Gaul dan Gaya Hidup Islami > Remaja dan Problematika

Pribadi Introvert

(1/11) > >>

Tamandesa (06 Mei 2012, 19:31:25):
Tidak tahu pasti apakah artikel ini cocok disini. Tapi karena maria masih remaja  :siul: mencari kepribadian (jati diri) sempat membuat galau. Tapi setelah membaca artikel ini sedikit membantu.
Maklum maria dulu tertutup. Lalu mencoba jadi terbuka. Malah tersiksa sendiri.

Sometimes Alone Is Better

Introverts is a minority in the regular population but a majority in the gifted population.” —Jonathan Rouch

suatu pernyataan yang menarik mengenai pribadi introvert. mereka merupakan minoritas diantara kebanyakan orang akan tetapi merupakan mayoritas diantara orang-orang berbakat.

Dari wikipedia, Introvert merupakan sifat ketertutupan. pribadi yang bersifat menyendiri dan biasanya lebih pendiam dan tertutup, sedikit bicara dan lebih suka menjadi pendengar yang baik dalam suatu kelompok atau lebih suka menyendiri di rumah daripada harus berkumpul dengan orang lain.Mereka lebih suka membaca, kesenian, menulis, atau berjam-jam duduk di depan komputer. Kegiatan kelompok terkadang dapat begitu memprovokasi para introvert sehingga mereka akhirnya malah berpikir mengenai diri mereka sendiri, introspeksi dan diam, di tengah percakapan yang seru. Orang yang introvert biasanya pendiam, sensitif, gampang terprovokasi, dan memiliki sedikit teman daripada kerumunan orang.

Dari sebuah tes personaliti yang saya ikuti, Myers-Briggs Type Indicator, saya termasuk tipe orang ISFJ (13,8% dari populasi), dengan komposisi Introverted (I) 68.97% Extroverted (E) 31.03% Sensing (S) 54.29% Intuitive (N) 45.71% Feeling (F) 63.33% Thinking (T) 36.67% Judging (J) 64.71% Perceiving (P) 35.29%. ikuti tes nya disini http://similarminds.com/jung.html

Waooww dari hasil tes tersebut saya memang termasuk kaum introvert, akan tetapi jika saya menilai diri saya sendiri lebih dalam lagi, saya masih senang berkumpul dengan orang lain, akan tetapi saya memang tidak suka terlalu banyak bicara dalam kerumunan tersebut. saya suka mendengarkan. saya suka berpikir tentang apa yang harus dibicarakan dan apa kira-kira jawaban yang akan orang lain berikan, hal ini terkadang membuat saya sedikit perfeksionis. lain dengan hal-hal yang memang sudah terjadi, dibanding teman-teman saya yang menurut saya merupakan orang-orang ekstrovert, saya lebih mudah mengikhlaskan hal-hal tersebut terjadi begitu saja daripada membicarakannya lebih lanjut, karena saya tidak suka dengan perdebatan.

Menurut apa yang saya baca, orang intovert juga suka memendam masalahnya sendiri, dia jarang berbagi masalahnya atau menceritakan kehidupannya ke orang lain, dia juga mempunyai self-blaming yang gede (suka nyalahin diri ndiri), yang akhirnya jadi depresi, dan emosian. Tipe ini cuma mau terbuka dgn org yang udah bener-bener dia percaya. Sifat-sifat ini sangat ada pada diri saya, dan seringkali menimbulkan masalah serius. saya bisa menerima mengapa terkadang orang tak bisa mengerti keadaan saya dan cenderung menganggap apa yang saya rasakan terhadap sesuatu hal itu berlebihan, akan tetapi saya pun tak perlu berusaha membuat mereka mengerti, i think it’s just such a wasting time thing to do. sedikit pathetic memang, tapi ketahuilah bahwa jika seorang introvert merasa bersalah akan sesuatu, katakanlah hal paling sederhana yang menenangkan hati pasti membuat dunianya kembali bersinar.

