22 Mei 2013, 04:20:19
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
"myQ Pala"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (HR Bukhari)

img_iklan_board/1298237041.gif

Penulis Topik: mazhab sendiri  (Dibaca 1301 kali)

Offline Sakura_Nop

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 15
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Fokus...belajar buat website..!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #15 pada: 10 November 2009, 09:07:23 »
apakah saya salah membuat mazhab saya sendiri...dari apa yang saya baca dan saya lihat dan dengarkan....karena saya takut....salah jalan nantinya....sehingga menyimpang dari ajaran allah....yang intinya saya hanya menyimpulkan bahwa pola pikir saya hanya keseimbangan dgn metode segitiga......bahwa saya ingin mengenal allah dan mendekatkan diri saya hanya kepada alllah sehingga saya bisa sukses dunia dan akhirat ....bahwa dengan metode segitiga saya yg saya jalanin hanya SHOLAT 5 waktu trs zikir asmahulhusnah dan baca al-quraan sebagai pedoman saya hidup dimuka bumi....dan menjadikan ia sebagai dasar pemikiran....
Assalamu'alaikum, salam kenal semua....
Perlu ditanyakan ke TS, maksudnya gmn?  :hmmm:
Apa begini : Kita menyebutkan diri kita seorang muslim saja. Berpedoman kepada Al-Qur'an & Hadits, mencontoh salafush shalih.
Dalam memutuskan suatu hal/masalah yg akan kita lakukan... berusaha sesuai kemampuan kita untuk menimbang-nimbang dan meneliti diantara pendapat mazhab atau diantara para muhaditsin (pakar hadits)...sebab untuk menentukan keshahihan suatu hadits sj ...diantara muhadits ada yg berbeda. :hmmm:

Tapi ini untuk diri sendiri saja dan tidak bermaksud mengajarkan ke orang lain dan tetap terus belajar pada ahli fikih, muhadits dan memahami pendapat para ulama. Kalo kita hanya mengikuti dari satu guru/ulama saja...apa tidak khawatir kita jadi TAKLID? Sungguh berat mmg, selalu mengkaji setiap amal yg akan kita laksanakan....Makanya kita harus berniat untuk terus menuntut ilmu agama? :hmmm:

Btw, apakah amalan yg sudah jelas dalilnya dan disepakati oleh ulama....sdh kita laksanakan semua?  :hmmm:

Offline al-nizami

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 364
  • Jenis kelamin: Pria
  • فإذا عزمت فتوكل على الله
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #16 pada: 10 November 2009, 09:24:17 »
imam yang 4 bermadzhabkan kebenaran. Mereka berlapangdada dan mau merima pendapat pihak lain ketika kebenaran bukan berada di pihaknya. Kita lihat ucapan dari ke-4 imam tersebut:

1. Imam Abu Hanifah
    Jika saya mengucapkan pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur'an serta hadist Nabi Shallahu alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataan saya.

2. Imam Malik
    Sesungguhnya saya adalah manusia biasa, yang dapat salah dan dapat juga benar. maka perhatikan secara kritis pendapatku. Jika sesuai dengan kitab dan Sunnah ambillah, dan setiap pendapat yang tidak sesuai dengan kitab dan Sunnah tinggalkanlah.

3. Imam Syafi'ie
    Jika kamu mendapatkan hal-hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dalam buku saya, maka ikutilah ucapan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dan itulah pendapat saya juga.
    atau ucapkannya yang terkenal, Idza shohal hadits fahuwwa madzhabiy, Jika suatu hadist itu Shahih maka itulah mazhabku

4. Imam Ahmad bin Hambal
    Jangan engkau bertaklid kepadaku atau Imam Syafi'I, Imam Auza'I atau Imam Ats-Tsaury tapi ambillah dari mana asal mereka mengambil (Alquran dan Hadits).


