Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: JAKARTA MEMILIKI MALL TERBANYAK DI DUNIA  (Dibaca 1009 kali)


Offline triosakti

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 9.816
  • myQ Newbie
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 23 November 2009, 16:04:40 »
tenang..tenang...

sapa tau itu tulisan cuma bwat nge-flame ajah...

Offline aang

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.274
  • Lokasi: Palembang
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • OmahKu
« Jawab #31 pada: 23 November 2009, 16:05:15 »
Kutip

Bantul, ‘Kabupaten Kerakyatan’

23/11/2009 10:09:31 DI Indonesia, mungkin hanya Bantul satu-satunya kabupaten yang menolak berdirinya mal. Bupati Bantul Idham Samawi terang-terangan menunjukkan sikap politiknya itu. Alasannya, mal merupakan wujud kerakusan ekonomi kapitalisme-liberal yang bertentangan dengan prinsip ekonomi kerakyatan. Kapitalisme selalu melihat masyarakat sebagai objek eksploitasi demi keuntungan dan kelipatan kapital, meskipun harus menendang warga negara non-kapitalis ke pinggiran. Sedangkan ekonomi kerakyatan mendudukkan kesejahteraan rakyat, terutama kelas menengah-ke bawah, menjadi subjek untuk disejahterakan. Dalam praksisnya, ekonomi kerakyatan, antara lain, mewujud dalam dinamika pasar tradisional yang kini dikembangkan di Bantul.

Di pasar tradisional ini, bukan hanya transaksi ekonomi yang terjadi. Namun juga proses kebudayaan masyarakat. Selain berbelanja dalam suasana guyup dan penuh tawar-menawar, pembeli dan penjual masih menemukan dirinya sebagai manusia. Pembeli tidak dihargai hanya karena uang, melainkan eksistensinya. Begitu juga dengan para penjual barang.

Institusi Kultural dan Pragmatisme

Dalam dunia Jawa tradisional, keramaian pasar tradisional dikenal karena gema orang-orang yang berinteraksi di dalamnya. Gema itu mencerminkan sosialitas yang hidup, berdenyut, guyup. Di situ, orang-orang melakukan silaturahmi, di proses tengah jualbeli. Orang-orang saling menanyakan keselamatan atau saling mengingatkan. Di pasar tradisional itu, praktik penguatan solidaritas berlangsung dalam nuansa yang indah.  Ini berarti, pasar tradisional bukan hanya menjadi institusi ekonomi, melainkan juga institusi kultural.

Pasar tradisional, sebagai institusi kultural, melembagakan nilai-nilai kehidupan kolektif yang bersumber dari berbagai kearifan lokal. Dengan curahan kearifan lokal itu, orang merasa menjadi bagian dari komunitas, di mana sikap dan sifat tenggang rasa tepo seliro), sikap hidup komunal (guyup-rukun) dan solidaritas tetap dijunjung tinggi. Jika Anda mencari suatu barang yang tidak dimiliki seorang penjual, maka sang penjual itu akan memberi referensi Anda untuk membeli barang, maka sang penjual itu akan memberi referensi Anda untuk membeli barang itu ke penjual lainnya. Begitu pula, ketika Anda harus menawar suatu barang karena dinilai terlalu mahal, maka sang penjual akan menunjukkan kebijaksanaannya untuk menurunkan harga itu, sepanjang ia tidak rugi. Kearifan Jawa menyebut hal ini: tuna satak bathi sanak atau rugi barang tapi diuntungkan karena mendapatkan saudara.

Kearifan lokal khas masyarakat Jawa itu kini semakin tergerus oleh modernitas yang digerakkan oleh pragmatisme dan materialisme. Bagi pragmatisme dan materialisme, Anda akan dianggap bodoh jika tidak mengambil laba sebesar-besarnya, meskipun harus mengorbankan pembeli.

Pragmatisme, menurut budayawan Prof Dr Kuntowijoyo, hanya menganggap sesuatu itu benar jika bernilai guna. Pragmatisme berasal dari bahasa Latin, yakni pragmaticus yang berarti praktis, aktif, sibuk. Dalam bahasa Yunani pragmatisme berasal dari kata pragma yang berarti bisnis. Filsafat pragmatisme tumbuh di Amerika’ ditumbukan William James (1842-1920) melalui buku Pragmatism. Pokok ajaran (kebenaran pragmatisme) ini adalah sebuah kepercayaan itu dinilai benar jika berguna. Ukuran dari kebenaran ialah apakah suatu kepercayaan dapat mengantarkan orang kepada tujuan. Pragmatisme menolak pandangan tentang kebenaran kaum rasionalis dan idealis, yang dianggap tidak berguna dalam kehidupan praktis (Kuntowijoyo: 2005).

