23 Mei 2013, 16:30:16
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
"myQ Pala"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Anas r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Tiga perkara, jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara itulah dia akan memperoleh kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, mencintai seorang hanya karena Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam Neraka" (HR Bukhari & Muslim)

img_iklan_board/1298237041.gif

Penulis Topik: Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini  (Dibaca 1328 kali)

Offline salafi imut

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 927
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« pada: 18 Maret 2012, 17:43:26 »
1. Apa benar janin itu terbentuk dalam waktu 40 hari ?

2. Apa benar ketika lalat yg tercelup kedalam air minum  dan air minum tersebut  layak untuk dikonsumsi ?.

kalau tidak salah no 1 riwayat dari ibnu mas'ud..

2 hadist di atas pernah ana bincangkan dengan seorang mufassir dari al azhar dan diapun jawabannya adalah sama yaitu meragukan juga.

mungkin yg ahli dalam bidang kedokteran bisa sekaligus menjelaskan dari segi ilmiahnya.
Masak air biar mateng, Makan mie bareng kue pancong, Eh ente jangan sok ganteng, Pala ente kayak koreng bencong.

space dicadangkan (0)

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #1 pada: 18 Maret 2012, 20:49:06 »
Kalau meragukan, silahkan paparkan argumentasinya.
Maaf, saya hanya menyimak saja, tidak ada ilmunya.
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline salafi imut

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 927
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #2 pada: 18 Maret 2012, 21:55:44 »
Kutip
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمن عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

dengan riwayat hanya dari ibnu mas'ud tapi tertera di dalam bukhori dan muslim.

ada hal yg meragukan bagi diri ana dan teman ana yaitu :

1. proses "pembuatan" manusia yg terjadi di dalam rahim ibunya yg berlangsung selama 40 hari.

2. pernyataan berupa seseorang yg mengerjakan amalan surga dan jarak dia dengan surga tinggal sehasta kemudia dia didahului oleh takdir mengerjakan amalan neraka maka akhirnya dia masuk neraka.

3. pernyataan berupa seseorang yg mengerjakan amalan neraka dan jarak dia dengan neraka tinggal sehasta kemudian dia didahului oleh takdir mengerjakan amalan surga  maka akhirnya dia masuk surga.


Dari 3 point di atas, point yg 1 sebenarnya ingin ana tanyakan ke seorang dokter kandungan. Apakah benar berlangsung selama 40 hari ?...

Point ke dua dan ketiga berhubungan dengan rukun iman yg ke enam yaitu qodho dan qodar dan peran manusia di bumi ini sebagai seorang khalifah.

point yg kedua dan ketiga sebenarnya adalah sambungan dari kalimat sebelumnya yg menyatakan bahwa "ketika malaikat meniupkan ruh nya dituliskan juga, rezekinya, matinya, amalannya, dan peruntungannnya".

kalaulah di teliti dari matan haditsnya akan memberi kesimpulan bahwa seseorang itu sudah ditentukan nasib amalannya apakah ditempatkan di neraka ataupun di surga ketika proses peniupan ruh ..

dan hal tersebut justru akan bersebrangan dengan rukun iman yg ke enam terutama qodar.

adakah yg bisa menjelaskan ke diri ana yg dhoif ini ?..



Masak air biar mateng, Makan mie bareng kue pancong, Eh ente jangan sok ganteng, Pala ente kayak koreng bencong.

Offline liman seto

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 610
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #3 pada: 19 Maret 2012, 10:33:47 »
Keraguan bisa saja muncul dalam menelaah suatu hadist , bisa krn hadistnya bisa karena dari dirinya sendiri.
Dari hadistnya itu bisa karena masalah jalur periwayatannya atau dari substansi hadistnya.
Sedang dari dirinya sendiri , karena referansi yg ada pada dirinya yg menyebabakan ybs ragu atau meragukan "kebenaran hadist" itu.

Kliatannya permasalahan berkembang ya dari postingan pertama TS.

