Membangun Pusat Bisnis dari Masjid
Ratusan ribu jumlah masjid di Indonesia. Seharusnya bisa menjadi kekuatan ekonomi raksasa.
Hari itu, langit di atas Masjid Sunda Kelapa nampak gelap. Mendung bergantung. Padahal waktu belum lagi tengah hari. Suara lantunan ayat-ayat suci terdengar dari corong masjid. Di pelataran masjid, meski angin menebar dingin, para pedagang mulai menggelar barang, mereka berharap agar hari tak turun hujan.
Zulkher (35), sejak pagi telah bersiap-siap. Ia berangkat dari rumahnya di wilayah Palmerah, Jakarta Barat. Membawa dagangan aneka rupa peci. Ada peci haji, kopiah hitam, juga yang bermotif. Barang-barang itu ia ambil dari pasar Tanah Abang, tapi ada juga pengrajin yang mengantar langsung kepadanya.
Barang dagangannya, tak ada yang mahal. Semua murah. Ada peci seharga 5 ribu rupiah saja. Paling tinggi 25 ribu rupiah. Tak setiap hari Zulkher menggelar dagangannya di Masjid Sunda Kelapa. Setidaknya, hanya Jumat dan Ahad. Dan per hari, minimal ia mengantongi keuntungan 150 ribu rupiah, untuk dibawa pulang.
“Berjualan di masjid terasa lebih berkah. Lagi pula tidak khawatir dikejar-kejar aparat, seperti kalau kita jualan di pinggir jalan,” ujar lelaki berkulit gelap itu dengan mimik wajah yang ramah. Usai shalat Jumat, para pedagang ramai menjajakan barang. Jamaah berhambur keluar dari masjid. “Dipilih!” “Dipilih!” “Dipilih!”
Tapi Zulkher tampak tenang. Ia tak berteriak-teriak menjajakan dagangan. Mungkin dalam hati ia meyakini, Allah telah mengatur segenap rezeki. Tak hanya pedagang barang, penjaja makanan pun memenuhi badan jalan di depan Masjid Sunda Kelapa. Menyambut para jamaah yang keluar dengan perut keroncongan. Beraneka masakan dijual. Tongseng, Mie Ayam, juga Sate Padang.
Firdaus (34), pedagang Sate Padang, seperti hari-hari Jumat yang lain. Ia sibuk melayani jamaah usai menunaikan shalat Jumat. Paling minim, Sate Padang milik Firdaus beromzet 500 ribu rupiah. Setiap satu porsi ia mengambil untung 8 ribu rupiah. Dan untuk untuk minimal dengan jumlah di atas, ia harus menyediakan modal setidaknya 200 ribu rupiah. Dan alhamdulillah, ujarnya, meski tak mewah, ia bisa bertahan hidup dengan keluarganya di Jakarta.
Hari Jumat memang penuh berkah. Tak hanya untuk orang-orang seperti Zulkher dan Firdaus yang berdagang di lingkungan Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Bagi Riyan (27), pedagang Soto Madura di Masjid Pusat Dakwah Indonesia (Pusdai), Bandung, Jumat juga terasa nikmatnya. Meski baru merintis dagangannya setahun yang lalu, Riyan yakin dari Soto Madura, ia bisa mengais rezeki di Masjid Pusdai.
Ia punya alasan sederhana saat berdagang Soto Madura di Masjid Pusdai, Bandung. “Biar saya bisa shalat tepat waktu,” ujarnya ringkas. Istrinya seorang buruh tekstil di sebuah perusahaan, karenanya tak turut berdagang. Dengan dagang di masjid, ia cukup merasa aman meninggalkan dagangan saat azan berkumandang.
Selain Jumat, hari yang juga ditunggu-tunggu Riyan adalah Ahad. Jika Jumat ia berharap pada jamaah shalat Jumat, dan jika Ahad, ia bertumpu pada pengunjung banyak acara yang diadakan di Masjid Pusdai, termasuk pengajian Ahad Dhuha.
Dagangannya tak mahal, seporsi Soto Madura, hanya 4 ribu rupiah. Sehari ia bisa menjual 40 sampai 50 porsi, dengan keuntungan 1500 rupiah per porsinya. Alhamdulillah, dari usahanya tersebut, ia mampu membeli sebuah sepeda motor dan perlengkapan rumah tangga lainnya. “Saya membelinya dengan cash,” ujarnya dengan nada bangga. Dan ia masih bisa menabung dari sisa-sisa kebutuhan rumah tangga.
Masjid bagi Riyan memiliki banyak kelebihan. Selain tak ketinggalan shalat jamaah dan punya konsumen yang jelas, ia juga tak pernah khawatir pada razia pedagang kaki lima. “Pernah roda gerobak saya diambil petugas, dan tak dikembalikan. Rugi 1 juta rupiah saya. Tapi biarlah, mungkin ujian dari Allah,” ujarnya mantap.
