Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Reinkarnasi  (Dibaca 4949 kali)


Offline Jhana78

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 1.935
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • alam semesta adalah ayat-ayat Allah
    • Lihat Profil
    • Forum Diskusi Ilmu Logika
« Jawab #180 pada: 07 November 2009, 01:12:24 »
jhana tahu seberapa banyak dosa dan seberapa banyak pahala yg telah di dapat? Gimana cara tau nya? trus brapa lama waktu yg kita butuhkan untuk mendapat penawar dosa dan dengan amalan apa? apakah rosululloh megajarkan amalan penawar dosa itu?

dosa berwujud kegelapan di dalam diri. hal ini mengakibatkan munculnya kesakitan di dalam tubuh maupun batin. jika saya merasa sakit hati karena diejek oleh user myq di sini, sesungguhnya rasa sakit yang saya rasakan tidak disebabkan oleh mereka, melainkan oleh dosa-dosa saya sendiri. bila saya tidak berdosa, maka sekeras apapun mereka mengejek, maka tidak ada hal yang menyakitkan bagi saya.

sebaliknya, pahala berwujud cahaya di dalam diri. cahaya ini bukan saja menghilangkan hal-hal yang menyangkitkan di dalam diri, melainkan juga menumbuhkan pengetahuan.


Posting Digabung: 07 November 2009, 01:14:40


adapun diri saya ini, adalah orang yang berlumur dosa.
http://forumlogika.co.cc/
(Forum Diskusi Ilmu Logika)

Offline Azed

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 2.188
    • Lihat Profil
« Jawab #181 pada: 07 November 2009, 01:15:32 »
aku tidak pernah melihat peristiwa tersebut. selama yang kulihat, lelaki selalu bereinkarnasi menjadi lekaki. dan perempuan selalu menjadi perempuan.

tetapi bisa saja ada penyimpangan dari biasanya.
Semoga penyimpangan itu tdk terjadi pada anda. Kalau istri anda adalah reinkarnasi dari yen mei, berbahagialah anda. Tapi kalau ternyata reinkarnasi dari bapaknya yen mei yg ingin menebus kesalahannya dgn cara mengabdi kepada anda sebagai istri dalam kehidupan berikutnya, berabe .... bisa2 anda balas dendam. Jadi ya udah, biarin aja terima siapapun istri anda dan sebaiknya ndak usah dilacak dari inkarnasi siapakah dia.

Salam. Mode off.
Dah ngantuk

Offline M.ANDI

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2009
  • Tulisan: 4
    • Lihat Profil
« Jawab #182 pada: 07 November 2009, 01:20:10 »
Bahasan yg menarik. tp aku hrs pulang dulu. moga masih bisa dlanjut besok. 4 all: jangan lupa tahajjud. jangan keasyikan depan komputer y!!!

Offline grifin

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2009
  • Tulisan: 7
    • Lihat Profil
« Jawab #183 pada: 07 November 2009, 01:46:40 »
 :D :D
reinkarnasi dalam islam :D :D
hi hi hi
dapet terjemahan alquran dari mana bro?? :o :o
lucu juga nih thread :hihi:




 :siul:potingan pertamax




Offline d4vid_r5

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 2.913
  • Lokasi: behind proxy...
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
« Jawab #184 pada: 07 November 2009, 03:01:17 »
aku tidak pernah melihat peristiwa tersebut. selama yang kulihat, lelaki selalu bereinkarnasi menjadi lekaki. dan perempuan selalu menjadi perempuan.

tetapi bisa saja ada penyimpangan dari biasanya.
gimana liatnya ? dan gimana mastiinnya? :o :hmmm:

Hal paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.
:)

Offline Jhana78

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 1.935
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • alam semesta adalah ayat-ayat Allah
    • Lihat Profil
    • Forum Diskusi Ilmu Logika
« Jawab #185 pada: 07 November 2009, 13:46:28 »
gimana liatnya ? dan gimana mastiinnya? :o :hmmm:



cara melihat dan memastikannya telah saya jelaskan di thread ini, yakni dengan teleskop konsentrasi.


Posting Digabung: 07 November 2009, 14:24:06


Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (bayi), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S 16:70)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(Q.S 16:78)


16:70

Kamu kembali ke usia lemah
Usia lemah itu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.

Jadi, kamu kembali ke dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.

Kamu = K
Usia lemah = L
Dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun = 0

K adalah L
L itu 0

Jadi, K itu 0

Jelas  kan?


16:78

Yang dalam keadaan tidak mengetahui sesuatpun tersebut adalah bayi.

Jadi, kamu kembali ke bayi.