Mal merupakan pelembagaan kapitalisme dan pragmatisme. Mal memberikan Anda kenyamanan fisik (ruang ber AC, bersih, harum, pelayanan yang cepat) namun menghilangkan kenyamanan batiniah, karena Anda dihargai hanya karena Anda punya duit. Mal tidak memerlukan integritas kepribadian Anda. Tidak butuh hal-hal yang bersifat moral, spiritual atau kedalaman nilai-nilai yang Anda yakini. Ia hanya butuh duit. Butuh untung besar. Ia adalah anak kandung kapitalisme yang rakus dan bengis. Karena ia hanya bisa hidup jika menghisap ‘darah’ Anda.

Tampaknya, Idham Samawi  sangat menyadari hal itu. Maka, ia lebih memilih mempertahankan pasar-pasar tradisional, di mana praksis kultural yang menghargai kemanusiaan masih berlangsung. Maka, dibangunlah pasar tradisional Niten, Imogiri, Piyungan dan lainnya yang memberikan kenyamanan berbelanja. Dengan cara ini, para pembeli pun tertarik. Dan pendapatan para penjual yang umumnya datang dari kelas menengah-ke bawah pun, meningkat.

Populis

Strategis Idham Samawi dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan sangat mungkin berangkat dari cara berpikir yang populis dan komunal. Yakni, logika yang lebih mementingkan tumbuhnya kesejahteraan kolektif/komunal daripada kesejahteraan yang elitis (hanya memanjakan para kapitalis besar). Pasar tradisional terbuka bagi siapa saja, tanpa diskrimasi modal atau kelas sosial. Diharapkan, pasar tradisional selain menjadi lembaga ekonomi kerakyatan, juga menjadi workshop besar kebudayaan dan sosial, di mana orang mampu merajut nilai-nilai solidaritas lintas kelas, agama, kultur, politik dan ekonomi.
Tentu upaya itu tidak mudah. Dukungan masyarakat sangat diharapkan, terutama terkait dengan menghidupkan nilai-nilai lokal yang guyup, populis dan solider. Jika perawatan nilai-nilai lokal itu lepas, sangat mungkin pragmatisme dan materialisme akan masuk dan merasuk, sehingga pasar tradisional pun akan menjelma menjadi institusi ekonomi semata.

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan bagi Bantul merupakan entry point penting untuk mewujudkan Bantul sebagai ‘Kabupaten Kerakyatan’, di mana rakyat (masyarakat) memiliki kedaulatan baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik. Sudah lama rakyat negeri ini tidak memiliki kedaulatan. Karena yang ada adalah kedaulatan pasar bebas, di mana peran negara lebih berperan sebagai ‘panitia’ daripada protektor rakyat. Jika Bantul memulai langkah besar ini, maka ia akan menjadi inspirasi bagi kota dan kabupaten lainnya di Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan rakyat. q-c (1414-2009)

*)Indra Tranggono, Pemberhati Kebudayaan

sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=206314&actmenu=39
silahkan datang ke omahku.... omahku.com

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #32 pada: 23 November 2009, 16:10:55 »
Pak trio,nge flame tuh apa? ??? Jelasin dunk
*paling ga demen kalo ada yg ngeremehin orang (dalam hal tulisan)

Offline triosakti

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 9.816
  • myQ Newbie
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 23 November 2009, 16:20:37 »
@^
halah.. flame = api = panas

nge-flame === manas2in doank...

aliyas ngompor :siul:


* triosakti sering lihat postingan orang2 di forum2 tetangga yang isinya flaming doank

Offline tary_a2nhasanah

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 7.514
  • Lokasi: Bukit Datuk
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #34 pada: 23 November 2009, 16:32:07 »
Saya sering ke pasar tebet (hampir tiap hari malah) kalau jam istirahat. Pasar yang jauh dari kesan kumuh, dan bising, pasarnya bersih banget deh  :topOK:. Yang belanja aja pada pakai mobil dan kebanyakan orang-orang kantor (bajunya rapi-rapi, gak ada yang pakai daster  :jaim:), mungkin karena lokasinya yang berdekatan dengan perkantoran kali ya %peace%.

