Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Penetapan 1 Syawal Indonesia Ditertawakan Negara-negara Islam  (Dibaca 3866 kali)


Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #60 pada: 03 September 2011, 08:14:56 »
^ betul, kalo sama widget rada gak nyambung sih, meski untuk ukuran "pakar" astronomi itu gak banget  :toe:
1. gak jujur karena bilang malaysia lebaran rebo, tp ternyata faktanya selasa  ;D
Itu belum tentu Depag tidak jujur, bisa jadi Malaysia yang tidak jujur dan tidak konsisten dengan kesepakatan model perhitungan hisabnya bukan ?

Alangkah bodohnya, jika pak Menteri secara sengaja berdusta, padahal ybs tau bahwa informasi soal lebaran paling gampang didapat. Model seperti itu namanya gali kuburan sendiri. Maka tidak mungkin untuk perkara sepeti itu pak Menteri atau semua peserta sidang sengaja berdusta semua. Itu tuduhan yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Kutip dari: om sinchan
2. gak amanah karena nolak kesaksian dari cakung dan jepara (padahal di haditsnya tidak perlu alasan salah lihat lah, derajatnya kurang lah) dan kalo emang tidak bisa dilihat, ngapain juga ngadain acara rukyat? buang2 duit rakyat aja  :wataw:
Bukankah sudah dijelaskan di awal sidang itsbat tsb alasan penolakan saksi tsb ?

Juga dalam tulisan Anis_WN dijelaskan dengan lebih ilmiyah. Maka tidak boleh kita tergesa-gesa berkata bahwa Sidang Itsbat tidak amanah. Yang benar, sidang itsbat menolak kesaksian tsb, dengan beberapa alasan.

Tidak selalu bahwa setiap kesaksian harus diterima secara mutlak. Yang benar adalah kesaksian tsb harus diselidiki terlebih dahulu. Dan merupakan wewenang ulil amri untuk menerima atau menolak kesaksian seseorang sesuai pengetahuannya, apakah kesaksian tsb layak diterima atau di tolak.

Apapun yang terjadi, Idul Fithri sudah berlalu, dan mayoritas beridul fithri pada hari Rabu tgl 31 Agustus 2011 sesuai petunjuk ulil amri.

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
hahaha.... soal itu ane juga tahu bro...
ane cuma mau nunjukin, kalau sebenarnya metoda wujudul hilal, jauh lebih praktis, dengan dukungan kemajuan ilmu falaq memiliki akurasinya tinggi untuk menentukan bulan baru (terlepas dari persoalan terlihat atau tidak).... tidak usang seperti yang dituduhkan pak Prof dari lapan
Loh ... setahu gua, soal apakah mau digunakan wujudul hilal atau imkan ru'yat hilal itu soal parameter observasi doang. Atau secara gampangnya soal batasan berapa derajat tinggi hilal yang disyaratkan untuk menandai peralihan bulan baru ayng dapat dilihat dengan mata telanjang seara mudah.

Dalam hal ini, imkar ru'yat menengahi metode hisab dan metode ru'yat hilal. Maka dari 1 sisi kita berusaha untuk beralih pada model hisab dengan tidak mengabaikan perintah Rasulullah saw untuk menjadikan melihat hilal sebagai tanda peralihan awal bulan baru.


CMIIW
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #61 pada: 03 September 2011, 09:06:46 »
Kutip
Itu belum tentu Depag tidak jujur, bisa jadi Malaysia yang tidak jujur dan tidak konsisten dengan kesepakatan model perhitungan hisabnya bukan ?

Alangkah bodohnya, jika pak Menteri secara sengaja berdusta, padahal ybs tau bahwa informasi soal lebaran paling gampang didapat. Model seperti itu namanya gali kuburan sendiri. Maka tidak mungkin untuk perkara sepeti itu pak Menteri atau semua peserta sidang sengaja berdusta semua. Itu tuduhan yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.
ya deh.... pak Menteri belum tentu bohong.... cuma CULUN :)

Kutip
Loh ... setahu gua, soal apakah mau digunakan wujudul hilal atau imkan ru'yat hilal itu soal parameter observasi doang. Atau secara gampangnya soal batasan berapa derajat tinggi hilal yang disyaratkan untuk menandai peralihan bulan baru ayng dapat dilihat dengan mata telanjang secara mudah.

