20 Mei 2013, 15:20:46
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Kajian Dunia Ghaib! "Board Kajian Ghaib"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Sesungguhnya Allah Taala berfirman pada hari kiamat kelak: 'Mana orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Hari ini Kunaungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain keagunganKu.'" (Sahih Muslim)

img_iklan_board/1298237041.gif

Penulis Topik: Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012  (Dibaca 1832 kali)

Online idrus_syah

  • myQ Hero
  • *
  • Tulisan: 17.554
  • Jenis kelamin: Pria
  • I'm Just Ordinary Person
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #30 pada: 13 Juli 2012, 07:42:00 »
Beberapa analisa dari Hasil Pilkada Kemarin :

- dukungan jokowi kuat dari kalangan keturunan china dan warga non muslim, kemarin kalo saya (secara kasat mata) melihat dukungan di TPS bagi mereka seperti berduyun-duyun datang ke TPS
- yang terlihat muslim religius (secara kasat mata) ane malah jarang liat
- swing voter kebanyakan mengalihkan suara kepada jokowi yang bisa jadi karena dorongan pemberitaan yang terus menerus oleh media tentang keberhasilan jokowi (terlebih dukungan penuh dari Prabowo)

Kalo untuk Foke bisa karena hal2 dibawah ini :
- dukungan struktur yang begitu kuat (dari walikota sampe RT)
- dukungan ormas FORKABI & FBR yang cukup memberikan pengaruh kuat kepada calon pemilih

kalo untuk Hidayat Nur Wahid :
- dukungan hanya datang dari kader & simpatisan yang bisa dibilang benar2 loyal, suara dari swing voter hanya sedikit sekali
Official Fan Page myQuran di Facebook : http://www.facebook.com/myQuran.org
Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Offline zeinhaekal

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 4.061
  • Jenis kelamin: Pria
  • Lakukan semuanya dgn nama Allah dan rahman w rohim
    • Lihat Profil
    • Indonesian Mountains
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #31 pada: 13 Juli 2012, 07:44:00 »
Ini sih analisa sederhana dari ane...

1. Rakyat Jakarta sudah penuh dengan kesibukan, stres macet, cuaca panas/banjir, nyari kerja, angkutan umum penuh berdesakkan.  Jadi gak usah berharap mereka mau nambah-nambah beban dengan susah-susah pake background check lah, ikut pengajian/arahan segala, dsb.  Jadi selama obrolan di warung kopi, review di koran bagus, ya gak usah mikir panjang-panjang, mereka langsung pilih itu :D
2.  Rakyat Jakarta dah muak sama gaya hidup para pejabat yang foya-foya, jadi isu kesederhanaan + keberanian untuk mendobrak tataran, terasa begitu mewakili mereka.  Isu agama? Suku? apalagi ideologi?  Nomer sekian dah... Bikin pusing aja! :D  Saya yakin, kalo ada cagub yang berani tabok tuh Polantas, terus diliput sama media, pasti dia yang menang!

Online idrus_syah

  • myQ Hero
  • *
  • Tulisan: 17.554
  • Jenis kelamin: Pria
  • I'm Just Ordinary Person
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #32 pada: 13 Juli 2012, 07:44:17 »
dan satu yang perlu diingat PilGub atau Pilkada berbeda dengan Pemilihan Legislatif ...

kekuatan tokoh menjadi magnet tersendiri bagi calon pemilih, sedangkan kalo legislatif kinerja partai yang dijual
Official Fan Page myQuran di Facebook : http://www.facebook.com/myQuran.org
Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Offline Ksatria_Pelangi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 2.951
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #33 pada: 13 Juli 2012, 08:28:17 »
ga digembok neh tret? real battlenya kan lain.

"You'll Never Walk Alone"

Online mualaf

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.820
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #34 pada: 16 Juli 2012, 09:41:34 »
hahahahhaa............................
pendukung HNW terlalu overconfidence....

