Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Jum'at, 25 Mei 2012/4 Rajab 1433 H : Imsak 4:27:04 - Shubuh 4:33:29 - Terbit 5:55:44 - Dzuhur 11:49:51 - Ashar 15:11:54 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:46 WIB

Penulis Topik: Perbedaan cara pandang antara KPK dengan EraMuslim dalam menilai 2 propinsi  (Dibaca 403 kali)


Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« pada: 30 Desember 2009, 13:15:23 »
kita tentu maasih ingat bgkan  bagaimana era muslim membandingkan 2 gubernur yaitu gubernur jawabarat ahmad heryawan yg berlatarbelkang ustad dari PKS, dengan gubernur jogja yg juga sang raja sri sultan hamngkubuwono dari partai orba,. Golkar, dgn kebiasaannya merawat budaya kejawen yg salah satunya berebut kotoron kebo yg bernama kiyai slamet krn dianggap berkah yg luar biasa dari kotoran kebo tsb.

untuk jelasnya inilah datanya:
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/dua-gubernur-dan-mobil-mudik.htm
dgn kontent:

Mudik besar-besaran selalu menyertai Hari Raya Iedul Fitri tiap tahun. Mobil merupakan moda angkutan terbanyak yang digunakan oleh para Mudikers, istilah para pemudik, di dalam melakukan hajatnya. Tahun ini, di tengah gegap gempita berita tentang Buaya Versus Cicak, dan juga soal tewasnya Gembong Teroris Malaysia Pak Ci’ Noordin M Top, ada berita yang cukup menyentuh nurani dan rasa keadilan terkait sikap dua gubernur tentang penggunaan mobil dinas untuk mudik.

Yang pertama, sikap Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X. Sultan secara tegas melarang semua pejabat dan PNS di lingkungan pemerintahannya menggunakan mobil dinas untuk mudik. Hal ini dikemukakan Ka Biro Organisasi Sekretariat Daerah Propinsi DIY Hendar Susilowati, SH (8/9).

Gubernur yang berasal dari Partai Golkar ini dengan tegas mengatakan bahwa pada prinsipnya tidak diperkenankan penggunaan mobil dinas selain di luar tugas pokok atau tidak ada kaitannya dengan tugas negara, apalagi dipakai untuk keperluan yang jelas-jelas pribadi seperti mudik.

Bagi yang melanggar keputusan Gubernur DIY akan ada sanksi yang tegas. Sanksi yang paling berat adalah mobil dinas itu akan ditarik.

Yang kedua, sikap Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan, Lc. Gubernur dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini bertolak-belakang dengan sikap tegas yang diambil rekannya, Gubernur DIY soal mobil dinas untuk mudik. Ahmad Heryawan, Lc malah membolehkan digunakannya mobil dinas untuk keperluan mudik bagi para pejabat di lingkungan pemerintahannya. Namun kendaraan operasional tetap tidak boleh.

Kendaraan dinas adalah kendaraan yang dibeli oleh uang rakyat, yang dititipkan kepada pejabat untuk pergi dan pulang kantor dan juga mengantarkan mereka sehari-hari dalam kaitannya dengan tugas kepemerintahan. Sedangkan kendaraan operasional adalah kendaraan yang juga dibeli oleh uang rakyat namun ‘mangkal’ di kantor Pemda untuk digunakan hanya selama jam dinas atau jika ada tugas-tugas khusus, tidak boleh dibawa pulang.

“Mobil dinas yang melekat pada jabatan (pejabat Provinsi Jawa Barat) boleh digunakan untuk mudik Lebaran,” ujarnya enteng usai upacara gelar pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2009 di Lapangan Gasibu, Bandung, Sabtu (12/9). Ahmad Heryawan tidak menjelaskan, apakah bahan bakar mobil dinas yang dipakai pulang kampung para pejabatnya juga akan ditanggung pemerintah—yang berarti dibayarkan oleh uang rakyat—seperti yang selama ini biasa terjadi di mana-mana.=======================
« Edit Terakhir: 30 Desember 2009, 13:36:41 oleh bakekok »

