mungkin mas jhana termasuk orang2 yang berpikir dan berpendirian "silakan saja obok2 Islam" asalkan hidup dengan damai (damai dari mana ya? dari hongkong?)
dan saat Islam menunjukkan sikap maka otomatis Islam yang akan jadi sasaran tembak dengan segala macam embel2 sepert anarkis, tidak toleran, dsb..... ( jadi sedih Sedih deh )
klo memang mas jhana tidak merasa terusik dengan adanya kumpulan si rasul palsu itu... so ngapain repot2 mas jhana ngajakin debat segala... mendingan mas jhana bobo manis menikmati waktu dalam "kedamaian" .....
saya tidak merasa terusik, dalam arti keberadaan mereka dan faham yang diajarkan mereka tidak membuat saya marah dan benci. berbeda halnya dengan doktring wahabi yang wewajibkan umatnya untuk marah, benci dan cemburu terhadap sesuatu yang dianggap bertentangan dengan kebenaran. doktrin dan karakter wahabi seperti itu tidak saya ikuti karena perbuatan seperti itu merupakan bentuk kedzaliman terhadap diri sendiri.
kemarahan, kecemburuan dan kebencian adalah sesuatu yang merusak diri sendiri dan orang lain. sebagian orang mengira bahwa kebencian yang ditujukan kepada orang-orang dzalim dapat mengurangi kedzaliman di dunia ini. seperti misalnya kemarahan dan kebencian yang ditujukan kepada lia eden yang berakibat kepada dipenjaranya lia eden. mungkin mereka berpendapat bahwa dengan dipenjaranya lia eden, maka berkuranglah kemunkaran di dunia ini. tetapi pandangan mereka itu salah, karena setiap kebencian dan kemarahan yang muncul itu pasti menambah bentuk-bentuk kedzaliman di muka bumi. kesabaran dan kasih sayang, itulah yang dapat mengurangi kedzaliman di muka bumi ini. kita hanya diperbolehkan mengacungkan senjata, apabila orang-orang kafir itu yang terlebih dahulu menodongkan senjata kepada kita. selama mereka tidak mendahului dengan kekerasan, maka tidak ada hak bagi kita untuk menggunakan kekerasan terhadap mereka.
kemarahan, kebencian, dan kecemburuan merupakan sesuatu yang sangat mengotori hati. siapa yang menyimpan perasaan-perasaan seperti itu di dalam batinnya, maka shalatnya akan menjadi kosong dari makna. shalatnya hanya akan merupakan rangkaian gerakan dan bacaan saja, tampak berdampak kepada kesucian batin dan tidak akan mengantarkan seseorang kepada pintu gerbang makrifat. oleh karena itu, kemarahan dan kebencian adalah mustahil merupakan bagian dari ajaran Islam.
sebagian orang berpendapat bahwa "kebencian kepada sesuatu yang dibenci Allah adalah hal yang benar. marah karena Allah adalah hal yang benar". kalimat tersebut memang benar. tetapi, orang-orang tidak mengerti maknanya dengan benar. kemarahan yang karna Allah sesungguhnya bukan "marah". kebencian karena Allah sesungguhnya bukan "benci". mereka yang masih berkeyakinan bahwa kemarahan terhadap bentuk-bentuk kedzaliman adalah hak, maka mereka perlu belajar untuk melihat tentang keadaan batin, apa yang dapat menodainya dan apa yang dapat mensucikannya. jika mereka sendiri dapat melihat bahwa kemarahan itu benar-benar membuat hati yang bersih menjadi penuh noda yang lengket dan menjijikan, maka tentulah mereka akan yakin bahwa kemarahan seperti itu mustahil merupakan ajaran Allah yang maha lemah lembut. tetapi, mereka tidak tahu apa yang dapat menodai hati dan apa yang membersihkan hati, karena mereka tidak belajar "melihat hati".
