Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Syiah pemuja para imam  (Dibaca 5482 kali)


Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #135 pada: 22 Februari 2012, 18:21:08 »
Sebelumnya, apakah ada kewajiban bagi kita (umat silam) untuk menyetorkan hasil zakat kepada petugas zakat?

ataukah pada zaman rasulullah, diwajibkan untuk menyetorkan zakat kepada petugas zakat? adakah haditsnya mas? kalau tidak ada, jangan sekali-kali menanyakan saya seperti itu. Coba baca lagi ayat al quran berikut, kepada siapakah harta zakat lebih utama dibayarkan:

ALQURAN 2:215
mereka bertanya kepada kamu (MUHAMMAD) tentang apa saja (zakat) harus diberikan. Katakanlah: "Apa saja yang kamu berikan hendaklah diberikan kepada IBU & BAPAK (kamu sendiri), kepada keluarga terdekat kamu, anak2 yatim/piatu (terutama dari keluarga sendiri), fakir miskin (terutama dari keluarga sendiri), mereka yang sedang dalam perjalanan (anggota keluarga yang naik Haji).....

SHOHIH MUSLIM, kitab 1 no 11 (SHOHIH BUKHARI, kitab 23 no 479 dan Kitab 73 no 12)
Rasulullah berkata: ".....bayarlah zakat terutama berbuatlah kebaikan kepada keluarga terdekat...."

Adakah petugas zakat pada ayat di atas? Ingat mas, yang saya tangkap dari anda bahwa anda mewajibkan umat islam untuk menyetorkan harta zakat kepada petugas zakat, tetapi al quran sendiri menganjurkan bahwa zakat utamanya disalurkan kepada keluarga terdekat terlebih dahulu, baru kemudian kepada anak yatim piatu, dan seterusnya.

Mewajibkan apa yang tidak diwajibkan dalam agama tahu kan apa hukumnya?Apakah cara membuat para petugas zakat kalian ridha harus dengan membayar zakat kepada mereka? bagaimana jika kita menjelaskan bahwa kita sudah membayar zakat sebelumnya, apakah itu membuat mereka kecewa?

Manakah yang lebih utama, keridhaan keluarga terdekat (orang tua, kerabat dsb) atau petugas zakat?Lah, kenyataannya seperti itukan, khalifah abu bakar menyerang para sahabat dituduh murtad hanya karena tidak menyetorkan harta zakat melalui kekhalifahan abu bakar?

Padahal membunuh dengan sengaja orang-orang yang beriman (yang membayar zakat tidak melalui jalur kekhalifahan) adalah KAFIR.



Kepada WNI 87 yang pintar dan yang terhormat,

ALQURAN 2:177
dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat (anggota2 keluarga terdekat) anak yatim/piatu, fakir miskin, musafir (orang dalam perjalanan Haji), mereka yang meminta dan memerdekakan budak, mendirikan sholat dan membayar zakat

Saya mengagumi kepintaran anda dan kecerdasan anda; karena anda menggunakan akal sehat untuk mengerti Islam dengan baik dan benar. Insya Allah, anda dimasukan ke dalam surga yang terbaik bersama VIP (very important person) yaitu Ahlul Bait (anggota keluarga Nabi Muhammad) dan Rasulullah.
« Edit Terakhir: 22 Februari 2012, 18:30:15 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline mushab bin umair

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.367
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #136 pada: 22 Februari 2012, 20:55:45 »
Sebelumnya, apakah ada kewajiban bagi kita (umat silam) untuk menyetorkan hasil zakat kepada petugas zakat? ataukah pada zaman rasulullah, diwajibkan untuk menyetorkan zakat kepada petugas zakat? adakah haditsnya mas? kalau tidak ada, jangan sekali-kali menanyakan saya seperti itu.

Saat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallaahu 'anhu ke Yaman, beliau bersabda :
فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ
"Maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka dalam harta2 mereka yang diambil dari orang2 kaya kemudian diberikan kepada orang2 miskin.
Jika mereka telah menetapkan hal itu, maka ambillah zakat dari mereka..."
(Shahih al-Bukhari 9/114 no.7372)

Rasulullah tidaklah membiarkan orang2 Yaman membayar sendiri, akan tetapi beliau memerintahkan kepada Mu'adz radhiyallaahu 'anhu untuk mengambilnya dari mereka.

Kembali ke pertanyaan saya sebelumnya :
"Sekiranya anda hidup pada masa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan kemudian  Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengutus salah seorang sahabat beliau (misalnya dalam hal ini Mu'adz radhiyallaahu 'anhu) sebagai petugas zakat untuk mengambil zakat dari anda, apakah anda akan memberikan zakat anda kepada sahabat Nabi yang diutus oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itu atau anda malah memilih untuk memberikannya sendiri kepada orang yang anda kehendaki dan membiarkan petugas Nabi itu pulang kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan tangan hampa??"

Jawablah : "Apakah anda ridha jika zakat anda diambil oleh petugas yang ditunjuk oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam??"

Kutip
SHOHIH MUSLIM, kitab 1 no 11 (SHOHIH BUKHARI, kitab 23 no 479 dan Kitab 73 no 12)
Rasulullah berkata: ".....bayarlah zakat terutama berbuatlah kebaikan kepada keluarga terdekat...."

Dapatkah anda menuliskan teks Arab-nya di sini??

Saya tunggu ya.


Kutip
Coba baca lagi ayat al quran berikut, kepada siapakah harta zakat lebih utama dibayarkan:
ALQURAN 2:215
mereka bertanya kepada kamu (MUHAMMAD) tentang apa saja (zakat) harus diberikan. Katakanlah: "Apa saja yang kamu berikan hendaklah diberikan kepada IBU & BAPAK (kamu sendiri), kepada keluarga terdekat kamu, anak2 yatim/piatu (terutama dari keluarga sendiri), fakir miskin (terutama dari keluarga sendiri), mereka yang sedang dalam perjalanan (anggota keluarga yang naik Haji).....
Adakah petugas zakat pada ayat di atas? Ingat mas, yang saya tangkap dari anda bahwa anda mewajibkan umat islam untuk menyetorkan harta zakat kepada petugas zakat, tetapi al quran sendiri menganjurkan bahwa zakat utamanya disalurkan kepada keluarga terdekat terlebih dahulu, baru kemudian kepada anak yatim piatu, dan seterusnya.

Apakah cara membuat para petugas zakat kalian ridha harus dengan membayar zakat kepada mereka? bagaimana jika kita menjelaskan bahwa kita sudah membayar zakat sebelumnya, apakah itu membuat mereka kecewa? Manakah yang lebih utama, keridhaan keluarga terdekat (orang tua, kerabat dsb) atau petugas zakat?

Mas, itu ayat untuk nafkah bukan untuk zakat...
Allah berfirman :

يَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَآأَنفَقْتُم مِّن خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرِبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنَ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمُُ
"Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya."
(Q.S Al-Baqarah ayat 215)

Yas-aluunaka maa dzaa yunfiquun....
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan..."

Sedangkan untuk zakat adalah ayat ini :
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(Q.S At-Taubah ayat 60)

Atau...begini saja....
Bisakah anda bawakan dulu di sini ulamanya yang mengatakan kalau surat Al-Baqarah ayat 215 itu adalah berkenaan dengan zakat dan mustahiq-nya??
Ataukah mungkin itu hanya hasil dari pikiran anda sendiri??

Kutip
Lah, kenyataannya seperti itukan, khalifah abu bakar menyerang para sahabat dituduh murtad hanya karena tidak menyetorkan harta zakat melalui kekhalifahan abu bakar?

Siapa bilang??
Itu jelas keliru.
Pada peristiwa itu beda diantara orang2 yang murtad dan orang2 yang menolak membayar zakat.
Orang2 yang murtad adalah mereka2 yang mengikuti si Nabi palsu Musailamah al-Kadzab dan juga Thulaihah al-Asadiy dan jumlah mereka sangat banyak, bahkan -mungkin- lebih banyak daripada mereka yang sekedar tidak mau membayar zakat.