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 30 Desember 2009, 13:15:40 »
kmudian diujung tulisan eramuslim,. menggambarkan kisah khalifau umar bin abd aziz,.. dgn tujuan menempatkan bahwa perilaku hamengkubuwono lebih tepat dr pad ahmad heryawan,...   (silakan baca sendiri,.. nohh kan dah ada link nya,.)..

ternyata ketergesa-gesaan eramuslim membuat situs ini menjadi berkurang bobot dan kualitasnya.. tentunya hanya dalam beberapa hal saja eramuslim tdk berbobot kualitasnya. yaitu :
1. sikap oposisi thdp pemerintah,.
2. pembelaan thdp golkar
3. dalm mengkritisi PKS.

ternyata pemprov jabar memiliki ranking ke tiga dalam survei integritas yg dilakukan oleh komite pemberantas korupsi KPK dgn skor 6,81 setelah Kalitm (skor 7,15) dan Jatim (7,04).   salah satu berita bisa dilihat di :
http://korupsi.vivanews.com/news/read/115586-integritas_jawa_timur_tertinggi
VIVAnews - Pemerintah Provisi Jawa Timur (Jatim) didaulat sebagai provinsi dengan nilai integritas tertinggi dalam pelayanan publik. Hal ini didasarkan pada Survei Integritas yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Skor yang dicapai Jatim adalah 7,15," kata Wakil Ketua bidang Pencegahan KPK M Jasin kepada wartawan di gedung KPK, Selasa 22 Desember 2009.

KPK melakukan survei terhadap empat layanan di pemerintahan provinsi yaitu pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kelas B, pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintahan provinsi (pemprov), izin trayek antar kota dalam provinsi, dan izin pendirian koperasi /Usaha Kecil Menengah (UKM) tingkat provinsi.

Jasin juga menambahkan posisi Jatim diikuti oleh Kalimantan Selatan (7,04), Jawa Barat (6,81), Kalimantan Timur (6,73), dan peringat kelima diduduki Bali dengan skor 6,53.

Survei mulai dilakukan KPK, April hingga September 2009 terhadap 371 unit layanan yang berada di 98 instansi yang terdiri dari 39 instansi tingkat pusat, 10 pemerintah provinsi, dan 49 pemerintah kota/kabupaten.
« Edit Terakhir: 30 Desember 2009, 13:22:25 oleh bakekok »

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 30 Desember 2009, 13:23:05 »
Perlu kita telaah tulisan era muslim ini dgn kaca mata yg benar mengenai PENGGUNAAN MOBIL DINAS untuk mudik,.

dipujinya kader golkar yg menjaga budaya kejawen oleh eramuslim ini krn sikapnya yang (seolah) mutlak melarang penggunaan mobil dinas utk mudik.

dikritisi nya ahmad heryawan krn tidak mutlak melarang, krn realitasnya ahmad heryawan masih menjalankan kebolehan  (dengan terbatas dan sesuai dgn undang-undang) mengenai penggunaan mobil dinas.

suara-suara indahnya eramuslim dlm membela kader golkar ini kurang lebih :
 pejabat diberikan fasilitas untuk kedinasan, bukan untuk keperluan pribadi,.. (ciee ileee indah bener..)
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
TERBAYANG OLEH SAYA,. bila eramuslim dan sri sultan itu konsisten,. tidak akan ada rumah dinas bagi pejabat dinas ataupun gubernur di jogja,. krna masa duit pemerintah dipake untuk molor,.
terbayang juga oleh saya bila mereka konsisten tidak akan dijumpai WC, atau tempat pipis di kanttor-kantor pemerintahan propinsi jogja,. krn masa duit rakyat dipake utk pipis dan be'ol gubernur atau pegawainya?.

wallahu a'lam 
« Edit Terakhir: 30 Desember 2009, 13:31:31 oleh bakekok »

Offline Bang Khalifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 347
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 30 Desember 2009, 14:26:38 »
Pake ID ini, karena akan menulis pendapat pribadi (bukan sebagai moderator).  Dan sebagai pribadi, saya berhak dong berpihak (tidak wajib netral seperti waktu jadi moderator... ;) )

1.  Untuk sebagian orang, khususnya, mungkin bagi penduduk Jogja, HB X (Sultan Hamengku Buwono X) merepresentasikan Kesultanan Jogja.  Jadi, menyebut HB X sebagai 'kader Golkar' adalah sebuah reduksi, pengecilan posisi dari HB X.  Karena justru golkar lah yang mendompleng posisi HB X.  Bukan sebaliknya. 

