Assalamu'alaikum wr wb
Mau mengajak myqers sekalian sharing nih 
Beberapa waktu lalu saat saya sempat terlibat diskusi yang cukup seru dengan seorang bapak yang baru aja memiliki menantu perempuan, working mom dengan 2 orang anak dan rekan yang baru jadi ayah. Si mertua baru ini mengeluhkan mentalitas istri zaman sekarang yang katanya cenderung manja.
Begini versi manja si mertua,1. Belanja bulanan, sudah pun di hypermarket masih harus diantar suami segala. Kalau suami nggak sempat antar nggak belanja dan malah beli 'mengeteng' di warung, beli lauk matang di warung yang malah bikin anggaran belanja bulanan semakin bengkak.
Zaman dulu, papar si mertua baru ini, istrinya jalan kaki ke toko besar berjarak setengah kilo dari rumah kalau uang gaji sudah diberi dan pulang naik becak dengan seabrek tetek bengek belanjaan bulanan macam beras, gula, kopi, teh, minyak dll
2. Anak sakit harus menunggu suami pulang dan antar antri ke dokter anak. Bukannya langsung cepat2 dengan sigap bawa anaknya ke dokter, pakai telpon ke suami lama-lama dan minta suami pulang cepat supaya bisa antar si upik ke dokter. Apa nggak tau kalau suami pulang cepat tanpa izin atasan itu sama aja korupsi waktu kerja
(ini bahasa si bapak loh ya, bukan bahasa saya
) Zaman dulu istri atau ibunya kalau ada anaknya sakit mereka sigap memberi pertolongan pertama dan naik becak atau minta antar tetangga ke puskesmas.
3. Ini masih berkaitan dengan nomor 2, Istri sekarang berkutat di depan laptop nggak bersosialisasi sama tetangga, maka kalau anak sakit bingung minta tolong siapa karena lupa nama tetangga sebelahnya. Ikut arisan RT karena wajib aja, bukan karena benar2 ingin bersilaturahim dengan tetangga. Zaman dulu istrinya aktif dikegiatan sosial, PKK dll sehingga nggak merasa terus kesepian dirumah dan malah berbicara terus tanpa jeda saat suaminya pulang sebagai pelampiasan kesepiannya.
4. Bervisi pendek karena lebih mementingkan keinginan sekarang dan saat ini bukan esok dan nanti. Contohnya, suami dipromosikan jadi direktur cabang di luar kota, bingung. Takut nggak punya teman, takut ini takut itu. Ketika disuruh LDR sementara malah nangis, nggak bisa hidup terpisah jauh dari belahan jiwa katanya
(ini benar narasi si bapak, keren juga ya
) Akhirnya suami malah bimbang, kalaupun menerima malah nggak fokus kerja disana karena istrinya telpon tiap 2 jam menceritakan ini itu dengan nada keluhan. Si suami pun mengajukan mutasi kembali ke tempat awal, ada downgrade jabatan. Lima belas tahun kedepan baru suaminya menyesal habis-habisan, menyalahkan istri, bertengkar terus, ekonomi keluarga mandeg nggak berkembang banyak, anak2 beranjak besar butuh biaya lebih banyak dan suami-istri pun makin banyak ributnya.
Zaman dulu istrinya selalu menyemangati dia supaya mengambil kesempatan training ini itu dari kantor. Pernah 5 bulan di Hong Kong dengan komunikasi terbatas karena belum zamannya email, paling telpon bisa 2 minggu sekali karena mahal, suratpun jadi alternatif murah. Istrinya ya bilang kalau anak sakit, orang tua sakit, tapi selalu bisa mengetengahkan solusi setelahnya. Jadi suami nggak merasa dibohongi, pun tetap tenang dalam meraih titian karier yang lebih tinggi.
5. Kalau punya anak, lebih percaya info dari buku dan internet dibanding wejangan orang tuanya, kadang penyampaiannya seolah berkata "ini anak gw, jangan ikut campur" tapi anehnya anaknya malah lebih sering sama pembantu atau sitternya mentang2 sanggup membayar gaji mereka. Si pembantu atau sitternya ini juga nggak kalah sengak
(beneran deh ini istilah si bapak) sama majikannya, kakek-nenek apa2 dilarang, kalau begini begitu diadukan sama majikan akhirnya kakek-nenek dimarahi majikannya yang adalah anaknya sendiri. Ironi
Zaman dulu ibu dan istrinya nurut patuh sama orang tua + mertua. Sekiranya nggak cocok disampaikan baik-baik dan dengan cara yang sehalus mungkin. Istrinya diberi jamu-jamuan setelah melahirkan, kata dokter nggak boleh diminum, istrinya menjelaskan panjang lebar berhari-hari sampai si ibu mau mengerti dan mengganti jamu dengan susu.