Saya hanya ngingetin saja , lebih baik pembicaraannya lebih jelas per apa yg diragukan , sebaiknya TS tidak menambah permasalahan dulu.
Hanya ngamati saja  , tidak dalam mode ikutan diskusi materi. 8-)
bacalah, bacalah dengan segenap indera dan hati

Offline Orang_Pinggiran

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 497
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar dan Belajar
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #4 pada: 19 Maret 2012, 12:34:58 »
1. Apa benar janin itu terbentuk dalam waktu 40 hari ?

2. Apa benar ketika lalat yg tercelup kedalam air minum  dan air minum tersebut  layak untuk dikonsumsi ?.

kalau tidak salah no 1 riwayat dari ibnu mas'ud..

2 hadist di atas pernah ana bincangkan dengan seorang mufassir dari al azhar dan diapun jawabannya adalah sama yaitu meragukan juga.

mungkin yg ahli dalam bidang kedokteran bisa sekaligus menjelaskan dari segi ilmiahnya.

Profesor Simpson mengkaji Hadis in dengan tekun dan sememangnya beliau tahu bahawa ketika 40 hari pertama kandungan ialah peringkat janin-genetik yang sudah dapat dicamkan pembentukannya. Beliau amat takjub dengan ketepatan dua hadis ini. Di dalam satu persidangan yang dihadirinya beliau memberikan pendapat ini: Dua Hadis itu telah memberikan satu jadual secara terperinci mengenai perkembangan janin sebelum 40 hari. Sebagaimana yang telah pun disebut oleh penceramah lain, dua hadis ini tidak mungkin disabdakan berdasarkan pengetahuan sains yang ada ketika itu.

Profesor Simpson menyatakan bahawa agama boleh memandu usaha pencarian ilmu. Namun, pihak barat sebagaimana yang kita bincangkan tadi menolak kemungkinan ini. Dan kini sudah ada seorang ahli sains Amerika yang yakin bahawa agama, khasnya yang bernama Islam, boleh mempertemukan agama dan ilmu dengan jayanya. Sebagai perbandingan, bayangkan anda pergi ke sebuah kilang dan anda membawa bersama buku panduan tentang kilang itu. Sudah tentu anda dapat memahami perjalanan kilang itu dengan senang disebabkan anda ada buku panduannya. Tanpanya, ,mungkin sukar untuk anda memahami perjalanan kilang berkenaan.

Profesor Simpson berkata: Justeru, saya berpendapat bukan hanya tiada percanggahan antara fakta genetik dan agama, tetapi lebih dari itu agama boleh memandu sains dengan adanya wahyu-wahyu Tuhan yang boleh menolong dalam pengkajian sains. Memang ada ayat-ayat al-Quran yang terbukti benar oleh penemuan sains. Ini membuktikan ilmu di dalam al-Quran itu datangnya dari Allah.

Itu sememangnya benar. Seharusnya umat Islam memulakan pengkajian ilmu dan mereka berupaya mengangkat ilmu ke tempat yang sepatutnya. Lebih-lebih lagi umat Islam tahu bagaimana menggunakan ilmu untuk membuktikan keujudan Allah Yang Maha Besar dan Maha Suci dan mengesahkan kerasulan Nabi Muhammad sallalahualaihiwasallam.

ini yang pernah tak baca  :)
Tunjukkanlah Kami Jalan yang Lurus
pada gabung dimari ya.. www.laskarislam.tk

Offline Orang_Pinggiran

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 497
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar dan Belajar
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #5 pada: 19 Maret 2012, 12:44:35 »
Kalo yang Lalat.. setau saya si memang mengandung Anti kuman.. walaupun (setau saya) belum ada bukti ilmiah kalo salah 1 sayap mengandung kuman dan 1nya mengandung anti kuman.. (kalo tidak salah kan haditsnya kaya gitu)

Tapi kalau lalat dicelupkan seluruhnya, maka sifat anti kuman lalat akan membunuh kuman yang ada terbawa lalat..