Kutip
Padahal membunuh dengan sengaja orang-orang yang beriman (yang membayar zakat tidak melalui jalur kekhalifahan) adalah KAFIR.

Katakan kepada saya, bagaimana kedudukan Amirul Mu'minin Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu yang juga membunuh kaum muslimin dari pasukannya Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha pada perang Jamal??
Apakah juga kafir menurut anda?

Tolong jawab dengan tegas.


Kutip
Maaf mas, apakah tulisan di atas adalah hadits ataukah dongeng ulama-ulama anda? Kalau tulisan di atas merupakan hadits, tolong disebutkan rujukan buku hadits berikut halamannya?

Hehehehehe....
Itu bukan hadits mas.
Dan rujukannya sudah disebutkan, Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah juz 9 halaman 445.

"Astaghfirullaahal 'azhiim.."

Offline mushab bin umair

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.367
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #137 pada: 22 Februari 2012, 21:06:53 »

SHOHIH BUKHARI, Kitab 46 no 719
Abu Hurairoh melaporkan bahwa Rasulullah berkata: "Saya mencintai orang2 dari Bani Tamim karena mereka akan melawan AD DAJJAL, mereka membayar shodaqoh (dan membayar zakat). Mereka adalah keturunan dari nabi Ismail.

Oooooowh anda mo timpakan hadits itu kepada Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu ya?? Bahwa maksudnya Dajjal yang diperangi bani Tamim itu adalah Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu ya??
Dasar Rafidhah tukang berkhayal.....makin ngaco aja anda.

Ketauan belangnya deh.....

Lagipula heran banget, dari dulu anda ga pernah sekalipun mau menukilkan hadits beserta teks Arabnya, kenapa??
Takut diketahui bohongnya ya??


Kutip
Anda malas membaca semua Ahadith dengan teliti dan anda tidak pernah membaca sejarah Islam yang ditulis oleh Ulama Sunni dan Ulama Syiah dengan teliti; sehingga anda mengambil kesimpulan yang salah.

Ah..anda aja kali yang malas....

Kutip
Kebencian dan permusuhan anda kepada Kaum Syiah mengakibatkan anda menolak kebenaran yang disampaikan oleh Kaum Syiah berdasarkan AlQuran dan Hadith.

Kebenaran dari Rafidhah?? Sejak kapan kalian ada dalam kebenaran??
Mimpi kaleee.....



Kutip
Kaum Syiah tidak berkeberatan jika anda terus menerus menghakimi kaum Syiah sebagai para pembohong;

Anda dan orang2 Rafidhah memang pembohong dan tukang khayal.
Ya, mo gimana lagi....terima saja ya.....hehehehehe.


Kutip
karena emosi (kemarahan & hawa nafsu) di dalam dada anda sendiri terhadap Kaum Syiah. Akibatnya anda lebih suka melakukan debat kusir yang tidak bermanfaat; kecuali memperbanyak dosa dosa anda sendiri.

Dosa saya bukan urusan anda.....urus saja dosa2 dan kebohongan anda sendiri....


Kutip
Kaum Syiah Rafidhoh adalah para sahabat Rasulullah dari Bani Tamim yang tinggal di Najd. Mereka menolak membayar zakat kepada Abu Bakr setelah Rasulullah wafat; karena mereka tidak mengakui Abu Bakr sebagai Khalifah Rasulullah (pengganti utusan Nabi Muhammad)  atau tidak mengakui Khalifah Islamiyyah (kerajaan Islam) yang dimulai dan dipelopori oleh Abu Bak & Umar ibn Khattab setelah Rasulullah wafat. Mereka sudah memberikan baiat kepada Ali ibn Abu Tholib di GHADIR KHUMM.

Abu Bakr dan Umar ibn Khattab mengirimkan Khalid ibn Walid dengan 4000 orang tentara untuk menyerang masyarakat Najd; sehingga Malik ibn Nawayrah terbunuh di dalam perang RIDDAH; karena Abu Bakr dan Umar ibn Khattab telah memutuskan bahwa para sahabat yang menolak membayar zakat kepada Abu Bakr adalah orang2 Murtad.

Abu Bakr & Umar ibn Khattab adalah orang2 pertama yang mengatakan bahwa Kaum Syiah Rafidhoh adalah orang2 Murtad yang wajib dibunuh oleh negara.

Udah ah...
Cape malayani tukang dongeng yang bisanya hanya mengulang-ngulang dongengan ala Rafidhah....





"Astaghfirullaahal 'azhiim.."

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #138 pada: 22 Februari 2012, 21:16:45 »
Kutip dari: mushab
Udah ah...
Cape malayani tukang dongeng yang bisanya hanya mengulang-ngulang dongengan ala Rafidhah....

anda belum menjelaskan, mengapa orang yang menolak membayar zakat melalui khalifah dihukumi murtad oleh abu bakar?
Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline jamaah8

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 151
    • Lihat Profil
« Jawab #139 pada: 22 Februari 2012, 23:14:05 »
anda belum menjelaskan, mengapa orang yang menolak membayar zakat melalui khalifah dihukumi murtad oleh abu bakar?

Kang_Asepr,

Yang pasti Saiyidina Abu Bakar, imannya lebih dari kita semua.

Kita ketahui tidak membayar zakar itu, tidak murtad.

Ilmu kita yang sedikit ini, kita ketahui status orang tidak membayar zakat, tidak kafir. Lebih tahu lagi Saiyidina Abu Bakar, ilmunya direct dari Rasulullah s.a.w.

Orang pintar seperti Kang dan Abang MA, seharusnya boleh menolak dakyah Syiah ini.

Semuga sukses.

Offline wni87

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 68
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #140 pada: 23 Februari 2012, 07:50:36 »
Saat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallaahu 'anhu ke Yaman, beliau bersabda :
فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ
"Maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka dalam harta2 mereka yang diambil dari orang2 kaya kemudian diberikan kepada orang2 miskin.
Jika mereka telah menetapkan hal itu, maka ambillah zakat dari mereka..."
(Shahih al-Bukhari 9/114 no.7372)
Lucu sekali anda ini, di manakah perintah mewajibkan menyerahkan zakat kepada para petugas zakat bagi orang-orang beriman?
Kutip
Rasulullah tidaklah membiarkan orang2 Yaman membayar sendiri, akan tetapi beliau memerintahkan kepada Mu'adz radhiyallaahu 'anhu untuk mengambilnya dari mereka.
Oke saya tampung dulu pemahaman anda bahwa diwajibkan menyerahkan zakat kepada petugas zakat, tidak boleh menyerahkan langsung kepada penerima zakat. Contoh kasus begini, misalnya anda dalam perjalanan yang mendesak kehabisan bekal dan membutuhkan bantuan misalnya dari saya di sebuah tempat terpencil(anggaplah kita berdua berteman akrab). Saya mempunyai uang rp. 250.000 untuk dizakatkan, manakah yang harus saya lakukan:
a. menyerahkan langsung uang saya kepada anda.
b. menunggu petugas zakat dulu.
Kutip
Kembali ke pertanyaan saya sebelumnya :
"Sekiranya anda hidup pada masa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan kemudian  Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengutus salah seorang sahabat beliau (misalnya dalam hal ini Mu'adz radhiyallaahu 'anhu) sebagai petugas zakat untuk mengambil zakat dari anda, apakah anda akan memberikan zakat anda kepada sahabat Nabi yang diutus oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itu atau anda malah memilih untuk memberikannya sendiri kepada orang yang anda kehendaki dan membiarkan petugas Nabi itu pulang kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan tangan hampa??"
Apabila saya belum membayar zakat saya tentu saja saya ridho menyerahkan zakat saya, tapi jika saya sudah membayarkan zakat saya sendiri maka saya akan menolak dengan memberi penjelasan bahwa saya sudah menyerahkan zakat saya.
Kutip
Jawablah : "Apakah anda ridha jika zakat anda diambil oleh petugas yang ditunjuk oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam??"
Sudah saya jawab sebelumnya.
Kutip
[/font]
Dapatkah anda menuliskan teks Arab-nya di sini??

Saya tunggu ya.