Dalam hal ini, imkar ru'yat menengahi metode hisab dan metode ru'yat hilal. Maka dari 1 sisi kita berusaha untuk beralih pada model hisab dengan tidak mengabaikan perintah Rasulullah saw untuk menjadikan melihat hilal sebagai tanda peralihan awal bulan baru.
sip.... kita tunggu keributan Dzulhijjah, Ramadhan dan Syawal tahun depan... dan tahun-tahun depannya lagi..... kita lihat kebohongan apa lagi yang hendak dipertontonkan Pemerintah negeri ini :)

dari http://politik.kompasiana.com/2011/09/01/akhirnya-penetapan-1-syawal-versi-indonesia-ditertawakan-negara-negara-oki/
Kutip
Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama yang sempat mengobrol dengan saya di kediaman  BJ Habibie di hari lebaran berkata, kalau dulu dia tidak menjalankan cara-cara semacam itu, sehingga sidang tidak berjam-jam dan tidak menimbulkan kata-kata keras , ngotot, sengit, dan…. ditertawakan banyak orang.

Offline abu_dzar

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 271
  • Lokasi: medan
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #62 pada: 03 September 2011, 10:46:00 »
dalilmua kan dah jelas tuh hadis nabi yang mengatakan kalau ada satu orang yang bersaksi melihat bulan walaupun itu seorang arab badui tu dah sah

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #63 pada: 03 September 2011, 17:05:52 »
dalilmua kan dah jelas tuh hadis nabi yang mengatakan kalau ada satu orang yang bersaksi melihat bulan walaupun itu seorang arab badui tu dah sah
Bisa lo kutipkan dalilnya tsb ?

Misal, ada kesaksian yang sampai kepada lo, dan elo meragukan kesaksian tsb, apakah tetap lo wajib menerima kesaksian tsb ?

Hisab menentukan tinggi hilal tidak lebih dari 2 dejarat, ada kesaksian bahwa hilal terlihat pada ketinggian 4 derajat. Lo akan percaya begitu saja pada kesaksian tsb dan langsung berpindah metode pada ru'yat ?

Klo gitu, ngapain cape2 pake hisab dan menyempurnakan parameternya dengan imkan ru'yat hilal kalau ujungnya balik lagi ke ru'yat secara mutlak ?

Lebih sesat Muhammadiyyah yang HANYA bertumpu pada hisab semata (wujudul hilal)  tanpa mau melihat apakah ada kemungkinan hilal bisa dilihat dengan mata telanjang atau tidak pada kondisi cuaca cerah.

Ketika semua sepakat menggunakan hisab dengan dasar imkan ru'yat Hilal, Muhammadiyah tetap dengan dasar Wujudul Hilalnya. Maka, sampai lebaran monyet, tetap akan ada perbedaan dengan Muhamadiyah, pada saat ormas Islam lain sudah bersepakat.  :wataw:

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama yang sempat mengobrol dengan saya di kediaman  BJ Habibie di hari lebaran berkata, kalau dulu dia tidak menjalankan cara-cara semacam itu, sehingga sidang tidak berjam-jam dan tidak menimbulkan kata-kata keras , ngotot, sengit, dan…. ditertawakan banyak orang.
Cara-cara seperti apa ?

Apa yang ditampilkan di televisi soal isi sidang itsbat tsb terbuka, semua masyarakat bisa menilai masing-masing. Dari semua peserta sidang yang bersepakat, toh cuman Muhamadiyah yang menyendiri.

Seandainya semua mau ta'at pada ulil amri sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT, maka tidak akan ada perbedaan soal kapan puasa kapan hari raya. Dan ulil amri yag gua tau adalah pemerintah, yang dalam hal ini diwaliki oleh Depag.

أمر الإمام يرفع الخلاف في المسائل الإجتهادية
“Perintah Imam menghilangkan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah.”


Atau dalam bahasa lain : Itsbat al-Hakim yarfa' al-Khilaf (ketetapan/keputusan Hakim menghilangkan perbedaan/perselisihan)

Dan soal penentuan hilal termasuk urusan ijtihadiyah. Tidak bisa masing2 ormas menentukan perkara masing2 yang berkaitan dengan umat tanpa melalui ulil amri (imam/hakim).

