Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Mengapa saya memutuskan menikah dengannya  (Dibaca 1089 kali)


Offline exano_ipa3

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 743
  • Lokasi: Bandung, Cimahi, Surabaya, Sidoarjo
  • Jenis kelamin: Pria
  • Naik kreta api..tut tut tut..ke Bandung - Surbaya.
    • Lihat Profil
« pada: 04 November 2009, 16:12:46 »
Copas dari maillist FLP,

Afwan jika dah tau......


By Dewi, 25 Juni 2008

Ada beberapa hal yang membuat saya memutuskan menikah dengannya.

Terutama adalah kesiapannya bertanggung jawab secara moral, melindungi,
dan mengayomi, saya sebagai calon istrinya waktu itu.

Walaupun sebelum menikah, dia sempat mempertanyakan.

Mampukah saya menerima dia apa adanya?

Dengan status masih calon pegawai negeri sipil.

Yang gajinya hanya Rp. 450.000,-.

Mulanya saya ragu, karena saya yang terbiasa dibesarkan dari keluarga
yang selalu memanjakan saya, tidak bisa memasak, mencuci, membersihkan
rumah, pendeknya tidak bisa diajak hidup susah.

Jauh dari kreteria istri sempurna.

Mama yang wanita karier, memberikan pengasuhan lewat bantuan
pengasuh/pembantu yang kadang setiap bulan berganti-ganti.

Beliau mengajari saya bagaimana menjadi wanita yang tangguh dan mandiri,
namun lupa memberikan pelajaran berharga untuk menjadi wanita
sesungguhnya, yaitu wanita tempat bernaung suami, wanita yang mampu
memberikan ketenangan ketika suami berada dirumah.

Pendeknya saya perlu belajar bertahun-tahun untuk menjadi Isti ideal
termasuk Ibu yang baik bagi anak-anak saya.

Tapi saya dan suami yakin bahwa pernikahan dimanapun berada pasti
membutuhkan proses untuk beradaptasi.

Membutuhkan proses menuju bijaksana dan dewasa.

Yang penting masing-masing pasangan harus mau menerima kekuarangan dan
kelebihan pasangan masing-masing. (say that "Honey, Love me just the
way I am").

Dan keyakinan untuk menikah dengan pasangannya, memprediksikan kemampuan
menjalani hidup bersamanya.

Itu yang paling penting.

Yah…keyakinan itu yang paling luar biasa, membawa kami berjuta-juta
lebih tabah dalam menghadapi semua cobaan.

Hebohnya….Awal Menikah!.

I am not to young to be married

Menikah di usia 22 tahun, lulus kuliah, langsung dilamar dan menikah 1
bulan kemudian :-D

Sama sekali diluar bayangan….mimpi aja kagak…hehehe.

Bahkan banyak teman, handai tolan, dan juga keluarga dekat yang
terkaget-kaget selalu kata mereka "Wes, Siap ta Wi?"

(sudah siapkah kamu Dewi?)

Saya selalu mengangguk mantab, demi melihat mata suami yang penuh
keyakinan tanpa basa-basi, maka saya memiliki keberanian lebih untuk
siap menanggung resiko apapun dalam pernikahan kami.

Karena hidup itu adalah konsekuensi dari pilihan,bukan?

Dan lagi yang namanya jodoh sudah didepan mata, maka tidak boleh
ditolak.

Lagi pula suami, orang yang saya kenal hanya 3 bulan-an lamanya, adalah
orang yang serius membina hubungan untuk langsung ke jenjang pernikahan.
Alhamdulillah.

Usia kitapun tidak terpaut jauh, dan untuk ukuran laki-laki mungkin dia
termasuk yang menikah muda, di usia 27 tahun.

Kata suami dia ingin mengikuti sunnah Rasul menikah di usia ke-27
hehehe…Ah.. nih…si E'mas.

Sedang saya, adalah makhluk imut, yang nekat juga hehehe.

Nekat karena berani menikah hanya dengan modal gaji suami yang
Rp. 450.000,- aja dan juga saya yang belum bekerja, karena habis lulus
langsung menikah.

Benar-benar kata kunci ajaib untuk pernikahan abad ke-21 :D

Banyak yang mengkritik, meragukan, atau bahkan menghakimi.

Tapi kenyataannya pernikahan kami harus tetap dijalani.

Mantab seranjang dengannya :-P

Menikah hari pertama hingga satu bulan adalah masa penuh kejutan.