Soto Ayam Madura milik Riyan, terbilang cukup dikenal. Kalau yang satu ini, tak terlepas dari hobi Riyan yang senang menyambung silaturahim. Sejak enam bulan lalu, ia malah telah mewajibkan dirinya untuk menyisihkan infaq setiap hari. “Biasanya, kalau sudah sebulan, dana infaq itu saya salurkan untuk fakir miskin,” ujar Riyan yang kini sedang berpikir untuk membuka cabang warung sotonya di masjid yang lain.
Riyan memang menjadikan masjid sebagai pusat orientasi bisnisnya. Alasannya sangat mudah. “Saya merasakan usaha saya berkah, saya dimudahkan shalat tepat waktu dalam jamaah, dan bisa bersilaturahim dengan siapa saja lewat usaha soto ini,” ujarnya dengan riang saat dikunjungi SABILI pekan lalu. Riyan dengan sotonya terbilang cukup mapan. Masjid juga mampu membuat Ujang (31) bertahan hanya dengan berdagang teh dalam botol saja. Pada botol-botol minuman yang ia jual, ia bisa menghidupi anak dan istrinya. “Masjid tak pernah sepi dari jamaah,” begitu Ujang memberikan penjelasan. Padat, singkat dan jelas.
Kini, dari berjualan minuman, ia bisa menyewa rumah meski kecil. Untuk anak dan istrinya. Anaknya sekolah dengan lancar. Tentu saja keuangan mengalami naik turun. “Ya, pintar-pintar ngaturnya saja,” kiat Ujang untuk mengakali kondisi. Tapi ia bersyukur, sampai hari ini keluarganya tak pernah kelaparan, meski hanya sehari. Dan masjid, tempatnya mengais rezeki.
Di Masjid Al Akbar Surabaya, penjual minuman juga menangguk untung dari masjid. Hariyanto Hutomo (37) berjualan es degan alias es kelapa muda sejak 1999 silam di Masjid Al Akbar. Hari-hari biasa, ia mengaku memperoleh keuntungan standar. Tapi jika Ramadhan datang, omzet dagangannya bisa berlipat-lipat. Sehari saja, ia bisa mengupas 60 butir kelapa muda.
Tapi sejak kenaikan harga BBM yang terakhir, Hariyanto mengaku penghasilannya tak cukup ditarik ke bawah dan tak cukup diulur ke atas. “Pembeli setiap mau beli selalu tanya dulu, harganya berapa?” kenang Hariyanto.
Keuntungan yang tak meningkat, bersanding kebutuhan yang kian tinggi, membuat Hariyanto mau tak mau berkeluh kesah juga. “Jangankan makan enak, mas. Untuk beli lauk makan setiap hari saja susah,” katanya sambil menarik napas berat.
Suatu hari, anaknya yang masih berusia lima tahun dan baru duduk di Taman Kanak-kanak, tergiur membeli mainan seperti temannya. Saat itu, hati Hariyanto seperti teriris-iris. Mainan untuk anak, adalah barang mewah dalam hidupnya. Meski harganya murah. Uang lebih baik untuk membuat dapur terus berasap. “Tapi, ya namanya anak, akhirnya saya mencari utangan dulu, terpaksa. Baru setelah ada uang, nanti di bayar,” tutur Hariyanto.
Di Jakarta, Bandung dan Surabaya, cerita gembira, sukses atau sedih, masjid nyaris tak ada andil sama sekali. Di Masjid Sunda Kelapa, keterlibatan masjid hanya pada penarikan retribusi sebesar 2500 rupiah per pedagang. Di Bandung malah lebih sedih lagi. Meski masjid tak menarik Ujang retribusi, Ujang selalu menyisikan rezeki mengisi kencleng derma. Para preman lebih besar memungut rupiah. Mereka tak lagi peduli masjid atau bukan, malak terus dilakukan. Di Surabaya, barangkali para pengurus Masjid Al Akbar sama sekali tak kenal nama pedagang es degan yang mangkal berjualan.
Bahkan ketika Riyan di Bandung mencoba perluasan bisnisnya, pengurus masjid sama sekali tak tahu menahu apa yang telah diberikan pada pedagang dari Madura ini. Bahkan, jangan-jangan para pengurus masjid di mana saja, tak tahu berapa banyak pedagang yang memanfaatkan lingkungan masjid untuk bertahan hidup?! Atau bahkan mereka tak menganggapnya?