Itu sedikit pengetahuan yang dangkal dari saya :)
Tunjukkanlah Kami Jalan yang Lurus
pada gabung dimari ya.. www.laskarislam.tk

Offline mushab bin umair

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 2.915
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #6 pada: 19 Maret 2012, 13:20:06 »
dengan riwayat hanya dari ibnu mas'ud tapi tertera di dalam bukhori dan muslim.

ada hal yg meragukan bagi diri ana dan teman ana yaitu :

1. proses "pembuatan" manusia yg terjadi di dalam rahim ibunya yg berlangsung selama 40 hari.


Sepertinya ada sedikit "kesalahpahaman" kang...
Yang disebutkan dalam hadits itu bukanlah proses "pembuatan" manusia yang berlangsung 40 hari, akan tetapi tiga fase "pembuatan" manusia (yaitu nuthfah, 'alaqah dan mudhghah) yang masing2 fase-nya berlangsung selama 40 hari, dan jika di totalkan menjadi 120 hari.
Hadits ini bersesuaian dengan 3 fase yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun ayat 13-14 :
"Kemudian Kami jadikan saripati itu nuthfah (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu Kami jadikan 'alaqah, lalu 'alaqah itu Kami jadikan mudhghah..."


Offline sholawat

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.375
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #7 pada: 19 Maret 2012, 23:06:18 »
Sepertinya ada sedikit "kesalahpahaman" kang...
Yang disebutkan dalam hadits itu bukanlah proses "pembuatan" manusia yang berlangsung 40 hari, akan tetapi tiga fase "pembuatan" manusia (yaitu nuthfah, 'alaqah dan mudhghah) yang masing2 fase-nya berlangsung selama 40 hari, dan jika di totalkan menjadi 120 hari.
Hadits ini bersesuaian dengan 3 fase yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun ayat 13-14 :
"Kemudian Kami jadikan saripati itu nuthfah (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu Kami jadikan 'alaqah, lalu 'alaqah itu Kami jadikan mudhghah..."


O0 O0 O0 O0 BETUL OM,

Offline salafi imut

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 927
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #8 pada: 19 Maret 2012, 23:20:09 »
jazakallah atas jawabannya kakak mushab..insya Allah akan ana sampaikan teman ana yg sekarang sedang studi s3 di al azhar.

Masak air biar mateng, Makan mie bareng kue pancong, Eh ente jangan sok ganteng, Pala ente kayak koreng bencong.

Offline salafi imut

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 927
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #9 pada: 19 Maret 2012, 23:40:47 »
trus ada satu lagi hadist yg menurut ana diragukan keilmiahannya..

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

ini ada di dalam shohih muslim kalo ndak salah.

dari riwayat Hammad, apakah benar orang tua nabi itu di neraka ?..

logika nya adalah  " kok bisa seorang nabi dilahirkan dari pasangan ahli neraka"...?

dan hadist inipun bertolak belakang dengan ayat berikut ..

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ


dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dengan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : "sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ". Ibrahim berkata : "(dan saya mohon juga) dari keturunanku ". Allah berfirman : "janjiku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".
« Edit Terakhir: 19 Maret 2012, 23:54:38 oleh salafi imut »
Masak air biar mateng, Makan mie bareng kue pancong, Eh ente jangan sok ganteng, Pala ente kayak koreng bencong.

Offline Muawiya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 69
  • Jenis kelamin: Pria
  • Al Quran pedomanku, bukan nyang laen
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #10 pada: 01 April 2012, 21:39:31 »
Assalamu 'alaikum bung salafi_imut

Anda meragukan sebuah hadits. Bagi sebagian orang hal ini bukan perkara yang kecil.

