Zon, semoga Allah membimbing Anda dan kita semua.
Saya ulangi pertanyaan saya, mengingat Anda belum menjawab. Kita akan liat jawaban Anda yang sebagian saya singkat (del) untuk menunjukkan Anda sebetulnya belum menjawab dengan tepat.
Ketika saya tanya:
1. Dimana Anda dapatkan pernyataan atau tulisan dari da'wah salafi bahwa mereka itu mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya?
Anda jawab:
Kita sudah mengetahui bahwa ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh pada kenyataanya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.
Mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Memang semula mereka pada umumnya bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali. Namun pada akhirnya mereka lebih menyandarkan kepada akal pikiran mereka sendiri sehingga menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat. Hal ini telah diuraikan contohnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/
Saya telah membaca link yang Anda sebutkan, tetapi itu tidak menjawab pertanyaan saya. Kaidah "mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya" Anda gembar-gemborkan dalam tulisan Anda seolah itu bagian dari ajaran da'wah salafi sekarang ini, tetapi Anda tidak bisa menunjukkan dimana ajaran seperti itu disampaikan oleh asaatidzah ataupun masyayikh yang menyerukan da'wah salaf sekarang ini. Link yang Anda sebutkan hanya menyebutkan tentang 'kesesatan salafi' yang menyatakan Allah bertempat (ini juga tuduhan bathil), yang berbeda dengan pemahaman imam Ahmad. Padahal, da'wah salafi sekarang ini tidak ada yang mengajarkan Allah bertempat seperti manusia. Juga tidak mengajarkan "mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya". Bahkan sebaliknya, da'wah salaf mengajarkan untuk kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dan memahamai keduanya sebagaimana pemahaman salafusshhalih.
Ketika saya tanya:
2. Dalam masalah madzhab, jika Anda menyatakan bermadzhab Syafi'i, apakah tidak boleh kemudian mengikuti pemahaman imam Ahmad misalnya mengingat dalam pengkajian yang ada Anda melihat dalam permasalahan itu imam Ahmad lebih rajih pendapat dan hujjahnya?
Anda jawab:
Berdasarkan apa mengatakan pendapat seorang ulama lebih rajih (lebih kuat) dari pendapat ulama yang lain ? akal pikiran sendiri ?
Saya tanya lagi dalam beberapa poin:
1. Masalah fiqih itu luas. Kalau Anda menyerukan untuk bermadzhab, bagaimana jika dalam pengkajian yang ada terdapat hujjah lain dari 'ulama lain yang lebih kuat? Anda mengikuti imam madzhab tersebut -sekalipun lemah hujjahnya- atau mengikuti 'ulama lain -sekalipun beda madzhab- yang hujjahnya lebih kuat?
2. Perhatikan bahwa para 'ulama, baik imam madzhab yang empat maupun lainnya, berbeda pendapat dalam masalah zakat emas, makna fii sabilillah, paha termasuk aurat atau bukan, istilah "menyentuh wanita" dsb. Ketika Anda memilih salah satu pendapat yang ada, berdasarkan "mana yang lebih rajih, lebih kuat hujjahnya" atau "karena saya bermadzhab X maka saya ikut ulama X"?
Sebagai bacaan lihat di:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/sifat-puasa-nabi-vs-sifat-puasa-wahabi.htmlKetika saya tanya:
3. Dimana, dalam tulisan apa Anda dapati bahwa Zionis itu mengajarkan mengikuti pemahaman salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab yang empat?
ANda jawab:
Yup, begitu halusnya hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi.
Contoh akibatnya segelintir kaum muslim tata cara sholatnya mengikuti akal pikiran ulama yang terkena hasutan untuk mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat , namun mereka tidak dikenal berkompetensi untuk berijtihad dan beristinbat. -delete-
Perhatikan Zon, saya nanya apa dan apa jawaban Anda. Darimana Anda dapati bahwa zionis itu mengajarkan kita mengikuti salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab?
