Di lain pihak, ane ngeliat satpam deket rumah ane, walau hidup-nya kekurangan, istri-nya tidak minta bercerai, tapi ikut membantu keuangan keluarga dengan berjualan nasi uduk. Istri-nya bukan seorang akhwat.
Trus, ada lagi ane pernah kenal seseorang yang mantan pengguna narkotika (alhamdulillah dia sudah bertobat sekarang). Sekarang dia seorang pengangguran. Sama sekali tidak bisa bekerja. Malah istri-nya yang bekerja. Tapi... istri-nya tidak minta bercerai. Istri-nya bukan seorang akhwat.
Bapak ibu temen ane. Ibu-nya menikahi bapak-nya walaupun bapak temen ane ini kerjaan-nya serabutan. Tapi ibu temen ane tidak minta bercerai sama bapak-nya. Ibu temen ane bukan seorang akhwat.
Dan, kita pasti sering ngeliat keluarga yang hidup di gerobak, dan suami-nya mendorong gerobak. Ane gak tau apakah mereka bener2 resmi sebagai suami istri atau tidak. Tapi, istri-nya tidak minta bercerai. Istri-nya (kemungkinan) bukan seorang akhwat.

ana ngliat yg TS nya ini blm yakin bener ttg preparation of wedding and having family.
hehehe.... liat, "bukan akhwat" ---> katanya?
terus apa dung? Ikhwan ya? Wahaaahaha, parah.... suami ama ikhwan, brarti laki sama laki dong? lebih parah lagi... hehehehe....
ini dari segi bahasa aja, cuma gurau semata,
wahai sahabat, jgn khawatir klo anta ragu karena
bbrp hal disekitar anta. yg anta denger, yg anta br liat.
Coba liat lagi ya:
1) Suami & istri yg kenal ttg agama yg katanya bercerai dikarenakan hal ekonomi.Itu baru "Katanya". Anta suka nggosip ya? Kalo ngga, tanyakan lgsung pada mereka, direct face2face. Yakinkan apa masalahnya. Jgn cuma katanya. Lagian masalah ekonomi bisa dialami siapa saja. Tidak terbatas cuma kepada mereka yg paham agama lebih detail (alias santri). Remember that ya?
2) Suami & Istri yg blm mgnal ttg agama lbh dlm. Terlihat begitu akrab, tdk manyun2, dsb2. Lhee, sma kasusnya. Anta br lihat dari luar itu. Lha koq bisa gitu? Ya bisa dong. Ini klo anta pernah belajar psikologi alias kejiwaan anta akan kenal yg namanya manusia punya kbiasaan mlirik kiri kanan dan menginginkan apa yg tdk dimilikinya, lalu lama-kelamaan, menjadi rumput tetangga terasa lebih hijau.
Klo ttg akhlak dan tampilan muka itu bisa dibedak, atau dibuat shngga menjadi baik. Dan smua org berkemampuan untuk itu. Ngga cuma kalangan tertentu saja.
Anyway,
Itu keadaan yg anta cerita disini, merupakan sdkit dari skian banyak pelajaran yg Allah sengaja kasih buat anta. Dan yg lain brgkali mengalami hal yg sama. Sehingga, at 1st, anta kdu inget,
bahwa memilih calon bini bukan skdar ingin mendapat pasangan yg perfect as living happily after.
That's not the point of living!Pasangan suami istri itu saling melengkapi.
Yang jka sang suami sprti anta, maka yg dicari ialah calon istri (seorang akhwat tntunya, bkn ikhwan; jgn ktuker bahasa ah, hari gene) yang mampu mengingatkan tatkala anta lupa, dan anta menerima, lalu bersama2 memperbaiki diri, together doing many things 4 going 2 jannah!
Sama pandangan sang istri yg akan mncari suami jg sbaiknya sprti itu.
Bkan mncari pangeran yg bawa mobil BMW dan punya rumah segede Alaihim! Klo bgtu terus impiannya, lihat deh jalanan... Mobil smua! Macet!

Nah, paradigma yg unik adalah... Smua orang Pengen dpt Jodoh yg Perfect as living happily after!
Trus, sampe kapan mo bgtu terus? Sampe rambut udah menyala-nyala?
Hayo.... anta hadir dulu gih di beberapa tausiyah ttg nikah. Dan juga klo anta ada di Bandung anta ikutin gih yg di SalMan training PRA NIKAH. Shgga View ---> penglihatan anta terbuka lagi.
Ak do'ain sukses slalu ya dalam perencanaan,
dan pelaksanaan anta!
Sama2 kita sharing dan living for a good end...
Peace.