Jokowi sangat cerdas, pagi2 setelah nyoblos langsung ajak HNW ketemuan....
pertanyaannya....kemana suara pendukung HNW akan beralih di putaran 2?

FOKE akan terus menggunakan kampanye sara:
Jokowi jawa, bukan betawi
Ahok china, non muslim....
masak jakarta dipimpin org luar jakarta? non muslim lagi....

harapannya, suara pendukung HNW, Didik Rachbini yg notabene islam terpelajar (PKS dan PAN) akan bisa diraih....
mari kita lihat.....
apakah kampanye murahan ini berhasil? walaupun jokowi pagi2 sudah ketemuan sama HNW :)


http://news.detik.com/read/2012/07/16/081645/1965919/10/presiden-pks-akui-bertemu-foke-usai-pencoblosan?991101mainnews

Presiden PKS Akui Bertemu Foke Usai Pencoblosan
Ferdinan - detikNews

Fauzi Bowo Jakarta Sehari pasca pemungutan suara, calon nomor urut 1 Fauzi Bowo langsung bergegas menemui elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Foke langsung bergerak ketika tahu penghitungan suara versi hitung cepat lembaga survei menempatkan posisinya di peringkat dua dibawah Joko-Widodo.

"Sudah ketemu Foke, tapi ini urusan provinsinya yaitu DPW dan DPP. Tidak ke majelis syuro prosesnya," kata Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq kepada detikcom, Minggu (15/7/2012) malam.

Luthfi menolak menjelaskan detil pembicaraan termasuk jajaran elite PKS yang ikut dalam pertemuan. "Setelah pencoblosan kemarin, dia (Foke) datang silaturahim. Hanya pembicaraan biasa, berteman kan tidak harus mendukung," sebut dia.

Menurut Luthfi, partainya memberi keleluasaan kepada DPW PKS Jakarta untuk menentukan pilihan terhadap putaran kedua, dimana Jokowi dan Foke saling berhadapan.

"PKS mengakomodir provinsi yang bersangkutan karena kita partai rasional. Kader kami kritis, walau dari atas bilang A, simpatisan bisa bilang B. Ya itu semua kita dengar," katanya.

Upaya pendekatan lebih dulu dilakukan Jokowi, calon nomor 3 yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Usai pemungutan suara pada 11 Juli, Wali Kota Solo itu langsung menemui cagub nomor 4 Hidayat Nurwahid.



(fdn/rvk)

Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 11.214
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at blogspot
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #35 pada: 16 Juli 2012, 11:29:34 »
mending PKS dukung Jokowi, karena dia kemungkinan besar yang bakal jadi Gubernur, kasih pemain baru bikin perubahan

tapi pertanyaannya adalah: apakah PDIP (yang udah merasa diatas angin di Pilgub DKI) mau didekati PKS..? :)

Offline Ksatria_Pelangi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 2.951
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #36 pada: 16 Juli 2012, 11:35:32 »
mending PKS dukung Jokowi, karena dia kemungkinan besar yang bakal jadi Gubernur, kasih pemain baru bikin perubahan

tapi pertanyaannya adalah: apakah PDIP (yang udah merasa diatas angin di Pilgub DKI) mau didekati PKS..? :)

Ga ada kawan dan lawan yg ada kepentingan di politik sini :hihi: dalam Pilkada lebih ke sosok yg nentuin bukan Partai, Jokowi lebih cepat dari Bang Kumis ddalam melakukan pendekatan.
Dulu pas Jokowi nyalon walikota solo pan die didukung MBanteng moncong putih nah PKS dukung die juga Pin , Pak Hidayat malah jadi Jurkamnya %peace%

eh jadi dilanjutinya tretnya %peace%

"You'll Never Walk Alone"

Online mualaf

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.820
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #37 pada: 16 Juli 2012, 13:41:04 »
mending PKS dukung Jokowi, karena dia kemungkinan besar yang bakal jadi Gubernur, kasih pemain baru bikin perubahan

tapi pertanyaannya adalah: apakah PDIP (yang udah merasa diatas angin di Pilgub DKI) mau didekati PKS..? :)

ini ipin gk monitor pilkada yah?
sesaat stlh coblosan.,... jokowi langsung mengajak ketemuan HNW....
yg jadi pertanyaan justru sebaliknya....
apakah PKS masih tetap komitmen mengusung perubahan di DKI?
atau mau oportunis mendukung FOKE?