Ketika saya tanya:
4. Begitu pula, dimana Anda dapati seorang salafi atau ustadz salafi yang mengajarkan untuk meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)?
ANda jawab:
Mereka bahkan bukan mengikuti Salafush Sholih namun mereka mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti Salafush Sholeh namun tidak bertalaqq (mengaji) dengan Salafush Sholeh.
Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbal mengatakan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung ulama Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:
“Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).
Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).
“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).
Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:
“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).
“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).
Lagi-lagi Zon, saya nanya apa dan jawabnya apa.
Seharusnya Anda menjawab, misalnya:
- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab X menyatakan "kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"
- Ibnu Taimiyyah dalam kitab Y menyatakan ""kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"
- SYaikh Utsaimin dalam kitab Z menyatakan ""kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"
Itu yang harusnya ANda buktikan. Bukan menukil ucapan orang yang membenci wahhabi, kemudian menuduh syaikh itu begini-begini, kemudian Anda langsung menerima dan menuduh salafiyin sekarang juga seperti itu....
Anda tentu tidak akan menerima jika dikatakan: ZOnJonggol itu mengajarkan untuk makan riba. Buktinya ada tetangganya yang menyatakan:
"Hari ini kita diuji dengan orang bernama Zonjonggol yang mengajarkan untuk makan riba".
Sementara, buku-buku tulisan Anda, murid-murid Anda, semuanya mengajarkan dan tertulis untuk menjauhi riba.
Itu bagi Anda, begitu pula bagi salafiyin.
Tidak akan salafiyin itu menerima jika dituduh mengajarkan "kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)". Sementara tulisan para da'i dan masyayaikh mengajarkan untuk kembali kepada Al QUr'an dan As SUnnah berdasarlkan pemahaman salafusshalih. Salafiyin juga menjadikan para 'ulama sebagai jembatan untuk memahami ilmu Islam (bahkan itu judul dalam salah satu majalah salafi). Kajian-kajian salafi juga penuh dengan rujukan dari imam madzhab dan ulama lainnya. Buku "Aqidah Empat Imam MAdzhab" yang memuat perkataan imam madzhab yang empat juga disebarkan dalam rangka menunjukkan bahwa pemahaman aqidah itu satu dan salaafiyin bersama para ulama itu sama memahami aqidah ini.
Ketika saya tanya:
5. Dalam hal apa, baik itu aqidah maupun fiqih, salafiyin itu berbeda pemahamannya dengan imam madzhab yang empat atau bahkan berbeda dengan ulama-ulama salafusshalih?
Anda jawab:
Pertanyaan ini mudah-mudahan sudah terjawab dari jawaban-jawaban di atas
Ya jelas belum Zon. Anda belum menyebutkan contohnya. Harusnya Anda cari contoh dari pemahaman salafiyin sekarang yang berbeda dengan imam amdzhab yang empat dan salafusshalih sebelumnya. Misalnya:
-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab X menyebutkan "Allah memilki YAd", ini bertentangan dengan pemahamah Imam Syafi'i yang menyatakan dalam kitab Y bahwa Allah tidak memiliki tangan.
-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab M mengajarkan kalau mayat habis dikubur, setelah 2, 4 dan 50 hari hendaknya kumpul-kumpul dan ditahlili, hal ini bertentangan dengan Imam Syafi'i yang mengajarkan bahwa berkumpul itu bagian dari niyahah
-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab N mengajarkan untuk mengambil berkah dari bekas wudlu orang shalih, sandal orang shalih, tempat duduk orang shalih, yang kesemuanya itu bukan Nabi, hal ini bertentangan dengan salafusshalih pada jaman shahabat yang tidak mengambil berkah dari bekas orang shalih selain Nabi.
Itu cuma contoh lho, yang seperti itu yang saya harapkan. Pemahaman salafi sekarang seperti apa, pemahaman salafusshalih seperti apa, yang keduanya bertentangan.
Gitu dulu, wallahu a'lam bisshawab.