Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: need solutions, myQers  (Dibaca 517 kali)


Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« pada: 11 Januari 2012, 16:31:24 »
assalamu'alaikum :dada:

dalam kehidupan rumah tangga tentunya ada saja masalah yang dialami, tinggal bagaimana kita menyikapinya kan? sekarang, sya meminta maaf mengusik teman-teman dengan permasalahan yang akan sya ungkapkan, dan menyampaikan terima kasih atas solusi-solusi yang teman-teman berikan kelak :)

begini ceritanya, sya punya sepupu (kita panggil saja "A") yang tinggal sejak kecil dengan om tantenya kemudian menikah 5-6 tahun lalu dan kini anaknya sudah berusia 4,5 dan 2 tahun :) lucu-lucunya kan anak usia segitu?

akhir tahun 2011, sepupu sya itu minta pisah sama suaminya karena merasa dikekang dan ia ingin bebas, suaminya meluluskan permintaan itu dan anak-anaknya dibawa oleh A. sekarang A tinggal dengan sepupu sya yang kita panggil B. B juga memiliki anak yang usianya 7 dan 1,5 tahun.

Awalnya  B menerima A karena A bilang hanya sementara tinggal bersama sampai ia mapan bekerja dan akan mencari kontrakan sendiri serta pengasuh sendiri. Tapi entah kenapa, ada efek negatif yang juga sya rasakan sebagai tetangga B. A tidak bekerja (malah resign dari pekerjaan terdahulu), anak-anak A sering sekali menangis tanpa sebab (yang juga sering dibiarkan oleh A sehingga mengganggu sekitar khususnya keluarga B di waktu-waktu tertentu). sebenarnya sya sudah dilarang oleh orangtua sya untuk ikut memikirkan hal ini tapi ternyata B malah butuh tempat curhat dan solusi. Karena baginya tak mungkin dalam sebuah rumah dihuni 2 rumahtangga dimana 1 rumah tangga bermasalah.

sebenarnya B tidak mempermasalahkan bila A 'menumpang' dengannya, suami B juga nggak keberatan, tapi sikap A itu yang membuat B curhat dan minta solusi untuk semua. karena sya sadar sya masih sangat baru dalam kerumahtanggaan, sya harap ada masukan dari teman-teman, syukron jiddan for awwalan :)

Offline Maru Sen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 666
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • be better and better!
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 11 Januari 2012, 19:02:05 »
Selama ini biaya hidup A & anak2nya siapa yg nanggung?

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #2 pada: 11 Januari 2012, 19:44:01 »
sebelum pisah sih suaminya. setelah pisah, kami hanya menyiapkan makanan dan uang jajan anak-anaknya saja. kalau biaya dia pribadi entah siapa yang menanggung

Offline mesmerized haze

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.368
  • Lokasi: world
  • Jenis kelamin: Wanita
  • belajar menjadi BIJAK
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 11 Januari 2012, 20:13:25 »
@ sya
loh kok begitu, suaminya dimana sekarang ? apa sudah menikah lagi ?
harusnya nafkah anak2 tetap jadi kewajiban si bapak kandung, kalau si A sudah menikah lagipun tetap jadi kewajiban bapak kandung.

maksud sya sikap A yang mana yang dipermasalahkan B ?
mengacuhkan anak-anaknya atau yang nggak kerja ?
I'm a simple woman, with humble way of thinking and wide point of view yet strong character within

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #4 pada: 11 Januari 2012, 20:33:35 »
kedua sikap A, bu yang meresahkan seluruh keluarga yang mengetahui masalah ini, juga bapak si A. untuk nafkah, B bersikeras tak mau menerima nafkah itu. suaminya sekarang tinggal sendirian, bu

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 12 Januari 2012, 10:58:44 »
itu pisahnya cuma pisah rumah ato udah sah cerai lewat pengadilan agama sya ?
kok kayaknya si A depresi ya, coba dimediasi spy bisa rujuk lg deh, pd dasarnya gak ada masalah yg besar kan ?
cuma mau bebas aja si A nya ?

