Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Angket DPR dan Hasil Audit BPK Ungkap Peran Boediono dan Sri Mulyani  (Dibaca 2530 kali)


Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #150 pada: 23 Desember 2009, 14:32:01 »
@atas

saya lihat pak mahfudz atau bahkan pak andi yang tidak bisa menggali dari pak budiono... saya pikir sih karena ilmunya gak nyampe ...

^-^

Offline Dzluqarnain

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 492
  • Dia telah menamai kamu sekalian "Muslim" dari dulu
    • Lihat Profil
« Jawab #151 pada: 23 Desember 2009, 15:18:56 »
^^^ atau karena sudah tertekan duluan dari bosnya


sebenarnya yang diharapkan masyarakat adalah jawaban yang lugas, terbuka apa adanya saja... buka saja semuanya, terlihat sangat terkesan ditutup-tutupi.... yang kita butuhkan adalah pemimpin yang jujur.


jangan terlalu berharap Indonesia akan membaik... ane sependapat dengan pak Gayus... "BI itu sarang penyamun", bahkan aturan bisa diubah2 seenak perut sendiri.... walaupun dengan alasan yang baru dibuat dan dipaksakan.

Offline zeinhaekal

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 3.836
  • Lokasi: Kukusan Depok
  • Jenis kelamin: Pria
  • Lakukan semuanya dgn nama Allah dan rahman w rohim
    • Lihat Profil
    • Benteng Iman
« Jawab #152 pada: 23 Desember 2009, 16:33:27 »
ane sependapat dengan pak Gayus... "BI itu sarang penyamun", bahkan aturan bisa diubah2 seenak perut sendiri.... walaupun dengan alasan yang baru dibuat dan dipaksakan.

terus terang, mendengar istilah ini dari seorang anggota DPR (Pak Gayus), cukup membuat terbahak (dan miris :toe: )... 
Jadi kayak dengar maling teriak maling....

Buku terbaru saya...

Offline ilalang

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 715
  • Lokasi: Ungaran
  • Jenis kelamin: Pria
  • dalam kelana aku mencari....
    • Lihat Profil
« Jawab #153 pada: 23 Desember 2009, 17:45:01 »
lho maling bisa juga kemalingan tho..  apa ada kode etik diantara para maling untuk tidak saling memaling..


********

....seperti bocah-bocah yang memandang awan...

Offline cic

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 325
    • Lihat Profil
« Jawab #154 pada: 24 Desember 2009, 19:02:44 »
Maling teriak maling...............boleh juga

Dalam teori pemeriksaan dan penyidikan, kolusi diantara yang terlibat adalah musuh besar pengungkapan kejahatan. BIla sudah berkolusi maka sistem sebaik apapun akan sulit mempertahankan diri dari kejahatan. Nah disini benturan kepentingan diantara pelaku kejahatan adalah mata air ditengah gersangnya kejujuran. Dari konflik kepentingan dimana makin terbuka makin bagus, maka menjadi titik awal pengungkapan suatu tindak kejahatan.

Teori ini sangat didambakan pelaksanaannya oleh lembaga seperti KPK, karena lembaga seperti itu walaupun didukung infrastruktur yang sangat canggih tidak akan berkutik kalau tidak ada informasi. Oleh karena itu dijaringan kejahatan kesetiaaan adalah unsur utama karena kesetiaan diantara anggotalah yang membuat organisasi atau jaringan organisasi kejahatan hidup.

Konflik kepentingan bisa berupa pembagian yang tidak adil, ingin menyelamatkan diri (biasanya informan kelas tinggi akan memperoleh insentif yang tinggi pula seperti perlindungan hukum sampai pemutihan kejahatan sebelumnya.........ingat whistle blower), persaingan mencari posisi dll. Coba lihat informan polisi, jaksa ataupun KPK apakah semua orang baik ? ........nggak khan.......wong orang baik itu umumnya culun gak tau apa-apa.........malah sering jadi korban. Nah porsi orang baik biasanya hanya sebagai saksi ahli....harusnya begini....harusnya begitu........mana tau dia soal praktek lapangan.