Semoga bisa berguna :)

kaizen lover (13 Mei 2012, 18:19:15):
hehehe zen juga ikut nie test, hasilnya memang lebih dominan ke introvert :) walau g beda jauh. thanks for infonya  O0
Introverted (I) 53.85% Extroverted (E) 46.15%
Sensing (S) 51.72% Intuitive (N) 48.28%
Thinking (T) 53.33% Feeling (F) 46.67%
Judging (J) 52.78% Perceiving (P) 47.22%

Your type is: ISTJ

ISTJ - "Trustee". Decisiveness in practical affairs. Guardian of time- honored institutions. Dependable. 11.6% of total population.

Sayyid (14 Mei 2012, 21:26:05):

--- Kutip dari: Tamandesa pada 06 Mei 2012, 19:31:25 ---
Menurut apa yang saya baca, orang intovert juga suka memendam masalahnya sendiri, dia jarang berbagi masalahnya atau menceritakan kehidupannya ke orang lain, dia juga mempunyai self-blaming yang gede (suka nyalahin diri ndiri), yang akhirnya jadi depresi, dan emosian. Tipe ini cuma mau terbuka dgn org yang udah bener-bener dia percaya. Sifat-sifat ini sangat ada pada diri saya, dan seringkali menimbulkan masalah serius. saya bisa menerima mengapa terkadang orang tak bisa mengerti keadaan saya dan cenderung menganggap apa yang saya rasakan terhadap sesuatu hal itu berlebihan, akan tetapi saya pun tak perlu berusaha membuat mereka mengerti, i think it’s just such a wasting time thing to do. sedikit pathetic memang, tapi ketahuilah bahwa jika seorang introvert merasa bersalah akan sesuatu, katakanlah hal paling sederhana yang menenangkan hati pasti membuat dunianya kembali bersinar.

Semoga bisa berguna :)

--- Akhir Kutipan ---

ane juga introvert.. khusus yg digaris bawahi, ane tidak suka memendam masalah, tapi lebih suka menyelesaikan masalah sendiri.  karena membuat orang lain paham akan apa sebenarnya masalah kita adalah suatu hal ekrtra yg sukar/perlu kerja keras.

Tamandesa (15 Mei 2012, 15:21:35):

--- Kutip dari: kaizen lover pada 13 Mei 2012, 18:19:15 ---hehehe zen juga ikut nie test, hasilnya memang lebih dominan ke introvert :) walau g beda jauh. thanks for infonya  O0
Introverted (I) 53.85% Extroverted (E) 46.15%
Sensing (S) 51.72% Intuitive (N) 48.28%
Thinking (T) 53.33% Feeling (F) 46.67%
Judging (J) 52.78% Perceiving (P) 47.22%

Your type is: ISTJ

ISTJ - "Trustee". Decisiveness in practical affairs. Guardian of time- honored institutions. Dependable. 11.6% of total population.

--- Akhir Kutipan ---

Intorvert dan extrovertnya saingan  :hihi: tapi introvertnya tetep menang tuh.


--- Kutip dari: Sayyid pada 14 Mei 2012, 21:26:05 ---ane juga introvert.. khusus yg digaris bawahi, ane tidak suka memendam masalah, tapi lebih suka menyelesaikan masalah sendiri.  karena membuat orang lain paham akan apa sebenarnya masalah kita adalah suatu hal ekrtra yg sukar/perlu kerja keras.

--- Akhir Kutipan ---

 :toe: iya,kadang lebih susah jelasin masalah kita ke orang daripada nyelesain masalah itu sendiri.

Tamandesa (15 Mei 2012, 15:22:27):
10 Mitos Tentang Orang Introvert

Aku baru-baru ini tak sengaja menemukan sebuah blog yang ditulis oleh Carl King tentang fenomena yang dikenal sebagai manusia introvert dan blog itu membunyikan sebuah akord mayor di diriku. Setiap membaca satu poin, aku merasa ingin berdiri dan berteriak “YESSSSSSSSS!” sekeras-kerasnya dari paru-paruku karena poin-poin ini (yang dibuat oleh penulis Marti Laney, Psy.D) benar-benar tepat seperti sebuah home run. Sebagai seorang introvert yang ekstrim, blog ini seperti buah-buahan manis dari surga.

