Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Diskusi Dengan ZonJonggol  (Dibaca 797 kali)


Offline ab_ha

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 129
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« pada: 01 Februari 2012, 20:54:50 »
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, asholatu wassalaamu'ala Rasulillah.

Di DDI, ada nama ZonJonggol.  Profilnya di: http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;u=72273

 Ciri-ciri tulisannya:

1.  Panjang-panjang

Tulisannya panjang-panjang, akan tetapi sering mengulang dari tulisannya yang lain.  Kadang kita juga disuruh melihat di blognya mutiarazuhud. 
 
2.  Menyerang salafi

Hampir setiap tulisannya, entah tentang imam madzhab, tentang ghazwul fikri, tentang tasawwuf, hampir selalu ujung-ujungnya mengkritik salafi.

3.  Susah diajak diskusi

Poin 1 dan 2 bukan merupakan kesalahan tulisan, dalam arti silakan buat tulisan panjang dan mengkritik salafi, yang penting ilmiah dan dialogis.  Sayang sekali beliau susah diajak diskusi.  Lihat apa yang telah ia tuliskan di: http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;area=showposts;u=72273 hampir semuanya merupakan thread baru tanpa melayani dialog.  Di profil facebooknya (kalau memang itu benar), dengan foto profil senyum lebar  (dulu, sekarang mungkin masih), isinya juga monolog.

Saya bayangkan, Zon ini orang yang kerjaannya di depan komputer, memuntahkan uneg-unegnya dan kemarahannya terhadap salafi, dan sudah merasa puas ketika sudah menuliskan tanpa perlu mengkoreksi bisa jadi tulisannya keliru, tanpa perlu membaca orang yang mengkritik tulisannya.

Tazkiyatunnafs yang dicita-citakan kaum sufi, ahlak mulia yang ditunjukkan ahli zuhud, semuanya adalah dialogis.  Kita tidak bisa mengklaim apa yang kita pahami mesti benar.  Seorang salafi yang sebenarnya juga seperti itu.  Sekalipun dia katakan ini hujjahku, akan tetapi tetap membuka diri terhadap masukan: bisa jadi ada hujjah lain yang lebih kuat, sama kuat, atau bagian dari khilafiyah yang bisa bertasammuh.

Tulisan ini bukan saya tujukan untuk menyerang pribadi, akan tetapi untuk menyadarkan saudara kita Zon dan yang semodel (enggan dialog) untuk membuka diri.   Bahasa lainnya "membuka tutup tempurung yang ada" sehingga bisa melihat luasnya diinul Islam ini dengan tetap dalam bingkai manhaj yang haq, yaitu Islam yang dipahami oleh Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wassalam dengan pemahaman as salaf al shalih.

Wallahu a'lam bisshawab.

Offline ZonJonggol

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 182
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 02 Februari 2012, 14:55:26 »
Alhamdulillah

Terima kasih, mas Ab_ha telah mendeskripsikan tentang kami.

Insya Allah, kami akan menjawab pertanyaan atau komentar yang disampaikan dengan baik. Terlebih lagi jika jelas nama dan identitas mereka

Kami tidak pernah bermaksud menyerang saudara-saudara muslim kami.

Kami berupaya meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini karena Allah ta'ala semata dalam rangka menegakkan Ukhuwah Islamiyah

Telah kami analisa dan kaji penyebab dari kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi adalah karena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi

Hasutan yang paling utama adalah kaum Zionis Yahudi menghasut kaum muslim untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah menurut akal pikiran masing-masing yang bertujuan untuk menimbulkan perselisihan karena perbedaan pemahaman.

Kaum Zionis Yahudi menghasut kaum muslim untuk meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun mereka "menyodorkan" pemahaman  ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh

Sekarang pakailah akal sehat, mana yang lebih baik

1. Mengikuti pemahaman para ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh

atau

2. Mengikuti pemahaman Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh

dan kita ketahui Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.

