Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?  (Dibaca 1168 kali)


Offline Zyndr4x

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2011
  • Tulisan: 19
  • Lokasi: Gorontalo
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« pada: 25 Desember 2011, 04:36:27 »
Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?

Mohon Penjelasannya ea :D
« Edit Terakhir: 25 Desember 2011, 04:50:17 oleh Zyndr4x »
"Sampaikanlah Dari-Ku Walaupun Hanya Satu Ayat"

Offline saruman

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 53
  • Lokasi: soerabaia
  • Jenis kelamin: Pria
  • sayah adalah abu hanan di Laskar Islam
    • Lihat Profil
    • Laskar Islam
« Jawab #1 pada: 26 Desember 2011, 14:36:58 »
Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?

Mohon Penjelasannya ea :D
boleh.kayak begini selamat ulang tahun yesus yg ke 2011.moga2 panjang umur dan jadi anak sholeh.
 :hihi:
http://laskarislam.indonesianforum.net/ forum yang dihindari atheis,agnostik dan penyembah berhala

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.944
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #2 pada: 26 Desember 2011, 16:08:32 »
Kutip dari: http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1198564259
Hukum Mengucapkan "Selamat Natal"

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Pak ustadz saya mau tanya, saya pernah membaca sebuah artikel tentang haramnya hukum mengatakan "Selamat Natal" kepada umat kristiani. Karena dijelaskan di situ bahwa kalau kita mengucapkan itu kita mengakui akan adanya trinitas dan sebagainya,

Bagaimana menurut pandangan pak Ustadz

Terima kasih
jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ucapan selamat natal oleh banyak kalangan memang diharamkan, bahkan sampai ada yang mengirim SMS kepada kami dengan kalimat pembuka: INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN: saya denger dari Elshintasi fulantelah mengucapkan ucapan selamat natal...

Menurut pengirim SMS itu, ucapan selamat natal itu kontra produktif dengan fatwa MUI tahun 1984.

Sikap kami sendiri tentu juga tidak mengucapkan selamat natal kepada para pemeluk agama kristiani. Selain ada fatwa yang mengharamkannya, juga mengucapkannya saat ini jadi akan salah waktu. Sebab Nabi Isa 'alaihissalam tidak lahir pada tanggal 25 Desember, beliau lahir di musim panas saat kurma berbuah, sebagaimana isyarat di dalam ayat Al-Quran saat Ibunda Maryam melahirkannya di bawah pohon kurma. Saat itu Allah SWT berfirma kepadanya:

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (QS. Maryam: 25)

Jelas sekali Nabi Isa lahir di saat buah kurma masak, dan itu tidak terjadi di musim salju. Kecuali kalau mau dipaksakan sebuah kebohongan baru lagi. Misalnya dikatakan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam merupakan penduduk Australia yang berada di Selatan Katulistiwa, di mana tanggal 25 Desember seperti sekarang ini di sana justru sedang musim panas. Tapi itupun salah, sebab di Australia tidak ada pohon kurma, yang ada mungkin pohon kaktus.

Atau bisa saja lahirnya nabi Isa tetap pada tanggal 25 Desember, tetapi syaratnya kejadiannya harus di Indonesia, karena pada tanggal seperti itu di Indonesia tidak ada musim panas atau musim dingin. Di Indonesia ada musim duren. Tapi yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah buah kurma, bukan buah duren. Lagian, masak Maryam sehabis melahirkan malah makan duren? Aya aya wae.

Perbedaan Pendapat Ucapan Selamat Natal

Tentang hukum ucapan selamat natal itu, memang kalau kita mau telusuri lebih jauh, kita akan bertemu dengan beragam pendapat. Ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak. Tapi ada juga yang membolehkannya dengan beberapa hujjah. Dan juga ada pendapat yang agak di pertengahan serta memilah masalah secara rinci.

Tentu bukan berniat untuk memperkeruh keadaan kalau kami sampaikan apa yang beredar di tengah umat tentang hal ini. Sebaliknya, kajian ini justru untuk memperluas wawasan kita dalam menuntut ilmu, wabil khusus tentang urusan yang agak khusus ini.

1. Pendapat Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Muslim

Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim

1. 1. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin

Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:

Memberi selamat kepada merekahukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah.

Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bidah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk.

1. 2. Fatwa Ibnul Qayyim

Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syiar-syiar kekufuran yang mereka lakukan.

1. 3. Fatwa MUI?

Sedangkan terkait dengan fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan selamat natal, ketika mencari dokumennya ternyata kami kesulitan mendapatkannya. Konon kabarnya fatwa itu dikeluarkan pada tahun 1984, seperti yang ada dalam SMS yang kami terima.

Tetapi setelah dibrowse di situs MUI (www.mui.or.id) maupun di buku Kumpulan Fatwa MUI yang kami miliki, fatwa haram itu tidak kami temukan. Yang kami temukan hanyalah fatwa tentang haramnya melakukan natal bersama.

Sebaliknya, kami malah mendapatkanberita yang agak kontradiktif dengan apa yang dianggap sebagaisikap MuI selama ini. Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu memang pernah menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen (ritual) Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, " katanya.

Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani."

Jadi mohon kepada MUI atau barangkali ada pembaca Eramuslim yang punya salinan fatwa tersebut, tentu kami akan sangat berterima kasih bila berkenan mengirimkannya kepada kami.

2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan

Selain pendapat yang tegas mengharamkan di atas, kita juga menemukan fatwa sebagian dari ulama yang cenderung tidak mengharamkan ucapan tahni'ah kepada umat nasrani.

Yang menarik, ternyata yang bersikap seperti ini bukan hanya dari kalangan liberalis atau sekuleris, melainkan dari tokoh sekaliber Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Tentunya sikap beliau itu bukan berarti harus selalu kita ikuti.

2. 1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

لا ٠٠هاكم الله ع٠ الذ٠٠ لم ٠قاتلوكم ف٠ الد٠٠ ولم ٠خرجوكم م٠ د٠اركم أ٠ تبروهم وتقسطوا إل٠هم إ٠ الله ٠حب المقسط٠Ù

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

وإذا ح٠٠تم بتح٠ة فح٠وا بأحس٠ م٠ها أو ردوها

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa': 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

2.2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'

Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

2.3 Majelis Fatwa dan Riset Eropa

Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

3. Pendapat Pertengahan

Di luar dari perbedaan pendapat dari dua 'kubu' di atas, kita juga menemukan fatwa yang agak dipertengahan, tidak mengharamkan secara mutlak tapi juga tidak membolehkan secara mutlak juga. Sehingga yang dilakukan adalah memilah-milah antara ucapa yang benar-benar haram dan ucapan yang masih bisa ditolelir.

Salah satunya adalah fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said, beliau adalah profesor di bidang Ilmu Tafsir dan Ulumul-Quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

3.1. Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Contohnya ucapan, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda di hari ini." Beliau cenderung membolehkan ucapan seperti ini.

3.2. Tahni'ah yang haram adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."

Beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

Kesimpulan:

Sebagai awam, ketika melihat para ulama berbeda pandangan, tentu kita harus arif dan bijaksana. Kita tetap wajib menghormati perbedaan pendapat itu, baik kepada pihak yang fatwanya sesuai dengan pendapat kita, atau pun kepada yang berbeda dengan selera kita.

Karena para ulama tidak berbeda pendapat kecuali karena memang tidak didapat dalil yang bersifat sharih dan qath'i. Seandainya ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menyebutkan: 'Alaikum bi tahni'atinnashara wal kuffar', tentu semua ulama akan sepakat.

