Peristiwa itu menggugurkan atau tidak menggugurkan kebaikan atau sebutan mereka sebagai generasi terbaik umat ini dan tidak pula menggugurkan keimanan atau ke-Islaman mereka radhiyallaahu 'anhum, itu adalah satu hal.
Kemudian, siapa pihak yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa itu, maka itu satu hal yang lain lagi.
Anda tidak bisa mencampur adukan keduanya.
Benar. Itu adalah dua hal yang berbeda.
Peristiwa itu menggugurkan atau tidak menggugurkan kebaikan atau sebutan mereka sebagai generasi terbaik umat ini dan tidak pula menggugurkan keimanan atau ke-Islaman mereka radhiyallaahu 'anhum, itu adalah satu hal.
. sebut ini sebagai hal pertama.
siapa pihak yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa itu, maka itu satu hal yang lain lagi.Hal pertama dengan hal kedua itu ada kaitannya. Apakah menurut antum itu tidak ada kaitannya sama sekali?
Benar tidaknya hal pertama itu dipengaruhi oleh hal kedua.
Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya bahwa sifat azasi setiap proposisi adalah “benar” atau “salah”.
Maka pernyataan antum bahwa “pertikaian antar sahabat itu tidak menggugurkan keimanan mereka” memiliki sifat azas “benar” atau “salah”. Bagaimanakah caranya orang lain dapat memahami bahwa pernyataan itu benar atau salah? Antum sudah tahu bahwa hal itu benar. Oleh karena itu antum tidak butuh apapun lagi untuk memahami kebenarannya. Sedangkan orang lain butuh suatu faktor lain yang bisa menimbulkan pengertian bahwa hal itu benar. Salah satu yang dibutuhkan untuk memahami kebenaran dari pernyataan itu adalah memahami apa itu keimanan? Apakah antum bisa menjawab pertanyaan tersebut?
Mengikuti petunjuk dari antum, untuk tidak mencampur adukan antara hal pertama dengan hal kedua, maka jelaskanlah oleh antum satu persatu, semoga menjadi pelajaran bagi para pembaca yang kebetulan mampir di thread ini. Setelah antum dapat menjelaskan “apa itu keimanan” untuk membuat pembaca mengerti bahwa pertikaian antar sahabat itu memang tidak menggugurkan keimanan, selanjutnya antum bisa menjelaskan hal kedua, dalam pertikaian itu siapa yang benar dan siapa yang salah?
Semuanya jelas dan tidak dicampur adukan. Hal pertama dan hal kedua. Keduanya harus difahami dengan sejelas-jelasnya, bukan difahami secara samaar-samar dan kurang jelas. Perbedaan keduanya juga harus difahami dengan jelas, bukan dengan samar. Keterkaitan antara hal pertama dan hal kedua juga harus difahami dengan jelas.
Keterkaitan yang mungkin antara hal pertama dan kedua adalah, apabila hal kedua itu berisi pengingkaran satu sahabat terahadap sahabat lainnya mengandung arti mengingkari al-Quran , maka sudah tentu hal pertama itu adalah salah. Akan tetapi, apakah pertikaian itu mengandung arti pengingkaran terhadap al-quran? Belum tentu. Untuk mengetahuinya dibutuhkan kejelasan, apakah sebenarnya yang ditentang atau diperangi oleh para sahabat dalam pertikaian itu? Jawaban pertanyaan ini akan sangat membantu menjelaskan nilai bagi hal pertama maupun hal kedua.
Mengapa?
Sebab tentang hal siapapun yang benar dan siapapun yang salah dalam peristiwa peperangan itu, sama sekali tidak mempengaruhi hal yang satunya lagi, yaitu tentang tetapnya keimanan, ke-Islaman, kebaikan dan disebutnya mereka sebagai generasi terbaik.
Jikalau sahabat B bertengkar dengan sahabat A. Sedangkan si A berada pada pihak yang benar, si B berada pada pihak yang salah. Kendatipun sahabat B berada pada pihak yang salah, maka tentu tidak menjadi sebab gugurnya keimanan sahabat B tersebut. Tiada dalil yang menyatakan bahwa berbuat salah dapat menggugurkan keimanan seseorang. Tapi sekai lagi, bagaimana bila pertengkaran itu berarti pengingkaran sahabat B terhadap kebenaran Qurani disampaikan oleh sahabat A?