« Edit Terakhir: 02 Februari 2012, 16:59:24 oleh ZonJonggol »

Offline ab_ha

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 129
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 02 Februari 2012, 17:48:33 »
Baiklah Zon, kita mulai dari permasalahan madzhab dan kedudukan akal.  Pertanyaannya:

1.  Dimana Anda dapatkan pernyataan atau tulisan dari da'wah salafi bahwa mereka itu mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As SUnnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya?

2. Dalam masalah madzhab, jika Anda menyatakan bermadzhab Syafi'i, apakah tidak boleh kemudian mengikuti pemahaman imam Ahmad misalnya mengingat dalam pengkajian yang ada Anda melihat dalam permasalahan itu imam Ahmad lebih rajih pendapat dan hujjahnya? 

3.  Dimana, dalam tulisan apa Anda dapati bahwa Zionis itu mengajarkan mengikuti pemahaman salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab yang empat?

4. Begitu pula, dimana Anda dapati seorang salafi atau ustadz salafi yang mengajarkan untuk meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)?

5.  Dalam hal apa, baik itu aqidah maupun fiqih, salafiyin itu berbeda pemahamannya dengan imam madzhab yang empat atau bahkan berbeda dengan ulama-ulama salafusshalih?

Lima dulu Zon, tolong dijawab.

Offline ZonJonggol

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 182
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 02 Februari 2012, 19:48:31 »
Baiklah Zon, kita mulai dari permasalahan madzhab dan kedudukan akal.  Pertanyaannya:

1.  Dimana Anda dapatkan pernyataan atau tulisan dari da'wah salafi bahwa mereka itu mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya?


Kita sudah mengetahui bahwa ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh pada kenyataanya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.

Mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).  Memang semula mereka  pada umumnya bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali. Namun pada akhirnya mereka lebih menyandarkan kepada akal pikiran mereka sendiri sehingga menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat.  Hal ini telah diuraikan contohnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/

Para ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak)  melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,
1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin
2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya

Kutip dari: ab_ha
2. Dalam masalah madzhab, jika Anda menyatakan bermadzhab Syafi'i, apakah tidak boleh kemudian mengikuti pemahaman imam Ahmad misalnya mengingat dalam pengkajian yang ada Anda melihat dalam permasalahan itu imam Ahmad lebih rajih pendapat dan hujjahnya? 
Berdasarkan apa mengatakan pendapat seorang ulama lebih rajih (lebih kuat) dari pendapat ulama yang lain ? akal pikiran sendiri ?

Kutip dari: ab_ha
3.  Dimana, dalam tulisan apa Anda dapati bahwa Zionis itu mengajarkan mengikuti pemahaman salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab yang empat?

Yup, begitu halusnya hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi.

Contoh akibatnya segelintir kaum muslim tata cara sholatnya mengikuti akal pikiran ulama yang terkena hasutan untuk mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat , namun mereka tidak dikenal berkompetensi untuk berijtihad dan beristinbat. Apa pendapat ulama lainnya tentang ulama yang terkena hasutan tersebut ? . Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/ 

Salah satunya dari seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau mengatakan dalam tulisannya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9 bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat”

Kutip dari: ab_ha
4. Begitu pula, dimana Anda dapati seorang salafi atau ustadz salafi yang mengajarkan untuk meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)?
Mereka bahkan bukan mengikuti Salafush Sholih namun mereka mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti Salafush Sholeh namun tidak bertalaqq (mengaji) dengan Salafush Sholeh.

Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbal mengatakan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung ulama Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

“Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).

Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Kutip dari: ab_ha
5.  Dalam hal apa, baik itu aqidah maupun fiqih, salafiyin itu berbeda pemahamannya dengan imam madzhab yang empat atau bahkan berbeda dengan ulama-ulama salafusshalih?

Pertanyaan ini mudah-mudahan sudah terjawab dari jawaban-jawaban di atas

« Edit Terakhir: 02 Februari 2012, 20:09:20 oleh ZonJonggol »

Offline ab_ha

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 129
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 03 Februari 2012, 23:25:42 »
Zon, semoga Allah membimbing Anda dan kita semua.

