Tetanggaku ada yang mengaku rasul. (kata orang dia mengaku rasul)
saya diundang ke majelis taklimnya pada hari raya natal.2 desember . acara tersebut memang digelar untuk memperingati Yesus Kristus.
setelah jamaah berkumpul, sang rasul palsu berdiri, "wahai manusia, jin dan malaikat yang ada di sini, dengarkanlah baik-baik....!" lalu dia berpidato panjang lebar, memuji-muji nabi musa, nabi isa dan nabi muhammad.
setelah mendengarkan pidato, semua jamaah berdiri untuk melaksanakan shalat sunat.
pada saat sujud, sang rasul palsu membaca kalimat "Allahumma solli ala sayidina isa ibna maryam" dibaca berkali-kali.
saya diajak untuk menjadi pengikutnya. saya menjawab, "boleh, asal saya diizinkan untuk berdebat dengan dia. kalo saya kalah dalam debat, maka saya rela menjadi pengikutnya."
perdebatan digelar
rasul palsu berkata, "doamu tidak akan terkabulkan, kecuali bila aku melaporkannya kepada Allah. apa yang kau kehendaki akan segera terbukti, bila aku melaporkan permintaanmu kepada Allah. lihat saja diriku, tadi siang aku tidak memiliki uang sepeserpun, tapi aku melaporkan kepada Allah bahwa aku ingin mengajak umat untuk merayakan natal, dan lihat hasilnya, hidangan yang nikmat-nikmatpun hadir dihadapan kita tanpa diduga-duga. kau akan menjadi orang kaya, bila menjadi pengikutku."
aku menjawab, "aku tidak tertarik menjadi kaya, bahkan lebih enak hidup miskin seperti sekarang ini, bahkan aku berdoa agar tetap menjadi orang miskin."
dia membalas, "kehendak untuk menjadi orang miskin, menjauhi kekayaan dunia adalah ajaran tasawuf yang bodoh. dan menjadi sumber kebodohan umat Islam, menghambat kmajuan. nabi muhammad menghendaki agar umatnya kaya raya semuanya. tidak seorang nabipun yang miskin. tinggalkakan ide bodoh untuk menjadi orang miskin. kejarlah kekayaan sebanyak-banyaknya. begitulah ajaran Islam yang benar. lihat muridku, mereka ingin motor, aku laporkan kepda Allah, besoknya merkea mendapat motor. mereka ingin rumah, aku laporkan kepada Allah, tak lama kemudian kbeli rumah. syarat harus menjadi pengikutku dulu dan bersyahadat bahwa aku adalah rasul dan pemimpinmu."
"bahkan aku merasa ngeri bila membayangkan diriku menjadi orang kaya." jawabku.
"berarti bukan nabi muhammad yang kau ikuti, melainkan sidharta gautama, sang bagavad. orang yang suka menyendiri, menjauhi kekayaan, dan hidup di hutan-hutan adalah orang yang mengikuti jejak langkah bagavad (begawan), bukan yang mengikuti ajaran nabi muhammad." jelas dia, lalu melanjutkan, "untk beribadah kepada Allah itu membutuhkan ketentraman. dan kau tidak akan pernah tentram bila kau tidak punya uang."
"jadi, ketentraman itu bergantung kepada uang? kalau ketentraman itu bergantung pada uang, maka betapa rapuhnya ketentraman itu. karena uang belum tentu ada setiap saat. tetapi barang siapa yang mengagantungkan ketentraman dengan dzikrullah, maka setiap waktu dan setiap saat, orang dapat melakukannya." jawab saya.
dia lalu tampak marah dan berkata, "emanknya, siapa yang lebih baik antara ente dengan para rahib Yahudi?" tanya dia.
"apa yang hendak dibandingkan, apanya yang harus dinilai lebih baik atau lebih buruk? pakainnya, harta bendanya, perkataannya, atau apanya?" tanya saya.
"tentu lebih baik rahib-rahib yahudi dari pada ente."
"kenapa?" tanya saya lagi.
"lihatlah rahib-rahib yahudi itu terkenal, kemanapun mereka pergi selau diikuti dan dikawan oleh banyak pengikutnya. sedangkan ente, mana. kemanapun pergi sendiri tanpa ada yang mengantarkan." kata dia.
"wha...ha...ha... aku tidak percaya ada rasul berkata begini. apakah baik buruknya sesuatu itu dinilai dari berapa banyak orang yang mengatarkan seseorang ketika dia pergi, ata berapa banyak orang yang mengerumuni dia ketika dia duduk, ataukah dinilai dari berapa tenarnya dia di dunia. wha...ha...ha.... mustahil kebenaran adalah seperti itu.
sang rasul palsu tampak makin marah.
"siapa orang ini. berani-berani datang kemari, dengan tidak sopan mendebat sama saya?" dia berang.
"Tuan Rasul, saya datang ke sini karena diudang oleh sahabat saya yang menjadi pengikut Tuan." jawab saya. "dan saya diajak untuk menjadi pengikut Tuan. saya bilang bolehlah, asal diizinkan berdebat dengan Tuan. bila tuan dapat menjawab dengan benar pada semua pertanyaan yang akan saya ajukan, maka saya bersedia menjadi pengikut Tuan."
"tanyakanlah!"
"sebagiannya telah saya tanyakan. dan kini saya akan bertanya tentang "aku". dimanakah "aku" berada?" tanya saya.
dia mengerutkan dahi, tanda tidak suka. "kau ini gila, dirimu sebegitu jelasnya ngajentul di depan mata, masih bertanya dimana "aku"? sintingkah kau?"
waduh....
debatnya panjang euy....capek ngetiknya. dah dulu ah...