Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Istri Manja  (Dibaca 4323 kali)


Offline mesmerized haze

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.368
  • Lokasi: world
  • Jenis kelamin: Wanita
  • belajar menjadi BIJAK
    • Lihat Profil
« pada: 04 Januari 2012, 17:42:49 »
Assalamu'alaikum wr wb

Mau mengajak myqers sekalian sharing nih  ;)

Beberapa waktu lalu saat saya sempat terlibat diskusi yang cukup seru dengan seorang bapak yang baru aja memiliki menantu perempuan, working mom dengan 2 orang anak dan rekan yang baru jadi ayah. Si mertua baru ini mengeluhkan mentalitas istri zaman sekarang yang katanya cenderung manja.
Begini versi manja si mertua,


1. Belanja bulanan, sudah pun di hypermarket masih harus diantar suami segala. Kalau suami nggak sempat antar nggak belanja dan malah beli 'mengeteng' di warung, beli lauk matang di warung yang malah bikin anggaran belanja bulanan semakin bengkak.
Zaman dulu, papar si mertua baru ini, istrinya jalan kaki ke toko besar berjarak setengah kilo dari rumah kalau uang gaji sudah diberi dan pulang naik becak dengan seabrek tetek bengek belanjaan bulanan macam beras, gula, kopi, teh, minyak dll

2. Anak sakit harus menunggu suami pulang dan antar antri ke dokter anak. Bukannya langsung cepat2 dengan sigap bawa anaknya ke dokter, pakai telpon ke suami lama-lama dan minta suami pulang cepat supaya bisa antar si upik ke dokter. Apa nggak tau kalau suami pulang cepat tanpa izin atasan itu sama aja korupsi waktu kerja (ini bahasa si bapak loh ya, bukan bahasa saya  :p )
Zaman dulu istri atau ibunya kalau ada anaknya sakit mereka sigap memberi pertolongan pertama dan naik becak atau minta antar tetangga ke puskesmas.

3. Ini masih berkaitan dengan nomor 2, Istri sekarang berkutat di depan laptop nggak bersosialisasi sama tetangga, maka kalau anak sakit bingung minta tolong siapa karena lupa nama tetangga sebelahnya. Ikut arisan RT karena wajib aja, bukan karena benar2 ingin bersilaturahim dengan tetangga. Zaman dulu istrinya aktif dikegiatan sosial, PKK dll sehingga nggak merasa terus kesepian dirumah dan malah berbicara terus tanpa jeda saat suaminya pulang sebagai pelampiasan kesepiannya.

4. Bervisi pendek karena lebih mementingkan keinginan sekarang dan saat ini bukan esok dan nanti. Contohnya, suami dipromosikan jadi direktur cabang di luar kota, bingung. Takut nggak punya teman, takut ini takut itu. Ketika disuruh LDR sementara malah nangis, nggak bisa hidup terpisah jauh dari belahan jiwa katanya (ini benar narasi si bapak, keren juga ya  :hihi: ) Akhirnya suami malah bimbang, kalaupun menerima malah nggak fokus kerja disana karena istrinya telpon tiap 2 jam menceritakan ini itu dengan nada keluhan. Si suami pun mengajukan mutasi kembali ke tempat awal, ada downgrade jabatan. Lima belas tahun kedepan baru suaminya menyesal habis-habisan, menyalahkan istri, bertengkar terus, ekonomi keluarga mandeg nggak berkembang banyak, anak2 beranjak besar butuh biaya lebih banyak dan suami-istri pun makin banyak ributnya.
Zaman dulu istrinya selalu menyemangati dia supaya mengambil kesempatan training ini itu dari kantor. Pernah 5 bulan di Hong Kong dengan komunikasi terbatas karena belum zamannya email, paling telpon bisa 2 minggu sekali karena mahal, suratpun jadi alternatif murah. Istrinya ya bilang kalau anak sakit, orang tua sakit, tapi selalu bisa mengetengahkan solusi setelahnya. Jadi suami nggak merasa dibohongi, pun tetap tenang dalam meraih titian karier yang lebih tinggi.