6. Istri sekarang sebentar-sebentar telepon suami. Urusan nggak penting aja telepon. Apa nggak tau kalau suami itu bukan manusia yang bisa multitasking macam wanita, ya kalau suaminya wanita bisa multitasking, kalau suaminya laki-laki sulit untuk multi tasking karena ada syaraf di otak belakang wanita yang 3x lebih besar/tebal sehingga lebih memungkinkan wanita melakukan banyak hal bersamaan. Misalnya telepon bergosip sambil pakai pewarna kuku dan update status.
(Ini juga masih naskah asli si bapak yang sukses membuat saya serta dua rekan saya tertawa spontan) Coba mbak-mbak dan mas bayangkan kalau di kantor yang jam kerjanya 8 jam dari jam 9 sampai jam 17 si istri telpon 3x dengan durasi 10 menit, ada 30 menit terbuang. Belum lagi efek masing2 sepuluh menitnya itu.
" Mas jangan lupa nanti pulang cepat, si upik ingusan lagi, takut keburu demam kalau nggak kedokter sore ini. Dokternya jam 16 sampai jam 18"Coba itu pulang kantor jam 17 dari kuningan mesti naik apa supaya sampai di depok jam 18, apa nggak malah bikin suami celaka namanya
" Mas jangan lupa nanti pulang beli A, B, C, D ya. D nya yang warna biru, A nya yang kecil, B nya cari yang diskon, C nya harus merk XX. Jangan lupa ya mas, kalau nggak nanti si upik bla bla bla, kalau nggak nanti aku blu blu blu "Apa si istri itu nggak tau ya itu beban buat suami, beban berat itu. Suami itu tanya deterjen ya yang bubuk itu, nggak tau pewangi konsentrat merk A lebih murah dari merk B, kecuali suaminya staff stock opname di supermarket, baru dia hafal
(
asli lucu)Belum lagi sudah mampir, mesti repot jelalatan kesana kesini jongkok2 cari di rak2, malah dikolong rak saking stresnya terus kehujanan dijalan. Eeeeh sampai rumah barangnya nggak lengkap atau salah warna. Beli A nya yang biru dan D nya yang kecil misalnya, habis lah dicemberuti sepanjang malam. Boro2 di rebuskan air hangat untuk mandi habis kehujanan, teh aja nggak dibikinkan, tidur pun dipunggungi.
Zaman dulu .... ya belanja bulanan itu sekalian, nggak ada keteng-mengeteng ditengah bulan, karena istri saya mencatat betul apa2 saja yang dibutuhkan anggota keluarga.
7. Suami pulang, kamar masih berantakan, istrinya dasteran dan tersipu-sipu menegur, "eh mas sudah pulang" terus mandi. Suaminya bengong 20 menit didepan meja makan ditemani teh buatan pembantu. Akhirnya iseng sapa teman2 via BB, istri sudah dandan jadi nggak terlihat. alhasil manyun lagi lah si istri, curhat di FB "suamiku mengacuhkanku, dia lebih sayang BB nya" mulai deh teman-teman lama dan termasuk pacar lama mengirimkan simpati berupa kata2 manis. Wah tertebak lah kemana jalannya kalau terus begitu.
Zaman dulu, istri saya menunggu saya pulang sambil membaca. Anak-anak sudah makan dan mandi, belajar di meja tengah. Nanti saya pulang mereka loncat-loncat berebut cium tangan sambil berebut tas, sepatu, kaos kaki saya untuk diletakkan ditempatnya. Hilang lelah saya mbak-mas. Jadi nggak sia-sia rasanya kerja capek-capek. Istri saya sambil senyum2 menunggu didepan pintu, cium tangan dan cium-cium yang lain
( hahaha saya jadi cengar-cengir dengar si bapak cerita) Teh nya juga bikinan istri karena nggak pakai gula, kalau si mbok yang bikin mesti kemanisan, meski pahit tetap beda rasanya di hati.
(teman saya men 'cieee' kan si bapak) loh betul loh mbak, rasanya mak nyess adem tenan
(
)Jadi saya pulang, salin pakaian, ngobrol sebentar sama istri terus anak-anak selesai belajar atau saya mengajari soal yang istri saya nggak mengerti jawabannya. Terus kami nonton tv, ngobrol ini itu bareng atau main kerumah ibu saya kalau saya pulang agak cepat.