2.  Saya setuju dengan tidak berimbangnya eramuslim dalam membandingkan antara ahmad heryawan dengan HB X.  Kenapa?  Karena ngejomplang!  HB X itu pantesnya, dibandingin sama Sukarno, Suharto, SBY, Gus Dur, Megawati, Habibie... Para Presiden.  Karena tingkatan beliau memang sudah Tokoh Nasional, bukan sekedar gubernur daerah seperti ahmad heryawan.  Istilahnya, gak level bagi seorang HB X dibandingin sama AH.

3.  Gak ada hubungannya antara penggunaan mobil dinas dengan "ternyata pemprov jabar memiliki ranking ke tiga dalam survei integritas yg dilakukan oleh komite pemberantas korupsi KPK dgn skor 6,81 setelah Kalitm (skor 7,15) dan Jatim (7,04). "   Emang apa hubungannya?  Kalau peringkatnya segitu, jadi boleh pake mobil dinas untuk kepentingan pribadi gitu?  GAK NYAMBUNG!

wassalam,
Haekal


One Law to Rule Us All,
One Law To Find Us,
One Law To Guide Us All,
And In The Light, Frees Us!

Offline Andi Hakim

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 630
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 30 Desember 2009, 15:23:02 »
Bangk Khalifah, sedikit berkomentar

1. analisa cerdik media sebuah kewajaran, namun bila analisa kebablasan oleh media muslim sangat memprihatinkan.
2. kebesaran Sultan, karena masyarakat Yogya masih terlalu dibodohi dengan doktrin kolonialisme yang menganggap Raja adalah segala-galanya.
3. Indek prestasi integritas jelas sangat pas untuk menjadi barometer. Ucapan Sultan dan Heryawan tidak bisa menjadi dalih kesimpulan kinerja keduanya.

Jadi dalam hal ini penulis di eramusliim, dalam hal ini Rizqi memang tidak bisa memandang sesuatu dari sisi objektivitas, sebagai seharusnya sebuah media muslim. Seharusnya Rizqi yang mendompleng eramuslim bisa belajar dari Bung Khalifah. Bila ingin mengutarakan hasrat pribadinya, silahkan mengatakan ini pendapat pribadi lhooo. Bukan pendapat moderator MQ atau dalam hal ini pendapat eramuslim.


Pake ID ini, karena akan menulis pendapat pribadi (bukan sebagai moderator).  Dan sebagai pribadi, saya berhak dong berpihak (tidak wajib netral seperti waktu jadi moderator... ;) )

1.  Untuk sebagian orang, khususnya, mungkin bagi penduduk Jogja, HB X (Sultan Hamengku Buwono X) merepresentasikan Kesultanan Jogja.  Jadi, menyebut HB X sebagai 'kader Golkar' adalah sebuah reduksi, pengecilan posisi dari HB X.  Karena justru golkar lah yang mendompleng posisi HB X.  Bukan sebaliknya. 

2.  Saya setuju dengan tidak berimbangnya eramuslim dalam membandingkan antara ahmad heryawan dengan HB X.  Kenapa?  Karena ngejomplang!  HB X itu pantesnya, dibandingin sama Sukarno, Suharto, SBY, Gus Dur, Megawati, Habibie... Para Presiden.  Karena tingkatan beliau memang sudah Tokoh Nasional, bukan sekedar gubernur daerah seperti ahmad heryawan.  Istilahnya, gak level bagi seorang HB X dibandingin sama AH.