Namun selama semua itu merupakan ijtihad dan penafsiran dari nash yang bersifat mujmal, maka seandainya benar ijtihad itu, mujtahidnya akan mendapat 2 pahala. Dan seandainya salah, maka hanya dapat 1 pahala.

Semoga kita tidak terjebak dengan suasana su'udzdzhan, semangat saling menyalahkan dengan sesama umat Islam dan membuat kemesraan yang sudah terbentuk menjadi sirna. Amin ya rabbal 'alamin

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.245
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #3 pada: 26 Desember 2011, 16:53:18 »
iqra, silahkan bacalah.. :koran:

Spoiler untuk Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain:
Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain

Islamedia - "Apakah ada yang bisa memberikan pencerahan baik secara dalil alquran, hadits, fatwa MUI atau apapun bagaimana sebenarnya muslim yang ikut merayakan Natal ( bukan ikut dalam ibadah Natal).

Ada yang mengatakan itu akan merusak aqidah, akan tetapi ada juga yang mengatakan lemah sekali imannya kalau hal seperti itu bisa merusak aqidah.

Iman umat Islam tak mungkin bisa keropos hanya gara-gara mengucapkan selamat Natal atau ikut dalam perayaan Natal. Iman umat Islam justru akan diperkaya dalam dialog antarbudaya dan antaragama.

Sebenarnya Boleh atau tidak ya ? Mohon maaf sebelumnya saya sangat membutuhkan pencerahan bukan perdebatan." (Pembaca Islamedia)

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa bad:

Untuk mengetahui batasan-batasan pergaulan muslim dan non muslim, maka panduan kita adalah Al Quran dan As Sunnah, sebagai rujukan tertinggi umat Islam dan pedoman hidup bagi kaum muslimin. Bukan pemikiran untung rugi masing-masing manusia yang subjektif.

Perayaan Keagamaan Adalah Wilayah Aqidah Bukan Muamalah

Persepsi ini harus dibangun dalam pemikiran kaum muslimin, bahwa perayaan keagamaan adalah masalah aqidah, bukan masalah muamalah (hubungan interaksi sosial), bukan pula budaya. Dalam masalah aqidah kita memiliki batasan-batasan yang jelas, yakni:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (QS. Al Kafirun (109): 6)
Tidak sedikit kaum muslimin yang keliru dalam menempatkan teks-teks agama. Mereka berdalih dengan ungkapan: Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ungkapan ini benar jika ditempatkan dalam hubungan sosial, seperti pinjam meminjam, hutang piutang, kerja sama dalam kebaikan sosial, dan yang semisalnya. Dalam hal ini Islam sangat membuka diri dan luwes. Bahkan dalam hukum Islam, kaum kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Islam dan masyarakatnya. Mereka sama sekali tidak boleh diganggu, kecuali jika mereka mengumumkan perang terhadap umat Islam.

Nah, mari kita lihat bagaimana Al Quran dan As Sunnah menyikapi perayaan hari besar keagamaan non muslim.

Kesetiaan Kaum Muslimin Hanya Kepada Allah, RasulNya, dan Kaum Muslimin
Kita lihat ada sebagian kaum muslimin yang begitu enggan dengan undangan sesama muslim, ajakan saudaranya, dan acara sesama umat Islam, seperti majelis talim dalam rangka menggali ilmu-ilmu agama. Tetapi anehnya, mereka bersemangat dengan ajakan dan undangan orang kafir kepada mereka. Sungguh aneh! Mereka pun merasa bangga dengan kebersamaannya dengan orang-orang kafir tersebut. Persis seperti yang Allah Taala sindir dalam Al Quran.
Allah Taala berfirman:

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS. An Nisa (4):139)

Ayat lainya:
Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka orang-orang yang ruku (tunduk). (QS. Al Maidah (5): 55)

Ayat lainnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah (5) : 51)

Apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya yang berati penolong dan kekasih.[1] Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).[2]
Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

Ikut merayakan dan menghadiri hari raya mereka merupakan salah satu bentuk keakraban dengan mereka dalam hal keagamaan. Ini semua tercela. Kita terbuai dengan perangkap syetan yang ada dibalik istilah toleransi yang tidak pada tempatnya. Ditambah lagi, khususnya Natal, mereka menyebut apa yang mereka lakukan adalah budaya, atau dialog antar budaya, bukan ritual keagamaan. Ini merupakan talbis (perangkap) dan syubhat pemikiran yang menggelayuti pemikiran mereka. Dialog antar budaya bukan dengan mengikuti acara hari besar non muslim, yang merupakan simbol utama sebuah agama. Bukan duduk bersimpuh mendengarkan ayat-ayat mereka. Bukan ikut berdiri ketika mereka berdiri dan duduk ketika mereka duduk, dan bernyanyi ketika mereka nyanyi, lalu memakan makanan ritual keagamaan mereka, bertepuk tangan menyanjung mereka, dan ikut berbahagia atas perayaan mereka. Itu bukan dialog yang diinginkan Al Quran, walau bisa jadi itulah dialog yang diinginkan ala mereka. Itu bukan memperkaya aqidah, tetapi ittiba bil kuffar (mengekor kepada kaum kuffar).

Dialog itu adalah berdiskusi, tanya jawab, munazharah, debat yang baik, agar mereka mau menerima Islam; baik menerima menjadi agama mereka, atau menerima Islam sebagai agama yang eksis dan mereka mau berdampingan dengan tidak saling menganggu.

Memperkaya aqidah adalah dengan banyak-banyak mengkaji Al Quran melalui para ahlinya, mempelajari As Sunnah, mempelajari sejarah para nabi dan orang-orang shalih, hidup bersama orang shalih dan kaum beriman, dan berbanggalah dengan itu.

Memperkaya aqidah bukan dengan berbasa basi dengan kekafiran dan penyimpangan mereka, bukan dengan mengikuti perayaan mereka, dan justru berbangga dengan itu, ini adalah sinkretisme yang dibaluti toleransi agama yang bukan pada tempatnya.

Lalu, yang terpenting adalah bahwa larangan mengikuti hari raya mereka adalah bagian dari taabbudi (peribadatan) yang manshush alaih (disebutkan dalam nash), yang sikap kita adalah dengar dan taat. Turun atau tidak keimanan Anda, tetap stabil atau labil keadaan iman Anda, maka larangan tersebut tetaplah berlaku. Larangan tersebut tetap ada walau pelakunya adalah seorang yang merasa sangat shalih dan mukmin, dan mampu menjaga keimanannya.

Peringatan Allah Taala Bagi Kaum Muslimin
Jauh-jauh hari, 15 abad yang lalu, Al Quran telah memberikan panduan bagii umatnya untuk melindungi aqidahnya, yakni untuk tidak mengikuti mereka, tidak memenuhi ajakan mereka dalam hal aqidah dan keagamaan. Namun, entah ke mana dan di mana ayat-ayat ini dalam sanubari umat Islam?

Allah Taala berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra (17): 36)
Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al Baqarah (2): 109)

Dalam ayat lain:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. An Nisa (4): 100)

Ayat ini dengan jelas memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti perilaku orang kafir, sebab niscaya mereka akan mengembalikan orang beriman menjadi kafir setelah beriman.
Imam Ibnu Katsir mengatakan:
يحذر تعالى عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم في الباطن والظاهر
Allah Taala memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya yang beriman tentang jalan dan perilaku orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), dan memberitahu mereka tentang permusuhan mereka terhadap kaum beriman, baik yang di hati atau yang ditampakkan.[3]

Al Quran Melarang Umat Islam Mengikuti Hari Raya Orang Kafir
Dalam Al Quran, mengikuti hari raya mereka diistilahkan dengan memberikan kesaksian palsu (Az Zuur). Allah Taala telah menegaskan demikian:

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS. Al Furqan (25): 72)

Tentang makna ayat ini, Abu Bakar Al Khalal meriwayatkan dalam Al Jami, dari sanadnya sendiri dari Muhammad bin Sirin, tentang makna: Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu .., katanya: itu adalah menghadiri Syaanin.