Saya ulangi pertanyaan saya, mengingat Anda belum menjawab.  Kita akan liat jawaban Anda yang sebagian saya singkat (del) untuk menunjukkan Anda sebetulnya belum menjawab dengan tepat.

Ketika saya tanya:
1.  Dimana Anda dapatkan pernyataan atau tulisan dari da'wah salafi bahwa mereka itu mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya?

Anda jawab:

Kita sudah mengetahui bahwa ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh pada kenyataanya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.

Mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).  Memang semula mereka  pada umumnya bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali. Namun pada akhirnya mereka lebih menyandarkan kepada akal pikiran mereka sendiri sehingga menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat.  Hal ini telah diuraikan contohnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/

Saya telah membaca link yang Anda sebutkan, tetapi itu tidak menjawab pertanyaan saya.  Kaidah "mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya" Anda gembar-gemborkan dalam tulisan Anda seolah itu bagian dari ajaran da'wah salafi sekarang ini, tetapi Anda tidak bisa menunjukkan dimana ajaran seperti itu disampaikan oleh asaatidzah ataupun masyayikh yang menyerukan da'wah salaf sekarang ini.  Link yang Anda sebutkan hanya menyebutkan tentang 'kesesatan salafi' yang menyatakan Allah bertempat (ini juga tuduhan bathil), yang berbeda dengan pemahaman imam Ahmad.  Padahal, da'wah salafi sekarang ini tidak ada yang mengajarkan Allah bertempat seperti manusia.  Juga tidak mengajarkan "mencukupkan diri memahami Al Qur'an dan As Sunnah menggunakan akal sendiri tanpa merujuk atau melihat kepada pemahaman ulama pendahulunya".  Bahkan sebaliknya, da'wah salaf mengajarkan untuk kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dan memahamai keduanya sebagaimana pemahaman salafusshhalih.

Ketika saya tanya:
2. Dalam masalah madzhab, jika Anda menyatakan bermadzhab Syafi'i, apakah tidak boleh kemudian mengikuti pemahaman imam Ahmad misalnya mengingat dalam pengkajian yang ada Anda melihat dalam permasalahan itu imam Ahmad lebih rajih pendapat dan hujjahnya? 
Anda jawab:
 
Berdasarkan apa mengatakan pendapat seorang ulama lebih rajih (lebih kuat) dari pendapat ulama yang lain ? akal pikiran sendiri ?

Saya tanya lagi dalam beberapa poin:

1.  Masalah fiqih itu luas.  Kalau Anda menyerukan untuk bermadzhab, bagaimana jika dalam pengkajian yang ada terdapat hujjah lain dari 'ulama lain yang lebih kuat?  Anda mengikuti imam madzhab tersebut -sekalipun lemah hujjahnya- atau mengikuti 'ulama lain -sekalipun beda madzhab- yang hujjahnya lebih kuat?

2. Perhatikan bahwa para 'ulama, baik imam madzhab yang empat maupun lainnya, berbeda pendapat dalam masalah zakat emas, makna fii sabilillah, paha termasuk aurat atau bukan, istilah "menyentuh wanita" dsb.  Ketika Anda memilih salah satu pendapat yang ada, berdasarkan "mana yang lebih rajih, lebih kuat hujjahnya" atau "karena saya bermadzhab X maka saya ikut ulama X"? 
Sebagai bacaan lihat di: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/sifat-puasa-nabi-vs-sifat-puasa-wahabi.html




Ketika saya tanya:
3.  Dimana, dalam tulisan apa Anda dapati bahwa Zionis itu mengajarkan mengikuti pemahaman salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab yang empat?

ANda jawab:
Yup, begitu halusnya hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi.

Contoh akibatnya segelintir kaum muslim tata cara sholatnya mengikuti akal pikiran ulama yang terkena hasutan untuk mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat , namun mereka tidak dikenal berkompetensi untuk berijtihad dan beristinbat.   -delete-

Perhatikan Zon, saya nanya apa dan apa jawaban Anda.  Darimana Anda dapati bahwa zionis itu mengajarkan kita mengikuti salafusshalih dan meninggalkan imam madzhab?