8. Kalau suami lembur pasti manyun. Ada uang lembur aja tetap manyun apalagi nggak ada. Padahal dedikasi seorang laki-laki ditempat dia bekerja, apapun profesinya itu
mesti berbuah baik. Teman saya rajin bukan main, nggak pernah naik jabatan di kantor tapi malah dinikahkan sama putri tunggal si big boss. Saya sendiri total dalam bekerja, dikantor pertama dulu ya naik jabatan tapi nggak naik gaji, segitu2 aja. Saya tetap total dalam bekerja, sampai perusahaan itu pecah dan si CEO terbagi dua. Saya diajak CEO pertama yang kebetulan satu ideologi dengan saya mengembangkan perusahaan baru dengan posisi dirut mbak-mas. Dirut gajinya hanya 1 juta waktu itu, tapi saya diberi saham 25% dari total saham perusahaan baru itu. Ya sekarang itu jadi PT Z
( si bapak menyebutkan perusahaan menengah yang cukup settle dalam dunia outsourcing dan kami serempak mengangguk-angguk kagum )Zaman dulu kalau saya tiba-tiba membatalkan rencana karena meeting mendadak atau lembur, istri saya juga tetap sedih, kesal tapi nggak ditampakkan vulgar. Saya langsung tawarkan alternatif lain sebagai pengganti dan memberi bonus plus plus supaya dia senyum
(rekan saya yang laki-laki tiba2 terbahak sendiri) "hush mas, bukan plus plus itu, tapi dirayu dan dijelaskan manfaat kedepannya itu apa buat keluarga
( uh oh man, otaknya terformat seperti itu terhadap beberapa hal memang
) Terus kalau membatalkan janji bersedia didenda juga sama anak-anak, nggak semena-mena sendiri.
9. Istri sekarang itu baru mampu beli mobil dengan menyicil sudah memaksakan suami beli mobil, bukannya ditabung untuk rumah dulu. Kontrakan pun harus yang nyaman dan nggak beda jauh dari rumah orang tuanya dulu, padahal suaminya kan masih bau kencur didunia bekerja, pasti belum bisa menyamai bapaknya yang pengusaha puluhan tahun dong. Habis gaji suami untuk cicil ini cicil itu, pusing kepala suami dapat surat tagihan ini itu. Makin banyak juga maunya, yang mobilnya pakai asesoris, ini lah itu lah. Kalau suami lembur dan cari proyek diluar jam kerja, bisa tiap setengah jam telepon, takut bertemu mantannya atau wanita lain. Akhirnya suami gerah, kalau nggak sekalian bablas beneran sama mantannya atau wanita lain ya nggak mau keluar cari tambahan, diam dirumah aja. Akhirnya begitu-begitu aja, sudah usia 40 belum mencapai level manager ya sulit. Akan selamanya ada di posisi staff. Gaji pas-pasan, tunjangan minim dan rentan pengurangan karyawan kalau perusahaan sedang sulit.
Kalau terjadi sesuatu macam PHK juga sulit bekerja lagi lantaran soft skill nya mandeg, hard skill nya juga umum. Sudah berumur diatas 30 pula. Lebih baik cari fresh graduate yang murah sekalian. Kalau begini baru si istri berfikir, menyesal dan parahnya... menyalahkan
Dulu, istri saya itu mintanya perhiasan emas, itu pun buat simpanan. Yang sering digadai kalau waktu naik-naikan kelas (si bapak tersenyum sambil menerawang) Mobil saya Citroen itu sampai tahun 1998. Sehabis krismon saya malah pakai Vitara yang masih gress. Itupun bayar hutangnya klien saya, bukan karena beli
(dia tertawa dan kami juga ikut tersenyum. Bapak ini memang amat bersahaja tampilannya, sosok yang low profile)10. Mbak-mas saya disini bukan buka-buka aib menantu saya loh ya, walaupun ada lah dari sekian banyak sinyalemen diatas yang menyerempet menantu saya
(dia tertawa perlahan) tapi masih banyak baiknya kok. Cuma mau curcol
(halah si bapak pakai istilah curcol, saya aja baru tau artinya belakangan ini
) supaya bisa kita ambil hikmahnya bersama, buang yang buruk. Sekarang gimana si suami mau mendidik istrinya dengan baik dan sabar, karena wanita kalau dikasari malah patah. Buat wanita itu forgiven but never forgotten loh mas
(dia bicara sambil menatap rekan laki-laki saya) jadi sekali patah sulit tersambungnya. Makanya jangan dipatahkan ya.
Well, it's beautiful
Ringan tapi punya makna yang kuat.
Sebenarnya selama perbincangan itu saya dan rekan-rekan sesekali menimpali, membela diri, atau apalah namanya, tapi nggak banyak. Sayang sekali kalau nasihat yang sarat makna dari seorang bapak yang memiliki 2 putri dan 1 putra itu harus terputus karena sanggahan2 naif kami yang mungkin, takut terlucuti.
Semoga bisa diambil hikmahnya, seperti kata si bapak tadi, yang buruk di buang yang baik dipakai 
Al haqqu mirrabbik, segala yang salah datang dari saya karenanya mohon dimaafkan 
Kalau ada pendapat-pendapat lain yuk dishare 