Ingat lho nilai dari informasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi pemberi informasi tetapi juga diditentukan oleh informasi apa yang diberikan. Menurut teori manajamen informasi itu berharga tinggi bila keadaan sebelum informasi itu ada berbeda dengan keadaan  setelah informasi beredar.

Jadi jangan anggap remeh informasi walaupun dari "maling" sekalipun. Saya yakin KPK sedang membuka telinga lebar-lebar menjaring segala informasi yang beredar.

Wallahu a'lam
« Edit Terakhir: 26 Desember 2009, 00:36:07 oleh cic »

Offline Abdul_Maliksyah

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.057
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #155 pada: 28 Desember 2009, 11:02:01 »

Pengakuan dari mantan pemilik Bank Century, mungkin menarik sebagai informasi tambahan yg penting untuk mempelajari kasus ini secara utuh...  :)
walaupun tetap terasa usahanya utk membela diri....



Kutip

Senin, 28/12/2009 10:30 WIB
Pengakuan Mantan Pemilik Century
Wahyu Daniel - detikFinance


Rafat Ali Rizvi (Ist)

Jakarta - Mantan pemilik Bank Century Rafat A. Rizvi buka mulut seputar kasus Bank Century yang menjadi isu nasional. Menurutnya, polemik seputar suntikan bailout Rp 6,7 triliun yang disuntikan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak seharusnya menjadi fokus perhatian.
 
Rafat mengatakan, yang harus menjadi fokus masalah yang harus diselesaikan adalah penanganan dana-dana nasabah Bank Century yang digelapkan oleh Robert Tantular.
 
Pria kelahiran Tahlianwala, Pakistan, 22 Oktober 1960 pun beserta mantan pemilik Bank Century lainnya yaitu Hesham Al-Warraq membantah keras dituding ikut serta dalam penggelapan dana-dana nasabah Bank Century.
 
Berikut petikan wawancara tertulis detikFinance kepada mantan pemilik Bank Century Rafat Ali Rizvi melalui pesan elektronik:

Bagaimana anda melihat perkembangan kasus Bank Century di Indonesia?

 
Saya melihat pemberitaan mengenai Bank Century terlalu fokus untuk mencari siapa yang bersalah, dalam kaitan apakah keputusan bailout itu benar atau salah. Seharusnya fokus penyelidikan lebih kepada menemukan dimana uang yang telah dicuri oleh Robert Tantular, keluarga, serta kroninya.
 
Terlalu banyak waktu dihabiskan untuk mencari kesalahan Presiden SBY dan Wapres Boediono. Padahal saat itu keputusan dibuat berdasarkan laporan keuangan (balance sheet) 20 November 2008, sehingga mereka (pembuat keputusan) memperhitungkan, penyelamatan Bank century merupakan opsi yang paling murah.
 
Boediono dan Sri Mulyani adalah korban kebohongan Robert Tantular, sama seperti Hesham Al-Warraq (Mantan Pemilik Century) dan saya. Jika saja Pak Boediono dan Sri Mulyani sudah mengetahui bahwa sejumlah uang dengan jumlah signifikan dalam neraca serta uang deposito sudah dicuri oleh Robert dan keluarganya, mungkin mereka akan membuat keputusan yang berbeda.
 
Sebagai mantan pemilik Bank Century, anda saat ini dituduh berperan dalam penggelapan dana nasabah. Bagaimana pendapat anda? Apakah anda mengetahui manajemen Bank Century melakukan penyalahgunaan?
 
Hesham dan saya benar-benar menolak dituduh terlibat dalam hal ini (pencurian/penipuan). Sebaliknya, saya dan Hesham telah menghabiskan waktu, uang, dan berbagai upaya yang tidak sedikit (dengan sepengetahuan Bank Indonesia) untuk mencari solusi yang permanen mengatasi permasalahan Bank Century, di saat Robert, keluarga, dan kroninya secara sistematis melakukan penjarahan dan mencuri uang nasabah.
 