Ketika saya tanya:
4. Begitu pula, dimana Anda dapati seorang salafi atau ustadz salafi yang mengajarkan untuk meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)?

ANda jawab:


Mereka bahkan bukan mengikuti Salafush Sholih namun mereka mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti Salafush Sholeh namun tidak bertalaqq (mengaji) dengan Salafush Sholeh.

Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbal mengatakan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung ulama Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

“Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).

Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Lagi-lagi Zon, saya nanya apa dan jawabnya apa.
Seharusnya Anda menjawab, misalnya:

- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab X  menyatakan "kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"
- Ibnu Taimiyyah dalam kitab Y menyatakan ""kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"
- SYaikh Utsaimin dalam kitab Z menyatakan ""kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)"

Itu yang harusnya ANda buktikan.  Bukan menukil ucapan orang yang membenci wahhabi, kemudian menuduh syaikh itu begini-begini, kemudian Anda langsung menerima dan menuduh salafiyin sekarang juga seperti itu....

Anda tentu tidak akan menerima jika dikatakan: ZOnJonggol itu mengajarkan untuk makan riba.  Buktinya ada tetangganya yang menyatakan:
"Hari ini kita diuji dengan orang bernama Zonjonggol yang mengajarkan untuk makan riba".
Sementara, buku-buku tulisan Anda, murid-murid Anda, semuanya mengajarkan dan tertulis untuk menjauhi riba.

Itu bagi Anda, begitu pula bagi salafiyin.

Tidak akan salafiyin itu menerima jika dituduh mengajarkan "kita harus meninggalkan imam madzhab yang empat dan mengikuti salafusshalih (saja)".  Sementara tulisan para da'i dan masyayaikh mengajarkan untuk kembali kepada Al QUr'an dan As SUnnah berdasarlkan pemahaman salafusshalih.   Salafiyin juga menjadikan para 'ulama sebagai jembatan untuk memahami ilmu Islam (bahkan itu judul dalam salah satu majalah salafi).  Kajian-kajian salafi juga penuh dengan rujukan dari imam madzhab dan ulama lainnya.  Buku "Aqidah Empat Imam MAdzhab" yang memuat perkataan imam madzhab yang empat juga disebarkan dalam rangka menunjukkan bahwa pemahaman aqidah itu satu dan salaafiyin bersama para ulama itu sama memahami aqidah ini.


Ketika saya tanya:
5.  Dalam hal apa, baik itu aqidah maupun fiqih, salafiyin itu berbeda pemahamannya dengan imam madzhab yang empat atau bahkan berbeda dengan ulama-ulama salafusshalih?

Anda jawab:
Pertanyaan ini mudah-mudahan sudah terjawab dari jawaban-jawaban di atas

Ya jelas belum Zon.  Anda belum menyebutkan contohnya.  Harusnya Anda cari contoh dari pemahaman salafiyin sekarang yang berbeda dengan imam amdzhab yang empat dan salafusshalih sebelumnya.  Misalnya:

-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab X menyebutkan "Allah memilki YAd", ini bertentangan dengan pemahamah Imam Syafi'i yang menyatakan dalam kitab Y bahwa Allah tidak memiliki tangan.

-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab M mengajarkan kalau mayat habis dikubur, setelah 2, 4 dan 50 hari hendaknya kumpul-kumpul dan ditahlili, hal ini bertentangan dengan Imam Syafi'i yang mengajarkan bahwa berkumpul itu bagian dari niyahah

-Ulama fulan yang mengajarkan da'wah salaf dalam kitab N mengajarkan untuk mengambil berkah dari bekas wudlu orang shalih, sandal orang shalih, tempat duduk orang shalih, yang kesemuanya itu bukan Nabi,  hal ini bertentangan dengan salafusshalih pada jaman shahabat yang tidak mengambil berkah dari bekas orang shalih selain Nabi.