Bayi = B

L itu 0
0 itu B

Jadi, L itu B.

Bisa  dimengertikah?

Sekarang mari kita bahas tentang perbedaan varaibel.

Kutip dari: Jhana78
Mereka yang menentang reinkarnasi tidak menerima bahwa ayat tersebut merupakan dalil reinkanasi, karena kedua variabel yang saya garis bawahi tersebut merupakan variabel yang berbeda, sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud ardzalil umur pada ayat 16:70 adalah bayi.
tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya
tidak mengetahui sesuatu pun
Saya akui bahwa benar kedua variabel tersebut merupakan variabel yang berbeda. Sehingga hanya dengan dua ayat tersebut tentu orang tidak dapat menyimpulkan bahwa “ardzalil umur” tersebut adalah bayi.
Tetapi, bila saya dapat menunjukan dalil-dalil lain dari alQuran dan Hadits yang menyatakan bahwa pengertian “tidak mengetahui sesuatupun” pada ayat 78 tersebut mengandung arti tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya, maka sempurnalah hujjah bahwa pengertian ardzalil umur tersebut adalah bayi, sehingga orang dapat dan harus menyimpulkan bahwa ardzalil umur tersebut adalah bayi
Pertanyaannya, apakah benar seorang bayi itu jauh hari sebelum itu merupakan makhluk yang tidak mengetahui sesuatupun? Apakah seorang bayi yang lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun tersebut adalah benar-benar belum pernah mengetahui sesuatupun, ataukah ia jauh hari sebelumnya banyak mengetahui sesuatu? Ketahuilah bahwa seorang bayi itu, jauh hari sebelum ia dilahirkan, ia banyak mengetahui tentang sesuatu. Dan ketika dia bereinkarnasi menjadi seorang bayi, maka dia menjadi “tidak lagi mengetahui sesuatupun yang pernah dia ketahui sebelumnya.” Saya jelaskan dulu ringkasannya konsepnya sebelum saya menyodorkan bukti-bukti dalil dari alQuran dan Hadits.


Apakah ada keterangan ayat atau hadits yang menjelaskan bahwa ruh manusia sebelum terlahir di kedunia pernah berdialog dengan Allah?

Kutip
Setiap manusia di alam ruh telah ditanya oleh Allah, siapakah tuhanmu?

Manusia menjawab, “Allah”

Siapa nabi mu “Muhammad”.

Dst.

(saya lagi mencari hadits riwayat ini)

Apakah ada keterangan ayat atau hadits yang  menjelaskan bahwa sebelum manusia hidup di alam dunia sesungguhnya manusia telah hidup bermasyarakat di alam ruh?

Kutip

Seseorang mengaku sebagai pecinta sayidina Ali, tetapi Ali membantah, “tidak. Kau bohong. Karena pada kehidupan masyarakat ruh dahulu, kau bukanlah pecinta aku. Demikian pula hari ini..”

(referensinya sedang dicari)


Jika kedua riwayat tersebut ditemukan dengan status shaheh, maka itu artinya makna “dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” pada ayat 16:78 adalah “dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun yang dahulu pernah dia ketahui”. Dengan demikian, keberatan tentang perbedaan variable terjawab, dan kebenaran reinkarnasi terbukti. 
« Edit Terakhir: 07 November 2009, 14:24:06 oleh Jhana78 »
http://forumlogika.co.cc/
(Forum Diskusi Ilmu Logika)

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #186 pada: 07 November 2009, 15:01:45 »
Kepada para pembaca yang pintar dan yang terhormat,

Assalamualaikum.


Ummat Budha percaya kepada Reinkarnasi. Setelah manusia wafat dia akan kembali ke dunia ini dan dilahirkan kembali.

Kaum Syiah percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini tanpa dilahirkan kembali.

Raja'a (kata kerja) = kembali. Raja'a ditulis dengan huruf Ro Jim Ain

Raja'a juga ditulis dan dibaca ruju'. Jika suami istri yang telah bercerai (berpisah) dapat kembali (ruju')

Raj'ah (kata benda) = pengembalian

ALLAH mengajarkan ummat Islam di dalam AlQuran bahwa mayoritas orang kafir tidak akan kembali ke dunia ini; karena mereka akan disiksa pada hari Qiyammah nanti;

tetapi ALLAH adalah Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang; sehingga minoritas orang kafir diberikan kesempatan ke dua untuk kembali ke dunia ini; supaya mereka beriman dan bersyukur.