Mungkin cara terbaik untuk menggambarkan ini adalah, bagaimana dua orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia (Hesham dan Saya), tidak punya akses untuk melihat operasional bank, tidak punya otoritas untuk memindahkan uang atau aset bank, dan hanya menghabiskan beberapa hari dalam 5 tahun kepemilikan di Bank Century bisa melakukan penipuan seperti yang dilakukan Robert. Mereka (Robert dan kroninya) hanya berupaya menyalahkan kami.
 
Tidak akan ada orang yang akan menerima tuduhan menyedihkan ini secara serius, jika mereka mengetahui bahwa tidak ada keputusan yang dibuat tanpa sepengetahuan Robert dan kroninya terkait operasional Bank Century. Tolong diperhatikan bahwa kami sudah mengirim surat pada Kepolisian Indonesia, pada dua kali kesempatan, bahwa kami berharap dapat mendampingi mereka atau pihak berwenang lainnya, memberi mereka bantuan yang kami bisa berikan dalam kondisi tertentu, sehingga penipuan yang dilakukan Robert dan keluarganya benar-benar dapat terungkap.
 
Dalam pandangan anda, siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap kolapsnya Bank Century?
 
Jatuhnya Bank century sepenuhnya adalah kesalahan Robert Tantular, keluarga dan kroninya dalam bank itu. Laporan polisi membuat hal ini semakin jelas.
 
Apakah anda sudah mengetahui lama bahwa Robert Tantular melakukan penggelapan dana serta manipulasi di Bank Century?
 
Sayangnya, Hesham dan saya baru menemukan penggelapan uang yang dilakukan Tantular dan kondisi Century yang sebenarnya pada 20 November 2008. Sama seperti Pak Boediono dan Sri Mulyani yang menjadi korban kebohongan Tantular, keluarga, dan kroninya. Jika Hesham dan saya mengetahui kondisi yang sebenarnya, kami tidak akan mendukung Bank Century seperti yang telah kami lakukan saat itu.

Pada beberapa media di Indonesia, anda mengatakan Robert Tantular mempunyai hubungan khusus dengan Miranda S. Goeltom saat masih menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Bisa anda jelaskan?
 
Mengenai hubungan antara Robert dan Miranda Goeltom. Secara langsung memang saya tidak mengetahui hubungan keduanya sampai Robert -dan beberapa kroninya-bilang begitu pada saya. Robert bahkan menggambarkan hubungannya dengan Miranda sebagai "hubungan yang kuat."

Bagaimana hubungan anda dengan Robert Tantular? Apakah anda mempercayai dia sebagai rekan bisnis?
 
Hesham, saya, dan investor lainnya dulu mempercayai Tantular. Kami semua adalah investor pasif dan sama sekali tidak terlibat dalam operasi harian Bank Century. Tantular mengatakan untuk percaya padanya, dan itulah yang kami lakukan, dan ia membayar kepercayaan kami dengan merampok, tidak hanya dari kami, tapi juga dari investor lainnya, seperti nasabah PT Antaboga, juga penipuan-penipuan lain. Kami tidak pernah ada kontak dengan Tantular sejak ia ditahan tahun lalu.
 
Apakah anda bersedia memberikan penjelasan dan klarifikasi kepada masyarakat Indonesia mengenai kasus Bank Century?
 
Karena saya telah membalas e-mail Anda, saya akan sangat berterimakasih jika Anda dapat menjamin dapat memberitakan ini secara keseluruhan, dan menekankan pada pentingnya investigasi menyeluruh dimana uang yang dicuri Tantular, melalui Antaboga, juga transaksi komoditas palsu itu disimpan. Penyelidikan harus dilakukan akuntabel. Secara keseluruhan kami mendapatkan anggapan bahwa Tantular telah mencuri lebih dari US$ 500 juta dari Bank Century.

http://www.detikfinance.com/read/2009/12/28/103057/1266731/459/pengakuan-mantan-pemilik-century





Kalau  US$ 500 juta , berapa dalam Rupiah yack ...  :hmmm: :ehm:


Wallahu a'lam

Salam

==
pemahaman menuju kesadaran
Afala tatafakkaruun ? Afala ta'qiluun ? ==

Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #156 pada: 28 Desember 2009, 13:53:30 »
Waw, semakin menarik ...

feeling saya bahwa pansus angket akan benar benar gigit jari untuk masalah bank century. Pak bud dan bu sri tidak akan terjerat sama sekali. Dan saya yakin pak bud dan bu sri tidak menikmati sepeserpun dari uang 6,7 triliun atau uang yang digelapkan Robert Tantular.

