qur'an sudah mengalami  perubahan,  dengan
   tidak menghiraukan alasan-alasan logis yang dikemukakan Muir
   dan sebagian besar  Orientalis,  yang  telah  mengutip  dari
   sejarah  Islam  dan  dari  sarjana-sarjana  Islam,  maka itu
   adalah suatu dakwaan yang hanya didorong  oleh  rasa  dengki
   saja terhadap Islam dan terhadap Nabi.

   Betapapun   pandainya   tukang-tukang   tuduh  itu  menyusun
   tuduhannya,  namun  mereka  tidak  dapat  meniadakan   hasil
   penyelidikan  ilmiah  yang  murni. Dengan caranya itu mereka
   takkan dapat menipu kaum Muslimin, kecuali  beberapa  pemuda
   yang  masih  beranggapan  bahwa  penyelidikan yang bebas itu
   mengharuskan mereka mengingkari masa lampau mereka  sendiri,
   memalingkan  muka  dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh
   kepalsuan yang indah-indah. Mereka percaya kepada semua yang
   mengecam   masa   lampau  sekalipun  pengecamnya  itu  tidak
   mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan sejarah.
klik www.laskarislam.com (menangkis bahaya laten pemurtadan faithfreedom)

space dicadangkan (0)

Offline lintang_panjerino

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 5.976
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:sejarah pembentukan Qur'an menurut sejarawan kristen
« Jawab #1 pada: 15 Juli 2012, 07:57:01 »
ayat/sura apa yang pertama turun?
dimana?
ada/tidak saksinya?
siapa yang menghafal?
siapa yang menulis?
Aku adalah Alfa dan Omega; Yang Pertama dan Yang Terkemudian; Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:13)

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.586 detik dengan 21 queri.