ALQURAN 2:55-56
55. dan kamu (orang2 Yahudi) berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepada kamu sebelum kami melihat ALLAH dengan nyata!" Akibatnya kamu (orang2 Yahudi) disambar oleh halilintar, sedang kamu (orang2 Yahudi) melihatnya.

56. Setelah itu kami bangkitkan kembali kamu (orang2 Yahudi) sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.


ALQURAN 2:73
ALLAH berkata: "Pukulah mayat itu dengan bagian dari anggota sapi betina itu!" Kemudian ALLAH mengihidubkan mereka (orang orang) yang telah mati; dan mempelihatkan kekuasaannya supaya kamu mengerti

ALQURAN 2:243
Apakah kamu tidak memperhatikan mereka (orang orang) yang keluar dari kampung halaman mereka. Jumlah mereka beribu-ribu karena mereka takut mati. ALLAH berkata kepada mereka: "Matilah kamu semua, kemudian ALLAH menghidubkan mereka kembali. Sesungguhnya ALLAH memiliki kasih sayang yang luas kepada manusia; tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur

ALQURAN 2:259
atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui satu negeri yang (tembok-temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Orang itu berkata: "Bagaimana ALLAH menghidubkan kembali negri ini yang telah hancur?"

maka ALLAH mamatikan orang itu selama 100 tahun, kemudian ALLAH menghidubkannya kembali. ALLAH  berkata: "Berapa lama kamu telah tidur disini?

Dia menjawab: "Saya telah tidur disini sehari atau setengah hari!"

ALLAH berkata: "Sesungguhnya kamu telah tinggal disini selama 100 tahun, lihatlah makanan dan minuman kamu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang).

Kami akan menjadikan kamu sebagai tanda kekuasaan kami untuk manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian kami membalutnya dengan daging. Setelah nyata untuk orang itu maka dia berkata: "Saya yakin bahwa ALLAH adalah Tuhan yang maha berkuasa!"


ALQURAN 40:11
Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidubkan kami dua kali, kemudian kami mengakui dosa dosa kami.....

ALQURAN 2:28
Kenapa kamu kafir terhadap ALLAH, padahal kamu tadinya mati, lalu ALLAH menghidubkan kamu; kemudian mematikan kamu dan menghidubkan kamu kembali. Kamu akan berakhir dikembalikan kepada ALLAH

KESIMPULAN

Masih banyak keterangan di dalam AlQuran tentang Raj'ah (kembali) ke dunia ini untuk mereka yang kafir; karena ALLAH memberikan kesempatan ke dua kalinya untuk beriman dan untuk bersyukur; tetapi mayoritas orang Kafir tidak akan dikembalikan ke dunia ini.

Kaum Syiah percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini setelah mati; karena ALLAH menerangkan di dalam AlQuran. Kaum Sunni tidak percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini setelah mati.

Kaum Sunni dengan sengaja mengarang kebohongan2 tentang Raj'ah; seperti Kaum Sunni mengarang kebohongan2 tentang Imamah, tentang Nikah Mutah, tentang Taqiyyah dll hanya untuk mengkafirkan kaum Syiah.
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline Li Fung Mei

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 676
    • Lihat Profil
« Jawab #187 pada: 07 November 2009, 16:34:28 »
justru itulah aku tak tahu, dimana kini yen mei berada. aku juga tidak dapat mengetahui, apakah istriku saat ini yen mei atau bukan. aku enggan menyelidkinya sebelum dia dapat mengingatnya sendiri. kalau saya tahu bahwa dia itu yen mei, sedangkan dia tidak mengakuinya, saya akan bersedih. jadi, saya menunggu istri saya untuk mau belajar bagaimana cara mengingat masa  lampau.
mudah-mudahan bukan fung mei....hehehehe
ISAGALA tempat belajarku....

Offline Jhana78

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 1.935
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • alam semesta adalah ayat-ayat Allah
    • Lihat Profil
    • Forum Diskusi Ilmu Logika
« Jawab #188 pada: 07 November 2009, 16:55:15 »
mudah-mudahan bukan fung mei....hehehehe

dari kecil hingga usiaku mencapai 25 tahun, aku tidak pernah ingat dengan kehidupan masa laluku. pada usia 25, aku mulai teringat pada sesuatu di masa lalu. pada usia 27 tahun, ingatan itu semakin jelas. sangat aneh bagiku sendiri, karena aku tidak akrab dengan nama-nama korea, bahkan nama-nama cina juga aku tak tahu, kecuali seperti jacki chan atau jet li. lain-lainnya aku gak ngerti. dan aku gak pernah tertarik menonton sinetron-sinetron dari jepang atau cina. tapi ketika aku ingat pada kehidupan masa laluku, aku teringat dengan banyak nama-nama yang terasa akrab tapi asing dalam kehidupan ini , seperti so ung yuk, yen mei, nai nai, ce ce, u no, dll.