Kebiasaan molor bangun pagi, tidak bisa memasak, membenahi rumah, dan
sebagainya membuat saya malu dan menangis.

Sempat jatuh sakit karena stress berat.

Tapi suami alhamdulillah bisa memahami.

Kelemahan saya menjadikan saya memiliki tekad, terus belajar dan terus
belajar.

Tidak hanya untuk pernikahan kami tapi juga untuk diri saya sendiri.

Toh, saya pada akhirnya akan menjadi calon ibu, itu yang ada dalam
pikiran saya.

Seminggu setelah menikah kami pindah dari rumah orang tua saya untuk
kerumah kami sendiri.

Sekalipun masih sangat berantakan, dan rumah itu juga hasil sumbangan
dari mertua, sementara mertua sudah pindah di rumah yang lainnya. ^_^

Menikah adalah untuk ibadah, benarkah ?

Jawabannya adalah iya.


Karena dalam pernikahan sangat dibutuhkan banyak kebijakan dan
keikhlasan untuk menjalani berbagai macam cobaan hidup berdua.

Benar-benar ibadah sepanjang masa.

Bila kita menikah maka kita harus menghadapi beberapa konsekuensi dari
pernikahan itu sendiri, mulai dari menjadi istri hingga menjadi seorang
ibu.

Persiapan menjadi seorang Ibu, tentu saja harus di dukung pasangan.

Cepat atau lambat keinginan untuk memperoleh keturunan juga merupakan
bahan pertimbangan bagi pasangan calon sebelum menikah.

Nah, pada pernikahan kami, sejak awal menikah kami memang tidak pernah
menunda-nunda memiliki momongan, walaupun keadaan ekonomi sedang
gonjang-ganjing hehehe.

Kami termasuk pasangan yang mempercayai, rejeki adalah Allah yang
mengatur, dan setiap anak membawa rejekinya masing-masing.

Jadi di hari pertama menikah saya menyatakan mantab seranjang dengannya
hehehehe (;-) )

Gaji 450 Ribu, Cukupkah?

Pertama kali, menerima gaji suami ditangan, selalu disertai dengan
cucuran air mata haru.

Melihatnya tersenyum bangga, memeberikan amplop yang ada ditangannya,
yang walaupun untuk makanpun masih harus sibuk memutar otak "gali
lubang tutup lubang ":P

Respon pertama adalah kaget, tapi segera menahannya demi melihat
ketulusan dan keikhlasan suami.

Yah, saya harus Ikhlas menikah dengan suami yang hanya bergaji Rp.
450.000,- sebulan, dan entah untuk beberapa lama lagi.

Memahami dan menikmati arti perjuangan panjang mahligai rumah tangga
kami.

Menghargai tetes keringat yang benar-benar dia usahakan untuk
kepentingan kehidupan kami berdua.

Terima kasih sayang……..!.

Begitupun satu bulan, otak masih tertatih-tatih berpikir, bagaimana cara
menambah penghasilan, hingga ide cermelang muncul dibenak satu bulan
kemudian, untuk mencoba kreatifitas, membongkar, gudang pakaian,
mengumpulkan baju yang masih cukup bagus, memangkasnya disana-sini,
membuat sketsa mode baju, dan kemudian memodifikasi dengan berbagai
aksen yang sedang trend saat ini.

Membungkusnya dan menelpon beberapa teman, saudara, bahkan tetangga
untuk main kerumah.

Nekat !, gila !, mengenakan rancangan sendiri, sambil memamerkan hasil
karya, yang sebagian digantung rapi di tempat jemuran yang saya beli
murah hanya Rp.65.000,- pada pedagang kaki lima yang kebetulan lewat
didepan rumah.

Baju-baju yang digantung, saya masukkan dalam plastik tipis, tempat
baju, dan sebagian sisanya dilipat rapi dimasukkan dalam plastik, dan
diberi bandrol "Second Keren".

Alahmdulillah banyak yang suka, dagangan yang hampir tanpa modal ini
alias modal tipis, laris manis bak kacang goreng.

Banyak pesanan membuat saya makin kewalahan dan blusukan di pasar-pasar
baju second dari luar yang kira-kira masih bisa saya modifikasi lagi.

Dari sini, saya bisa menggaji satu pembantu dan satu orang baby sister
untuk anak, bahkan bisa mencicil membangun tempat kos di lahan luas
belakang rumah kami.

Percayalah pernikahan yang diniatkan untuk ibadah, tidak akan pernah
sesulit yang kita bayangkan.

Soal gaji atau rejeki serahkan pada Allah SWT.