Masjid sama sekali tak memiliki peran apapun dalam hidup mereka. Para pedagang ini bertahan dan hidup hanya dengan mengandalkan insting ekonomi purba; di mana berkumpul orang, di sana berada uang. Padahal, masjid sebagai simbol dari ajaran Islam yang mulia, bisa melakukan banyak hal untuk mereka. Tidak saja memakmurkan masjid, tapi juga mensejahterahkan jamaah dan menjadi pusat perputaran ekonomi umat. Dan sesungguhnya, di sanalah letak salah satu substansi ajaran Islam. Menegakkan keadilan, meratakan kesempatan dan memberdayakan yang lemah.
Masjid, di sadari atau tidak, sampai saat ini menjadi tempat untuk bertumpu bagi banyak orang. Ketika gelombang tsunami menerjang, masjid menjadi tempat untuk mencari keselamatan. Ketika kampung terbakar dan rumah-rumah lantak dimakan api, masjid menjadi tempat berteduh. Ketika terjadi kerusuhan demi kerusuhan, masjid menjadi pusat memberikan pelayanan. Bahkan ketika krisis ekonomi menghantam, masjid lagi-lagi menjadi tempat alternatif untuk bertahan.
Saat ini, jumlah masjid di seluruh Indonesia kurang lebih 700 ribu banyaknya. Tersebar dari Sabang hingga di pucuk-pucuk pegunungan di Papua. Berbagai jenis dan ukurannya, di kampung dan perkotaan, masjid seharusnya menjadi pusat pemberdayaan.
Di Jawa Barat saja, menurut data Dewan Masjid Indonesia wilayah Jawa Barat, data terakhir pada tahun 2004, ada 117.00 masjid. Dan data BPS menyebutkan, hampir 90% penduduk wilayah ini beragama Islam. Tapi 50% di antaranya berada di tingkat kemiskinan dengan rata-rata pendidikan, 50% Sekolah Dasar.
Bukan angan-angan, pasti ada yang bisa dilakukan dengan jumlah masjid yang demikian besar. Tidak saja memberdayakan masyarakat secara ekonomi, pada akhirnya jika dikelola dengan benar, masjid mampu mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang dirahmati. Sudah saatnya, masjid bukan saja tempat yang sakral. Saking sakralnya masjid hanya berfungsi sebagai tempat shalat dan pengajian semata. Masjid juga tempat yang strategis, untuk mengembangkan bisnis umat, untuk memberdayakan masyarakat, untuk memperkuat ekonomi umat. Karena Muslim harus menjadi dan melahirkan generasi-generasi yang kuat.
www.sabili.co.idKita semua tahu bahwa perekonomian bangsa ini sebagian besar dipegang oleh non-muslim, sedangkan kita yang mayoritas hanya sebagai konsumen. Sehingga mau tidak mau setiap kita membeli sesuatu kita semakin memperkaya mereka (non-muslim).
Islam mengajarkan kewajiban berzakat pada umatnya untuk membantu fakir miskin, tapi kenyataannya banyak dari kita yang menyepelekan kewajiban tersebut sehingga banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan. Dimana hal tersebut dimanfaatkan oleh non-muslim untuk mengkufurkan saudara-saudara kita.
Zakat yang terkumpul pada saat menjelang Idul Fitri seolah tidak bermanfaat, karena banyak yang dibagikan untuk panitia sendiri dan kaum yang sebetulnya tidak berhak menerima zakat malah kebagian zakat. System pembagian zakat yang langsung diberikan berupa beras atau uang pada fakir miskin menurut saya kurang mendidik. Dengan pembagian zakat ini memang kaum fakir miskin pada saat itu tidak kekurangan, tapi pada bulan-bulan berikutnya mereka tetap akan kekurangan lagi.
Usul saya pada para pengelola masjid agar dana zakat yang terkumpul dikelola seperti lembaga keuangan. Dana yang terkumpul tidak seluruhnya dibagikan, tapi hanya sebagian kecil saja yang dibagikan untuk kaum yang benar-benar fakir miskin. Sisanya diberikan dalam bentuk pinjaman tanpa bunga pada fakir miskin untuk membuat/memajukan usahanya. Dan kalau bisa dibuat unit usaha pada masjid tersebut.
Bentuk pinjaman tanpa bunga ini sebaiknya diikuti dengan bantuan pelatihan dan pengelolaan usaha, sehingga fakir miskin yang dibantu benar-benar merasakan manfaatnya.
Sudah seharusnya kita umat Islam sadar bahwa Masjid bukan hanya sarana atau tempat beribadah, tapi Masjid juga tempat yang strategis, untuk mengembangkan bisnis umat, untuk memberdayakan masyarakat, untuk memperkuat ekonomi umat. Karena Muslim harus menjadi dan melahirkan generasi-generasi yang kuat.