ketika saya mengkonfirmasikan ke beberapa kawan diskusi online, mereka lalu berkata, so ung yuk itu nama korea, yen mei itu nama cina, dst.... aku sendiri gak tahu, mana nama-nama khas cina dan mana khas korea.

ngomong-ngomong, aku iseng-iseng browsing di google dengan keyword "reinkarnasi dalam Islam" dan ternyata kutemukan banyak sekali artikel dan blog dari kaum muslimin yang sefahaman denganku, yakni mereka meyakini kebenaran reinkarnasi. silahkan lihat-lihat sendiri!


Posting Digabung: 07 November 2009, 16:57:16


@ HMA

jika seseorang bisa rajaa'a, dari kematian kembali hidup kembali dengan wujud yang lansung besar, tanpa melalui proses kelahiran, maka apakah yang mustahil seseorang bisa bereinkarnasi melalui proses kelahiran kembali?
http://forumlogika.co.cc/
(Forum Diskusi Ilmu Logika)

Offline Alpha Gruis

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2006
  • Tulisan: 935
  • Lokasi: Yogyakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Empat Agama Satu Tuhan
    • Lihat Profil
« Jawab #189 pada: 08 November 2009, 13:58:16 »
Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (bayi), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S 16:70)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(Q.S 16:78)


16:70

Kamu = K
Usia lemah = L
Dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun = 0

K adalah L
L itu 0

Jadi, K itu 0

Jelas  kan?


16:78

Yang dalam keadaan tidak mengetahui sesuatpun tersebut adalah bayi.

Jadi, kamu kembali ke bayi.

Bayi = B

L itu 0
0 itu B

Jadi, L itu B.

Bisa  dimengertikah?
Sebentar, sebentar...
Untuk 16:70:
Sebagian dari K = L
L = 0
Sebagian dari K = 0
Kalau ini bisa saya terima


Tapi kalau untuk yang berikut ini belum bisa saya terima:
Kutip
Bayi = B

L itu 0
0 itu B

Jadi, L itu B.

Menurut saya mestinya yang benar:
L=0
B=0

Kalau dengan kalimat lain misalnya:
Manusia bernafas
Binatang bernafas.

Dari kedua premis tsb kita tidak bisa mendapakan kesimpulan apa-apa karena manusia belum tentu sama dengan binatang.

Atau:
Premis 1: Bayi tidak mengetahui sesuatupun
Premis 2: Orang amnesia juga tidak mengetahui sesuatupun.

Tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik dari kedua premis tsb, cmiiw


Posting Digabung: [time]Sun Nov  8 14:35:44 2009[/time]


Surah al-Hajj ayat 5 tersebut tidak membantah kebenaran reinkarnasi, melainkan sama-sama mendukung kebenaran reinkarnasi. Seandainya tidak ada surah 16:78, maka menafsirkan “ardzalil umur” sebagai “pikun” itu mungkin saja. Tapi karena ada surah 16:78, maka tafsiran “ardzalil umur” dalam surah al-Hajj maupun an-Nahl menjadi mustahil tafsirannya “pikun”.
Saya justru berpikir sebaliknya. Jika saja tidak ada ayat 22:5, maka menafsirkan "ardzalil umur" sebagai 'bayi reinkarnasi' itu sangat mungkin. Tetapi karena ada surah 22:5 dan dipertegas lagi dengan 30:54, maka tefsiran ardzalil umur mejadi 'bayi reinkarnasi' masih bisa diperdebatkan.


Kutip
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya :

1. Kami telah menjadikan kamu dari tanah,

2. kemudian dari setetes mani,

3. kemudian dari segumpal darah,

4. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya

5. dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu

6. dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,

7. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,

8. kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,

9. dan di antara kamu ada yang diwafatkan

10. dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.

