Mas asal dari kata كل Kullu adalah menunjukkan semua tanpa kecuali…
semua, seluruh = كُلٌّ : جميعٌ
Dan ia termasuk dalam kata yang menunjukkan dalil Amm (Umum)
اللفظ المستغرق لجميع أفراده بلا حصر
Lafadz yang mencakup seluruh bagian yang masuk kedalam satuannya tanpa adanya pembatasan (pengecualian). (Ushul Fiqh, Syaikh Utsaimin)
ما دل على العموم بمادته مثل: كل، وجميع، وكافة، وقاطبة، وعامة؛ كقوله تعالى: {إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ}
Dan setiap yang menunjukkan keumuman contoh lafadznya:
Kullu (Semua), Jami’, Kafah, Qotibah, Aamah Seperti perkataan Alloh
”Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan qodar”
Asal kata kullu adalah tanpa adanya pengecualian lihat contoh
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya Alloh berkuasa atas segala sesuatu
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Setiap jiwa akan merasakan mati
Al-Imron 185
Itu hukum asal bahwa Kullu bermakna semua tanpa kecuali, dan ia tetap pada makna asalnya sampai adanya nash atau qorinah yang memalingkan dari keumuman. Dan dalam bahasa arab kalimat itu maknanya dilihat dari konteksnya...dan tidak tepat menyamakan antara ayat-ayat tersebut dengan nash tentang sesatnya setiap bentuk bid’ah...karena ingat bahwa bahasa arab terikat dengan siaqul kalam...dan dalam siaqul qalam dalam hadits tidak menunjukkan adanya pengkhususan dan pemalingan dari makna asal lafazh kullu yang bermakna semua (tanpa terkecuali)....

afwan,,,
saya komentari yang satu ini dulu,,,
benar bahwa Ashl dari bab Kully ini memang ianya terpulang kepada "Keseluruhan" namun apa yang anda naqlkan dari Syeikh Utsaimin ini lain di depan lain di belakang,,
mari kita lihat di awal sekali qoul Syeikh Utsaimin yang anda kutip sbb :
Asal kata kullu adalah tanpa adanya pengecualian
di awal sekali anda dan syeikh utsaimin menyatakan bahwa lafad "Kully" ini tidak ada takhsis atau pengecualian, namun anda boleh lihat di belakang sbb :
Itu hukum asal bahwa Kullu bermakna semua tanpa kecuali, dan ia tetap pada makna asalnya sampai adanya nash atau qorinah yang memalingkan dari keumuman
di sini, anda dan syeikh utsaimin sudah membawa adanya ihtimal akan pengecualian dari lafad "Kully" (lihat yang saya bold).
saya berikan anda apa yang boleh menjadi pelajaran bagi anda dan syeikh utsaimin dalam hal ini,,
terdapat satu riwayat daripada Imam Muslim sbb :
اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ“Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh" (HR. Muslim no. 302)
masihkah anda katakan bahwa ia (lafad "Kully") mutlak atas keseluruhan tanpa takhsis ?
malah anehnya, anda dan syeikh utsaimin, membawa ihtimal adanya takhsis untuk hal lain, sedangkan untuk lafad "Kully" pada nash "Kullu bid'atin Dholalah" samasekali pengecualian di nafikan,,
darimana tolak ukur takhsis itu pilih-pilih seperti ini ?
Jika anda memiliki hujjah Silahkan anda tunjukkan mana qorinah atau dalil yang memalingkan nash kullu bid’atin dholalah kepada makna yang khusus atau dikecualikan...