sekarang dia udah jenuh dengan kebebasan itu kali

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #6 pada: 12 Januari 2012, 11:38:42 »
bingung gimana mau mediasi mereka, si A ini memang karakternya keras banget pak :(
malah suaminya bingung kalau mau nerima lagi, apakah si A bisa minta maaf pada keluarga besarnya yang dimaki-maki (dalam hal ini adik dan orangtua suaminya A). sampai sekarang kami mencoba untuk mediasi tapi A tidak mau bertemu suaminya sekadar mencari jalan terbaik. katanya sih nggak mau ribet. apa iya ya mediasi itu ribet? mohon pencerahan, sya benar-benar awam

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #7 pada: 12 Januari 2012, 11:42:24 »
pisahnya menurut negara sih pisah rumah, tapi menurut A itu udah cerai namanya

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 12 Januari 2012, 13:38:00 »
ya berarti blm cerai itu  :hmmm: bisa di'kembalikan' lagi
apa iya masalahnya hanya karena mau bebas aja, kok ya gak masuk akal deh sya, coba tanya2 lg masalah sebenernya apa
terus kalo ibunya labil begitu kasian anak-anak terutama yg 7 taun -segede anak sy itu- kan udah SD, udah bisa ngerasa beda, apa gak sebaiknya ikut bapak dan mbahnya dari bapak aja  :hmmm:

coba ditanya baik-baik si A itu maunya gimana, mau apa
kalo emang mau cerai ya cerai yg sah terus cari pasangan lagi, berumah tangga yg bener
kalo begini terus selain usia juga berjalan, anak2 makin terlantar, si A nya bisa depresi beneran ntar
kasian semuanya  :(

mediasi itu gak susah kok, tapi ya harus sabar dan berilmu
baiknya ortu si A yg diskusi masing2 ke A dan suaminya
karena anaknya -mengaku- janda maka tanggung jawab balik ke ortunya lagi
ntar kalo udah ada titik temu baru ditemuin mereka berdua gak usah bawa2 keluarga A dulu yg penting A nya mau rujuk dan suaminya juga mau terima A lagi

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #9 pada: 12 Januari 2012, 14:03:41 »
itu dia, sya sendiri ndak punya ilmu dan keluarga di sini ndak ada yang didengerin dia, lha wong waktu itu pernah bilang ke B 'apapun yang mbak B bilang, aku nggak akan berubah pikiran' gitu.

sebenarnya sih nggak cuma karena mau bebas, tapi dia mau kerja buat anak-anak. suaminya nggak bolehin karena anak-anak nggak ada yang rawat kalau dia kerja, jadi dia ngerasa nggak bebas dengan larangan suaminya itu, yang didengerin ya temen-temennya (usia 22-23lah temen2nya itu). sya jadi bingung. sepupu B minta sya dekatkan teman sya yang psikolog ke A ini, tapi sya sendiri gak tega, masa iya sepupu sya harus sampai ditangani psikolog? sya pribadi khawatir juga kalau sampai teman sya yang psikolog nantinya dibentak-bentak dia...

*btw, yg anaknya 7 tahun itu sepupu sya yang B :)

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 12 Januari 2012, 14:21:11 »
^oh anak si B, punten lieur euy  :D

coba aja ke psikolog, gak ada yg salah kok dengan mendatangi psikolog. Gak berarti si A 'gila' jadi ke psikolog. Fungsi psikolog itukan mengarahkan kliennya sesuai karakter personal klien ke jalan yg secara umum dianggap bener. Kalo psikolognya soleh, boleh lha dikonsulin.
Gak usah takut kalo psikolognya dibentakbentak, emang itu resiko kerjaannya kok  :D

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline Maru Sen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 666
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • be better and better!
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 12 Januari 2012, 17:54:26 »
kl memang pengen pisah krn mau bebas kerja utk anak2, knp skrng malah resign? Dan anak2nya jg tetap tdk diurus? Maaf, menurut ku alasannya tlalu dibuat2. Sepertinya A terlalu mengedepankan emosi/egonya jg tdk pny orientasi yg jelas ttng masa dpn-nya.

