Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Sistem Sosial Ideal menurut Saya  (Dibaca 1427 kali)


Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« pada: 16 November 2011, 14:31:44 »
Seharusnya, secara default dalam artian, tanpa sebuah persiapan, seorang bayi yang lahir di indonesia, dianggap dipersiapkan sebagai seorang buruh tani, yang akan bertugas untuk mengurus masalah pengadaan pertanian, termasuk, perkebunan, penggembalaan, peternakan, perkebunan dsb. Dalam hal ini, dikarenakan pada fitrahnya seorang manusia adalah seorang pengelola tanah. Tentunya dalam hal ini, secara default, kepemilikan tanah bagi orang asing, atau warga WNI, yang telah didefinisikan dalam UU maximum adalah 7 tahun. Dimana kemudian, setelah 7 tahun, tanah tersebut dikembalikan ke pemiliknya, dimana gedung diatasnya atau rumah diatasnya, harganya dianggap 0. Kalau tidak demikian, terus menerus bangsa ini akan terjebak dalam kemelaratan. Tentunya saya pun mahfum atau paham bahwa ada banyak warga keturunan, tapi seperti yang sudah saya katakan, berdasarkan definisi WNI di UU, warga keturunan yang sudah menetap 10 tahun, apalagi sudah bergenerasi, maka dianggap sebagai warga negara Indonesia. Sesuai dengan yang tercatat pada Torat.

Sistem pendidikan dasar seharusnya, biarpun memasukkan IPA dasar atau ilmu Hayati (Bio-logi) seharusnya lebih difokuskan kepada pertanian, sehingga seorang lulusan SMA, setelah lulus, minimal tahu bagaimana cara menggarap tanah di Lingkungannya sendiri, dan bukan dengan menambah nambah jumlah lulusan yang tidak tahu bagaimana cara mengelola tempat tinggalnya. Misalkan, seorang programmer, di daerah yang bahkan listrikpun tidak ada, apalagi komputer, ini hanya akan menambah jumlah penduduk yang kemampuannya sia sia.

Pada tingkat lanjut seperti Kuliah, maka setiap peserta didik diperbolehkan masuk ke tempat pendidikan sesuai dengan minatnya, atau minimal diberikan fasilitas semisal internet, atau perpustakaan untuk mencari informasi, karena saya lihat tidak ada gunanya pendidikan formal yang hanya bertujuan untuk mendapatkan ijasah. Lebih baik tenaga kerja informal dengan ketrampilan memadai, karena toh, pada akhirnya, pencari kerja pun memberikan test lagi jika hendak mencari pekerja. Tapi memang dengan adanya sistem ijasah, perusahaan tidak ribet menyaring tenaga kerja yang membludak.

Dari hal seperti ini, saya rasa kita tidak akan pernah kehabisan tenaga kerja dalam bidang pengadaan sumber pangan, ataupun tenaga kerja distribusi pangan. Bahkan diharapkan lembaga kuliah bisa menggunakan mahasiswanya untuk membuat penelitian, untuk mengingkatkan jumlah produksi pangan.

UMR yang disarankan, tidak dalam nominal rupiah, melainkan jumlah barang:
(Untuk 1 orang/1bulan)
30 Kg beras
30 Telur
15 kg Daging (Sapi/kambing)
Susu
Madu
akses internet
Optional:
Bahan bakar kendaraan
Akses Hiburan tambahan
Kopi
Jahe
dsb


Tambahan:
Fiat money is money that derives its value from government regulation or law. The term derives from the Latin fiat, meaning "let it be done" or "it shall be [money]", as such money is established by government decree. Where fiat money is used as currency, the term fiat currency is used.

Fiat money originated in 11th century China,[1] and its use became widespread during the Yuan and Ming dynasties.[2] The Nixon Shock of 1971 ended the direct convertibility of the United States dollar to gold. Since then all reserve currencies have been fiat currencies, including the dollar and the euro.[3]
The term fiat money has been defined variously as:

    any money declared by a government to be legal tender.[4]
    state-issued money which is neither convertible by law to any other thing, nor fixed in value in terms of any objective standard.[5]
    money without intrinsic value.[6][7]

While specie-backed representative money entails the legal requirement that the bank of issue redeem it in fixed weights of specie, fiat money's value is unrelated to the value of any physical quantity. Even a coin containing valuable metal may be considered fiat currency if its face value is higher than its market value as metal.

