Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Syukuran akad nikah atau apa yah tepatnya ?  (Dibaca 901 kali)


Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 29 Oktober 2011, 21:16:09 »
Wah, ternyata lumayan banyak juga yg menjalani akad nikah tanpa 'resepsi'.

Gak tahu ane termasuk di situ apa nggak. Yg jelas, waktu akad nikah, hanya ngundang kerabat dekat aja (soalnya keluarga istri yg di Jabotabek aja dah banyak). Abis akad nikah, makan2 seadanya.
 

8 bulan abis nikah, barulah pulang kampung sambil 'rame2'... :yihaa:

wah samiawon podowae pak :)
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.464
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 30 Oktober 2011, 07:39:26 »
Maksudnya sami mawon tuh sami dgn yg mana?
 
:malu:
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 30 Oktober 2011, 14:02:31 »
mungkin akhwat-nya udah bener2 ingin nikah karena kelahiran 79 sedangkan teman saya kelahiran 83 (kalo gak salah, beda 3 tahun 7 bulanan)
baru mungkin yah kang ? ga juga kale... ada alasan tersendiri yg pastinya...

ada beberapa sebab seseorang enggan mengadakan resepsi pernikahan diantaranya :
- ekonomi
- menghindari fitnah dan mudharatnya
- ga suka ja sama yg namanya rame2/pesta
- malu
- sunah rasul (mbak fatimah azzahra :))
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 30 Oktober 2011, 14:06:35 »
Wah, ternyata lumayan banyak juga yg menjalani akad nikah tanpa 'resepsi'.

Gak tahu ane termasuk di situ apa nggak. Yg jelas, waktu akad nikah, hanya ngundang kerabat dekat aja (soalnya keluarga istri yg di Jabotabek aja dah banyak). Abis akad nikah, makan2 seadanya.

8 bulan abis nikah, barulah pulang kampung sambil 'rame2'... :yihaa:
eta maksudna  :) sami dgn topik yg dibahas ::)
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #19 pada: 30 Oktober 2011, 14:07:14 »
Copas dari tetangga Oleh : Hariono Fadhil

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak, kendi, dan sebuah piring.

Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.

Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts handphone dan  komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Beberapa bulan yang lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Nabi Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qana’ah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qana’ah”.

Iman, kesederhanaan, dan qana’ah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tercermin dari sifatnya yang qana’ah. Qana’ah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar (Jawa : nriman ing pandum);  dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, “Qana’ah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap.”
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline skylight

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 1.793
  • Jenis kelamin: Pria
  • smarter yet wiser, satire but nicer
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 10 November 2011, 16:18:36 »
untuk seperti cerita diatas butuh keberanian ... karena sekarang itu, resepsi pernikahan seperti dituntut untuk glamour, mewah dan serba wah.

makanya jika calon istri dan suami punya visi yang sama, harusnya dari awal mau taaruf sudah mengkondisikan keluarga besar kalo mau resepsi sederhana :)

bukan keberanian lagi, tapi kenekatan  :D

keberanian, konsistensi, persistensi, kesabaran  ;)

Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alaa Muhammaddin

Offline idrus_syah

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 14.911
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Pria
  • No More Wasting Time
    • Lihat Profil
    • Wilujeng Sumping
« Jawab #21 pada: 11 November 2011, 22:19:55 »
makanya pas taaruf, pepet terus calon mertua. omongan calon istri tentang konsep pernikahan biasanya "babak belur" di tangan konsep orang tua/keluarga :hihi:
Grup myQuran di Facebook : http://facebook.com/groups/myqers/
Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur : http://www.facebook.com/ypr.mentari

Offline Ima Suime

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 293
  • Jenis kelamin: Wanita
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 11 November 2011, 22:48:55 »
hahaha betul banged kata bang idrus mah :hihi: , perjuangan / konsep acara yang sudah dirancang dan di wacanakan si akhwat ke keluarga besar bisa buyar tanpa dukungan dari si calon dan keluarganya.

intinya keluarga ituh mau menghormati tamu alias keluarga si calon, jadi masak ngadain pestanya yg sederhana2. so.... senjata paling ampuh adalah kalo si calon yang minta / bilang sendiri ke keluarga pihak akhwa kalau keluarganya minta syukuran sederhana aja :siul:
Every Day may not be good , but there is something good in every day #Gratitude

Offline kepala_setting

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2011
  • Tulisan: 104
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 12 November 2011, 07:41:51 »
Dulu saya menikah jg cukup sederhana.

Memberikan uang "sangu nikah" cuma 5 jutaan.  8-)

*ini termasuk sederhana atau mewah? kayaknya sih relatif deh


Offline idrus_syah

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 14.911
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Pria
  • No More Wasting Time
    • Lihat Profil
    • Wilujeng Sumping
« Jawab #24 pada: 13 November 2011, 22:30:05 »
iya, 5-8 juta itu relatif. bisa dipandang kecil atau besar ...
Grup myQuran di Facebook : http://facebook.com/groups/myqers/
Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur : http://www.facebook.com/ypr.mentari