ada pertanyaan dahsyat pagi ini,
" ingin kapasitas suami seperti apa ? "
agak-agak bingung, saya balik bertanya. " Kapasitas apa ? kantong ? karier ? atau ...

"
dia jawab " semuanya "
berdiam sebentar saya kemudian menjawab, " seoptimal mungkin dong "
lalu dia bertanya lagi, " sudah siap menjadi istri, pendamping, dari seorang laki-laki yang on the way ke puncak kejayaannya sebagai pemimpin ? "
saya terdiam, sementara mata saya sedikit membelalak dan nafas tercekat saya bergumam perlahan dalam hati
"sudah siap kah saya ...."
karena sungguh nggak mudah menjadi pendamping seorang pemimpin, seperti sosok ibunda Khadijah ra disamping Rasulullah SAW. Dan kalaupun saya tetap nggak mampu mendampingi seorang pemimpin yang on the way ke puncak kejayaannya itu, apakah saya akan tetap menuntutnya sebagai seorang yang selalu bisa diandalkan ?
you see ...
nggak adil sekali
