Bisa.
Tapi yang diklaim sbg firman Tuhan kan ada bbrp sumber yg memiliki perbedaan tersendiri.
Untuk yang BANYAK VERSI SIH EMANG PROBLEM...

Klpun sudah diuji,
Dari mana kita tau apakah itu benar-benar benar?
Kita sepakati dulu yang bisa kita terima bersama...

Misal (hanya misalkan saja),
Saya pergi ke sbuah lembah.
Tidak ada orang lain dsana, hanya saya saja.
Di lembah itu saya lalu saya mdapat pewahyuan.
Saya sbarkan pwahyuan itu.
Nah,
Dari mana kita tau pewahyuan yg saya dapat itu dari sumber yang benar?
Apakah hanya dengan mencek apakah pewahyuan yg saya terima itu dsampaikan apa adanya?
Ya ngga kan.
kalau anda cuma klaim menerima wahyu, itu hal biasa, lia eden dan nabi-nabi palsu lainnya semuanya begitu, perbedaannya adalah wahyu yang berisi peraturan hidup untuk manusia, ketika diterapkan benar-benar menghasilkan suatu komunitas baru yang berbeda dari umumnya, ini kalau kita melihat pada sisi pengaplikasian wahyu...

Wahyu tersebut dapat terus dipakai sebagai sumber peraturan, melewati peradaban-peradaban manusia yang berkembang tanpa perlu ditambah ini dan itu. Hal ini jelas membuktikan WAHYU BUKAN BIKINAN MANUSIA... Hanya yang mengetahui masa depan yang sanggup membuatkannya untuk manusia...
Dari sekian wahyu yang diklaim manusia, saya mengajukan Al Qur'an untuk diuji... apakah anda juga akan mengajukan Bibel?...
Bagi orang yg mengimani (percaya) pd pwahyuan saya, mreka akan trima pwahyuan saya dg alasan logika.
Tp bagi yg tidak percaya pd saya, mreka akan tolak mentah-mentah.
Brarti pewahyuan yg saya trima hingga taraf tertentu tidaklah obyektif bagi orang lain.
Pada masa wahyu diturunkan, Tuhan juga memberikan BUKTI sebagai bekal nabi-nabi menghadapi kaum yang ingkar... Nggak cuma ngobrol saya terima wahyu niih... Contoh nabi Musa yang dibekali beragam tulah dan mujizat sehingga kalaupun Fir'aun nggak suka dan membencinya namun tak kuasa menolak kenyataan bahwa beliau adalah nabi...
Sama dengan Muhammad.SAW orang-orang yang membencinya tetap tak mampu mengingkari kenabiannya... bukti kenabiannya hingga saat ini adalah Qur'an itu sendiri... silahkan diuji.

Wah,
Logika itu ada keterbatasannya Mas.
Apa yg logis bagi saya blm tentu logis bagi orang lain.

Yang ingin saya sampaikan adl :
Kita tidak bisa berkata ttg 'kebenaran obyektif' saat kita berusaha membandingkan konsep Tuhan.
Masih mending Anda diskusi dg orang Kristen,
Coba Anda diskusi dg Atheist.
Mreka sangat obyektif dan sblm mlihat mreka ngga akan pcaya.
Apakah dg bgitu orang Atheis itu bodoh? Logikanya sempit? Berpikiran pendek? Akal terbatas?
Ngga.
Ada juga (kl ngga dbilang banyak) orang Atheis yang cerdas-cerdas.
Saya blm tau ada penelitian yg mbuktikan korelasi antara iman dg kecerdasan intelektual.
Akal budi yang dibiasakan JUJUR, membentuk karakter keimanan, bukankah beriman itu proses? anda berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan doa anda, merupakan proses perenungan anda pada keyakinan anda bukan? dan itu dilakukan dengan akal bukan?

Semakin cerdas seseorang yang beriman maka semakin banyak bukti kekuasaan Tuhan yang dapat digalinya dan disampaikannya sebagai peringatan pada manusia lainnya.