Kronologi kejadian manusia sejak point pertama hingga point delapan diceritakan berurut sesuai kejadian alamiahnya. Lalu mengapa dengan tiba-tiba point sembilan mencitakan akhir kejadian dan point sepuluhnya mundur? Bila ardzalil umur diartikan sebagai reinkarnasi kepada bentuk bayi, maka itu merupakan kronologi yang benar, karena merupakan kejadian yang terjadi selanjutnya sebagai suatu siklus yang berputar.
Keberatan saya ternyata sudah disampaikan oleh peserta lain:

lantas bagaimana jika poin 9 dan 10 itu terjadinya barengan? jadi sebagian diwafatkan dan sebagian lagi dipanjangkan umurnya, soalnya ada kata2 "dan diantara kamu"

Berbeda dengan ayat 16:70 yang menggunakan kata 'tsumma' atau "kemudian", di ayat 22:5 kata yang digunakan adalah 'wa minkum' atau menyatakan sebagian dari kamu.

point no. 5 itu merupakan kalimat yang tidak sempurna, karena kehilangan subjek kalimat. apa subjek kalimatnya? segumpal darah atau segumpal daging? tentu saja segumpal daging. sehingga bila dilengkapi kalimat no 5. tersebut isinya "dan segumpal daging yang tidak sempurna". amatlah tidak berdasar bila ada orang menafsirkan "dan segumpal darah yang tidak sempurna", karena telah mengambil kalimat yang lebih jauh.

demikian pula pada kalimat berikut :
kalimat no.10 merupakan kalimat yang lengkap, subjek maupun predikatnya ada, tetapi subjeknya kehilangan sifat, sehingga muncul pertanyaan, apakah "kamu yang dewasa" ataukah "kamu yang telah diwafatkan"? tentulah jawabannya adalah "kamu yang telah diwafatkan". kenapa? karena mensifati kata "kamu" harus dengan sifat subjek pada kalimat terdekat sebelumnya. mensifati "kamu" dengan sifat "yang dewasa" adalah mengambil kalimat yang jauh, tanpa dasar, melainggar kaidah bahasa.
Setahu saya tidak ada kaidah seperti yang saya tebalkan di atas.

Konon, Muawiyah pernah menyuruh seorang syiah untuk melaknat Ali bin Abu Thalib di depan orang-orang. Tapi sang syiah keberatan.
Tetapi karena didesak terus, akhirnya sang syiah Ali tsb bersedia berbicara di depan umum.
Sang Syiah berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya Muawiyah telah memintaku untuk melaknat Ali bin Abu Thalib, maka laknatlah dia."

Ketika sang syiah mengucapkan hal ini, syiah tsb bermaksud bahwa dia yang harus dilaknat adalah Muawiyah, bukan Ali bin Abu Thalib.

Jika saja teori mas Jhana benar, maka semestinya kalimat tsb harus ditafsirkan bahwa sang syiah meminta orang-orang untuk melaknat Ali, padahal sebenarnya tidak demikian.

Contoh lain:
أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku (QS 20:39)

Yang saya garis bawahi itu bisa kembali kepada Musa, dan bisa juga kembali kepada peti. Sedangkan "nya" yang terakhir kembali kepada Musa.
Jadi, tidak ada kaidah yang menyatakan bahwa subjek atau objek harus diambi dari yang terdekat. Bisa saja subjek atau objek diambil dari yang lebih jauh.

Intinya: "sebagian dari kamu" pada poin 10 bisa dan sangat mungkin kembali kepada "kamu yang dewasa" pada poin 8.
« Edit Terakhir: 08 November 2009, 14:52:06 oleh Alpha Gruis »
Untuk tiap umat Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tapi Allah hendak menguji terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalah dalam kebajikan. Hanya kepada Allah kamu kembali lalu diberitahukan-Nya apa yg kamu perselisihkan

Offline anggon

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.334
  • Lokasi: Depan Layar
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #190 pada: 08 November 2009, 14:44:12 »
@Janah

apakah anda juga menyakini bahwa sebagian dari antara seluruh orang kafir ada yang mengalami raj'ah, sebagian lagi tidak.
ataukah seluruh orang kafir pasti mengalami raj'ah ?
saya ingin tau pendapat anda
Sesungguhnya KAFIRlah orang-orang yang mengatakan, 'bahwasanya Allah salah seorang dari tiga'. Padahal sekali-kali tiada tuhan selain tuhan yang Esa

Offline Jhana78

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2009
  • Tulisan: 1.935
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • alam semesta adalah ayat-ayat Allah
    • Lihat Profil
    • Forum Diskusi Ilmu Logika
« Jawab #191 pada: 08 November 2009, 15:48:56 »
Kutip dari: alpha
Premis 1: Bayi tidak mengetahui sesuatupun
Premis 2: Orang amnesia juga tidak mengetahui sesuatupun.

Tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik dari kedua premis tsb, cmiiw

betul dan tepat sekali bahwa tidak ada yang dapat diambil kesimpulan dari kedua premis tersebut.