Offline cic

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 345
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #38 pada: 16 Juli 2012, 16:20:51 »
Ane cukup kaget ketika hasil quick count hanya menempatkan HNW dinomor 3 dengan porsi  kurang lebih 11% dan jokowi pemenangnya. Jauh sekali bila dibandingkan pola ada darajatun tahun 2007. Ini membuat ane penasaran apa sih yang terjadi dibawah sana. Bahwa ada sentiment ideology islam baik dari non muslim maupun islam sendiri itu bukan hal baru tetapi hasil 2007 bisa menutupinya apalagi karakteristik pemilik suara di DKi itu sangat rasional sesuai tingkat pendidikannya.

Kalau disimak ucapan jokowi dikampanye baik on air maupun off air, tidak ada yang menonjol. Jauh sekali bila dibandingkan kandidat lain yang hebat-hebat gelar kesarjanaannya. Kandidat lain materi kampanye, penyampaian visi dan misi menggunakan kata-kata yang sangat akademik, rumit dan pasti visioner. Lha kalo jokowi sangat bertolak belakang, pilihan katanya sangat sederhana, impiannya nggak muluk-muluk, tidak ada arogansi dan kesombongan seperti bersumpah akan mundur bila begini atau begitu. Kata-katanya sangat pendek, tidak panjang lebar yang mungkin untuk kalangan terdidik tidak menjawab pertanyaan. Mungkin kesederhanaan diri, profilnya yang ndeso, bicaranya yang sangat membumi ditambah ketulusan dan kejujurannya berdialog dengan masyarakat menjadi nilai plusnya.

Dalam satu tayangan di televisi ada suatu cuplikan yang membuat beda yang sangat kontras antara jokowi dengan kandidat lain termasuk HNW. HNW (karena topiknya HNW dan jokowi) lebih memilih untuk mengumpulkan masyarakat dan kemudian setelah kumpul baru HNW berbicara, berdialog dll. Format dialog sangat elitis dimana masyarakat berduyun-duyun digiring, dikumpulkan untuk bertemu dengan calon pemimpinnya. Metode ini bisa memunculkan persepsi rakyat harus mendatangi pemimpin untuk menyampaikan masalahnya dan agar diperhatikan masalahnya oleh sang elit.

Bandingkan dengan jokowi, disatu tayangan jokowi dengan didampingi  kurang dari 10 orang timnya mendatangi masyarakat langsung di teras rumahnya, di tanah lapang sempit, dijalanan kampung sempit dan bahkan di warteg. Bicaralah dia disitu, menyapa masyarakat, menanyakan keinginannya apa dll. Dari dialog itu kemudian baru masyarakat sekitar situ berduyun-duyun berdatangan, berkumpul, saling bertukar pikiran. Benar-benar sangat egaliter. Disini muncul persepsi bahwa pemimpin mendatangi masyarakat untuk mencari tahu masalah dan keinginan masyarakat. Akhlak ini pun bukan hal yang dibuat-buat hanya untuk pilkada karena track recordnya selam di solo memang seperti itu artinya masyarakat melihat bahwa memang ada kerendah hatian, ketulusan,kejujuran  dalam dirinya.