Itu cuma contoh lho, yang seperti itu yang saya harapkan.  Pemahaman salafi sekarang seperti apa, pemahaman salafusshalih seperti apa, yang keduanya bertentangan.

Gitu dulu, wallahu a'lam bisshawab.

Offline ZonJonggol

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 182
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 03 Februari 2012, 23:48:09 »

maaf, mas Ab_ha kami tidak mempunyai banyak waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya

begini saja

pakailah akal qalbu mas, mana yang lebih baik

mengikuti pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman salafush sholeh namun tidak bertalaqqi dengan Salafush Sholeh

atau

mengikuti pemahaman imam mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh

terlebih lagi Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu kala sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (imam mujtahid mutlak)

Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh langsung dari lisannya Salafush Sholeh
Imam Mazhab yang empat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh

Offline jendral.buncit

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 883
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 04 Februari 2012, 00:27:11 »
nah sekarang imam mazhab yang empat yang mana yang shalatnya pakai ushali...
membangun keimanan dari cerita bohong hanya menghasilkan kebodohan

Offline marjuki

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2012
  • Tulisan: 119
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 04 Februari 2012, 09:48:53 »
maaf, mas Ab_ha kami tidak mempunyai banyak waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya

begini saja

pakailah akal qalbu mas, mana yang lebih baik

mengikuti pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman salafush sholeh namun tidak bertalaqqi dengan Salafush Sholeh

atau

mengikuti pemahaman imam mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh

terlebih lagi Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu kala sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (imam mujtahid mutlak)

Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh langsung dari lisannya Salafush Sholeh
Imam Mazhab yang empat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh

oh anda ini spertinya tipe laki-laki hanya omdo ya, jumlah tulisan anda itu lebih banyak dari pertanyaannya pak abha, bikin tulisan banyak bisa tapi ditanya bukti sumber tulisannya gak bisa jawab.

ketika anda diminta menjawab dengan bukti yang nyata anda menjawab asal tulis saja malah berkilah tidak punya banyak waktu menjawab

tidak punya banyak waktu atau tidak mampu?
tidak mampu atau tidak yakin dengan kebenaran versi sendiri?

kalaulah anda mengkritik kekotoran hati salafiyin, keburukan akhlaq salafiyin, dan kejelekan lainnya

ternyata anda tidak lebih baik dari mereka, hanya omdo besar kuadrat saja

menyedihkan

malu lah pada diri sendiri,

anda tidak mencontohkan yang lebih baik dari salafiyin yang anda kritik
tulisan anda tidak berisi solusi, lebih tepatnya wacana omong besar tanpa bisa dipertanggung jawabkan

entah siapa salafush sholih yang mengajarkan sifat omong besar seperti yang anda lakukan ini pak zon

sungguh menyedihkan
« Edit Terakhir: 04 Februari 2012, 10:18:55 oleh marjuki »