Jadi, kalaulah anda mau membicarakan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, maka sepakati dahulu tentang tetap dan tsabitnya keimanan, ke-Islaman, kebaikan mereka baik sebelum maupun sesudah peristiwa itu.
Bagaimana saya bisa sepakat bahwa keimanan mereka tetap sebelum dan sesudah peristiwa itu sedangkan tidak ada ilmu bagi saya untuk bisa mengerti akan hal itu?
Katakan kepada saya, apakah seorang wanita yang ditetapkan oleh Allah sebagai ibu bagi seluruh kaum mu'min itu, wanita yang baik atau bukan??
Dan apakah ketetapan Allah ini gugur disebabkan peperangan??
Kalau menurut akidah kaum sunni, maka bisa jadi wanita itu bukan wanita yang baik. Jikalau saya tidak salah, kaum sunni menganggap ibu dan bapaknya nabi Muhammad saw itu belum masuk Islam. Karenanya kaum sunni menghukumi keduanya mati dalam kekafiran. Jika hal ini benar, berarti ibu sang nabi bukanlah mukmin, bukan muslim, sedangkan sang nabi sendiri adalah mukmin, muslim. Dengan demikian ibu dari orang beriman itu belum tentu baik, belum tentu mukmin dan belum tentu muslim.
Dalam akidah kaum syiah, ibu dan bapak sang nabi adalah mukimin-muslim. Dan tidaklah mungkin seorang nabi dilahirkan dari wanita yang tidak mungkin. Akan tetapi, keyakina ini –setahu saya- diingkari oleh kaum sunni. Oleh karena itu dalil “ibu kaum mukminin pastilah mukmin” tidaklah berlaku bagi bagi kaum sunni.
Maka katakan kepada saya, bagaimana menurut antum, apakah mustahil seorang mukmin memiliki seorang ibu yang tidak mukmin? Jika tidak mustahil, maka apakah yang membuat mustahil ibu para mukminin adalah tidak mukmin? Apakah di dalam ayat alQuran itu dijelaskan bahwa setiap ibu para mukminin pastilah mukmin? Tidak bukan?
Atau Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang diri 'Ali bin 'Abi Thalib radhiyallaahu 'anhu sebagai seorang :
"Laki2 yang mencintai Allah dan rasul-Nya.." (Dan banyak lagi kebaikan2 yang lainnya.)
Katakan kepada saya, apakah seorang laki2 yang ditetapkan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai laki2 yang mencintai Allah dan rasul-Nya itu laki2 yang baik atau bukan??
Laki-laki yang mencintai Allah dan rasulnya. Kapan dan di mana? Apakah dalam sabda nabi itu terkandung penjelasan bahwa Ali dipastikan mencintai Allah dan Rasulnya sepanjang zaman? Apakah nabi pernah menjamin bahwa Ali tidak akan mengalami suatu perubahan dalam hal cinta dan keyakinan?
Apakah tidak mungkin si A hari ini begitu mencintai si B, sehingga si B berkata, “Si A sangat mencintaiku”. Ini adalah perkataan yang benar. Karna memang si A mencintai si B. tapi seminggu kemudian si A malah membenci si B? Apakah hal ini tidak mungkin? Sedangkan manusia itu terkena perubahan.
Saya katakan kepada anda, sungguh, itu adalah firman Allah, itu adalah ucapan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan sama sekali tidak akan pernah gugur atau digugurkan oleh siapapun.
Itulah mengapa, kita perlu mengerti lebih banyak tentang ilmu bahasa. Karena tanpa pengetahuan berbahasa yang benar, kita seringkali membuat kesimpulan-kesimpulan yang salah. Kemudian mengatas namakan kesimpulan itu dengan “Firman Allah”. Ini adalah hal berbahaya. Benar-benar sulit disadari bahwa yang dinyatakan sebagai firman Allah sebenarnya merupakan kesimpulan seseorang dari firman Allah. Tidak masalah kalau kesimpulan itu benar. Tapi kalau kesimpulan itu salah, berarti berarti berdusta atas nama Firman allah. Apakah mustahil tanpa disadari oleh antum, sebenarnya yang antum nyatakan sebagai firman Allah itu sebenarnya adalah qiyas (kesimpulan) antum dari firman Allah itu?