anda meminta kembali apa yang sudah saya naqlkan daripada Qoul Imam An-Nawawi, ok saya berikan lagi :
قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَكُلّ بِدْعَة ضَلَالَة )
هَذَا عَامّ مَخْصُوص ، وَالْمُرَاد غَالِب الْبِدَع . قَالَ أَهْل اللُّغَة : هِيَ كُلّ شَيْء عُمِلَ عَلَى غَيْر مِثَال سَابِق . قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِدْعَة خَمْسَة أَقْسَام : وَاجِبَة ، وَمَنْدُوبَة وَمُحَرَّمَة ، وَمَكْرُوهَة ، وَمُبَاحَة . فَمِنْ الْوَاجِبَة : نَظْم أَدِلَّة الْمُتَكَلِّمِينَ لِلرَّدِّ عَلَى الْمَلَاحِدَة وَالْمُبْتَدِعِينَ وَشِبْه ذَلِكَ . وَمِنْ الْمَنْدُوبَة : تَصْنِيف كُتُب الْعِلْم ، وَبِنَاء الْمَدَارِس وَالرُّبُط وَغَيْر ذَلِكَ . وَمِنْ الْمُبَاح : التَّبَسُّط فِي أَلْوَان الْأَطْعِمَة وَغَيْر ذَلِكَ . وَالْحَرَام وَالْمَكْرُوه ظَاهِرَانِ . وَقَدْ أَوْضَحْت الْمَسْأَلَة بِأَدِلَّتِهَا الْمَبْسُوطَة فِي تَهْذِيب الْأَسْمَاء وَاللُّغَات ، فَإِذَا عُرِفَ مَا ذَكَرْته عُلِمَ أَنَّ الْحَدِيث مِنْ الْعَامّ الْمَخْصُوص . وَكَذَا مَا أَشْبَهَهُ مِنْ الْأَحَادِيث الْوَارِدَة ، وَيُؤَيِّد مَا قُلْنَاهُ قَوْل عُمَر بْن الْخَطَّاب رَضِيَ اللَّه عَنْهُ فِي التَّرَاوِيح : نِعْمَتْ الْبِدْعَة ، وَلَا يَمْنَع مِنْ كَوْن الْحَدِيث عَامًّا مَخْصُوصًا . قَوْله : ( كُلّ بِدْعَة ) مُؤَكَّدًا ( بِكُلِّ ) ، بَلْ يَدْخُلهُ التَّخْصِيص مَعَ ذَلِكَ ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى : { تُدَمِّر كُلّ شَيْء }"Adapun Hadist Nabi SAW : "Setiap bid'ah itu sesat" adalah hadist yang 'am makshsush (umum tapi dikhususkan). Yang dimaksud sesat disitu adalah kebanyakan bid'ah. Para Ahli bahasa berkata :"Bid'ah adalah segala sesuatu yang dikerjakan dengan tanpa ada contoh yang mendahuluinya. Para ulama berkata, bid'ah itu ada lima macam : wajib, mandub, haram, makruh dan mubah. Termasuk bid'ah yang wajib adalah menyusun dalil-dalil ulama mutakallimin untuk menolak mereka yang melakukan penyimpangan akidah dan para pelaku bid'ah serta yang seumpamanya. Termasuk bid'ah yang mandub adalah menyusun kitab-kitab ilmu, membangun madrasah, dan tempat-tempat pengajian serta yang lainnya. Termasuk ia bid'ah yang mubah adalah memperbanyak warna-warna, makanan dan lainnya. SEdangkan bid'ah yang haram dan makruh sudah jelas.
Masalah ini telah aku jelaskan dengan dalil-dalilnya yang luas dalam kitab "Tahziibul Asma' was-Lughat". Apabila dimengerti apa yang telah aku sebutkan itu niscaya diketahuilah bahwa hadist Nabi itu termasuk hadist yang 'am makshush dan begitu juga hadist-hadist yang serupa dengannya. Apa yang kami katakan ini diperkuat oleh pernyataan Umar bin al-Khattab ra dalam hal sholat Tarawih : "Dia adalah sebaik-baik bid'ah". Dan keadaan hadist itu sebagai hadist yang 'am makhsush tidaklah tercegah oleh sabda Nabi "kullu bid'atin" yang diperkuat dengan kata "kullu" melaiankan tetap dia itu dimasuki oleh takhsis walaupun bersama "kullu" seperti firman Allah : "Tudammiru kulla syai'in yang berarti "Angin taufan itu menghancurkan segala sesuatu" saya berikan juga apa yang termaktub dalam "An-Nihayah gharib al-hadis wa al-atsar daripada ibni atsir sbb :
في مادة "بدع " وفي حديث عمر رضي الله عنه في قيام رمضان : نعمت البدعة هذه : البدعة بدعتان بدعة هُدَى وبدعة ضلال ، فما كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم فهو في حَيز الذم والإنكار، وما كان واقعا تحت عموم ما ندب الله إليه وحض عليه الله أو رسوله فهو في حيز المدح وما لم يكن له مثال موجود كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف فهو من الأفعال المحمودة ، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما ورد الشرع به ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قد جعل له في ذلك ثوابا فقال "من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها" وقال في ضده "ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها" وذلك إذا كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم .lafadz bada'a ( bid'atan ). Dalam hadi umar dalam melaksanakan shalat tarawih ; sebaik baik bid'ah adalah ini. maka ( dilalah ) hadis ini menunjukkan bid'ah ada 2. bid'ah huda dan dhalal. Jika sesuatu yang baru berselisih dg sunah rasul, maka itulah dhalal ( sesat ).adapun jika masih dibawah JUZIATnya sunah rasul, itulah huda ( kebaikan ). salah satu penguat pendapat ini adalah adanya hadis : man sanna sunnatan hasanatan....ila akhirihi.yang disebutkan juga sebaliknya...man sanna sunnatan syyiatan...ila akhirihi.
