Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: CARA MENGHUKUM ANAK  (Dibaca 519 kali)


Offline Adam1984

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 157
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« pada: 12 Desember 2011, 10:14:56 »
Assalamaualaikum, wr wb

  Ane mau berbagi pengalaman nih waktu nunggu pesawat di ruang tunggu bandara, ada 1 keluarga turis, pasutri dengan wajah asia umur sekitar 30-40 tahunan kemungkinan dari singapura karena menggunakan bahasa Inggris dan seorang anaknya perempuan berumur 5-7 th. Tampaknya sang ibu tengah mendisiplinkan anaknya karena berhubung pake bahasa inggris and bahasa inggris ane pas pasan yang ane tangkep seperti ini :
Ibu : Tadi pagi sudah ibu bilang, kamu harus...... dan kamu sudah setuju (nada agak tinggi)
Anak : Buu tapi aku mau.... (Sambil mata mulai merah)
Ibu : Tidak boleh kamu sudah melanggar..... sekarang keluarkan tanganmu! ( nada keras)
ane aja duduk selisih 3 bangku denger kata katanya yang terakhir dengan jelas
Anak : masih tidak mau kemudaian merengek2 berusaha memeluk ibunya
Ibu : Jangan sentuh Ibu!, (sambil menggunakan telapak tangan mendorong dada sang anak menjauh dari ibunya, mendorongnya lembut tapi tegas bertenaga, tidak keras)keluarkan tanganmu!
Anak ; Menangis lalu dengan agak tertahan mengeluarkan telapak tangannya seperti pengemis yang meminta
Ibu : tangan kiri memegang perglangan Anak, lalu tangan kanan memukul tangan anak dengan keras seperti toss cuma arahnya atas ke bawah
Ayah nya tersenyum mendekatkan kakinya kebelakang anak sambil menutup mata sang anak saat Ibu memukul tangan anaknya
Setelah itu Anak walaupun masih sesenggukan tapi tangisnya sudah reda, kemudian keluarga itupun jalan gandeng tangan menuju antrian

Ane senyum senyum sambil mikir tu cara bagus juga yah..., kira2 ntar kalo udah nikah bisa tegas gitu ya sama anak??
biasanya kalo dimarahin ibu, si anak lari ke bapak trus diemban pake kain sampe ga nangis lagi dan sebaliknya, intinya yg 1 marah dan 1 melindungi, jeleknya sih si anak gak bakal ngerti kalo dia salah, cukup cari tempat perlindungan gitu
gimana tanggapan MyQers?

Offline SaintOf81

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 54
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 12 Desember 2011, 11:14:55 »
Dalam hal menghukum anak, Ane dan istri juga  mengusahakan dua-duanya nggak marah.
Jika anak ada salah ke istri, trus istri marahin anak dan si anak lari ke saya,  saya juga ikut menasehati dan memberitahu apa salahnya, trus minta sang anak mengakui kesalahannya dan minta maaf ke istri. demikian juga sebaliknya.
Kalau kedua orangtua marah ke anak, si anak walaupun salah tapi akan merasa terluka dan dibenci orangtuanya. Ini bisa berbahaya.

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.464
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 12 Desember 2011, 12:20:04 »
Wa'alaykum salam warahmatullah,

Bagus juga threadnya... O0

Emang yg paling penting dari masalah menghukum anak adalah ketegasan dlm menjalankan hukuman. Kalo bisa sih diadakan dulu perjanjian. Kalo perlu si anak sendiri yg bikin hukumannya kayak apa. Utk anak yg lebih besar, pernjanjian itu bisa ditulis di buku.

Bagaimana dgn anak yg lebih kecil? Yg belum bisa ngomong?
Ya tips itu mah gak bisa diterapkan... ;)
Di mana2 juga hukuman tuh berlaku utk anak yg dah bisa diajak ngomong.