A feature of all fiat money is its acceptability to the government for payment of taxes and charges.

Fiat money is not essential for large countries, nor is it always used. An economy may function on banknotes issued by commercial banks, which are not legal tender, and hence not fiat money. This was the situation in the United States during periods prior to 1862, before the first United States Notes were created and declared by the government to be legal tender.

[42:38] Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Yang penting dari masalah riba ini adalha, jangan sampai ada orang yang terjerat hutang turun temurun.

Maaf lagi bawa bawa agama, semoga tidak jadi perdebatan pangjang.


9:60.Sesungguhnya sedekah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin dan amil atasnya dan para mualaf hati mereka dan untuk memerdekakan budak dan orang-orang yang berhutang dan untuk jalan Allah dan orang-orang yang dalam perjalanan ketetapan dari Allah dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.


Prioritas Utama:
1. Orang fakir/orang miskin
2. Pengurus pajak
3. Mualaf, disini bisa kita artikan, "Mualaf pancasila" ;D
4. Budak
5. Hutang terutama hutang riba, tapi pokoknya saja.
6. Jihad fisalibillah (Perjuangan dijalan Allah, definisikan ulang saja nanti)
7. Fasilitas umum transportasi.

Dll dll.


Jadi begini, masalah hukum hukum dan penegakkannya akan kita serahkan ke orang orang Yahudi, atau pengikut Taurat, karena kitab mereka lebih lengkap.
Masalah pelayanan sosial khususnya pengobatan, ini urusan orang kristen, karena doktrinnya lebih memadai dan lebih khusus ke arah itu, plus teknologinya juga mereka jauh lebih mapan dari kita.
Untuk muslim, penyelenggaraan negara dan distribusi pajak, dan mudah2xn tidak diskriminatif.
Atheis, bisa dijadikan sebagai peneliti, karena tidak punya iman, diharapkan aplikasi bersifat netral.

Riba itu hutang berlipat ganda berlipat lipat. Kalau sekarang anda pinjam 1 juta, saya minta kembalikan 1 jt plus seratus ribu, anda telat bayar, tidak apa apa, oke ini mungkin masih bisa diterima. Tapi yang namanya riba itu, telah sehari denda, telat setahun denda, akhirnya hutang ratusan kali dari hutang pokok. Kasus terakhir adanya orang vietnam yang dimasukkan ke peti kayu di indonesia, ternyata cewek itu dijual karena ayahnya tidak bisa bayar hutang, sudah hilang sawah, putrinya dijual pula, padahal kalau dihitung hitung, itu orang udah bayar utangnya 5 kali lipat dari semula.
« Edit Terakhir: 13 Januari 2012, 02:53:37 oleh Farabi »
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline idrus_syah

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 14.911
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Pria
  • No More Wasting Time
    • Lihat Profil
    • Wilujeng Sumping
« Jawab #1 pada: 16 November 2011, 16:07:52 »
berarti nt setuju bahwa sistem sosialist cocok untuk Indonesia?

tapi kebutuhan yang nt jadikan sebagai rujukan UMR sepertinya terlalu simple untuk kehidupan yang cenderung "high tech" di zaman ini :hmmm:

bagaimana dengan sewa rumah atau kredit rumah ... trus kredit kepemilikan kendaraan yang sangat urgent untuk transportasi ?
Grup myQuran di Facebook : http://facebook.com/groups/myqers/
Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur : http://www.facebook.com/ypr.mentari