Kita pernah membahas bahwa perkataan Imam malik
ما منا إلا راد ومردود عليه إلا صاحب هذا القبر
Tidak ada dari kami kecuali diterima atau di tolak pendapatnya kecuali Nabi Shallallahu Alahi wa sallam

benar,,
ini mengandungi makna bahwa semua fatwa boleh di tolak ataupun diterima, termasuk fatwa Sahabat Nabi SAW, kecuali fatwa Nabi SAW.
begitu juga fatwa Syeikh bin baz, utsaimin, solah al fauzan dan lain lagi ulama salafy/wahaby ya toh !!!
Jangan seolah anda membatasi ulama itu hanya imam nawawi atau imam suyuthi saja sehingga terkesan bahwa pendapat mereka harus diterima...padahal ulama itu banyak terbatas kepada ulama yang anda nukil saja dan dan para ulama selain mereka tidak sepakat dengan pembagian bid’ah tersebut.
Pembagian bid’ah menjadi lima jenis atau menjadi dua jenis yakni bid’ah hasanah dan sai’ah, adalah tidak tepat dan di ingkari oleh banyak ulama ahli ushul....pembagian ini termasuk perkara yang ditentang oleh para ulama karena menyalahi dhohir dan dilalah dari nash nabi...sejarah pembagian bid’ah menjadi 5 itu berasal dari pendapat dari kalangan fuqoha yakni izz bin abdussalam yang kemudian ditaqlidi oleh murid-muridnya di qurofi...perlu anda ketahui bahwa pembagian bid'ah semacam itu bukan perkara yang di amini dan di terima oleh ulama lainnya. Bahkan para ulama dan imam-imam ahlussunnah justru mengingkari dan membantah pembagian bid'ah tersebut karena tidak tepat dan menyalahi dhohir nash dan perkataan nabi...salah satunya adalah imam Saukaniy..
عن عائشة : " أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال : من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد " . متفق عليه . ولأحمد : " من صنع أمرًا على غير أمرنا فهو مردود " ………………………………
اهـ . وهذا الحديث من قواعد الدين لأنه يندرج تحته من الأحكام ما لا يأتي عليه الحصر . وما أصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم البدع إلى أقسام ـ نقل الإمام الشاطبي في الاعتصام أن العز بن عبد السلام نقل الإجماع على أن كل بدعة ضلالة ثم قسمها إلى خمسة أقسام وتبعه في ذلك تلميذه العلامة القرافي
الكتاب : نيل الأوطار شرح منتقى الأخبار من أحاديث سيد الأخيار
تأليف:
محمد بن علي بن محمد الشوكاني
Dari ‘Aisyah rodhiallohu anha “ Berkata Nabi Shalallahu alahi wa Salam “ Barang siapa yang beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amal tersebut tertolak” (Mutafaq Alaihi) dari Ahmad (barang siapa yang membuat-buat perkara agama bukan dari perintah kami maka ia tertolak)............................. ...
Hadits ini merupakan salah satu kaidah atau prinsip agama dan dimana ia berjalan dibawah dibawah seluruh hukum-hukum agama yang tidak ada pengecualian atau pembatasan pada ruanglingkupnya (mencakup seluruh hukum).