5. Kalau punya anak, lebih percaya info dari buku dan internet dibanding wejangan orang tuanya, kadang penyampaiannya seolah berkata "ini anak gw, jangan ikut campur" tapi anehnya anaknya malah lebih sering sama pembantu atau sitternya mentang2 sanggup membayar gaji mereka. Si pembantu atau sitternya ini juga nggak kalah sengak (beneran deh ini istilah si bapak) sama majikannya, kakek-nenek apa2 dilarang, kalau begini begitu diadukan sama majikan akhirnya kakek-nenek dimarahi majikannya yang adalah anaknya sendiri. Ironi
Zaman dulu ibu dan istrinya nurut patuh sama orang tua + mertua. Sekiranya nggak cocok disampaikan baik-baik dan dengan cara yang sehalus mungkin. Istrinya diberi jamu-jamuan setelah melahirkan, kata dokter nggak boleh diminum, istrinya menjelaskan panjang lebar berhari-hari sampai si ibu mau mengerti dan mengganti jamu dengan susu.

6. Istri sekarang sebentar-sebentar telepon suami. Urusan nggak penting aja telepon. Apa nggak tau kalau suami itu bukan manusia yang bisa multitasking macam wanita, ya kalau suaminya wanita bisa multitasking, kalau suaminya laki-laki sulit untuk multi tasking karena ada syaraf di otak belakang wanita yang 3x lebih besar/tebal sehingga lebih memungkinkan wanita melakukan banyak hal bersamaan. Misalnya telepon bergosip sambil pakai pewarna kuku dan update status. (Ini juga masih naskah asli si bapak yang sukses membuat saya serta dua rekan saya tertawa spontan) Coba mbak-mbak dan mas bayangkan kalau di kantor yang jam kerjanya 8 jam dari jam 9 sampai jam 17 si istri telpon 3x dengan durasi 10 menit, ada 30 menit terbuang. Belum lagi efek masing2 sepuluh menitnya itu.

" Mas jangan lupa nanti pulang cepat, si upik ingusan lagi, takut keburu demam kalau nggak kedokter sore ini. Dokternya jam 16 sampai jam 18"

Coba itu pulang kantor jam 17 dari kuningan mesti naik apa supaya sampai di depok jam 18, apa nggak malah bikin suami celaka namanya  :wataw:

" Mas jangan lupa nanti pulang beli A, B, C, D ya. D nya yang warna biru, A nya yang kecil, B nya cari yang diskon, C nya harus merk XX. Jangan lupa ya mas, kalau nggak nanti si upik bla bla bla, kalau nggak nanti aku blu blu blu "

Apa si istri itu nggak tau ya itu beban buat suami, beban berat itu. Suami itu tanya deterjen ya yang bubuk itu, nggak tau pewangi konsentrat merk A lebih murah dari merk B, kecuali suaminya staff stock opname di supermarket, baru dia hafal
:hihi: asli lucu)
Belum lagi sudah mampir, mesti repot jelalatan kesana kesini jongkok2 cari di rak2, malah dikolong rak saking stresnya terus kehujanan dijalan. Eeeeh sampai rumah barangnya nggak lengkap atau salah warna. Beli A nya yang biru dan D nya yang kecil misalnya, habis lah dicemberuti sepanjang malam. Boro2 di rebuskan air hangat untuk mandi habis kehujanan, teh aja nggak dibikinkan, tidur pun dipunggungi.
Zaman dulu .... ya belanja bulanan itu sekalian, nggak ada keteng-mengeteng ditengah bulan, karena istri saya mencatat betul apa2 saja yang dibutuhkan anggota keluarga.