Lah kenapa saya harus menuliskannya kepada anda. Seharusnya anda yang membantah saya bahwa bunyi haditsnya tidak seperti itu. Kan sudah saya sertakan rujukannya.
Kutip
Mas, itu ayat untuk nafkah bukan untuk zakat...
Allah berfirman :

يَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَآأَنفَقْتُم مِّن خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرِبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنَ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمُُ
"Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya."
(Q.S Al-Baqarah ayat 215)

Yas-aluunaka maa dzaa yunfiquun....
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan..."
Banyak kata-kata di alquran yang walaupun lafalznya bukan zakat tapi merujuk ke zakat, contohnya harta yang kamu nafkahkan dan sodaqoh, walaupun tidak semuanya.
Kutip
Sedangkan untuk zakat adalah ayat ini :
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(Q.S At-Taubah ayat 60)
Ayat di atas dan juka qs 2:215 merujuk pada penerima zakat.
Kutip
Atau...begini saja....
Bisakah anda bawakan dulu di sini ulamanya yang mengatakan kalau surat Al-Baqarah ayat 215 itu adalah berkenaan dengan zakat dan mustahiq-nya??
Ataukah mungkin itu hanya hasil dari pikiran anda sendiri??
[/font]
Apa bedanya pikiran kita dengan pikiran ulama mas. Selama kita menguasai pengetahuan tentang alquran dan hadits. Apakah hanya karena mereka di labeli ulama, maka hanya mereka saja yang boleh berkata demikian. Toh seringkali tulisan mereka juga merupakan hasil dari pikiran mereka sendiri.
Kutip
Siapa bilang??
Itu jelas keliru.
Pada peristiwa itu beda diantara orang2 yang murtad dan orang2 yang menolak membayar zakat.
Orang2 yang murtad adalah mereka2 yang mengikuti si Nabi palsu Musailamah al-Kadzab dan juga Thulaihah al-Asadiy dan jumlah mereka sangat banyak, bahkan -mungkin- lebih banyak daripada mereka yang sekedar tidak mau membayar zakat.
Ulama anda sendiri kok yang mengatakan bahwa penyerbuan abu bakar satu diantaranya karena tidak maunya para sahabat menyetorkan uang zakatnya kepada abu bakar. Sudah kita ketahui bersama bahwa abu bakar membutuhkan banyak biayanya untuk meluaskan pengaruhnya.
Kutip
Katakan kepada saya, bagaimana kedudukan Amirul Mu'minin Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu yang juga membunuh kaum muslimin dari pasukannya Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha pada perang Jamal??
Apakah juga kafir menurut anda?

Tolong jawab dengan tegas.

Apakah anda tidak tahu tentang hukum agama? Bahwa kita boleh membunuh orang atas hak membela diri. Misalnya anda saya bunuh ditempat sepi atas perintah orang. Karena hanya ada dua pilihan: saya membunuh anda atau anda membunuh saya.
Apabila saya membunuh anda, maka saya dihukumi bersalah dan layak dimasukkan ke dalam neraka jahanam.
Apabila anda membunuh saya, maka anda tidak berdosa.
Begitu juga kasus Amirul Mu'minin Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu dengan Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha pada perang Jamal:
 Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu tidak berdosa karena hanya membela diri.
Sedangkan Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Atau apakah anda mau mengatakan bahwa saya tidak bersalah telah membunuh anda karena saya diprovokasi orang lain, seperti alasan anda membela sahabat tertentu?
Kutip
Hehehehehe....
Itu bukan hadits mas.
Dan rujukannya sudah disebutkan, Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah juz 9 halaman 445.


Anda tahu kan hukum islam, rujukannya apa? makanya saya meminta hadits peristiwa di atas, kalau tidak ada berarti itu hanyalah dongeng ulama-ulama anda.
« Edit Terakhir: 24 Februari 2012, 15:14:09 oleh wni87 »

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #141 pada: 23 Februari 2012, 08:27:02 »
Kepada Mushab bin Umair yang pintar dan yang terhormat

Oooooowh anda mo timpakan hadits itu kepada Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu ya?? Bahwa maksudnya Dajjal yang diperangi bani Tamim itu adalah Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu ya??
Dasar Rafidhah tukang berkhayal.....makin ngaco aja anda.

Ketauan belangnya deh.....Lagipula heran banget, dari dulu anda ga pernah sekalipun mau menukilkan hadits beserta teks Arabnya, kenapa??
Takut diketahui bohongnya ya??

Benar 100% dari dulu saya tidak menulis Hadith dengan teks bahasa Arab; karena saya tidak punya program komputer yang bisa menulis bahasa Arab; tetapi saya menyebutkan SHOHIH BUKHARI, Kitab 46 no 718 supaya para pembaca bisa melakukan CHEK & RECHEK kepada Hadith tersebut.

SHOHIH BUKHARI, Kitab 46 no 718
Abu Hurairoh melaporkan bahwa Rasulullah bekata: "Saya mencintai BANI TAMIM karena mereka melawan AD DAJJAL, mereka membayar shodaqoh (membayar zakat) dan mereka adalah keturunan Nabi Ismail!"

Jika anda bisa menterjemahkan Hadith tersebut dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan terjamahan yang lebih baik, lebih bagus, lebih tepat; silahkan terjemahkan Hadith tersebut; supaya para pembaca di forum ini bisa melakukan CHEK & RECHEK.

Saya memohon anda menyalin bahasa Arab hadith tersebut; supaya para pembaca yang lain bisa membacanya; karena saya tidak ada program huruf Arab.

SHOHIH MUSLIM, Kitab 20 (kitab Al Imara) no 4554
Hudaifah Al Yaman bertanya kepada Nabi Muhammad: "Ya Rasulullah, tidak diragukan kita telah melewati masa buruk (jahiliyyah)  dan ALLAH mengelurkan kita, memasukan kita ke dalam masa yang terbaik (AlQuran & Hadith/Sunnah), apakah masa buruk (jahiliyyah) akan datang kembali?

Rasulullah berkata: "Benar kita telah meninggalkan masa buruk (jahiliyyah); tetapi akan datang masa buruk lagi (sesudah Rasulullah wafat) para Amir (para Khalifah) tidak akan melaksanakan petunjukku (tidak akan melakukan AlQuran) dan tidak akan melakasanakan cara-caraku (tidak melakasanakan SUNNAH & HADITH) karena di dalam  hati mereka ada SETAN dan tubuh mereka adalah manusia!"

Kutip
Kebenaran dari Rafidhah?? Sejak kapan kalian ada dalam kebenaran??
Mimpi kaleee.....

ALQURAN 22:69
ALLAH akan mengadili di antara kamu pada hari Qiyammah tentang apa yang kamu perselisihkan dahulu (di dunia ini)

Abu Bakr telah menghakimi Malik ibn Nuwayrah sebagai orang2 Murtad karena tidak membayar zakat kepada negara. Kaum Sunni juga sudah menghakimi Kaum Syiah Rafidhoh sebagai  orang2 Murtad atau orang2 Kafir. Padalah hanya ALLAH yang akan menghakimi Kaum Sunni dengan Kaum Syiah tentang perbedaan pendapat mereka

ALQURAN 49:1
Hai orang2 beriman, janganlah kamu mendahului ALLAH dan Rasul

Sudah jelas bahwa Kaum Sunni main hakim sendiri di dunia ini dan Kaum Sunni menjadi Tuhan Tuhan kecil yang rajin menghakimi Kaum Syiah sebagai orang2 Kafir atau Kaum Syiah sebagai orang2 sesat dan menyesatkan. Kaum Sunni melampaui batas; karena hanya ALLAH yang berhak menghakimi semua manusia di hari Qiyammah nanti.

Padahal kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh ALLAH; tetapi Kaum Sunni menyangkan bahwa kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh Kaum Sunni; sehingga Kaum Sunni rajin mengkafirkan Kaum Syiah berdasarkan kebencian dan permusuhan Kaum Sunni kepada Kaum Syiah

Kutip
Anda dan orang2 Rafidhah memang pembohong dan tukang khayal.
Ya, mo gimana lagi....terima saja ya.....hehehehehe.