Dan hadits ini menjelaskan dan membatalkan pendapat dari sebagaian fuqoha yang membagi bid’ah menjadi dua bagian (Hasanah- Sai’ah) dan menukil dari Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-‘itisom bahwa ‘Izz bin Abdus Salam telah menukil Ijma bahwa seluruh bid’ah adalah sesat namun setelah itu ia membagi menjadi lima jenis bid’ah (Wajib, mandub, Mubah, Makruh, Haram) dan setelah itu di ikuti oleh para murid-muridnya di qurofi,
(Kitab Nail Auwtor Syarah Muntaqi Akhbar minal Hadits Sayyidul Akhbar Imam Muhammad Saukaniy 168/3)

apa yang diperaktakan Asy-Syawkaniy dalam Nailul Awtharnya ini, adalah juga termasuk dari qoul imam Malik yang anda telah nukilkan..
namun yang menjadi catatan bagi anda bahwa dalam qoulnya ini, Asy-Syawkaniy tidak menyentuh pembagian bid'ah menjadi 2 Hasanah dan Sayyi'ah, namun ianya menyentuh apa yang diperlazimkan oleh Al-Izz yang membagi bid'ah ke dalam 5 bagian
saya koreksi terjemahan anda pada lafad berikut :
وما أصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم البدع إلى أقسامanda menerjemahkan lafad
أقسام di situ sebagai "dua" sbb :
Dan hadits ini menjelaskan dan membatalkan pendapat dari sebagaian fuqoha yang membagi bid’ah menjadi dua bagian (Hasanah- Sai’ah)
namun yang benar daripadanya adalah "menjadi beberapa bagian", tidak ada lafadz Asy-Syawkaniy seperti yang anda terjemahkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga membantah pendapat tersebut
قام الثاني: أن يقال عن بدعة معينة: وهذه البدعة حسنة، لأن فيها من المصلحة كيت وكيت. وهؤلاء المعارضون يقولون: ليست كل بدعة ضلالة، والجواب: أما القول أن شر الأمور محدثاتها، وأن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار، والتحذير من الأمور المحدثات: فهذا نص رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلا يحل لأحد أن يدفع دلالته على ذم البدع، ومن نازع في دلالته فهو مراغم.
الكتاب : اقتضاء الصراط المستقيم
تأليف:
أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني 9/1
Adapun yang mengatakan bahwa bid’ah adalah tertentu (bersifat khusus) dan tidak seluruhnya sesat, lalu mengatakan adanya bid’ah hasanah, yang mana mereka berasalan karena didalamnya ada maslahat yang seperti ini dan seperti itu. Dan itulah orang-orang yang menyimpang yang mengatakan bahwa tidaklah seluruh bid’ah itu sesat.
Maka kita jawab : Adapun perkataan bahwa ”Sejelek-jeleknya perkara adalah perkara baru dalam agama, dan setiap perkara baru dalam agama adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka" maka ini adalah tahzir dari perkara yang diada-adakan dalam agama, ini adalah nash (perkataan) dari rosulullah shalallahu alaihi wasalam. Maka TIDAK HALAL bagi seorangpun menyanggah atau menyangkal dilalah dari nash yang menunjukkan dicelanya bid’ah dalam agama, dan barang siapa yang membantah dalil tercelanya bid’ah dalam agama maka ia termasuk orang-orang yang dimusuhi.
(Ibnu Taimiyah ‘Iqtidho Ash Shirothol Mustaqim 9/1)

sebenarnya apa yang diperkatakan oleh Ibn Taimiyah ini terlalu berlebihan, karena para Alimul ummah yang melazimkan adanya Bid'ah hasanah tidak sedikitpun menyangkal nash, bahkan ekstremnya perintah dari Ibn Taimiyah ini dengan memerintahkan agar para ulama yang membagi bid'ah kepada Hasanah dan Sayyiah itu wajib DIMUSUHI,,inilah beberapa pernyataan Ibn Taimiyah yang berbau kontroversi.
kalau memang ibn Taimiyah dan anda menyatakan bahwa semua perkara baru itu sesat,,
Bagaimana soalan Pembagian Tauhid kepada 3, Rububiyah, Uluiyah dan Asma wa sifat ?
anda cari keujung duniapun tidak akan anda temukan dalil Sarih yang menyatakan bahwa Tauhid itu ada 3,
Nabi, tidak ada menyatakan hal itu
Sahabat juga tidak ada
Tabi'in juga tidak ada
Tabi'ut Tabi'in juga tidak ada..
para Salafy/wahaby tidak mengakui hal ini, dan berusaha membelokkan bahwa pembagian Tauhid itu adalah pembagian ilmu, namun sekali lagi, bila ditanya "Mana dalil yang menyatakan Tauhid di bagi 3?" tetap pembicaraan tidak akan nyambung.