7. Suami pulang, kamar masih berantakan, istrinya dasteran dan tersipu-sipu menegur, "eh mas sudah pulang" terus mandi. Suaminya bengong 20 menit didepan meja makan ditemani teh buatan pembantu. Akhirnya iseng sapa teman2 via BB, istri sudah dandan jadi nggak terlihat. alhasil manyun lagi lah si istri, curhat di FB "suamiku mengacuhkanku, dia lebih sayang BB nya" mulai deh teman-teman lama dan termasuk pacar lama mengirimkan simpati berupa kata2 manis. Wah tertebak lah kemana jalannya kalau terus begitu.
Zaman dulu, istri saya menunggu saya pulang sambil membaca. Anak-anak sudah makan dan mandi, belajar di meja tengah. Nanti saya pulang mereka loncat-loncat berebut cium tangan sambil berebut tas, sepatu, kaos kaki saya untuk diletakkan ditempatnya. Hilang lelah saya mbak-mas. Jadi nggak sia-sia rasanya kerja capek-capek. Istri saya sambil senyum2 menunggu didepan pintu, cium tangan dan cium-cium yang lain ( hahaha saya jadi cengar-cengir dengar si bapak cerita) Teh nya juga bikinan istri karena nggak pakai gula, kalau si mbok yang bikin mesti kemanisan, meski pahit tetap beda rasanya di hati. (teman saya men 'cieee' kan si bapak) loh betul loh mbak, rasanya mak nyess adem tenan :hihi: )
Jadi saya pulang, salin pakaian, ngobrol sebentar sama istri terus anak-anak selesai belajar atau saya mengajari soal yang istri saya nggak mengerti jawabannya. Terus kami nonton tv, ngobrol ini itu bareng atau main kerumah ibu saya kalau saya pulang agak cepat.

8. Kalau suami lembur pasti manyun. Ada uang lembur aja tetap manyun apalagi nggak ada. Padahal dedikasi seorang laki-laki ditempat dia bekerja, apapun profesinya itu mesti berbuah baik. Teman saya rajin bukan main, nggak pernah naik jabatan di kantor tapi malah dinikahkan sama putri tunggal si big boss. Saya sendiri total dalam bekerja, dikantor pertama dulu ya naik jabatan tapi nggak naik gaji, segitu2 aja. Saya tetap total dalam bekerja, sampai perusahaan itu pecah dan si CEO terbagi dua. Saya diajak CEO pertama yang kebetulan satu ideologi dengan saya mengembangkan perusahaan baru dengan posisi dirut mbak-mas. Dirut gajinya hanya 1 juta waktu itu, tapi saya diberi saham 25% dari total saham perusahaan baru itu. Ya sekarang itu jadi PT Z ( si bapak menyebutkan perusahaan menengah yang cukup settle dalam dunia outsourcing dan kami serempak mengangguk-angguk kagum )
Zaman dulu kalau saya tiba-tiba membatalkan rencana karena meeting mendadak atau lembur, istri saya juga tetap sedih, kesal tapi nggak ditampakkan vulgar. Saya langsung tawarkan alternatif lain sebagai pengganti dan memberi bonus plus plus supaya dia senyum (rekan saya yang laki-laki tiba2 terbahak sendiri) "hush mas, bukan plus plus itu, tapi dirayu dan dijelaskan manfaat kedepannya itu apa buat keluarga ( uh oh man, otaknya terformat seperti itu terhadap beberapa hal memang  ::) ) Terus kalau membatalkan janji bersedia didenda juga sama anak-anak, nggak semena-mena sendiri.