Disini kontras sekali perbedaan antara HNW dan jokowi, bisa dipersepsikan jokowi aktif dan mau bersusah payah mendekati masyarakat sedangkan HNW pasif saja. HNW terkesan akan memperhatikan dan mencoba mencari solusi bila rakyat mendatanginya. Betul bahwa HNW kalibernya international dan jokowi kaliber secuplik wilayah indonesia-Solo. Takutnya kaliber internasional itu yang justru membuat HNW entah sadar atau tidak bersikap sangat elitis dan membangun jarak dengan rakyat.
Khan kayak sultan dikerajaan yang jelas kulturnya feudal dimana abdi dalem atau rakyatnya dikumpulin untuk mendengar sabda raja atau rakyat dikumpulkan untuk memberi kesempatan rakyat bertemu dan menyampaikan problemnya ke raja. Pak harto pernah sukses dengan metode klompencapirnya dimana rakyat disuruh kumpul-kumpul karena ada pemimpin yang mau memperhatikan rakyatnya.

Rakyat tidak akan bersuara keras atau keberatan mengenai perlakuan itu tetapi rakyat akan bersuara dengan tindakannya. Mereka tidak akan marah bila sang elit mengumpulkan mereka disuatu tempat untuk bertemu dengan sang elit. Rakyat tidak akan protest bahwa status mereka dianggap orang kecil yang hanya menjadi obyek, yang bisa disuruh-suruh untuk kumpul disuatu tempat, disuruh-suruh untuk mengeluarkan keluh kesahnya dll. karena menyadari  diri mereka memang orang kecil.
Tetapi rakyat akan sangat menghargai bila justru bila ada elit yang mendatangi mereka, bertanya, berbicara, berdiskusi. Tanpa disuruhpun mereka akan berkumpul dan sangat siap bila berdialog secara egaliter, dengan bahasa yang sangat mudah dicerna, sederhana dan lugas.
Isi  dari dialog para elit dengan dua cara itu pun pasti nggak beda penuh janji akan ini dan akan itu. Koran tempo menjabarkan dengan jelas janji-janji gratis ini itu tidak berbeda jauh diantara para kandidat, tetapi bisa dipastikan masyarakat sangat senang bila diperlakukan dengan lebih manusiawi.  Kadang ada perilaku elit yang membuat jarak, yaitu kadang elit merasa rakyat kurang sopan, tidak ada unggah ungguh dalam menyampaikan pendapatnya. Padahal memang seperti itu gambaran masyarakat  mayoritas di Jakarta dimana terdiri dari kalangan yang kurang terdidik. Cilakanya justru masyarakat seperti itulah  mayoritas suara yang harus para elit rangkul untuk bisa berkuasa.

Dari uraian diatas maka menurut ane sangat wajar bila jokowi menangguk kemenangan di pilkada DKI. Masyarakat DKI terdiri dari kaum kaya, menengah dan bawah dan semua kalangan itu umumnya sangat tersentuh dengan gaya kepemimpinan yang sangat humanis. Hal ini terbukti bahwa gaya kepemimpinan yang sangat rendah hati, cekatan, jujur dan tulus apa adanya  menyita perhatian public melalui tokoh seperti JK, dahlan iskan dan terakhir jokowi.  Mungkin sudah bosan masyarakat dengan gaya kepemimpinan yang sangat protokoler dan sangat mengagungkan dirinya seperti menggunakan topeng saja………. kaku tanpa ekspresi terhadap problem masyarakat. 

Menurut ane akhlak seperti itu (rendah hati, kerja keras, sabar mendengar keluhan orang lain, jujur, tulus dan sederhana) harusnya ada di kader tarbiyah. Khan ironi ketika akhlak itu justru muncul pada orang yang bukan aktivis islam, yang bukan kader tarbiyah dll. Doktrin keagamaan menjadi tidak laku disini, karena akhlak  yang islami juga terdapat di pihak lawan walaupun lawan tidak menggunakan label agama. Semua orang tau erdogan itu pergaulannya kelas internasional dan banyak orang terpana dan menjadi berita besar ketika dia menghadiri undangan seorang ibu tua dirumahnya yang sempit dan pengap tanpa protokoler. Ahmadinejad juga begitu, dia seorang akademisi, pergaulannya internasional tetapi public terpana ketika ada liputan tentang kesederhanaan hidupnya.

