gini aja mas,
mas mending ikut aja sama istri ke sana.
nah, soal kerjaan, coba mas cari2 informasi, atau minta bantuan calon istri buat dapetin kerjaan disana. selanjutnya urus deh segala berkas2 administratifnya......
Waduh Oom Ghif ... ati2 kalo mau nyaranin orang tuk ke LN ... apalagi harus dgn mengorbankan pekerjaan yg sudah ada di Indonesia. Perlu Oom Ghif ketahui nyari kerjaan di LN tuh ngga segampang yg dikira, belum lagi ketahuan kerjaan yg bisa di dapat di LN seperti apa, eh tau2 harus berhadapan dgn urusan keimigrasian dgn segala pernak-perniknya. Saya kasih contoh dua negara aja (US and NZ), yg secara kebetulan saya ada gambaran karena pernah mengalami and gambarannya sbb:
Tuk di US ====> Amrik tuh paling banyak mengenal jenis visa sesuai dgn tujuan dari si pendatang (ada B, F, H, M, K, J dll), kalo tujuannya ke US tuk belajar, maka visa yg dipegang adalah F tuk si student, kalo student tsb sudah bekeluarga and akan membawa pasangannya tuk tinggal bersama, maka si pendampingnya mendapat visa F2. Dan dgn visa ini kedua2nya tidak diperkenankan tuk bekerja (permanent work, hanya kerja sambilan), kecuali bagi pemegang visa J1 or J2 (yg ada tanda 2 biasanya diperuntukan bagi si pendamping suami/isteri) and visa ini tuk "Visiting Scholars" yg akan research and kerja, tentunya kebanyakan mengajar di kampus. Itupun visa J2 ini harus dibawa ke Imigrasi utk apply "working permit", setelah dapat working permit (prosesnya lebih kurang 3 bulan), harus apply SSN (Social Security Number), baru bisa kerja. Mao kerjapun masih ada kendala lagi, yaitu bersaing dgn orang lokal (tentunya dgn bahasa inglish yg "acceptable" tuk si employer). Yg bikin mumet kepala kalo si employernya nanya ada "working experience tuk bekerja di Amrik", jawabannya tanya kepada si pelamar dech ...
And jangan sekali2 bagi isteri/suami dari student tadi bekerja secara "Illegal" (karena maksa banget pengen kerja), nanti dampak susahnya akan kena ke si student tsb. Setelah ini masih ada lagi kendalanya,yaitu mengenai "Health Insurance", yg di Amrik biayanya itu gede buangettt.
Begitu juga dgn NZ, si pendamping (suami/isteri) akan diberikan izin tinggal sementara tuk mendampingi si pelajar (yg belajar dgn mendapat beasiswa tadi), Tapi permit yg diberikan tidak utk bekerja, hanya tuk tinggal.
Satu hal lagi meski si pendatang sudah punya visa tuk ke negara tsb, bukan jaminan si pendatang bisa masuk ke negara tsb, semuanya masih harus diliat, diproses and disetujui oleh staff keimigrasian dari Port of Entry di masing2 negara. And pendatang harus mengetahui bahwa "Visa" itu ngga sama dgn "Permit".
Itu aja dech tuk nanggepin comment-nya Oom Ghif ...
Tuk TS, sebaiknya dipikirkan kembali and dimatangkan tuk semua tindakan yg mau diambil ... Pastikan negara tempat belajar si calon tadi urusan keimigrasiannya dimengerti and dipahami and cari info sebanyak-banyaknya mengenai "obtaining jobs" di negara tsb, pun tuk apply Scholarships ... itu apa aja yg diminta ... Pokoknya pikir matang2 dech ...
Take care and all the best for you all ....