Offline cic

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 325
    • Lihat Profil
« Jawab #157 pada: 28 Desember 2009, 16:11:44 »
Ada kesamaan dengan beberapa kasus sebelumnya

1. Kalo soal uang korupsi, pak burhanuddin abdullah (kasus LPPI/YPPI) juga gak terima kok......., pak prof. romly (kasus sisminbakum) juga gak terima,.......pak prof. ahmad ali (kasus tender unhas) juga gak terima........

Ironisnya dua terakhir adalah penyusun UU Tipikor yang memasukkan kata-kata "memperkaya orang lain dengan cara melawan hukum" yang menurut Dr. Nasrullah adalah redaksi satu-satunya pidana korupsi didunia. Pasal ini kalau gak salah ingat dengan pertimbangan korupsi di Indonesia sejak era orba adalah kejahatan luar biasa sehingga perlu upaya luar biasa pula.

Ironisnya lagi kedua professor terakhir itu menyangkal korupsi juga dengan alasan "tidak menerima uang sepeser pun" seolah-olah gak paham bahwa pasal yang mereka punya andil menyusunnya tidak terbatas hanya memperkaya diri.

2. Semua kasus itu kalo gak salah berawal dari hasil audit BPK,

3. Sumber dana yang digunakan juga bukan pos pengeluaran APBN, YPPI/LPPI bersumber dari dana iuran dunia perbankan, sisminbakum berasal dari masyarakat.


Jadi kita tunggu saja endingnya.......yang jelas seperti kata pak bibit samad sudah ada presedennya ketika menyinggung pendapat pengambil kebijakan tidak bisa dihukum.

Paling tidak soal bu sri ane belum pernah denger urusan uang tapi kalo soal pak boed pernah ada selentingan sih..........entah ane yang budek atau ane ketipisan kupingnya.



Wallahu a'lam


Offline Abdul_Maliksyah

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.057
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #158 pada: 29 Desember 2009, 09:30:58 »


Kutip
Minggu, 13/12/2009 17:36 WIB
Marsilam Diminta SBY Kerjasama Dengan KSSK

Suhendra - detikNews

Jakarta - Nama Marsilam Simanjuntak ramai disebut-sebut terkait tuduhan rekaman oleh anggota Pansus Bank Century Bambang Soesatyo. Dalam rekaman rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tanggal 20-21 November 2008 lalu, suara Marsilam dikira Bambang Soesatyo sebagai suara Robert Tantular.

Marsilam yang pada waktu itu menjabat Ketua Unit Kerja Presiden Untuk Pengelolaan Reformasi (UP3R) ikut nimbrung dalam rapat KSSK yang berlangsung kurang lebih selama 4 jam dari pukul 00.15 WIB-04.30 WIB.

Kehadiran Marsilam dalam KSSK juga menjadi tanda tanya besar. Kenapa ia ikut hadir dan apa perannya dalam rapat itu?
 
"Dalam hal ini KSSK minta agar Presiden mengizinkan saya agar bekerjasama dengan KSSK, itu saja titik," kata Marsilam dengan tegas usai acara konferensi pers di Depkeu, Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (13/12/2009).
 
Marsilam saat konferensi pers sempat sedikit emosi karena ada seorang wartawan menanyakan keberadaan Robert Tantular di rapat tersebut. "Anda sudah dengar suaranya? Anda sudah lihat videonya? Itu saya atau Robert Tantular?" ketus Marsilam.
 
Namun saat Marsilam ditanya apakah dirinya mendapat tugas dari Presiden terkait kehadirannya dalam rapat, ia hanya mengelak. "Tanya langsung ke presiden," tukasnya saat menjawab pertanyaaa apakah dirinya diutus khusus oleh presiden.
 