A. Kalo Anda meyakini hadits itu memang berasal dari Nabi Muhammad Saw maka ada 2  pilihan :
1. Kalo anda meyakini bahwa SETIAP perkataan Nabi Saw itu wahyu dari Allah, maka anda harus :
     - Segera bertobat, dan memperbarui iman anda kepada Allah dan RasulNya
     - Mencari ilmu lebih dalam untuk memahami hadits tersebut

2. Kalo anda meyakini bahwa TIDAK SEMUA perkataan Nabi Saw itu wahyu dari Allah, maka anda harus :
    - mempercayai bahwa hadits tersebut berasal dari Nabi Saw sebagai manusia biasa. Bisa salah bisa benar

B. Kalo anda tidak yakin bahwa hadits tersebut berasal dari dari Nabi Saw
    - bersikap biasa saja, karena para perawi adalah bukan Nabi, serta hadits bukan Al-Quran. Karena memang kita tidak
      perlu mengimaninya. Cukup dipakai sebagai referensi saja
    - Bersikap tidak menyalahkan sang perawi karena kasalahannya ( menyatakan sebuah hadits sebagai shahih,
      sementara anda meragukan kelilmuahannya). Para perawi telah berusaha sesuai dengan ilmunya untuk menentukan
      kedudukan sebuah hadits. Tentu saja sebagai manhusia beliau-beliau tersebut bisa salah.

Nah, di mana nih posisi anda ?

Wassalam
Muawiya Murti


Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #11 pada: 05 April 2012, 18:02:39 »
trus ada satu lagi hadist yg menurut ana diragukan keilmiahannya..

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

ini ada di dalam shohih muslim kalo ndak salah.

dari riwayat Hammad, apakah benar orang tua nabi itu di neraka ?..

logika nya adalah  " kok bisa seorang nabi dilahirkan dari pasangan ahli neraka"...?

dan hadist inipun bertolak belakang dengan ayat berikut ..

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ


dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dengan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : "sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ". Ibrahim berkata : "(dan saya mohon juga) dari keturunanku ". Allah berfirman : "janjiku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Sekedar meng-garismiring-kan
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline rasyidmuhaymin

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 97
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #12 pada: 13 April 2012, 13:44:08 »
 :ehm: ... mengamati....

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.994
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #13 pada: 16 April 2012, 18:53:31 »
trus ada satu lagi hadist yg menurut ana diragukan keilmiahannya..

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

ini ada di dalam shohih muslim kalo ndak salah.

dari riwayat Hammad, apakah benar orang tua nabi itu di neraka ?..

logika nya adalah  " kok bisa seorang nabi dilahirkan dari pasangan ahli neraka"...?

dan hadist inipun bertolak belakang dengan ayat berikut ..

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ


dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dengan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : "sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ". Ibrahim berkata : "(dan saya mohon juga) dari keturunanku ". Allah berfirman : "janjiku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".
Anda ini mirip cumi_asem,

Kalau mau ilmiah, baca saja ulasan kang Al-jauzaa' di sini : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/shahih-hadits-ayahku-dan-ayahmu-di.html

Kutip
Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :
وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: " إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ "
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit, dari Anas : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 203].