Jadi salahkan jika saya katakan gaji itu dari Allah.

Selama manusia berusaha, sabar, dan berdoa, apa sih janji Allah yang
diingkari-Nya? .


Tidak ada satupun.

Allah selalu ada untuk memenuhi janji-janjinya kapada Makhluk-Nya.

Rasa syukur selalu terpanjat, karena hingga detik ini saya sudah mampu
memasukkan anak ke sekolah terbaik, memberikan gizi terbaik, dan hidup
penuh limpahan rahmat dan kasih sayang Allah.

Diberikan suami terbaik, anak-anak terbaik, juga tetangga, dan
teman-teman yang luar biasa baik.

Keberuntungan saya walaupun kecil dimata orang yang melihat hidup dari
segi materi saja, tetap tidak pernah membuat saya lupa mengucap syukur
kepada-Nya.

Demi melihat banyak orang-orang yang lebih menderita, lebih susah, lebih
berat perjuangannya dibanding saya, termasuk kedua orang tua saya.

Jika ditanya arti menikah menurut saya adalah Perjuangan tanpa akhir
dengan ibadah sepanjang masa.

Sementara copas dulu, ntar deh klo dah nikah insya Allah ane coba menulis  ;D
"Dengan Menyebut Nama Allah, Bulatkan Tekadmu"
"Kita Maju Bersama Allah Menuju Masa Depan Cemerlang"

Offline oomnya fahrel

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.300
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« Jawab #1 pada: 04 November 2009, 16:41:17 »
Duch jadi inget perjuangan dulu... :)

Offline hashishin

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.085
  • Lokasi: The city of angelines
  • Jenis kelamin: Pria
  • - = [ distingushing the inferiors ] = -
    • Lihat Profil
    • Blog gw ( masih baru... )
« Jawab #2 pada: 04 November 2009, 16:44:47 »
kirain om exano mau nikah... --a
Cinta Allah , Cinta Rasulullah, Cinta Ahlul Bayt, Cinta Shahabat-Shahabat Rasulullah, Cinta Tabi'in, wat Tabi'utTabi'in... Insya Allah...

-= HIBERNATING FOR A WHILE... DO NOT DISTURB!!! =-

Offline rizal_donny

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 487
  • Jenis kelamin: Pria
  • Fainna ma'al 'usri yusran. inna ma'al 'usri yusran
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 04 November 2009, 17:04:52 »
nice share, very inspiring  :topOK:
Tuhanku... biarkan dunia ini hanya ada dalam genggaman tanganku...
Jangan biarkan ia masuk ke dalam hatiku...

Offline rheira

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.618
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Teruslah berbuat amal tanpa harus menonjolkan diri
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 04 November 2009, 17:16:03 »
Subhanallah,.. TOP...

Terharu...
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

Offline ukh_violet

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 751
  • Lokasi: bandung
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Inna fi dzalika la aayatin li qaumin yatafakkaruun
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 04 November 2009, 17:55:48 »
Bentar lg kyanyah om exano.. D tgg undngnx..

Offline Qismiyyah

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2009
  • Tulisan: 199
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 04 November 2009, 20:26:26 »
Bagus sharingny..bisa jd inspirasi juga bwt akhwat,lebih khusus lg bwt ikhwan..jangan ragu menikah,hanya krna soal materi :)


Posting Digabung: 04 November 2009, 20:30:33


Afwan,hanya pndapat pribadi saya, :)  tafadhol yg lain pendapatny :)
« Edit Terakhir: 04 November 2009, 20:30:33 oleh Qismiyyah »
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan solat; dan sesungguhnya solat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah : 45). (renungan untuk diri...Astagfirullahal'adzhim...)

Offline lin_yank

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 546
  • Lokasi: Center of Central java
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Istiqomah, Bersyukur, Tersenyum
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 05 November 2009, 11:22:04 »
Syukron sharingannya,, bisa jadi masukan buat anee  O0
"...Kemudian apabila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah). Sebab mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (An-Nisaa:19)

Offline triosakti

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 9.816
  • myQ Newbie
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 05 November 2009, 13:25:10 »
ini ada hubungannya ama tretnya kamal gak yah..

3 Pertanyaan Sebelum Menikah


%peace%

Offline Agustin

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 2.493
  • Jenis kelamin: Wanita
  • " Semaikan Benih Keimanan "
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 05 November 2009, 13:49:07 »
 tidak cukup hanya keyakinan bahwa 4W1 lah satu - satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan, tapi memang butuh sebuah pembenaran juga....

