Hmm.. sekedar sharing aja deh.
Saya dan istri pake prinsip prosentase untuk setiap pos pengeluaran. Jadi besarnya uang yang keluar disesuaikan dengan pemasukan. Selain itu pemasukan tsb hanya berupa gaji pokok, sementara pemasukan lain yang jumlahnya tidak tetap (misal: bonus, insentif, lembur, dll) jika ada dianggap sebagai tambahan tabungan atau keperluan lain yang sifatnya insidentil.
Lalu kami membiasakan untuk memberi target jumlah tabungan minimum.
Jadi
penghasilan dikurangi tabungan, dan sisanya digunakan untuk kebutuhan hidup.
Bukan sebaliknya, tabungan sekedar sisa penghasilan. Untuk kondisi saat ini, tabungan berkisar 35% dari penghasilan.
Lalu kami juga sudah menyediakan pos asuransi pendidikan, dengan tujuan di kemudian hari biaya pendidikan anak tidak teralu menjadi beban.
Istri termasuk pandai (sangat pandai malah, sampai cenderung "pelit"

) untuk masalah keuangan. Kalau sesuatu tidak perlu dibeli, kenapa harus memaksa beli yang baru? HP cukup ganti casing, ke kantor sering bawa bekal, masak cukup sederhana, beli pakaian diatur sekian bulan sekali dan masing2 (saya, istri, anak) punya budget yang sudah ditentukan, dlsb. Walhasil, sampai saat ini kita masih merasa cukup dengan TV 14" yang saya beli awal 2003 dan cukup bisa menahan diri untuk tidak beli TV 21-29" Flat meskipun secara ekonomi cukup memungkinkan. Mungkin yang masih kurang bisa dikontrol, saya+istri cukup senang makan di luar

Kebetulan rumah masih kontrak, dengan listrik yang berbagi dengan tetangga. Plus kondisi rumah yang sudah terasa cukup "sempit". Jadi, beli barang2 elektronik baru hanya mempersering listrik turun/anjolok, menambah biaya, rumah makin terasa sempit, plus nanti ketika pindah pasti makin repot.
Yup, sisi positif dari mengontrak rumah bisa "memaksa" kita untuk menahan diri 