CMIIW
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #64 pada: 03 September 2011, 17:23:59 »
Bisa lo kutipkan dalilnya tsb ?

Misal, ada kesaksian yang sampai kepada lo, dan elo meragukan kesaksian tsb, apakah tetap lo wajib menerima kesaksian tsb ?

Hisab menentukan tinggi hilal tidak lebih dari 2 dejarat, ada kesaksian bahwa hilal terlihat pada ketinggian 4 derajat. Lo akan percaya begitu saja pada kesaksian tsb dan langsung berpindah metode pada ru'yat ?

Klo gitu, ngapain cape2 pake hisab dan menyempurnakan parameternya dengan imkan ru'yat hilal kalau ujungnya balik lagi ke ru'yat secara mutlak ?
Dari Ibnu Abbas bahwa:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, “Sungguh saya telah melihat hilal¤. Rasulullah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hiban).

Dalam Hadits tersebut dikisahkan, Rasulullah saw tidak langsung menerima kesaksian seseorang tentang ru’yah. Beliau baru mau menerima kesaksian ru’yah orang itu setelah diketahui bahwa dia adalah seorang Muslim. Andaikan status Muslim tidak menjadi syarat diterimanya kesaksian ru’yah Ramadhan, maka Rasulullah saw tidak perlu melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan keislamannya

Barangkali loe meragukan keislaman para perukyat yang mengaku melihat Hilal.

Kutip
Lebih sesat Muhammadiyyah yang HANYA bertumpu pada hisab semata (wujudul hilal)  tanpa mau melihat apakah ada kemungkinan hilal bisa dilihat dengan mata telanjang atau tidak pada kondisi cuaca cerah.

Ketika semua sepakat menggunakan hisab dengan dasar imkan ru'yat Hilal, Muhammadiyah tetap dengan dasar Wujudul Hilalnya. Maka, sampai lebaran monyet, tetap akan ada perbedaan dengan Muhamadiyah, pada saat ormas Islam lain sudah bersepakat.  :wataw:
Cara-cara seperti apa ?

Apa yang ditampilkan di televisi soal isi sidang itsbat tsb terbuka, semua masyarakat bisa menilai masing-masing. Dari semua peserta sidang yang bersepakat, toh cuman Muhamadiyah yang menyendiri.
intinya loe ngga suka Muhammadiyah.... gitu aja kok repot :)

Kutip
Seandainya semua mau ta'at pada ulil amri sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT, maka tidak akan ada perbedaan soal kapan puasa kapan hari raya. Dan ulil amri yag gua tau adalah pemerintah, yang dalam hal ini diwaliki oleh Depag.

أمر الإمام يرفع الخلاف في المسائل الإجتهادية
“Perintah Imam menghilangkan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah.”


Atau dalam bahasa lain : Itsbat al-Hakim yarfa' al-Khilaf (ketetapan/keputusan Hakim menghilangkan perbedaan/perselisihan)

Dan soal penentuan hilal termasuk urusan ijtihadiyah. Tidak bisa masing2 ormas menentukan perkara masing2 yang berkaitan dengan umat tanpa melalui ulil amri (imam/hakim).

CMIIW

ane baru tahu kalau Indonesia dipimpin oleh Amirul Mukminin :)

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #65 pada: 03 September 2011, 17:48:57 »
Dari Ibnu Abbas bahwa:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, “Sungguh saya telah melihat hilal¤. Rasulullah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hiban).

Dalam Hadits tersebut dikisahkan, Rasulullah saw tidak langsung menerima kesaksian seseorang tentang ru’yah. Beliau baru mau menerima kesaksian ru’yah orang itu setelah diketahui bahwa dia adalah seorang Muslim. Andaikan status Muslim tidak menjadi syarat diterimanya kesaksian ru’yah Ramadhan, maka Rasulullah saw tidak perlu melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan keislamannya

Barangkali loe meragukan keislaman para perukyat yang mengaku melihat Hilal.
Dalam hadits tsb tidak ada kalimat yang dengan jelas menyebutkan
Kutip dari: abu_dzar
nabi yang mengatakan kalau ada satu orang yang bersaksi melihat bulan walaupun itu seorang arab badui tu dah sah
Dan tidak ada pula perintah wajibnya untuk menerima secara mutlak kesaksian tsb. Semua tergantung ulil amri, bagaimana memproses berita tsb, apakah mau langsung diterima atau dicek dulu kebenarannya. Menurut gua logis saja.

