Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Apakah perbuatan Yang Nabi Tinggalkan dan Para sahabat Tidak laksanakan = haram?  (Dibaca 8309 kali)


Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« pada: 25 Januari 2012, 14:56:38 »
sering sekali kita mendapati, ada golongan yang menggunakan serampangan qaul Imam Ibnu Katsir untuk menghukumi amalan ibadah kelompok lain, dan seolah qaul ini teramat mujarab sekali untuk menjadi dasar mereka membid'ahkan setiap amalan-amalan yang dilakukan oleh kelompok lain,

Kutip
Apakah perbuatan Yang Nabi Tinggalkan dan Para sahabat Tidak laksanakan Langsung bermakna pelarangan dan Haram?

Demikianlah cara pandang sebagian kalangan memberikan penilaian terhadap sebagian amal perbuatan umat Islam. Mereka secara instan memberikan label haram dan bid’ah hanya karena ‘Nabi meninggalkannya’ dan ‘Para sahabat tidak melaksanakannya’, dan Lau kaana khairan lasabaquuna ilaih (seandainya itu baik, maka niscaya mereka akan lebih dahulu melaksanakannya). Sebenarnya, tak ada salahnya dengan alasan-alasan ini, hanya saja jika diterapkan secara pukul rata, maka jelas merupakan ekstrimitas dan kurang memahami bagaimana para ulama umat dalam menyimpulkan sebuah hukum.

Ada sebuah puisi Syaikh Al ‘Allamah Sayyid Abdullah bin Shiddiq Al Ghummari  dalam  risalah berjudul Husnu Tafahhum wad Daraki Li Mas’ali Taraki.  Puisi ini adalah sindiran untuk kaum yang menjadikan ‘hal yang ditinggalkan’ oleh Nabi adalah terlarang.

Meninggalkan suatu amalan bukanlah hujjah dalam syariat kita

Dan ia tidak bermakna pelarangan atau kewajiban

Siapa yang melarang perbuatan dengan alasan Nabi meninggalkannya

Lalu berpendapat itulah hukum yang benar dan tepat

Sungguh Dia telah menyimpang dari semua dalil-dalil

Bahkan Keliru dalam memutuskan hukum yang shahih, dan dia telah gagal

Tidak ada pelarangan kecuali pelarangan yang diiringi Dengan ancaman dan siksa bagi pelanggarnya

Atau kecaman terhadap suatu perbuatan, dan disertai bentuk sanksi yang pasti

Atau lafaz mengharamkan untuk perkara tercela

Para ulama kaum muslimin, Timur dan Barat, masa lalu atau sekarang telah sepakat bahwa ‘hal ditinggalkan’ itu bukanlah kaidah atau konsep untuk menyimpulkan hukum. Metode yang digunakan para sahabat untuk menetapkan suatu hukum menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram adalah mengikuti metode istimbath dari dalil berdasarkan pada:

1.       Adanya nash dari Al Quran

2.       Adanya nash dari As Sunnah

3.       Ijma’ atas suatu hukum

4.       Qiyas (Analogi)


Inilah yang disepakati, kecuali kaum zhahiriyah yang menolak qiyas. Namun, para ulama berbeda pendapat dalam pemakaian kaidah untuk menetapkan hukum syariat, antara lain:


1.       Fatwa sahabat

2.       Perbuatan penduduk Madinah

3.       Syar’u man Qablana (syariat kaum sebelum kita)

4.       Istihsan

5.       mashalih mursalah

6.       Sadd Adz Dzara’i

7.       ‘Urf (tradisi)

8.       Istishhab, dan kaidah lain yang masyhur dalam dialektika fuqaha ketika menyimpulkan sebuah ketetapan hukum.

Tak satu pun mereka menempatkan ‘hal yang dtinggalkan’ sebagai kaidah atau konsep dalam.

Dengan demikian, ‘hal yang ditinggalkan’ secara tersendiri tidaklah menunjukkan suatu hukum syariat. Inilah kesepakatan ulama Islam.

Banyak bukti dan pendukung dan atsar para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, bahwa ketika Rasulullah meninggalkan sesuatu mereka tidak memahaminya sebagai suatu perbuatan yang haram atau dimakruhkan. Demikianlah yang dipahami para fuqaha dari masa ke masa. Namun, bukan di sini tempatnya kami memaparkan bukti, pendukung, dan atsar sahabat tersebut. Namun, mudah-mudahan ini sudah bisa memadai. http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/95

dan seringkali yang menjadi hal yang aneh dan lucu, kadang mereka melakukan standar ganda dalam penerapan qaul Imam Ibnu Katsir ini.

kita ambil contoh mengenai dakwah parpol
mereka mengharamkannya dengan alasan tidak ada contohnya,

namun ketika mereka berbicara dakwah yayasan/radio/sekolah maka hal tersebut tidak mengapa karena itu hanya wasilah meski tidak dicontohkan  :bercanda:

silakan anda lihat betapa aneh dan lucunya standar ganda mereka  :siul:

banyak kalau mau dibahas 1-1 tentang inkonsistensi dan standar ganda mereka dalam menerapkan qaul Imam Ibnu Katsir tersebut.
« Edit Terakhir: 25 Januari 2012, 15:19:54 oleh dra »

Online SI04032

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 662
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 25 Januari 2012, 15:06:11 »
^ Artikel yang bagus dari Ustad Abu Hudzaifah (sayang udah lama ga main di sini lagi)

saya coba nambahin contoh ya Kang, Nabi  meninggalkan shalat setiap malam di Bulan Ramadhan secara berjamaah namun hal ini justru dilakukan oleh para sahabat.  :)
Mencela seorang Muslim itu -termasuk perbuatan- fasiq, dan memeranginya adalah kekufuran (HR. Bukhari)