“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Ibnu Rojab Al Hambali)

Offline Prio Bodo

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 142
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #17 pada: 17 November 2009, 20:56:32 »
@ atas,

Jadi kudu ngikutin siape dong kite ini, gue kagak ngarti kalo aturannye para imam itu bisa kite pilih ndiri nurutin selera kite, kalo kite nggak seneng aturan imam ini boleh ngikutin aturan imam nyang sono yang pada dasarnya banyak juga nyang berseberangan.

Offline end user

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 172
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #18 pada: 18 November 2009, 05:02:18 »
@^ maksut lu apa dah ??
coba diperjelas.
innamal a'malu binniyat

Offline al-nizami

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 364
  • Jenis kelamin: Pria
  • فإذا عزمت فتوكل على الله
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #19 pada: 18 November 2009, 05:28:18 »
@ atas,

Jadi kudu ngikutin siape dong kite ini, gue kagak ngarti kalo aturannye para imam itu bisa kite pilih ndiri nurutin selera kite, kalo kite nggak seneng aturan imam ini boleh ngikutin aturan imam nyang sono yang pada dasarnya banyak juga nyang berseberangan.

Apakah Kita Harus Mengikuti Mazhab?

Assalamualaykum Wr Wb,

Apakah kita selaku umat nabi Muhammad SAW harus mengikuti salah satu mazhab (Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi''i dan Imam Hambali) sebagi dasar jurisprudensi Islam? Mengapa ada umat Islam yang mengikuti non-mazhabi?

Jazakallohu Khayr
jawaban

Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya mazhab itu sekedar sebuah bentuk pola pemahaman atau interpretasi dari apa yang kita pahami dari Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap orang pada dasarnya berhak punya cara pemahaman sendiri-sendiri atas kedua sumber agama itu. Dan cara pemahaman seseorang atas keduanya, tidak lain adalah sebuah mazhab.

Jadi ketika anda membaca Al-Quran, lalu anda melirik teks terjemahannya di sebelahnya, sedikit banyak anda mengerti esensi kandungan informasi hukum yang ada di ayat itu, atau mungkin ada juga yang kurang anda mengerti, maka semua persepsi itu tidak lain adalah mazhab anda.

Tidak beda dengan seorang mujtahid besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Sya-Syafi''i dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Mazhab-mazhab mereka tidak lain adalah interpretasi, pemahaman, pencerapan dan kesimpulan hukum atas apa yang pahami dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sama seperti apa yang terjadi pada diri anda.

Hanya ada sedikit bedanya. Mereka paham betul bahasa arab, sedangkan kita belum tentu. Mereka tahu betul kekuatan bahasa dan gaya bahasa tiap ayat dan hadits, sedangkan masih dan masih terus mengandalkan terjemahan orang lain.

Mereka tahu betul maksud dan tujuan tiap ayat diturunkan (asbabun nuzul), sedangkan kita tidak tahu. Mereka juga tahu betul kapan sebuah hadits terjadi di masa Rasulullah SAW, serta tahu mana yang terjadi duluan dan mana yang belakangan. Sedangkan kita tidak tahu.

Mereka punya konsep dan sistematika yang sudah sangat baku dan diakui oleh semua ulama sepanjang zaman, dalam rangka menarik kesimpulan hukum dari tiap ayat dan hadits, sedangkan kita tidak punya.

Mereka mengerti bagaimana mengaitkan suatu ayat hukum dan ayat hukum yang lain, sehingga meski seklias terlihat saling berbeda, namun tetap bisa digabungkan dan dicari titik-titik temunya. Sedangkan kita tidak mampu.

Mereka tahu maksud Allah dan Rasulullah SAW di balik tiap kata di dalam Al-Quran dan Sunnah, serta mengenal betul apa esensi dan keinginan dari tiap sumber itu. Sedangkan kita tidak mengerti.