Kutip dari: alpha
Menurut saya mestinya yang benar:
L=0
B=0

usia lemah itu yang tidak mengetahui sesuatupun
bayi itu yang tidak mengetahui sesutupun.

dari kedua premis tersebut memang tidak dapat ditarik kesimpulan apapun. karena kedua midle termnya tidak terdistribusi atau bersifat partial.

kecuali, bila salah satunya bersifat universal :

usia lemah itu yang tidak mengetahui sesuatupun
yang tidak mengetahui sesuatupun adalah bayi.

maka dari kedua permis tersebut dapat diambil kesimpulan : usia lemah itu adalah bayi.

jika kategori term yang saya garis bawahi tersebut adalah kategori manusia, dan tidak ada lagi manusia yang tidak mengetahui sesuatupun seperti halnya bayi, maka term tersebut bersifat universal, sehingga kesimpulan dapat diambil dari situ.




Posting Digabung: 08 November 2009, 15:58:13


Kutip dari: alpha
Konon, Muawiyah pernah menyuruh seorang syiah untuk melaknat Ali bin Abu Thalib di depan orang-orang. Tapi sang syiah keberatan.
Tetapi karena didesak terus, akhirnya sang syiah Ali tsb bersedia berbicara di depan umum.
Sang Syiah berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya Muawiyah telah memintaku untuk melaknat Ali bin Abu Thalib, maka laknatlah dia."

Ketika sang syiah mengucapkan hal ini, syiah tsb bermaksud bahwa dia yang harus dilaknat adalah Muawiyah, bukan Ali bin Abu Thalib.

Jika saja teori mas Jhana benar, maka semestinya kalimat tsb harus ditafsirkan bahwa sang syiah meminta orang-orang untuk melaknat Ali, padahal sebenarnya tidak demikian.

kalimat "laknatlah dia" itu tepat sekali ditujukan pada muawiyah, bukan ali bin abi thalib, ssuai dengan kaidah yang saya terangkan. coba simak lagi kaidah yang saya kemukakan :

Kutip dari: jhana
karena mensifati kata "kamu" harus dengan sifat subjek pada kalimat terdekat sebelumnya. mensifati "kamu" dengan sifat "yang dewasa" adalah mengambil kalimat yang jauh, tanpa dasar, melainggar kaidah bahasa.

itu untuk sifat subjek, sedangkan bila kalimat belakang kehilangan subjeknya, maka yang diambil subjek kalimat yang terdekat.

dalam contoh yang antum kemukakan, susuai sekali dengna kaidah yang saya kemukakan. karena subjek kalimat sebelum kalimat "laknatlah dia!" adalah Muawiyah, sedangkan ali bukanlah subjek, tapi objek yang terdapat dalam bagian predikat. dan saya tidak pernah menyebutkan "harus mengambil dari objek kalimat dari kalimat terdekat" betul kan?




Posting Digabung: 08 November 2009, 16:05:35


Kutip dari: alpha
Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku (QS 20:39)

Yang saya garis bawahi itu bisa kembali kepada Musa, dan bisa juga kembali kepada peti. Sedangkan "nya" yang terakhir kembali kepada Musa.
Jadi, tidak ada kaidah yang menyatakan bahwa subjek atau objek harus diambi dari yang terdekat. Bisa saja subjek atau objek diambil dari yang lebih jauh.

Intinya: "sebagian dari kamu" pada poin 10 bisa dan sangat mungkin kembali kepada "kamu yang dewasa" pada poin 8.

cobalah buka kembali pelajaran SPO (subjek,predikat objek) dalam pelajaran bahasa Indonesia. semua contoh yang antum kemukakan justru lebih mendukung kaidah-kaidah yang saya ungkapkan.

"Lekatan musa di dalam peti". musa adalh subjek. peti adalah perdikat. jadi, kata "nya" pada kaliamt selanjutnya seharusnya pada kata "musa". jadi antum harus ingat, kepada subjek, bukan pada objek.

Kutip
8. kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,

9. dan di antara kamu ada yang diwafatkan

10. dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.


dan oleh karena kaidah-kaidah yang telah saya jelaskan, jika dalam kalimat ke 10 ada kata "nya" maka tentu mengacu pada subjek kalimat yang terdekat, yaitu point 9. jika, yang hilang adalah sifat, maka tentu sifat yang harus diambl pun dari point 9. dalam bahasa Indonesia  yang formal, tidak pernah ada contoh "nya" ditujukan kepada subjek yang jauh, demikian pula sifat subjek, tidak pernah mengambil dari subjek yang jauh.




