Diskusi Khusus > Islam dan Agama Lain

Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha

<< < (6/8) > >>

Kang_Asepr (18 April 2012, 11:12:36):

--- Kutip dari: adam ---pemikiran ane tentunya umat buddha dimana untuk mencapainya diperlukan suatu usaha
--- Akhir Kutipan ---

jika begitu, berarti bertentangan dengan keyakinan umat buddha itu sendiri yang meyakini bahwa Nibbana itu tidak terkondisi, dan tidak ada sesuatupun yang mengkondisikannya. karena ia adalah "Yang Mutlak".


--- Kutip dari: adam ---bagaimana jika yang mutlak ini diartikan yang pasti ada/ wujud
--- Akhir Kutipan ---

"Mutlak" itu kebalikan dari "Nisbi". Nisbi itu berarti bergantung kepada yang lain. jadi tidak relevan kalau "Yang Mutlak" diartikan "Yang Ada".


--- Kutip dari: adam ---Maha Kuasa ini diartikan lepas dari kuasa kuasa lain, tidak diperhamba oleh suatu ketergantungan
manusia membutuhkan makanan, tapi bukan berarti manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya
dalam artian tidak mencuri, merampok dsb
artinya manusia tersebut tidak dikuasai nafsunya sendiri, manusia itulah yang menguasai dirinya sendiri
manusia yang bisa melepaskan dari segala nafsunya adalah manusia yang berkuasa, mungkin ini yang diartikan manusia tsb mencapai Nibbana,
--- Akhir Kutipan ---

tidak seprti itu makna dari "mencapai nibbana". "melapas nafsu duniawi" merupakan sarana untuk mencapai nibbana itu. tetapi tanpa nafsu tidak berarti "pencapaian nibbana". sepanjang hidup objek kesadarn manusia adalah materi dan mental. ketika ia menemukan "yang bukan materi pun bukan mental", maka ia melihat nibbana. ketika ia melihat Nibbana, ia melihat "Sang Jalan". ketika ia menempuh jalan itu, ia disebut merealisasi nibbana. akhir perjalanan ini disebut Nibbana.

Anak Soleh (18 April 2012, 11:17:53):

--- Kutip dari: Adam1984 pada 17 April 2012, 09:41:33 ---Yah maklum aja kang asep yang suka banding2in disini kan orang kristen, para domba tu penasaran banget sama kite2 umat islam
makanya umumnya dominan debat kristen - islam, secara pemeluk agama lain sangat2 "lakum diinukum waliyadiin" kecuali umat kristiani
penah denger juga dan hampir sama, tujuan untuk orang budha adalah moksa, ke nirvana kalo di nirvana itu akan selamat dari roda reinkarnasi
jadi tujuannya adalah "menjadi Tuhan"/ nibbhana yang tidak terpengaruh kondisi apapun (inkarnasi)


tidak aneh, sama seperti seruan umat bani israil pada nabi musa yang ingin melihat Tuhannya,
juga pemahaman kaum atheis

ya karena menurut mereka "Tuhan" itu adalah suatu kondisi, bukanlah merujuk pada suatu Dzat hidup yang Maha Kuasa. Mereka percaya kehidupan akan berjalan terus seperti roda, hidup mati lahir kembali dst, tidak ada kiamat
hampir sama seperti mereka  seperti 8 jalur menuju nibbhana, kaum islam juga ada cara untuk mendekatkan diri terhadap Tuhannya, dengan menjalankan perintahNya menjauhi laranganNya, 5 rukun islam, dsb,
CMIIW

--- Akhir Kutipan ---

Bener kang, ditempat ane juga gitu, kami bikin mesjid dikomplek perumahan dilahan umum, kebetulan yg tinggal disitu kira2 islam 50%, kristen 30% dan Budha 20%, sementara disitu udah ada tempat sembahyang agama budha (walaupun kecil), kristen (dirumah2 karena banyak aliran berbeda), kalau yang agama budha sangat setuju dg adanya mesjid dan sewaktu membangun mereka juga turut membantu bergotong royong dll, sedangkan yg kristen boro2 membantu justru awal2nya menentang keras sampai2 kedeveloper dan ke pemerintahan segala, tapi dikarenakan semua persyaratan terpenuhi ya mereka nggak bisa apa2 dan yg rumahnya deket sama mesjid pindah mungkin karena kepanasan kayak yg dipilem-pilem kali ya.... ;D

dejogjakarta (23 April 2013, 20:18:30):
jika melihatnya hanya dari sudut pandang Personal, agama Buddha memang tidak memiliki Tuhan yang berkepribadian (yang memiliki sifat murka, cemburu, menghukum, pilih kasih, sayang dan sebagainya. jadi hanya sebatas sosok yang netral, tidak menciptakan, tidak mengatur nasib dan kehidupan. Sebab jika menciptakan manusia bisa dikatakan bahwa tuhan yang seperti ini adalah tuhan yang begitu jahatnya.

“Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”.
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101)

#petapa telanjang adalah para petapa yang hidup di zaman Sang Buddha, seingat saya mereka berusaha mencari jalan pencerahan juga, namun dengan cara ektrim dengan menyiksa tubuh.

Kang_Asepr (24 April 2013, 00:07:52):
di sisi lain, kalau istri Anda digoda orang lain dan Anda hanya senyum-senyum saja tidak murka, maka menurut konsep Buddhisme itu berarti Anda bijaksana, tidak nyadar kalau "ketidak murkaan" seperti itu adalah kebobohan, kdzaliman atau ketidak adilan.

Raja yang adil adalah raja yang harus murka pada para pelaku kejahatan dan menghukumnya, bukan yang "senyum-senym saja" ketika rakyatnya tertidah oleh pihak-pihak tertentu. Demikian pula Tuhan yang Maha bijaksana "harus murka" kepada mereka yang berbuat kedzaliman. tapi umat Buddhis menafsirkan Tuhan seperti sebagai Tuhan yang jahat.

The_Sanctuary (24 April 2013, 08:34:42):

--- Kutip dari: Kang_Asepr pada 18 April 2012, 11:12:36 ---jika begitu, berarti bertentangan dengan keyakinan umat buddha itu sendiri yang meyakini bahwa Nibbana itu tidak terkondisi, dan tidak ada sesuatupun yang mengkondisikannya. karena ia adalah "Yang Mutlak".

"Mutlak" itu kebalikan dari "Nisbi". Nisbi itu berarti bergantung kepada yang lain. jadi tidak relevan kalau "Yang Mutlak" diartikan "Yang Ada".

tidak seprti itu makna dari "mencapai nibbana". "melapas nafsu duniawi" merupakan sarana untuk mencapai nibbana itu. tetapi tanpa nafsu tidak berarti "pencapaian nibbana". sepanjang hidup objek kesadarn manusia adalah materi dan mental. ketika ia menemukan "yang bukan materi pun bukan mental", maka ia melihat nibbana. ketika ia melihat Nibbana, ia melihat "Sang Jalan". ketika ia menempuh jalan itu, ia disebut merealisasi nibbana. akhir perjalanan ini disebut Nibbana.

--- Akhir Kutipan ---

Mungkinkah nibbana hanyalah kata lain dari ketiadaan?

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[#] Halaman berikutnya

[*] Halaman sebelumnya

Ke versi lengkap

(c) 1999 - 2013, myQuran