9. Istri sekarang itu baru mampu beli mobil dengan menyicil sudah memaksakan suami beli mobil, bukannya ditabung untuk rumah dulu. Kontrakan pun harus yang nyaman dan nggak beda jauh dari rumah orang tuanya dulu, padahal suaminya kan masih bau kencur didunia bekerja, pasti belum bisa menyamai bapaknya yang pengusaha puluhan tahun dong. Habis gaji suami untuk cicil ini cicil itu, pusing kepala suami dapat surat tagihan ini itu. Makin banyak juga maunya, yang mobilnya pakai asesoris, ini lah itu lah. Kalau suami lembur dan cari proyek diluar jam kerja, bisa tiap setengah jam telepon, takut bertemu mantannya atau wanita lain. Akhirnya suami gerah, kalau nggak sekalian bablas beneran sama mantannya atau wanita lain ya nggak mau keluar cari tambahan, diam dirumah aja. Akhirnya begitu-begitu aja, sudah usia 40 belum mencapai level manager ya sulit. Akan selamanya ada di posisi staff. Gaji pas-pasan, tunjangan minim dan rentan pengurangan karyawan kalau perusahaan sedang sulit.
Kalau terjadi sesuatu macam PHK juga sulit bekerja lagi lantaran soft skill nya mandeg, hard skill nya juga umum. Sudah berumur diatas 30 pula. Lebih baik cari fresh graduate yang murah sekalian. Kalau begini baru si istri berfikir, menyesal dan parahnya... menyalahkan
Dulu, istri saya itu mintanya perhiasan emas, itu pun buat simpanan. Yang sering digadai kalau waktu naik-naikan kelas (si bapak tersenyum sambil menerawang) Mobil saya Citroen itu sampai tahun 1998. Sehabis krismon saya malah pakai Vitara yang masih gress. Itupun bayar hutangnya klien saya, bukan karena beli (dia tertawa dan kami juga ikut tersenyum. Bapak ini memang amat bersahaja tampilannya, sosok yang low profile)

10. Mbak-mas saya disini bukan buka-buka aib menantu saya loh ya, walaupun ada lah dari sekian banyak sinyalemen diatas yang menyerempet menantu saya (dia tertawa perlahan) tapi masih banyak baiknya kok. Cuma mau curcol (halah si bapak pakai istilah curcol, saya aja baru tau artinya belakangan ini  :p ) supaya bisa kita ambil hikmahnya bersama, buang yang buruk. Sekarang gimana si suami mau mendidik istrinya dengan baik dan sabar, karena wanita kalau dikasari malah patah. Buat wanita itu forgiven but never forgotten loh mas (dia bicara sambil menatap rekan laki-laki saya) jadi sekali patah sulit tersambungnya. Makanya jangan dipatahkan ya.

Well, it's beautiful
Ringan tapi punya makna yang kuat.

Sebenarnya selama perbincangan itu saya dan rekan-rekan sesekali menimpali, membela diri, atau apalah namanya, tapi nggak banyak. Sayang sekali kalau nasihat yang sarat makna dari seorang bapak yang memiliki 2 putri dan 1 putra itu harus terputus karena sanggahan2 naif kami yang mungkin, takut terlucuti.

Semoga bisa diambil hikmahnya, seperti kata si bapak tadi, yang buruk di buang yang baik dipakai  :)
Al haqqu mirrabbik, segala yang salah datang dari saya karenanya mohon dimaafkan  ;)

Kalau ada pendapat-pendapat lain yuk dishare  ;)


I'm a simple woman, with humble way of thinking and wide point of view yet strong character within

Offline aira^kudo

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.405
  • Lokasi: Bandung thea..
  • Jenis kelamin: Wanita
  • [tsuki no kokoro ni, kakaru kumo nashi...]
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 04 Januari 2012, 18:00:07 »
Like this mbak haze. . ^^
.... a honorable death is prefer to be a life in shame....

Offline retnoarum

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 4.113
  • Lokasi: Bekasi
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 04 Januari 2012, 18:54:05 »
Pembelajaran yg baik. Semoga kedepannya aku bisa menjadi istri yg lebih baik lagi utk suamiku.