Kaum Syiah disini memberikan keterangan berdasarkan AlQuran dan Hadith; tetapi anda menuduh Kaum Syiah sebagai pembohong dan tukang khyal. Kaum Syiah akan selalu mendoakan anda supaya anda diberikan petunjuk oleh ALLAH dan dimaafkan oleh ALLAH; karena anda tidak mengerti apa yang sedang anda kerjakan

Kutip
Udah ah...
Cape malayani tukang dongeng yang bisanya hanya mengulang-ngulang dongengan ala Rafidhah....

Benar 100% bahwa anda akan capai karena anda malas membaca AlQuran dengan teliti dan tidak pernah membaca semua Ahadith sehingga anda tidak mengerti Islam dengan baik dan benar.

SARAN SARAN UNTUK MUSHAB IBN UMAIR

1. Bacalah AlQuran lebih banyak dan sebelum membaca mohon perlindungan kepada ALLAH dari bisikan Setan yang terkutuk; sehingga anda tidak salah menafsirkan AlQuran

2. Bacalah Ahadith yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidizi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii) dengan teliti

3. Buanglah emosi (kemarahan & hawa nafsu) supaya anda bisa berfikir dengan baik, jernih dan adil.

4. Behentilah debat kusir yang tidak bermanfaat; kecuali memperbanyak dosa dosa anda sendiri dan menghalangi anda mengerti Islam dengan baik dan benar.
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 09:15:18 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #142 pada: 23 Februari 2012, 08:53:43 »
Kang_Asepr,

Yang pasti Saiyidina Abu Bakar, imannya lebih dari kita semua.

Kita ketahui tidak membayar zakar itu, tidak murtad.

Ilmu kita yang sedikit ini, kita ketahui status orang tidak membayar zakat, tidak kafir. Lebih tahu lagi Saiyidina Abu Bakar, ilmunya direct dari Rasulullah s.a.w.

Orang pintar seperti Kang dan Abang MA, seharusnya boleh menolak dakyah Syiah ini.

Semuga sukses.

Kepada JAMAAH 8 yang pintar dan yang terhormat

1. Bacalah ALQURAN berulang-ulang dengan teliti, dan mohon perlindungan dari ALLAH ketika membaca AlQuran supaya Setan tidak membisikan kesesatan dan kesalahan.

2. Bacalah Ahadith yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidizi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii) supaya anda bisa mengerti AlQuran dengan baik dan benar.

supaya anda tidak terus-menerus memberikan pendapat2 yang salah; atau pendapat2 yang bertentangan dengan AlQuran dan hadith.
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 09:07:35 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline mushab bin umair

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.367
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #143 pada: 23 Februari 2012, 10:23:13 »
anda belum menjelaskan, mengapa orang yang menolak membayar zakat melalui khalifah dihukumi murtad oleh abu bakar?

Sebelumnya sudah saya kemukakan apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah :
فصل في تصدي الصديق لقتال أهل الردة ومانعي الزكاة
"Pasal tentang datangnya Abu Bakar Ash-Shidiq untuk memerangi orang2 yang murtad dan yang menolak membayar zakat."

Terdapat perbedaan antara murtad dan menolak membayar zakat.
Murtad adalah orang yang keluar dari Islam atau orang yang mengganti agamanya dari Islam menjadi yang lain dan hukumannya adalah mati.
Semisal apa yang disabdakan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
"Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia."
(Shahih al-Bukhari 9/15 no. 6922)

Pada masa Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu, orang2 yang murtad itu adalah orang2 yang pernah masuk Islam, tapi setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat, mereka malah mengikuti Nabi2 palsu.
Dengan ber-imannya mereka kepada Nabi2 palsu itu, maka mereka dianggap telah keluar dari Islam.
Mereka inilah yang dikatakan murtad.

Sedangkan orang2 yang tidak mau membayar zakat, maka tidaklah dikatakan murtad, kecuali.......jika mereka juga menolak dan mengingkari kewajiban zakat, maka jika seperti ini mereka dianggap telah kafir.

Dan itu cukup untuk menjawab anda.
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 10:33:43 oleh mushab bin umair »
"Astaghfirullaahal 'azhiim.."

Offline jamaah8

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 151
    • Lihat Profil
« Jawab #144 pada: 23 Februari 2012, 10:40:56 »
Kepada JAMAAH 8 yang pintar dan yang terhormat

1. Bacalah ALQURAN berulang-ulang dengan teliti, dan mohon perlindungan dari ALLAH ketika membaca AlQuran supaya Setan tidak membisikan kesesatan dan kesalahan.

2. Bacalah Ahadith yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidizi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii) supaya anda bisa mengerti AlQuran dengan baik dan benar.

supaya anda tidak terus-menerus memberikan pendapat2 yang salah; atau pendapat2 yang bertentangan dengan AlQuran dan hadith.


Kepada Abang MA yang pintar dan terhormat.

Iblis itu bersifat pembohong. Lihat sifat pembohong yang berlaku dalam Syiah agar Abang MA selamat dari tipu daya iblis dalam diri kita. Dan tidak terusan membawa dakyah iblis.

1.   Syiah menyatakan Saiyidina Abu Bakar murtad, dan meyakini bahwa Saiyidina Ali telah melaksanakan bai’ah kepada  Saiyidina Abu Bakar, seorang murtad!. Syiah telah melakukan pembohongan  yang jelas tidak masuk aqal dan berlawan dengan sunnah Rasulullah.
Saiyidina Ali melaksanakan bai’ah adalah bertepatan dengan nas, bahwa bai’ah itu bagi Khalifah Rasulullah. Bukan kepada orang murtad sebagaimana fahaman mereka yang terkena tipu daya iblis.

2.   Sifat iblis berbohong ada pada Syiah apabila menyatakan Saiyidina Abu Bakar memerangi orang beriman, yang tidak membayar zakat.

Walhal, orang yang murtad itu bila mereka engkar untuk melaksanakan bai’ah kepada Khalifah Rasulullah Saiyidina Abu Bakar. Dan Saiyidina Abu Bakar memerangi orang murtad kerana mereka  gak mahu  membayar zakat, tidak mahu bai’ah dan memerangi Khalifah Rasulullah.

3.   Satu sifat iblis laknatullah itu, tidak mahu tunduk kepada Khalifah. Sejak dari Nabi Adam hinggalah kepada Khalifah-Khalifah Rasulullah yang ada sampai pada zaman kita ini. Kita harus mengenal pasti  siapa Khalifah Rasulullah pada zaman kita ini, supaya kita dapat mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnah Khulafa irrasyidin al-mahdiyin.

Semuga kita dapat kenal pasti Khalifah Rasulullah, dan menolak kenal tipu daya iblis supaya umat menentang Khalifah Rasulullah.

Abang MA sangat rajin membaca Kitab, tahniah. Saya tidak membaca sebegitu banyak Kitab. Alhamdulillah, saya mempelajari sedikit untuk  faham agama dari Khalifah Rasulullah zaman kita ini.

Abang MA perlu tinggalkan fahaman Syiah yang dikuasai iblis. Iblis itu sifatnya enggan tunduk kepada Khalifah. Bila kita baca Al-Quran dan Al-Hadis, iblis laknatullah memberi idea memahami Al-Quran dan al-Hadis untuk menentang Khalifah Rasulllah.

Untuk mengikut jalan yang lurus, kita harus memahami Al-Quran dan Al-Hadis sebagaimana yang diajar oleh Khalifah Rasulullah dan menolak ajaran iblis yang membaca KItab untuk menentang khalifah Rasulullah.

Semuga Abang MA suksess.
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 10:46:50 oleh jamaah8 »

Offline Kang_Asepr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 979
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #145 pada: 23 Februari 2012, 13:12:34 »
Kutip dari: mushab
Peristiwa itu menggugurkan atau tidak menggugurkan kebaikan atau sebutan mereka sebagai generasi terbaik umat ini dan tidak pula menggugurkan keimanan atau ke-Islaman mereka radhiyallaahu 'anhum, itu adalah satu hal.
Kemudian, siapa pihak yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa itu, maka itu satu hal yang lain lagi.
Anda tidak bisa mencampur adukan keduanya.