Offline miftahul

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 44
  • Lokasi: wonoayu-sidoarjo
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 17 November 2011, 03:22:10 »
yang dua ^^^, cara berpikirnya sudah terbuka. mungkin karena faktor tingkat pendidikan, atau mungkin yang lebih dominan adalah faktor tumbuh di dalam lingkungan yang lebih maju. dan saya rasa orang2 yang pemikirannya sudah demikian, mempunyai peluang yang cukup besar untuk mendapatkan pekerjaan dan mampu berkembang. bahkan pada dasarnya, mereka juga punya potensi yang cukup besar untuk membuka lapangan pekerjaannya sendiri.   %peace% 
sementara bagi sebagian yang lain, cara berpikirnya masih berbeda. dan sepertinya solusi yang di tawarkan atau bahkan permasalahan yang di pikirkan, ternyata di dasari oleh cara2 berpikir orang2 yang sudah maju. di sinilah letak gap transparan yang membuat heran para pelaku dari semua pihak. di sisi lain orang memandang bahwa lapangan begitu luas, sementara di sisi lain orang merasa berdesakan bahkan merasa keringatnya sama sekali tidak di hargai.
gurun pasir adalah tempat meletakkan pondasi puri indah, sementara lebih banyak yang memilih berteduh dan merawat puri tersebut dari pada meletakkan pondasi villa hijau di lereng gunung yang mereka tinggalkan.
dan mayoritas pandangan adalah kebenaran yang berjalan berdeskan, sementara minoritas perintis jalan baru adalah orang gila kurang kerjaan.   %peace% 

Offline anter

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 804
  • Lokasi: Sintang
  • Jenis kelamin: Pria
  • aku jatuh... dan aku bangkit...
    • Lihat Profil
    • Pulsa Murah Plusa Web Replika
« Jawab #3 pada: 25 November 2011, 20:53:04 »
Kutip
Misalkan, seorang programmer, di daerah yang bahkan listrikpun tidak ada, apalagi komputer, ini hanya akan menambah jumlah penduduk yang kemampuannya sia sia.
Saya banget... :-D tapi bukan karena salah pilih pendidikan, tapi penempatan kerja yang gak bisa diganggu gugat.
kalo lagi normal, listrik hanya hidup malam hari, dan sekarang lagi gak normal, listrik hanya hidup 2 hari sekali. :toe:
halah, jadi curhat...

btw, indonesia memiliki kekayaan alam, jadi memang sudah seharusnya penduduknya diajari cara memanfaatkannya.
tapi gak melulu harus jadi petani.
setahu saya mata pelajaran Mulok diperuntukan untuk siswa mempelajari pemanfaatan sumber daya lokal, hanya saja efektifitasnya sangat rendah dengan metode belajar seperti sekarang.

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 28 November 2011, 00:11:28 »
UMR yang disarankan, tidak dalam nominal rupiah, melainkan jumlah barang:
(Untuk 1 orang/1bulan)
30 Kg beras
30 Telur
15 kg Daging (Sapi/kambing)
Susu
Madu
akses internet
Optional:
Bahan bakar kendaraan
Akses Hiburan tambahan
Kopi
Jahe
dsb


di luar negeri utk orang yg gak mampu dapet kupon makanan mentah mirip kayak gitu, kalo diberlakukan di Indonesia yg masih korup kok sy pesimis bisa berhasil ya, ingat kasus beras miskin (raskin) ?
paling ujungnya begitu lagi...  :toe:

lagipula perhitungan UMR kan disesuaikan sama angka KHL, survey dari 100 barang primer yg dianggap perlu utk hidup layak di satu regional tertentu, baru dari situ disimpulkan berapa idealnya UMR. Seinget sy Jakarta idealnya 2jt perbulan, tapi pengusaha mintanya 1,3 an kalo tuntutan buruh 1,5 an
CMMIW

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 12 Januari 2012, 10:50:18 »
berarti nt setuju bahwa sistem sosialist cocok untuk Indonesia?

tapi kebutuhan yang nt jadikan sebagai rujukan UMR sepertinya terlalu simple untuk kehidupan yang cenderung "high tech" di zaman ini :hmmm:

bagaimana dengan sewa rumah atau kredit rumah ... trus kredit kepemilikan kendaraan yang sangat urgent untuk transportasi ?