Offline peace090

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 206
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 04 Februari 2012, 17:54:29 »
Maaf menimpali :)
Sungguh apa yang diterangkan bang zon telah banyak, tapi anda tak melihatnya :)
Saya contoh sederhana, supaya jelas bagi anda
Misalnya ulama i memuji maulid sebagaimana dinyatakan sebagai madzhab i, yang telah lama wafat dari ulama anda yang saya nyatakan dengan ulama a di masa sekarang :)
Tapi ulama a melarang maulid dinyatakan sebagai manhaj salaf :)
Secara tak langsung ulama a telah menyatakan untuk tidak mengikuti madzhab i yang nyatanya ulama i yang lebih dekat hidupnya dengan masa Rasulullah SAW :)
Kalau hanya tidaklah sependapat atau menyatakan tidak setuju sebagai manhaj ulama a, bukan dengan istilah salaf, itu tak mengapa :)
Tapi nyatanya ulama anda mencatut "salaf" adalah manhaj 3 generasi setealah Rasulullah SAW, yang jelas lebih dekat masanya dengan ulama i, daripada ulama a yang merupakan lahir belakangan ;)
Dan telah terbukti semakin bertambah waktu semakin berkembang ilmu, semakin banyak bertambah ragam pemikiran manusia, tentu semakin bertambah penyimpangan atau penambahan baik itu positif atau negatif terhadap ilmu/pengetahuan dasar manusia bukan ;) Inilah dasar pelarangan bid'ah saya dapatkan salah satu dari jamaah salafiyun di dunia nyata :)
Dan ulama yang mendapat fasilitas dari penguasa bisa terpengaruh penguasa tentunya, kecuali yang istiqomah, seperti Hamka (semoga Allah merahmati beliau atas jasanya memperkenalkan tasawuf modern) yang bertahan menolak ucapan selamat natal hingga kematiannya, dilatari juga tekanan dari rezim Orde baru sangat kuat waktu itu :)
Jadi secara statistik, dimanakah yang lebih banyak penyimpangan timbul dimasa ulama i ataukah di masa ulama a, dilihat dari kehidupan ulama i adalah tidak terikat dengan penguasa, sedangkan ulama a adalah mufti besar suatu kerajaan :)
Jadi ngak akan ketemu istilah ulama a melarang mengikuti ulama i, tapi ulama a tidak hanya sependapat dengan sesuatu yang disetujui ulama i bahkan menuduh bid'ah, yang akhirnya tuduhan bid'ah menuju neraka ???Sungguh tuduhan yang zalim dari seseorang yang mengaku berilmu >:(
Semoga bermanfat, dan maaf, saya ngak bermaksud menyudutkan manhaj anda, tapi hanya berbagi pemikiran secara sportif :)
Semoga  anda telah tuduhkan pengikut iblis atau syiah seperti saya alami berhujjah dengan jamaah salafiyun di dunia nyata :)
Saya hanya berbagi pemikiran tak lebih dan tak ada niat merubah anda karena semua diberikan kesempatan olehNya ;)
Semoga bermanfaat dan tercerahkan;)

Offline marjuki

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2012
  • Tulisan: 119
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 05 Februari 2012, 09:43:00 »
Maaf menimpali :)
Sungguh apa yang diterangkan bang zon telah banyak, tapi anda tak melihatnya :)
Saya contoh sederhana, supaya jelas bagi anda
Misalnya ulama i memuji maulid sebagaimana dinyatakan sebagai madzhab i, yang telah lama wafat dari ulama anda yang saya nyatakan dengan ulama a di masa sekarang :)
Tapi ulama a melarang maulid dinyatakan sebagai manhaj salaf :)
Secara tak langsung ulama a telah menyatakan untuk tidak mengikuti madzhab i yang nyatanya ulama i yang lebih dekat hidupnya dengan masa Rasulullah SAW :)
Kalau hanya tidaklah sependapat atau menyatakan tidak setuju sebagai manhaj ulama a, bukan dengan istilah salaf, itu tak mengapa :)
Tapi nyatanya ulama anda mencatut "salaf" adalah manhaj 3 generasi setealah Rasulullah SAW, yang jelas lebih dekat masanya dengan ulama i, daripada ulama a yang merupakan lahir belakangan ;)
Dan telah terbukti semakin bertambah waktu semakin berkembang ilmu, semakin banyak bertambah ragam pemikiran manusia, tentu semakin bertambah penyimpangan atau penambahan baik itu positif atau negatif terhadap ilmu/pengetahuan dasar manusia bukan ;) Inilah dasar pelarangan bid'ah saya dapatkan salah satu dari jamaah salafiyun di dunia nyata :)
Dan ulama yang mendapat fasilitas dari penguasa bisa terpengaruh penguasa tentunya, kecuali yang istiqomah, seperti Hamka (semoga Allah merahmati beliau atas jasanya memperkenalkan tasawuf modern) yang bertahan menolak ucapan selamat natal hingga kematiannya, dilatari juga tekanan dari rezim Orde baru sangat kuat waktu itu :)
Jadi secara statistik, dimanakah yang lebih banyak penyimpangan timbul dimasa ulama i ataukah di masa ulama a, dilihat dari kehidupan ulama i adalah tidak terikat dengan penguasa, sedangkan ulama a adalah mufti besar suatu kerajaan :)
Jadi ngak akan ketemu istilah ulama a melarang mengikuti ulama i, tapi ulama a tidak hanya sependapat dengan sesuatu yang disetujui ulama i bahkan menuduh bid'ah, yang akhirnya tuduhan bid'ah menuju neraka ???Sungguh tuduhan yang zalim dari seseorang yang mengaku berilmu >:(
Semoga bermanfat, dan maaf, saya ngak bermaksud menyudutkan manhaj anda, tapi hanya berbagi pemikiran secara sportif :)
Semoga  anda telah tuduhkan pengikut iblis atau syiah seperti saya alami berhujjah dengan jamaah salafiyun di dunia nyata :)

