Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Tingkat Kesadaran Manusia  (Dibaca 1245 kali)


Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« pada: 03 Februari 2012, 12:43:33 »
Tingkatan – tingkatan Manusia dalam hal kesadaran adalah :

1. Yang terpenting adalah diri sendiri ! , apapun yang terjadi biarpun orang lain susah , sedih , duka .    Orang yang type ini tidak akan terpengaruh asal tidak terusik dirinya dia tidak perduli !! Ini adalah Kesadaran dasar ( Ego )
2.Mau memberi kalau di beri !! , yang type ini kesadaran tingkat kedua . Dimana orang Type ini sifatnya menunggu orang lain , kalau dia diberi baru dia akan memberi dan sebaliknya kalau tidak diberi diapun tidak akan memberi.
3. Kalau memberi akan mendapat !! , ini kesadaran tingkat Tiga . Mereka berkeyakinan bahwa pemberian mereka akan kembali kepada mereka pula. Ibarat orang beli pasti dapat barang , ibarat orang bekerja pasti dapat upah . Mereka memberi tapi berharap kembali.
4.Yang penting adalah memberi !! , Ini adalah kesadaran tingkat ke Empat , kesadaran inilah yang orang banyak mengenal dengan nama tulus , ikhlas dst. Beliau tidak pernah berfikir dapat apa ? , tapi yang beliau fikirkan adalah apa yang dapat diperbuat ? apa yang dapat dilakukan ? untuk kebaikan semua orang . Tanpa memandang siapa ?, dan kenapa? apa lagi akan mendapat apa ?!

Ini Universal dan realistis !! Kesadaran mana yang kita punya ? Itulah yang membedakan derajat kita dihadapan Tuhan. Di samping Ilmu dan Amal yang kita miliki.


Sumber : http://mpu4elcom.wordpress.com/tukang-solder/tingkat-kesadaran-manusia/

Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 03 Februari 2012, 13:10:12 »
1. Bagaimana bisa orang bisa hanya mementingkan diri sendiri (egois)? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
mungkin tipe pertama ini tak ubahnya seperti berhala. Mau disembah, mau dikunjungi orang, tapi tidak mau mengunjungi orang.
2. Orang yang tau berbalas budi. mungkin ini dalah tipe orang kedua itu. tapi mengapa orang mau berbalas budi? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
3. Perbuatan apapun yang dilakukan, maka akibatnya akan diperoleh diri sendiri, sehingga yakin, perbuatan baik apapun yang dia lakukan mustahil tidak berbuah kebaikan bagi dirinya. Tapi bagaimana dia bisa memahami hal-hal tersebut ? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
4. Seperti matahari yang bersinar menerangi bumi, memberi kehangatan, cinta dan kehidupan dan berharap memperoleh kembali apapun dari bumi. berbuat kebajikan sudah merupakan sifat sejatinya yang tidak dapat tidak. Karena itulah, dia tidak berpikir keuntungan apa yang bisa diperoleh dari memberi kepada orang lain? tidak pula mengharapkan pahala dari suatu perbuatan, karena perbuatan itu sendiri merupakan suatu keuntungan bagi dirinya sendiri. bagaikan matahari bersinar, bersinarnya itu sendiri sudah merupakan keuntungan baginya. sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan apa keuntungan dari bersinar.

Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 03 Februari 2012, 14:11:43 »
1. Bagaimana bisa orang bisa hanya mementingkan diri sendiri (egois)? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
mungkin tipe pertama ini tak ubahnya seperti berhala. Mau disembah, mau dikunjungi orang, tapi tidak mau mengunjungi orang.
2. Orang yang tau berbalas budi. mungkin ini dalah tipe orang kedua itu. tapi mengapa orang mau berbalas budi? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
3. Perbuatan apapun yang dilakukan, maka akibatnya akan diperoleh diri sendiri, sehingga yakin, perbuatan baik apapun yang dia lakukan mustahil tidak berbuah kebaikan bagi dirinya. Tapi bagaimana dia bisa memahami hal-hal tersebut ? Apakah itu baik, benar dan menguntungkan dirinya?
4. Seperti matahari yang bersinar menerangi bumi, memberi kehangatan, cinta dan kehidupan dan berharap memperoleh kembali apapun dari bumi. berbuat kebajikan sudah merupakan sifat sejatinya yang tidak dapat tidak. Karena itulah, dia tidak berpikir keuntungan apa yang bisa diperoleh dari memberi kepada orang lain? tidak pula mengharapkan pahala dari suatu perbuatan, karena perbuatan itu sendiri merupakan suatu keuntungan bagi dirinya sendiri. bagaikan matahari bersinar, bersinarnya itu sendiri sudah merupakan keuntungan baginya. sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan apa keuntungan dari bersinar.

