Pada tahun 2009, Ustadz Muhammad Idrus Ramli pernah terlibat perdebatan sengit dengan seorang Ustadz Salafi berinisial AH di Surabaya. Beberapa bulan berikutnya Ustadz Muhammad Idrus Ramli berdebat lagi dengan Ustadz Salafi di Blitar. Ustadz tersebut berinisial AH pula, tetapi lain orang. Dalam perdebatan tersebut, Ustadz Idrus bertanya kepada AH : “Mengapa Anda meyakini bahwa Allah SWT ada di langit ?”Menanggapi pertanyaan Ustadz Idrus, AH menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menurut asumsinya menunjukkan bahwa Allah SWT ada di langit. Lalu Ustadz Idrus berkata : “Ayat-ayat yang Anda sebutkan tidak secara tegas menunjukkan bahwa Allah ada di langit. Karena kosa kata istawa, menurut para ulama memiliki 15 makna. Disamping itu, apabila Anda beragumentasi dengan ayat-ayat tersebut, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah SWT tidak ada di langit. Misalnya Allah SWT berfirman : “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid : 4). Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberi petunjuk.” (QS. Al-Shaffat : 99).Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim akan pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.” Setelah Ustadz Idrus berkata demikian, AH tidak mampu menjawab akan tetapi mengajukan dalil lain dan berkata : “Keyakinan bahwa Allah SWT ada di langit telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits shahih :“ Rasulullah Saw. bertanya kepada seorang budak perempuan yang berkulit hitam : “Allah ada di mana ?” Lalu budak itu menjawab : “Allah ada di langit.” Nabi Saw. bertanya : “Saya siapa ?” Ia menjawab : “Engkau Rasul Allah.” Lalu Nabi Saw. berkata kepada majikan budak itu, “Merdekakanlah budak ini. Karena ia seorang budak yang mukmin.” (HR. Muslim).Setelah AH berkata demikian, Ustadz Idrus menjawab : “Ada tiga tinjauan berkaitan dengan hadits yang Anda sebutkan. Pertama, dari aspek kritisme ilmu hadits (naqd al-hadits). Hadits yang Anda sebutkan menurut para ulama tergolong hadits mudhtharib (hadits yang simpang siur periwayatannya), sehingga kedudukannya menjadi lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Kesimpangsiuran periwayatan hadits tersebut, dapat dilihat dari perbedaan setiap perawi dalam meriwayatkan hadits tersebut. Ada yang meriwayatkan Nabi Saw. tidak bertanya di mana Allah SWT. Akan tetapi Nabi Saw. bertanya, apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.Kedua, dari segi makna, para ulama melakukan ta’wil terhadap hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa yang ditanyakan oleh Nabi Saw. sebenarnya adalah bukan tempat, tetapi kedudukan atau derajat Allah SWT. Lalu orang tersebut menjawab kedudukan Allah SWT ada di langit, maksudnya Allah SWT itu Maha Luhur dan Maha Tinggi.Ketiga, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah SWT ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah SWT tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya :“ Anas bin Malik ra. berkata, “Bahwa Nabi Saw. melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. Al-Bukhari [405]).Hadits ini menegaskan bahwa Allah SWT ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat Al-Bukhari. Setelah Ustadz Idrus menjawab demikian, AH juga tidak mampu menanggapi jawaban beliau. Sepertinya dia merasa kewalahan dan tidak mampu menjawab. Ia justru mengajukan dalil lain dengan berkata : “Keyakinan bahwa Allah ada di langit itu ijma’ ulama salaf.” Lalu Ustadz Idrus menjawab, “Tadi Anda mengatakan bahwa dalil keyakinan Allah ada di langit, adalah ayat Al-Qur’an. Kemudian setelah argumen Anda kami patahkan, Anda berargumen dengan hadits. Lalu setelah argumen Anda kami patahkan lagi, Anda sekarang berdalil dengan ijma’. Padahal ijma’ ulama salaf sejak generasi sahabat justru meyakini Allah SWT tidak bertempat. Al-Imam Abu Manshur Al-Baghdadi berkata dalam Al-Farq Bayna Al-Firaq : “Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (Al-Farq Bayna Al-Firaq, 256).Al-Imam Abu Ja’far Al-Thahawi juga berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi :“Allah SWT tidak dibatasi oleh arah yang enam.”Setelah Ustadz Idrus menjawab demikian kepada AH, beliau bertanya kepada AH : “Menurut Anda, tempat itu makhluk atau bukan ?” AH menjawab : “Makhluk.” Ustadz Idrus bertanya : “Kalau tempat itu makhluk, lalu sebelum terciptanya tempat, Allah ada di mana ?” AH menjawab : “Pertanyaan ini tidak boleh, dan termasuk pertanyaan yang bid’ah.” Demikian jawaban AH, yang menimbulkan tawa para hadirin dari semua kalangan pada waktu itu. Kebetulan pada acara tersebut, mayoritas hadirin terdiri dari kalangan Salafi, anggota jamaah AH.Demikianlah, cara dialog orang-orang Wahhabi. Ketika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan, mereka tidak akan menjawab, “Aku tidak tahu”, sebagaimana tradisi ulama salaf dulu. Akan tetapi mereka akan menjawab, “Pertanyaanmu bid’ah dan tidak boleh.” AH sepertinya tidak mengetahui bahwa pertanyaan Allah SWT ada di mana sebelum terciptanya alam, telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi Saw., dan Nabi Saw. tidak berkata kepada mereka, bahwa pertanyaan tersebut bid’ah atau tidak boleh. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya :“Imran bin Hushain ra. berkata : “Aku berada bersama Nabi Saw., tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata : “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah Saw. menjawab : “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. Al-Bukhari [3191]). Hadits ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak bertempat. Allah SWT ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam Al-Sunan berikut ini :“Abi Razin ra. berkata : “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah Saw. menjawab : “Allah ada tanpa sesuatu apapun menyertai-Nya. Di atas-Nya tidak ada sesuatu dan di bawah-Nya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata : “Hadits ini bernilai hasan”. (Sunan Al-Tirmidzi [3109]).Dalam setiap dialog yang terjadi antara Muslim Sunni dengan kaum Wahhabi, pasti kaum Sunni mudah sekali mematahkan argumen Wahhabi. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dari ayat Al-Qur’an, maka dengan mudahnya dipatahkan dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dengan hadits Nabi Saw., pasti kaum Sunni dengan mudahnya mematahkan argumen tersebut dengan hadits yang lebih kuat. Dan ketika Sunni berargumen dengan dalil rasional, pasti Wahhabi tidak dapat membantah dan menjawabnya. Keyakinan bahwa Allah SWT ada tanpa tempat adalah keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, kalangan sahabat dan tabi’in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berkata :“Allah SWT ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang, sama seperti sebelum adanya tempat (maksudnya Allah tidak bertempat).” (Al-Farq Bayna Al-Firaq, 256).
kerusakan doktrin2 WAHABI :- memasung Allah di arsy langit.- mengikat Allah di arah atas.- memahat Allah punya organ tubuh.- mensifati Allah sbg BENDA.- tekstualis memahami nash dalil, gak pake akal nalar logika.- TAKFIR : mengkafirkan yg gak kafir.- TASYRIK : menuduh syirik yg gak syirik.- TABDI : membid'ahkan yg gak bid'ah.- menempuh kekerasan : revolusi wahabi Saudi, Al Shahab Somalia, Salafi Jihadi Palestina.- Culas dalam memaksakan doktrinnya : tidak amanah dalam menerbitkan menterjemahkan kitab ulama, mengutip qoul ulama, mendistorsi opini.- Culas dalam diskusi : ad hominem, selintutan, kontradiksi, gak konsisten, fallacy strawman, ngawur gak logic, melintir mendistorsi opini, self pro claim.- Menipu umat dengan slogan2 yang selangit untuk mengangkat dirinya sendiri: nyalaf, nyunah, ndalil dsb. padahal realita sebenarnya jauh dari slogannya.
JAWAB SINGKAT DAN JELAS:Pak Uwo setuju dengan pendapat kyai yg dikutip deedad di atas?YA tau TIDAK?
Artinya banyak hadits yang bertentangan atau....dita'wil agar kelihatan tidak bertentangan
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid : 4). “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberi petunjuk.” (QS. Al-Shaffat : 99).“ Anas bin Malik ra. berkata, “Bahwa Nabi Saw. melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. Al-Bukhari [405]).“Imran bin Hushain ra. berkata : “Aku berada bersama Nabi Saw., tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata : “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah Saw. menjawab : “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. Al-Bukhari [3191]). “Abi Razin ra. berkata : “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah Saw. menjawab : “Allah ada tanpa sesuatu apapun menyertai-Nya. Di atas-Nya tidak ada sesuatu dan di bawah-Nya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata : “Hadits ini bernilai hasan”. (Sunan Al-Tirmidzi [3109]).Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berkata :“Allah SWT ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang, sama seperti sebelum adanya tempat (maksudnya Allah tidak bertempat).” (Al-Farq Bayna Al-Firaq, 256).
Dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits di atas jelas sekali bahwa Allah SWT tidak ada di langit.
walah cocok dgn perkataan ini dong“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir" (imam abu hanifah, fiqh akbar)
koq ente bisa berkesan gituAllah di atas langit kan banyak dalilnya dari qur'an dan hadits....ada ada aja, silakan baca dan fahami menurut pemahaman orang2 bener
dalil yang antum sebutin ternyata dzahirnya bertentangan dengan dalil yang ana bawa dari hadist rasul SAW.Kalo antum "memaksa" teks Allahu fis samaa' harus dipahami literally, mengapa hadist "Allah di depan orang sholat" tidak boleh diterima pula secara literal? “ Anas bin Malik ra. berkata, “Bahwa Nabi Saw. melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. Al-Bukhari [405]).