Apapun agamanya!
Apapun harokahnya!
Apapun kelaminnya!
Apapun kegiatanya!
COBA DEH DIKIT DI PAHAMI
Diin dalam al Quran sering diterjemahkan menjadi 'agama' ini akan mempunyai arti yang jauh menyimpang sebab agama hanya diartikan sekedar kegiatan ritual saja, sedangkan diin mempunyai arti yang sangat luas.
Lihatlah QS.3/83: Allah bertanya : Apakah mereka menghendaki diin selain diin Allah, padahal semua penghuni langit dan bumi aslama (islam atau berserah diri) ada yang sukarela maupun terpaksa. Dan semua akan kembali kepada Allah.
QS.3/84 : Katakanlah : kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya. Juga percaya apa yang diturunkan kepada Musa, Isa dan para nabi ya:ng dari Robb mereka. Kami tidak membedakan dari seorangpun dianatara mereka dan kami patuh sebagai muslim.
QS.3/85 : Dan siapa yang menghendaki diin lain dari Islam tidak diterima diinya dan dia diakhirat akan merugi.
Nah kalau kita jeli dengan ayat-ayat al Quran itu kita akan mendapat gambaran bahwa :
1. Semua penghuni langit dan bumi sudah berislam kepada Allah, matahari sudah Islam, Bumi Islam, cacing Islam. Kalau cacing aslama kepada Allah, maka tidak tepat kalau cacing dikatakan ber'agama' Islam, tetapi lebih tepat cacing itu mengikuti sistem yang telah ditetapkan Allah pada dirinya. Sistem atau diin itu meliputi aturan-aturan, tugas-tugas, manfaat dll. Cacing itu sudah diatur atau dimaqodirkan Allah sebagai binatang yang tinggal didalam tanah, tugasnya menggemburkan tanah dan manfaatnya supaya air bisa meresap masuk kedalam tanah sehingga dapat tumbuh tanam-tanaman dan dapat hidup penghuni tanah lainnya. Demikian matahari aslama mempunyai aturan, tugas dan manfaat tersendiri, yang semuanya bertujuan agar saling merahmati satu sama lain. Demikian manusia diciptakan Allah supaya beribadah (bekerja) untuk Allah (QS.51/56) menurut aturan, tugas dan sabil (jalan) yang ditetapkan Allah, sehingga manusia itu menjadi rahmat bagi alam (QS.21/107) supaya manusia itu menjaga alam menjadi mizan, tertib, adil dan sejahtera. Manusia bisa melakukan itu hanya kalau diatur berdasarkan ilmu dari Allah saja.
2. Kalau dilihat QS.3/84 : maka kitab-kitab Allah itu adalah merupakan suatu ketetapan, aturan dan undang-undang yang mesti dipatuhi oleh manusia tanpa membedakan satu sama lain (lihat QS.2/213). Ayat ini sungguh bertentangan dengan kepemahaman yang biasa kita dengar bahwa setiap nabi diberikan kitab hanya diberlakukan untuk ummatnya masing-masing. Kalau antum baca QS.2/213 maka jelas diturunkannya kitab-kitab itu sebenarnya untuk meluruskan kitab-kitab Allah yang telah dirubah manusia. Baca Qs.5/48, bahwa al Quran adalah sebagai muhayminan atau batu uji buat kitab-kitab sebelumnya, itu bukan berarti kitab Allah yang dahulu tidak sempurna, bukan, tetapi kitab yang ada sebelum al Quran sudah dicampuri dengan tulisan-tulisan oleh para ahli kitab (QS.2/79), sehingga setelah Taurat diturunkan Injil, setelah Injil diturunkan al Quran. Al Quran sebagai wahyu sudah sempurna dalam arti susunan surat, ayat, bahasa maka Allah telah jaga al Quran itu. Adapun kandungannya tetap sama, oleh karena itu kita harus mempunyai sikap bahwa Bible adalah tetap kitab Allah, sebab kita tidak boleh membedakan satu kitab dengan lainnya (QS..2/136), maka apabila ada ayat-ayat Bible yang sama dengan al Quran, maka ayat itu tidak boleh ditolak. Justru kesamaan-kesamaan itu harus dijadikan sarana untuk meyakinkan ummat Jahudi dan Nasrani bahwa al Quran ini memang benar-benar dari Allah dan tidak ada kesalahan didalam al Quran.
3. Didalam QS.3/84 dikatakan barang siapa yang mengikuti diin selain Islam tidak akan diterima diinnya. Apa artinya ini, kalau diin diterjemahkan dengan 'agama' maka akan terjadi kekacauan pengertian bahwa orang islam tidak boleh memakai 'agama' Jahudi dan Nasrani tetapi boleh menerima kapitalisme, komunisme, marhaenisme, pluralisme, bebasisme dll kan rancu, sehingga diin disini lebih tepat diartikan sebagai sistem. Maka barang siapa mengikuti diin selain Islam, apakah Jahudiisme, Kristenisme, Kapitalisme, Hedonisme, Marhaenisme, Hedonisme dan isme-isme yang lain maka tidak akan diterima. Kesalahan mengartikan diin sebagai 'agama' maka hanya akan menimbulkan sentimen anti agama. Contohnya bahwa seorang Muslimah jelas menolak Krsiten sebagai diinnya, tetapi dia meniru-niru gaya hedonisme dan materialisme yang mengekploitasi habis tubuhnya dengan pakaian-pakaian yang mengumbar aurat tanpa dia merasa bahwa dia telah melanggar QS.3/85 !!!
Untuk mengetahui Islam sebagai sistem, maka kita bahwa QS.1 dan 114. Dalam Surat Al Fathehah Allah memperkenalkan diri sebagai Roobul 'alamin = sebagai pembuat aturan, pembuat hukum, yang memandaikan dan memperkenalkan diri sebagai Maliki yaumiddin = sebagai Penguasa tegaknya diin, dan sebagai Ma'bud = Yang wajib diibadati, yang wajib patuhi. Allah memberikan instruksi kepada manusia agar berjuang dijalan yang lurus mengikuti rasul-rasul dan orang-orang yang telah diberi nikmat jangan mengikuti jalan orang-orang yang dimurkai. Berjuangnya bagaimana dan bagaimana bentuknya, maka berjuangnya adalah tegakkan diin (QS.42/13), dan menangkan diin Allah diatas diin-diin lainnya (QS.61/9). Dengan berjuang itu maka Allah akan dijadikan manusia sebagai Robbinnas, Malikinnas, Ilahinnas dimana manusia hanya akan taat kepada hukum Allah (rubbubiyallah), kekuasaan Allah (mulkiyallah) dan ketaatan hanya kepada Allah (uluhiyallah). Maka Rubbubiyallah, Mulkiyallah dan Uluhiyallah menjadi pilar utama dalam diin Islam itu.
Thoghut itu adalah lawan Allah (QS.2/256), Allah pelindung dari pada orang-orang beriman dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada nur, sedangkan thoghut adalah pemimpin orang kafir yang mengeluarkan mereka dari nuur kepada kegelapan (dzulumat) (QS.2/257). Thoghut dengan demikian siapa saja yang menolak rubbubbiyallah, mulkiyallah dan uluhiyallah. Negara thoghut adalah negara yang yang memakai hukumnya sendiri, mendirikan kekuasaan sendiri dan taat kepada pimpinan nasionalnya. Sedang daulah mu'min adalah daulah yang dipimpin Rasulullah, memakai hukum Allah, menjadi khalifatullah, dan hanya taat kepada Allah.