Syaanin adalah hari raya Nasrani, mereka merayakannya dalam rangka mengenang kembali masuknya Isa Al Masih ke Baitul Maqdis.

Begitu pula yang disebutkan dari Mujahid, katanya: Mengikuti hari-hari raya orang musyrik.[4]
Begitu juga yang dikataka oleh Rabi bin Anas, katanya: Mengikuti hari-hari raya orang musyrik.
Semakna dengan ini, apa yang diriwayatkan dari Ikrimah, katanya: (Tidak melakukan) permainan yang dahulu mereka lakukan ketika jahiliyah.

Al Qadhi Abu Yala mengatakan: Ayat ini berbicara tentang larangan menghadiri hari raya orang-orang musyrik.

Adh Dhahak juga mengatakan: (tidak) mengikuti hari raya orang musyrik. Sementara Amru bin Murrah mengatakan: Mereka tidak ikut bersama kaum musyrikin dan tidak membaur bersama mereka. Lihat semua tafsir ini dalam kitab Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim. [5]

As Sunnah Telah Melarang Umat Islam Menyerupai dan Mengikuti Hari Raya Orang Kafir
Ada dua pembahasan dalam bagian ini. Pertama, larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerupai orang kafir. Kedua, larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengikuti hara raya orang kafir. Larangan berpartisipasi dalam perayaan hari raya orang kafir sangat kuat. Jangankan ikut andil, sekadar menyerupai mereka saja tidak dibenarkan. Ini membuktikan betapa kuat agama ini dalam melindungi umatnya, dari aqidah, kebiasaan, dan perilaku orang-orang kafir.

Pertama, Larangan Menyerupai Orang Kafir
Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.[6]
Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini, tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudhai dari Thawus secara mursal.[7] Sementara, Imam Al Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih menurut Imam Al Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.[8] Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.[9] Demikian status hadits ini.

Oleh karena itu tidak dibenarkan menyerupai mereka dalam urusan agama, terlebih mengikuti perayaan hari besar, yang merupakan hari utama mereka.
Imam Al Munawi dan Imam Al Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir: Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya. [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengatakan, dan ini merupakan perkataan Imam Ahmad bin Hambal juga, bahwa hadits ini merupakan dalil, paling sedikit kondisi penyerupaan dengan mereka merupakan perbuatan haram, dan secara zhahirnya bisa membawa pada kekufuran, sebagaimana ayat: Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka dia telah menjadi bagian dari mereka. [11]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami. [12]
Sebagaimana kata Imam At tirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhaiah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya.[13] Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.[14]
Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri tentang hadits ini:
لَا تَشَبَّهُوا بِهِمْ جَمِيعًا فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِمْ
Janganlah kalian semua menyerupai mereka dalam segala perilaku mereka.[15]
Tentu maksudnya adalah segala perilaku yang terkait dengan agama dan simbol agama mereka, baik acara keagamaan, pakaian keagamaan, dan lainnya. Namun, untuk perilaku di luar itu, yang terkait dengan kemaslahatan dunia dan kemakmuran manusia, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, strategi perang, dan semisalnya, maka Islam membolehkan mengambil manfaat dari mereka.
Ketika perang Ahzab yang biasa juga disebut perang Khandaq (parit), strategi yang diterapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabatnya adalah strategi menggali Khandaq (parit) yang merupakan cara orang Persia (Majusi), atas usul sahabat Nabi, Salman Al Farisi Radhiallahu Anhu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga pernah menggunakan baju Romawi yang sempit padahal saat itu Romawi adalah Nasrani, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi.[16]

Kedua, larangan Mengikuti Perayaan Hari Besar Orang Kafir
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sudah melarang umatnya untuk mengikuti hari raya mereka. Dari Aisyah Radhiallahu Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.[17]
Maka, hari raya umat Islam adalah hari raya yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, saat itulah kaum muslimin merayakan kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, berhibur dari, makan-makanan yang enak dan lainnya. Bukan pada hari raya agama orang lain, baik Yahudi, Nasrani, Konghucu, Budha, Hindu, dan agama lainnya.
Secara khusus, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang umat Islam mengikuti hari raya mereka.
Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, beliau berkata:
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.[18]
Al Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari mengatakan hadits ini sanadnya shahih.[19] Syaikh Al Albani juga menshahihkannya dalam Ash Shahihah.[20]
Pada masa jahiliyah, kaum musyrikin memiliki dua hari, yakni Nairuz dan Mihrajan. Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim:

Dilarang (bagi umat Islam) mengadakan permainan dan berbahagia pada dua hari itu yakni Nairuz dan Mihrajan. Hadits ini juga terdapat larangan yang halus dan perintah untuk beribadah, karena kebahagiaan hakiki terdapat dalam ibadah.

Lalu, disebutkan perkataan Al Muzhhir:
Ini merupakan dalil bahwa menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan hari raya orang-orang muysrik yang lain, adalah terlarang.[21]

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: Dari hadits ini disimpulkan bahwa adalah hal yang dibenci berbahagia menyambut hari raya orang musyrik dan menyerupai mereka, dan telah sampai perkataan Syaikh Abu Hafsh Al Kabir An Nasafi dari kalangan Hanafiyah: Barangsiapa yang memberikan hadiah kepada orang musyrik demi menghormati hari raya mereka, adalah perbuatan kufur kepada Allah Taala.[22]

Bahkan, lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melarang seorang muslim membantu menjual keperluan orang Islam yang ingin ikut-ikutan hari raya mereka pada hari raya orang kafir, baik berupa makanan, pakaian, dan lainnya, sebab itu merupakan pertolongan atas kemungkaran.[23]

Peringatan

Hari raya merupakan simbol utama dari sebuah agama. Bukan hanya simbol tapi juga waktu kebanggaan bagi masing-masing agama. Maka, perilaku mengikuti, merayakan, dan memperingati hari raya orang kafir merupakan perilaku melarutkan diri dalam sebuah simbol utama dan hari kebanggaan mereka. Maka, tidak syak (ragu) lagi keharamannya, bahkan sebagian ulama mengatakan kufur seperti yang kami sebutkan di atas. Apalagi jika seorang muslim ikut-ikutan acara ritual yang ada di pelaksanaan hari raya tersebut seperti ikut kebaktian, ikut melagukan lagu puji-pujian mereka, ikut ke klenteng atau tepekong untuk sembahyang, dan semisalnya. Hal ini jika dilakukan karena kesadaran, tidak dipaksa, dan sudah disampaikan dalil kepada mereka, tetapi mereka masih membandel ikut-ikutan juga, maka ini kufur menurut ijma ulama. Tetapi, jika dilakukan karena kebodohannya, atau terpaksa dan dipaksa, dan belum disampaikan dalil kepada mereka, maka belum dikategorikan kafir.

Ada pun orang Islam yang menjadi penggembira, yang ikut-ikutan berbahagia menyambutnya walau tidak ikut langsung dengan perayaannya, maka ini pun terlarang bahkan haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama di atas.

Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat hari raya agama lain yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah hal yang diharamkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya. Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bidah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Taala. (Imam Ibnul Qayyim, Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Demikianlah penjelasan Al Quran, As Sunnah, dan keterangan para Imam kaum muslimin. Semoga bermanfaat bagi yang menginginkan kebaikan bagi agama dan dunianya.