Mungkin buat PKS setelah mendapat problem dari rivalitas ideology  baik dengan kelompok non muslim dan kelompok islam lainnya sekarang ditambah dengan fakta bahwa ada pihak lain yang justru menerapkan akhlak islami (walaupun tidak seluruhnya) yang sebenarnya termuat di materi  dakwah kader PKS. Ane baru sekali melihat ditayangan TV selama liputan jokowi yang menunjukkan dia menjadi imam shalat diantara tim suksesnya. Entah sengaja atau tidak, jokowi sendiri dan tim suksesnya tidak mengekploitasi tayangan itu padahal dia akan berhadapan dengan tokoh yang didukung parpol  dan ormas berbasis islam. Ternyata akhlak islami yang mungkin secuplik itu  bisa langsung kena dihati masyarakat.

Soal akhlak islami ane pernah inget ucapan pengamat politik yang begitu terpana ketika PK  tahun 1999 kemudian menjadi PKS saat itu berdemonstrasi dimana ada barisan sapu bersih dibelakang pendemo yang mengumpulkan  sampah sisa logistic demonstrasi. Itu sangat mencuri perhatian masyarakat karena saat itu demonstrasi model  ormasnya PDI Perjuangan dan golkar sangat garang dan bengis misalnya dengan cap jempol darah. Kemudian pada adanya pengakuan KPK edisi pertama dankedua bahwa informasi soal gratifikasi yang dilaporkan oleh para kader PKS di DPR sangat membantu dalam pemberantasan korupsi dikalangan dewan dan pemerintah salah satunya kasus di Riau. Pola PK/PKS itu terkesan sangat rendah hati, bersih, tulus dan bertanggung jawab sehingga menerima hasilnya secara kontan di 2004 dan 2009, setelah itu malah yang sering terdengar adalah berita kurang sedap dari akhlak  para kadernya di DPR dan langsung menjadi mangsa para antipati PKS. Entah apakah ada perubahan kebijakan sehingga keunggulan di tahun sebelumnya menjadi tidak terdengar akhir-akhir ini.

Posisi HNW di pilkada DKI harus menjadi bahan evaluasi bagi PKS untuk menyongsong persaingan 2014. Mungkin perlu perombakan dijajaran petingginya sehingga pemikiran baru yang lebih  segar dan berbeda bisa dituangkan.


Wallahu a'lam

Online mualaf

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.820
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #39 pada: 19 Juli 2012, 13:56:44 »
............
Posisi HNW di pilkada DKI harus menjadi bahan evaluasi bagi PKS untuk menyongsong persaingan 2014. Mungkin perlu perombakan dijajaran petingginya sehingga pemikiran baru yang lebih  segar dan berbeda bisa dituangkan.


Wallahu a'lam

2014 adalah kuburan bagi partai ideologis termasuk partai yg mengklaim sbg partai islam....
mari kita saksikan kematian partai ideologis.....

Offline glagah putih

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.745
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #40 pada: 19 Juli 2012, 14:18:03 »
partai itu mesti ideologis... kalau ndak, ya ndak ada yang diperjuangkan.
just because you say "this is the truth"when saying your opinion,
it doesn't make it so

Offline d-brosque

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 2.551
  • Jenis kelamin: Pria
  • musuh dunia
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #41 pada: 19 Juli 2012, 15:01:54 »
Ane cukup kaget ketika hasil quick count hanya menempatkan HNW dinomor 3 dengan porsi  kurang lebih 11% dan jokowi pemenangnya. Jauh sekali bila dibandingkan pola ada darajatun tahun 2007. Ini membuat ane penasaran apa sih yang terjadi dibawah sana. Bahwa ada sentiment ideology islam baik dari non muslim maupun islam sendiri itu bukan hal baru tetapi hasil 2007 bisa menutupinya apalagi karakteristik pemilik suara di DKi itu sangat rasional sesuai tingkat pendidikannya.