Sementara itu  mantan Sekretaris KSSK Raden Pardede di tempat yang sama mengatakan  jelas bahwa kehadiran Marsilam Simanjuntak atas permintaan presiden."Kehadiran Pak Marsilam diminta Presiden untuk kerjasama dengan KSSK," kata Raden. (hen/iy)

http://www.detiknews.com/read/2009/12/13/173106/1259274/10/marsilam-diminta-sby-kerjasama-dengan-kssk


Kutip

Sabtu, 26/12/2009 14:35 WIB
SBY Tak Perintahkan Marsilam Ikut Rapat Bail Out Bank Century


Bogor - Presiden SBY tidak menugaskan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Kebijakan dan Reformasi (UKP3R) Marsilam Simanjuntak untuk ikut rapat bail ou t Bank Century. Istana bahkan tidak tahu soal kehadiran Marsilam.

Demikian kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menanggapi kontrovesi soal keikutsertaan Marsilam dalam rapat tersebut.

"Pada keyataannya Presiden SBY tidak tahu menahu soal itu dan kehadiran Pak Marsilam di sana bukan atas perintah presiden," kata Julian di kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas, Bogor, Sabtu (26/12/2009)

Julian membenarkan, saat rapat KSSK yang dipimpin oleh Menkeu Sri Mulyani untuk memutuskan nasib Bank Century, Marsilam masih menjabat sebagai Ketua UKP3R. Tetapi keikutsertaan dia dalam kapasitasnya sebagai penasehat Menteri Keuangan RI.

Oleh sebab itu, kata Julian, tidaklah relevan spekulasi yang menyatakan kehadiran Marsilam sebagai indikasi kalau Presiden SBY campur tangan dalam bail out Bank Century.
"Memang Pak Marsilam Ketua UKP3R, tapi dalam konteks rapat soal Century itu tidak mewakili presiden sama sekali. Pak Marsilam ikut rapat semata kapasitasnya sebagai penasehat Menkeu," tandas Julian.
(lh/fay)

http://www.detiknews.com/read/2009/12/26/143545/1266184/10/sby-tak-perintahkan-marsilam-ikut-rapat-bail-out-bank-century


Kutip
28/12/2009 - 17:45
Carut-marut Soal Bank Century dan Marsillam
Ahluwalia


Marsilam Simanjuntak

INILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua UKP3R Marsillam Simanjuntak bakal jadi sosok terpojok karena ungkapan Julian Pasha, juru bicara istana bahwa Presiden SBY tidak pernah menugasi Marsillam mengikuti rapat Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK). Mengapa respon istana seperti itu kepada Marsillam?

Mantan Ketua UKP3R Marsilam Simanjuntak diakui ikut dalam rapat KSSK soal Century. Pansus menduga, SBY mengetahui soal keputusan dana talangan Bank Century itu.

Wakil Ketua Pansus Century dari Fraksi PKS Mahfud Siddiq mengungkapkan bahwa dalam rapat KSSK itu hadir Marsilam sebagai Ketua UKP3R yang katanya ditugaskan presiden yang kemudian Sri Mulyani pernah lapor ke presiden.

Karena itu, sambungnya, Pansus akan memanggil Marsilam untuk diperiksa keterlibatannya dalam rapat KSSK itu. Sebab, bila Marsilam memberikan laporan hasil rapat ke SBY, maka artinya presiden mengetahui soal keputusan memberi dana talangan ke Bank Century sebesar Rp6,7 triliun itu.

"Karena dalam audit BPK tidak dijelaskan dan dibuatkan kehadiran Marsilam, atau Sri Mulyani melaporkannya seperti apa? Apa yang dilaporkan, apa ada arahan dari presiden, itu kan tidak terungkap dalam audit BK. Justru itulah kita akan periksa dalam pansus. Kalau dalam penjelasn Sri Mulyani melapor, kemudian ada respon dan Marsilam melapor juga ada respon, dari respon presiden itulah kita bisa ambil kesimpulan langsung atau tidak langsung kaitannya, Presiden bisa saja kita panggil," ungkap Mahfud Siddik (Wakil Ketua Pansus dari PKS) di Gedung DPR ketika itu.