Yang dibicarakan pada pokonya sejak awal, bukan tentang mengurangi kebaikan atau juga keimanan, tapi mengenai menggugurkan/mengubah atau menghilangkan kebaikan dan juga tentang menggugurkan/mengubah atau menghilangkan keimanan/ke-Islaman.
Sedangkan berkurangnya kebaikan atau keimanan, jauh sekali bedanya dengan menggugurkan kebaikan ataupun keimanan/ke-Islaman.
Ya. Pokok masalahnya adalah “menggugurkan” atau “tidak”. Tapi ada kemungkinan “menggugurkan” bila ternyata hal itu “mengurangi”. Sudah jelas keterkaitannya, bukan?
Sehingga, kalaupun -sekali lagi kalaupun- sekiranya dengan adanya peristiwa itu mengakibatkan berkurangnya kebaikan atau keimanan salah satu atau semua diantara mereka yang terlibat, maka sama sekali itu tidak menggugurkan semua kebaikan dan keimanan beliau2 semua radhiyallaahu 'anhum, yaitu jaminan beliau semua sebagai generasi terbaik umat ini dan keyakinan bahwa para sahabat itulah orang2 yang paling tinggi keimanannya diantara umam Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Jika keimanan bisa berkurang karena peristiwa itu, maka tentu berkurangnya itu bisa dalam takaran sedikit ataupun banyak. Seberapa banyak berkurang, tidaklah dapat diketahui secara pasti. Tetapi yang namanya berkurang atau bertambah seperti layaknya bilangan positif negatif, kalau berkurangnya banyak, akhirnya bisa mencapai titik nol, bahkan bisa minus. Apakah hal yang membuat hal itu mustahil terjadi pada diri para sahabat? Keimanan mereka ada kemungkinan berkurang, tapi dari mana kita tau bahwa berkurangnya itu tidak akan pernah dapat sampai pada titik nol (gugur) ?
......maka katakan dulu kepada saya :
"Kebaikan yang manakah dari diri 'Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"
"Kebaikan yang manakah dari diri 'ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"
"Kebaikan yang manakah dari diri 'Ammar bin Yasir radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"
Bisakah anda menjawabnya untuk saya?
Justru agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, maka saya bertanya kepada anda, apa yang diperangi oleh para sahbat pada waktu itu?
Jikalau sudah jelas, apa yang diperangi oleh Ali, oleh ibnu abbas dan Ammar bin yasir, maka kemungkinan kita akan melihat, kebaikan manakah yang berkurang atau bertambah pada diri mereka. Selama tidak mengerti, apa yang sesungguhnya mereka perangi, maka kita tidak akan mampu melihat pertambahan atau pengurangan itu.
Di dalam peristiwa itu sama sekali tidak ada pengingkaran terhadap ayat2 Allah.
Adapun kedudukan para sahabat radhiyallaahu 'anhum dalam peristiwa itu jauh sekali bedanya dengan orang2 Khawarij, bahkan jelas2 orang2 Khawarij-lah yang mengingkari kedua pihak sahabat radhiyallaahu 'anhum yang bertikai itu.
Bagaimana bisa anda membandingkannya??
Baik . terima kasih!
Jadi dapat saya rangkum bahwa menurut antum :
1. Dalam peristiwa tersebut tidak terdapat pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah
2. Kedudukan para sahabat jauh berbda dengan orang-orang khawarij
3. Khawarij mengingkari kedua belah pihak sahabat yang bertikai
Dan antum bertanya, bagaimana saya bisa membandingkan antara para sahabat dengan kaum khawarij?
Setiap dua hal di dunia ini, sudah tentu memiliki persamaan maupun perbedaan.
Masih ingin menruskan bahasan, tapi waktu sangat membatasi. Rasanya belum tuntas apa yang ingin saya sampaikan, mudah-mudahan lain waktu ada kesempatan lagi.