Kalau disimak ucapan jokowi dikampanye baik on air maupun off air, tidak ada yang menonjol. Jauh sekali bila dibandingkan kandidat lain yang hebat-hebat gelar kesarjanaannya. Kandidat lain materi kampanye, penyampaian visi dan misi menggunakan kata-kata yang sangat akademik, rumit dan pasti visioner. Lha kalo jokowi sangat bertolak belakang, pilihan katanya sangat sederhana, impiannya nggak muluk-muluk, tidak ada arogansi dan kesombongan seperti bersumpah akan mundur bila begini atau begitu. Kata-katanya sangat pendek, tidak panjang lebar yang mungkin untuk kalangan terdidik tidak menjawab pertanyaan. Mungkin kesederhanaan diri, profilnya yang ndeso, bicaranya yang sangat membumi ditambah ketulusan dan kejujurannya berdialog dengan masyarakat menjadi nilai plusnya.

Dalam satu tayangan di televisi ada suatu cuplikan yang membuat beda yang sangat kontras antara jokowi dengan kandidat lain termasuk HNW. HNW (karena topiknya HNW dan jokowi) lebih memilih untuk mengumpulkan masyarakat dan kemudian setelah kumpul baru HNW berbicara, berdialog dll. Format dialog sangat elitis dimana masyarakat berduyun-duyun digiring, dikumpulkan untuk bertemu dengan calon pemimpinnya. Metode ini bisa memunculkan persepsi rakyat harus mendatangi pemimpin untuk menyampaikan masalahnya dan agar diperhatikan masalahnya oleh sang elit.

Bandingkan dengan jokowi, disatu tayangan jokowi dengan didampingi  kurang dari 10 orang timnya mendatangi masyarakat langsung di teras rumahnya, di tanah lapang sempit, dijalanan kampung sempit dan bahkan di warteg. Bicaralah dia disitu, menyapa masyarakat, menanyakan keinginannya apa dll. Dari dialog itu kemudian baru masyarakat sekitar situ berduyun-duyun berdatangan, berkumpul, saling bertukar pikiran. Benar-benar sangat egaliter. Disini muncul persepsi bahwa pemimpin mendatangi masyarakat untuk mencari tahu masalah dan keinginan masyarakat. Akhlak ini pun bukan hal yang dibuat-buat hanya untuk pilkada karena track recordnya selam di solo memang seperti itu artinya masyarakat melihat bahwa memang ada kerendah hatian, ketulusan,kejujuran  dalam dirinya.

Disini kontras sekali perbedaan antara HNW dan jokowi, bisa dipersepsikan jokowi aktif dan mau bersusah payah mendekati masyarakat sedangkan HNW pasif saja. HNW terkesan akan memperhatikan dan mencoba mencari solusi bila rakyat mendatanginya. Betul bahwa HNW kalibernya international dan jokowi kaliber secuplik wilayah indonesia-Solo. Takutnya kaliber internasional itu yang justru membuat HNW entah sadar atau tidak bersikap sangat elitis dan membangun jarak dengan rakyat.
Khan kayak sultan dikerajaan yang jelas kulturnya feudal dimana abdi dalem atau rakyatnya dikumpulin untuk mendengar sabda raja atau rakyat dikumpulkan untuk memberi kesempatan rakyat bertemu dan menyampaikan problemnya ke raja. Pak harto pernah sukses dengan metode klompencapirnya dimana rakyat disuruh kumpul-kumpul karena ada pemimpin yang mau memperhatikan rakyatnya.