Mereka telah menelusuri pada perawi hadits satu persatu dari mulai orang yang menyampaikannya kepada mereka hingga ke level shahabat, serta telah memastikan keshahihan tiap hadits itu secara langsung, bukan dengan memhbolak-balik sebuah kitab. Sedangkan kita tidak pernah melakukan penelitian sejauh itu.

Yang sulit disaingi adalah bahwa mereka, para imam mazhab itu- hidup di masa seratusan hingga dua ratusan tahun sepeninggal Rasulullah SAW. Sehingga jarak yang lebih dekat kepada Rasulullah SAW ini menjadi salah satu jaminan keaslian dan originalitas syariah Islam. Dibandingkan dengan kita yang hidup lebih dari 1400 tahun kemudian, maka jarak waktu kita kepada Rasulullah SAW sangat jauh. Kemungkinan bias dan distorsi jauh lebih besar terjadi pada masa kita.

Para imam mazhab itu punya jutaan murid yang kemudian menjadi mujtahid juga, serta menjadi ulama besar dan tersebar di berbagai belahan dunia. Mazhab yang mereka bangun itu seharusnya sudah musnah sejak lama, kalau saja tidak terlalu kuat hujjah dan argumentasinya. Dan dahulu memang bukan hanya ada 4 mazhab saja, belasan dan lusinan mazhab telah didirikan, namun yang bisa bertahan lama hingga hari ini memang tinggal 4 saja. Maksudnya yang mazhab besar. Sedangkan yang kecil-kecil, masih ada dan cukup banyak, hanya kurang punya pengaruh yang kuat.

Dengan semua pertimbangan itu, maka mengikuti sebuah mazhab yang besar dan sudah teruji lebih dari seribu tahun tentu bukan hal yang hina. Bahkan karena mazhab itu sudah sangat lengkap isinya, seolah-olah nyaris tidak ada tempat lagi untuk ijtihad, kecuali pada masalah-masalah kontemporer yang tidak ada di zaman dahulu.

Tidak Ada Kewajiban Untuk Terikat Dengan Satu Mazhab

Rasulullah SAW tidak pernah melarang seseorang untuk bertanya kepada beberapa shahabatnya. Dan para shahabat nabi itu sendiri, tidak pernah melarang siapapun untuk bertanya kepada banyak orang.

Yang penting, kita diwajibkan bertanya kepada yang ahli, yaitu mereka yang punya kapasitas dan kapabilitas dalam berijtihad, mampu memahami teks-teks syariah, serta punya jam terbang tinggi dalam membahas dan mengkaji masalah syariah.

Keempat imam mazhab pun tidak pernah melarang seseorang untuk meminta pendapat kepada imam lain. Tidak pernah ada peraturan bahwa bisa seseorang telah menggunakan pendapat Abu Hanifah, lalu terlarang untuk menggunakan pendapat Malik, Syafi''i atau Ahmad. Dan begitulah sifat mereka.

Maka tidak ada keharusan buat kita untuk terikat hanya pada satu mazhab saja. Namun bila seseorang ingin mudahnya, dibolehkan untuknya bertanya kepada satu mazhab saja.

Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Ibnu Rojab Al Hambali)

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #20 pada: 18 November 2009, 05:41:16 »
saya mending ngikuti pendapat sendiri.

bentar kultur jadi ibadah adat jadi akidah. rebez.
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline Pangeran Bima

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 5.720
  • Aku mencari dan mencari MU.
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #21 pada: 18 November 2009, 09:41:45 »
saya mending ngikuti pendapat sendiri.

bentar kultur jadi ibadah adat jadi akidah. rebez.

Sindirannya muantab ;D.
Cahaya adalah energi. Barangsiapa yang mendapat sedikit saja Cahaya-Nya niscaya tidak akan pernah ada keraguan diri tentang keberadaan-Nya, dan ia memiliki energi yang cukup untuk mengenal-Nya.