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Ahmad 3/268, Abu Ya’laa no. 3516, Abu ‘Awaanah no. 289, Ibnu Hibbaan no. 578, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj no. 503, Ibnu Mandah dalam Al-Iimaan 2/871 no. 926, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/190 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/191, Ibnu Masykuwaal dalam Ghawaamidlul-Asmaa’ Al-Mubhamah 1/400; semuanya dari jalan ‘Affaan, dari Hammaad bin Salamah dan selanjutnya seperti riwayat di atas.
‘Affaan dalam periwayatan dari Hammaad bin Salamah mempunyai mutaba’ah dari :
1.    Muusaa bin Ismaa’iil At-Tabuudzakiy Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat.
Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4718, Abu ‘Awaanah no. 289, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/190 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/191, serta Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathiil wal-Manaakiir no. 212.
2.    Wakii’ bin Al-Jarraah; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi imam.
Diriwayatkan oleh Ahmad 3/119 dan Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj no. 502.
3.    Rauh bin ‘Ubaadah Al-Qaisiy; seorang yang tsiqah.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 6806.
Hadits ini telah dilemahkan sebagian orang, yang kebanyakan di antara mereka mengikuti pelemahan Al-Imaam As-Suyuuthiy rahimahullah, dan beliau telah keliru dalam hal ini. Pelemahan ini ada dua segi, dari segi sanad dan segi matan.
1.    Segi sanad.
Hammaad bin Salamah, meskipun tsiqah, tapi ia berubah hapalannya di akhir hayatnya.
Dijawab :
Benar, bahwasannya Hammaad disifati dengan apa yang dikatakan dalam kritik tersebut.
Haammaad ini selengkapnya bernama Hammaad bin Salamah bin Diinaar Al-Bashriy, Abu Salamah bin Abi Sakhrah maulaa Rabii’ah bin Maalik bin Handhalah bin Bani Tamiim. Ia perawi yang dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya (muallaq), Muslim, Abu Daawud, Ar-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah. Termasuk generasi pertengahan atbaa’ut-taabi’iin (thabaqah 8), wafat tahun 167 H. Ibnu Hajar berkata tentangnya : “Tsiqah, lagi ‘aabid, orang yang paling tsabt dalam periwayatan hadits Tsaabit (Al-Bunaaniy). Berubah hapalannya di akhir usianya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 268-269 no. 1507].
Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :
هو أحد أئمة المسلمين إلا أنه لما كبر ساء حفظه فلذا تركه البخاري وأما مسلم فاجتهد وأخرج من حديثه عن ثابت ما سمع منه قبل تغيره وما سوى حديثه عن ثابت لا يبلغ اثني عشر
“Ia adalah salah seorang imam di antara para imam kaum muslimin. Akan tetapi ketika lanjut usia, hapalannya menjadi buruk. Oleh karena itu Al-Bukhaariy meninggalkannya. Adapun Muslim, maka ia berijtihad dan meriwayatkan haditsnya dari Tsaabit yang didengarnya sebelum berubah hapalannya. Adapun selain haditsnya dari Tsaabit, tidak sampai berjumlah 12 buah yang ia riwayatkan dalam syawaahid” [Tahdziibut-Tahdziib, 3/14].
Lebih penting dari pernyataan ini, ada empat orang yang meriwayatkan darinya, yaitu ‘Affaan, Muusaa bin Ismaa’iil, Wakii’ bin Al-Jarrah, dan Rauh bin ‘Ubaadah yang kesemuanya merupakan para perawi tsiqaat. Khusus tentang riwayat Hammaad yang berasal dari ‘Affaan, Ibnu Rajab rahimahumullah berkata :
قال عبد الله بن أحمد : سمعتُ يحيى بن معين يقول : من أراد أن يكتب حديث حماد بن سلمة، فعليه بعفان بن مسلم
“Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad : Aku mendengar Yahyaa bin Ma’iin berkata : ‘Barangsiapa yang ingin menulis hadits Hammaad, maka wajib baginya berpegang pada ‘Affaan bin Muslim” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 2/707].
Artinya, menurut Ibnu Ma’iin, ‘Affaan bin Muslim termasuk orang yang kokoh dan diterima periwayatannya dari Hammaad. Faedahnya, ‘Affaan mendengarkan hadits Hammaad bin Salamah sebelum berubah hapalannya. ‘Affaan bin Muslim sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat, hanya kadang ia keliru/ragu [Taqriibut-Tahdziib, hal. 681-682 no. 4659].
Akurasi hadits ‘Affaan dari Hammaad ini dipersaksikan oleh tiga perawi tsiqaat lainnya. Tidak ada ruang (atau sangat kecil kemungkinannya) untuk mengatakan bahwa hadits Hammaad ini keliru karena faktor berubah hapalannya.
Hammaad bin Salamah, meskpiun ia tsiqah, namun beberapa imam mengatakan bahwa ia banyak kelirunya. Ahmad bin Hanbal berkata : “Hammad bin Salamah sering keliru (yukhthi’)” [Bahrud-Damm, no. 227]. Begitu juga dengan Ibnu Hibbaan.
As-Suyuthiy menambahkan bahwa Hammaad ini menyelisihi Ma’mar dalam periwayatan dari Tsaabit, dimana Ma’mar tidak menyertakan lafadh : ‘ayahku dan ayahmu di neraka’, namun dengan lafadh : ‘jika engkau melewati kubur orang kafir, berikanlah khabar gembira tentang neraka’. Ma’mar lebih tsabt daripada Hammaad [lihat : Al-Haawiy, 2/273].