Rakyat tidak akan bersuara keras atau keberatan mengenai perlakuan itu tetapi rakyat akan bersuara dengan tindakannya. Mereka tidak akan marah bila sang elit mengumpulkan mereka disuatu tempat untuk bertemu dengan sang elit. Rakyat tidak akan protest bahwa status mereka dianggap orang kecil yang hanya menjadi obyek, yang bisa disuruh-suruh untuk kumpul disuatu tempat, disuruh-suruh untuk mengeluarkan keluh kesahnya dll. karena menyadari  diri mereka memang orang kecil.
Tetapi rakyat akan sangat menghargai bila justru bila ada elit yang mendatangi mereka, bertanya, berbicara, berdiskusi. Tanpa disuruhpun mereka akan berkumpul dan sangat siap bila berdialog secara egaliter, dengan bahasa yang sangat mudah dicerna, sederhana dan lugas.
Isi  dari dialog para elit dengan dua cara itu pun pasti nggak beda penuh janji akan ini dan akan itu. Koran tempo menjabarkan dengan jelas janji-janji gratis ini itu tidak berbeda jauh diantara para kandidat, tetapi bisa dipastikan masyarakat sangat senang bila diperlakukan dengan lebih manusiawi.  Kadang ada perilaku elit yang membuat jarak, yaitu kadang elit merasa rakyat kurang sopan, tidak ada unggah ungguh dalam menyampaikan pendapatnya. Padahal memang seperti itu gambaran masyarakat  mayoritas di Jakarta dimana terdiri dari kalangan yang kurang terdidik. Cilakanya justru masyarakat seperti itulah  mayoritas suara yang harus para elit rangkul untuk bisa berkuasa.

Dari uraian diatas maka menurut ane sangat wajar bila jokowi menangguk kemenangan di pilkada DKI. Masyarakat DKI terdiri dari kaum kaya, menengah dan bawah dan semua kalangan itu umumnya sangat tersentuh dengan gaya kepemimpinan yang sangat humanis. Hal ini terbukti bahwa gaya kepemimpinan yang sangat rendah hati, cekatan, jujur dan tulus apa adanya  menyita perhatian public melalui tokoh seperti JK, dahlan iskan dan terakhir jokowi.  Mungkin sudah bosan masyarakat dengan gaya kepemimpinan yang sangat protokoler dan sangat mengagungkan dirinya seperti menggunakan topeng saja………. kaku tanpa ekspresi terhadap problem masyarakat. 

Menurut ane akhlak seperti itu (rendah hati, kerja keras, sabar mendengar keluhan orang lain, jujur, tulus dan sederhana) harusnya ada di kader tarbiyah. Khan ironi ketika akhlak itu justru muncul pada orang yang bukan aktivis islam, yang bukan kader tarbiyah dll. Doktrin keagamaan menjadi tidak laku disini, karena akhlak  yang islami juga terdapat di pihak lawan walaupun lawan tidak menggunakan label agama. Semua orang tau erdogan itu pergaulannya kelas internasional dan banyak orang terpana dan menjadi berita besar ketika dia menghadiri undangan seorang ibu tua dirumahnya yang sempit dan pengap tanpa protokoler. Ahmadinejad juga begitu, dia seorang akademisi, pergaulannya internasional tetapi public terpana ketika ada liputan tentang kesederhanaan hidupnya.

Mungkin buat PKS setelah mendapat problem dari rivalitas ideology  baik dengan kelompok non muslim dan kelompok islam lainnya sekarang ditambah dengan fakta bahwa ada pihak lain yang justru menerapkan akhlak islami (walaupun tidak seluruhnya) yang sebenarnya termuat di materi  dakwah kader PKS. Ane baru sekali melihat ditayangan TV selama liputan jokowi yang menunjukkan dia menjadi imam shalat diantara tim suksesnya. Entah sengaja atau tidak, jokowi sendiri dan tim suksesnya tidak mengekploitasi tayangan itu padahal dia akan berhadapan dengan tokoh yang didukung parpol  dan ormas berbasis islam. Ternyata akhlak islami yang mungkin secuplik itu  bisa langsung kena dihati masyarakat.