Kini SBY 'menegaskan’ bahwa ia tidak menugasi Marsillam untuk hadir pada rapat KSSK, melainkan ia hadir sebagai penasehat Menkeu Sri Mulyani. Jadi, mana yang benar: pengakuan Marsillam dan Menkeu atau penegasan istana bahwa Presiden tidak menugaskan Marsillam?

Sebagian pengamat bisa memahami penegasan presiden itu, karena kehadiran Marsillam justru bisa menjadi 'bumerang' bagi istana, mengingat sejumlah pernyataannya yang dinilai 'berbahaya' dalam kaitan dana talangan Bank Century.

Namun, para pengamat juga melihat, hal itu justru dinilai sebagai bentuk cuci tangan Presiden dari skandal Century. Pasalnya, Marsillam mengakui bahwa KSSK minta agar Presiden mengizinkan dirinya bekerjasama dengan KSSK. "Dalam hal ini, KSSK minta agar Presiden mengizinkan saya agar bekerja sama dengan KSSK. Itu saja. Titik," kata Marsillam kepada pers usai mengikuti konferensi pers Menkeu Sri Mulyani, Minggu (13/12).

Berbagai kalangan menilai, istana cuci tangan dengan cara menegasikan peran dan kehadiran Marsillam dalam rapat KSSK tersebut. Indikasi ini jelas, kata seorang pengamat politik, bahwa Presiden mau cuci tangan dari persoalan, yang justru menyudutkan dan menyulitkan SBY karena semua orang tahu bahwa Marsillam diminta Presiden bekerjasama dengan KSSK.

Tapi benarkah SBY mau cuci tangan?

Kalangan istana membantah semua itu dan menyatakan tidak ada niat SBY untuk cuci tangan karena memang Marsillam hadir sebagai penasehat Menkeu Sri Mulyani.

Namun demikian, guru besar UIN Jakarta Prof Azyumardi Azra mendesak agar soal Marsillam segera diklarifikasi oleh SBY sendiri.

"Presiden tak bisa mengelak dari semua fakta itu dan jangan sampai dianggap cuci tangan dalam kasus Bank Century," katanya.

Tentu paling tepat jika Presiden menjelaskan kehadiran Marsillam di depan Pansus Hak Angket Kasus Bank Century agar kredibilitas Marsillam sebagai intelektual dan pejuang demokrasi tidak habis. "Kredibilitas dan nama baik Marsillam maupun Presiden sendiri akan lebih terjaga jika Presiden menjelaskan peran dan kehadiran Marsillam itu secara terang-benderang," kata Nehemia Lawalata, aktivis GMNI dan mantan Sekretaris Politik Prof Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam kaitan ini, politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang menilai ada intervensi dari SBY serta konspirasi eksekutif dan legislatif akan menghambat pembongkaran skandal Century. Tapi Zainal juga ragu apakah mungkin Pansus Century bisa dibongkar karena data yang ada 'diduga' publik, telah melibatkan istana.

"Jangan lupa, Idrus Marham jadi ketua Pansus karena koalisi Golkar dan Demokrat. Apakah dia menerima atau tega 'membidik' SBY, padahal SBY pernah menjadi saksi perkawinannya. Di sisi lain, ada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang anggotanya berafiliasi dengan partai politik, misalnya Taufiqurrahma Ruki yang jadi ketua karena peran Partai Demokrat. Sedangkan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) dipimpin oleh Tumpak yang direkomendasikan SBY," kata Zainal Bintang.

Carut-marut skandal Century sungguh akan menjadi batu ujian bagi pemerintahan sekarang. Namun demikian, implikasi ekonomi-politiknya mungkin makin mengalami eskalasi. [mor]

http://inilah.com/berita/politik/2009/12/28/246752/carut-marut-soal-bank-century-dan-marsillam/


Faktor M....  :hmmm: :ehm:


Wallahu a'lam

Salam





==
pemahaman menuju kesadaran
Afala tatafakkaruun ? Afala ta'qiluun ? ==