3.  Gak ada hubungannya antara penggunaan mobil dinas dengan "ternyata pemprov jabar memiliki ranking ke tiga dalam survei integritas yg dilakukan oleh komite pemberantas korupsi KPK dgn skor 6,81 setelah Kalitm (skor 7,15) dan Jatim (7,04). "   Emang apa hubungannya?  Kalau peringkatnya segitu, jadi boleh pake mobil dinas untuk kepentingan pribadi gitu?  GAK NYAMBUNG!

wassalam,
Haekal

Offline andaleh

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.944
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #5 pada: 30 Desember 2009, 15:29:24 »
Ahmad Heryawan, Lc malah membolehkan digunakannya mobil dinas untuk keperluan mudik bagi para pejabat di lingkungan pemerintahannya. Namun kendaraan operasional tetap tidak boleh.

Bedanya apaan mobil dinas dengan kendaraan operasional?

Offline andaleh

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.944
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #6 pada: 30 Desember 2009, 15:30:47 »
Kalo mau ilmiah, mending paparin lah di sini, peraturan mengenai penggunaan mobil dinas.

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 30 Desember 2009, 16:05:12 »
Bedanya apaan mobil dinas dengan kendaraan operasional?

nih baca aja penjelasan ahmad heryawan:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/14/13493813/mobil.operasional.tak.dipakai.mudik.

Dia menjelaskan, ada dua jenis mobil dinas di lingkungan pemerintahan. Pertama adalah mobil dinas yang melekat pada jabatan seseorang. Mobil inilah yang boleh dipakai untuk mudik karena menjadi tanggung jawab pejabat terkait.

Kedua adalah mobil operasional di satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Mobil ini tidak boleh digunakan mudik karena diperuntukkan bagi kegiatan operasional SKPD terkait, bukan pribadi pegawai.
+++++===========================================

nah klo ente ngga setuju,. seperti era muslim dan sri sultan,. ane mau nanya:"

gmana urusannya dgn rumah dinas,. disitu ade pasilitas TIpinya,. ada ac nya,. ada kamar tidur, ada wc nya,. dan itu di RUMAH dinas bukan di KANTOR,.
masa iya gubernur di gajih atau difasilitasi untuk beol,. untuk pipis,. untuk tidur?.. coba ente cari dah adangga juklak juknis kerja gubernur didalemnya ada be'ol ato pipisnya,.

termasuk WC di kantor klo dia mau be'ol harus kluar kantor dulu,.. masa dia dikasih fASILitas dr uang negara hanya dipake be'ol doang?

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 30 Desember 2009, 16:12:18 »

1.  Untuk sebagian orang, khususnya, mungkin bagi penduduk Jogja, HB X (Sultan Hamengku Buwono X) merepresentasikan Kesultanan Jogja.  Jadi, menyebut HB X sebagai 'kader Golkar' adalah sebuah reduksi, pengecilan posisi dari HB X.  Karena justru golkar lah yang mendompleng posisi HB X.  Bukan sebaliknya. 
sbgean ntuh banyak ape dikit bang?. masih banyak loh parte laen,.. klo memang ksultanan itu menjadi vote getter,. klo mnurut ane sih "seseorang itu berkumpul dengan orang sejenisnya"

Kutip
2.  Saya setuju dengan tidak berimbangnya eramuslim dalam membandingkan antara ahmad heryawan dengan HB X.  Kenapa?  Karena ngejomplang!  HB X itu pantesnya, dibandingin sama Sukarno, Suharto, SBY, Gus Dur, Megawati, Habibie... Para Presiden.  Karena tingkatan beliau memang sudah Tokoh Nasional, bukan sekedar gubernur daerah seperti ahmad heryawan.  Istilahnya, gak level bagi seorang HB X dibandingin sama AH.
tau lah ane,.. nyang jelas dua duanya same same gubernur,..

masa gubernur dibandingin ame hansip?.

Kutip
3.  Gak ada hubungannya antara penggunaan mobil dinas dengan "ternyata pemprov jabar memiliki ranking ke tiga dalam survei integritas yg dilakukan oleh komite pemberantas korupsi KPK dgn skor 6,81 setelah Kalitm (skor 7,15) dan Jatim (7,04). "   Emang apa hubungannya?  Kalau peringkatnya segitu, jadi boleh pake mobil dinas untuk kepentingan pribadi gitu?  GAK NYAMBUNG!
ane spakat lah dgn bang andi,.. survey integritas itu ane yakin jelas parameternya,. salah satunya mencirikan amanah menggunakan fasilitas negara.

Offline andaleh

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.944
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #9 pada: 30 Desember 2009, 16:16:14 »
Oh gitu... ada bedanya. Tanya pak Tif deh... mobil yang lagi dihebohin sekarang itu mobil dinas apa operasional %peace%

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 30 Desember 2009, 16:24:10 »
Oh gitu... ada bedanya. Tanya pak Tif deh... mobil yang lagi dihebohin sekarang itu mobil dinas apa operasional %peace%
yeyy,. brani braninya nyuruh orang.. ente yang ongkosin kmari..
ngomong-ngomong,. dikantor ente ada WC nya kaga?. awas jgn dipake,. itu nyalahin prosedur,.. kcuali ente digaji emang untuk be'ol..

Offline andaleh

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.944
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #11 pada: 30 Desember 2009, 17:44:26 »
Ane kan bisa nanya lewat twitter. Udah ane tanya kok.

Offline dian_syahril

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 8.203
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 30 Desember 2009, 18:06:54 »
apakah "MEMINJAM" fasilitas negara untuk keperluan pribadi sama dengan "MEMAKAN" fasilitas negara ?

saya rasa oke saja mobil di pinjam dengan biaya bensin pribadi, juga mestinya olie-nya juga pribadi, air radiator+olie filter+minyak rem+minyak power steering+air accu semuanya pribadi, karena setiap 5000 km mobil harus ganti olie dan sebagainya, serta tanggungjawab pribadi kalo sampe nabrak, lecet2, artinya tidak memberatkan negara, karena tidak mengganggu keperluan negara

di kantor saya pun demikian, peraturan dari yg punya perusahaan, yaitu mulai dari direktur sampe office boy boleh PINJAM mobil perusahaan dengan syarat mobil dalam keadaan tidak terpakai (hari libur), bensin sesuai awal pinjam & ketika mengembalikan serta mobil harus bersih ketika balikin.
mohon maaf lahir & batin jika ada tulisan, perkataan & perbuatan saya baik yg disengaja maupun yg tidak selama di myQ.org :)

Offline ARS

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 21.962
  • Lokasi: Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Jenis kelamin: Pria
  • !..Karena Korupsi Bukanlah Budaya!..!
    • Lihat Profil
    • Apa Dong (dot) Com
« Jawab #13 pada: 30 Desember 2009, 18:58:21 »
perlu waktu khusus yang agak panjang buat baca tret ini. tak tandai dulu. coz sekarang lagi liburan, mau refresh otak dulu ;D
█ Apa Dong (dot) Biz @ www.apadong.biz
█ 24x7x365 Support - Free Services+Bon

Offline Bang Khalifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 347
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 31 Desember 2009, 08:13:30 »
Kutip
1. analisa cerdik media sebuah kewajaran, namun bila analisa kebablasan oleh media muslim sangat memprihatinkan.

silahkan dijelaskan letak 'kebablasannya'.... ;)

Kutip
2. kebesaran Sultan, karena masyarakat Yogya masih terlalu dibodohi dengan doktrin kolonialisme yang menganggap Raja adalah segala-galanya.

wah, saya gak tahu apa masyarakat Yogya bodoh atau tidak... lha wong saya juga gak yakin apakah saya pinter atau tidak... :toe:

Tapi banyak kok yang nganggap Sultan besar bukan karena kolonialismenya/status rajanya, tapi lebih ke karakter dan pribadinya beliau [termasuk saya]

Kutip
3. Indek prestasi integritas jelas sangat pas untuk menjadi barometer. Ucapan Sultan dan Heryawan tidak bisa menjadi dalih kesimpulan kinerja keduanya.

iya... tapi gak ada hubungannya sama penggunaan mobil dinas untuk mudik...
yang diomongin itu kan? ???


One Law to Rule Us All,
One Law To Find Us,
One Law To Guide Us All,
And In The Light, Frees Us!

Offline Bang Khalifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 347
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 31 Desember 2009, 08:29:06 »
Kutip
sbgean ntuh banyak ape dikit bang?. masih banyak loh parte laen,.. klo memang ksultanan itu menjadi vote getter,. klo mnurut ane sih "seseorang itu berkumpul dengan orang sejenisnya"

gak ngaruh bos.... Sultan itu masuk golkar dari jaman cuma ada 3 partai di Indonesia...
kalo ditanya sekarang kenapa gak masuk partai lain, apa pentingnya?  emang ada partai lain yang beda sama golkar?
ente sendiri, ngerasa gak, ada partai yang beda sama golkar? ???

Kutip
tau lah ane,.. nyang jelas dua duanya same same gubernur,..

masa gubernur dibandingin ame hansip?.

AH Gubernur Jabar, jabar bukan daerah istimewa, dari awal adalah bagian dari RI
HB X gubernur jogja.  Jogja pernah setara dengan RI (entitas pemerintahan sendiri).

gak sebanding laaaah....

lagian, apa urusannya hansip di sini? ???

Kutip
ane spakat lah dgn bang andi,.. survey integritas itu ane yakin jelas parameternya,. salah satunya mencirikan amanah menggunakan fasilitas negara.

gak nyambung sama yang dibicarakan.... (penggunaan mobil dinas)
emang siapa yang lagi ngomongin kinerja? ???
dari artikel awal juga, gak ada yang ngomongin kinerja deh...

emang kalo indeks korupsinya segitu, jadi boleh make mobil dinas buat kepentingan pribadi, gitu? ???


One Law to Rule Us All,
One Law To Find Us,
One Law To Guide Us All,
And In The Light, Frees Us!

Offline ruhusyabab

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 413
  • Lokasi: MaTraMan-Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 31 Desember 2009, 08:39:49 »

ane pribadi lebih sreg dengan gub. jabar, menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. kendaraan dinas yg melekat dengan jabatan dan kendaraan operasional dibedakan perlakuannya sesuai dengan peraturan yg ada. gak usah lebay pukul rata, semua kendaraan dinas gak boleh dipake...
الله غايتنا * الرسول قدوتنا * القران دستورنا * الجهاد سبيلنا * الموت في سبيل الله اسم امانينا

Offline Bang Khalifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 347
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 31 Desember 2009, 09:00:42 »
saya sih tidak tahu, apa ada dasar pemisahan tersebut....
Karena kalau melihat NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA
10. Barang Milik Negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
11. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

yang saya pahami, mau mobil dinas, mau mobil operasional, keduanya adalah Barang Milik Daerah yang dibeli atas beban APBD.

Atau ada yang bisa supply peraturan yang membedakan antara mobil dinas dan mobil operasional?

Karena kalau menurut PERATURAN KENDARAAN BERMOTOR MILIK NEGARA UNTUK DINAS-DINAS SIPIL
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 1961 Tanggal 27 April 1961,
tidak distate perbedaan tersebut:
Pasal 1
Yang dimaksud dengan kendaraan bermotor milik Negara dalam peraturan ini ialah kendaraan bermotor milik Negara, yang dipergunakan oleh instansi sipil dan dalam pasal-pasal selanjutnya disebut kendaraan bermotor.

Yang saya pahami dari pasal di atas, mau mobil dinas, mau mobil operasional, keduanya adalah kendaraan bermotor milik Negara.

contoh lainnya:
PP 46/1971, PENJUALAN KENDARAAN PERORANGAN DINAS MILIK NEGARA
Pasal 1.

Kendaraan perorangan dinas milik Negara dari Departemen dan Badan- badan/Lembaga-lembaga Pemerintah dan Negara yang telah berumur dan atau dipergunakan selama lima tahun atau lebih, sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini dapat dijual kepada Pegawai Negeri dan Pejabat Negara bukan Pegawai Negeri sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah ini.

tidak ada pembedaan antara mobil operasional dengan mobil dinas...

Kutip
gak usah lebay pukul rata, semua kendaraan dinas gak boleh dipake...

lagian, ini bukan masalah gak boleh dipake atau tidak... tapi masalah, boleh dipake untuk kepentingan pribadi atau tidak (mudik)

Penggunaan untuk perjalanan (mudik) jelas mengurangi nilai barang (ausnya komponen, bensin, oli, dsb).  dan pengurangan nilai itu juga tidak diatur oleh AH (Ahmad Heryawan), apakah bensin bisa di reimburse ke kas daerah atau tidak, apakah service setelah digunakan mudik akan dibiayai daerah atau tidak, dsb.  


btw, saya pengen tahu pandangan TS yang melekatkan Sultan dengan Golkar, dan mungkin AH dengan PKS...
apakah artinya TS menganggap para gubernur itu (walaupun berkedudukan sebagai kepala daerah yang terdiri dari banyak partai), masih milik partai?
apakah artinya TS menganggap para gubernur itu adalah representasi partai (bukan daerah)?

apakah itu berarti, saya (yang tidak nyoblos kemaren), jadi tidak berhak hidup di Jabar, atau menerima fasilitas daerah jabar, atau tidak berhak menganggap AH sebagai pemimpin daerah saya, karena AH toh 'hanya' kader partai, bukan pemimpin daerah? ???

Kalau menurut saya, seharusnya para pejabat itu tidak lagi dipandang/dilekatkan dengan atribut kepartaiannya.  Atau paling tidak, ketika sang pejabat bertindak sebagai Gubernur (atau jabatan yang ia pegang), maka harus dipandang sebagai Gubernur dan bukan kader partai...

Artinya, Sultan bertindak sebagai Gubernur dan bukan kader Golkar.  Dan tidak benar kalau TS mengaitkan predikat kader Golkar ketika HB X bertindak sebagai gubernur jogja...
« Edit Terakhir: 31 Desember 2009, 09:06:20 oleh Bang Khalifah »


One Law to Rule Us All,
One Law To Find Us,
One Law To Guide Us All,
And In The Light, Frees Us!

Offline Bang Khalifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 347
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 31 Desember 2009, 10:19:29 »
pandangan berbeda dari tokoh yang berasal dari partai yang sama, mengenai penggunaan mobil dinas:

Tifatul Belum Terima Mobil Dinas Baru

Jakarta - Mobil dinas baru para menteri, Toyota Crown Royal Saloon, menjadi buah bibir. Menkominfo Tifatul Sembiring mengaku belum menerima mobil baru ini. Kok bisa?

"Soal mobil baru saya belum terima. Belum ada pemberitahuan ke saya," kata Tifatul di sela-sela jumpa pers akhir tahun di Depkominfo, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (29/12/2009).

Tifatul memaparkan, Toyota Crown ini adalah mobil dinas bukan mobil pribadi menteri. Penggunaannya pun untuk kerja menteri dan bukan urusan pribadi.

"Itu tidak boleh dipakai untuk jalan-jalan keluarga," kata Tifatul.


Kalau mendapat mobil mewah itu bagaimana, mau menerima tau tidak? Tanya wartawan. Tifatul tidak mau menjawab pertanyaan itu.

Mantan presiden PKS itu hanya menjelaskan dirinya masih bekerja memakai mobil pribadi. "Saya masih pakai Toyota Fortuner. Itu pun milik pribadi, beli sendiri, sudah 2 bulan lebih," pungkasnya.    (fay/iy)

*******************************************

Kalau dari partai yang sama saja sudah berbeda pandangannya,
apakah atribut kepartaian masih bisa dilekatkan pada para pejabat?

Misalnya: Sultan HB X sebagai Kader Golkar? ???

wassalam,
BK


One Law to Rule Us All,
One Law To Find Us,
One Law To Guide Us All,
And In The Light, Frees Us!