tulisan dan penjelasan anda lumayan panjang,

kan saya sudah akui tulisannya pak zon memang banyak, banyaknya itu karena asal tulis..karena saat diminta sumbernya yang jelas...gak bisa jawab dengan jelas, ngeles kesana-kesini

jadi tidak perlu bertele-tele jawab saja pertanyaannya pak abha, kalau anda mau bantu jawab juga bisa

cerita tasawuf tapi tulisannya tidak mencerminkan pelaku tasawuf yang rendah hati, cerita kebersihan jiwa tetapi jiwanya dikotori sendiri oleh hawa nafsu

hasilnya...OMDO BESAR

Offline peace090

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 206
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 05 Februari 2012, 13:14:49 »
Kutip
cerita tasawuf tapi tulisannya tidak mencerminkan pelaku tasawuf yang rendah hati, cerita kebersihan jiwa tetapi jiwanya dikotori sendiri oleh hawa nafsu

Semua kesalahan timbul dari kesalapahaman akibat dasar pemikiran yang berbeda antara ahli tasawuf dengan salafiyun sendiri dalam banyak hal, terlebih jika salafiyun sering mengucapkan kata2 tak ada gunanyayang melabeli atau menghukum jadi kami orang yang kotor dg nafsu dsb tentu saja banyak diskusi tak berjalan baik ;)
Seperti sebelumnya saya bilang, menjabarkan sesuatu dengan jelas memang tak cukup satu kalimat, karena kami ibarat melihat tak cukup menatap satu arah saja tapi perlu mengelilinginya hingga dapat gambaran utuh :) karena itu terkesan agak panjang :)
Jadi, yang diminta ts, seperti ungkapan langsung yang dicontohkannya tak akan ketemu :)
Seperti melarang mengikuti madzhab tertentu dari syaikh salafiyun, tapi di dunia nyata saya pernah ketemu kok   :)

Tapi ucapan secara tak langsung pasti ketemu, seperti pelarangan maulid oleh syaikh dan jamaah salafiyun , tapi bagi kami termasuk ibnu taimiyah sendiri memuji maulid, selagi tidak diisi dengan kemaksiatan  ;)
Jadi kalo bertanya baiknya sama bang zon, sesuai dengan topik ts, dan lebih jelas, dengan fokus pada pembicaraaan, dan hindarilah kata2 subjektif sebagai saran saya aja :)
Semoga bermanfaat, salam damai selalu ;)
Saya hanya berbagi pemikiran tak lebih dan tak ada niat merubah anda karena semua diberikan kesempatan olehNya ;)
Semoga bermanfaat dan tercerahkan;)

Offline Ahmed Yaseen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • الله أكبر
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 05 Februari 2012, 18:27:49 »


1. Mengikuti pemahaman para ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh



Ulama mana yang mengaku salafusshaleh? Dan maaf, setahu saya, jika salafi-salafi yang anda maksudkan adalah salaf-salaf di Timur Tengah, mereka juga berpegang kepada salah satu dari empat mazhab, yaitu Hanbali atau Maliki. Ulama-ulamanya juga memakai mazhab2 tersebut.
لا إله إلا الله محمد رسول الله