Salam, maaf jarang kesini lagi jadi tida bisa jawab, ya kalau ada yang kurang tinggal disesuaikan saja, saya sendiri sehari cuma punya 20rb tapi cukup, dengan gaji 1,3 juta saya rasa cukup, tapi kalo waktu kerja gaji saya bisa 2 jt kalau memang sesuai target.
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 13 Januari 2012, 02:57:09 »
berarti nt setuju bahwa sistem sosialist cocok untuk Indonesia?

tapi kebutuhan yang nt jadikan sebagai rujukan UMR sepertinya terlalu simple untuk kehidupan yang cenderung "high tech" di zaman ini :hmmm:

bagaimana dengan sewa rumah atau kredit rumah ... trus kredit kepemilikan kendaraan yang sangat urgent untuk transportasi ?

Sosialis itu bagi rata secara mutlak, hal ini bisa membuat seseorang kehilangan gairah untuk mengabdi kepada masyarakat, berlainan dengan sistem liberal yang membuat orang orang bekerja demi uang, jadi inti dari yang saya sarankan adalah, pemberian jaminan sosial tapi secara minimal, misalkan makan dan rumah saja jika menganggur, tapi dipacu dan disemangati supaya mencari uang banyak dengan cara bekerja, dan saya menyarankan budaya konsumtif diperbanyak sehingga orang orang tidak pernah merasa cukup. Kalau perlu orang orang yang tabungannya banyak kita pajaki saja supaya terus dibelanjakan, toh mati tidak akan dibawa, buat apa ditabungkan, makan gratis, rumah gratis, transportasi gratis, mau apa lagi.
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline Ridwan Afandy

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 158
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer Official account and no other account.
    • Lihat Profil
    • Timeline Blog
« Jawab #7 pada: 27 Februari 2012, 02:12:36 »
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya imajinasi menggabungkan sistem yang ada untuk transisi.
  • Sistem kapitalistis yang berpihak pada Pemilik modal dibatasi dengan Sistem sosialis yang berpihak pada buruh/ pekerja, dan Kepemimpinan dalam berpikir oleh Islam.
  • Sistem kapitalistis yang berpihak hak individualis dengan Sistem sosialis yang berpihak hak bersama, dan Keadilan dalam Islam.
Contohnya begini:

Jutaan para buruh/pekerja menyisihkan uang gajinya untuk disatukan membeli saham perusahaan dimana mereka bekerja, tentu jutaan buruh itu bisa menguasai 30 s.d 40% saham perusahaan (sosialis identik dengan pengerahan masa buruh), maka sudah tentu punya penghasilan tambahan dari dividen & sudah pasti punya suara yang di dengar (kapitalistis identik dengan kepemilikan modal & capital gain). Dari segi psikologi masuk pemikiran Islam & kepribadian Islam maka mereka merasa: perusahaan ini adalah perusahaan milik saya maka saya harus mempunyai etos kerja yang lebih, toh uangnya untuk saya juga sebagai pemilik modal. semakin maju perusahaan maka semakin banyak dividen ku peroleh. Hasil yang ku peroleh digunakan untuk kewajiban Islam & ibadah/ hal positif dalam arti luas.

Dengan kalimat lain:
  • Dominasi kapitalistis yaitu Pemilik modal yang tamak alias serakah akan dibendung hak suara oleh Kepemilikan saham oleh buruh/ pekerja.
  • Dominasi sosialis yaitu Kepemilikan umum atau bersama telah terpenuhi dengan berdaulat nya buruh/ pekerja secara hukum positif.
  • Dominasi Islam yaitu Menjadikan Kepemimpinan berpikir & Kepribadian buruh/ karyawan sesuai & menjalankan ajaran Islam dengan semangat Jihad (bersungguh2) dari para Mujahaddah (Orang2 yang bersungguh2) dalam fi Sabilillah (di Jalan Allah) karena bekerja adalah ibadah selagi tak ditempat maksiat & tak bermaksiat & tak menghasilkan produk maksiat.
CMIIW  :bercanda:
Buah kelapa diminum airnya. Enak rasanya pelepas dahaga. Jangan ada dusta diantara kita. Maaf diucap jika terdapat salah kata.
CMIIW :bercanda:

Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 27 Februari 2012, 09:31:58 »
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya imajinasi menggabungkan sistem yang ada untuk transisi.
  • Sistem kapitalistis yang berpihak pada Pemilik modal dibatasi dengan Sistem sosialis yang berpihak pada buruh/ pekerja, dan Kepemimpinan dalam berpikir oleh Islam.
  • Sistem kapitalistis yang berpihak hak individualis dengan Sistem sosialis yang berpihak hak bersama, dan Keadilan dalam Islam.
Contohnya begini:

Jutaan para buruh/pekerja menyisihkan uang gajinya untuk disatukan membeli saham perusahaan dimana mereka bekerja, tentu jutaan buruh itu bisa menguasai 30 s.d 40% saham perusahaan (sosialis identik dengan pengerahan masa buruh), maka sudah tentu punya penghasilan tambahan dari dividen & sudah pasti punya suara yang di dengar (kapitalistis identik dengan kepemilikan modal & capital gain). Dari segi psikologi masuk pemikiran Islam & kepribadian Islam maka mereka merasa: perusahaan ini adalah perusahaan milik saya maka saya harus mempunyai etos kerja yang lebih, toh uangnya untuk saya juga sebagai pemilik modal. semakin maju perusahaan maka semakin banyak dividen ku peroleh. Hasil yang ku peroleh digunakan untuk kewajiban Islam & ibadah/ hal positif dalam arti luas.

Dengan kalimat lain:
  • Dominasi kapitalistis yaitu Pemilik modal yang tamak alias serakah akan dibendung hak suara oleh Kepemilikan saham oleh buruh/ pekerja.
  • Dominasi sosialis yaitu Kepemilikan umum atau bersama telah terpenuhi dengan berdaulat nya buruh/ pekerja secara hukum positif.
  • Dominasi Islam yaitu Menjadikan Kepemimpinan berpikir & Kepribadian buruh/ karyawan sesuai & menjalankan ajaran Islam dengan semangat Jihad (bersungguh2) dari para Mujahaddah (Orang2 yang bersungguh2) dalam fi Sabilillah (di Jalan Allah) karena bekerja adalah ibadah selagi tak ditempat maksiat & tak bermaksiat & tak menghasilkan produk maksiat.
CMIIW  :bercanda:
Ide yang sangat bagus sekali, seharusnya LSM buruh paham masalah ini.
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline Ridwan Afandy

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 158
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer Official account and no other account.
    • Lihat Profil
    • Timeline Blog
« Jawab #9 pada: 28 Februari 2012, 00:18:04 »
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ide yang sangat bagus sekali, seharusnya LSM buruh paham masalah ini.
Sulit diungkapkan dengan kata2, Maaf bro pada intinya saya bukan pengadopsi sistem Sosialis.

Kalau mau jujur sih, Apa ya ideologi mereka, seperti LSM buruh, Serikat Pekerja, SPSI itu? ^-^
Siapa ya kira2 yang menjadi mainstream/ dibalik-layar dari mereka? karena kata ILO: Buruh RI Tak Mengerti Standar Perburuhan.
Kenapa juga ya mereka mendapat Penghargaan dari ILO namun masih belum ada perubahan berarti dan buruh masih terus memperjuangkan nasibnya?

Sejarah bisa jadi pelajaran:

Kata ustad nih, jikalau kita memisahkan Islam yang komprehensif maka akan terjadi ketimpangan.
Bagaimana Serikat Islam pecah 2 yaitu SI Merah & SI Putih, siapa yang untung & yang rugi?
SI Putih menyempit hanya masalah Dagang menjadi Serikat Dagang Islam.
SI Merah menjadi Serikat Rakyat, membuang Islam dan mengadopsi Sosialis-Komunis.

