Fungsi Sektor Keuangan Bergeser Jadi Pemicu KrisisOleh Agust SupriadiJAKARTA: Akademisi menilai pergeseran fungsi sektor keuangan terhadap perekonomian dalam 20 tahun terakhir menjadi pemicu terjadinya krisis ekonomi global. Untuk itu, keberadaan sektor keuangan harus dikembalikan sebagai alat intermediasi simpanan dan investasi guna mendukung produksi, tidak lagi jadi alat spekulasi. Aris Ananta, Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore, menuturkan peran sektor keuangan terhadap perekonomian tidaklah nyata, seperti halnya sektor produksi yang jelas dampaknya. Karena memang fungsi dari sektor keuangan adalah untuk mendukung pendanaan sektor riil, bukan sebagai alat spekulasi seperti sekarang. "Sektor keuangan luar biasa pertumbuhannya dalam 20 tahun terakhir dan ini menjadi pemicu krisis karen [kucuran] kredit yang terlalu besar. Karena ekonomi keuangan telah dikuasai oleh spekulasi, bukan sektor riil," ujar dia dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), hari ini, Selasa, 13 Desember 2011. Paradigma sektor keuangan, lanjut dia, harus diubah guna menghindari krisis keuangan global semakin dalam yakni mengembalikan fungsi sektor keuangan ke fungsi aslinya dalam mendukung sektor produksi. "Occupy Wall Street merupakan kritik atas pergeseran fungsi sektor keuangan. Sektor keuangan harus kembali ke fungsi intermediasi tabungan dan investasi." Caranya, jelas dia, dengan meminimalkan ketergantungan pada kredit dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, serta meminimalkan aksi spekulasi. "Kalau perlu pasang label 'produk ini berbahaya untuk kesehatan finansial Anda' pada barang-barang finansial yang berbahaya," tuturnya. Untuk menekan spekulasi, kata Aris, stabilisasi inflasi harus dijaga dan tingkat suku bunga dinaikkan bagi kredit dan tabungan masyarakat berpendapatan rendah. Aris Ananta mengatakan saat ini ada empat hal penanda krisis global. Pertama, krisis utang di kawasan Eropa Barat yang diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu dekat, dan dampaknya akan terus berdampak ke seluruh dunia Kedua, krisis politik di negara-negara otoriter Timur Tengah. Ketiga, krisis politik di Amerika Serikat yang ditandai dengan aksi Occupy Wall Street. Keempat, krisis iklim menyusul lapisan ozon yang semakin menipis. "Ini bisa ditambah dengan krisis kemanusiaan jika dibiarkan dan bisa mengacaukan sistem sosial dan politik di seluruh dunia. Yang bisa kita lakukan adalah revolusi paradigma pembangunan." (ln)sumber: bisnis.com
sebenarnya ane juga berat untuk mutusin, dan memang yang subhat2 sebaiknya ditinggalin, cuman ekonomi rada mendesak, orang tua uda ga kerja, sementara ane masih 1 tahun lagi kuliah, tabungn menipis, jadi aga2 tergoda iman buat ikut dlam bisnis tersebut. mengenai sistem investasinya ane perna nanya sebelumnya , katanya si mubah, karena emang investor dapat profit yang lebih kecil ketimbang pengelola sehingga klo ada kerugian ditanggung penuh oleh pengelola + pengelolanya termasuk trader yang punya rank.
Saran saya adalah...JANGAN IKUT-IKUTAN INVESTASI KALAU ANDA SENDIRI RAGU.Yg namanya forex dalam sekali keuntungan memang besar sekali, akan tetapi resiko kerugiannya juga sama besarnya.Pelajari dulu, bagaimana mekanismenya investasi yg di tawarkan teman sampean..Janji profit 100-200% dari modal menurut saya itu sangat fantastik sekali , coba saja perbandingkan dengan tingkat investasi pada beberapa produk dari perbankan indonesia..rata-rata bunga tabungannya itu sekitar 8,5 %..Tapi justru dengan janji keuntungan 100-200 % tersebut seharusnya menjadikan TS lebih aware.Kalau boleh tahu, modal awalnya berapa ya ? terus paket nya apa saja ?..trus nama Brokernya siapa ?
hehe wajar aja sih klo tergiur jika ada nawarin keuntungan 100%-200%sistem investasinya bagaimana? klo rugi bagaimana? barapa lama perjanjiannya...dan ingat klo ada indikasi riba dalam sistem investasi ini lebih baik jangan deh...terus terang ini memecut saya untuk menjalankan bisnis real dengan target keuntungan 2x s/d 3x lipat tahun ini dibanding dari tahun kemarin, mungkinkah? mungkin dong
Hati-hati kang, coba tanyakan ke teman akang, resikonya bagaimana? biasanya bisnis seperti itu resiko tinggi tidak ada jaminan aman. tahu-tahu modal sampean amblas.kalau mau berfikir sehat, andai saya jadi teman yang menawarkan investasi teresbut, saya ngga usah repot2 ngajak teman atau orang lain, jual apa kek, rumah, kendaraan, aset diam lainnya buat modal investasi, toh tak berapa lama akan menghasilkan berkali-kali lipat.
Ya okelah kang Iqbal,Yang penting hati-hati dan carilah infonya bagaimana detil usahanya agar tidak terjebak usaha haram.Bentuk usaha seperti itu mirip dengan HYIP, investor tidak ikut trading langsung, dikala investor membludak dan kwalahan membayar profit suatu saat akan hilang begitu saja tanpa bisa dikomplain.Selama penerima dana investor (broker, admin, pengelola) masih untung, profit dia masih ada lebih dibanding setelah dibagi kepada investor maka usaha ini tetap jalan lancar. begitu mulai terbalik maka akan tutup dengan sendirinya tanpa menghiraukan kerugian investor.Coba saya tanya: uang investor apa dijamin pasti aman? dan apa jaminannya? bagaimana jika tiba-tiba pengelola menghilang kemana akang mau komplain?tips: bacalah agreement /persetujuan ketika akang mulai inves dana. Tidak ada istilah cuma membantu investor tanpa ia mendapat keuntungan. apalagi tidak kenal sama sekali dengan pengelola. kecuali usaha ini dalam persaudaraan seiman.
temen ane bukan pengelola tp investor, dia ngajak ane karena dia uda mendpat profit yang cukup gede hanya dari modal 3 jt. Pengelola uda cukup lama bergerak dibisnis dan sudh banyak banget follower yang bergabung.semuanya didata dan dipampang digroup facebook. misal ada keluhan atau maslah mereka juga mendiskusikannya disana. Mengenai resiko memang ga menutup kemungkinan klo tiba2 ga cair atau gimana, cuman investor bisa langsung complain keFB yang ane bilang tadi atau langsung kantornya ...Bisa di bilang saat ini mereka(pengelola) hanya mempertahankan bisnis dan mencoba membantu orang, karena mereka uda mendpat hasil yang besar untuk mereka sendiri