 :topOK: siiipp... kalau ada yang lain boleh ditambah lagi. Syukron :)
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 03 Februari 2012, 14:21:12 »
:topOK: siiipp... kalau ada yang lain boleh ditambah lagi. Syukron :)

beragama adalah mengembangkan kesadaran dari kesadaran saat ini agar meningkat untuk mencapai tingkat kesadaran yang tinggi. dengan berfokus pada peningkatan kesadaran ini, berarti kita menempuh agama yang lurus.

Tetapi orang yang terikat dengan persoalan-persoalan lahiriah, hanya sibuk dengan hal-hal tersurat, tidak akan dapat mengembangkan kesadaran tersebut. Bahkan mereka bingung, tidak dapat menyelami maksud dari bentuk-bentuk kesadaran tersebut.
Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 03 Februari 2012, 17:48:38 »
beragama adalah mengembangkan kesadaran dari kesadaran saat ini agar meningkat untuk mencapai tingkat kesadaran yang tinggi. dengan berfokus pada peningkatan kesadaran ini, berarti kita menempuh agama yang lurus.

Tetapi orang yang terikat dengan persoalan-persoalan lahiriah, hanya sibuk dengan hal-hal tersurat, tidak akan dapat mengembangkan kesadaran tersebut. Bahkan mereka bingung, tidak dapat menyelami maksud dari bentuk-bentuk kesadaran tersebut.

Saya pernah nonton acara tv mengatakan tingkat kesadaran mempengaruhi kebahagiaan. tapi saya tidak menontonnya dengan sempurna, sekarang sedang cari cari di google.
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 04 Februari 2012, 16:56:44 »
Saya pernah nonton acara tv mengatakan tingkat kesadaran mempengaruhi kebahagiaan. tapi saya tidak menontonnya dengan sempurna, sekarang sedang cari cari di google.

berkembangnya kesadaran tersebut berarti pencapaian hikmah. apa itu hikmah ?

Allah menganugrahkan al hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia telah dianugrahi kebaikan yang banyak. Dan tidaklah berdzikir, kecuali ulil albab. (Q.S 2:269)

Dalam hal ini, hikmah itu bukan merupakan teori yang diyakini oleh seseorang, melainkan perpindahan rohani secara praktis dari alam kegelapan, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan hal yang mustahil, kepada cahaya yang bersifat akal, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama. (Siti Maryam, Rasionalitas Pengalaman Sufi, hal. 52)
Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 05 Februari 2012, 16:13:48 »
berkembangnya kesadaran tersebut berarti pencapaian hikmah. apa itu hikmah ?

Allah menganugrahkan al hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia telah dianugrahi kebaikan yang banyak. Dan tidaklah berdzikir, kecuali ulil albab. (Q.S 2:269)

Dalam hal ini, hikmah itu bukan merupakan teori yang diyakini oleh seseorang, melainkan perpindahan rohani secara praktis dari alam kegelapan, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan hal yang mustahil, kepada cahaya yang bersifat akal, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama. (Siti Maryam, Rasionalitas Pengalaman Sufi, hal. 52)

Syukron atas tambahan wawasannya.  :topOK:
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^

Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 05 Februari 2012, 16:16:00 »
Artikelnya sedikit beda, namun bisa menambah wawasan tentang "Kesadaran Manusia"
Semoga bermanfaat :

Berbagai Tingkat Kesadaran Manusia

Muhammad Rasulullah lahir dalam keadaan yatim sehingga sejak awal telah kehilangan figur ayah. Muhammad kecil kemudian juga kehilangan ibunya di usia enam tahun, sehingga lengkaplah beliau menjadi yatim piatu. Hal ini menjadikan beliau mulai belajar menjadi mandiri.