Dijawab :
Perkataan ini jika ditujukan untuk melemahkan hadits dalam bahasan, maka sangat jauh dari kebenaran.
Hammaad, sebagaimana telah lalu penjelasannya, dicela sebagian ulama karena berubahnya hapalannya di akhir usianya sehingga ia keliru meriwayatkan beberapa hadits. Ahmad bin Hanbal memang benar diriwayatkan mengatakan demikian.
Akan tetapi Ahmad sendiri menetapkan Hammaad adalah seorang yang tsiqah [Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ oleh Ibnu ‘Adiy, 3/39 no. 431]. Dan Ahmad pun menetapkan Hammaad bin Salamah adalah orang yang paling tsabt dalam hadits Tsaabit Al-Bunaaniy.
وقال عبد الله : سمعتُ أَبي يقول : حماد بن سلمة , أثبت الناس في ثابت البناني.
‘Abdullah berkata : Aku mendengar ayahku berkata : “Hammaad bin Salamah, orang yang paling tsabt periwayatannya dalam hadits Tsaabit Al-Bunaaniy” [Al-‘Ilal, no. 1783 & 5189].
وقال ابن هانىء : وسَمِعتُهُ يقول : كان حماد بن سلمة من أثبت أصحاب ثابت .
Ibnu Haani’ berkata : Aku mendengarnya (Ahmad bin Hanbal) berkata : “Hammaad bin Salamah termasuk orang yang paling tsabt di antara ashhaab Tsaabit” [Suaalaat Ibni Haani’, 2/197 no. 2063].
Banyak riwayat lain dari Ahmad yang menunjukkan penegasan serupa. Apa yang dikatakan oleh Ahmad itu juga dikatakan oleh ulama lain.
Ibnu Ma’iin berkata :
من خالف حماد بن سلمة في ثابت فالقول قول حماد، قيل : فسليمان بن المغيرة عن ثابت ؟. قال : سليمان ثبت، وحماد أعلم الناس بثابت
“Barangsiapa menyelisihi Hammaad dalam periwayatan dari Tsaabit, maka perkataan yang dipegang adalah perkataan Hammaad”. Dikatakan : “Riwayat Sulaimaan bin Al-Mughiirah dari Tsaabit ?”. Ibnu Ma’iin berkata : “Sulaimaan itu tsabt (kokoh), namun Hammaad orang yang paling mengetahui tentang riwayat Tsaabit” [Tahdziibul-Kamaal, 7/262].
Abu Haatim berkata :
حماد بن سلمة في ثابت، وعلي بن زيد أحب إليَّ من همام، وهو أضبط الناس وأعلمهم بحديثهما
“Hammaad bin Salamah dalam riwayat Tsaabit dan ‘Aliy bin Zaid, lebih aku sukai daripada Hammaam. Dan ia (Hammaad) adalah orang yang paling dlabth (akurat) dan yang paling mengetahui tentang hadits keduanya” [idem, 7/264].
Dan, Ahmad bin Hanbal menegaskan riwayat Hammaad dari Tsaabit ini lebih kuat daripada Ma’mar :
حماد بن سلمة أثبت في ثابت من معمر
“Hammaad bin Salamah lebih tsabt (kokoh) dalam hadits Tsaabit daripada Ma’mar” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/141; dan Tahdziibul-Kamaal, 7/259].
Adapun perkataan Ibnu Hibbaan, maka itu sama sekali tidak menjatuhkan kedudukan riwayat Hammaad dari Tsaabit.
Maka, di sini nampak ketidakakuratan jarh yang dialamatkan As-Suyuthiy rahimahullah dan orang yang sepakat dengannya.
Tsaabit (bin Aslam) Al-Bunaaniy sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 185 no. 818].
Kesimpulannya, sanad riwayat ini sangat shahih.
2.    Segi Matan.
Sebagian ulama menganggap bahwa matan hadits ini ma’lul karena bertentangan dengan ayat :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” [QS. Al-Israa’ : 15].
Dijawab :
Tidak akan pernah satupun hadits shahih bertentangan dengan hadits shahih lain ataupun ayat, karena apa yang dikatakan Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan wahyu dari Allah ta’ala :
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” [QS. An-Najm : 3-4].
Termasuk hadits di atas.
Ta’lil terhadap matan hadits ini berangkat dari pemahaman bahwa kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul-fatrah yang akan dimaafkan, karena belum sampai kepada mereka berdua risaalah (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).
Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, sebab ada beberapa yang disebutkan para ulama sebagai ahlul-fatrah, namun masuk neraka. Seperti misal : ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، قَالَ الْبَحِيرَةُ: الَّتِي يُمْنَعُ دَرُّهَا لِلطَّوَاغِيتِ وَلَا يَحْلُبُهَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ، وَالسَّائِبَةُ: الَّتِي كَانُوا يُسَيِّبُونَهَا لِآلِهَتِهِمْ فَلَا يُحْمَلُ عَلَيْهَا شَيْءٌ، قَالَ: وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرِ بْنِ لُحَيٍّ الْخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ "
Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Az-Zuhriy, ia berkata : Aku mendengar Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata : “Al-Bahiirah adalah onta yang tidak boleh ditunggangi dan diambil susunya oleh seorang pun, yang dipersembahkan kepada berhala. Adapun As-Saaibah adalah onta yang tidak bunting lagi yang akan mereka persembahkan kepada tuhan-tuhan mereka”. Ibnul-Musayyib berkata : Telah berkata Abu Hurairah : “Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3521].
‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy adalah orang yang hidup di masa fatrah, namun ia mengubah ajaran Nabi Ibraahiim bagi bangsa ‘Arab sehingga mereka menyembah berhala. ‘Amru bin Luhay tidak diberikan ‘udzur karena masa fatrah, karena telah sampai kepadanya ajaran Nabi Ibraahiim ‘alaihis-salaam.
Begitu pula dengan shaahibul-mihjan (si pemilik tongkat) :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ...... لَقَدْ جِيءَ بِالنَّارِ وَذَلِكُمْ حِينَ رَأَيْتُمُونِي تَأَخَّرْتُ مَخَافَةَ أَنْ يُصِيبَنِي مِنْ لَفْحِهَا، وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَ الْمِحْجَنِ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ، كَانَ يَسْرِقُ الْحَاجَّ بِمِحْجَنِهِ، فَإِنْ فُطِنَ لَهُ، قَالَ: إِنَّمَا تَعَلَّقَ بِمِحْجَنِي، وَإِنْ غُفِلَ عَنْهُ ذَهَبَ بِهِ....."
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Numair (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair – dan lafadh keduanya mirip - , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik, dari ‘Athaa’, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……….Dan sungguh telah diperlihatkan neraka kepadaku, yaitu ketika kalian melihat aku mundur, karena aku takut hangus (oleh jilatannya). Hingga aku melihat di dalamnya shaahibul-mihjan (pemilik tongkat yang bengkok kepalanya.) menyeret ususnya dalam neraka. Dahulunya, ia mencuri (barang milik) orang yang haji. Jika ketahuan, ia berkilah : ‘Barang itu tersangkut di mihjanku”. Tetapi jika orang itu lengah dari barangnya, maka si pencuri membawanya (pergi)….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 903].
Jika kita bisa menghukumi bahwa dua orang di atas masuk neraka berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lantas apa halangannya kita mengatakan bahwa orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga masuk neraka berdasarkan sabda beliau pula ?.
Bisa juga hal itu dijamak dengan riwayat :
أَخْبَرَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ صَاحِبُ الدَّسْتُوَائِيِّ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الأحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَأَمَّا الأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَلَمْ أَسْمَعْ شَيْئًا، وَأَمَّا الأَحْمَقُ، فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الْهَرِمُ، فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَمَا أَعْقِلُ، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَيَقُولُ: رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعَنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ رَسُولا أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلامًا ".
Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aadz bin Hisyaam shaahibu Ad-Dastuwaaiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qataadah, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Al-Aswad bin Sarii’, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda : “Ada empat orang yang akan berhujjah (beralasan) kelak di hari kiamat : (1) orang tuli, (2) orang idiot, (3) orang pikun, dan (4) orang yang mati dalam masa fatrah. Orang yang tuli akan berkata : ‘Wahai Rabbku, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mendengarnya sama sekali’. Orang yang idiot akan berkata : ‘Wahai Rabbku, sungguh Islam telah datang, namun anak-anak melempariku dengan kotoran hewan’. Orang yang pikun akan berkata : ‘Wahai Rabb, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak dapat memahaminya’. Adapun orang yang mati dalam masa fatrah akan berkata : ‘Wahai Rabb, tidak ada satu pun utusan-Mu yang datang kepadaku’. Maka diambillah perjanjian mereka untuk mentaati-Nya. Diutuslah kepada mereka seorang Rasul yang memerintahkan mereka agar masuk ke dalam api/neraka”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat” [Diriwayatkan oleh Ishaaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 41; shahih].
Yaitu, orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka setelah diuji oleh Allah ta’ala di hari kiamat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsiir rahimahullah [Al-Aayaatu wal-Ahaadiitsu wal-Aatsaar Al-Waaridah fii Ahlil-Fatrah oleh Marwaan bin Ahmad Al-Hamdaan, hal. 251; thesis Univ. Ummul-Qurraa’, tahun 1411].
Oleh karena itu, hadits Anas tetap dapat dijamak dengan ayat yang dipertentangkan bersamaan dengan hadits Al-Aswad bin Sarii’ radliyallaahu ‘anhumaa ini.
Tidak ada satu hal pun yang menyebabkan hadits Anas ini cacat lagi dla’iif sebagaimana Pembaca dapat lihat.
Kesimpulannya : Riwayat ini shahih, para perawinya tsiqaat, sanadnya bersambung, dan tidak ada syudzuudz ataupun ‘ilat.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – ngaglik, sele-man, yogyakarta, 1432, malam hari nan sunyi].

