Jangan pernah berhenti bertanya…….
[/b][/color]
Siapa, apa dan mengapa?. Kata tersebut sering terpikir dalam benak kita, baik sengaja atau tidak sengaja, baik yang terucap ataupun yang tidak terucap apabila kita ingin mengetahui sesuatu hal. Hal tersebut disebut rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu timbul karena dorongan panca indera ke pikiran dan perasaan. Dalam sains, pikiran diidentikkan dengan akal , sedang perasaan dengan hati. Dan hal ini merupakan suatu anugerah dari Allah yang Maha kuasa dan Pemurah kepada kita, manusia.
Allah SWT memfasilitasi semua itu kepada manusia agar manusia bisa menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Akal sebagai pengendaranya, hati sebagai pengendalinya dan tubuh sebagai kendaraannya.
Nabi Ibrahim as. adalah salah satu orang yg sukses dalam rasa ingin tahunya yang besar tentang keberadaan Penciptanya, jati dirinya sebagai khalifah dimuka bumi ini. Karena beliau memulainya sendiri dengan bertanya, membaca, memahami, serta membuktikannya melalui berbagai fenomena alam semesta, terutama tentang keberadaan sang sang Pencipta, Allah SWT. Kepada rajanya yang bernama Namrud dengan penuh keteguhan tanpa takut oleh kedzaliman sang raja. Dari sinilah ilmu ketauhidan muncul dan berkembang.
Rasa ingin tahu yang besar merupakan penggerak dari berkembangnya ilmu pengetahuan. Karena dari sifat ingin tahulah, manusia mau berusaha atau melakukan sesuatu hal, baik itu terpaksa atau tidak untuk mengatasi rasa penasaran dan ingin tahunya, terutama belajar atau membaca. Allah SWT berfirman;
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang telah mengajar (manusia) dengan kalam. Dia mengajar manusia, apa yang tidak diketahuinya.”(Al-Alaq: 1-5).Ayat – ayat tersebut menyuruh manusia untuk selalu belajar demi kebaikannya di dunia maupun di akhirat. Sekaligus mengandung makna bahwa membaca merupakan pintu gerbang dari ilmu pengetahuan yang mampu membuat manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.
Ilmu pengetahuan yang paling sulit dan lama adalah ilmu tentang diri, yakni ilmu yang mempelajari tentang siapa , bagaimana dan untuk apa diri ini hidup. Disertai dengan segala hal yang mencakup tentang diri. Karena tiap pribadi manusia akan terus berperang dengan apa yang namanya hawa nafsu yang telah dan akan terus dikobarkan oleh syetan sejak manusia diturunkan ke bumi. Yang mampu membuat manusia lalai dari apa-apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai hamba dari sang Maha Kuasa , Allah SWT.
Manusia memang diberi kemuliaan sebagai khalifah di muka bumi, tetapi di sisi lain menanggung beban berat dalam menjalankannya. Maka dari itu, hanya orang-orang yang berpikir yang akan mampu dan sukses menjalankannya. Berpikir jernih tentang siapa, apa, bagaimana dan untuk apa dirinya hidup. Allah SWT. Memberikan petunjuk kepada manusia, melalui nabi besar Muhammad saw., yakni Al-Qur’an. Sebagaiman firman Allah SWT. Dalam surat Al-Baqarah ayat 2, sebagai berikut;
“Kitab AlQur’anul karim tidak disangsikan (kebenarannya). Menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa “.
Ilmu pengetahuan sangat penting, sampai Rasulullahpun bersada; “ Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina dan liang lahat sekalinpun”(Al-Hadist).Disamping itu juga, Rasulullah menekankan bahwa akal haruslah dibarengi dengan hati nurani, yakni makin tinggi ilmu seseorang maka dibutuhkan moralitas yang tinggi pula. Itulah fungsi dari akal dan hati manusia sebagai khalifah. Dan itulah sebaik-baiknya manusia dimata sang Penciptanya, Allah SWT yang Maha Kuasa dan Agung. Maka sudah sepatutnya kita kembali berpikir dan merenung tentang diri sendiri, yakni siapa, apa dan mengapa kita diciptakan oleh Allah SWT?
@IMS@