Posting Digabung: 08 November 2009, 16:14:07


@Janah

apakah anda juga menyakini bahwa sebagian dari antara seluruh orang kafir ada yang mengalami raj'ah, sebagian lagi tidak.
ataukah seluruh orang kafir pasti mengalami raj'ah ?
saya ingin tau pendapat anda

hanya sebagian orang kafir mengalami raj'ah. sebagiannya tidak. orang mukmin pun bisa jadi mengalami raj'ah.

raj'ah terjadi karena penyakit "cinta duniawi", sehingga karena kerasnya penyakit ini di dalam hati  orang kafir, mereka terlahir berulang kali.

sedangkan mukmin yang bereinkarnasi adalah yang belum dapat kembali kepada Allah karena memiliki beberapa tanggungan (utang ) yang belum terlunasi, utang harta benda atau nyawa, utang dll. atau reinkarnasi kembali karena sifat kasih sayangnya kepada umat manusia, mereka datang untuk memberikan peringatan atau kabar gembira. seperti misalnya ibundanya nabi isa dan istrinya nabi ibrahim, mereka pernah raj'ah untuk menolong kelahiran siti fatimah dari kandungan siti khadijah.
« Edit Terakhir: 08 November 2009, 16:14:07 oleh Jhana78 »
http://forumlogika.co.cc/
(Forum Diskusi Ilmu Logika)

Offline _unidentified user_

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 398
  • Ga Jelas adalah Menyebalkan.
    • Lihat Profil
    • Our World
« Jawab #192 pada: 08 November 2009, 18:59:04 »
menarik.. menarik.. saya menunggu orang yang lebih berilmu bersedia turun ke sini. silakan silakan   :dada:
慈悲あまねく慈愛深きアッラーの御名において
                Bunga-bunga berseri, penuh warna wangi....

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.578
    • Lihat Profil
« Jawab #193 pada: 09 November 2009, 06:59:11 »
Kepada para pembaca yang pintar dan yang terhormat,

Assalamualaikum.


Ummat Budha percaya kepada Reinkarnasi. Setelah manusia wafat dia akan kembali ke dunia ini dan dilahirkan kembali.

Kaum Syiah percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini tanpa dilahirkan kembali.

Raja'a (kata kerja) = kembali. Raja'a ditulis dengan huruf Ro Jim Ain

Raja'a juga ditulis dan dibaca ruju'. Jika suami istri yang telah bercerai (berpisah) dapat kembali (ruju')

Raj'ah (kata benda) = pengembalian

ALLAH mengajarkan ummat Islam di dalam AlQuran bahwa mayoritas orang kafir tidak akan kembali ke dunia ini; karena mereka akan disiksa pada hari Qiyammah nanti;

tetapi ALLAH adalah Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang; sehingga minoritas orang kafir diberikan kesempatan ke dua untuk kembali ke dunia ini; supaya mereka beriman dan bersyukur.


ALQURAN 2:55-56
55. dan kamu (orang2 Yahudi) berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepada kamu sebelum kami melihat ALLAH dengan nyata!" Akibatnya kamu (orang2 Yahudi) disambar oleh halilintar, sedang kamu (orang2 Yahudi) melihatnya.

56. Setelah itu kami bangkitkan kembali kamu (orang2 Yahudi) sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.


ALQURAN 2:73
ALLAH berkata: "Pukulah mayat itu dengan bagian dari anggota sapi betina itu!" Kemudian ALLAH mengihidubkan mereka (orang orang) yang telah mati; dan mempelihatkan kekuasaannya supaya kamu mengerti

ALQURAN 2:243
Apakah kamu tidak memperhatikan mereka (orang orang) yang keluar dari kampung halaman mereka. Jumlah mereka beribu-ribu karena mereka takut mati. ALLAH berkata kepada mereka: "Matilah kamu semua, kemudian ALLAH menghidubkan mereka kembali. Sesungguhnya ALLAH memiliki kasih sayang yang luas kepada manusia; tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur

ALQURAN 2:259
atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui satu negeri yang (tembok-temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Orang itu berkata: "Bagaimana ALLAH menghidubkan kembali negri ini yang telah hancur?"

maka ALLAH mamatikan orang itu selama 100 tahun, kemudian ALLAH menghidubkannya kembali. ALLAH  berkata: "Berapa lama kamu telah tidur disini?

Dia menjawab: "Saya telah tidur disini sehari atau setengah hari!"

ALLAH berkata: "Sesungguhnya kamu telah tinggal disini selama 100 tahun, lihatlah makanan dan minuman kamu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang).