Soal akhlak islami ane pernah inget ucapan pengamat politik yang begitu terpana ketika PK  tahun 1999 kemudian menjadi PKS saat itu berdemonstrasi dimana ada barisan sapu bersih dibelakang pendemo yang mengumpulkan  sampah sisa logistic demonstrasi. Itu sangat mencuri perhatian masyarakat karena saat itu demonstrasi model  ormasnya PDI Perjuangan dan golkar sangat garang dan bengis misalnya dengan cap jempol darah. Kemudian pada adanya pengakuan KPK edisi pertama dankedua bahwa informasi soal gratifikasi yang dilaporkan oleh para kader PKS di DPR sangat membantu dalam pemberantasan korupsi dikalangan dewan dan pemerintah salah satunya kasus di Riau. Pola PK/PKS itu terkesan sangat rendah hati, bersih, tulus dan bertanggung jawab sehingga menerima hasilnya secara kontan di 2004 dan 2009, setelah itu malah yang sering terdengar adalah berita kurang sedap dari akhlak  para kadernya di DPR dan langsung menjadi mangsa para antipati PKS. Entah apakah ada perubahan kebijakan sehingga keunggulan di tahun sebelumnya menjadi tidak terdengar akhir-akhir ini.

Posisi HNW di pilkada DKI harus menjadi bahan evaluasi bagi PKS untuk menyongsong persaingan 2014. Mungkin perlu perombakan dijajaran petingginya sehingga pemikiran baru yang lebih  segar dan berbeda bisa dituangkan.


Wallahu a'lam

kualat kali bang....
kualat sama sesepuh pendirinya.... :)
terlalu banyak gaya, beda dgn PK 99 dulu

Offline cic

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 345
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #42 pada: 19 Juli 2012, 16:51:02 »
kualat kali bang....
kualat sama sesepuh pendirinya.... :)
terlalu banyak gaya, beda dgn PK 99 dulu

Bisa jadi ada perubahan dibandingkan dulu, tapi ada berita sejuk dari Riau. Sementara ini ternyata dari seluruh anggota legislatif DPRD Riau menurut kpk hanya PKS yang belum terbukti terlibat. Mudah-mudahan tidak ya...........selama masih ada dinamika di partai ini maka harapan tidak hilang terhadap PKS. Bisa jadi kesepahaman belum diperoleh terhadap arah dan kecepatan dinamika, tetapi harusnya jangan putus asa karena keputusasaan dan meninggalkan gelanggang malah akan menghentikan dinamika itu sendiri dan kemudian menjerumuskan partai. Artinya keputus asaan dan meninggalkan partai sebenarnya juga pihak yang bertanggungjawab terhadap rusaknya partai.

Dalam lingkup yang lebih luas (negara) ustadz rahmat abdullah juga dikucilkan dari pergaulan di negara ini tapi dia tidak putus asa dan meninggalkan negara ini. Dia memilih berjuang di NKRI walaupun bisa saja dia pergi kenegara yang paling sesuai dengan prinsipnya. Contoh lain itu tokoh GAM model muzzakir manaf tidak pernah putus asa dan meninggalkan tanah aceh, hasilnya khan bagus buat aceh sekarang (paling tidak bila dilihat kondisi sekarang). Bayangkan kalo para tokoh GAM memilih berputus asa dan meninggalkan gelanggang, mungkin DOM masih ada sampai sekarang.

Wallahu a'lam

Online mualaf

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.820
    • Lihat Profil
Re:Hidayat Nur Wahid VS Jokowi : The Real Battle @Pilkada Jakarta 2012
« Jawab #43 pada: 19 Juli 2012, 17:06:15 »
partai itu mesti ideologis... kalau ndak, ya ndak ada yang diperjuangkan.

hehehehehehe............
pengertian ideologis itu apa yah?
masak sih tdk ad yg diperjuangkan selain ideologi?
hihihihihihihi

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.598 detik dengan 21 queri.