Wallahu Alam

Farid Nu'man Hasan

[1] Imam Ibnu Jarir, Jamiul Bayan, Juz. 9, Hal. 319. Muasasah Ar Risalah

[2] Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582
[3] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, Juz. 1, Hal. 382. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi

[4] Agama Konghucu dengan hari besar mereka, Cap Gho Meh, termasuk kaum musyrikin yang hari raya besar mereka harus dijauhi.

[5] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 381.
[6] HR. Abu Daud No. 4031
[7] Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215
[8] Imam Ismail bin Muhamamd Al Ajluni, Kasyful Khafa, Juz. 2, Hal. 240. Darul Kutub Al Ilmiah
[9] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi, Aunul Mabud, Juz. 11, Hal. 52. Cet. 2, 1415H. Darul Kutub Al Ilmiah
[10] Ibid

[11] Ibid. Lihat juga Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 214
[12] HR. At Tirmidzi No. 2695
[13] Lihat dalam Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 193, No. 2194. Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 23, No. 2723. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 6, Hal. 195. Shahihul Jami No. 5434
[14] Raudhatul Muhadditsin, 10, Hal. 332, No. 4757
[15] Syaikh Abul Ala Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 6, Hal. 496
[16] HR. At Tirmidzi No. 1768, Katanya: hasan shahih

[17] HR. Bukhari No. 952
[18] HR. An Nasai No. 1556, lihat juga As sunan Al Kubra No. 1755
[19] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371. Dalam kitabnya yang lain, yakni Bulughul Maram juga disebutkan demikian.
[20] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Ash Shahihah No. 2021

[21] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi, Aunul Mabud Syarh Sunan Abi Daud, Juz. 3, Hal. 88

[22] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371

[23] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 462


http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger

Offline kepala_setting

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2011
  • Tulisan: 104
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 27 Desember 2011, 10:29:51 »
ikut merayakan, jelas haram.

Tapi mengucapkan "selamat merayakan natal", bukan bagian dari perayaan saya kira.  :)

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 27 Desember 2011, 11:46:23 »
^ argumennya please !

Offline al fakir

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.249
  • Lokasi: perantauan
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sekedar cari Pengalaman
    • Lihat Profil
    • Mau Nambahin Catatan saya? mampir yach,,, masih perlu belajar nich,, bantuin yach,
« Jawab #6 pada: 27 Desember 2011, 11:55:12 »
biasanya argument diperbolehkan mengucapkan selamat karena toleransi tidak diperbolehkan karena seolah membenarkan atau mengamini kebenaran dari agama itu,

tinggal pilih aja dech milih yang mana, semua ada konsekuensinya :)
sebaik-baik perkataan adalah kitabuAllah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk rasullah (As-Sunnah) Dan Internet secara umum bukan tempat yang baik untuk belajar agama


Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 27 Desember 2011, 13:05:21 »
toleransi yah, dengan mengucapkan selamat atas kelahiran tuhan anda :D
bukankah dengan mengucapkan selamat berarti ikut senang karena senang maka bisa dikatakan merayakannya :D

Offline al fakir

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.249
  • Lokasi: perantauan
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sekedar cari Pengalaman
    • Lihat Profil
    • Mau Nambahin Catatan saya? mampir yach,,, masih perlu belajar nich,, bantuin yach,
« Jawab #8 pada: 27 Desember 2011, 13:49:54 »
ya itulah konsekwensinya, pilih saja ndak cuma anak kecil yang membolehkan bahkan pembesar organisasi keislaman mengucapkannya, kalo saya memilih tidak untuk hal hal begini , boleh jadi ini perangkap JIL hehehe,,
sebaik-baik perkataan adalah kitabuAllah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk rasullah (As-Sunnah) Dan Internet secara umum bukan tempat yang baik untuk belajar agama


Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 27 Desember 2011, 14:09:15 »
menunggu om kepala setting :)

Offline Liang_Kubur

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 109
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 27 Desember 2011, 23:00:50 »
jelas sekali haram, sama dengan mengucapkan selamat atas kelahiran anak tuhan... jadi hukumnya haram

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.245
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #11 pada: 28 Desember 2011, 04:28:00 »
Saya kira mengucapkan malah tidak bagus buat kesehatan :koran:
http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 31 Desember 2011, 11:00:43 »
Yang diharamkan itu mendo'akan ampunan baginya, sedangkan ucapan semisal "semoga lekas sembuh" adalah boleh karena itu bagian dari mu'amalah.

Bahkan mendo'akan agar non muslim mendapatkan petunjuk atau hidayah itu boleh, misal dengan ucapan "semoga Tuhan memberimu petunjuk".

Yang gak boleh adalah do'a memohon pengampunan bagi kaum kafir, karena jelas kekafiran adalah dosa besar yang tidak dapat diampuni.

CMIIW

Apakah ucapan "selamat natal bagi yang merayakan" ini merupakan bentuk ucapan ridho (rela) atas kekafiran mereka atau sekedar ucapan tahiyah (penghormatan) semata ?

Apakah perbuatan Nabi saw yang berdiri ketika mayit kafir tsb lewat adalah bentuk penghormatan atas kekafiran mereka atau penghormatan atas sesama manusia ?

Kutip
Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim No.1596)

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS 60:8)
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 31 Desember 2011, 11:30:23 »
Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat hari raya agama lain yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah hal yang diharamkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya. Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bidah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Taala. (Imam Ibnul Qayyim, Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

apakah Natal bukan syiar kekufuran? alangkah naif menyamakan perayaan syiar kekufuran (akidah) dengan berdiri ketika kafir meninggal (muamalah kemanusiaan).  :hmmm:

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 02 Januari 2012, 09:35:25 »
...
apakah Natal bukan syiar kekufuran? alangkah naif menyamakan perayaan syiar kekufuran (akidah) dengan berdiri ketika kafir meninggal (muamalah kemanusiaan).  :hmmm:

Bukan merayakan syiar kekufuran dong, emang siapa umat Islam yang ikutan merayakan natal ?

Ucapan selamat tsb, jika ini dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia, maka tentu saja boleh.

Apakah menurut anda, ketika Allah SWT membiarkan umat non Islam tetap eksis maka ini menunjukkan ridho-Nya kepada kekafiran mereka ?

Apakah ketika Nabi saw memberikan pilihan kepada umat non Islam antara memeluk Islam, membayar jizyah yang jika mereka mengambil salah 1 pilihan tsb kemudian tidak diperangi, dijaga darah, harta, kemormatannya maka ini merupakan bentuk ridho Nabi saw atas kekufuran mereka ?