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
intinya loe ngga suka Muhammadiyah.... gitu aja kok repot :)
Kalau diambil ujung saja untuk menghakimi, maka gua juga bisa katakan yang mirip : intinya loe ngga suka Depag.... gitu aja kok repot :)

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
ane baru tahu kalau Indonesia dipimpin oleh Amirul Mukminin :)
Apakah belum sampai hadits dimana Rasulullah saw bersabda : “Apabila berangkat dalam perjalanan tiga orang maka hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin.” (HR. Abu Dawud, no.2242 menurut software Lidwa). ?

Mafhumnya, jika untuk perjalanan 3 orang saja perlu ada pemimpin, apalagi untuk urusan umat yang jumlahnya jutaan ?  :toe:
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #66 pada: 03 September 2011, 20:04:18 »
Kutip

Dan tidak ada pula perintah wajibnya untuk menerima secara mutlak kesaksian tsb. Semua tergantung ulil amri, bagaimana memproses berita tsb, apakah mau langsung diterima atau dicek dulu kebenarannya. Menurut gua logis saja.
wakaka... bisa aja loe nambah-nambahin :)

Kutip
Kalau diambil ujung saja untuk menghakimi, maka gua juga bisa katakan yang mirip : intinya loe ngga suka Depag.... gitu aja kok repot
kekeke.... kalau ane ngga suka depag, ngapain ane sering main ke Kemenag di Lapangan Banteng?

Kutip
Apakah belum sampai hadits dimana Rasulullah saw bersabda : “Apabila berangkat dalam perjalanan tiga orang maka hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin.” (HR. Abu Dawud, no.2242 menurut software Lidwa). ?

Mafhumnya, jika untuk perjalanan 3 orang saja perlu ada pemimpin, apalagi untuk urusan umat yang jumlahnya jutaan ?
wow.... ada banyak dong Amirul Mukminin dalam satu waktu? :)


Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #67 pada: 05 September 2011, 19:15:44 »
wakaka... bisa aja loe nambah-nambahin :)
Apa yang gua tambahin ?

Justru jika dalam hadits tsb ada perintah untuk menerima khabar tsb secara mutlak, maka gua minta lo tunjukin dalam hadits tsb sighot amar nya... Silahkan ...

Sehingga kita bisa berkata : jika ada 1 kesaksian maka wajib menerima kesaksian tsb.

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
kekeke.... kalau ane ngga suka depag, ngapain ane sering main ke Kemenag di Lapangan Banteng?
Itu urusan lo, yang gua rasa dari posting elo kan lo gak suka Depag.

Dan ini sebagian hasil streaming dari Kominfo : http://hilal2.kominfo.go.id/?q=node/148
ada 14 lokasi pengamatan hilal, lo cek ada satu-satu. Setahu gua semua lokasi pada pengamatan tgl 29 Agustus 2011 tidak melihat hilal.

So, Depag tidak ngawur ketika menetapkan Idul Fithri tgl 31 Agustus 2011. Yang ngawur justru yang maksa klo hilal sudah terlihat (padahal secara ilmu hisab tidak mungkin terlihat walau pake alat) :)

Kutip dari: Oni Asharri Rasyad
wow.... ada banyak dong Amirul Mukminin dalam satu waktu? :)
Emang menurut lo Amirul Mukminin artinya apa ?

Lo bisa memahami kata tsb secara umum atau secara khusus. tergantung kemampuan lo dalam memahami maskud dalam kalimat.

Dan ya ... banyak amirul mukminin dalam arti secara umum.  :ehm:
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline Vander Voort

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 304
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #68 pada: 06 September 2011, 21:44:14 »
Berijtihad kok ditertawakan  ???

Offline k3nj1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2009
  • Tulisan: 3.487
    • Lihat Profil
« Jawab #69 pada: 06 September 2011, 21:57:52 »
source : http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&id=29535


Abdullah Barqawi - already - Riyadh: continued reactions about the issue of the new moon of Shawwal Monday night, following the release of the controversial to the Astronomical Society in Jeddah, published by the "already" and keep a copy received from e-mail the official of the Assembly, after prior coordination with the officials, before it is transmitted the media from satellite channels and newspapers and Arab Gulf and Internet sites, which Hura each other and added information that was published by "already" and did not remember Astronomical Society, including the false information was circulated, and which stated that on Tuesday, is complementary to thirty days of the month of Ramadan and Wednesday is the first of October.