Offline Fadhila Azmi

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 343
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #22 pada: 18 November 2009, 11:42:34 »
saya mending ngikuti pendapat sendiri.

bentar kultur jadi ibadah adat jadi akidah. rebez.
Rebez menurut siapa ...?
Rebez itu kalau benar menurut Allah Rosul, bukan benar menurut pendapat sendiri

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #23 pada: 18 November 2009, 11:43:53 »
Menurut saya mah, rebez.
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline Fadhila Azmi

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 343
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #24 pada: 18 November 2009, 11:51:36 »
Dari sahabat Jundab ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan (menerangkan) kitab Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung dengan pendapatnya (RO'YI), walaupun benar maka sungguh ia telah salah” (Riwayat Abu Daud).

Dari Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa membaca Al Quran tanpa ilmu (RO'YI) maka hendaklah menempati tempat duduknya di Neraka” (Riwayat At Tirmizi)

Apakah sudah merasa hebat sehingga berani berpendapat sendiri .!!

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #25 pada: 18 November 2009, 11:53:08 »
terus apa hubungannya dengan postingan saya di atas?
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline Sakura_Nop

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 15
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Fokus...belajar buat website..!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #26 pada: 19 November 2009, 06:36:28 »
....................................
Dari Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa membaca Al Quran tanpa ilmu (RO'YI) maka hendaklah menempati tempat duduknya di Neraka” (Riwayat At Tirmizi)
..............

Afwan, mad'u unjuk jari....mohon penjelasan yg ini akhi..bagaiman membaca & menyampaikan bacaan Al-Qur,an yg bener.....biar ane faham & dapet ilmu insya_Allah.
Jazakallah sebelumnya :) :)

Offline Fadhila Azmi

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 343
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #27 pada: 19 November 2009, 13:16:55 »
Kita tidak boleh belajar sendiri, mengarang-ngarang sendiri, mengartikan sendiri, itulah yang disebut belajar tanpa ilmu (RO'YI), karena akan banyak melakukan kesalahan-kesalahan kalau kita belajar tanpa guru, diantaranya adalah :
Kesalahan tulisan yang bisa timbul karena kesamaan huruf, padahal kesalahan itu sering terjadi pada pandangan mata, juga kurang mengerti tentang i'rab, kitab yang ada rusak atau sedang diperbaiki, atau ada tulisan yang tidak terbaca, juga membaca sesuatu yang tidak tertulis, serta tentang madzhab pengarang kitab, belum lagi jeleknya copi-an (salinan), bisa juga seorang pembaca mencampur-adukkan antara satu alenia dengan lainnya, dasar-dasar ilmiyah yang masih rancu, juga adanya lafadh-lafadh yang sudah menjadi istilah tersendiri dalam sebuah ilmu tertentu yang belum ia pahami dll.
Itulah sebabnya kita dituntut belajar dari bimbingan seorang guru, dan belajar pada seorang guru lebih bermanfaat dan lebih baik daripada kalau belajar sendiri .

Oleh karena itu Ulama salaf (sahabat/tabiin) berkata : "Janganlah kamu belajar dari seorang shahafi (orang yang belajarnya otodidak), juga jangan dari mushhafi (orang yang belajar baca Al-Qur'an secara otodidak)'. Maksudnya, jangan kamu belajar Al-Qur'an dari seseorang yang cuma belajar lewat mushhaf (buku), dan jangan belajar hadits dan ilmu lainnya dari orang yang belajarnya otodidak" (belajar sendiri) atau RO'YU.

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 14.196
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #28 pada: 19 November 2009, 13:31:05 »
tapi netapin hati tetap kudu pikiran sendiri. Bukan asal jiplak. %peace%
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline Fadhila Azmi

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 343
    • Lihat Profil
Re:mazhab sendiri
« Jawab #29 pada: 20 November 2009, 08:24:42 »
Untuk menghindari taklid dan ro'yu, disinilah perlunya punya guru yang ahli ilmu dan mempunyai sanad dari ulama sekarang – sampai ulama salaf – sampai Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.



 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.501 detik dengan 22 queri.