Benar. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Peristiwa itu menggugurkan atau tidak menggugurkan kebaikan atau sebutan mereka sebagai generasi terbaik umat ini dan tidak pula menggugurkan keimanan atau ke-Islaman mereka radhiyallaahu 'anhum, itu adalah satu hal.
.    sebut ini sebagai hal pertama.

siapa pihak yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa itu, maka itu satu hal yang lain lagi.

Hal pertama dengan hal kedua itu ada kaitannya. Apakah menurut antum itu tidak ada kaitannya sama sekali?

Benar tidaknya hal pertama itu dipengaruhi oleh hal kedua.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya bahwa sifat azasi  setiap proposisi adalah “benar” atau “salah”.

Maka pernyataan antum bahwa “pertikaian antar sahabat itu tidak menggugurkan keimanan mereka” memiliki sifat azas “benar” atau “salah”. Bagaimanakah caranya orang lain dapat memahami bahwa pernyataan itu benar atau salah? Antum sudah tahu bahwa hal itu benar. Oleh karena itu antum tidak butuh apapun lagi untuk memahami kebenarannya. Sedangkan orang lain butuh suatu faktor lain yang bisa menimbulkan pengertian bahwa hal itu benar. Salah satu yang dibutuhkan untuk memahami kebenaran dari pernyataan itu adalah memahami apa itu keimanan? Apakah antum bisa menjawab pertanyaan tersebut?

Mengikuti petunjuk dari antum, untuk tidak mencampur adukan antara hal pertama dengan hal kedua, maka jelaskanlah oleh antum satu persatu, semoga menjadi pelajaran bagi para pembaca yang kebetulan mampir di thread ini. Setelah antum dapat menjelaskan “apa itu keimanan” untuk membuat pembaca mengerti bahwa pertikaian antar sahabat itu memang tidak menggugurkan keimanan, selanjutnya antum bisa menjelaskan hal kedua, dalam pertikaian itu siapa yang benar dan siapa yang salah?

Semuanya jelas dan tidak dicampur adukan. Hal pertama dan hal kedua. Keduanya harus difahami dengan sejelas-jelasnya, bukan difahami secara samaar-samar dan kurang jelas. Perbedaan keduanya juga harus difahami dengan jelas, bukan dengan samar. Keterkaitan antara hal pertama dan hal kedua juga harus difahami dengan jelas.

Keterkaitan yang mungkin antara hal pertama dan kedua adalah, apabila hal kedua itu berisi pengingkaran satu sahabat terahadap sahabat lainnya mengandung arti mengingkari al-Quran , maka sudah tentu hal pertama itu adalah salah. Akan tetapi, apakah pertikaian itu mengandung arti pengingkaran terhadap al-quran? Belum tentu. Untuk mengetahuinya dibutuhkan kejelasan, apakah sebenarnya  yang ditentang atau diperangi oleh para sahabat dalam pertikaian itu? Jawaban pertanyaan ini akan sangat membantu menjelaskan nilai bagi hal pertama maupun hal kedua.

Kutip
Mengapa?
Sebab tentang hal siapapun yang benar dan siapapun yang salah dalam peristiwa peperangan itu, sama sekali tidak mempengaruhi hal yang satunya lagi, yaitu tentang tetapnya keimanan, ke-Islaman, kebaikan dan disebutnya mereka sebagai generasi terbaik.

Jikalau sahabat B bertengkar dengan sahabat A. Sedangkan si A berada pada pihak yang benar, si B berada pada pihak yang salah. Kendatipun sahabat B berada pada pihak yang salah, maka tentu tidak menjadi sebab gugurnya keimanan sahabat B tersebut. Tiada dalil yang menyatakan bahwa berbuat salah dapat menggugurkan keimanan seseorang. Tapi sekai lagi, bagaimana bila pertengkaran  itu berarti pengingkaran sahabat B terhadap kebenaran Qurani disampaikan oleh sahabat A?

Kutip dari: mushab
Jadi, kalaulah anda mau membicarakan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, maka sepakati dahulu tentang tetap dan tsabitnya keimanan, ke-Islaman, kebaikan mereka baik sebelum maupun sesudah peristiwa itu.

Bagaimana saya bisa sepakat bahwa keimanan mereka tetap sebelum dan sesudah peristiwa itu sedangkan tidak ada ilmu bagi saya untuk bisa mengerti akan hal itu?


Kutip dari: mushab
Katakan kepada saya, apakah seorang wanita yang ditetapkan oleh Allah sebagai ibu bagi seluruh kaum mu'min itu, wanita yang baik atau bukan??
Dan apakah ketetapan Allah ini gugur disebabkan peperangan??

Kalau menurut akidah kaum sunni, maka bisa jadi wanita itu bukan wanita yang baik. Jikalau saya tidak salah, kaum sunni menganggap ibu dan bapaknya nabi Muhammad saw itu belum masuk Islam. Karenanya kaum sunni menghukumi keduanya mati dalam kekafiran. Jika hal ini benar, berarti ibu sang nabi bukanlah mukmin, bukan muslim, sedangkan sang nabi sendiri adalah mukmin, muslim. Dengan demikian ibu dari orang beriman itu belum tentu baik, belum tentu mukmin dan belum tentu muslim.

Dalam akidah kaum syiah, ibu dan bapak sang nabi adalah mukimin-muslim. Dan tidaklah mungkin seorang nabi dilahirkan dari wanita yang tidak mungkin. Akan tetapi, keyakina ini –setahu saya- diingkari oleh kaum sunni. Oleh karena itu dalil “ibu kaum mukminin pastilah mukmin” tidaklah berlaku bagi bagi kaum sunni.

Maka katakan kepada saya, bagaimana menurut antum, apakah mustahil seorang mukmin memiliki seorang ibu yang tidak mukmin?  Jika tidak mustahil, maka apakah yang membuat mustahil ibu para mukminin adalah tidak mukmin? Apakah di dalam ayat alQuran itu dijelaskan bahwa setiap ibu para mukminin pastilah mukmin? Tidak bukan?

Kutip dari: mushab
Atau Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang diri 'Ali bin 'Abi Thalib radhiyallaahu 'anhu sebagai seorang :
"Laki2 yang mencintai Allah dan rasul-Nya.." (Dan banyak lagi kebaikan2 yang lainnya.)

Katakan kepada saya, apakah seorang laki2 yang ditetapkan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai laki2 yang mencintai Allah dan rasul-Nya itu laki2 yang baik atau bukan??

Laki-laki yang mencintai Allah dan rasulnya. Kapan dan di mana? Apakah dalam sabda nabi itu terkandung penjelasan bahwa Ali dipastikan mencintai Allah dan Rasulnya sepanjang zaman? Apakah nabi pernah menjamin bahwa Ali tidak akan mengalami suatu perubahan dalam hal cinta dan keyakinan?

Apakah tidak mungkin si A hari ini begitu mencintai si B, sehingga si B berkata, “Si A sangat mencintaiku”. Ini adalah perkataan yang benar. Karna memang si A mencintai si B.  tapi seminggu kemudian si A malah membenci si B? Apakah hal ini tidak mungkin? Sedangkan manusia itu terkena perubahan.

Kutip
Saya katakan kepada anda, sungguh, itu adalah firman Allah, itu adalah ucapan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan sama sekali tidak akan pernah gugur atau digugurkan oleh siapapun.

Itulah mengapa, kita perlu mengerti lebih banyak tentang ilmu bahasa. Karena tanpa pengetahuan berbahasa yang benar, kita seringkali membuat kesimpulan-kesimpulan yang salah. Kemudian mengatas namakan kesimpulan itu dengan “Firman Allah”. Ini adalah hal berbahaya. Benar-benar sulit disadari bahwa yang dinyatakan sebagai firman Allah sebenarnya merupakan kesimpulan seseorang dari firman Allah. Tidak masalah kalau kesimpulan itu benar. Tapi kalau kesimpulan itu salah, berarti berarti berdusta atas nama Firman allah. Apakah mustahil tanpa disadari oleh antum, sebenarnya yang antum nyatakan sebagai firman Allah itu sebenarnya adalah  qiyas (kesimpulan) antum dari firman Allah itu?

