Ada terbersit dalam hati saya bahwa psikotes yang diterapkan dalam sistem penerimaan calon karyawan /PNS/TNI/Polisi tidak sesuai dengan prinsip prinsip islam.
Saya menghubungkannya dengan kenyataan yang terjadi di negeri kita. Menurut yang kita dengar di berbagai media, banyak sekali terjadi penyelewengan atau korupsi yang dilakukan oleh pejabat dari berbagai instansi baik sipil maupun militer (yang ujian masuknya memakai psikotes). Nah...jika sistem (materi) psikotes yang diterapkan sudah berjalan dengan baik, mengapa produk nya seperti itu. Mengapa para psikolog gagal memilih manusia yang yang tahan terhadap berbagai ujian korupsi
Atau dengan kata lain bisa dikatakan bahwa psikolog dan lembaga psikologi penerimaan pejabat sipil dan militer memiliki andil yang besar dalam menciptakan kerusakan Indonesia. Mereka gagal memilih manusia terbaik.
Sering kita lihat anak muda atau personal yang setau kita baik baik dan cerdas malah tidak lulus psikotes. Mungkin kah psikolog mengadopsi sistem yang tidak Islami sehingga menyumbang kehancuran Indonesia ??
PNS/TNI/polisi/dll kan nggak hanya menerima yang muslim saja
psikotes atau tes masuk sejenis hanyalah satu titik dalam proses, yang lainnya berupa garis dan lebih urgent untuk dirubah mjd lebih baik. Misalnya kiblat gaya hidup dari lahir hingga dewasa, pendidikan islami dari keluarga, pondasi awal aqidah dan kelurusan ibadah serta realisasi akhlaq sesuai alqur'an. Itu semua lebih penting dibanding psikotesnya sendiri.
Psikolog melalui psikotes nggak mencari calon pekerja yang anti korupsi (setidaknya belum hingga saat ini) tapi lebih ke kompetensi intelegensi dan emosi secara umum. Melindungi diri dari korupsi terang-terangan sampai yang tersembunyi bukan melalui psikotes tapi dari kesadaran diri dan kekokohan benteng aqidah tadi yang penempaannya sepanjang hidup.
kenapa psikolog yang disalahkan kalau mau hitam putih menyalahkan ya salahkan saja perusahaan atau lembaga yang mempekerjakan para psikolog itu, kenapa mereka pakai tools yang seperti itu, kenapa nggak pilih orang yang ber IQ rendah tapi jujur misalnya
Sekarang saya tanya, standardisasi manusia terbaik itu menurut antum seperti apa ?dalam psikotes nggak bisa hanya berpatokan baik-baik. seperti pertanyaan saya diatas, standardisasi 'baik-baik' itu seperti apa ? apa shalatnya tepat waktu, rajin shaum sunnah, nggak merokok, sabar dan santun ?Lalu masalah pendidikan, vokasional skillnya, kemampuan beradaptasi dan menjalin networknya bagaimana ?sementara dalam cerdas sendiri, kecerdasan itu jamak. Mungkin yang antum lihat orang yang baik, cerdas tapi gagal psikotes itu hanya cerdas secara intelegensi atau cerdas spiritual aja, nggak cerdas secara emosi juga atau malah emosinya cerdas tapi intelegensinya jongkok. Dalam psikotes diutamakan keseimbangan antara kecerdasan intelegensi dan emosi
Nggak hanya itu tipe kepribadian pun menunjang lulus nggaknya seorang calon karyawan. Anggap yang dibutuhkan adalah karyawan arsip administrasi maka yang dicari melalui tools psikologi adalah orang dengan kecerdasan intelegensi standar, kecakapan emosi yang tinggi, tipe personality phlegmatis-melankolis dan ditunjang juga cerdas secara spasial logis.
Misalnya Orang yang antum kenal atau bahkan antum sendiri ditolak menempati posisi tersebut bisa jadi karena over required, secara intelegensi cerdas, emosi standar, tipe personality koleris-sanguin dan cerdas secara kinestetik. Nggak akan cocok jadi karyawan bagian arsip administratif karena kebutuhan antum dengan tipe kepribadian seperti itu adalah memimpin dan menonjolkan diri, cerdas secara kinestetik berarti kebutuhan aktualisasi diri antum lebih dititikberatkan pada pergerakan tubuh bukan linguistik (kata-kata). Kalau antum diterima, bisa jadi 3 bulan saja antum resign karena nggak cocok dengan pekerjaannya.
itulah mengapa kadang orang super cerdas malah nggak diterima dalam suatu tes masuk kerja so keep positive thinking dan husnudzan aja
Saya awam di bidang psikologi, yang lulus psikotes itu menurut saya harus tahan terhadap godaan ...katakan lah korupsi. Namanya juga ilmu psikologi...ilmu jiwa...apakah tahan terhadap korupsi itu, bukan bagian dari ilmu jiwa ? Apalagi ilmu psikologi yang sekarang (katanya) banyak mengadopsi dari Sigmund Freud (non muslim).Apakah Islam tidak memiliki konsep sendiri dalam memilih pribadi yang tepat untuk suatu posisi ?Akan kah psikolog berlepas diri dengan mengutarakan alasan excuse terhadap kebobrokan manusia pilihannya ? Sementara psikolog itu sendiri TERLIBAT LANGSUNG memilih mereka mereka itu
Waduh, thread ginian kayaknya ada bau2 'buruk muka, cermin dibelah'...