Imajinasi selanjutnya:
  • Sebagai pemilik suara hasil andil dalam pemilikan saham, pada Rapat Pemegang Saham bisa diajukan kebijakan2 & kebijaksanaan2. Cakupannya intern & tak buang2 energi dengan panas2 turun ke jalan.
  • Mekanisme Kepemilikan Saham untuk "Perusahaan Biasa" itu peran pemerintah sebagai Good Government untuk menerbitkan Rules, sementara untuk "Perusahaan Go Public" mungkin lebih mudah.
  • Jika tiada dukungan Pemerintah & kurang mengerti mekanismenya, bisa menyewa jasa Advokat muslim sejati untuk masalah Kepemilikan saham perusahaan. cakupannya intern & profesional.
  • Jika kurang percaya pembagian merata Dividen saham Perusahaan, bisa menyewa jasa Akuntan publik untuk Auditnya & Rekening koran dipublikasikan tiap periode. Cakupannya intern & transparan.

Buah kelapa diminum airnya
Enak rasanya pelepas dahaga
Jangan ada dusta diantara kita
Ma'af diucap jika terdapat salah kata

CMIIW :bercanda:
Buah kelapa diminum airnya. Enak rasanya pelepas dahaga. Jangan ada dusta diantara kita. Maaf diucap jika terdapat salah kata.
CMIIW :bercanda:

Offline Ridwan Afandy

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 158
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer Official account and no other account.
    • Lihat Profil
    • Timeline Blog
« Jawab #10 pada: 29 Februari 2012, 03:01:22 »
Seharusnya, secara default dalam artian, tanpa sebuah persiapan, seorang bayi yang lahir di indonesia, dianggap dipersiapkan sebagai seorang buruh tani, yang akan bertugas untuk mengurus masalah pengadaan pertanian, termasuk, perkebunan, penggembalaan, peternakan, perkebunan dsb. Dalam hal ini, dikarenakan pada fitrahnya seorang manusia adalah seorang pengelola tanah.
Bicara masalah Petani, biasanya mereka tak punya lahan tanah dan hanya menggarap lahan tanah milik konglomerat kota, yang suka membeli lahan tanah hektare2an dengan harga murah. Kata orang yang berpendidikan namanya Feodalisme gaya baru.

Sistem pendidikan dasar seharusnya, biarpun memasukkan IPA dasar atau ilmu Hayati (Bio-logi) seharusnya lebih difokuskan kepada pertanian, sehingga seorang lulusan SMA, setelah lulus, minimal tahu bagaimana cara menggarap tanah di Lingkungannya sendiri, dan bukan dengan menambah nambah jumlah lulusan yang tidak tahu bagaimana cara mengelola tempat tinggalnya. Misalkan, seorang programmer, di daerah yang bahkan listrikpun tidak ada, apalagi komputer, ini hanya akan menambah jumlah penduduk yang kemampuannya sia sia.
Maksudnya Sekolah alam dengan muatan lokal, jadi tak perlu lagi ada biaya pembangunan gedung yang ruangan nya kotak2, dsb? Cukup lesehan di bawah pohon & di gubuk2 di sawah & ladang?  :topOK:

Halangannya: Di sini ente berantem dulu ama Produsen buku cetak, Produsen seragam sekolah & Sepatu, Produsen Meja-Kursi, sampai Guru generasi sekarang yang doyan uang BOS, uang gedung, dan uang apapun namanya.

Pada tingkat lanjut seperti Kuliah, maka setiap peserta didik diperbolehkan masuk ke tempat pendidikan sesuai dengan minatnya, atau minimal diberikan fasilitas semisal internet, atau perpustakaan untuk mencari informasi, karena saya lihat tidak ada gunanya pendidikan formal yang hanya bertujuan untuk mendapatkan ijasah. Lebih baik tenaga kerja informal dengan ketrampilan memadai, karena toh, pada akhirnya, pencari kerja pun memberikan test lagi jika hendak mencari pekerja. Tapi memang dengan adanya sistem ijasah, perusahaan tidak ribet menyaring tenaga kerja yang membludak.
Maksudnya Perpaduan antara Kuliah Kerja Nyata (langsung Praktek & Uji Kompetensi di Lapangan) dengan Metode seperti Universitas Terbuka Dan Metode Home Schooling tepatnya Kuliah lewat dunia maya (Internet)? Setelah lulus Kuliah langsung diangkat jadi Buruh/ Pekerja Tetap dimana dia KKN, setelah resmi Tetap baru diperbolehkan bergabung memiliki Saham Perusahaan dimana dia dulu KKN alias Perusahaan dia bekerja kini.  :topOK:

Halangannya: Di sini ente berantem dulu ama Perusahaan jasa Outsourcing & Backing mereka dari Pejabat, militer & intelijen. Belum lagi kalangan Akademisi konvensional yang jauh lebih komplek. Bisa2 Babak Belur ente minimal non fisik alias Psikologi ente hancur. INGAT! Pergurun Tinggi apapun jenisnya ( Universitas, Akademi, Institut, Sekolah Tinggi, dsb) itu Benteng Peradaban mereka, bro.
Buah kelapa diminum airnya. Enak rasanya pelepas dahaga. Jangan ada dusta diantara kita. Maaf diucap jika terdapat salah kata.
CMIIW :bercanda:

Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 29 Februari 2012, 17:35:07 »
Kutip
Bicara masalah Petani, biasanya mereka tak punya lahan tanah dan hanya menggarap lahan tanah milik konglomerat kota, yang suka membeli lahan tanah hektare2an dengan harga murah. Kata orang yang berpendidikan namanya Feodalisme gaya baru.

Karena itulah seharusnya tanah rakyat didata dan dikembalikan kepada rakyat, terutama tanah yang dimiliki orang asing, kecuali orang asing tersebut telah menetap dan menjadi WNI, baru kepemilikan tanah permanen, tapi tidak boleh punya kewarganegaraan ganda.
Kutip
Maksudnya Sekolah alam dengan muatan lokal, jadi tak perlu lagi ada biaya pembangunan gedung yang ruangan nya kotak2, dsb? Cukup lesehan di bawah pohon & di gubuk2 di sawah & ladang? 

Halangannya: Di sini ente berantem dulu ama Produsen buku cetak, Produsen seragam sekolah & Sepatu, Produsen Meja-Kursi, sampai Guru generasi sekarang yang doyan uang BOS, uang gedung, dan uang apapun namanya.

Gedung mungkin tetap perlu karena di indonesia kalau sedang musim panas panas sekali dan kalau sedang hujan bisa sangat besar. Produsen buku cetak tidak perlu dilenyapkan, maksud saya bukan pengubahan secara radikal, melainkan tujuan dari pendidikannya itu untuk meningkatkan produksi, bukannya memangkas biaya ini dan itu biarpun biaya tetap harus dipikirkan supaya terjangkau, kalau bisa gratis dari uang pajak.

Kutip

Maksudnya Perpaduan antara Kuliah Kerja Nyata (langsung Praktek & Uji Kompetensi di Lapangan) dengan Metode seperti Universitas Terbuka Dan Metode Home Schooling tepatnya Kuliah lewat dunia maya (Internet)? Setelah lulus Kuliah langsung diangkat jadi Buruh/ Pekerja Tetap dimana dia KKN, setelah resmi Tetap baru diperbolehkan bergabung memiliki Saham Perusahaan dimana dia dulu KKN alias Perusahaan dia bekerja kini. 


Nah kurang lebih ini yang saya maksud. Tapi tetap harus ada sertifikasi standard-isasi supaya keahlian mereka sungguh benar ahli dan bukan ahli abal abal yang hanya punya ijasah saja.
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline Farabi

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.542
  • Lokasi: Gunung sinai
  • Jenis kelamin: Pria
  • Self-Proclaim Judge
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 29 Februari 2012, 17:40:00 »
Oh iya, ini menarik untuk dibahas
Kutip
Uang fiat, adalah uang yang sama sekali tidak didasari oleh komoditas apapun namun memiliki kekuatan karena dikeluarkan oleh pemerintah. Uang ini ditetapkan sebagai alat tukar karena perjanjian dari pemerintah dan disetujui oleh rakyatnya. Uang ini sebetulnya adalah kertas tak berharga biasa, yang harganya bisa diombang-ambingkan oleh kebijakan-kebijakan bank sentral, Bank Indonesia. Sayangnya, uang inilah yang sekarang ada di dunia, terutama Rupiah di Indonesia merupakan uang fiat. Sehingga pasti akan terjadi inflasi setiap saatnya.
Inflasi bisa terjadi, salah satunya adalah jika pemerintah mencetak terlalu banyak uang. Pemerintah, dalam hal ini BI, dapat membuat suatu proses ekonomi yang disebut ”money creating” atau proses penciptaan uang. Proses penciptaan uang, khususnya fiat adalah melalui tangan Bank Indonesia. Dengan ketentuan, giro minimum wajib (GMW) adalah 5%, yaitu jumlah uang minimal yang harus ada di kas bank 5% dari total penyimpanan seluruh nasabah bank tersebut. Skema yang terjadi kira-kira sebagai berikut; anggaplah bank hanya memiliki satu orang nasabah penyimpan dan satu orang nasabah peminjam.
"Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia"
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Offline Ridwan Afandy