kenapa kita harus marah kalau ada orang yang mengobok-obok Islam? aku heran, Islam seperti apa yang bisa diobok-obok? Islam itu tidak akan pernah bisa diobok-obok. yang bisa diobok-obok itu adalah perutnya orang yang bermental "tahu", yang kalau tersinggung sedikti saja maka dia berang seperti orang kesurupan. juga sangat konyol itu orang-orang yang menyerang orang lain karena menuduh orang lain telah merusak akidah Islam. padahal akidah Islam tidak akan pernah rusak, tetapi akidah dia sendiri yang telah rusak. karena dia tidak memiliki akidah yang mapan, sehingga untuk bisa beristiqomah dalam akidahnya yang lemah tersebut adalah dengan cara "menggempur" setiap orang yang kira-kira bisa menggocangkan akidahnya. kalaulah dia itu memiliki akidah yang mantap, tentulah tidak perlu menggempur siapapun, sebab akidah Islam maupun akidah dia sendiri tidak akan pernah "goyang" hanya karena bermunculannya isme-isme sesat. justru disitulah kebenaran dna ketinggian akidah islam diuji. jika akidah islam itu adalah hak, tentu dapat menunjukan kebenarnanya dengan dalil yang benar tanpa harus melempari rumah orang lain dengan batu. jadi jelas, sebenarnya apa dan siapa yang diobok-obok? yakni mereka yang lemah iman dan ilmu.
orang-orang ingin membubarkan ahmadiyah bukan karena mereka sendiri takut terpengaruh ahmadiyah, tapi khawatir faham tersebut menyebat ke anak-anak mereka atau teman-teman mereka yang iman dan ilmunya masih lemah. lha, masa MUI kalah pengaruh dengan ahmadiyah? kalau ulama-ulama kita memang memiliki ilmu yang benar, gak usah khawatir dengan pengaruh ahmadiyah, sebab umat akan diajari ilmu yang benar yang dapat mengalahkan argumentasi ahmadiyah yang dengan demikian ahmadiyah yang akan terpengaruh oleh faham ulama kita. upaya menekan ahmadiyah secara fisik, mental dan politik memberikan kesan kalau dalil terkuat dari ulama-ulama non ahmadi tersebut adalah "bogem mentah", dan "katapel" atau "bom molotov".
hal yang harus dilakukan oleh para ulama seharusnya meningkatkan pembinaan agama terhadap umat, terutama di wilayah-wilayah yang rawan penyebaran ahmadiyah, sehingga umat menjadi pintar dan terpelajar. lalu mereka akan berkomunikasi dengan kuam ahmadi, dan kaum ahmadi dapat menjadi insyaf karena mendapat penerangan yang jelas. hal tersebut memang tidak mudah, dan memang mustahil seluruh umat ahmadi menjadi isnyaf karena suatu diskusi, akan tetapi kita harus ingat bahwa hidayah itu milik Allah. saya sendiri penentang mereka yang suka melakukan kekerasan terhadap sekte yang dianggap sesat. tetapi bila mereka masih tetap dalam pendiriannya untuk "menggempur" sekte sesat tersebut secara radikal, ya itu silahkan saja. toh semua amal perbuatan akan kembali ke dirinya sendiri. "fa man ya mal mistkoola darrotin syarroi yaroh. waman yak mal mistkola darrotin khoiron yaroh". Allah tidak akan melewatkan balasan amal perbuatan seseorang walaupun sebesar daroh.
aku juga tidak perlu khawatir terhadap mereka yang menganggapku sesat dan akan bersikap radikal, sebab Allah berjanji dalam alQuran bahwa siapa yang mengikuti jalanNya, maka tidak ada kekhawatiran dan kesedihan baginya. jika kita masih menghawatirkan hal-hal seperti itu, berarti masih harus dipertanyakan, apakah kita sudah benar-benar mengikuti jalannya?
aku tahu, walaupun seribu tahun aku menyebarkan ajaran "tanpa kekerasan", tetapi di muka bumi ini tidak akan pernah sepi dari ajaran orang-orang yang menyeru untuk melakukan kekerasan secara batil. aku tidak perlu mengkhwatirkan semua itu, sebab semua manusia berjalan diatas takdirnya masing-masing, semua manusia mencari jalan keselamatannya sendiri-sendiri. bila aku dapat menasihati diriku sendiri, sehingga tidak mengumbar amarah dan kebencian terhadap pihak-pihak yang dianggap menganut ajaran sesat, berarti aku telah berhasil dalam berdakwah, setidak-tidaknya berkurang satu orang
bajingan (orang jahat) di dunia ini.