Harga-harga barangnya juga murah meriah, suasananya nyaman banget.
Apalagi kalau mau beli kosmetik, bisa nawar dan harganya jauh lebih murah daripada di mall  %peace%

saya gak anti pasar tradisional, gak anti mall juga sih, tergantung kebutuhannya :jaim:

Never Ending Improvement !!

Offline Maru Sen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 666
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • be better and better!
    • Lihat Profil
« Jawab #35 pada: 24 November 2009, 11:31:20 »
Daripada menyingkirkan pasar tradisional, lbh setuju mereformasi pasar tradisional spy lbh bersih & nyaman.
Setau sy para turis berbondong2 ke Bali bukan krn mallnya Pak Abdul, tp krn justru krn Bali mempertahankan ciri2 tradisionalnya.
Turis justru mencari yg unik, klo yg modern & canggih sdh banyak di negaranya.
Skarang Indonesia sdh kehilangan identitas diri, apa2 hasil nyontoh dr luar negeri

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.464
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #36 pada: 24 November 2009, 11:49:59 »
Haji Muhammad Abdullah mah lain kelasnya, coy...

Gak usah dipikirin. Dia hanya salah satu orang yg suka nyumbang kesejahteraan buat para konglomerat tanpa mikirin gimana nasib pedangang kecil yg mungkin saja itu salah satu tetangga kita.

;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline ayyashiyahya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 12.068
  • Lokasi: Kemayoran poreper!
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Khoirukum Anfauhum Linnas
    • Lihat Profil
    • Ghandokkoe Ngepul
« Jawab #37 pada: 24 November 2009, 12:09:35 »
Haji Muhammad Abdullah mah lain kelasnya, coy...

Gak usah dipikirin. Dia hanya salah satu orang yg suka nyumbang kesejahteraan buat para konglomerat tanpa mikirin gimana nasib pedangang kecil yg mungkin saja itu salah satu tetangga kita.

;)

yoi coy.....
 

Offline syifa^_^

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 2.126
    • Lihat Profil
« Jawab #38 pada: 24 November 2009, 12:36:30 »
ekonomi konvensional mengatakan : semakin konsumtif masyarakat suatu negri maka semakin majulah perekonomian negri tersebut

itulah mengapa pengangguran di amerika pun diberi tunjangan....karna bila tidak ada tunjangan, masyarakat tidak dapat membeli barang2 industri...bila tidak ada pembeli...industri terancam tutup....maka..perekonomian akan bangkrut...

sedangkan pendapatan pemerintah dari mana?? ya dari pajak perusahaan salah satu nya..... ::)
dan pajak nya itulah yang juga digunakan untuk tunjangan para pengangguran ::)

ingin menurunkan kolesterol? mengobati kanker? membuang racun tubuh? atau melancarkan pencernaan....??

Offline sya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.988
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • www.maesaroh-sya.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • torehan may
« Jawab #39 pada: 24 November 2009, 14:44:54 »
@pak trioyudi
ooo

@mba syifa
ooo

Offline Maru Sen

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2009
  • Tulisan: 666
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • be better and better!
    • Lihat Profil
« Jawab #40 pada: 24 November 2009, 16:48:15 »
@sya
ooo juga
@syifa
Jadi kita ikut sistem ekonomi yg mana mba?

Offline syifa^_^

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 2.126
    • Lihat Profil
« Jawab #41 pada: 24 November 2009, 20:55:02 »
^ maru sen

indonesia mengikuti kiblat amerika yakni ekonomi konvensional....

bagaimana pun, baiknya kita umat muslim tetep berkiblat pada ekonomi syariah yang telah dituntun oleh Allah dalam alQuran dan hadist nabi Muhammad

banyak cacat dalam ekonomi konvensional,,,karna asal muasalnya adalah ekonomi ribawi...budaya kaum yahudi...

diantara nya : hutang piutang, monopoli pasar, iklim persaingan usaha yang menganut sistem invisible hand, uang beredang, asuransi, dsb....

segala sistem itulah yang merusak mental dan spiritual umat muslim.,,,budaya boros, kredit n matrealisme terutama....

afwan bila kurang jelas, ntr OOT, mudah2an lain waktu ada bahasan mengenai hal ini pada waktu yang lebih pas ;)
ingin menurunkan kolesterol? mengobati kanker? membuang racun tubuh? atau melancarkan pencernaan....??