TKJSS
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline Th3s4inT

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.077
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • be patience...
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 12 Desember 2011, 12:58:58 »
pernikahan itu satu perahu untuk menuju satu tujuan yang sama
kalo nahkoda dan asistennya berbeda pendapat, maka penumpang yg akhirnya bingung

saya menerapkan pola yang sama dengan istri
diusahakan semuanya sepaham, sepakat, satu kata soal hukuman kepada anak
bahkan ketika salah satunya berlebihan (misal: saya membentak terlalu keras) istri tidak merespon, dan tetap mendukung saya untuk menghukum anak
setelah selesai, baru istri menasehati agar intonasi suara diturunkan karena tidak bagus untuk mereka
diskusi itu tentu dilakukan di luar pengetahuan anak2

jadi tidak ada istilahnya anak "berlindung" ke salah satu pihak orang tua, karena mereka tahu bahwa kedua orangtuanya akan berbicara hal yang sama

pendidikan untuk belajar bertanggung jawab terhadap tindakan, dan konsisten terhadap ucapan, harus ditanamkan sejak kecil
kami (saya dan istri) tega kok menyuruh anak yg berusia 3.5 thn untuk menyeret kasur palembang dari lt-2 ke ruang jemur di lt-1, karena mengompol
pada saat itu istri tidak tega, tapi tetap tidak membantu, karena memang kami dan anak sudah sepakat tentang hukuman tsb
saya mendampingi anak, memotivasi, membantunya sedikit, dan memberinya gambarang: bahwa bertanggung jawab itu harus
lebih mudah pipis di kamar mandi daripada harus menanggung resiko yang lebih berat akibatnya
... dan itu adalah terakhir kalinya dia mengompol hingga skr sudah berusia 5 thn
Let me lead the way, straight back to Allah's bless
'Cause this kind of love is.. once in a lifetime

Offline aisya moura

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 3.776
  • Lokasi: banua city
  • Jenis kelamin: Wanita
  • maju atau menang
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 12 Desember 2011, 19:15:31 »
bahasan yg bagus...

*nyimak mode dinyalain :)
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dg sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kpd oran

Offline Adam1984

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 157
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 13 Desember 2011, 06:53:08 »
Nggak heran juga, kalo orang luar terkenal disiplinnya,
buang sampah pada tempatnya, kebiasaan mengantri, hal hal kecil sperti itu
karena disiplin itu diajarkan turun temurun
juga orangtuanya sendiri jadi model teladan kedisiplinan itu sendiri  :topOK:

jadi malu sama diri sendiri  :malu:
kadang ane gak sedisiplin itu, seperti misalna nerobos lampu merah krn jalanan sepi  :malu:  :jaim:  :malu:

Offline bee_imutz

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.219
  • Lokasi: ^^solo berseri - wonogiri sukses ^^
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 13 Desember 2011, 10:09:54 »
keren keren...
hmm trauma juga kalo ada yang bicara teriak2 keras2

*lanjutin nyimak sambil selonjoran
teruntuk engkau yang ada di masa lalu, sekarang dan masa depan......*kenapa engkau? karena engkau bernilai..^^tertabung rinduku untuk engkau ^^

Offline gigi puspita

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2011
  • Tulisan: 3.361
  • Lokasi: sidoarjo deket surabaya ato surabaya deket sidoarjo ???
  • menangislah-tersenyumlah
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 13 Desember 2011, 11:25:59 »
cukup angkat jari 1 sam pai 3 :p
dalam ruang cinta

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 13 Desember 2011, 12:53:34 »
@ TS
sy pernah serumah sama pasangan menikah waktu masih kuliah dulu, mereka punya anak kembar, cewek2. Lucu2 buanget   :jaim:
itu anak2 usia 11 bulan, kalo jam makan ditaro di kursi, makanannya ditaro depannya, dikasih apron supaya gak kemana2 makannya trus dia tinggal kerjain ini itu urusan lain, dalam setengah jam dia balik, kalo masih ada dia warning 5 menit lg terus dia tinggal lagi. 5 menit dia balik dia ambil makanannya, dia beresin baby chair sama anak2nya terus diberdirikan sambil ditepuk2 punggungnya. Udah gitu mereka ditaro di play penn besar dan dia tinggal.
Pernah 2 jam kemudian anaknya yg satu nangis2, sy sampe keluar kamar dikira jatoh taunya laper  :D tapi dia tetep bilang, "snack time is still another 40 minutes"