Trimakasih ya mba haze

Offline mesmerized haze

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.368
  • Lokasi: world
  • Jenis kelamin: Wanita
  • belajar menjadi BIJAK
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 04 Januari 2012, 19:21:51 »
@ aira
thank u aira  ;)

@ arum
sama-sama arum  :)

I'm a simple woman, with humble way of thinking and wide point of view yet strong character within

Offline viraisti

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 4.573
  • Jenis kelamin: Wanita
  • :: ternyata kini aku Pejuang :D ::
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 04 Januari 2012, 19:38:32 »
baca bareng suami, diriku cuma bilang "gw bangeet" sambil senyum2 liat die :p
ada beberapa point yg memang mesti diperbaiki, learning by doing aja lah yaa :D
:malu:
Jika memang takdir..
cinta pasti bertemu meski kau dan aku ada diujung dunia ^^

Offline ashee

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 308
  • Lokasi: J-Town
  • Jenis kelamin: Wanita
  • -keep moving always, InsyaAllah-
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 04 Januari 2012, 20:02:38 »
nah nah tadi pagi barusan bahas ini juga sama teman akhwat :D

saya punya beberapa teman yang emang siy kebanyakan notabenenya manten anyar (konon manten anyar msh berbunga-bunga gtu katanya, iya kali ya saya ga tahu :p) yang awalnya wonder woman jadi manjaaa banget, misal lembur tanpa kabar nangis-nangis, apa ga langsung dibales smsnya langsung kelimpungan. Terus ada lagi yang kebalikan, suaminya yang khawatiran banget, misal pergi naik motor cuma beda RW aja tiap 5 menit diteleponin  :wataw:. Suaminya bilang, ya klo misal masih bisa dianter sama abi ya harusnya sama abi aja. Padahal itu dah izin loh sama suaminya :D

jadi muncul pertanyaan
1. Apa iya ya "wajar" wanita klo udah jadi istri manja mode di atas gtu sama suami? abisnya saya nemuin beberapa teman akhwat, bilangnya ya wajar namanya juga istri sama suami mah begitu. Duh bingung saya  :wataw:
2. Sebagai istri yang salah satu tugasnya taat dan patuh sama suami dalam rangka kebenaran (mksdnya klo yg ga bener ya gpp ga patuh)
“Sebaik-baiknya istri ialah jika memandangnya kamu akan terhibur. Jika kamu menyuruhnya, ia akan menurut patuh. Jika kamu memintanya melakukan sesuatu, ia memenuhinya dengan baik, dan jika kamu bepergian, ia menjaga dirinya dan harta bendamu.” (HR. Nasa’i) kan klo ga izin juga disalahin sama suami, apalagi klo sampai terjadi apa-apa :D
menurut pandangan para suami ini baiknya gimana menyikapi terhadap izin ini? seperti menyikapi kasus nomor 2 nya bu Haze.


*ashee berharap selain renungan ini juga bisa jadi diskusi, buat pembelajaran bagi yg belum double dan bingung saking banyaknya referensi dan ilmu yang kudu dipelajari :D
"...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ”ar-rad:28~

Offline idrus_syah

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 14.911
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Pria
  • No More Wasting Time
    • Lihat Profil
    • Wilujeng Sumping
« Jawab #6 pada: 05 Januari 2012, 05:42:24 »
entahlah ... mungkin udah zamannya yah :hmmm:

mau akhwat ataupun kawat ...  :bobo:

yang dapat suami gitu ya si istri harus bersyukur, soalnya tidak sedikit suami yang susah mengerti keinginan si istri atau malah cenderung tidak mau mengerti dan harus si istri yang patuh saklek pada si suami
Grup myQuran di Facebook : http://facebook.com/groups/myqers/
Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur : http://www.facebook.com/ypr.mentari

Offline Th3s4inT

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.077
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • be patience...
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 05 Januari 2012, 08:42:36 »
@haze
jazakillah :) O0
apakah ada yg versi 'perempuan'nya? maksudnya, kritik dari seorang ibu2 yang bermantu untuk lelaki jaman sekarang?
siapa tau sekalian kritik buat saya :)
Let me lead the way, straight back to Allah's bless
'Cause this kind of love is.. once in a lifetime