 :hmmm:


innama A'malu bin Niyyati ... semua tergantung niat ...
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 05 Januari 2012, 12:39:09 »
kalau begitu nahnu a'maluna wa antum a'malukum  :dada:
sekedar mengingatkan jikalau mengucapkan selamat natal itu baik maka Nabi dan para sahabat akan mendahului mengucapkannya (sawah mode on)  %peace%

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 06 Januari 2012, 05:50:46 »
kalau begitu nahnu a'maluna wa antum a'malukum  :dada:
wa iyyakum

Kutip dari: dra
sekedar mengingatkan jikalau mengucapkan selamat natal itu baik maka Nabi dan para sahabat akan mendahului mengucapkannya (sawah mode on)  %peace%
Jadi anda akan ikut kaidah kelompok yang bersebrangan dengan anda selama itu mendukung paham anda saja, maka anda rela nyawah ?  Kalau soal Tahlil/Maulid/Dzikir Jama'ah pake kaidah ini anda mau terima gak ?  :jaim:


Btw, kaidah tsb masuk dalam kaidah fiqh kah ?  :hmmm:
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.245
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #17 pada: 06 Januari 2012, 06:19:37 »
Jadinya :
1. niat ucapan sekedar hormat toleransi..
2. lebih baik diam, lakumdinukum...
:hmmm:
http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 06 Januari 2012, 08:39:48 »
Jadi anda akan ikut kaidah kelompok yang bersebrangan dengan anda selama itu mendukung paham anda saja, maka anda rela nyawah ?  Kalau soal Tahlil/Maulid/Dzikir Jama'ah pake kaidah ini anda mau terima gak ?  :jaim:
ups ungkapan diatas adalah milik Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya bukan milik kelompok tertentu  :hmmm: , hanya kelompok tersebut sering menggunakan ungkapan diatas untuk menghantam amalan kelompok lain yang berbeda  :wataw:

Dan tidak ada yang salah dengan ungkapan tersebut, yang salah adalah pemahaman akan ungkapan tersebut  secara serampangan :hmmm:, kita ambil contoh yang anda berikan, tahlil ---> memang secara acara keseluruhan tidak pernah ada contoh, sama seperti acara kajian islam/upacara senin/ acara lain yang merupakan gabungan beberapa kegiatan.  :hmmm: namun apakah pembacaan kalimat thayibah (tahlil, tasbih, tahmid, takbir) tidak pernah dicontohkan?apakah tausyiah mengingat kematian tidak pernah dicontohkan?apakah sedekah tidak pernah dicontohkan?itulah pemahaman yang serampangan akan ungkapan Imam Ibnu Katsir tersebut  :siul:

sedangkan mengucapkan selamat natal, pernahkah dicontohkan? bahkan jawaban Imam Ibnu Qayyim yang saya kutipkan ini
Kutip
Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat hari raya agama lain yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah hal yang diharamkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya. Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bidah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Taala. (Imam Ibnul Qayyim, Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al Ilmiyah)
sama sekali tidak anda komentari, so berhati-hati dalam hal akidah adalah mutlak, apalagi menyangkut syiar kufur seperti natalan  :hmmm:

Btw, kaidah tsb masuk dalam kaidah fiqh kah ?  :hmmm:
bukan  :wataw:

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #19 pada: 06 Januari 2012, 09:25:34 »
ups ungkapan diatas adalah milik Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya bukan milik kelompok tertentu  :hmmm: , hanya kelompok tersebut sering menggunakan ungkapan diatas untuk menghantam amalan kelompok lain yang berbeda  :wataw:

Dan tidak ada yang salah dengan ungkapan tersebut, yang salah adalah pemahaman akan ungkapan tersebut  secara serampangan :hmmm:, kita ambil contoh yang anda berikan, tahlil ---> memang secara acara keseluruhan tidak pernah ada contoh, sama seperti acara kajian islam/upacara senin/ acara lain yang merupakan gabungan beberapa kegiatan.  :hmmm: namun apakah pembacaan kalimat thayibah (tahlil, tasbih, tahmid, takbir) tidak pernah dicontohkan?apakah tausyiah mengingat kematian tidak pernah dicontohkan?apakah sedekah tidak pernah dicontohkan?itulah pemahaman yang serampangan akan ungkapan Imam Ibnu Katsir tersebut  :siul:
Sama saja, jika hal tsb baik (tahlilan/muludan), tentulah para shahabat dan tabi'in akan berlomba-lomba mengerjakannya.

Kutip dari: dra
sedangkan mengucapkan selamat natal, pernahkah dicontohkan? bahkan jawaban Imam Ibnu Qayyim yang saya kutipkan ini  sama sekali tidak anda komentari, so berhati-hati dalam hal akidah adalah mutlak, apalagi menyangkut syiar kufur seperti natalan  :hmmm:
Ada pendapat lain yang membolehkan bukan, seperti fatwa syaikh Yusuf Qordhowiy

Atau Syaikh Wahbah Zuhaily : http://www.fikr.com/zuhayli/fatawa_p54.htm#26 ketika beliau ditanya :

ما حكم تهنئة النصارى بأعيادهم
Apakah hukum penghormatan Nashrani berkaitan hari Raya mereka ?
 
Beliau menjawab :

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم
Tidak ada halangan dalam bersopan-santun (mujamalah) dengan orang Nashrani dalam pandangan sebagian Ahli Fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.

Kutip dari: dra
bukan  :wataw:
Ya sudah kalau bukan. Berarti tidak digunakan dalam fiqh suatu masalah.  :wataw:
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 06 Januari 2012, 10:41:46 »
Sama saja, jika hal tsb baik (tahlilan/muludan), tentulah para shahabat dan tabi'in akan berlomba-lomba mengerjakannya.
itulah perbedaannya, saya tidak pernah menganggap acara tahlil itu ibadah, yang saya lihat ibadah adalah zikir, tausyiah dan sedekahnya  :jaim: ; jika ada saudara kita yang mengadakan bahwa acara tahlil itu ibadah maka luruskan, karena yang ibadah adalah sunnah2 didalamnya, berzikir, tausyiah dan sedekah. sama seperti kajian islam itu hanya acara biasa yang tidak bernilai ibadah, namun belajar dan silaturahim didalamnya yang dinamakan ibadah.
Ada pendapat lain yang membolehkan bukan, seperti fatwa syaikh Yusuf Qordhowiy

Atau Syaikh Wahbah Zuhaily : http://www.fikr.com/zuhayli/fatawa_p54.htm#26 ketika beliau ditanya :

ما حكم تهنئة النصارى بأعيادهم
Apakah hukum penghormatan Nashrani berkaitan hari Raya mereka ?
 
Beliau menjawab :

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم
Tidak ada halangan dalam bersopan-santun (mujamalah) dengan orang Nashrani dalam pandangan sebagian Ahli Fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.
selamat atas kelahiran tuhan anda (natal) apakah itu bukan bentuk pengakuan?  :hmmm:
apakah jika anda menganggap ucapan selamat itu bersopan santun, maka yang tidak mengucapkannya tidak bersopan santun? duh fatwa syaikh tidak salah, yang salah yang memahami pendapat tersebut sebagai acuan membolehkan ucapan persetujuan atas kelahiran tuhan kristen  %peace%
Ya sudah kalau bukan. Berarti tidak digunakan dalam fiqh suatu masalah.  :wataw:
saya hanya mengingatkan saja, bukannya orang yang terafiliasi pemahamannya terhadap kelompok tersebut sering menggunakan ungkapan tersebut  %peace%

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #21 pada: 06 Januari 2012, 17:30:51 »
itulah perbedaannya, saya tidak pernah menganggap acara tahlil itu ibadah, yang saya lihat ibadah adalah zikir, tausyiah dan sedekahnya  :jaim: ; jika ada saudara kita yang mengadakan bahwa acara tahlil itu ibadah maka luruskan, karena yang ibadah adalah sunnah2 didalamnya, berzikir, tausyiah dan sedekah. sama seperti kajian islam itu hanya acara biasa yang tidak bernilai ibadah, namun belajar dan silaturahim didalamnya yang dinamakan ibadah.
Ya ... ya ... ya ... bagi para pecinta tahlil, petunjuk Rasulullah saw dan hukum makruh para imam juga anda abaikan bukan ?

