Teori Molekul TRANSFER FACTOR pernah diulas oleh Tempo tgl 25 juli 1992, diramalkan sebagai metode terapi penderita HIV
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1992/07/25/KSH/mbm.19920725.KSH10026.id.htmlAdu Cepat Kuasai Tubuh
Transfusi darah putih ke dalam tubuh manusia. Harapan bagi penderita kerusakan antibodi karena kanker dan AIDS.
DUNIA kedokteran membuat sejarah baru. Darah putih atau limfosit dapat ditransfusikan ke dalam tubuh manusia
tanpa menyodorkan efek samping. Terobosan di bidang imunoterapi itu dilakukan tim Fakultas Kedokteran Universitas Washington, AS, dan dimuat dalam jurnal Science, yang kemudian dikutip koran Washington Post baru-baru ini.
Penemuan ini memberikan harapan baru bagi penderita kerusakan sistem kekebalan tubuh. Misalnya, pada penderita kanker yang menjalani terapi kimia mengakibatkan sistem kekebalan tubuhnya rusak.
Limfosit, perangkat utama sistem kekebalan tubuh atau antibodi dalam memerangi invasi virus itu, diperoleh lewat rekayasa genetik. Yang menjadi "kelinci percobaan" adalah tiga pasien penderita kanker di klinik FK Universitas Washington, yang sistem antibodinya rusak parah sehingga harus menjalani tranplatasi sumsum tulang belakang.
Peneliti kemudian mengambil sel darah putih dari sumsum donor itu dan membiakkannya di laboratorium. Tidak semua bagian sel itu dibiakkan, melainkan hanya sel T saja. Sel T adalah sel induk dalam formasi darah putih yang memerintahkan produksi darah putih. Sel itu pula yang diduga akan mendeteksi dan menetralisasikan virus kanker cytomegalovirus (CMV). Setelah berbulan-bulan dibiakkan sampai mencapai jumlah ratusan juta sel, barulah disuntikkan ke dalam tubuh.
Perkembangan virus itu terus dikontrol selama beberapa minggu.
Ternyata hasilnya mentakjubkan. Sebab, sel-sel itu bukan saja tetap hidup normal dalam tubuh, tetapi juga dapat berfungsi sesuai dengan rencana, yakni menyerang dan mengalahkan virus CMV tadi. "Padahal, kami sempat khawatir jika sel yang telah mengalami begitu banyak manipulasi di laboratorium tak mampu survive di dalam tubuh manusia," kata ketua tim peneliti, Stanley Riddell.
Komentar pun melayang dari mana-mana.
"Temuan itu merupakan tonggak sejarah baru," kata imunolog dari Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins di Baltimore, Drew Pardoll. Sebab yang sudah-sudah, meski jurus semacam ini berhasil dilakukan pada hewan percobaan, tapi diragukan berhasil jika diterapkan pada manusia.
Sebetulnya teori transfer factor itu sudah dirintis Dokter Sherwood Lawrence dari Pusat Kesehatan Universitas New York pada tahun 1960-an. Ia berpendapat bahwa seseorang mendapat serangan penyakit
karena rusaknya sistem kekebalan tubuh.
Berangkat dari pendapat itu, peneliti melakukan serangkaian percobaan klinis. Di antaranya dengan cara "mencuri" sel darah putih dari orang yang sehat dan menyusupkannya ke dalam tubuh si sakit. Pada tahun 1977, peneliti di New York
berhasil merekayasa molekul kecil dari sel darah putih sehat yang ternyata, setelah disuntikkan ke dalam tubuh penderita, berkhasiat melawan penyakit TBC, lepra, beberapa jenis kanker, pengerasan jaringan pembuluh darah, dan radang persendian anak-anak (TEMPO, 11 Juni 1977).
Sejalan dengan perkembangan dunia kedokteran, teori transfer factor itu juga semakin piawai. Yang dilakukan Riddell dkk. itu bisa jadi contoh. "Kami ingin mengubah sel darah putih agar lebih manjur bekerja," kata Riddell. Ia memanfaatkan transfer genetika untuk memodifikasi sel-sel darah putih agar tumbuh baik dalam tubuh manusia.
Jika usahanya sukses, penderita AIDS juga bisa diterapi dengan transfer genetika. Setelah virus AIDS melahap sel T, penderita itu harus disuplai dengan darah putih baru. Transfusi sel T akan mengembalikan sistem pertahanan tubuh. Logikanya,
akan terjadi adu cepat, siapa lebih dulu menguasai tubuh: sel T, yang dibantu transfer genetika, atau virus AIDS.
Agaknya, itu adalah upaya sementara sambil menunggu penangkal HIV, virus penyebab AIDS, yang kini masih terus dicari.
Bambang Harymurti (Washington) dan Sri Pudyastuti R. (Jakarta)