Bahkan Ibnu taimiyah mengatakan pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sai’ah bukan hanya bertentangan dengan hadits nabi namun juga termasuk mengta’thil (pengosongan) dari makna hadits nabi.
فصيل الاستدلال بقوله صلى الله عليه وسلم كل بدعة ضلالة والرد على من يحسن بعض البدع وأيضا فلا يجوز حمل قوله صلى الله عليه وسلم: "كل بدعة ضلالة" على البدعة التي نهى عنه بخصوصها، لأن هذا تعطيل لفائدة هذا الحديث
ثم بيان الدليل الصارف له إلى ذلك 12/16
Istidlal dengan menggunakan perkataan Nabi Shalallahu alaihi wasalam “ Setiap bid’ah dalam agama adalah sesat” merupakan bantahan terhadap orang yang mengganggap adanya sebagian bi’ah yang baik, karena tidak boleh membawa perkataan nabi shalallahu alaihi wa salam “Setiap Bid’ah dalam agama adalah Sesat” kemudian disangkal (dengan beralasan) karena hanya berlaku khusus, hal ini dilarang karena ini ta’thil (Pengosongan) dari faidah (makna) hadits…

Saya tanya anda,,
Asatidz Salafy/wahaby di Indonesia, pada umumnya Khutbah Jum'at pake bahasa apa ? Indonesia atau arab ?
kalau anda katakan pake bahasa Indonesia, itu adalah Bid'ah, karena tidak dikenal di zaman Nabi dan Sahabat Khutbah Jum'at pake bahasa selain bahasa 'Arab.
namun demi menyelamatkan diri, para asatidz salafy/wahaby menyatakan bahwa hal itu adalah Maslahat Mursalah, bukan bid'ah hasanah,
Padahal Maslahah Mursalah itu sendiri, adalah membahasi daripada hal-hal yang tidak diperlazimkan di Zaman Nabi dan Sahabat juga alias soalan baru yang tidak dikenal.
Imam Zahabi membantah pembagian bid’ah yang disinyalir karena tidak mengatahui adanya perbedaan antara pengertian bid’ah secara bahasa dan bid’ah secara istilah syar’i………..
أوضح المراد من قول عمر رضي الله عنه: "نعمت البدعة" ومعنى قوله صلى الله عليه وسلم: "كل بدعة ضلالة" وأنه ليس معناه كلّ ما سمي بدعة ولابد من التفريق بين البدعة الشرعية واللغوية.
وبيّن كمال الدين، واستدل على ذلك، وأنه لا حاجة بالأمة بعد إكمال الدين إلى البدع في الأقوال، أو الأعمال
: التمسك بالسنن والتحذير من البدع 25/1
محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي
Menjelaskan perkataan Umar rodhiallahu Anhu, “Sebaik-baiknya bid’ah” dan makna perkataan Nabi “Seluruh Bid’ah dalam agama adalah sesat” maksud nash tersebut tidaklah menunjukkan seluruh (perkara baru) dinamakan bid’ah namun perlu untuk memisahkan pengertian bid’ah secara syar’I (dalam agama) dan bid’ah dalam bahasa.
Dan menjelaskan tentang kesempurnaan agama dan kemudian beristidlal dengan kesempurnaan agama tersebut, karenanya tidak ada lagi alasan untuk membuat-buat bid’ah dalam perkataan maupun perbuatan (dalam agama) setelah sempurnanya agama.