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 05 Januari 2012, 08:50:04 »
Seru nih!
Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline SaintOf81

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 54
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 05 Januari 2012, 11:08:18 »
Itu si bapak tau sifat menantunya darimana yah?
Apa mereka tinggal satu rumah?
Atau si anak laki yang ceritain kelakuan istrinya? :)

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 05 Januari 2012, 11:37:33 »
^
10. Mbak-mas saya disini bukan buka-buka aib menantu saya loh ya, walaupun ada lah dari sekian banyak sinyalemen diatas yang menyerempet menantu saya (dia tertawa perlahan) tapi masih banyak baiknya kok. Cuma mau curcol


yg dia ceritain itu bukan tentang mantunya, walo ada beberapa sifat mantunya hampir-hampir mirip kayak gitu. Kalo namanya mantu sy rasa sih tau aja ya, hal yg lumrah aja kok, bisa tau dr momen pas nginep dirumahnya, cerita2 santai anaknya, dll


@ hazel
dahsyaaaat  :D
keren banget zel  O0

tumben juga bisa tahan utk gak arguing sama si bapak
 :siul:

@ ashee
udah nikah belom ?
kalo udah nikah udah punya anak belom ?

maaf ya sy tanya krn bener2 gak tau  %peace%

jadi kalo udah nikah dan punya anak, bisa kok milih2 mana yg penting dan mana yg cuma sekedar info aja.
Misal nhi, anak ingusan ya kan anak bisa ingusan 4-6x sepanjang taun bahkan bisa lebih dr itu kadang2 kalo anaknya alergi-an. Ya gak usah panik lagi gitu. Kalo suami telpon atau istrinya telpon suami ya kasih tau tapi santai aja, gak usah di dramatisir gitu. Bilang aja iya pilek, paling alergi, aku udah kasih obat

Tapi kalo panas tinggi boleh lha telpon suami minta saran baiknya gimana, kan panas tinggi paling 1-2 kali setaun. Nha kalo suaminya gak bisa pulang buat nganter ke dokter, suami istri harus sepakat menyelesaikan masalah, misal panggil taxi aja terus ajak si A tetangganya, gitu

Jangan merengek2 menuntut harus anter, suami juga kan ngerti kapan bisa ijin kapan gak bisa ijin. Kalo bisa ijin sama atasan jg pasti dia pulang, kalo gak bisa ya berarti kondisi kantor emang lg gak bisa ditinggal. Coba ditahan sebentar, sampe anak tertangani dan suami pulang kerumah dan merasa tenang karena anak udah lebih baik. Pas bedtime baru bisa di share uneg2 si istri, juga suami bisa njelasin kenapa dia gak bisa ijin dr kantor. gitu ...

menurut sy sih penting ya bisa ngeluarin uneg2 dan klarifikasi ttg kejadian penting, supaya ikatan trust nya makin kuat.

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 05 Januari 2012, 11:41:39 »
@haze
jazakillah :) O0
apakah ada yg versi 'perempuan'nya? maksudnya, kritik dari seorang ibu2 yang bermantu untuk lelaki jaman sekarang?
siapa tau sekalian kritik buat saya :)

dateng ke condet temuin emak gw gih,
seabreg kalo lo korek bro  :hihi:

malah bingung nyetopnya  :D

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline Th3s4inT

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.077
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • be patience...
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 05 Januari 2012, 14:16:59 »
^
ya kalo gitu tinggal ngaca sama elo aja lah
itu wejangan pada berhasil gak? :hihi: %peace%
Let me lead the way, straight back to Allah's bless
'Cause this kind of love is.. once in a lifetime

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 05 Januari 2012, 14:34:19 »
 8-)

gak usah gw jawab pun lo dah tau jawabannya adikku ...  :siul:

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline mesmerized haze

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.368
  • Lokasi: world
  • Jenis kelamin: Wanita
  • belajar menjadi BIJAK
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 05 Januari 2012, 16:37:37 »
@ uni vira
 :hihi:
terus si uda komentar apa ni  :p

@ ashee
hal macam itu go with the flow kok say

Soal izin ke suami itu bisa didiskusikan sebelumnya maunya suami seperti apa dan bisa juga belajar setelah ada kejadian ini itu. Misal kalau tadinya nggak ada rencana ke pasar, ke ATM, ke warung terus ada kebutuhan u kesana, dulu saya biasanya telpon atau sms suami u izin. Sekarang setelah ada kesepakatan, u ketempat2 tertentu dan sebentar saya bisa pergi tanpa harus izin dulu. Tapi karena sudah kebiasaan jadi  tetap memberitahu, bukan lagi meminta izin  :p

Beda lagi kalau soal anggota keluarga yang sakit. Waktu itu saya yang sakit, nyeri sekali dibagian perut khawatir ini dan itu saya telpon si ganteng dan bilang akan pergi ke RS X naik taxi. Si ganteng sedang dikantor, meeting. Waktu itu dia juga khawatir tapi karena jam praktik dokternya hampir habis, maka saya pergi sendiri tanpa menunggu dia pulang. Waktu itu saya bilang yes I'm in pain tapi saya masih bisa ke RS sendirian. Alot, tapi akhirnya dia percaya. Saya juga update terus supaya dia nggak panik, ketika saya sampai RS si ganteng memberi kabar dia akan menyusul ke RS. Akhirnya pas saat saya masuk ruang periksa, si ganteng datang.

Jadi intinya saya memaksakan izin dari dia supaya saya bisa pergi sendiri dengan meyakinkannya bahwa saya mampu pergi sendiri dan dampak negatifnya kalau saya harus menunggu dia.

Hal seperti itu butuh proses individual, jadi go with the flow aja nanti  :)

@ idrus
bersyukur  O0

@ kang s4inT
wa iyyakum kang  :)

pernah tapi nggak se'mengena' ini,
ada baiknya kang s4inT langsung minta pendapat ibu mertuanya aja  :hihi:

@ saintof81
oh kami nggak membahas menantu si bapak kok, dari awal yang kami bahas adalah perbandingan istri masa kini dan zaman dahulu. Lihat aja kata2 perbandingannya adalah istri zaman sekarang dan istri/ibunya dulu. Nggak mengarah ke menantunya  :)
Di akhir si bapak bilang bukan membicarakan menantunya karena kami juga tau si bapak baru punya menantu perempuan, sekitar 6 bulanan. Meskipun si bapak bilang ada hal yang mirip dengan sifat menantunya, tapi itu common kok, bukan hanya menantunya saya rasa saya, rekan perempuan saya dan beberapa myqers yang membaca juga merasa ter'sentil'  :p

@ kang sky
bisa aja sih saya arguing dari masalah belanja itu, karena setau saya Rasulullah dan sahabat itu berbelanja u keluarganya, bukan istri2nya yang memanggul kambing dari pasar  :p

Tapi ....
setelah itu apa ?

si bapak akan merasa sungkan meneruskan, situasi kaku dan saya rugi besar karena kehilangan momen berharga berupa nasihat penyegaran yang humanis dan kocak. U saya yang sudah tahunan menikah, siraman2 ringan seperti ini amat sangat menyejukkan. Bisa mengobarkan kembali azzam u memperbaiki diri dan kualitas hubungan kami.

Sudah sunatullahnya kan u bisa diisi si cangkir harus lebih rendah dari teko  ;)


BTW Th3skys4inTlight itu benar2 duet maut ya  :toe:
jangan merusuh di thread saya loh  :toe:
I'm a simple woman, with humble way of thinking and wide point of view yet strong character within