Muhammad kecil kecil mulai bekerja sebagai penggembala kambing. Ini adalah masa dimana beliau mulai merenungi kebesaran alam semesta. Sementara teman-teman sebayanya bermain di kota, Muhammad bekerja sendirian di luar kota. Ahli sejarah (tarikh) Islam mengatakan bahwa pekerjaan ini merupakan ‘rahmat terselubung’ (bless in disguise) yang memberikan dasar bagi Muhammad kecil untuk mengembangkan kecerdasan spiritualnya.
Sejarah para nabi menunjukkan ketakjuban atas alam semesta yang bercampur dengan kegelisahan dan kegamangan hidup akan menuntun seseorang untuk menyadari adanya kekuatan maha dahsyat yang menciptakan dan mengatur alam ini. Kita tengok kisah bapak para nabi, Ibrahim a.s., bagaimana Ibrahim kecil mulai menanyakan ‘siapakah’ kekuatan paling dahsyat di alam ini. Dia memulainya dengan menganggap bintang, kemudian matahari, kemudian sampai pada kesimpulan adanya Allah tuhan semesta alam yang Maha Besar, Maha Dahsyat, sekaligus Maha Mengatur alam semesta ini.
Hal yang sama terjadi pada Muhammad kecil. Kegelisahannya sebagai seorang yatim piatu menuntunnya untuk berpikir dan merasakan makna kehidupan yang ia alami. Inilah awal dari berpindahnya kesadaran Muhammad kecil dari sekedar kesadaran inderawi kepada kesadaran yang lebih tinggi.
Sebelumnya perlu kita ketahui dulu bahwa perkembangan kesadaran seseorang meningkat dari hanya memahami yang kelihatan (fisik) hingga memahami yang tak kelihatan (non fisik) (Agus Mustofa, Menyelami Samudara Jiwa dan Ruh, 2005). Kesadaran yang paling rendah adalah kesadaran inderawi. Selanjutnya yang lebih tinggi adalah kesadaran rasional, lalu kesadaran spiritual, dan paling tinggi adalah kesadaran tauhid.

Kesadaran inderawi. Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas pada kemampuan indera kita.

Kesadaran rasional. Ternyata setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Misalnya, secara inderawi kita hanya mampu melihat bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Dengan menggunakan akal, dibantu dengan alat-alat yang lebih canggih, manusia kemudian dapat membuat kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bumi berotasi ke arah timur, dan bahkan bumi mengelilingi matahari. Manusia dengan bantuan teleskop melihat adanya kejanggalan-kejanggalan alam yang tidak bisa dijelaskan bila matahari mengelilingi bumi. Karena itu dengan kemampuan berpikir rasional manusia dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya bumi berotasi ke timur (dan akibatnya seakan-akan matahari mengelilingi bumi). Dengan melihat kedudukan bintang-bintang sepanjang tahun, para astronom akhirnya berkesimpulan bahwa bumi lah yang mengelilingi matahari. Dengan kemampuan pikiran rasional pula manusia yakin bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Setelah ditemukannya teleskop yang mampu melihat benda langit (planet lain), manusia semakin yakin bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti perkiraan sebelumnya. Kita dapat melihat bahwa dengan kemampuan rasional manusia dapat mengambil kesimpulan jauh di luar apa yang dapat sicapai dengan indera. Ibaratnya kesadaran inderawi menggunakan mata fisik, kesadaran rasional menggunakan mata pikiran. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan ilmiah.

Kesadaran spiritual. Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual. Kini para ahli telah mengembangkan teori big bang untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Teleskop luar angkasa Hubble telah memeberikan bukti betapa dahsyat dan luasnya alam semesta. Namun kesadaran rasio manusia tak akan mampu menjelaskan ada apa di luar tepi-tepi batas semesta, ada apa sedetik sebelum big bang terjadi, dan apa tujuannya terjadi alam yang luas dengan bumi yang setitik debu di dalamnya ini. Semua kelelahan kesadaran rasional itu membawa manusia ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.