Tamassuk bis sunan wa tahzir minal bida’ Imam Zahabiy 1/25

wah,,wah,,wah,,,
apa Imam Syafi'i tidak tau menau soalan bid'ah ini ?
menggolongkan bid'ah kepada istilah bahasa dan Syar'ie adalah datang belakangan daripada Ulama, dan itu sudah maklum dikalngan ahlul lughawiy, sebagaimana yang diperkatakan oleh Syeikh Atiyah Saqar sbb :
وأصحاب المنهج الثاني عرفوا البدعة بأنها الطريقة المخترعة على أنها من الدين وليست من الدين في شيء ، أو بأنها طريقة في الدين مخترعة تضاهى الطريقة الشرعية ويقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية ، ويدخل فيها العبادات وغيرها وقصرها بعضهم على العبادات ، وعلى هذا التعريف تكون البدعة مذمومة على كل حال ولا يدخل في تقسيمها واجب ولا مندوب ولا مباح . وعلى هذا المعنى يحمل الحديث "كل بدعة ضلالة" ويحمل قول مالك رضي اللّه عنه : من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لأن اللّه قال {اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا} المائدة : 3 ، وأصحاب هذا المنهج يحملون قول عمر في صلاة التراويح على المعنى اللغوي .
adapun manhaj kedua ( istilahi 'aam ) mendefinisikan bid'ah dg segala sesuatu hal yangbaru dan memasukkannya dalam agama, tapi aslinya bukan termasuk agama. dg definisi ini,,,maka yang namanya bid'ah itu jelek dan sesat mau dalam kondisi apapun. dg penafsiran semua bid'ah itu sesat dan tidak ada bid'ah baik, mereka menguatkan dg perkataan imam malik : barang siapa yang menyangkan ada bid'ah baik, maka dia telah mengkhianati risalah nabi muhamad, karena allah berfirman.." al yauma akmaltu lakum...ila akhirihi ". Dan manhaj ini mengatakan bahwa yang dimaksd oleh 'umar dalam hadisnya itu bid'ah dg makna bahasa. (sebenarnya pembelokan makna bid'ah yang dimaksud oleh umar pada makna bid'ah secara bahasa,,,ADALAH PENGAKUAN SECARA TIDAK LANGSUNG PADA ADANYA BIDAH BAIK, DAN PENGAKUAN TIDAK LANGSUNG BAHWA BIDAH TIDAK HANYA DALAM AGAMA )
kalau saya tanya anda, apakah Sahabat Umar rh, boleh membagi bid'ah ke dalam istilah lughawiy dan Syar'ie ketika memfatwakan "Hadzihi ni'matun Bid'ah" ?
Imam Zahabiy termasuk yang berpegang pada zhohir nash bahwa setiap bid’ah adalah sesat.
[البدعة كلها سيئة]
فقوم يرونها كلَّها سيئة، أخذاً بعموم النص في قوله: "كل بدعة ضلالة", فهؤلاء وقفوا مع النص؛ لأنّه3 لابد لمن سلك هذا أن يقول: "ما ثبت حسنه من هذه البدع فقد خص من العموم، أو يفرق بين البدعة اللغوية والبدعة الشرعية".
: التمسك بالسنن والتحذير من البدع 7/1
محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي
Prinsip “Setiap Bid’ah dalam agama adalah Sesat”
Bahwa tegak pandangan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, dengan mengambil dari keumuman nash dari perkataan nabi ”Setiap bid’ah dalam agama adalah sesat” pandangan ini yang mencocoki nash perkataan nabi, wajib bagi kita untuk berhenti atau mencukupkan diri dengan nash tersebut, karena wajib bagi yang menjalankan hadits nabi tersebut untuk mengatakan ” Bahwa tidak ada kebaikan pada setiap bid’ah dalam agama sebagaimana yang ditermaktub dalam keumuman nash, Dan perlu membedakan antar bid’ah secara bahasa dan bid’ah secara syar’i
Tamassuk bis sunan wa tahzir minal bida’ Imam Zahabiy 1/8

anda, hendaknya perjelas posisi anda, bagaimana yang dimaksud perkara baru dalam agama ?
kesalahannya, anda memvonis bahwa
- Maulidurrasul itu pekara baru dalam agama,
- Dzikir Jama'i itu perkara baru dalam agama,
- dan lain lagi..
sementara, kalau mau jujur, membagi Tauhid kepada 3 itu juga perkara baru dalam agama, bahkan ianya menyangkut Aqidah, namun kenapa anda tidak komplaint ?
kalau anda menganggap pembagian Tauhid itu bukan perkara baru dalam agama, tunjukkan ke saya nash sarih dari Nabi atau sahabat Nabi yang menyatakan
"TAUHID ITU TERBAGI 3"
ingat ! nash yang sarih,,
wallahu a'lam