Kutip dari: mushab
Yang dibicarakan pada pokonya sejak awal, bukan tentang mengurangi kebaikan atau juga keimanan, tapi mengenai menggugurkan/mengubah atau menghilangkan kebaikan dan juga tentang menggugurkan/mengubah atau menghilangkan keimanan/ke-Islaman.

Sedangkan berkurangnya kebaikan atau keimanan, jauh sekali bedanya dengan menggugurkan kebaikan ataupun keimanan/ke-Islaman.

Ya. Pokok masalahnya adalah “menggugurkan” atau “tidak”. Tapi ada kemungkinan “menggugurkan” bila ternyata hal itu “mengurangi”. Sudah jelas keterkaitannya, bukan?

Kutip dari: mushab
Sehingga, kalaupun -sekali lagi kalaupun- sekiranya dengan adanya peristiwa itu mengakibatkan berkurangnya kebaikan atau keimanan salah satu atau semua diantara mereka yang terlibat, maka sama sekali itu tidak menggugurkan semua kebaikan dan keimanan beliau2 semua radhiyallaahu 'anhum, yaitu jaminan beliau semua sebagai generasi terbaik umat ini dan keyakinan bahwa para sahabat itulah orang2 yang paling tinggi keimanannya diantara umam Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Jika keimanan bisa berkurang karena peristiwa itu, maka tentu berkurangnya itu bisa dalam takaran sedikit ataupun banyak. Seberapa banyak berkurang, tidaklah dapat diketahui secara pasti. Tetapi yang namanya berkurang atau bertambah seperti layaknya bilangan positif negatif, kalau berkurangnya banyak, akhirnya bisa mencapai titik nol, bahkan bisa minus. Apakah hal yang membuat hal itu mustahil terjadi pada diri para sahabat? Keimanan mereka ada kemungkinan berkurang, tapi dari mana kita tau bahwa berkurangnya itu tidak  akan pernah dapat sampai pada titik nol (gugur) ?

Kutip dari: mushab
......maka katakan dulu kepada saya :
"Kebaikan yang manakah dari diri 'Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"
"Kebaikan yang manakah dari diri 'ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"
"Kebaikan yang manakah dari diri 'Ammar bin Yasir radhiyallaahu 'anhu yang gugur atau berkurang disebabkan peristiwa peperangan itu? Dan apakah keimanan beliau juga gugur atau berkurang disebabkan peristiwa itu??"

Bisakah anda menjawabnya untuk saya?

Justru agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, maka saya bertanya kepada anda, apa yang diperangi oleh para sahbat pada waktu itu?

Jikalau sudah jelas, apa yang diperangi oleh Ali, oleh ibnu abbas dan Ammar bin yasir, maka kemungkinan kita akan melihat, kebaikan manakah yang berkurang atau bertambah pada diri mereka. Selama tidak mengerti, apa yang sesungguhnya mereka perangi, maka kita tidak akan mampu melihat pertambahan atau pengurangan itu.

Kutip dari: mushab
Di dalam peristiwa itu sama sekali tidak ada pengingkaran terhadap ayat2 Allah.
Adapun kedudukan para sahabat radhiyallaahu 'anhum dalam peristiwa itu jauh sekali bedanya dengan orang2 Khawarij, bahkan jelas2 orang2 Khawarij-lah yang mengingkari kedua pihak  sahabat radhiyallaahu 'anhum yang bertikai itu.

Bagaimana bisa anda membandingkannya??

Baik . terima kasih!

Jadi dapat saya rangkum bahwa menurut antum :

1.   Dalam peristiwa tersebut tidak terdapat pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah
2.   Kedudukan para sahabat jauh berbda dengan orang-orang khawarij
3.   Khawarij mengingkari kedua belah pihak sahabat yang bertikai


Dan antum bertanya, bagaimana saya bisa membandingkan antara para sahabat dengan kaum khawarij?

Setiap dua hal di dunia ini, sudah tentu  memiliki persamaan maupun perbedaan.

Masih ingin menruskan bahasan, tapi waktu sangat membatasi. Rasanya belum tuntas apa yang ingin saya sampaikan, mudah-mudahan lain waktu ada kesempatan lagi.




Komunitas Para Pemikir - http://logika.16mb.com/

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #146 pada: 23 Februari 2012, 20:20:23 »

Kepada Abang MA yang pintar dan terhormat.

Iblis itu bersifat pembohong. Lihat sifat pembohong yang berlaku dalam Syiah agar Abang MA selamat dari tipu daya iblis dalam diri kita. Dan tidak terusan membawa dakyah iblis.

1.   Syiah menyatakan Saiyidina Abu Bakar murtad, dan meyakini bahwa Saiyidina Ali telah melaksanakan bai’ah kepada  Saiyidina Abu Bakar, seorang murtad!. Syiah telah melakukan pembohongan  yang jelas tidak masuk aqal dan berlawan dengan sunnah Rasulullah.
Saiyidina Ali melaksanakan bai’ah adalah bertepatan dengan nas, bahwa bai’ah itu bagi Khalifah Rasulullah. Bukan kepada orang murtad sebagaimana fahaman mereka yang terkena tipu daya iblis.

2.   Sifat iblis berbohong ada pada Syiah apabila menyatakan Saiyidina Abu Bakar memerangi orang beriman, yang tidak membayar zakat.

Walhal, orang yang murtad itu bila mereka engkar untuk melaksanakan bai’ah kepada Khalifah Rasulullah Saiyidina Abu Bakar. Dan Saiyidina Abu Bakar memerangi orang murtad kerana mereka  gak mahu  membayar zakat, tidak mahu bai’ah dan memerangi Khalifah Rasulullah.

3.   Satu sifat iblis laknatullah itu, tidak mahu tunduk kepada Khalifah. Sejak dari Nabi Adam hinggalah kepada Khalifah-Khalifah Rasulullah yang ada sampai pada zaman kita ini. Kita harus mengenal pasti  siapa Khalifah Rasulullah pada zaman kita ini, supaya kita dapat mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnah Khulafa irrasyidin al-mahdiyin.

Semuga kita dapat kenal pasti Khalifah Rasulullah, dan menolak kenal tipu daya iblis supaya umat menentang Khalifah Rasulullah.

Abang MA sangat rajin membaca Kitab, tahniah. Saya tidak membaca sebegitu banyak Kitab. Alhamdulillah, saya mempelajari sedikit untuk  faham agama dari Khalifah Rasulullah zaman kita ini.

Abang MA perlu tinggalkan fahaman Syiah yang dikuasai iblis. Iblis itu sifatnya enggan tunduk kepada Khalifah. Bila kita baca Al-Quran dan Al-Hadis, iblis laknatullah memberi idea memahami Al-Quran dan al-Hadis untuk menentang Khalifah Rasulllah.

Untuk mengikut jalan yang lurus, kita harus memahami Al-Quran dan Al-Hadis sebagaimana yang diajar oleh Khalifah Rasulullah dan menolak ajaran iblis yang membaca KItab untuk menentang khalifah Rasulullah.

Semuga Abang MA suksess.



Kepada JAMAAH 8 yang pintar dan yang terhormat

Kembali lagi pendapat anda bukan berdasarkan AlQuran dan bukan berdasarkan Hadith; tetapi berdasarkan dugaan2 anda sendiri.

Walaupun tidak semua; tetapi ada beberapa sahabat yang MURTAD ketika Nabi Muhammad masih hidub; sehingga tertulis di dalam AlQuran dan Hadith. Pada hari Qiyammah nanti Nabi Muhammad akan mengeluh kepada ALLAH, karena banyak orang dari KAUM NABI MUHAMMAD meninggalkan AlQuran; kemudian ALLAH menjadikan mereka sebagai musuh Nabi Muhammad.

ALQURAN 25:30-31
30. Rasul berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya KAUMKU telah meninggalkan AlQuran!"
31. ALLAH berkata: "dan seperti itulah kenyataan, Kami adakan untuk semua nabi musuh dari orang2 yang berdosa!"