Kesadaran Tauhid. Namun kesadaran spiritual belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar. Pada jaman purba, manusia menyembah berhala, kekuatan alam seperti gunung dan matahari, atau kekuatan roh seperti jin. Semakin moderen mulailah muncul kepercayaan atas dewa-dewa, yaitu bahwa pada setiap benda/makhluk ada tuhannya masing-masing. Ada tuhan pohon, angin, monyet, tikus, dan sebagainya. Memang untuk level kesadaran spiritual ini manusia membutuhkan petunjuk wahyu, suatu yang di luar akal manusia, bahkan di luar nurani. Kecerdasan spiritual yang berdasarkan hati nurani masih bisa menyesatkan, misalnya pada kebudayaan Aztek manusia dikorbankan kepada dewa matahari melalui keyakinan yang didasarkan suara hati. Pada tingkatan tertentu, suara hati tak lagi mampu. Misalnya, mengapa kita tega menyembelih kambing? Bukankah suara hati kita miris dan menganggapnya kekejaman? Alasan kuat kita yakin bahwa menyembelih kambing itu sesuatu yang benar (walaupun suara hati memprotesnya) adalah karena tuntunan agama wahyu. Wahyu mengatakan bahwa menyembelih kambing atas nama Allah adalah sah, sedangkan memenggalnya (bukan menyembelih) atau mengatasnamakan berhala adalah sesuatu yang haram. Pengetahuan pada level kesadaran Tauhid ini bukan sekedar pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran spiritual, namun lebih tinggi lagi karena menjawab persoalan yang terus tak terjawab oleh kesadaran spiritual. Misalnya, apakah tuhan itu banyak? Berapa banyak? Apa sih yang diinginkan tuhan? Mengapa sih manusia diciptakan? Kemana sih kita setelah mati? Semuanya itu dijawab melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.
Penelitian moderen menunjukkan bahwa konsep ketuhanan jamak (dewa-dewa) atau tuhan yang lebih dari satu mudah sekali dipatahkan dengan bukti-bukti pengetahuan moderen. Pengetahuan kuno menganggap bahwa manusia, binatang, gunung, dan pohon memiliki materi yang berbeda, karena itu punya tuhan masing-masing. Pengetahuan moderen menunjukkan bahwa semua hal itu sebenarnya adalah sama, mempunyai unsur dasar elektron, proton, dan netron. Bahkan elektron, proton, dan netron itupun diduga punya penyusun sama. Saat ini materi penyusun inti atom terkecil yang telah disepakati para ahli adalah suatu pilinan energi yang disebut quark. Jadi apa yang ada di alam semesta ini pada esensi terkecilnya mempunyai kesamaan dan keteraturan yang luar biasa! Alam makrokosmos dimana terdapat matahari, bumi, bulan, dan lainnya mempunyai perilaku persis sama dengan alam mikrokosmos yang terdiri dari elektron, proton, dan netron. Bumi berotasi sambil mengelilingi matahari. Matahari dan semua planet di tata surya kita, secara bersamaan juga bergerak melingkar mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima sakti ini juga bergerak melingkari\ mengelilingi pusat alam semesta. Pada alam mirokosmos pun demikian. Pada bagian tubuh kita yang terkecil yaitu dalam bentuk atom karbon, elektron bergerak mengelilingi inti. Lihatlah betapa ada kesamaan luar biasa dari hukum-hukum alam ini baik dalam alam makro maupun mikro. Lihat pula betapa esensi manusia ternyata sama saja dengan binatang, kayu, bahkan intan, yaitu susunan atom karbon. Dengan bukti ini mustahil semua itu diciptakan oleh banyak dewa. Mustahil ada dewa angin mencipta angin, ada dewa monyet mencipta monyet. Bahkan mustahil ada dua tuhan, karena seluruh alam ini ternyata mempunyai hukum yang teratur dan konsisten. Andai ada dua tuhan saja, pasti terjadi banyak ketidakteraturan! Di sinilah wahyu yang sudah diturunkan sejak ribuan tahun lalu mendapatkan bukti lebih kuat dengan pengetahuan manusia moderen. Bagaimana para nabi bisa tahu tentang dzat yang Maha Tunggal padahal waktu itu tidak dikenal galaksi maupun atom? Itulah pengetahuan dari wahyu. Level yang lebih tinggi daripada pengetahuan dari bisikan suara hati.
Pada level kesadaran Tauhid, seseorang akan takjub menemukan bahwa Tuhan yang maha Tunggal, yaitu Allah swt, hadir dimana-mana dan dengan kuasanya terus menjaga keteraturan itu. Bayangkan kalau Allah tidak menghendaki keteraturan ikatan atom, maka dalam sekejap seluruh alam semesta ini terburai hancur. Tubuh manusia yang tampan, cantik, menarik, yang berjabatan presiden, artis, maupun gelandangan, semuanya dalam sekejap akan terburai menjadi entah apa. Hanya karena kemurahan Allah lah semua di alam bisa berlaku seperti sekarang ini. Pada tingkatan kesadaran ini maka seseorang akan merasakan kehadiran Allah di setiap tarikan nafasnya, kegiatannya, bahkan pikirannya. Semua itu hanya karena Allah swt, dzat yang Maha Tunggal.
Mari kita kembali pada kisah Muhammad kecil si penggembala kambing. Pada usia yang masih muda dia telah mengembangkan kesadarannya hingga tingkat kesadaran spiritual. Semakin dewasa Muhammad semakin mampu mencapai kesadaran tauhid, dengan menyadari bahwa agama hanif (agama peninggalan Ibrahim yang dianut sebagian kecil masyarakat) adalah agama yang benar, bukan agama penyembah berhala yang sedang dominan di masyarakat jahiliyah waktu itu. Puncaknya adalah ketika kegelisahan Muhammad mencapai batas tertinggi yang membuatnya sering uzlah menyepi ke gua hira di malam hari. Pada saat itulah Allah menurunkan wahyu kepadanya dan mengangkatnya menjadi Nabi.