Offline Bimo Bagas

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.317
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 25 Januari 2012, 15:26:27 »
sering sekali kita mendapati, ada golongan yang menggunakan serampangan qaul Imam Ibnu Katsir untuk menghukumi amalan ibadah kelompok lain, dan seolah qaul ini teramat mujarab sekali untuk menjadi dasar mereka membid'ahkan setiap amalan-amalan yang dilakukan oleh kelompok lain,

dan seringkali yang menjadi hal yang aneh dan lucu, kadang mereka melakukan standar ganda dalam penerapan qaul Imam Ibnu Katsir ini.

kita ambil contoh mengenai dakwah parpol
mereka mengharamkannya dengan alasan tidak ada contohnya,

namun ketika mereka berbicara dakwah yayasan/radio/sekolah maka hal tersebut tidak mengapa karena itu hanya wasilah meski tidak dicontohkan  :bercanda:

silakan anda lihat betapa aneh dan lucunya standar ganda mereka  :siul:

banyak kalau mau dibahas 1-1 tentang inkonsistensi dan standar ganda mereka dalam menerapkan qaul Imam Ibnu Katsir tersebut.


Perbuatan yang ditinggalkan Rasul itu ada dua, silahkan cek diagram yang paling kanan yah ...






Selengkapnya bisa dikaji di sini:

http://www.bidah.com/



Ditinggalkan kenapa?

Ada PENGHALANG SYARIAT?

Atau TIDAK ADA PENGHALANG?



Terjemah diagram diatas bisa di donlot di:

http://hotfile.com/dl/142705730/fe60e9b/diagram_bidah_terjemah.doc.html

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 25 Januari 2012, 15:59:47 »
sedikit mengomentari diagram diatas
bid'ah haqiqiyah--->tidak ada dasar syariah(bid'ah dholalah) ----->sesat ----> neraka
contoh:
1. maulid
2. menari dan menyanyi

komentar: sampe menyanyi dihukumi bid'ah haqiqi yang sesat dan masuk neraka ;D

dari contoh diatas, diagram bid'ah yang dikutip BIBA tidak menjelaskan apa itu perkara agama dan bukan perkara agama.
dari hal sederhana diatas saja, diagram tersebut tidak dapat memberikan penjelasan tentang bid'ah yang memadai ;D

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 25 Januari 2012, 16:29:57 »
kriteria ada penghalang atau tidak, urusan agama atau bukan.

itu kriteria GAZEBO akal2 an kreasi wahabi, untuk memperturutkan hawanafsu doktrin tahrim.

Offline shafiq

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 1.543
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 25 Januari 2012, 16:43:54 »
@ cak bimo, Produk gagal gak usah dipamer-pamerin ! tu diagram gak ada yg mau beli bungkus saja masukin ke recycle bin.
"Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati" (H.R. Bukhari 5928).

Offline om sinchan

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 513
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 25 Januari 2012, 18:36:59 »
kenapa pada sewot? suka2 yg bikin diagram lah, mending pada bikin diagram sendiri2 ...

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 12.078
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 25 Januari 2012, 19:25:43 »
Mungkin perlu saya bertanya:
1. Apakah "perkara yang ditinggalkan" yang dimaksud TS itu adalah perbuatan ibadah?
2. Apakah dihalalkan untuk membuat amal ibadah tanpa contoh dari Nabiyullah / tuntunan wahyu?
3. Apakah pahala itu ditetapkan oleh wahyu atau pemikiran manusia?
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 25 Januari 2012, 22:04:28 »
^ garing, basi

orang melakukan adat istiadat muamalah ibahah.

ente persepsi asumsi opinikan orang itu melakukan ibadah.
« Edit Terakhir: 25 Januari 2012, 22:13:30 oleh k3nj1 »

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 25 Januari 2012, 22:21:27 »
atau ibadah ghoiru makdoh yg longgar tdk rigid kaifiyatnya

ente samakan dng ibadah makdoh yg rigid kaifiyatnya.

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 12.078
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 26 Januari 2012, 01:41:55 »
Garing basi, tapi biarlah TS yang menjawab.

Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 12.078
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 26 Januari 2012, 01:43:18 »
Untuk k3nji, apakah ibadah ghairu mahdah juga tidak perlu tuntunan wahyu?
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline sahabat

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.458
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 26 Januari 2012, 01:43:46 »
atau ibadah ghoiru makdoh yg longgar tdk rigid kaifiyatnya

ente samakan dng ibadah makdoh yg rigid kaifiyatnya.

Aliran pemikiran sembarangan menghasilkan kaidah mubah jadi sunah mandub, mikir ngapa
“ Dengan kenikmatan yang diberikan Allah kepadamu, carilah kebahagiaan akhirat, tapi jangan engkau lupakan nasibmu dalam dunia ini. "-QS28:77.
"Dan tentang karunia Tuhanmu, hendaklah engkau sebarkan..

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 26 Januari 2012, 06:04:31 »
diotak-atik
diakal-akali
dipuntar-puntir

untuk memenuhi selera hawanfsu biar hasil akhirnya = haram,  salah dosa sesat neraka.

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 26 Januari 2012, 06:10:16 »
mengharamkan cuma modal fallacy opini :
- adat istiadat diopinikan ibadat
- ghoiru makdoh diopinikan ibadah makdoh
- perkara mubah diopinikan bidah dholalah

muter2 disitu aja fallacy opini wahabi.