Violent reactions prompted some officials of the Society for the contradiction with the statement within 48 hours, where he published the newspaper "Gazette" today deny the Vice President of the Astronomical Society in Jeddah, a member of the Islamic project to monitor the moons of honor Sefiani, talk of trading a number of electronic media and print, said that on Tuesday is the complement of the month of Ramadan, and on Wednesday (yesterday) is the first day of Eid al-Fitr, and that vision was the planet Saturn and the moon is not.

The Vice-President of the contradiction evident in the partial vision of the planet Saturn, as indicated in the statement maintains, "had" to be circulated in the likelihood that what has been observed the night of investigating the planet Saturn.

For his part, Grand Mufti of Saudi Arabia's top cleric, and departments of scientific research and advisory Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al Sheikh, said in a statement published in "Gazette" that the entry and exit of the month of Ramadan and the entry of October it is true, and pointed to what was reported from the Royal Court, considerations of legitimacy.

The Mufti stressed that the skeptical comments that include people, invalid and rejected, and contrary to Islam.

And concluded that Al-Sheikh to emphasize to stop the confusion by questioning the sighting of the moon and the entry of the month, noting "the need to stop due to lack of confusion."

And continue the attack on the Astronomical Society in Jeddah Not only was the reader comments, as confirmed head of astronomy at the University of King Abdulaziz Hassan Basurrah to the newspaper "Gazette" no possibility of confusion between the planets and the crescent, and said, "the latter is larger, in addition to that Almitraúan experienced extended for thirty years, "noting" sighting of the moon if correct, it is a sign of visionaries possess visual ability beyond the normal scope, which calls for nerves of the eye specialists to new scientific research into the physics of the eye! ". He described the Astronomical Society made statements posted on websites for the possibility that the visionaries did not see the crescent, but they saw the planet Saturn with the "Group of amateurs have nothing to do, Department of Astronomy at the University of King Abdul Aziz," noted, "People are waiting for the opportunity to speak, especially because they relied on studies calculation this year and did not come by their expectations, which does not appear crescent. "

In a commentary for "already" said a member of the Shura Council, Mr. Hamad judge had no right to any other astronomical must strive after the sighting of the moon proved to dissuade witnesses and approved by the highest legal authority, "the Supreme Court."

He added: His Eminence the Mufti of the Kingdom of the best when it said the health of the new moon of Shawwal and that the questioning of the abuse began after testing vision in Islam.

The judge said: Even the Vice President of the Astronomical Society, which issued some of its members to question, has shown that the published goal was called into question, and that proved true in Islam.

In conclusion, the judge, added: Flantmin on our fast and our festival, and our Prophet peace be upon him says: "Fast when you see it and stop fasting when you see it," was ratified by the President of the astronomy department at King Abdulaziz University in Jeddah, when explained that it confused the so-called Astronomical Society, between Crescent and Saturn, just amateur has nothing to do them with the knowledge of astronomy can not be confusion between the planets and the crescent.

The "already" a statement published the controversial Assembly, which stated: "not sophisticated astronomical observatories can not monitor the Crescent on the evening of Monday, but not the role of a celestial body that does not exist, and here is the real problem."

In addition to the likelihood that the Assembly is seen is the planet Saturn.

It is worth mentioning that the statement of the controversial latest wide reactions at different levels of information, legitimacy and astronomical in Saudi Arabia and the Gulf States and Arab, its consequences are still continuing.

===================================

Singkatnya : Vice Presiden Jeddah Astronomy Society (JAS) otoritas yg diberi mandat oleh pemerintah Saudi menyatakan yang terlihat adalah planet SATURNUS bukan bulan, seharusnya 1 Syawal hari Rabu

Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #70 pada: 07 September 2011, 14:54:31 »
emang penampakan Saturnus ama Hilal mirip ya bro? Baru tahu ane kalau Saturnus bisa sangat terang melebihi Bintang Kejora (Venus) :)