Nice posting  :topOK:
" Di akherat kelak akan dihadapkan ke jembatan Shirat,seberapa cepat diri kita menyambut setiap seruan NYa, secepat itulah kita akan menyeberanginya "

Offline l1nd4

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.562
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 05 November 2009, 14:13:18 »
artikel nan bagus :))
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih"

Offline ikh@

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 282
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Perhiasan dunia yg terindah adalah wanita Salihah
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 05 November 2009, 14:17:01 »
yupz ...mantabs.. :topOK:
hiasi harimu dengan senyum ......

Offline wide_rock2000

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 61
  • Lokasi: Purwokerto, Indonesia
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • enak dibaca segar di kepala
« Jawab #12 pada: 05 November 2009, 14:27:08 »
oalah copas tah..! kirain pengalaman pribadi  :wataw:
ga pa2 yang penting bagus + bermanfaat :topOK: :topOK:
Tiada akan dihentikan sebarang pencarian yang engkau cari
dengan Tuhanmu, dan tiada akan dimudahkan sebarang pencarian
yang engkau cari dengan dirimu.(Al Hikam - Ibn Athailah)
<a href='http://2.bp.blogspot.com/_Ik9AFMqaHJQ/Svo6VcSIInI/AAAAAAAAADA/BFvv8eTfMHs/S310/transaol.gif'>

Offline Qms

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 422
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Avicenna Haydar Aqila
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 05 November 2009, 14:41:21 »
Kok saya ga menangkap kekuatan dari sang pria kenapa sampai penulis memutuskan untuk menikah denganya?
Apa hanya karena pria-nya punya kenekatan?
Yang saya tangkap justru sifat n sikap dari wanitanya yang ternyata membuat beruntung pria yang menikahinya    :hmmm:

Padahal tadi siap2 mau ditiru lho, kira2 apa sih yang bisa membuat wanita memutuskan untuk menikahinya :)
No Siggy :P

Offline exano_ipa3

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 743
  • Lokasi: Bandung, Cimahi, Surabaya, Sidoarjo
  • Jenis kelamin: Pria
  • Naik kreta api..tut tut tut..ke Bandung - Surbaya.
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 06 November 2009, 05:02:11 »
^
ya itu tadi...dgn segala keterbatasan dan kekurangan tetap memutuskan menikah karena Allah, insya Allah... :)


Posting Digabung: [time]Fri Nov  6 05:05:15 2009[/time]


Aku Menikahimu dengan begitu Sederhana

Aku senantiasa mengingat saat pernikahan kita
Bukan karena ia berlangsung di gedung mewah
Juga bukan karena iringan degung dan gamelan, atau pakaian mengkilap dan kosmetika
Harapan kita adalah kita tak dibuat silau dengan gemerlap dunia

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Tanpa undangan pernikahan, hanya SMS dan undangan lisan
Di masjid kecil yang terpojok rumah-rumah menjulang
Kita berharap agar keturunan kita mencintai masjid dan terpaut hati padanya

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Karena kita tak sempat dan tak ingin disibukkan oleh remeh-temeh upacara
Apalagi upacara-upacara yang menurut agama tak selayaknya ada
Sebab kita berharap agamalah yang memandu perjalanan kita

Walimat l 'ursy kita hanya dilangsungkan di rumah saja
Menunya tak seberapa istimewa
Namun alhamdulillah kita masih bisa mendengar adzan dan shalat pada waktunya
Harapan kita adalah kita masih bisa mendengar adzan dalam setiap kesibukan rumah-tangga kita

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Hanya jas pinjaman berwarna coklat dan dasi sedikit sobek
Mahar sederhana karena engkau memintanya begitu
Harapannya adalah kita tak disibukan oleh pakaian dan perhiasan dunia

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Kita mendobrak kebiasaan dan tradisi yang mempersulit pernikahan
Bahwa inti pernikahan bukan yang lain-lain, bukan prestise yang harus ditunjukkan pada tamu-tamu
Demikianlah mudah-mudahan kita menemukan inti dari setiap lekuk hidup berumah-tangga

Kita berharap, semoga melalui hisab sederhana pula, bersama-sama kita berumah di syurga

dari catatan Mohamad Ishaq, M.Si.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=174389615167
« Edit Terakhir: 07 November 2009, 05:23:49 oleh exano_ipa3 »
"Dengan Menyebut Nama Allah, Bulatkan Tekadmu"
"Kita Maju Bersama Allah Menuju Masa Depan Cemerlang"