Kami akan menjadikan kamu sebagai tanda kekuasaan kami untuk manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian kami membalutnya dengan daging. Setelah nyata untuk orang itu maka dia berkata: "Saya yakin bahwa ALLAH adalah Tuhan yang maha berkuasa!"


ALQURAN 40:11
Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidubkan kami dua kali, kemudian kami mengakui dosa dosa kami.....

ALQURAN 2:28
Kenapa kamu kafir terhadap ALLAH, padahal kamu tadinya mati, lalu ALLAH menghidubkan kamu; kemudian mematikan kamu dan menghidubkan kamu kembali. Kamu akan berakhir dikembalikan kepada ALLAH

KESIMPULAN

Masih banyak keterangan di dalam AlQuran tentang Raj'ah (kembali) ke dunia ini untuk mereka yang kafir; karena ALLAH memberikan kesempatan ke dua kalinya untuk beriman dan untuk bersyukur; tetapi mayoritas orang Kafir tidak akan dikembalikan ke dunia ini.

Kaum Syiah percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini setelah mati; karena ALLAH menerangkan di dalam AlQuran. Kaum Sunni tidak percaya kepada Raj'ah (kembali) ke dunia ini setelah mati.

Kaum Sunni dengan sengaja mengarang kebohongan2 tentang Raj'ah; seperti Kaum Sunni mengarang kebohongan2 tentang Imamah, tentang Nikah Mutah, tentang Taqiyyah dll hanya untuk mengkafirkan kaum Syiah.



Posting Digabung: [time]Mon Nov  9 06:59:58 2009[/time]


Kutip dari: Jhana78
@ HMA

jika seseorang bisa rajaa'a, dari kematian kembali hidup kembali dengan wujud yang lansung besar, tanpa melalui proses kelahiran, maka apakah yang mustahil seseorang bisa bereinkarnasi melalui proses kelahiran kembali?

Kepada Jhanna yang pintar dan yang terhormat

Jika kita membaca ayat ayat ALLAH tentang Raj'ah (pengembalian) ke dunia ini di dalam AlQuran; maka kita akan dapat melihat bahwa mereka yang dihidubkan kembali oleh ALLAH tidak dilahirkan kembali atau tidak dimulai dari bayi.

Walaupun demikian, ALLAH adalah Tuhan yang maha berkuasa; boleh jadi banyak orang yang dilahirkan kembali dan dimulai dari seorang bayi. Ulama Syiah sendiri sering berbeda pendapat tentang Raj'ah (kembali) ke dunia ini.

Kaum Sunni tidak mengakui dan tidak mengenal Raj'ah (kembali) ke dunia ini; sehingga kaum Sunni menuduh Kaum Syiah sebagai orang2 murtad atau orang2 Kafir yang percaya kepada reinkarnasi.

Kaum Syiah memiliki tradisi yang berbeda dengan Kaum Sunni. Kaum Syiah mengharampakan dikuburkan di sebelam kuburan Imam Ali ibn Tholib di Kufa Iraq. Jika mereka dihidubkan kembali maka mereka akan mudah mengingat bahwa mereka adalah orang2 Islam yang mengikuti madhab Ahlul Bait (Syi'ah).

RECORD DUNIA

Kuburan umum untuk Kaum Syiah yang berada di sebelah kuburan Imam Ali ibn Tholib merupakan kuburan terbesar di dunia; karena Kaum Syiah sejak 1400 tahun yang lalu sampai sekarang ini menghendaki untuk dikuburkan disana.

Kuburan umum untuk Kaum Syiah tersebut memiliki lebar 30 Km dan panjang 50 Km; dan dari tahun ke tahun bertambah lebar dan bertambah panjang; karena Kaum Syiah dari dunia misalnya AS, Canada, Inggris, Jerman, Pakistan, Yaman, Kuwait, Saudi Arabia, Syiria dll menghendaki dikuburkan di sebelah kuburan Imam Ali ibn Tholib.

Jika mereka dihidubkan kembali; maka mereka akan dapat mengingat bahwa mereka adalah pencinta dan pengikut Rasulullah dan Ahlul Bait (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain).
« Edit Terakhir: 09 November 2009, 13:09:37 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline bayan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 1.437
  • melihat dengan hati
    • Lihat Profil
« Jawab #194 pada: 09 November 2009, 07:37:05 »
pertanyaan saya blom kejawab neh..tentang reinkarnasi manusia yang berasal dari binatang....
apakah mas jhana pernah mengenal orang yang dulunya adalah binatang misalnya ikan teri, burung perkutut, beruang salju, jangkrik, ato binatang yang lainnya....
Jernihkan hati dengan Istighfar dan Dzikir