Kemenangan Tentara Islam
Roda sejarah tetap berputar, sehingga sampailah pada awal cerita ini. Sebuah kisah tentang nyata yang dipaparkan dalam kitab ‘Al-Mukafaah’ yang dituliis oleh Ahmad bin Yusuf. Cerita dalam kitab itu berdasarkan keterangan dari Hasan bin Muslim, seorang tua penduduk Kreta, yang ikut menjadi saksi mata atas peristiwa ini. Yaitu peperangan antara Islam melawan Romawi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Pulau Kreta merupakan daerah pinggir kekuasaan Islam zaman Abbasiyah. Tentara Islam pertama kali masuk masuk ke pulau ini dalam komando panglima Abu Hafash Umar. Mereka ini berhasil memberi kenikmatan, keamanan dan keadilan sehingga sampailah pada masa kisah ini terjadi.
Raja Romawi bersumpah untuk menyampaikan niatnya, hanya puas bila nanti berhasil menduduki kembali pulau Kreta dan menghancurkan seluruh orang Islam yang ada di sana. Ia berjanji kepada orang-orangnya untuk tidak mundur setapakpun meski untuk itu ia harus mengeluarkan seluruh kekayaan kerajaannya.
Kabut kerisauan menyelubungi jiwa dan akal raja. Soalnya, untuk melaksanakan maksudnya itu harus dicari seorang panglima yang mahir dan berani. Ia teringat kemudian ada seorang pendeta yang kiranya cocok bagi pikiran raja Romawi itu. Dulunya bekas panglima perang kenamaan dan kini menjadi pendeta yang disayangi oleh para muridnya. Ia telah menjadi bapak dari suatu jamaah karena bijak dan rendah hati.
Raja mengirim utusan pergi kepada pendeta itu, memintanya dengan sangat untuk bersedia berjuang di medan yang dulunya menjadi tempat kancahnya. Betapapun berat, namun ia tak sanggup menolak perintah rajanya itu. Maka berangkatlah ia menghadap untuk menerima perintahnya.
Ada dialog yang menarik terjadi. Sang raja yang gundah kerana panglima-panglima beserta bala tentara yang dikirimkannya selalu gugur menghadapi tentara Islam. “Apa gerangan rahasianya umat Islam selalu menang dimedan tempur?” ia bertanya.
Dengan pendek pendeta itu menjawab,” Iman !”
Bagaikan disengat kala, raja itu berteriak,” Iman! Iman! Iman!”. Ia menelan ludah, dipandangi pendeta itu dengan pandangan heran tetapi juga menyelidik. Lalu ia berteriak memerintah,” Itulah sekarang tugasmu! Kau harus mengembus-embuskan iman dalam dada setiap prajurit kita!”.
Maka sejak saat itu, sang pendeta ini terikat kerja mempersiapkan tentara untuk pertempuran. Sebagai panglima penanggungjawab tertinggi, ia lakukan segala usaha untuk persiapan dan perlengkapan. Alkisah, setelah siap segalanya, ia meluncurkan kapalnya di gelap malam, mengambil jalan yang jauh dari pengintaian.
Ternyata pulau Kreta hanya dijaga oleh sejumlah kecil tentara Islam. Maka berbungalah hatinya, pulau Kreta bakal dengan mudah dikuasai, begitulah pikirnya.
Syahdan, tentara Islam meskipun dalam jumlah kecil , memutuskan untuk melakukan perlawanan. Usaha pertama yang dilakukan adalah memerintahkan semua orang untuk masuk kedalam benteng dan menutup benteng itu kuat-kuat. Tentara Romawi berusaha membuka benteng itu, namun usaha mereka gagal karena dilawan dengan keras dan gigih. Begitu ketat perlawanan tentara Islam, sulit bagi tentara Romawi untuk menebusnya. Maka yang dilakukan kemudian adalah melakukan pengepungan dan mengisolasi pulau Kreta dengan ketat. Sasaran pengepungan dan isolasi itu adalah memutuskan seluruh perhubungan pulau Kreta dengan dunia luar. Kalau habis simpanan makanan dan perbekalan lainnya, masak mereka tak menyerah?
Betul belaka strategi perang tentara Romawi itu. Perbekalan tentara Islam semakin menipis. Bayangan keputusasaan mulai mengganggu tentara Islam. Bahkan mulai terpikir untuk menyerah demi keselamatan anak-anak, wanita dan orangtua.
Ditengah krisis yang mencekam itu, muncullah seorang syeikh yang tidak saja tua umurnya, tetapi juga telah banyak memakan asam garam kehidupan ini. Dan terlebih penting lagi ketangguhan pelita imannya. Ia panggil banyak orang untuk berkumpul disekelilingnya. Ia berkata,”Maukah kalian mendengar petunjukku?”
“Katakanlah!” jawab orang banyak itu, serentak.
“Bersihkan dirimu untuk Allah! Mari kita heningkan hati kita, kita lemparkan prasangka buruk terhadap Allah. Pasrah kepada-Nya, lalu kita memohon pertolongan-Nya. Insya Allah, nikmat dan keselamatan akan datang!”. Sejenak ia diam, kemudian memerintahkan,”Mari kita ikhlaskan hidup kita kepada Allah!”.
Lalu syeikh itu meninggalkan kerumunan orang banyak yang mulai terpengaruh oleh ajakannya. Maka bayangan keputusasaan berganti dengan keyakinan dan kepasrahan kepada Rabbul Izzati. Tampak syeikh itu berjalan perlahan dengan senang. Kemudian ia mengangkat wajahnya, berdoa kepada Allah. Butir-butir airmatanya berlinangan kewajah yang keriput dan merasuk kedalam janggutnya yang tebal.
Tiba-tiba ia menengok kepada kerumunan orang banyak tadi dan serentak kemudian ia berteriak keras,” Berteriaklah kalian semua bersama kami kepada Allah! Angkatlah suaramu keras-keras, berdoa memohon bantuan dan keselamatan kepada-Nya!”. Suaranya yang menggambarkan keteguhan hati dan iman yang dalam itu menggema keseluruh pulau dengan penuh wibawa. Maka berteriaklan orang-orang dengan serentak, laksana guntur mengikuti doa yang dibaca syeikh itu. Ketika syeikh itu menangis, ikut menangis pula semua orang. Syeikh itu kemudian kembali memerintahkan,”Berdoalah kamu semua! Jangan lakukan sesuatupun selain khusyu’ memohon kepada Allah!”
Maka berteriaklah mereka dengan suara yang lebih keras. Ketika syeikh itu menangis, diikuti pula dengan tangisan semua orang. Teriakan doa itu dilakukan hingga tiga kali. Sesudah itu, syeikh memandangi wajah tiap orang yang hadir di sana. Tampaklah olehnya wajah-wajah yang pasrah kepada Allah dengan penuh harap hanya kepada-Nya. Ia kemudian bertahlil dengan khusyu’. Ketika selesai, seakan ia melihat sesuatu yang menggembirakan. Maka akhirnya, ia berkata,” Naiklah kamu ke dinding benteng. Aku merasakan dalam hati, Allah melapangkan jalan bagi kita…”
Tentara Islam terpesona. Mereka mendapat ilham kemenangan, namun seakan hidup dalam mimpi yang aneh. Tak ada yang lebih mencekam kegembiraan mereka. Ternyata mereka melihat tentara Romawi berhamburan pergi. Dengan memanggul senjata mereka, tenmtara Romawi itu terbirit-birit menuju pantai. Maka kemudian bergeraklah tentara Islam melucuti musuh yang tercecer.
Sewaktu tentara Romawi itu ditanya, apa yang telah menyebabkan mereka lari ketakutan mereka menjawab,”Wakil Panglima kami memandang lebih baik menyelamatkan diri ketika mereka mendengarkan hiruk pikuk kamu yang begitu keras. Ia meletakkan tangannya didada dan berteriak,” Hatiku! Hatiku!. Tidak lama setelah itu, menjalarlah ketakutan para sayap dan pembantunya. Ketakutan yang menghancurluluhkan telah menimpa. Maka ketika mendapatkan kekuatan baru untuk melarikan diri, apalagi yang kami miliki sebagai seorang prajurit yang hanya mencoba melarikan diri?”
Tentara Romawi itu pergi meninggalkan hanta benda dan makanan, yang ternyata jumlahnya melebihi dari kebutuhan orang Islam yang mampu menutupi kekurangan mereka di hari-hari mereka tak mendapat makanan, disaat-saat mereka merasakan hebatnya kepungan. Semua bibir saling mengucapkan pujian terhadap Allah, atas kekuatan dan pertolongan yang telah diberikan-Nya. Mereka berkumpul mengelilingi syeikh tua itu, yang telah menunjuki mereka jalan untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran total.
(Dari buku kisah dan hikmah)
(IMS

)