Bismillah.
Karena ini forum curhat, izinkan saya curhat barang beberapa paragraft.
Bermula dari HP saya yang biasa dipakai untuk online, dipakai oleh saudari saya. Biasalah, setiap ketemu HP, bawaaanya langsung cek FB. Sayangnya, dia lupa logout, sehingga saya terpancing untuk membuka inbox FBnya, namanya juga saudara pria yang ingin selalu menjaga saudarinya. Betapa terkejutnya ketika ternyata, beberapa pesan yang sempat saya buka mengisyaratkan bahwa dia telah sedang menjalin hubungan.
Tentunya tidak masalah tentang hubungan itu, karena keluarga kami adalah keluarga yang selalu memudahkan untuk proses pernikahan. Jadi kalau memang serius, silahkan dilanjutt..
Masalahnya adalah, setelah saya baca pesan di inbox 1 persatu, terlihat bahwa saudari saya baru mengetahui kalau si ikhwan (? bakwan kali) pasangannya, ternyata sudah punya istri. Innalillah.. Tapi kalau dari pesannya, ya ampunn, terlihat banget kalau dia pandai merayu dengan kata2 gombal. kata2 "selalu sayang", dll yang jijik rasanya ketika saya tahu bahwa dia sudah punya istri, tapi menggunakan kata itu untuk saudari saya.

Sungguh saya marah, seandainya dipertemukan, ingin rasanya menghajar habis-habisan wajahnya.

Sangat memalukan! dan tentunya mengancam kehormatan! Dan sedihnya lagi, entah kenapa saudari saya seperti tidak peduli dengan status-nya. (masya Allah..) Ini bukan tentang poligami, ini tentang perselingkuhan seorang suami yang mengaku ikhwan, kepada akhwat saudari saya.

Saya berharap, si ikhwan kampungan itu adalah member myquran, sehingga dia baca curhat saya, lalu malu! dan meninggalkan saudari saya sebelum semuanya terlalu jauh. Kalaupun ternyata bukan, maka saya berpesan kepada seluruh ikhwan (khususnya MyQers), mari kita budayakan malu!

Kenapa saya berharap dari si ikhwan kampungan untuk menghentikan aksinya? kenapa buka saya memproteksi saudari saya untuk tidak lagi melanjutkan hubungan? Sungguh, terlalu banyak cerita tentang cinta buta tentang pengorbanan sia-sia. Dan semua itu berawal dari sikap 'melarang' itu sendiri yang berlebihan. Secara alami, ketika seseorang ditekan, maka dia akan berusaha untuk melawan. Padahal, kami tidak ingin kehilangan saudari kami. Kami tahu, melarang bukan jalan terbaik, tapi kami selalu berusaha membuktikan kepada saudari kami, bahwa kami tidak kalah mencintainya dibanding ikhwan itu.
Wahai ikhwan pengecut, sadarilah, kami melalui proses yang panjang dalam mendidik adik kami. Dari ketika dia masih kecil hingga remaja seperti sekarang. Banyak yang sudah kami korbankan, uang, pikiran, dll. Kami urus pendidikannya hingga seperti sekarang. Tegakah kau ?! Mengambil adik kami dengan cara hina dan bodoh seperti ini ?! Bertaubatlah.. Berikan perhatianmu kepada istri dan atau anakmu saja. Jangan rusak kebahagiaan keluarga kami.