kejam  :D  :D

tapi selama 3 bulan sy tinggal sama mereka sy jd belajar banyak tentang konsistensi. Sementara sy balik ke Indonesia anak sy umur 2 taun kurang, makan masih disuapin  :malu:
akhirnya sy coba sharing sama nini dan adek ipar sy yg ngurusin izzah Alhamdulillah adek ipar sy paham, jadi mulai diterapkan. Awal2 ya tantrum, tapi karena konsistensi dan ketegaan kami akhirnya bisa juga dia makan sendiri secara konsisten sampai sekarang. Itu butuh waktu sekitar 4 bulan penuh perjuangan  :D

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline Maru Sen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 666
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • be better and better!
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 13 Desember 2011, 14:35:39 »
Cara menerapkan disiplin/peraturan yg sy pelajari adlh dgn sistem "konsekuensi"

Jika anak melaksanakan peraturan/kesepakatan bersama maka ia akan mendapat reward & sebaliknya jika melanggar maka ia akan mendapat punishment.

Tp punisment yg diberikan bukanlah berupa hukuman fisik/kekerasan seperti pukulan, cubitan, atau makian, melainkan mencabut haknya (yg ia sukai) spt memotong jatah nonton TV, jatah uang jajan, atau jatah bermain di luar rumah.
Sy jg suka dgn sistem di Nanny 911 & Super Nanny dimana anak yg melanggar peraturan mdapat Time Out dulu: anak diberi waktu utk menyendiri & merenungi kesalahannya, kmdn ia harus meminta maaf. Terakhir, ortu akan memeluk anak utk menunjukkan bhw kesalahan mereka sdh dimaafkan & anak tetap merasa disayangi orangtuanya.

Sebaiknya, sejak awal memang harus ada kesepakatan & komitmen dr kedua orangtua ttng bgmn mdidik & mdisiplinkan anak mereka kelak. Jgn hanya menyerahkan tugas mdidik anak ke salah satu pasangan saja

Offline ^nay

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2009
  • Tulisan: 716
  • Lokasi: ♥
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 16 Desember 2011, 10:30:51 »
Sy jg suka dgn sistem di Nanny 911 & Super Nanny dimana anak yg melanggar peraturan mdapat Time Out dulu: anak diberi waktu utk menyendiri & merenungi kesalahannya, kmdn ia harus meminta maaf. Terakhir, ortu akan memeluk anak utk menunjukkan bhw kesalahan mereka sdh dimaafkan & anak tetap merasa disayangi orangtuanya.
pernah pingin menerapkan ini, tapi mamanya ga setuju :( ya uda deh yg ga ikutan punya anak ngalah.


kalo anak nangisan n suka merengek itu sebaiknya diperlakukan seperti apa sih?

misal : minta di gendong terus, kalau ga digendong bakal nangis dan merengek dengan teriak2..
perna mencoba untuk konsisten ga mau gendong, eeh malah digigit  :toe:


* ^nay lagi tinggal sama kakak yang anaknya 5, mesti belajar banyak nih :)

Offline oomnya fahrel

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.300
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« Jawab #11 pada: 16 Desember 2011, 10:59:15 »
Pembahasan bagus O0

Mo ikutan share, meski anak masih dibawah satu tahun (Januari 01 12 baru setaon), terkadang cukup membuat jengkel istri, dan marah meski anak aye gak ngerti bahkan tertawa dan memeluk bundanya. Yach, itulah kondisi keluarga, yang biasanya setelah memarahi, istri aye kadang menyesali dan cerita setelah aye pulang kerja.

Biasanya sich aye nasehati dengan cerita, entah itu melihat kejadian di jalan ato melihat di tv kantor.

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.464
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 16 Desember 2011, 12:59:11 »
Kutip dari: ^nay
misal : minta di gendong terus, kalau ga digendong bakal nangis dan merengek dengan teriak2..
perna mencoba untuk konsisten ga mau gendong, eeh malah digigit  :toe:

Tetep ortu harus konsisten. Justru memberi angin pada kondisi spt itu akan bikin masalah nantinya. Anak akan merasa bahwa dia punya kartu truf utk meloloskan permintaannya ke ortu. Kalo keinginannya gak diturutin, dia pake senjata itu, toh ortunya akan luluh.