SHOHIH BUKHARI, Kitab Janazah
setelah menguburkan para sahabat yang wafat pada perang UHUD, Rasulullah berkata: "Saya tidak takut kamu akan kembali menyembah Tuhan Tuhan selain ALLAH (setelah saya wafat), tetapi saya takut kamu akan saling membunuh untuk memperebutkan dunia ini (Kekuasaan atau/dan Harta)!"

Pehatikan benar benar perkataan Rasulullah, Rasulullah khawatir para sahabat saling membunuh untuk memperebutkan dunia ini (Kekuasaan dan/atau Harta); karena orang yang sengaja membunuh orang beriman yang lain akan dimasukan ke dalam neraka Jahannam oleh ALLAH untuk selamanya.

ALQURAN 4:93
Barangsiapa yang membunuh seorang beriman (Mukmin) dengan sengaja, maka pembunuhnya akan dimasukan ke dalam JAHANNAM, pembunuhnya akan kekal berada di dalamnya; karena ALLAH murka kepadanya

SHOHIH MUSLIM, Kitab Iman no 160
Rasulullah berkata: "Janganlah kamu dengan sengaja membunuh orang lain yang beriman (muslim); supaya ALLAH tidak mengembalikan kamu menjadi orang KAFIR!"

Apakah ke dua orang tua anda bisa dikatakan MURTAD; jika mereka tidak membayar zakat kepada BAZIS (Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh) yang dikelola oleh Pemerintah RI?
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 20:25:19 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline arredho droid

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2012
  • Tulisan: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #147 pada: 23 Februari 2012, 21:21:32 »

Walaupun tidak semua; tetapi ada beberapa sahabat yang MURTAD ketika Nabi Muhammad masih hidub; sehingga tertulis di dalam AlQuran dan Hadith. Pada hari Qiyammah nanti Nabi Muhammad akan mengeluh kepada ALLAH, karena banyak orang dari KAUM NABI MUHAMMAD meninggalkan AlQuran; kemudian ALLAH menjadikan mereka sebagai musuh Nabi Muhammad.

MA, apakah Sayyiduna Abu Bakar ash Shiddiq  termasuk sahabat Rasulullah saw. yang MURTAD ?

Offline mushab bin umair

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.367
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #148 pada: 23 Februari 2012, 22:23:13 »
Apakah anda tidak tahu tentang hukum agama? Bahwa kita boleh membunuh orang atas hak membela diri. Misalnya anda saya bunuh ditempat sepi atas perintah orang. Karena hanya ada dua pilihan: saya membunuh anda atau anda membunuh saya.
Apabila saya membunuh anda, maka saya dihukumi bersalah dan layak dimasukkan ke dalam neraka jahanam.
Apabila anda membunuh saya, maka anda tidak berdosa.
Begitu juga kasus Amirul Mu'minin Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu dengan Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha pada perang Jamal:
Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu 'anhu tidak berdosa karena hanya membela diri.

Jangan ngarang dong..
Coba katakan kepada saya Amirul Mu'minin 'Ali radhiyallaahu 'anhu itu membela diri dari apa?? Dari siapa?? Dan atas apa??


Sedangkan Az-Zubair radhiyallaahu 'anh, Thalhah radhiyallaahu 'anhu dan  'Aisyah radhiyallaahu 'anha akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Jelek sekali ucapan anda ini duhai Rafidhah.
Dari siapa anda mengambil ucapan seperti ini??
Apa anda mo kafir kepada apa yang dibawa oleh Allah dan rasul-Nya ya ??

Allah berfirman :
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isteri Nabi adalah ibu-ibu mereka.."
(Q.S Al-Ahzab ayat 6)

Dan berkenaan dengan ini, 'Ammar bin Yasir radhiyallaahu 'anhu mengatakan :
إِنَّ عَائِشَةَ قَدْ سَارَتْ إِلَى الْبَصْرَةِ وَ وَاللَّهِ إِنَّهَا لَزَوْجَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
".......Demi Allah, sungguh 'Aisyah radhiyallaahu 'anha adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat nanti.."
(Shahih al-Bukhari 9/55 no.7100)

Jika Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam akan berada di surga, maka begitupula 'Aisyah radhiyallaahu 'anha yang menjadi isteri beliau di dunia, akan menjadi istri beliau pula kelak di surga.
Itu menurut 'Ammar bin Yasir radhiyallaahu 'anhu!!
Tapi anda malah menyelisihi beliau dan ngomong asal se-enaknya??
Dari siapa anda mengambil omongan asal itu heh??

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
"Tidak ada yang sempurna di kalangan wanita kecuali Asiyah istrinya Fir'aun dan Maryam binti 'Imran.
Dan sesungguhnya keutamaan 'Aisyah radhiyallaahu 'anha atas para wanita bagaikan keutamaan tsarid atas semua makanan lainnya."
(Shahih al-Bukhari 4/158 no.3411)

Bagaimana mungkin seorang wanita yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam katakan mempunyai keutamaan di atas para wanita lainnya malah orang2 Rafidhah seperti anda katakan akan masuk neraka??
Ngaco anda!!

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda saat berada di atas Hira :
أثبت حراء فإنه ليس عليك إلا نبي أو صديق أو شهيد قيل ومن هم ؟ قال رسول الله صلى الله عليه و سلم و أبو بكر و عمر و عثمان و علي و طلحة و الزبير و سعد و عبد الرحمن بن عوف
"Tenanglah wahai Hira, sesungguhnya tidaklah ada di atasmu melainkan Nabi, shidiq, atau syahid."
Ditanyakan : "Siapa saja mereka yang saat itu ada di atas Hira?"
Zaid menjawab : "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa'ad, 'Abdurrahman bin 'Auf.."
(Sunan At-Tirmidzi 5/615 no.3757. Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan : "Ini adalah hadits hasan shahih.")

Bagaimana bisa orang2 yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai orang2 yang syahid dan akan masuk surga, malah anda dan orang2 Rafidhah katakan akan masuk neraka??
Ngaco anda!!

Bahkan ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata kepada pembunuh Az-Zubair bin Awwam radhiyallaahu ‘anhu :
بشر قاتل بن صفية بالنار ثم قال علي رضي الله عنه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان لكل نبي حواري وحواري الزبير
“Berilah kabar kepada orang yang telah membunuh Az-Zubair  bin Awwam  dengan api neraka.”
Kemudian ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu berkata :
“Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap Nabi mempunyai hawari dan hawari-ku adalah Az-Zubair bin Awwam.”
(Musnad Ahmad 1/89 no.681. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan : "Isnadnya hasan.")

Justru menurut ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu, yang akan masuk neraka itu adalah pembunuhnya Az-zubair radhiyallaahu ‘anhu dan ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu membela Az-Zubair dengan mengatakan bahwa Az-Zubair adalah hawari-nya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian malah mengatakan sesuatu yang aneh, dusta dan menyelisihi perkataan beliau.
Jadi, sebenarnya anda ini mengambil agama dari siapa heh??

Coba deh anda pikir baik2.....




« Edit Terakhir: 24 Februari 2012, 14:50:25 oleh mushab bin umair »
"Astaghfirullaahal 'azhiim.."

Offline mushab bin umair

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.367
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #149 pada: 23 Februari 2012, 22:49:31 »
Lucu sekali anda ini, di manakah perintah mewajibkan menyerahkan zakat kepada para petugas zakat bagi orang-orang beriman?
Oke saya tampung dulu pemahaman anda bahwa diwajibkan menyerahkan zakat kepada petugas zakat, tidak boleh menyerahkan langsung kepada penerima zakat.

Apabila saya belum membayar zakat saya tentu saja saya ridho menyerehkan zakat saya, tapi jika saya sudah membayarkan zakat saya sendiri maka saya akan menolak dengan memberi penjelasan bahwa saya sudah menyerahkan zakat saya.

Anda yang lucu....
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Mu'adz radhiyallaahu 'anhu dalam hadits itu : "Ambillah zakat dari mereka..." dan ini sesuai dengan firman Allah : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka..."
Itu artinya yang diperintahkan itu adalah mengambil zakat dari anda dan bukan anda yang ngatur sendiri,
So, jika anda sebagai muzaki, tentu saja anda harus memberikannya kepada mereka, dan bukan anda yang menetapkan sendiri se-enaknya.