Coba B ajak bicara A, tanya bgmn rencana A stlh bcerai: dimana ia akan tinggal, bgmn ia membiayai makan & sekolah anak2 nanti, kpn akan mulai mengontrak, dll.
Bukannya mau ikut campur, tp krn A numpang rasanya B pny hak utk btanya, jg utk mbuka pikirannya bhw ada konsekuensi dr setiap pilihan yg ia ambil. Apa ia siap?

Ttng keluarga B yg merasa tganggu, kl A tdk menunjukkan usaha utk pindah, lbh baik B terus terang sj ke A bahwa B & suami tdk mungkin terus menerus menampung ia & anak2nya di sana.
Meski B & suami ikhlas membantu, pasti akan ada ketidaknyamanan, jg kesan yg tdk baik. B & suami jg punya rumah tangga yg hrs dijaga.
Tentunya bukan langsung mengusir A, tp diingatkan terus.

Mdh2an A jd sadar bhw ia tdk bs terus bgantung pd B & mulai bpikir bhw ia, mau tdk mau, hrs segera mandiri & mbuat rencana masa dpn (cari kerja, kontrakan) atau justru rujuk dgn suami.

Kl bs ajak A bicara dgn orng yg ia hormati & bs mengajaknya bicara dgn baik2/lembut & tdk menggurui.

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #12 pada: 12 Januari 2012, 22:03:55 »
bingung mbak kalau mencari siapa yang didengar dan dihormati serta tidak menggurui, karena A cuma mau berteman dengan teman-teman SD-SMKnya saja *yang keluarga sudah kenal teman-temannya bagaimana (negatif)*

adakah solusi lain?

opsi ke psikolog tadi sudah sya ajukan ke keluarga dan keluarga ndak setuju karena B bilang si A ini di depan aja bilang iya iya ketika dinasehati tapi pada akhirnya ia tetap pada pendiriannya. sya jadi ikut berpikir tentang ini karena teringat masa depan anak-anaknya..

anyway, thanks a lot ya temans, udah bersedia nyimak dan nyari solusi untuk masalah ini :)

Offline mesmerized haze

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.368
  • Lokasi: world
  • Jenis kelamin: Wanita
  • belajar menjadi BIJAK
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 13 Januari 2012, 13:46:32 »
konkrit aja ya,

1. bilang sama B u nggak seperti itu, suami A masih wajib dan berhak memberi nafkah anak2nya, terima uangnya dan jadwalkan kunjungan berkala si ayah. Kalau nggak perlu uangnya, tabung saja dulu.

2. kalau A memang sulit diberitahu berikan shock terapi, saya setuju usul maru, minta dia pindah saja tapi tetap dipantau keadaannya terutama anak2nya. Mudah2an dengan pindah si suami A berkesempatan memberi nafkah dan bisa kembali rujuk nantinya. Memang butuh waktu tapi mudah2an bisa kearah sana :)

3. Secara ekstrim saya menyarankan u membagi pengasuhan anak, yang besar di ayahnya, yang kecil dengan ibunya. Jadi akan ada komunikasi diantara orang tua dan keluarga yang dilandasi anak. Dengan kesabaran, bimbingan dan ketelatenan suami A serta keluarga A mudah-mudahan bisa menjembatani komunikasi yang kontinyu dan berakhir baik, mereka rujuk kembali.
I'm a simple woman, with humble way of thinking and wide point of view yet strong character within

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #14 pada: 13 Januari 2012, 15:23:11 »
Kutip
2. kalau A memang sulit diberitahu berikan shock terapi, saya setuju usul maru, minta dia pindah saja tapi tetap dipantau keadaannya terutama anak2nya. Mudah2an dengan pindah si suami A berkesempatan memberi nafkah dan bisa kembali rujuk nantinya. Memang butuh waktu tapi mudah2an bisa kearah sana :)

tapi kan si A malah belum kerja, apa nggak malah dilarang sama keluarga kalau dia pindah tapi belum pegang uang?