Aku cukup beruntung untuk menemukan sebuah buku berjudul The Introvert Advantage (How To Thrive in an Extrovert World), oleh Marti Laney, Psy.D. Rasanya seperti seseorang telah menulis sebuah entri ensiklopedi mengenai ras langka manusia yang aku termasuk di dalamnya. Buku itu tidak hanya menjelaskan banyak eksentrisitasku, ia juga membantuku untuk mendefinisikan kembali seluruh hidupku dalam konteks yang baru dan positif.

Tentu, siapa pun yang mengenalku akan mengatakan, “Duh! Mengapa begitu lama untuk menyadari Anda adalah seorang Introvert?” Hal ini tidak sesederhana itu. Masalahnya adalah melabeli seseorang sebagai Introvert adalah sebuah penilaian yang sangat dangkal dan penuh kesalahpahaman umum. Ini lebih kompleks dari sekedar menyadari aku adalah seorang introvert. (Karena Carl King berbicara begitu, pastilah ini benar)

Satu bagian dari buku Laney memetakan otak manusia dan menjelaskan bagaimana neuro-transmitter mengikuti jalan dominan yang berbeda dalam sistem saraf orang introvert dan ekstrovert. Jika ilmu di balik buku ini benar, ternyata introvert adalah orang yang terlalu sensitif terhadap Dopamine, sehingga terlalu banyak rangsangan eksternal melelahkan mereka. Sebaliknya, ekstrovert seolah selalu kekurangan Dopamine, dan mereka membutuhkan Adrenalin agar otak mereka menciptakan Dopamine. Ekstrovert juga memiliki jalur yang lebih pendek dan aliran darah yang lebih sedikit ke otak. Pesan-pesan dari sistem saraf seorang ekstrovert sebagian besar memotong area Broca pada lobus frontal, tempat dimana sebagian besar kontemplasi terjadi.

Sayangnya, menurut buku itu, jumlah orang yang introvert hanya sekitar 25% dari total manusia. Bahkan jumlah orang yang introvert ekstrem sepertiku lebih sedikit lagi. Hal ini menyebabkan banyak kesalahpahaman, karena masyarakat tidak memiliki pengalaman yang cukup dengan orang-orang sepertiku. (Aku senang bisa mengatakan ini.)
Jadi berikut ini adalah beberapa kesalahpahaman umum tentang  orang introvert (Aku menyusun sendiri daftar ini, beberapa diantaranya adalah hal yang benar-benar kupercayai):

Mitos # 1 – introvert tidak suka bicara.
Ini tidak benar. Introvert hanyalah tidak berbicara kecuali mereka memang memiliki sesuatu untuk dikatakan. Mereka membenci basa-basi. Tapi, jika seorang introvert sedang berbicara tentang sesuatu yang mereka minati, mereka tidak akan berhenti bicara sampai berhari-hari.

Mitos # 2 – introvert pemalu.
Rasa malu tidak ada hubungannya dengan menjadi seorang Introvert. Introvert bukan berarti takut orang. Apa yang mereka butuhkan adalah sebuah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi demi interaksi sosial. Jika Anda ingin berbicara dengan Introvert, berbicara saja. Tidak perlu mengkhawatirkan kesopnan.

Mitos # 3 – introvert kasar.
Introvert sering tidak melihat alasan perlunya untuk berbasa-basi sosial. Mereka ingin semua orang menjadi riil dan jujur. Sayangnya, hal ini tidak diterima di kebanyakan situasi, sehingga introvert merasakan banyak tekanan untuk menyesuaikan diri, dan bagi mereka ini melelahkan.

Mitos # 4 – introvert tidak menyukai orang.
Sebaliknya, introvert sangat menghargai sedikit teman yang mereka miliki. Mereka bisa menghitung teman-teman dekat mereka dengan satu tangan. Jika Anda cukup beruntung untuk dianggap teman oleh seorang introvert, Anda mungkin telah memiliki sekutu setia seumur hidup. Sekali Anda telah mendapatkan rasa hormat mereka, keberadaan Anda sangat diterima.