Apapun yg anda katakan, toh sama saja, anda kaitkan dzikir tsb pada kematian seseorang dengan susunan tertentu dan hei ... do'a tahlilnya itu2 juga <<< ini anda berlaku seolah-olah pembuat syari'at. Menetapkan sesuatu menyerupai syari'at

Anda mau bilang apapun, nuansanya sama saja ... jika hal tsb baik kenapa ya para shahabat bahkan Imam syafi'iy memakruhkannya ? baik kok makruh ....  :wataw:

Kutip dari: dra
selamat atas kelahiran tuhan anda (natal) apakah itu bukan bentuk pengakuan?  :hmmm:
Bagaimana jika itu dijadikan sindiran ... gak mikirkah anda ... mana ada umat Islam mengakui Isa as sebagai Tuhan ?  :hmmm:

Kutip dari: dra
apakah jika anda menganggap ucapan selamat itu bersopan santun, maka yang tidak mengucapkannya tidak bersopan santun? duh fatwa syaikh tidak salah, yang salah yang memahami pendapat tersebut sebagai acuan membolehkan ucapan persetujuan atas kelahiran tuhan kristen  %peace%
Dan itu adalah anda. Cukup jantan anda mau mengakui hal tsb %peace%

Ulama yang membolehkan hal tsb pun bukan ulama kemarin sore seperti anda. Jadi, perbedaan ulama mensikapi suatu hal, biarlah itu sebagai perbedaan. Dan sesuatu yang tidak disepakati hukumnya, maka tidak perlu pula diingkari.

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1198564259
Kutip dari: dra
saya hanya mengingatkan saja, bukannya orang yang terafiliasi pemahamannya terhadap kelompok tersebut sering menggunakan ungkapan tersebut  %peace%
Dan ternyata paham kelompok tsb anda gunakan, walau anda tau itu bukan kaidah fiqh, tapi karena 1 selera dengan anda, maka anda sudi nyawah ... menjijikan %peace%
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 07 Januari 2012, 09:39:53 »
Ya ... ya ... ya ... bagi para pecinta tahlil, petunjuk Rasulullah saw dan hukum makruh para imam juga anda abaikan bukan ?

Apapun yg anda katakan, toh sama saja, anda kaitkan dzikir tsb pada kematian seseorang dengan susunan tertentu dan hei ... do'a tahlilnya itu2 juga <<< ini anda berlaku seolah-olah pembuat syari'at. Menetapkan sesuatu menyerupai syari'at

Anda mau bilang apapun, nuansanya sama saja ... jika hal tsb baik kenapa ya para shahabat bahkan Imam syafi'iy memakruhkannya ? baik kok makruh ....  :wataw:
siapakah yang mengabaikan petunjuk Rasul ? bukankah sunnah-sunnah dalam acara tahlil memang ada?apakah anda hendak menolak sunnah zikir, tausiah dan sedekah ? Dan ibadah tersebut bukanlah ibadah khusus seperti sholat jadi tidak bisa serta merta mutlak mengharamkan dilakukan /di dawamkan pada waktu tertentu. Dan perlu anda ketahui saya tidak melakukan tahlilan, jadi anda salah kaprah  :siul:
duhai tolong berikan dalil 1 saja yang Rasul telah memberikan aturan tertentu dalam pelaksanaannya untuk ibadah zikir/tausiah dan sedekah (sekalian untuk doa yah) seperti halnya sholat/zakat/haji?:hmmm:

makruh tidak berarti haram bukan?mengapa anda mengharamkan sesuatu yang imam sekaliber imam syafii hanya memakruhkan?mau buat syariat baru? :siul:
Bagaimana jika itu dijadikan sindiran ... gak mikirkah anda ... mana ada umat Islam mengakui Isa as sebagai Tuhan ?  :hmmm:
Dan itu adalah anda. Cukup jantan anda mau mengakui hal tsb %peace%

Ulama yang membolehkan hal tsb pun bukan ulama kemarin sore seperti anda. Jadi, perbedaan ulama mensikapi suatu hal, biarlah itu sebagai perbedaan. Dan sesuatu yang tidak disepakati hukumnya, maka tidak perlu pula diingkari.

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1198564259
baik terima kasih atas informasinya, saya cukupkan untuk masalah ini.  O0
Dan ternyata paham kelompok tsb anda gunakan, walau anda tau itu bukan kaidah fiqh, tapi karena 1 selera dengan anda, maka anda sudi nyawah ... menjijikan %peace%
oh jadi Imam Ibnu Katsir itu ulamanya kelompok itu yah, hanya gara-gara ucapannya sering digunakan kelompok tersebut (meski salah kaprah dan serampangan dalam penggunaannya)  :hmmm: dan saya merasa tidak perlu nyawah jika menggunakan ungkapan beliau, karena beliau milik seluruh jamaah minal muslimin bukan hanya milik kelompok 'itu" :siul:


btw, syukron atas sharing informasinya, saya kira cukup untuk masalah ini, nahnu a'maluna wa antum a'malukum  :topOK:

Offline suniy

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 414
  • Hanya amala islam yang murni yang boleh di amalkan
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 09 Januari 2012, 13:31:34 »
itulah perbedaannya, saya tidak pernah menganggap acara tahlil itu ibadah, yang saya lihat ibadah adalah zikir, tausyiah dan sedekahnya  :jaim: ; jika ada saudara kita yang mengadakan bahwa acara tahlil itu ibadah maka luruskan, karena yang ibadah adalah sunnah2 didalamnya, berzikir, tausyiah dan sedekah. sama seperti kajian islam itu hanya acara biasa yang tidak bernilai ibadah, namun belajar dan silaturahim didalamnya yang dinamakan ibadah.


Tahlil masa bukan ibadah? Tahlil adalah masdar berasal dari kata

هلل - يهلل yang berarti

mengucapkan lailaha illalah  =  هلّل : قال لا إله إلا الله

Dinamakan kegiatan tersebut sebagai tahlilan karena adanya dzikir bersama mengucapkan  lailaha illalah 

Jelas ini ibadah...karena kita sepakat pengucapan kalima lailaha illalah  adalah bentuk dzikir dan ibadah kepada Alloh hanya orang yang tidak kenal islam sama sekali yang mengatakan dzikir kepada Alloh Tahlil bukan ibadah.
Namun dimana letak permasalahannya kalo begitu? Sederhana

Karena ibadah memuat tidak hanya lafadz dzikirnya saja, tapi tata cara dan batasan-batasan...yakni tidak ada rasulullah pernah mengajarkan sahabat berdzikir mengucapkan lailaha illalah secara berjamaah di rumah-rumah salah satu sahabat pada hari kamis atau hari-hari yang ditentukan

Jadi yang mana yang mau anda luruskan?


selamat atas kelahiran tuhan anda (natal) apakah itu bukan bentuk pengakuan?  :hmmm:

apakah jika anda menganggap ucapan selamat itu bersopan santun, maka yang tidak mengucapkannya tidak bersopan santun? duh fatwa syaikh tidak salah, yang salah yang memahami pendapat tersebut sebagai acuan membolehkan ucapan persetujuan atas kelahiran tuhan kristen  %peace%saya hanya mengingatkan saja, bukannya orang yang terafiliasi pemahamannya terhadap kelompok tersebut sering menggunakan ungkapan tersebut  %peace%

Kita semua tahu bahwa tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Nabi Isa.

Dan sangat di perselisihkan apa yang sebenarnya hari perayaan tanggal 25 Desember tersebut. Sebagian mengatakan hari perayaan dewa matahari dan sebagainya. Tapi yang jelas bukan hari kelahiran Nabi Isa Alaihi wa Salam.

Lantas apakah dengan ketidak jelasan sejarah yang rancu yang dijadikan dasar perayaan orang-orang kristen itu kita ucapkan selamat?