dan jika setelah ini anda katakan semisal ini

Kutip
jazakallah atas jawabannya kakak mushab..insya Allah akan ana sampaikan teman ana yg sekarang sedang studi s3 di al azhar.
tolong sampaikan kepada rekan anda ... S3 kok KOPLAZXS !!!
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline salafi imut

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tulisan: 927
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
Re:Ana meragukan keilmiahan 2 hadist ini
« Jawab #14 pada: 16 April 2012, 21:17:35 »
Anda ini mirip cumi_asem,

Kalau mau ilmiah, baca saja ulasan kang Al-jauzaa' di sini : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/shahih-hadits-ayahku-dan-ayahmu-di.html

dan jika setelah ini anda katakan semisal ini
tolong sampaikan kepada rekan anda ... S3 kok KOPLAZXS !!!

maaf, sepengetahuan saya yg namanya abul jauza itu sarjana dari IPB Bogor.. :hihi:

ana mencari lawan diskusi minimal mahasiswa jurusan tafsir hadist kalau mau nge-bahas ini, makanya ana gak lanjutkan karena ana tahu disini kagak ada yg kuliah di tafsir hadist..

sarjana IPB mau nge-bahas tafsir hadist ?...itu baru aneh namanya.. :hihi:

Masak air biar mateng, Makan mie bareng kue pancong, Eh ente jangan sok ganteng, Pala ente kayak koreng bencong.

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.798 detik dengan 21 queri.