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 158
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer Official account and no other account.
    • Lihat Profil
    • Timeline Blog
« Jawab #13 pada: 01 Maret 2012, 02:51:36 »
Oh iya, ini menarik untuk dibahas
Gue kagak paham, bro.

Pilih Gunakan Emas untuk Perdagangan, Embargo Dolar AS
Proyek Bretton Woods
Perbedaan Dinar, Emas Batangan, dan Koin Bulion
Perdagangan dan Penukaran Mata Uang, Apa Hukumnya?
BI: Gadai Emas Syariah Hanya untuk Pembiayaan Mendesak

Imajinasi Sistem Perbankan Ideal menurut Saya:
  • Kenapa ada istilah/label Perbankan Konvensional & Perbankan Syariah, sementara Syariah hanyalah Unit?
    Jadi uang konvensional akan bercampur dengan uang yang jelas syariah, baik pada Bank tersebut apalagi di BI.
    Jadi kata orang status Uang tersebut abu-abu antara halal-haram.
  • Belum lagi masalah Akad, nasabah hanya punya Akad Menabung, bukan akad Pinjam-Meminjam antara Nasabah, Bank & Kreditor/ Peminjam di bank tersebut.
    Contoh: Suatu bank unit desa berhasil mengantungi Dana 3 Milyar di suatu desa hasil dari tabungan petani. Lalu uang itu diputar misalnya untuk Pemberian kredit, Permasalahannya setelah kredit itu dibayar kreditor/ Peminjam uang, apa yang di dapat oleh para petani yang uangnya digunakan oleh bank tersebut?

Jawabannya mudah aja, yaitu:
  • Konversi Bank Konvensional menjadi Syariah tanpa embel2 syariah dan dari sekarang para pelaku Konvensional mendapatkan pelatihan dari Posisi Atas s/d Teller (Bukan teler karena mabuk, tapi kita teler karena melihat kecantikannya :D)
  • Jadi ada 2 akad tersebut:
    • Akad Menabung
      Digunakan untuk: Likuiditas Perbankan
      Capital gain : Bagi hasil untuk Akad Menabung dari balas jasa Tabungan nasabah yang digunakan untuk Likuiditas Perbankan.
    • Akad Kuasa Pengelolaan Uang oleh Bank
      Digunakan untuk: meminjamkan uang kepada Kreditor/Peminjam
      Capital gain : Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk Akad Kuasa Pengelolaan Uang dari Keuntungan usaha Kreditor/Peminjam uang.
Buah kelapa diminum airnya. Enak rasanya pelepas dahaga. Jangan ada dusta diantara kita. Maaf diucap jika terdapat salah kata.
CMIIW :bercanda:

Offline glagah putih

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 790
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 01 Maret 2012, 07:15:25 »
apabila suatu sistem berubah secara damai, maka sistem yang sudah mapan, dia akan belajar, dan mengadopsi usulan usulan baru, dan berkembang dengan itu, sedangkan suatu sistem yang baru  hanya akan meletakan tonggak yang baru saja dan terintegrasi dengan sistem yang lama, menjadi bagian yang melengkapi, dan bukan sebaliknya.

kecuali bila dengan revolusi yang setara dengan revolusi bolshevik, baru mau berubah sistemnya 100 % juga bisa..  :hihi:
just because you say "this is the truth"when saying your opinion,
it doesn't make it so