Dan demikianlah yang diamalkan di masa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.


Kutip
Contoh kasus begini, misalnya anda dalam perjalanan yang mendesak kehabisan bekal dan membutuhkan bantuan misalnya dari saya di sebuah tempat terpencil(anggaplah kita berdua berteman akrab). Saya mempunyai uang rp. 250.000 untuk dizakatkan, manakah yang harus saya lakukan:
a. menyerahkan langsung uang saya kepada anda.
b. menunggu petugas zakat dulu.

Heran.....apa anda ga punya harta lain yang bisa anda sedekahkan atau infaq-an pada orang itu??
Anda itu bisa bersedekah kepadanya, atau ber-infaq kepadanya tanpa harus mengganggu harta bagian zakat.


Kutip
Lah kenapa saya harus menuliskannya kepada anda??

Tentu saja itu keharusan anda sebagai pemberi argumen.
Apa anda pikir orang itu bisa ber-argumen se-enaknya, tapi pada saat diminta bukti oleh orang lain dia malah bilang : "Apa perlunya saya memberi bukti kepada anda?"

Ngaco ini.

Kutip
Seharusnya anda yang membantah saya bahwa bunyi haditsnya tidak seperti itu. Kan sudah saya sertakan rujukannya.

Nah, ini dari Shahih Muslim Kitab Iman no. 11 yang anda jadikan rujukan :

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم من أهل نجد ثائر الرأس نسمع دوي صوته ولا نفقه ما يقول حتى دنا من رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا هو يسأل عن الإسلام فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم خمس صلوات في اليوم والليلة فقال هل علي غيرهن ؟ قال لا إلا أن تطوع وصيام شهر رمضان فقال هل علي غيره ؟ فقال لا إلا أن تطوع وذكر له رسول الله صلى الله عليه و سلم الزكاة فقال هل علي غيرها ؟ قال لا إلا أن تطوع قال فأدبر الرجل وهو يقول والله لا أزيد على هذا ولا أنقص منه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أفلح إن صدق

Coba katakan kepada saya, bagian mana yang matan haditsnya adalah seperti yang anda bawakan sebelumnya.....

Kutip
Banyak kata-kata di alquran yang walaupun lafalznya bukan zakat tapi merujuk ke zakat, contohnya harta yang kamu nafkahkan dan sodaqoh, walaupun tidak semuanya.Ayat di atas dan juka qs 2:215 merujuk pada penerima zakat.

Anda ini mo ngarang2 terhadap syari'at Allah ya??

Kutip
Apa bedanya pikiran kita dengan pikiran ulama mas. Selama kita menguasai pengetahuan tentang alquran dan hadits. Apakah hanya karena mereka di labeli ulama, maka hanya mereka saja yang boleh berkata demikian. Toh seringkali tulisan mereka juga merupakan hasil dari pikiran mereka sendiri.

Anda ini ngambil agama dari siapa sih? Dari akal anda sendiri ya??
Heran, HMA di taqlidi, tapi pemahaman ulama ditinggalkan....
Rusak deh kalau begitu....


Kutip
Ulama anda sendiri kok yang mengatakan bahwa penyerbuan abu bakar satu diantaranya karena tidak maunya para sahabat menyetorkan uang zakatnya kepada abu bakar.

Weleh, apa anda baca apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah sebelumnya :

فصل في تصدي الصديق لقتال أهل الردة ومانعي الزكاة
"Pasal tentang datangnya Abu Bakar Ash-Shidiq untuk memerangi orang2 yang murtad dan yang menolak membayar zakat."

Di sana dibedakan diantara orang2 yang murtad dan yang menolak membayar zakat.
Murtad adalah orang yang keluar dari Islam atau orang yang mengganti agamanya dari Islam menjadi yang lain dan hukumannya adalah mati.
Semisal apa yang disabdakan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
"Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia."
(Shahih al-Bukhari 9/15 no. 6922)

Pada masa Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu, orang2 yang murtad itu adalah orang2 yang pernah masuk Islam, tapi setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat, mereka malah mengikuti Nabi2 palsu.
Dengan ber-imannya mereka kepada Nabi2 palsu itu, maka mereka dianggap telah keluar dari Islam.
Mereka inilah yang dikatakan murtad.

Sedangkan orang2 yang tidak mau membayar zakat, maka tidaklah dikatakan murtad, kecuali.......jika mereka juga menolak dan mengingkari kewajiban zakat, maka jika seperti ini mereka dianggap telah kafir.



Kutip
Sudah kita ketahui bersama bahwa abu bakar membutuhkan banyak biayanya untuk meluaskan pengaruhnya.

Kita bersama siapa?? Itu hanya khayalan anda dan orang2 Rafidhah saja kali.
Ngarang saja....



Kutip
Anda tahu kan hukum islam, rujukannya apa? makanya saya meminta hadits peristiwa di atas, kalau tidak ada berarti itu hanyalah dongeng ulama-ulama anda.

Eeeh, sudah dibilang itu bukan hadits, apa anda ga baca??

Atau kalau anda memang mo tahu sanad dari para perawi peristiwa itu, nih saya kasih :

وقد روى الدار قطني من حديث عبد الوهاب بن موسى الزهري عن مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن المسيب عن ابن عمر قال: لما برز أبو بكر إلى القصة واستوى على راحلته، أخذ علي بن أبي طالب بزمامها وقال: إلى أين يا خليفة رسول الله ؟ أقول لك ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد: لم سيفك ولا تفجعنا بنفسك، وارجع إلى المدينة، فوالله لئن فجعنا بك لا يكون للاسلام نظام أبدا، فرجع

dan :
، وقد رواه زكريا الساجي من حديث عبد الوهاب عن
موسى بن عبد العزيز بن عمر بن عبد الرحمن بن عوف [ و ] الزهري أيضا عن أبي الزناد عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة قالت: خرج أبي شاهرا سيفه راكبا على راحلته إلى وادي
القصة، فجاء علي بن أبي طالب فأخذ بزمام راحلته فقال: إلى أين يا خليفة رسول الله ؟ أقول لك ما قال رسول الله يوم أحد: لم سيفك ولا تفجعنا بنفسك فوالله لئن أصبنا بك لا يكون للاسلام بعدك نظام أبدا، فرجع وأمضى الجيش
(Al-Bidayah wa An-Nihayah 9/446)

Atau jika mau yang lebih lengkap ini saya kasih :

 أَخْبَرَنَا أبو خازم مُحَمَّد بن الْحُسَيْن بن مُحَمَّد بن خلف الفراء البغدادي، قال: حَدَّثَنَا أبو الْحَسَن علي بن عمر بن أَحْمَد الدارقطني الحافظ ببغداد، قراءة عليه، قال: حدثني أبو عبد الله مُحَمَّد بن إسماعيل بن إسحاق بن بحر الفقيه، إملاء من كتابه، قال: حَدَّثَنَا أبو الأصبغ سهل بن سوادة الغافقي ومُحَمَّد بن فيروز البغدادي بتنسين قالا: حَدَّثَنَا أبو غزية مُحَمَّد بن يحيى  الْزُّهْرِي، قال: حَدَّثَنَا أبو الْعَبَّاس عبد الوهاب بن موسى الْزُّهْرِي عن مالك بن أنس عن ابن شهاب عن سعيد بن الْمُسَيَّب عن ابن عمر قال: لما برز أبو بكر الصديق، رَضِىَ الله عَنْهُ، إلى ذي القصة، في شأن أهل الردة، واستوى على راحلته، أخذ علي بن أبي طالب، عليه السلام، بزمام راحلته، وقال: إلى أين يا خليفة رسول الله، أقول لك ما قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد: شم سيفك، ولا تفجعنا بنفسك، وارجع إلى المدينة، فوالله لئن فجعتنا بك، لا يكون للإسلام نظام أبدًا. فرجع
(Al-Fawaid al-Muntaqah no.889)

Cukup?
« Edit Terakhir: 23 Februari 2012, 22:53:47 oleh mushab bin umair »
"Astaghfirullaahal 'azhiim.."