Dan dalih sebagian orang seperti Jaringan Islam Liberal dan Ikhwanul Muslimin yang mengatakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Isa?
Padahal jelas2 mereka tau Nabi Isa tidak lahir di tanggal 25 Desember .... ini dalih.

Lantas apakah jika penyembah berhala merayakan hari Dewa matahari kita juga boleh mengatakan selamat untuk sopan santun?
Ummat budha merayakan hari kelahiran Sidharta Gautama. Kita ucapkan selamat untuk sopan santun.

Saya heran umat kristen itu kasihan telah tersesat dengan merayakan hari kelahiran nabi Isa yang ternyata bukan pada tanggal 25 Desember. Mereka merayakan karena meyakini bahwa nabi isa adalah tuhan dan juru selamat. Dalam ketersesatan mereka kita justru mengatakan Selamat NATAL. Seharusnya kita bantah mereka karena mereka telah salah meyakini bahwa yesus adalah juru selamat. Bukan menyelamatinya



Prioritas islam saat ini adalah memurnikan kembali ajaran islam dari segala bentuk penambahan,perubahan dan penyelewengan dalam bentuk syirik, bid'ah, khurofat & takhayul. Merestorasi kemurnian ajaran islam seperti manhaj para sahabat dan mendidik masyarakat untuk menjalaninya.

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #24 pada: 09 Januari 2012, 13:45:42 »
^weleh mau bahas tahlilan dimari om, OOT atuh, dah banyak thread tahlilan, searching aja. :D

Offline suniy

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 414
  • Hanya amala islam yang murni yang boleh di amalkan
    • Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 09 Januari 2012, 13:56:02 »
di searching dimana pun kalo anda ga faham2 kan percuma.
Nanti tetap aja keluar dari anda pendapat yang aneh2.

Prioritas islam saat ini adalah memurnikan kembali ajaran islam dari segala bentuk penambahan,perubahan dan penyelewengan dalam bentuk syirik, bid'ah, khurofat & takhayul. Merestorasi kemurnian ajaran islam seperti manhaj para sahabat dan mendidik masyarakat untuk menjalaninya.

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #26 pada: 09 Januari 2012, 14:57:48 »
oh gitu, silakan saja anda buat thread sendiri, nanti kita bahas, semoga saya bisa banyak mendapat ilmu dari anda, tapi jangan dimari, di board fiqh

Offline suniy

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 414
  • Hanya amala islam yang murni yang boleh di amalkan
    • Lihat Profil
« Jawab #27 pada: 09 Januari 2012, 16:04:50 »
Ga perlu..karena diskusi itu hanya bisa di lakukan dengan orang hati yang terbuka dan pikiran yang terbuka untuk menerima kebenaran dari fihak lain, dan adanya kebijaksanaan diri untuk mengakui kesalahan yang memang ada dalam diri dan kelompoknya.
Intinya sikap fair itu perlu dalam dialog.

Namun jika sudah di jangkiti keberfihakan dan ta'asub kepada kelompok dan bukan kemauan untuk mencari kebenaran atau pendapat yang sesuai dengan Al-Qur'an Dan sunnah walau dengan berpegang pada kebenaran tersebut ia menghadapi konsekuensi bersebrangan dengan pendapat kelompok atau partainya.

tentu sikap ta'asub atau ashobiyah yakni membela kelompok walau ia salah
apa faidah berbicara panjang lebar?

* catatan ashobiyah itu ada pada Ikhwan, Hizbuttahrir, Salafy, Tablighiy dan ahzab islam lain yang ia ta'ashub kepada kelompok dari mana saja ia...yang wajib adalah berpegang pada manhaj salaf bukan kepada kelompoknya

Prioritas islam saat ini adalah memurnikan kembali ajaran islam dari segala bentuk penambahan,perubahan dan penyelewengan dalam bentuk syirik, bid'ah, khurofat & takhayul. Merestorasi kemurnian ajaran islam seperti manhaj para sahabat dan mendidik masyarakat untuk menjalaninya.

Offline Dang

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 466
  • Jenis kelamin: Pria
  • فذكر إن نفعت الذكرى
    • Lihat Profil
    • بسم اللـه الرحمن الرحيم
« Jawab #28 pada: 09 Januari 2012, 16:36:36 »
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekedar untuk saling mengingatkan dengan Ayat Al Qur'an mengenai ucapan salam:

وَقيلِهِ يا رَبِّ إِنَّ هـٰؤُلاءِ قَومٌ لا يُؤمِنونَ ﴿٨٨﴾ فَاصفَح عَنهُم وَقُل سَلامٌ ۚ فَسَوفَ يَعلَمونَ ﴿٨٩

dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman". Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: "Salam (selamat tinggal)". Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk). (Az-Zukhruf 88-89)

Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa rasulullah pernah mengatakan salam kepada orang kafir. Bahwa kita wajib untuk berpaling dari keyakinan mereka, cukup dengan mengatakan "salam" tanpa ada kata-kata tambahan kepada mereka dengan tetap berlepas diri dari apa-apa yang mereka sekutukan kepada selain dari Allah, karena mereka akan mengetahui akibat dari perbuatan mereka. Dan Allah mengetahui apa yang kita ucapkan dan apa yang ada di dalam hati kita.

Maha Suci Allah Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #29 pada: 09 Januari 2012, 22:17:31 »
weleh mengatakan orang lain taashub padahal dirinya dan kelompoknya super ashobiyah sama syaikhnya sampai membutakan akal dan pikiran contohnya masalah geosentris heliosentris.malu atuh menunjuk muka orang padahal 3 jari mengarah ke muka sendiri.self proclaim ala sawai.dah basi.merasa memegang kunci kebenaran padahal cuma dikepalanya saja.

Offline ab_ha

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 129
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 10 Januari 2012, 13:59:31 »
Bukan sekedar tahniahnya itu, tetapi mendatangi gerejanya dan mengucapkan tahniah.  Dengan mendatangi (bukan sekedar tahniah) tentu ada nilai lebih, terlebih lagi datangnya bertepatan dengan hari raya, pas lagi mau ritual misa lagi. 
Jika para ulama berselisih atas dua hal, contohnya isbal.  Yang satu memakruhkan, yang satu mengharamkan.  Bagi orang yang wara' tentu akan tidak isbal.  Toh kalau ternyata makruh (atau bahkan boleh), tidak isbal dengan niat meneladani dan buah kecintaan kepada Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wassalam adalah berpahala.
Kaitannya dengan tahniah, dari dua pendapat antara yang membolehkan dan melarang, sebuah hal yang menunjukkan tidak wara' jika IM memilih yang membolehkan, apalagi dengan mendatangi gerejanya di tengah hari raya menjelang ritual.  Kalau niatnya berbuat baik, Islam memang menyuruh berbuat baik, tetapi yang namanya berbuat baik itu sangat banyak dan luas yang bisa diterapkan, bukan dengan hal yang bersinggungan dengan syariat dan aqidah.
Maka pertanyaan saya tetap: Adakah hujjah atau dalil dari pendahulu yang shalih bahwa mereka melakukan amalan seperti itu, datang ke tempat ibadah non muslim di hari raya mereka, mengucapkan selamat hari raya kepada mereka dan pergi sebelum ritual dimulai?
 