http://goresantintakita.blogspot.com/2008/01/berbagai-tingkat-kesadaran-manusia.html
« Edit Terakhir: 05 Februari 2012, 16:19:30 oleh Tamandesa »
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 05 Februari 2012, 16:28:25 »
Ada banyak bentk kebenaran, tapi 3 yang pokok.

1. kebenaran indrawi
2. kebenaran logika
3. Kebenaran spiritual

kebenaran indrawi, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas :

Kutip
Kesadaran inderawi. Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas pada kemampuan indera kita.

semua kenyataan yang mampu dijangkau oleh pancaindra, itulah kebenaran indrawi.

selain kenyataan yang bisa dijangkau oleh indrawi, ada kenyataan yang tidak mampu dijangkau oleh indrawi tersebut, yaitu kebenaran logika. dan manusia mampu menjangkau kebenaran logika ini, karena manusia memiliki perangkat untuk menjangkaunya, yaitu pikiran. Logika adalah tangga pengetahuan berikutnya untuk mengapai tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran spiritual.

ada kenyataan yang tidak mampu terjangkau oleh pancaindra maupun logika, ia itulah kebenaran spiritual. tapi manusia mampu menjangkau kenyataan itu bukan dengan pancaindra maupun pikiran, melainkan dengan perangkat lain yang sudah dianugrahkan Allah kepada manusia yaitu "al-aql" atau bathin atau "ar-ruh"

Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline Tamandesa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 941
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ayoo Tersenyum ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 08 Februari 2012, 09:55:16 »
Ada banyak bentk kebenaran, tapi 3 yang pokok.

1. kebenaran indrawi
2. kebenaran logika
3. Kebenaran spiritual

kebenaran indrawi, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas :

semua kenyataan yang mampu dijangkau oleh pancaindra, itulah kebenaran indrawi.

selain kenyataan yang bisa dijangkau oleh indrawi, ada kenyataan yang tidak mampu dijangkau oleh indrawi tersebut, yaitu kebenaran logika. dan manusia mampu menjangkau kebenaran logika ini, karena manusia memiliki perangkat untuk menjangkaunya, yaitu pikiran. Logika adalah tangga pengetahuan berikutnya untuk mengapai tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran spiritual.

ada kenyataan yang tidak mampu terjangkau oleh pancaindra maupun logika, ia itulah kebenaran spiritual. tapi manusia mampu menjangkau kenyataan itu bukan dengan pancaindra maupun pikiran, melainkan dengan perangkat lain yang sudah dianugrahkan Allah kepada manusia yaitu "al-aql" atau bathin atau "ar-ruh"

Alhamdulillah saya dapat banyak ilmu..  :topOK:
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^