Kami dah mempraktekkan hal ini dan alhamdulillah lancar2 aja.

Misalnya si anak diajak ibunya ke pasar. Terus dia pengen sesuatu dan minta dibelikan. Ibunya gak mau membelikan karena ada satu atau lain alasan dan si anak dikasih tahu. Awal2nya dia merengek bahkan kadang menangis meraung2. Dlm kondisi ini, si ibu bakalan malu, sih. "Masak minta gitu aja gak dikasih." Itu komentar orang yg ngelihat.

Tapi tetep aja gak diturutin dan diancam akan ditinggal kalo masih merengek. Awal2nya mungkin dikira itu gertakan. Tapi begitu ibunya bener2 meninggalkan dia, gak ada pilihan lain utk ikut pulang.

Awal2 emang berat. Tapi lama2 anak bisa dikasih tahu alasan utk tidak mengabulkan keinginan anak. Toh gak semua permintaannya ditolak. Kadang diturutin. Bahkan kadang ortu yg menawarkan dia utk beli sesuatu.

Dari situ anak akan belajar utk bernegosiasi. Guaranteed... ;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline Th3s4inT

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.077
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • be patience...
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 16 Desember 2011, 13:30:26 »
kalo anak nangisan n suka merengek itu sebaiknya diperlakukan seperti apa sih?

misal : minta di gendong terus, kalau ga digendong bakal nangis dan merengek dengan teriak2..
perna mencoba untuk konsisten ga mau gendong, eeh malah digigit  :toe:
anak tantrum begitu, kuncinya: didengarkan, sambil terus menguatkan
apa alasan anak minta gendong? apa karena sebelumnya ngambek? karena kolokan? karena malas berjalan?
nah selesaikan masalah itu dengan-tidak-menggendong
ngomongnya yg baik, dekat dengan si anak, sejajar dengan dia (misal: sama2 duduk di lantai)
bikin dia merasa diperhatikan, dan keinginan dia bisa dipenuhi/didapatkan asal dia juga mau menuruti sesuatu

anak saya yang bungsu, dulu sampai usia 3 thn kalo bicara masih gak jelas, kaya orang kumur2 :hihi:
kami - orang tuanya - sih paham, tapi gak buat orang lain, dan itu jelas gak bagus
kebiasaan itu makin parah ketika dia menangis, bicara gak jelas, sambil nangis pula :toe:
saya mulai kesulitan, tapi bundanya - amazingly - tetap bisa paham apa maksudnya

.. dan disitulah masalahnya
anak jadi merasa tidak perlu memperbaiki cara bicaranya, toh orangtuanya - terutama bundanya - bisa paham

lalu mulainya kami (inisiatif saya) untuk merubah hal tsb
setiap kali anak menangis, dan teriak2 gak jelas, kami duduk dekat dengan dia lalu bilang: "papa/bunda gak ngerti, coba ngomong yang baik jangan sambil nangis"

anak biasanya makin nangis, karena keinginan dia tidak dipenuhi, bahkan terkadang sampai batuk
kami tetap konsisten duduk di dekat dia, bicara dengan lembut: "kalau sambil nangis gitu papa/bunda gak ngerti, coba berhenti dulu nangisnya trs bicara yang baik"

perjuangan berat selama 4-6 bulan, tapi hasilnya terbayar lunas sekarang
membaca lancar, dengan diksi dan intonasi yang tepat, bahkan kadang saya bercanda menjelang waktu tidur: "gantian dong dedek yang baca buku cerita, papa/bunda dengerin"
dan dia dengan antusiasnya melakukan itu :)
Let me lead the way, straight back to Allah's bless
'Cause this kind of love is.. once in a lifetime

Offline daffawwaz

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 989
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
    • sanifamily
« Jawab #14 pada: 16 Desember 2011, 14:03:02 »
Bahasan yang menarik.  Menyimak suhu-suhu di sini.
emaknya Daffa, Fawwaz, dan Inara