Offline dra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.067
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bersabar & Bersyukur
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 10 Januari 2012, 14:57:37 »
adakah larangan mendatangi rumah ibadah umat lain om?jika tidak ada maka kembali ke niat awalnya yaitu dalam rangka tahniah bukan ikut merayakan natalnya. dan dalam berita itu, natalnya kristen koptik bukan tanggal 25 desember tetapi 7 Januari bukan?

btw seperti yang mungkin anda bisa baca pada thread ini, saya lebih cenderung memilih pendapat yang berhati-hati dalam hal ini(tahniah). Mungkin anda bisa dialog dengan ibnu sabiil.

satu lagi, apa kaitannya antara wara dengan perilaku menyikapi ijtihad ulama? selama yang membolehkan itu hasil ijtihad ulama maka seandainya salah maka tetap bernilai pahala dan tetap bukan hal yang diharamkan bagi yang melaksanakannya.
« Edit Terakhir: 10 Januari 2012, 15:01:02 oleh dra »

Offline ab_ha

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 129
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #32 pada: 10 Januari 2012, 19:18:48 »
Tentang masuk gereja, memang ada perbedaan pendapat, ini diantaranya:
Hukum muslim masuk ke dalam gereja
Pertanyaan.
Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apa hukum masuknya seorang muslim ke gereja, baik itu untuk menghadiri sembahyang mereka atau mendengarkan ceramah?



Jawaban
Seorang muslim tidak boleh masuk ke tempat-tempat ibadah kaum kuffar karena banyaknya keburukan mereka, hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan isnad shahih dari Umar Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata:

"Artinya : Janganlah kalian masuk kepada orang-orang musyrik di gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan telah turun kepada mereka" [HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan 9/234, Abdurrazaq dalam Al-Mushannif, no. 1609. Lihat Iqtidha Shirath Al-Mustaqim, kartya Syaikhul Islam 1/455]

Tapi jika untuk kemaslahatan syar'iyah atau untuk menyeru mereka ke jalan Allah dan yang serupa itu, maka itu tidak apa-apa.

Hanya Allah-lah yang mampu memberi petunjuk. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, Juz. 2, hal. 76-77]
http://www.almanhaj.or.id/content/1948/slash/0

- Tentang kritsten koptik yang 7 januari, justru karena itu keyakinan mereka saat itu waktu yang tepat untuk berhari raya.  Sangat beda datang ke gereja disaat hari raya (disaat mereka merayakannya disana) dan bukan saat hari raya. 

- Tentang pilihan Anda untuk berhati-hati dalam hal tahniah, ini pilihan yang tepat, toh berbuat baik kepada mereka yang tidak menyinggung syariat juga banyak.

-Tentang sikap wara', analoginya gini:

Ada dua peneliti, menguji zat C.  Menurut fulan 1 (dia ahli), zat C itu mengandung zat yang berbahaya dan tidak boleh diminum, sekalipun enak rasanya.  Menurut fulan 2 (dia juga ahli), zat C itu aman dikonsumsi.

Bagi  yang bersikap wara' tentu tidak akan meminum zat C.  Walaupun enak, tidak perlu mengkonsumsinya, toh minuman lain masih banyak.  Bagi yang gegabah, mengikuti selera,  dia memilih minum zat C.  Alasannya: toh ada ahli yang membolehkan.

Inilah saudaraku, banyak diantara kita yang bersikap gegabah.  Ketika ada hukum memanjangkan lihya, sekuat tenaga mencari dalil 'ulama yang membolehkan atau memakruhkan memotongnya, karena dia nggak suka berlihya panjang.  Ketika  ada hadits larangan isbal, dia berupaya mencari dalil dari 'ulama yang memakruhkannya.   Dia kemudian isbal dengan alasan ada ulama yang memakruhkannya.  Padahal kita sangat yakin ulama tersebut tidak mengamalkan apa yang dia hukumi makruh itu.

Kaitannya dengan tahniah dan semacamnya, kaitkan sendiri ya, mbok kepanjangen, udah adzan ...

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 11 Januari 2012, 06:14:18 »
Tentang masuk gereja, memang ada perbedaan pendapat, ini diantaranya:
Hukum muslim masuk ke dalam gereja
Pertanyaan.
Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apa hukum masuknya seorang muslim ke gereja, baik itu untuk menghadiri sembahyang mereka atau mendengarkan ceramah?



Jawaban
Seorang muslim tidak boleh masuk ke tempat-tempat ibadah kaum kuffar karena banyaknya keburukan mereka, hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan isnad shahih dari Umar Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata:

"Artinya : Janganlah kalian masuk kepada orang-orang musyrik di gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan telah turun kepada mereka" [HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan 9/234, Abdurrazaq dalam Al-Mushannif, no. 1609. Lihat Iqtidha Shirath Al-Mustaqim, kartya Syaikhul Islam 1/455]

Tapi jika untuk kemaslahatan syar'iyah atau untuk menyeru mereka ke jalan Allah dan yang serupa itu, maka itu tidak apa-apa.

...
Ma'af, saya tidak bisa panjang-panjang menulis dan memberikan referensi karena sedang di luar kota, berikut yang bisa saya sampaikan :

Dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari, Jilid 1, Gema Insani Presss, tahqiq Syaikh Al-Albaniy disebutkan sbb :

--------------------
Bab ke-54: Shalat di Gereja atau Candi (Tempat ibadah agama lain)

'Umar berkata : "Kami tidak memasuki gereja-gerejamu karena patung-patung dan gambarnya itu. (Dimaushulkan oleh 'Abdurrazaq)

Ibnu 'Abbas shalat di dalam Biara (tempat ibadah agama lain) kecuali biara yang ada patung di dalamnya.(Dimaushulkan oleh Al-Baghawi dalam Al-Ja'diyyat)

Aku (al-Albaniy) berkata : Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits 'Aisyah yang akan disebutkan pada kitab ke-23 al-Janaiz, Bab ke-62
--------------------

Rasulullah saw pernah menyuruh Utsman bin Abul Ash untuk menjadikan masjid bagi penduduk Thaif ditempat yang dahulunya (untuk menyimpan) patung-patung mereka. (Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Hadits di atas menunjukkan bolehnya shalat di dalam tempat peribadatan agama lain, selama di dalamnya tidak ada patung.

Shalat di dalam gereja, biara saja tidak dilarang, apalagi sekedar berkunjung ke dalamnya semata ? Tentulah hal tsb tidak apa-apa sebagaimana hadits berikut :

Dari Aisyah r.a. bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah saw. tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habsyi yang diberi nama Maria, lalu dia pun menceritakan tentang gambar yang dilihatnya yang ada di dalamnya. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, Mereka itu adalah kaum yang apabila ada seorang hamba atau seorang lelaki yang saleh meninggal dari kalangan mereka, maka mereka akan membangun sebuah masjid di atas kuburannya dan mereka akan melukisnya di dalam masjid tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah SWT. (HR Bukhari).

 :)
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #34 pada: 11 Januari 2012, 06:20:59 »
...
Inilah saudaraku, banyak diantara kita yang bersikap gegabah.  Ketika ada hukum memanjangkan lihya, sekuat tenaga mencari dalil 'ulama yang membolehkan atau memakruhkan memotongnya, karena dia nggak suka berlihya panjang.  Ketika  ada hadits larangan isbal, dia berupaya mencari dalil dari 'ulama yang memakruhkannya.   Dia kemudian isbal dengan alasan ada ulama yang memakruhkannya.  Padahal kita sangat yakin ulama tersebut tidak mengamalkan apa yang dia hukumi makruh itu.
...
Ma'af, jika memang ada yang menghukumi makhruh (dan kita taqlid kepada ulama tsb sebagaimana yang taqlid kepada yang mengharamkan), maka hukumnya jika dikerjakan tidak berdosa namun lebih utama ditinggalkan. Maka tidak ada masalah sebenarnya dipandang dari sisi hukum tsb. Kecuali jika anda memaksa untuk memahami perbuatan tsb dari sudut pandang pihak yang bersebrangan.

Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir