Suatu peristiwa menarik terjadi pada suatu senja.
Kuda-kuda tangkas, tinggi besar, tenang diam,.......
dan berpacu dengan cepat ketika berlari.
Dihadapannya dipamerkan kepada seorang raja
yang kekuasaannya tak pernah dimiliki seorangpun,
baik sesudah maupun sebelumnya.
Begitu kuasanya sang raja, sampai-sampai...
anginpun berhembus kemana yang ia sukai
bahkan bukan saja manusia
setan-setanpun bertekuk lutut kepadanya.
Semua terbelenggu karenanya.
Ketika sang raja sedang keasyikan menyaksikan pameran tersebut
bahkan hampir saja waktu menunjukkan matahari terbenam
ketika itu ia tersentak:
" Aku belum shalat, aku lebih senang kepada kekayaan daripada mengingat Tuhanku",
ketika itu...diusapnya leher kuda-kuda itu dan dipotongnya.
dan dagingnya dibagi-bagikannya kepada fakir miskin.
Rupanya Allah swt telah menguji dengan kekuasaan, kini giliran Allah swt mnguji dengan kesengsaraan.............
Kerajaan pun berantakan
dia jatuh sakit, didalam al-Quran diabadikan dalam firmanNYa:
"Kami jadikan ia tubuh yang tergeletak diatas kursinya sebagai tubuh (yang lemah), kemudian ia bertobat"(QS Shad:34).
Beliau memang orang yang baik, dia tidak berprasangka terhadap Tuhannya...
dan dia pun bermohon........
"Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku, kerajaan yang tidak dimiliki seorangpun jua sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi" (QS Shad:35).
Allah swt pun menjawabnya, dengan firmannya:
" Inilah anugerah Kami (tanpa ada batas), berikanlah kepada orang lain (dengan tidak terbatas juga) atau tahanlah untuk dirimu (itupun tanpa batas)"
Itulah kisah seorang raja di raja Sulaiman as, putra Daud as yang dikisahkan dalam al-Quran.
Kisah diatas tersebut memberi pelajaran kepada kita....
Apakah manusia lupa dari mengingat Tuhannya ketika berkuasa? ....
atau Apakah manusia lupa dari mengingat Tuhannya ketika kesenangan sedang bersahabat dengannya?, ternyata semuanya tidak berlaku untuk dia.
Lalu.... ketika kerajaan berantakan dan jasad lunglai,.....
apakah putus asa?,
jawabnya tidak juga untuk dia,
bahkan tak segan memohon kerajaan yang tak pernah diberikan kepada orang sebelum dan sesudahnya....
Jin bertekuk lutut, binatang berbicara kepadanya, dan rakyat tunduk atas titahnya, akan tetapi ketika ia menerima semuanya itu, dia berkata:
"Ini adalah anugerah Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur ataukah aku kafir"(AnNaml 40).
Benar ia pernah lengah, itu adalah manusiawi, akan tetapi ia kembali kepada Tuhannya pula.
Salah satu arti hikmah adalah memahami akan kejadian yang telah menimpa kita, baik permasalahan ataupun kesudahan, pengetahuan dan kesaksiannya, bahwa sesungguhnya apapun yang ada dialam ini, termasuk hukum-hukumnya tidaklah ada yang sia-sia.
" Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak"(QS 2/269).
" Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda".
Wassalam