Mitos # 5 – introvert tidak suka pergi ke tempat umum.
Omong kosong. Introvert hanya tidak ingin pergi keluar di depan umum UNTUK WAKTU YANG LAMA. Mereka juga ingin menghindari komplikasi yang terlibat dalam kegiatan publik. Mereka mengambil data dan situasi dengan sangat cepat, dan sebagai hasilnya, mereka tidak perlu berada di sana untuk waktu yang lama untuk mehamami kegiatan publik yang tengah berlangsung. Lalu mereka siap untuk pulang, mengisi ulang energi, dan memproses semua pengalamannya tadi. Faktanya, isi ulang energi adalah mutlak penting untuk introvert.

Mitos # 6 – introvert selalu ingin sendirian.
Introvert sangat nyaman dengan pikiran mereka sendiri. Mereka banyak berpikir. Mereka melamun. Mereka senang memiliki masalah untuk dikerjakan dan teka-teki untuk dipecahkan. Tapi mereka juga bisa merasa luar biasa kesepian jika mereka tidak memiliki siapapun untuk berbagi pencapaian mereka. Mereka menginginkan hubungan yang otentik dan tulus dengan SATU ORANG pada satu waktu.

Mitos # 7 – introvert aneh.
Introvert sering individualis. Mereka tidak mengikuti orang banyak. Mereka akan lebih suka dihargai karena cara-cara unik hidup mereka. Mereka berpikir berdasarkan standar diri mereka sendiri dan karena itu, mereka sering menantang kebiasaan. Mereka tidak membuat keputusan berdasarkan pada apa yang sedang populer atau trendi.

Mitos # 8 – introvert culun terasing.
Introvert adalah orang-orang yang lebih sering melihat ke dalam, memberi perhatian lebih pada pikiran dan emosinya. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak mampu memberi perhatian pada apa yang terjadi di sekitar mereka, hanya saja dunia batin mereka terasa jauh lebih merangsang dan bermanfaat bagi mereka.

Mitos # 9 – introvert tidak tahu bagaimana bersantai dan bersenang-senang.
Introvert biasanya merasa rileks di rumah atau di alam, bukan di tempat umum yang penuh kesibukan. Introvert bukan pencari sensasi dan pecandu adrenalin. Jika ada terlalu banyak pembicaraan dan kebisingan terjadi, mereka melemah. Otak mereka terlalu sensitif terhadap neurotransmitter yang disebut Dopamine. Introvert dan ekstrovert memiliki perbedaan jalur syaraf yang dominan. Cari saja sendiri tentang perbedaan jalur syaraf ini.

Mitos # 10 – introvert bisa memperbaiki diri dan menjadi ekstrovert.
Sebuah dunia tanpa introvert akan menjadi dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, penyair, pembuat film, dokter, matematikawan, penulis, dan filsuf. Meski demikian, masih ada banyak teknik yang dapat dipelajari orang ekstrovert untuk berinteraksi dengan introvert. (Ya, aku sengaja membalik posisi introvert dan extrovert  untuk menunjukkan kepada Anda betapa biasnya masyarakat kita.) Introvert tidak bisa “memperbaiki diri” dan pantas dihormati untuk temperamen alami mereka dan juga kontribusinya bagi umat manusia. Bahkan, satu penelitian (Silverman, 1986) menunjukkan bahwa peningkatan persentase introvert di antara manusia berbanding lurus dengan IQ (rata-rata manusia).

Penyangkalan seorang introvert atas diri mereka sendiri dalam rangka untuk bergaul di dunia yang didominasi extrovert dapat menjadi sangat destruktif. Seperti minoritas lainnya, introvert dapat berakhir membenci diri mereka sendiri dan orang lain karena perbedaan mereka dengan kaum mayoritas. Jika Anda pikir Anda adalah seorang Introvert, aku sarankan Anda meneliti topik ini dan mencari introvert lainnya untuk membandingkan catatan. Beban tidak sepenuhnya berada pada kita para introvert untuk mencoba dan menjadi “normal”. Ekstrovert pun harus mengakui dan menghormati kita, dan kita pun perlu menghargai diri kita sendiri.

http://rizasaputra.wordpress.com/2011/12/21/10-mitos-tentang-orang-introvert/

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[#] Halaman berikutnya

Ke versi lengkap

(c) 1999 - 2013, myQuran